Monday, February 24, 2014

Current Cravings: Our Hayao Miyazaki Night

No Face, salah satu karakter dalam Spirited Away (gambar pinjam dari sini)
Mei dan Totoro (gambar pinjam dari sini)
Gambar pinjam dari sini
Kutipan Favorit Hayao Miyazaki (Gambar pinjam dari sini)
Even gerimis pun jadi kelihatan cantik di tangannya Hayao Miyazaki (gambar pinjam dari sini)
Our Wish List (2014)
Sketching No Face, Makurro Kurosuke, and Totoro.
Saya lupa kapan tepatnya mulai jatuh hati dan menyukai semua film animasi karya Hayao Miyazaki ini. Kalau tidak salah, sekitar akhir tahun 2009, saya mulai memutarkan My Neighbor Totoro untuk Ezra. Waktu itu usianya tiga tahunan. Responnya lumayan, meskipun ternyata dia lebih suka nonton Thomas atau Pingu.

My Neighbor Totoro kembali ditonton Ezra tahun ini. Awalnya karena saya memberlakukan diet nonton film kartun, yang kalau dicermati kebanyakan isinya bullying secara terselubung. Salah satunya, coba deh, cermati Oggy and Crockoaches (Ini salah satu film kartun yang paling sering ditonton Ezra). Daripada menuai imbas negatif di kemudian hari, saya memutuskan untuk membatasi pilihan dan jam tontonannya. Memang sudah agak terlambat, tapi daripada tidak sama sekali. Dan saya pikir, sekarang dia sudah lebih besar, jadi lebih paham alasan dari sebuah peraturan atau larangan.

Ezra's Weekend Project : Recycle Wardrobe

Pameran hasil karya anak-Ezra and his classmate
Kostum 'keluarga gembel' :D

Ezra's weekend project kali ini temanya adalah membuat pakaian dari barang bekas. Ceritanya, di sekolah Ezra, Sabtu kemarin, diadakan Pameran Hasil Karya Anak dan pementasan drumband. Salah satu acaranya ada lomba fashion show orangtua dan anak juga. Tadinya ngga bakal datang ke acara ini karena seminggu belakangan Ezra sedang ngga enak badan dan sempat demam tinggi. Tapi karena Ezra harus ikut manggung pas drumband, mau gimana lagi. Karena sejak awal udah ngga niat ikutan, buat kostum untuk fashion shownya juga dadakan. 

Saya tanya Ezra, mau bikin kostum apa? Dia pingin buat kostum ninja. Oke, tema buat anak udah ketemu, tinggal ibunya mau pakai baju apa masih bingung sendiri. Mana waktu bikinnya mepet banget. Awalnya mau pakai bahan karung bekas beras. Eh tapi, penjahit saya nggak mau dong, waktu disuruh jahit karung yang sudah saya pola, takut mesinnya rusak, dan katanya jahit bahan karung plastik gitu susah. 

Baru pas Jumat malemnya nemu ide buat bikin kostum-kostumnya dari kantong-kantong belanja bekas. Pertama bikin punya saya dulu karena bikin baju perempuan relatif gampang, dan nggak perlu pakai pola. Tinggal tempel-tempel bahan di atas manekin sambil dijelujur dulu. Baru abis itu bikin kostum punya Ezra. Untung ada kantung plastik sampah yang ukuran besar di rumah, jadi bisa dibuat model baju yang agak panjang.     

Pagi-pagi baru ditindas pakai mesin jahit, dan ternyata bahan kantong plastik jahitnya gampang, kok. Mungkin karena lebih tipis, sih. Tinggal Ezra yang kemudian nempelin aksesorisnya mau kayak gimana. Kostum punya dia, ditempelin gambar si Lightning McQueen yang digunting dari kantung kain bekas juga. Punya saya, itu corsace bunganya juga dari kantong plastik warna gold yang digunting bentuk bunga. Jam tujuh kostumnya jadi, dan siap-siap deh, berangkat ke sekolah. 

Waktu ngeliat kostum yang udah jadi cuma mikir satu hal, mudah-mudahan nanti pas dipakai, kita berdua nggak keliatan kayak orang gila :D atau gembel, hihihiy. 

Sampai sekolah, ternyata banyak juga keluarga gembel peserta lainnya yang pakai kostum dan aksesori berbahan bekas lainnya. Semua kreatif-kreatif dan keren deh, pada niatlah pesertanya. Dari dua puluhan peserta, Ezra dapet juara harapan tiga. Ihiyyy, lumayanlah.

Wednesday, February 19, 2014

Belajar Calistung : Latihan Membaca Untuk Anak Usia 5-6 Tahun

Buku Latihan Harian
Peer bacaan tiap malam sebelum tidur. Sapta Siaga, Enid Blyton.
Permainan menyusun suku kata

Tulisan ini sambungan dari sini ya. Kalau waktu itu sempat membahas tentang bagaimana melatih anak-anak usia 3-5 tahun untuk menulis, kali ini saya akan berbagi tentang bagaimana melatih anak usia 5-6 tahun untuk belajar membaca. 

Sebenarnya, goal yang saya inginkan dari menguasai keterampilan membaca untuk Ezra adalah bagaimana agar dia nantinya bisa menyukai buku dan menikmati kegiatan membaca.Di era gadget yang serba canggih ini, goal tersebut jadi peer banget. 

Terkadang buku-buku bacaan anak, mau sewarna-warni apa pun masih sering kalah sama mainan yang ada di gadget dan acara-acara anak di televisi. Memang sih, semua tergantung bimbingan orang tuanya, dari awal seperti apa menerapkan kebijakan dalam hal bermain gadget dan nonton televisi. 

Menurut saya, proses dari bisa membaca, kemudian menikmati sebuah bacaan itu membutuhkan waktu yang cukup panjang. Apalagi untuk anak-anak usia 5-6 tahun. Untuk itu, harus ada yang bisa menularkan semangat dan kesenangan tersebut, terutama di dalam lingkungan keluarga. 

Saat usianya lima tahun, Ezra sudah bisa membaca kata-kata dengan suku kata yang sederhana, misalnya ‘bubu’, ‘sapi’, dan sebagainya. Dia juga sudah mahir menuliskan namanya. Untuk tulisan yang panjang-panjang masih butuh bimbingan, terutama kalau dalam kata tersebut ada ‘ng’ atau ‘ny’. Kadang dia juga coba-coba membaca kata dalam Bahasa Inggris, dan sering kali jadi bingung karena pelafalannya beda dengan Bahasa Indonesia. 

Saya memang sengaja tidak mengajarkan Ezra Bahasa Inggris secara intensif di usianya sekarang (6y2m). Paling-paling hanya mengajarkan kosa kata sederhana seperti nama-nama bagian tubuh, benda-benda di rumah, sayur-buah, dsb. Atau perintah-perintah sederhana dalam bahasa Inggris. Pinginnya, dia mahir berbahasa Indonesia dulu. Baru deh, nanti di usia 7 tahun mulai mengenalkan bahasa asing lainnya dengan lebih intensif. 

Meskipun saya sudah bisa memberi nilai 7 untuk keterampilannya dalam membaca, tapi saya masih nggak yakin kalau nanti dia bakal telaten membaca buku. Dan sebentar lagi kan Ezra masuk SD. Beberapa materi pastinya nanti akan disampaikan lewat text book. Jadi, menumbuhkan minat baca ini peer banget buat saya. 

Dulu, di usia 4,5 tahun saya sudah mahir membaca. Buku bacaan yang diberikan ibu saya juga lumayan banyak. Hampir setiap hari saya baca buku karena hiburannya ya, cuma itu. Nonton televisi cuma hari minggu, Unyil dkk. Nonton yang lumayan sering itu baru pas RCTI mulai mengudara (ketahuan deh, jadulnya) 

Sekarang, zamannya Ezra saingannya aktivitas baca buku itu banyak banget. Ya, TV kabel sampai aneka bentuk stimulasi visual yang ada di gadget

So, apa yang saya lakukan kalau begitu...
  1. Untuk latihan membaca, setiap hari Senin-Jumat (Sabtu-Minggunya libur biar nggak jenuh) saya mendampingi Ezra untuk latihan membaca minimal lima sampai sepuluh kata yang berbeda. Dari mulai kata dengan suku kata sederhana seperti: ‘muka’ sampai ‘ketemu’ atau yang lebih panjang lagi misalnya ‘petunjuk’, dsb. Intinya, dari yang paling mudah ke yang paling susah dieja. Sebagai alat bantu, saya membeli beberapa buku latihan membaca yang dijual di toko buku. Bisa buku apa saja, pokoknya untuk latihan baca, deh. Usahakan yang tulisannya besar-besar dan tidak terlalu rapat,ya. 
  2. Kalau pas rajin saya juga sengaja ngeprint penggalan-penggalan suku kata dan minta Ezra untuk menyusunnya. Atau bikin penggalan kata-kata yang kemudian saya susun menjadi sebuah kalimat. Misalnya : ‘Ibu Pergi Ke Pasar Beli Sayur’. Lalu saya minta Ezra untuk membaca dan menyalin tulisan tersebut. Dengan menyalin, otomatis ia akan berlatih menuangkan apa yang sudah dibaca ke dalam tulisan dan sebaliknya. Ini penting. Jangan sampai anak hanya sekadar menyalin, tetapi tidak tahu makna tulisan tersebut. Di sini kita bisa melihat apakah dia sudah memahami tujuan dari menulis dan membaca. Orangtua harus bisa memberikan pengertian bahwa tulisan dan bacaan adalah cara manusia menyampaikan pesan dan agar dirinya dapat dipahami. Dengan mengetahui makna dari apa yang dikerjakannya, si anak akan merasa memiliki tujuan. Jadi menulis tidak menjadi suatu hal yang mekanis dan membosankan baginya.
  3. Selingi aktivitas latihan membaca tersebut dengan permainan. Misalnya menyusun huruf, main tebak kata, dan sebagainya. Selingan ini dilakukan agar selain terstimulasi secara visual, ia juga terstimulasi secara kinestesi maupun audio. Membaca pada dasarnya merupakan aktivitas visual. Untuk anak-anak tertentu yang cara belajarnya kinestesi, kegiatan tersebut dapat membuatnya mudah bosan. Jadi, dengan adanya permainan, ia bisa merasa lebih antusias.
  4. Pilihkan bacaan sesuai dengan gender dan kegemaran anak. Kalau anak laki-laki, kita bisa berikan buku dengan tema-tema yang boyish, seperti petualangan, memecahkan teka-teki, transportasi, otomotif, permainan, olahraga, dsb. 
  5. Nah, kalau anak sudah mulai memahami makna kata atau sebuah tulisan, dan dia sudah mulai paham bahwa kata-kata itu penting dalam keseharian dan untuk menyampaikan pesan atau maksud seseorang, kita mulai bisa semacam memberinya 'doktrin'. Cara saya biasanya seperti ini :  
  • “Sayang, kalau kamu sudah bisa baca seru lhooo. Nanti kalau pas nonton film, kamu bisa tahu arti tulisan yang ada di bawahnya. Kalau bisa baca kan jadi bisa tahu ceritanya gimana.” 
  • Kalau sedang di jalan, saya suka iseng nanya sama Ezra. “Eh, itu tulisannya apa, ya? Coba deh, Kaka baca. Enak kan kalau sudah bisa baca, Kaka jadi tau nama tempat-tempat. Kalau mau pergi-pergi ke luar kota atau ke luar negeri, Kaka bacanya juga harus lancar. Kalau nggak nanti bisa tersesat.” 
  • Cara lain yang menurut saya cukup ampuh adalah dengan membacakannya cerita. Biasanya saat sedang dibacakan cerita, dia suka nanya: “gambarnya mana?” terus kalau kebetulan bukunya nggak ada gambarnya, saya akan bilang begini : “Kalau udah bisa baca sendiri, Kaka nggak perlu lihat gambar pasti udah bisa ngebayangin ceritanya. Di dalam buku yang isinya cuma tulisan-tulisan ini, Kaka bisa lihat dan tahu banyak gambar dan cerita-cerita seru.” 
  • Atau pas lagi mainan gadget. “Ini bacanya ‘Free’ kan, Bu. Artinya gratis kan?” Saya mengangguk-angguk. “Iya, sayang. Bener banget. Kaka bacanya makin pinter, deh. Coba kalau nulis ‘Gratis’ gimana?” atau “Eh, kalau mau lancar pakai laptop juga harus lancar bacanya, nanti nggak tahu Kaka pencet tulisan apa, artinya apa, error, deh.” 
  • Selain memberikan doktrin-doktrin di atas, untuk mengugah minat bacanya, saya juga memakai kegiatan menggambar sebagai sarana. Misalkan dengan meminta dia menggambar dan menamai gambarnya itu. Latihan ini membantu anak untuk mengaitkan gambar mentalnya tentang suatu benda, misalnya saja ‘Kereta’ dengan simbol benda tersebut, yaitu tulisannya. Anak juga menjadi lebih pede dengan cara ini karena ia bisa ‘melakukan sesuatu’ yang dapat dilihat, dipahami, dan mempunyai makna. 
  • Mungkin itu beberapa cara yang bisa saya bagi. Sisanya, selain lead by example, harus banyak-banyak sabar dan kreatif. Selalu berikan rewards positif atas semua yang sudah dilakukannya plus jangan dibanding-bandingkan dengan temannya, ya.

Friday, February 14, 2014

The Happiness Project February : Remember Love (The Mixtape)

The Mixtape Cover
Bahagia itu sederhana. Sesederhana saat perjalanan pulang ke rumah bisa barengan sama pasangan, ngobrol, dan mendengarkan lagu-lagu yang menyenangkan. Saya dan suami punya kebiasaan tuker-tukeran lagu yang belakangan sering didengarkan atau lagi disukai masing-masing. Biasanya kalau salah satu lagi nyetel list lagu favoritnya suka muncul pertanyaan atau pernyataan, dan hal-hal ajaib lainnya. 

 Misalnya aja kayak percakapan yang terjadi waktu suami memutar songs playlist punya dia.

(M)e : Lagu India? Seriously? Pasti soundtrack film ya?
(S)uami : Eh, tapi enak lho, dengerin aja. Musiknya adem.
(M) : Iya enak. Untung cuma instrumen doang, nggak ada liriknya. Judulnya apa, soundtrack film apa?
(S) : Kabhi Alvida Naa Kehna. Aku mau cari liriknya, ntar biar bisa ikutan nyanyi.
(M) : Jiahh, mendingan nggak usah. Kita cari filmnya aja, daripada dengerin kamu yang nyanyi.

Atau percakapan lain. Waktu itu gantian saya putar mixtape punya saya.
(S) : Jadul banget. Emang kamu udah lahir pas lagu ini? Kayaknya aku aja masih SMP deh, pas lagu ini. Kamu masih SD kali atau malah masih TK, tuh.
(M) : Yee, kayak kita bedanya sepuluh tahun aja. Kan kalo kamu SMP kelas 3, berarti aku kelas 1. Aku tahu lah lagu ini. Cuma pas SMP belom suka. Sukanya baru sekarang.
(S) : Udah ketebak. Dulu paling kamu sukanya boy band.

Yaa pokoknya gitu deh. Dari dengerin lagu bareng, suka muncul ide mau ngelakuian apa. Kayak pas abis dengerin soundtrack film India itu. Kapan gitu filmnya sempet diputer di teve, tapi kita cuma nonton setengahnya doang. Jadi , penasaran kan awal ceritanya gimana. Dan lagu-lagunya ternyata memang enak. Eh, beneran dong, abis itu kita langsung hunting filmnya. Terus pernah waktu itu, salah satu nularin lagunya Benyamin, dan hampir tiap hari kalau pas semobil bareng yang diputar lagu itu melulu. Sampai waktu itu, Ezra yang baru umur 3 tahun nyanyinya lagu Kompor Mleduk. Guru-guru di PG-nya sampai heran betapa Ezra menjiwai kebudayaan Betawi sekali. Hihihi. Padahal ketularan Nyak-Babenya. 

Lalu, baru-baru aja, waktu saya lagi tergila-gila sama The Great Gatsby dan terus-terusan muter lagunya Lana Del Rey-Young and Beautiful, tahu-tahu aja suami kirim whatsapp, padahal kita lagi sama-sama di dalam mobil. 

Isi pesannya seolah jawaban dari lirik bagian reff lagu itu. 
“Will you still love me when I'm no longer young and beautiful?Will you still love me when I got nothing but my aching soul?" 

Dan isi pesan dari Pak Suami pakai lirik lagu pula. 
“Sekarang atau 50 tahun lagi kuakan selalu mencintaimu. Tak ada bedanya rasa cintaku masih sama seperti yang dulu.” 

Ngikik. Padahal sama sekali nggak ada niatan buat curcol lewat #nowplaying. 

Ngomong-ngomong soal #nowplaying sekarang ini mixtape Remember Love yang lagi suka kita dengerin di mobil. Pilihan lagunya memang agak condong ke selera saya, sih. Tapi masih netral untuk didengerin bareng-bareng di mobil karena ada juga lagu-lagu pilihan suami. Yang penting, kalau buat suami, bukan lagu-lagu yang gloomy atau bikin galau. Remember Love ini enak didengerin buat ngilangin suntuk atau capek saat lagi di jalanan. Dan kami selalu happy saat dengerin mixtape ini. 

Songs List : 

  1. Bic Runga-Listening For The Weather 
  2. Brent Cash-Dear my Friend 
  3. Jack Jhonson-Sitting, Waiting, Wishing. 
  4. Jason Mraz-I Won’t Give Up 
  5. Jim Sturgess-Something 
  6. Oasis-Stand By Me 
  7. Maroon 5-Wont Go Home Without You. 
  8. The Perishers-Nothing Like You and I. 

Kalau mau ikutan dengerin boleh kok unduh di sini.
Selamat mendengarkan!

NB: By the way, postingan-nya bukan dalam rangka palentin, lho. Ngepas aja tanggalnya. Tulisan ini diniatkan untuk bikin The Happiness Project a la saya yang terinspirasi dari bukunya Gretchen Rubin dengan judul yang sama. Di daftar isi buku tersebut, bagian bulan February membahas tentang pernikahan dan tagline-nya adalah Remember Love.

Monday, January 6, 2014

Give Away & Quiz Everlasting Love

Tentang Cinta Yang Selalu Ada

Yeayy! Mari mengawali awal tahun 2014 ini dengan bagi-bagi buku gratis dan kuis berhadiah buku. Kali ini, buku yang akan saya hadiahkan berjudul Everlasting Love

Buat yang belum tahu, ini adalah buku non fiksi kedua saya yang bertema parenting. Ditulis bersama sebelas orang penulis lainnya yang adalah seorang ibu.Buku ini adalah kumpulan kisah inspiratif dari para ibu sejak masa penantian lahirnya si buah hati sampai masa suka-dukanya mengurus si kecil yang masih balita.  

Di buku ini, saya menitipkan sebuah surat untuk Ezra. Tema yang saya angkat adalah tentang sikap over protective orangtua terhadap anaknya. Judul tulisan saya: Ketika Kau Jatuh dan Terluka.

Sebelas ibu lainnya menyumbangkan kisah nyatanya di buku ini:  
Gita Romadhona, seorang editor dan pemilik blog keren, yang berbagi kisah ketika matahari kecilnya pertama hadir di bumi. 
Lucy Wiryono, host balap MotoGP Trans 7 yang bercerita tentang kisah 'Do It Our Way' dalam membesarkan anak-anaknya. 
Asmara Letizia atau yang lebih akrab dengan sebutan @miund yang berbagi kisah mengenai bagaimana dirinya harus menghadapi pilihan antara bekerja atau mengurus keluarga. 
Stella Ang, ibu dari putri cantik Keira, yang berkisah tentang pengalamannya seputar suka dan duka selama masa kehamilan. 
Smita Diastri yang membagi 'jadwalnya' mengurus si kecil, juga kisah-kisahnya ketika ia harus bekerjasama dengan pasangan dalam mengurus si kecil. 
Windry Ramadhina, penulis Orange, Metropolis, Memori, Montase, dan London, yang berkisah tentang Me Time-nya yang hilang saat sudah memiliki Balerina. 
Meira Anastasia seorang MC yang menitipkan suratnya untuk putrinya, Sky. 
Laila Achmad, seorang ibu yang bercerita mengenai kenyataan bahwa dirinya belajar lebih banyak dari pengalaman ketimbang referensi yang selama ini ia baca. 
Ninit Yunita, novelis dan CCO www.theurbanmama.com yang berbagi cerita tentang kekritisan kedua anak lelakinya dan bagaimana mengatasinya. 
Alit Tisna Palupi, seorang editor lepas yang berbagi kisah tentang 'Teman Seperjalanan'-nya.

Membaca buku ini membuat saya menangis bahagia. Dan semakin menyadari betapa berharganya setiap kisah yang saya jalani sebagai seorang ibu. Kisah-kisah dari para ibu lainnya membuat saya semakin yakin inilah profesi paling berarti di muka bumi, paling penuh tantangan, dan paling...uhm, berat.

Namun, meski berat, membaca buku ini juga membuatnya terasa lebih ringan, penuh tawa, dan terasa ikhlas. Saya seolah memiliki teman-teman di luar sana yang juga mengalami hal yang sama. Saya jadi ingat waktu @miund mengakhiri acara Bincang Santai di acara Moms Gathering dengan mengatakan bahwa buku ini membuat para ibu di luar sana tidak merasa sendirian. So true @miund :) 

Nah, sekarang bagian serunya.

Give away kali ini akan saya lakukan dengan randomized blog walking. Dua blog yang terpilih akan mendapatkan buku Everlasting Love. Kriteria blognya: pemilik blog adalah seorang ibu dan rajin membagi kisah-kisahnya selama masa kehamilan atau pada saat ia mengasuh dan membesarkan anak-anaknya. Jika terpilih dan mendapatkan hadiah buku, diharapkan pemilik blog yang bersangkutan berkenan untuk membagi pengalamannya ketika membaca Everlasting Love. Jika ingin blognya didatangi, silakan menyertakan link blog di halaman komen, nanti saya mampir ke sana :)

Selain give away, akan ada juga  kuis yang  berhadiah buku Everlasting Love. Akan dipilih dua orang pemenang dan masing-masing akan mendapatkan satu buah buku Everlasting Love. Ketentuannya sebagai berikut :
  • Menjadi followers blog ini.
  • Membagi kisah nyatanya dengan tema "Bahagianya Menjadi Ibu" di blog masing-masing(panjang cerita tidak dibatasi), kemudian mention saya di twitter @nia_nurdiansyah dengan menyertakan link postingan cerita dari blog masing-masing dan beri tagar  #Quiz #EverlastingLove.
  • Mention saya paling lambat 31 Januari 2014. 
  • Saya akan memilih dua cerita, dan masing-masing akan mendapatkan satu buah buku Everlasting Love
  • Selamat berbagi kisah :) 


  

Friday, January 3, 2014

Ezra's Weekend Project : Giant New Year Greeting Card

Masih ada sisa seminggu dari total dua minggu, waktu liburan sekolahnya Ezra, dan tiap hari ada ajaa hal yang pengin dilakuin sama bocah yang satu ini. Terus wiken sebelum tahun baru kemarin dia sempet nanya, kok ibu sekarang ngga pernah pake cat air hadiah dari aku, sih? 

Hmmm, sibuk, Nak. Kalau sampai bisa main-main sama cat air itu artinya saya lagi nyantai banget atau justru lagi butuh pelarian :D. Nah, berhubung dianya mulai bosen main-main sama cat airnya dengan cara biasa, saya punya ide buat bikin cap dari kulit jeruk bali. 

Kulit jeruk bali? Aneh, ya, hihihi. Biasanya kan kayak waktu zaman SD gitu bikin cap dari kentang atau pelepah daun pisang. Tapi gara-gara saya gagal bikinin dia mobil-mobilan dari kulit jeruk bali, terus liat tekstur bagian dalam kulitnya yang foamy gitu, jadi kepikiran buat dijadiin cap aja. 

Tapi ternyata cuma bisa bikin cap dengan bentuk-bentuk standar macam segitiga, kotak, dan persegi panjang. Lumayan bikin Ezra sibuk dan happy dengan cara baru memakai cat airnya ini. 
Iseng nyobain bikin cap dari kulit jeruk bali 

Happy new year everyone!

Wednesday, January 1, 2014

Ezra's Ethnic Runaway

Gara-gara main ke peternakan di Desa Wisata ini, Ezra jadi suka sama hal-hal yang berhubungan dengan peternakan dan suasana pedesaan. Beberapa kali dia nanya-nanya sama saya gini:

Ezra (E) : "Bu, kemarin kan kita udah liat peternakan Sapi, Kambing, sama Kuda, tapi aku belum pernah lho liat rumah-rumahnya ayam. 
Ibu (I) : "Uhmm, paling kamu nanti ngga suka, Kak. Soalnya, peternakan ayam tuh, biasanya bau."
(E) : "Iya, nanti ke sananya sambil pake masker aja. Pasti aku nggak jadi kebauan."
(I)  : "Beneran kamu mau lihat peternakan ayam? Ya udah, nanti kapan-kapan, ya."
(E) : "Kapan? Kan, liburannya sekarang. Kalau kapan-kapan nanti aku sekolah."
(I) : "Iya, Insha Allah, nanti Ibu bilang sama Ayah dulu, ya."

Dan, akhirnya keinginannya terkabul. Ayahnya ngajak main ke kebon sambil ada kerjaan motret sih, sebenernya. Tapi nggak apa-apalah, selagi ayah kerja, ibuk nemenin Ezra main sepuasnya. Jadi begini lho Nak, kalau kita tinggal di pedesaan.

Selain pictorial journey di bawah ini, sebenernya ada juga video Ezra yang lagi ngejar-ngejar ayam. Videonya saya post di akun instagram. Di sini, Ezra puas banget ngejar-ngejar ayamnya, dan bener seperti dugaan saya dia males kalau mesti nengokin kandangnya. Bau, Bu, katanya. Mending main lari-larian bareng ayam aja :D


Desa Wisata Lembah Kali Pancur

Jadi, ini judulnya jalan-jalan dadakan dalam rangka ulang tahunnya Ezra yang keenam. Tadinya nggak ada rencana mau ke mana-mana pas ulang tahunnya dan mau bikin syukuran kecil-kecilan di rumah Bandung seperti tahun lalu. Tapi karena rencana bubar jalan, berbuahlah ide buat nyenengin Ezra ke tempat yang bukan mal atau tempat main mainstream lainnya, dan waktu browsing nemu tempat ini. 

Awalnya, berharapnya agak ketinggian sama tempat ini. Ngebayangin tempatnya bakal kayak De-Ranch atau Lactasari Farm, tapi ternyata jauh. Padahal ya, kalau tempat ini dikelola lebih baik lagi jadinya bakal lebih bagus dari De-Ranch. Apalagi karena kontur tanah di lokasi ini yang naik turun, terus ada danau buatannya juga, yang sepertinya ingin dibuat seperti Lembang Floating Market. Menurut saya sih, banyak potensi yang bisa dikembangkan dengan lahan yang cukup luas itu. 

Meskipun tempatnya agak nanggung, tapi untungnya Ezranya seneng dibawa ke tempat ini. Kita udah takut bakal garing aja karena perginya cuma bertiga. Di Desa Wisata yang juga merupakan tempat pemancingan ini, kita milih sebuah saung untuk duduk dan pesen makanan. Di situlah kita merayakan ultah Ezra yang keenam. Dengan berbekal kue tart kecil, bento dari rumah, dan makanan pesanan di sana yang terdiri dari gurame bakar kecap, kluban, sate ayam, sebakul nasi, serta es jeruk. Untungnya makanannya lumayan enak. gurame bakarnya enak, dan kluban atau urapnya mantep. 

Pengalaman paling berkesan buat Ezra di tempat ini adalah saat naik perahu dan liat burung-burung kecil berterbangan sambil main air di atas permukaan danau buatan. Kata suami sih, itu burung sriti. Burung-burung kecil ini memang lucu banget sih, terbang rendah terus menukik ke permukaan air sambil mengecipakkan airnya. Ada juga burung blekok yang lalu lalang di atas danau. Selain itu, Ezra juga suka pas main di peternakannya dan liat sebuah pesawat tidak terpakai yang menurut banner yang dipasang di depannya akan dijadikan restoran pesawat terbang. 

Nah, sebenernya kan banyak juga potensi yang bisa dikembangkan dari desa wisata ini, sayangnya sepertinya masih digarap dengan setengah-setengah. 

Postingan Pertama Di 2014 : My (Lovely) December

Judulnya ini postingan rapelan cerita selama bulan Desember kemarin--one of my favorite month dalam setahun--Yes, bulan Desember memang jadi salah satu bulan favorit karena di bulan ini banyak sekali peristiwa penting yang terjadi. Saya menikah di bulan ini, dan ini juga jadi bulan kelahirannya Ezra. Bisa dibilang bulan Desember tuh, jadi turning point dalam hidup saya.  

Dan bulan Desember 2013 kemarin banyak hal seru yang pengin saya rekam di sini. Sengaja postingnya nunggu the last time banget, alias tutup tahun, padahal sebenernya males :D biar kecatet sampai di detik-detik pergantian tahun. 

Awal Desember masih sibuk sama kerjaan jadi ngga banyak yang bisa diceritain juga. Tanggal 17 Desember 2013 adalah anniversary pernikahan yang ketujuh. Tahun ke tujuh ini ngga bikin perayaan yang spesial bahkan dinner pun nggak. Alasannya karena tanggal 17 itu adalah hari Selasa yang mana adalah hari kerja. Tapi meskipun ngga ada perayaan, malemnya kita tetep bangun untuk shalat tahajud dan berdoa bareng . Paginya nothing romantic karena masing-masing udah rungsing sama kerjaan. Tapi kita sama-sama janjian buat bikin surat untuk masing-masing dan dibaca malemnya. Saya juga bikin kartu ucapan buat suami, sih. Intinya, perayaan di tanggal 17 ini adalah dengan lebih banyak bersyukur atas kebersamaan kami berdua, yang semakin kompak. Yup, dan tahun ini kita sama-sama berada di kota yang sama serta nggak lagi LDR-an. Biasanya kan kalau yang satunya lagi di Bandung, satu lagi di Semarang atau Jakarta. Mungkin pengaruh dari berada di kota yang sama itu jugalah yang membuat kita ngga bikin perayaan yang terlalu heboh seperti sebelumnya. 
Thanks Allah SWT for all Your bless ini our relationship

Tiga hari kemudian, saya berangkat ke Jakarta untuk acara rilis buku Everlasting Love pada tanggal 22 Desember, tepat pada saat perayaan hari ibu. Saya jadi salah satu perwakilan penulis yang ikut mengisi acara "Bincang Santai-Bahagianya Menjadi Ibu". Selain saya, ada juga Smita Diastri, Meira Anastasia, Stella Ang, Miund, Laila Achmad, Windry Ramadhina, dan Alit Tisna Palupi yang hadir dalam acara tersebut. Acaranya berjalan cukup lancar dan menyenangkan. Judulnya aja bincang santai, hehehe, dan buku Everlasting Love ini seru banget lhoo karena berisi kumpulan kisah nyata para ibu sejak hamil sampai membesarkan balita mereka. Saya kebagian menulis tentang hal yang berhubungan dengan sikap over protective ortu ke anak. Di buku tersebut, saya menulis sebuah surat untuk Ezra. Rencananya, itu akan jadi surat dan hadiah kecil untuk dia di masa depan. 
My New Book : Everlasting Love, 2013, Omnibus, GagasMedia

Banner Acara di Galrei 678 Kemang-Jakarta Selatan

Saya, Smita, Miund, dan Laila Achmad
Dari Jakarta, saya langsung pulang ke Bandung dan kembali menyusun rencana untuk ulang tahun Ezra yang keenam. Awalnya, acaranya ulang tahunnya bakalan digabung sama acara liburan keluarga, tapi acara bubar jalan semua karena suami ngga diizinin cuti. Terus malah tahu-tahu ada kerabat dekat suami yang meninggal dunia dan kita mesti ngelayat. Tadinya, pengin ada penanda buat ulang tahun keenamnya Ezra ini. Ya udah, akhirnya diputuskan mau bikin acara syukuran kecil-kecilan buat sekeluarga, Kakung-Utinya, dan sepupu-sepupunya. Eh, yang lucu sepupu-sepupunya justru pada pergi liburan plus Kakung-Utinya juga. Lha, jadi kalau bikin acara siapa yang mau diundang, sementara tante-tantenya juga yang satu di Denpasar, satu lagi harus siapin acara nikahan sepupu di Jakarta.

Ya udah, tahun ini ulang tahunnya kita rayakan bertiga, dan dalam perjalanan ke Semarang. Saya ngga sempat pesen kue atau apa buat di rumah Semarang. Sampai rumah Semarang langsung buka kulkas dan ngumpulin bahan seadanya buat bikinin Ezra bento. Jadilah bento seperti gambar yang di bawah. Pulang ngelayat langsung nyari tempat yang bisa bikin Ezra seneng dan beli kue ulang tahunnya di perjalanan. Setelah browsing, akhirnya memutuskan untuk ke Desa Wisata Lembah Kali Pancur karena tempatnya sejalan dan ngga mesti jauh-jauh ke luar kota. Untungnya, ayahnya udah nyiapin printilan kado kecil-kecil yang lumayan banyak dan dibungkus satu-satu bak sinterklas, jadi anaknya lumayan terhibur hari itu karena merasa banyak dapet kado. 

Sebenernya, kami ngga tiap tahun bikin perayaan, tapi selalu kasih pertanda kalau umur dia sudah bertambah, dan sedikit-sedikit kasih pengertian kalau semakin besar dan tambah umur ada peer-peer khusus buat dia. Jadi Ezra tahu kalau umur enam tahun itu artinya dia sudah mulai persiapan masuk SD dan udah harus mau makan sendiri, dsb-dsb. Sekaligus mengingatkan kita orangtuanya bahwa peer kita makin panjang daftarnya. 

Menjelang akhir tahun, suami malah dapet tawaran kerja motret pre wedding, padahal udah lama beliaunya mengurangi porsi kerjaan di bidang yang satu ini. Jadinya sambil nemenin suami kerja kita nginep di kampung gitu, yang mana jadi salah satu lokasi pemotretan. Lumayan juga buat ngisi liburan semesternya Ezra. Cerita-cerita tentang desa wisata dan nginep di kampungnya nanti dipisah aja, ya.

Jadi, this is my December. Terima kasih untuk semua hal yang terjadi di tahun 2013. Banyak hal yang membuat saya terus belajar dan lebih banyak lagi hal yang membuat saya bersyukur. Semoga di 2014 bisa menjadi pribadi yang selalu bersyukur dan di tahun ini lebih banyak lagi mimpi-mimpi indah yang bisa kami wujudkan.  

Happy New Year!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...