Tuesday, August 19, 2014

Cerita Lebaran 1435 H ( yang udah telat banget)

Ih ya ampun lama pisan ngga update di mari, yak. Ambil sapu dan mulai bersih-bersih debu yang udah tebel banget. Jadi ceritanya been males lately karena internet rumah lagi ngadat. Hasilnya mau ngeblog dari kapan ketunda-tunda terus, padahal lagi banyak yang pingin diceritakan dan disimpan di sini. Dari mulai cerita mudik, kehamilan sampai Ezra yang baru jadi anak SD. Baiklah, kita posting satu persatu aja.  Dimulai dari cerita lebaran, tapi sebelumnya mohon maaf lahir dan batin yaa, semoga dimaafkan semua kesalahan- kesalahan kata dan ucapan saya selama menulis di blog ini.

Jadi ceritanya lebaran tahun ini saya sekeluarga ngga mudik dan sowan ke Jakarta as usual, tapi ke Pangandaran seperti dua tahun sebelumnya. Padahal waktu itu udah kapok lho karena kena macet selama berjam-jam. Keinginan sih, pingin ngadem-ngadem aja di Bandung, apalagi kehamilan saya juga baru empat bulan, males rasanya pergi jauh-jauh via jalan darat. Tapi berhubung kakak sepupu saya akan melangsungkan pernikahan di sana, dan ayah saya didapuk untuk menjadi wali dan pendampingnya, ya sudah kami sekeluarga kompakan untuk berlebaran di sana.

Alhamdulillah, perjalanan Bandung-Parigi, Cibenda Pangandaran ditempuh 7 jam saja ( biasanya 6 jam). Sampai sana subuh. Habis sholat dan istirahat mulai menyusun itinerary mau mbolang kemana aja. Kami menginap di kampung halaman Ua dan kakek saya, yang lokasi ke spot wisata pantainya relatif dekat. Dari mulai Pantai Batu Hiu, Batu Karas, Pangandaran, dan sebuah curug ( apa namanya lupa) yang katanya sih, lumayan bagus. Karena sudah pernah ke Pantai Batu Karas, tujuan yang itu dicoret.

Diputuskanlah untuk ke Pantai Pangandaran dulu karena sesiangan itu saya ngidam makan rujak. Fyi, hamil ini hampir tiap hari saya makan rujak. Sampai Pangandaran langsung hunting tukang rujak, dari mulai tukang rujak bebeg sampai rujak potong bakulan disambangin semua, dibeli semua, dan langsung disantap saat itu juga sambil nungguin yang pada main air dan pasir. Suasananya lumayan, ngga terlalu ramai kayak cendol, padahal kan pas liburan biasanya penuh. Mungkin karena faktor ombak yang lagi lumayan besar, jadi jarang yang berenang.

Setelah puas makan rujak dan leyeh-leyeh nikmatin matahari yang lagi redup, kami memutuskan buat nyebrang ke pulau pasir putih. Kami nyewa kapal dan dihajar ombak tiga meter saat nyebrang. Aslinya serem waktu itu, tapi nggak tahu gimana kita malah ketawa-ketawa dramatis selesai diterjang ombak dan bajunya sampai basah kuyup. Sampai di pulau langsung meriksa barang bawaan. Hikks, kamera dslr langsung error, juga beberapa smartphone yang kita bawa langsung is dead. Tinggal iphone sama tab yang selamat baik-baik saja dan masih bisa dipake buat foto2.

Sampai pulau pasir putih, Ezra langsung girang dan lupa sama insiden diterjang ombak, padahal dia yang paling panik sampai semua doa dan surat pendek yang hapal dibaca sama dia, keras-keras. ( proud of my boy, di kala emaknya ketawa histeris dramatis campur panik, anaknya ngga lupa istigfar. Worthed juga nyekolahin di sekolah yang goalnya hafidz Quran). Dia langsung nyemplung, berenang sepuasnya sambil mungutin kerang dan karang yang lucu-lucu bentuknya.  Sementara kita-kita yang udah gede was was sama barang bawaan yang basah kena ombak. Bisa dibilang, kita ngga persiapan bener2 waktu mutusin naik kapal, mikirnya kan ngga bakal kena ombak juga.

Tapi biar ngga jadi bad trip, kita tetep nikmatin main-main di pantainya selama lebih dari dua jam sebelum dijemput lagi sama kapal yang tadi nganter kita. Menjelang sore baru deh, pulang ke rumah.

Kampung halaman kakek dan ayah saya ini enaak banget suasananya. Udaranya relatif adem dan masih dikelilingi perkebunan kelapa. Kalau malem, pas lagi sepi, orang-orang udah pada tidur, bisa denger suara ombak dari kejauhan. Rasanya bikin hati adem. Selama nginep di sana, cuma satu provider yang sinyalnya bagus, sisanya matek semua. Terus selama di sana berasa program penaikan BB karena tiap hari ada aja makanan yang menggugah selera, dari mulai rendang paru yang endess sampai pepes entah apa, pokoknya ada nasinya plus ati ampela yang diungkep sama bumbu-bumbu yang rasanya enakk banget. Ada juga tape ketan yang dibungkus daun, tapi saya cuma nyicipin seujung jari doang.

Besoknya hari H pernikahan sepupu. Setelahnya, itinerary berlanjut ke Pantai Batu Hiu dan si curug itu sama area persawahan. Pantai Batu Hiu kalau menurut saya sih, biasa aja. Sayang, kita ngga jadi main ke curug dan area persawahan, dan memutuskan buat main di seputaran kampungnya aja. Besok malemnya kita pulang ke Bandung, sengaja berangkat jam 3 pagi, etapi tetep 12 jam bok di perjalanan pulangnya. Nagrek oh nagrek. Nggak lagi-lagi, deh kena macet di area itu.

Friday, May 30, 2014

And...The Pregnancy Journey Begins (again)

Alhamdulillah,
Setelah penantian yang lumayan lama, akhirnya Allah SWT kasih kepercayaan saya buat hamil lagi. Perjalanan buat hamil kedua ini lumayan banyak ups and downs dan dramanya.

Awalnya saya dan suami berencana untuk menambah momongan itu tahun 2012. Kami nggak program ke dr. spog dan berpikir pasti bisa hamil lagi dengan proses yang natural seperti halnya waktu hamil anak pertama. Tapi sepertinya Allah SWT mau kasih saya dan suami hikmah bahwa yang Maha Mengatur dan memberi kehidupan itu cuma Allah SWT. Jadi, ceritanya sebelum tahun 2012 saya sempat takut hamil karena sedang LDM dengan suami dan masih awal-awal kuliah profesi. Setiap kali telat haid rasanya galau dan berdoa mudah-mudahan jangan hamil dulu. Waktu itu, saya memang nggak menggunakan apa-apa untuk pencegah kehamilan. Bukannya pasrah dan berserah diri, setiap kali mendekati masa period doanya malah semoga haidnya lancar dan nggak hamil. Rupanya, doa-doa itulah yang didengar dan dikabulkan sama Allah ketika pada akhirnya di tahun 2012 saya mulai berencana untuk punya anak lagi.      

Lesson learned. Hati-hati dalam berucap karena ucapan bisa jadi doa.

Sepanjang tahun 2012 masih lumayan santai dalam menjalani rencana untuk hamil lagi. Waktu tahu kalau ternyata selalu dapat haid tiap bulan alias belum kunjung positif, saya mikirnya pasti karena kami berhubungan bukan di masa subur. Ya, mau gimana lagi, kami juga pas LDMan waktu itu. Kalau pas masa subur, saya lagi di luar kota atau malah sebaliknya suami yang sedang pergi ke luar kota. Menjelang akhir tahun 2012 load kerjaan semakin banyak, ditambah lagi mulai nyusun thesis,dan bolak-balik keluar kotanya semakin sering. Badan yang sebenernya sudah di ambang batas kelelahan tetep dipaksa buat melakoni semua hal dalam waktu yang bersamaan.

Wednesday, May 28, 2014

Ketika Si Kecil Mengganti Nama Panggilan Orangtuanya.

gambar pinjam dari sini

Saya pikir, Ezra akan selamanya memanggil saya dengan sebutan 'Ibu' seperti yang sudah biasa kami biasakan sejak dia masih bayi. Jadi berdasarkan kesepakatan bersama, suami saya  dipanggil 'Ayah' dan saya dipanggil 'Ibu' oleh Ezra.

Tapi, skhir Maret lalu semuanya berubah. Adalah Mama saya yang awalnya mengompori Ezra untuk mengganti nama panggilan saya dari 'Ibu' menjadi 'Bunda'. Omanya Ezra menerangkan dengan sabar kalau panggilan 'Ibu' itu nggak ada bedanya dengan panggilan untuk ibu-ibu lain yang ditemui Ezra di luar rumah. Mama saya bilang kalau pas Ezra memanggil gurunya kan juga menggunakan sebutan 'Ibu', tapi kan Bu Guru bukan ibunya Ezra. Lebih pas kalau manggilnya pakai 'Bunda' karena pasangannya 'Ayah' itu 'Bunda'. 

Dan doktrin Mama saya itu sepertinya mengena banget di diri Ezra. Ezra pun bilang kalau mulai sekarang dia bakal panggil saya Bunda dan saya harus merespon. Awalnya, saya masih nggak mau dan ingin mempertahankan panggilan 'Ibu' yang rasanya lebih istimewa dan bergetar di hati saya. Atau kalau rasanya belum terlalu personal, bisa diubah menjadi 'Ibuk'. Suami juga ogah. Nggak tau kenapa, sejak awal dia geli sama panggilan 'Bunda'. Pokoknya dia merasa nggak suka aja. 

Saya pun bilang sama Ezra kalau saya ingin tetap dipanggil 'Ibu', tapi entah gimana kok sepertinya dia maksa saya harus mau dipanggil 'Bunda'. 

E(zra): "Ya udah, kalau gitu aku mau ganti nama jadi Razor aja, kalo Bunda nggak mau?" (Lha, nggak ada hubungannya juga, Nak). Tapi pernyataan itu serius ternyata. Dia bilang lagi: "Kok Bunda kasih nama aku Ezra nggak 'Razor' atau 'Fun' aja? Aku juga mau panggil Bunda aja kalau gitu?" (Trik yang cerdas sebenernya, karena menyiratkan kalau ibunya aja bisa kasih nama sesuka udelnya, hehehe, sebagai anak boleh dong manggil orangtuanya dengan nama yang paling si anak inginkan.)

Saya terpaksa mengeluarkan akte kelahiran buat kasih tahu Ezra kalau namanya sudah nggak bisa diganti karena sudah tertulis secara hukum dan disahkan dalam akte kelahirannya. Terus, saya jelaskan arti namanya apa, dan idenya darimana. Dia pun mau memahami dan bilang : "Aku suka kok, sama nama Ezra. Tapi aku tetep mau manggil Bunda aja."

Oh baiklah. Karena nama anak nggak bisa dengan gampang digonti-ganti dan panggilan untuk orangtua itu sebenernya lebih fleksibel (selama sopan, ya), saya mau mengabulkan keinginan sederhana bocah kecil ini. 

B(unda): "Ya udah, oke. Kamu boleh panggil Bunda. Tapi kamu juga harus bilang sama ayah, ya?"

E : "Deal," jawab Ezra, "sekarang aku mau buat surat dulu buat Bunda, ya?"
B: "Surat apa?"
E: "Surat buat ganti nama, Bun? Biar Bunda nggak ganti-ganti lagi nanti kalau udah aku tandatanganin."
B: "Oh," (sambil garuk-garuk kepala)

Terus habis suratnya ditandatangani, beberapa hari kemudian dia ngetes saya.
E: "Bunnn, Buunnnda?"
B: "Iya, ada apa sih, kok teriak-teriak?"
E: "Cuma mau tau, Bunda lupa apa nggak?"

Lain waktu, pas ayahnya kepleset masih manggil dengan sebutan 'Ibu' (Dengan berat hati dia pun menyetujui panggilan 'Bunda') 
E: "Ayah, bukan Ibu, tapi Bunda. Buuunnnndaaaa. Ayo latian manggilnya Bundaa. B-U-N-D-A, ya.


Sampai hari ini saya masih sering lupa, karena panggilan Ibu tuh, lebih punya kesan di pikiran saya, lebih nyantol rasanya. Pak Suami juga masih sering manggil dengan sebutan Ibu. Ezra justru udah fasih banget. Sepertinya sebutan 'Bunda' lebih punya kesan buat dia. Ya udahlah ya, daripada saya mesti ganti nama dia jadi Razor juga.    

Pernah punya pengalaman serupa Moms? 

Monday, May 19, 2014

Ezra's Weekend Project : World Map & 3D House

Beberapa waktu lalu, saya sempet kaget waktu Ezra tahu-tahu gambar bendera negara-negara asing, seperti Brazil, Jepang, dan Italia. Nggak inget pernah ngajarin warna dan gambar bendera-bendera tersebut. Ngajarinnya baru gambar bendera Indonesia doang. Eh, tau-tau dia udah bisa aja. Ternyata dia tahu gambar bendera tersebut setelah nonton Cars 2. Jadi, sebenernya nonton film kartun itu, selama dipilihkan yang sesuai, ada manfaatnya juga, kok.

Nah, di film Cars 2 itu, ceritanya, si tokoh utama yang bernama Lightning McQueen ikutan perlombaan semacam Grand Prix yang mengharuskan dia keliling dunia. Nah, karena liat film itu jadilah Ezra mulai berminat sama peta dunia. Sebelumnya, saya pernah sih, mengenalkan dia sama benua-benua yang ada di dunia, tapi jarang di recall lagi, jadinya dia belum hapal banget di mana Afrika, Amerika, Asia, dsb. Yo wis, mumpung anaknya lagi semangat jadinya Ezra's Weekend Project kali ini temanya peta dan bendera dunia.

Selesai dengan proyek pertama, pulang nemenin saya ke Gramedia, kami menemukan puzzle 3D yang bentuknya rumah-rumahan khas negara-negara. Sepertinya pas dengan tema wiken kali ini, dibelilah satu buat percobaan dulu, takutnya nggak sesuai harapan. Ternyata setelah dirakit jadinya lucu. Jadi kepikiran buat bikin maket global village-nya. Ihiyy, udah ada ide buat next project, nih.

Proyek 3D House ini aslinya gampang banget karena bahan-bahannya tinggal beli jadi aja. Ngga perlu digunting pula, tinggal dipotek-potek dan dirakit sama dikencengin pakai selotip. Hasilnya bisa dilihat di gambar. Next postingan tentang world map dan bendera-bendera negaranya, ya. 


Anak Belajar Ikutan Lomba : Yay or Nay?

Ezra (Quatro) waktu ikutan lomba drumband.

Kalau saya sih, ada di tengah-tengah. 
Semua selalu saya lihat dulu apa manfaatnya buat anak dan pas nggak dengan usianya. Kalau sudah pas dengan usianya, dan lebih banyak manfaatnya, kenapa tidak. 

Jadi ceritanya suatu hari, Ezra minta ikutan lomba, katanya dia pingin dapet banyak piala kayak beberapa temannya yang rajin ikutan lomba. Bisa dibilang saya memang nggak pernah mengikutkan Ezra lomba, kecuali waktu umur 2 atau 3 tahunan gitu (saya lupa), lomba balita sehat. Itu pun karena dikejar-kejar sama orang puskesmas yang bilang kalau anak saya punya potensi untuk menang karena kelihatan cakep, sehat, dan ceria. Alhamdulillah. 

Alhasil karena bujukannya, saya ikutkan Ezra lomba. Menang di tingkat kabupaten, abis itu karena saya lumayan disibukkan dengan mempersiapkan kuliah profesi, saya nggak mengikutkan Ezra di lomba tingkat selanjutnya. Ribet karena rumahnya pake di survei segala, trus ortunya juga diwawancara, dan bolak-balik ke puskesmas buat ditimbang dan cek ini-itu, pokoknya berat badan si anak nggak boleh sampai turun. Jadi kepercayaan yang beredar luas adalah bahwa anak yang gemuk = sehat. 

Back to the topic
Waktu Ezra minta ikutan lomba, usianya sudah enam tahun. Tertinggal jauh dari teman-temannya yang mulai ikutan lomba sejak usia empat atau malah tiga tahun. 

Mulai usia lima atau enam tahun, seorang anak sudah mulai bisa membandingkan dirinya dengan orang lain. Jadi, wajar kalau Ezra juga sudah mulai melihat dirinya dengan cara membandingkan diri dengan teman-temannya.

“Bun, si ini tuh, gini, si itu tuh, gitu lhoo. Udah pernah ini, atau belum pernah itu,” 

Jadi, baiklah. Saya pun mencari lomba yang pas buat Ezra melalui link sekolah. Jujur, saya nggak terlalu suka sama lomba mewarnai karena yang menang biasanya anak yang sudah ikutan sanggar seni dan diajari teknik mewarnai yang sedemikian rupa, dengan teknik pewarnaan dan gradasi-gradasi yang lama-kelamaan hasil gambarnya jadi kelihatan seragam semua. Kalau dipikir-pikir, hal itu nggak ada bedanya dengan zaman saya dulu, kalau menggambar harus dua buah gunung, matahari menyembul di tengah, dan ada sawah terhampar luas. 

Pak Suami yang hobi orat-oret juga setuju sama saya. Jadi, waktu ada lomba menggambar (bukan mewarnai atau melengkapi gambar) saya pede mengikutsertakan Ezra dalam lomba tersebut. Iya dong, orangtuanya harus pede dulu kalau anaknya bisa. Jangan sampai ortu nggak bisa mengukur kemampuan anaknya dimana, dan langsung mengikutkan ke suatu lomba aja. 

Saya pede karena menggambar itu kerjaannya Ezra tiap hari. Saya sendiri suka dibuat tercengang dengan cerita-cerita dalam gambar yang dia buat. Misalnya, habis nonton DC atau BBC tentang luar angkasa, dia akan gambar tata surya. Kelemahannya, gambar Ezra masih sangat teknikal, jarang sekali dia menggambar yang sifatnya organis (bunga, pohon, hewan, dsb) Tapi nggak masalah, yang penting dia fun dulu dengan aktivitas menggambarnya. 

Lomba yang diikuti Ezra waktu itu, skalanya lumayan besar, hampir semua TK dan PAUD ikutan atau mengirimkan perwakilannya. Tema lomba gambarnya adalah : 'Cita-Citaku'. Waktu itu dia menang juara ketiga. Saya coba intip gambarnya, ternyata dia menggambar sebuah lingkaran besar seperti bumi, lengkap dengan pulau-pulau yang bentuknya masih ngasal. Lalu ada pesawat terbang sedang melintas dan bendera berbagai negara menancap di atas permukaan bumi tersebut. Disamping bumi, ada gambar sesosok anak laki-laki dengan rambut spikey yang dikasih topi pilot. Waktu saya tanya memang cita-citanya apa? Dia jawab : Pilot. :D 

Manfaat Ikutan Lomba Bagi Anak.

Manfaat lomba sebenarnya adalah untuk melatih mental anak sehingga dia tahu bahwa di luar sana ada orang lain yang melakukan hal yang sama dengan dirinya, dan ada konsep menang dan kalah dalam hal tersebut. 

Sebagai orangtua, kita harus jelaskan kepada anak menang itu apa, kriterianya apa, dan kalah itu bagaimana. Gunaka bahasa sederhana yang gampang dipahami anak. Tanyakan juga kepada si anak, apakah dia siap untuk menang atau kalah? Jelaskan bahwa kalau menang dia bisa mendapat hadiah, tetapi kalau nggak pun tujuan dari lomba ini adalah untuk ketemu banyak teman, punya pengalaman baru karena sudah pernah ikutan lomba, dan bermain dengan banyak teman baru. Kalau anak siap, let’s have fun. Ini juga merupakan cara untuk melatih anak mengembangkan sikap yang baik terhadap konsep menang dan kalah. Sometimes you win, sometimes you learn

Waktu ikutan lomba fashion show (janji itu yang pertama dan terakhir kalinya. :P ) Ezra kalah sama cewek-cewek mungil yang berdandan bak wanita dewasa. Pak Suami agak nggak setuju sebenernya waktu saya ikutkan Ezra di lomba tersebut, meski ada juga peserta lainnya yang anak laki-laki. Tapi saya bilang sama dia kalau saya ingin tahu seberapa besar tingkat kepercayaan diri Ezra untuk naik ke atas panggung dan diperhatikan oleh berpasang-pasang mata. Waktu tahu dia kalah, Ezra dengan entengnya bilang kalau lomba itu memang buat cewek ;D. 

Manfaat dari ikutan lomba yang lain, yang paling terasa adalah, anak dapat belajar untuk memahami kekuatan dan kelemahannya. Hal ini tentu baru bisa dirasakan oleh anak yang usianya lebih besar. Anak usia tiga tahun, mungkin belum punya sense tersebut. Beda dengan anak usia lima atau enam tahun yang sudah mulai bisa menilai dirinya sendiri. 

Ikut lomba juga mengajari anak untuk mengikuti aturan permainan, tengat waktu, dan belajar untuk berkompromi dengan keadaan. Waktu Ezra ikutan lomba drumband bareng teman-teman sekolahnya, terasa banget dia harus belajar untuk menunggu giliran, dan ada akibat yang harus dihadapi dengan menunggu, misalnya bosan, capek, dan laper :D but the show must go on. Dia harus belajar bahwa setelah seorang komitmen untuk mengikuti sesuatu dia harus melakukannya sampai selesai. 

Yang harus diingat oleh orangtua adalah untuk tidak terlalu menuntut dan memaksakan anak untuk menang dalam mengikuti suatu lomba. Selalu kita tekankan pada anak bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk menambah pengalaman. Selalu beri apresiasi atas keberanian dan kepercayaan dirinya untuk terlibat dalam kegiatan tersebut, loose or win

Mungkin itu dulu sharingnya. Disambung dengan topik lainnya ya, next time.

Life Lately

life lately. gambar pinjam dari sini

It’s been a while… 

Lama nggak posting di sini. Been busy lately. Dari mulai mengurus pindahan—yup, finally setelah sejak 2010 menjalani long distance marriage dan nomaden di beberapa kota, akhirnya bisa stay satu kota dan barengan sama keluarga setiap hari. Insya Allah dalam rentang waktu yang tidak singkat karena Ezra udah mau masuk SD pertengahan tahun ini. 

Masuk SD artinya komitmennya naik dong, nggak bisa seenak waktu masih TK, ajak dia bolos pas saya ada kerjaan di luar kota dan ninggal sekolahnya dalam waktu lama. Atau malah saya yang ninggalin dia selama beberapa waktu. Setelah diskusi, akhirnya kami sekeluarga sepakat untuk mengikuti sekolah anak dan lokasi pekerjaan suami.  

Sebenernya, pindahannya nggak sampai heboh-heboh amat sih, karena sejak 2013 sudah dicicil. PR berikutnya adalah mencari sekolah yang pas buat Ezra. Ini juga surveynya sudah dari lama. Dan saya sudah survei di tiga kota untuk mengantisipasi ketidakpastian domisili. Akhirnya, setelah diputuskan mau stay di mana, langsung lega dan mulai hunting sekolah yang pas secara lokasi, sistem pembelajaraan, dan biayanya. Setelah menemukan sekolah yang pas buat Ezra, yang lain-lain pun mulai bisa mengikuti.

Monday, February 24, 2014

Current Cravings: Our Hayao Miyazaki Night

No Face, salah satu karakter dalam Spirited Away (gambar pinjam dari sini)
Mei dan Totoro (gambar pinjam dari sini)
Gambar pinjam dari sini
Kutipan Favorit Hayao Miyazaki (Gambar pinjam dari sini)
Even gerimis pun jadi kelihatan cantik di tangannya Hayao Miyazaki (gambar pinjam dari sini)
Our Wish List (2014)
Sketching No Face, Makurro Kurosuke, and Totoro.
Saya lupa kapan tepatnya mulai jatuh hati dan menyukai semua film animasi karya Hayao Miyazaki ini. Kalau tidak salah, sekitar akhir tahun 2009, saya mulai memutarkan My Neighbor Totoro untuk Ezra. Waktu itu usianya tiga tahunan. Responnya lumayan, meskipun ternyata dia lebih suka nonton Thomas atau Pingu.

My Neighbor Totoro kembali ditonton Ezra tahun ini. Awalnya karena saya memberlakukan diet nonton film kartun, yang kalau dicermati kebanyakan isinya bullying secara terselubung. Salah satunya, coba deh, cermati Oggy and Crockoaches (Ini salah satu film kartun yang paling sering ditonton Ezra). Daripada menuai imbas negatif di kemudian hari, saya memutuskan untuk membatasi pilihan dan jam tontonannya. Memang sudah agak terlambat, tapi daripada tidak sama sekali. Dan saya pikir, sekarang dia sudah lebih besar, jadi lebih paham alasan dari sebuah peraturan atau larangan.

Ezra's Weekend Project : Recycle Wardrobe

Pameran hasil karya anak-Ezra and his classmate
Kostum 'keluarga gembel' :D

Ezra's weekend project kali ini temanya adalah membuat pakaian dari barang bekas. Ceritanya, di sekolah Ezra, Sabtu kemarin, diadakan Pameran Hasil Karya Anak dan pementasan drumband. Salah satu acaranya ada lomba fashion show orangtua dan anak juga. Tadinya ngga bakal datang ke acara ini karena seminggu belakangan Ezra sedang ngga enak badan dan sempat demam tinggi. Tapi karena Ezra harus ikut manggung pas drumband, mau gimana lagi. Karena sejak awal udah ngga niat ikutan, buat kostum untuk fashion shownya juga dadakan. 

Saya tanya Ezra, mau bikin kostum apa? Dia pingin buat kostum ninja. Oke, tema buat anak udah ketemu, tinggal ibunya mau pakai baju apa masih bingung sendiri. Mana waktu bikinnya mepet banget. Awalnya mau pakai bahan karung bekas beras. Eh tapi, penjahit saya nggak mau dong, waktu disuruh jahit karung yang sudah saya pola, takut mesinnya rusak, dan katanya jahit bahan karung plastik gitu susah. 

Baru pas Jumat malemnya nemu ide buat bikin kostum-kostumnya dari kantong-kantong belanja bekas. Pertama bikin punya saya dulu karena bikin baju perempuan relatif gampang, dan nggak perlu pakai pola. Tinggal tempel-tempel bahan di atas manekin sambil dijelujur dulu. Baru abis itu bikin kostum punya Ezra. Untung ada kantung plastik sampah yang ukuran besar di rumah, jadi bisa dibuat model baju yang agak panjang.     

Pagi-pagi baru ditindas pakai mesin jahit, dan ternyata bahan kantong plastik jahitnya gampang, kok. Mungkin karena lebih tipis, sih. Tinggal Ezra yang kemudian nempelin aksesorisnya mau kayak gimana. Kostum punya dia, ditempelin gambar si Lightning McQueen yang digunting dari kantung kain bekas juga. Punya saya, itu corsace bunganya juga dari kantong plastik warna gold yang digunting bentuk bunga. Jam tujuh kostumnya jadi, dan siap-siap deh, berangkat ke sekolah. 

Waktu ngeliat kostum yang udah jadi cuma mikir satu hal, mudah-mudahan nanti pas dipakai, kita berdua nggak keliatan kayak orang gila :D atau gembel, hihihiy. 

Sampai sekolah, ternyata banyak juga keluarga gembel peserta lainnya yang pakai kostum dan aksesori berbahan bekas lainnya. Semua kreatif-kreatif dan keren deh, pada niatlah pesertanya. Dari dua puluhan peserta, Ezra dapet juara harapan tiga. Ihiyyy, lumayanlah.

Wednesday, February 19, 2014

Belajar Calistung : Latihan Membaca Untuk Anak Usia 5-6 Tahun

Buku Latihan Harian
Peer bacaan tiap malam sebelum tidur. Sapta Siaga, Enid Blyton.
Permainan menyusun suku kata

Tulisan ini sambungan dari sini ya. Kalau waktu itu sempat membahas tentang bagaimana melatih anak-anak usia 3-5 tahun untuk menulis, kali ini saya akan berbagi tentang bagaimana melatih anak usia 5-6 tahun untuk belajar membaca. 

Sebenarnya, goal yang saya inginkan dari menguasai keterampilan membaca untuk Ezra adalah bagaimana agar dia nantinya bisa menyukai buku dan menikmati kegiatan membaca.Di era gadget yang serba canggih ini, goal tersebut jadi peer banget. 

Terkadang buku-buku bacaan anak, mau sewarna-warni apa pun masih sering kalah sama mainan yang ada di gadget dan acara-acara anak di televisi. Memang sih, semua tergantung bimbingan orang tuanya, dari awal seperti apa menerapkan kebijakan dalam hal bermain gadget dan nonton televisi. 

Menurut saya, proses dari bisa membaca, kemudian menikmati sebuah bacaan itu membutuhkan waktu yang cukup panjang. Apalagi untuk anak-anak usia 5-6 tahun. Untuk itu, harus ada yang bisa menularkan semangat dan kesenangan tersebut, terutama di dalam lingkungan keluarga. 

Saat usianya lima tahun, Ezra sudah bisa membaca kata-kata dengan suku kata yang sederhana, misalnya ‘bubu’, ‘sapi’, dan sebagainya. Dia juga sudah mahir menuliskan namanya. Untuk tulisan yang panjang-panjang masih butuh bimbingan, terutama kalau dalam kata tersebut ada ‘ng’ atau ‘ny’. Kadang dia juga coba-coba membaca kata dalam Bahasa Inggris, dan sering kali jadi bingung karena pelafalannya beda dengan Bahasa Indonesia. 

Saya memang sengaja tidak mengajarkan Ezra Bahasa Inggris secara intensif di usianya sekarang (6y2m). Paling-paling hanya mengajarkan kosa kata sederhana seperti nama-nama bagian tubuh, benda-benda di rumah, sayur-buah, dsb. Atau perintah-perintah sederhana dalam bahasa Inggris. Pinginnya, dia mahir berbahasa Indonesia dulu. Baru deh, nanti di usia 7 tahun mulai mengenalkan bahasa asing lainnya dengan lebih intensif. 

Meskipun saya sudah bisa memberi nilai 7 untuk keterampilannya dalam membaca, tapi saya masih nggak yakin kalau nanti dia bakal telaten membaca buku. Dan sebentar lagi kan Ezra masuk SD. Beberapa materi pastinya nanti akan disampaikan lewat text book. Jadi, menumbuhkan minat baca ini peer banget buat saya. 

Dulu, di usia 4,5 tahun saya sudah mahir membaca. Buku bacaan yang diberikan ibu saya juga lumayan banyak. Hampir setiap hari saya baca buku karena hiburannya ya, cuma itu. Nonton televisi cuma hari minggu, Unyil dkk. Nonton yang lumayan sering itu baru pas RCTI mulai mengudara (ketahuan deh, jadulnya) 

Sekarang, zamannya Ezra saingannya aktivitas baca buku itu banyak banget. Ya, TV kabel sampai aneka bentuk stimulasi visual yang ada di gadget

So, apa yang saya lakukan kalau begitu...
  1. Untuk latihan membaca, setiap hari Senin-Jumat (Sabtu-Minggunya libur biar nggak jenuh) saya mendampingi Ezra untuk latihan membaca minimal lima sampai sepuluh kata yang berbeda. Dari mulai kata dengan suku kata sederhana seperti: ‘muka’ sampai ‘ketemu’ atau yang lebih panjang lagi misalnya ‘petunjuk’, dsb. Intinya, dari yang paling mudah ke yang paling susah dieja. Sebagai alat bantu, saya membeli beberapa buku latihan membaca yang dijual di toko buku. Bisa buku apa saja, pokoknya untuk latihan baca, deh. Usahakan yang tulisannya besar-besar dan tidak terlalu rapat,ya. 
  2. Kalau pas rajin saya juga sengaja ngeprint penggalan-penggalan suku kata dan minta Ezra untuk menyusunnya. Atau bikin penggalan kata-kata yang kemudian saya susun menjadi sebuah kalimat. Misalnya : ‘Ibu Pergi Ke Pasar Beli Sayur’. Lalu saya minta Ezra untuk membaca dan menyalin tulisan tersebut. Dengan menyalin, otomatis ia akan berlatih menuangkan apa yang sudah dibaca ke dalam tulisan dan sebaliknya. Ini penting. Jangan sampai anak hanya sekadar menyalin, tetapi tidak tahu makna tulisan tersebut. Di sini kita bisa melihat apakah dia sudah memahami tujuan dari menulis dan membaca. Orangtua harus bisa memberikan pengertian bahwa tulisan dan bacaan adalah cara manusia menyampaikan pesan dan agar dirinya dapat dipahami. Dengan mengetahui makna dari apa yang dikerjakannya, si anak akan merasa memiliki tujuan. Jadi menulis tidak menjadi suatu hal yang mekanis dan membosankan baginya.
  3. Selingi aktivitas latihan membaca tersebut dengan permainan. Misalnya menyusun huruf, main tebak kata, dan sebagainya. Selingan ini dilakukan agar selain terstimulasi secara visual, ia juga terstimulasi secara kinestesi maupun audio. Membaca pada dasarnya merupakan aktivitas visual. Untuk anak-anak tertentu yang cara belajarnya kinestesi, kegiatan tersebut dapat membuatnya mudah bosan. Jadi, dengan adanya permainan, ia bisa merasa lebih antusias.
  4. Pilihkan bacaan sesuai dengan gender dan kegemaran anak. Kalau anak laki-laki, kita bisa berikan buku dengan tema-tema yang boyish, seperti petualangan, memecahkan teka-teki, transportasi, otomotif, permainan, olahraga, dsb. 
  5. Nah, kalau anak sudah mulai memahami makna kata atau sebuah tulisan, dan dia sudah mulai paham bahwa kata-kata itu penting dalam keseharian dan untuk menyampaikan pesan atau maksud seseorang, kita mulai bisa semacam memberinya 'doktrin'. Cara saya biasanya seperti ini :  
  • “Sayang, kalau kamu sudah bisa baca seru lhooo. Nanti kalau pas nonton film, kamu bisa tahu arti tulisan yang ada di bawahnya. Kalau bisa baca kan jadi bisa tahu ceritanya gimana.” 
  • Kalau sedang di jalan, saya suka iseng nanya sama Ezra. “Eh, itu tulisannya apa, ya? Coba deh, Kaka baca. Enak kan kalau sudah bisa baca, Kaka jadi tau nama tempat-tempat. Kalau mau pergi-pergi ke luar kota atau ke luar negeri, Kaka bacanya juga harus lancar. Kalau nggak nanti bisa tersesat.” 
  • Cara lain yang menurut saya cukup ampuh adalah dengan membacakannya cerita. Biasanya saat sedang dibacakan cerita, dia suka nanya: “gambarnya mana?” terus kalau kebetulan bukunya nggak ada gambarnya, saya akan bilang begini : “Kalau udah bisa baca sendiri, Kaka nggak perlu lihat gambar pasti udah bisa ngebayangin ceritanya. Di dalam buku yang isinya cuma tulisan-tulisan ini, Kaka bisa lihat dan tahu banyak gambar dan cerita-cerita seru.” 
  • Atau pas lagi mainan gadget. “Ini bacanya ‘Free’ kan, Bu. Artinya gratis kan?” Saya mengangguk-angguk. “Iya, sayang. Bener banget. Kaka bacanya makin pinter, deh. Coba kalau nulis ‘Gratis’ gimana?” atau “Eh, kalau mau lancar pakai laptop juga harus lancar bacanya, nanti nggak tahu Kaka pencet tulisan apa, artinya apa, error, deh.” 
  • Selain memberikan doktrin-doktrin di atas, untuk mengugah minat bacanya, saya juga memakai kegiatan menggambar sebagai sarana. Misalkan dengan meminta dia menggambar dan menamai gambarnya itu. Latihan ini membantu anak untuk mengaitkan gambar mentalnya tentang suatu benda, misalnya saja ‘Kereta’ dengan simbol benda tersebut, yaitu tulisannya. Anak juga menjadi lebih pede dengan cara ini karena ia bisa ‘melakukan sesuatu’ yang dapat dilihat, dipahami, dan mempunyai makna. 
  • Mungkin itu beberapa cara yang bisa saya bagi. Sisanya, selain lead by example, harus banyak-banyak sabar dan kreatif. Selalu berikan rewards positif atas semua yang sudah dilakukannya plus jangan dibanding-bandingkan dengan temannya, ya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...