Thursday, September 25, 2014

Our Staycation At Kayu Arum Resort & Spa

Karena lagi males bepergian yang perjalanannya bikin waktu libur akhir pekan yang cuma satu setengah hari habis di jalan (karena hari Sabtu, Ezra tetap masuk sekolah meskipun pulang jam setengah sebelas), belakangan ini staycation jadi pilihan kita buat alternatif short getaway.

Setelah googling, ada beberapa pilihan tempat yang kayaknya seru buat dijadikan tujuan staycation kita, yaitu Kayu Arum Resort & Spa yang ada di daerah Salatiga. Sebenarnya, tujuan awalnya, kita penasaran pengin staycation di salah satu hotel yang lagi banyak diunggah gambarnya ke instagram. Sayangnya, lokasi hotelnya di Jogja, dan pas booking kok, kamar yang kita pengin udah full booked, dan dua hari sebelum rencana keberangkatan Ezra sempat demam. Ya sudahlah, sepertinya lebih berjodoh dengan Kayu Arum. Setelah booking yang lumayan rada mepet, dapetlah kita satu kamar di sana. Setelah agak waswas apakah demamnya Ezra bakal turun atau nggak, dan ternyata demamnya reda, Sabtu siang kita meluncur dari Semarang.

Awal masuk ke area parkir, sempet mikir kok hotelnya 'nggak keliatan', kok kayak agak-agak spooky. Tapi kesan awal itu langsung hilang setelah masuk ke lobby dan disambut sama resepsionisnya yang ramah-ramah. Kesan spooky muncul mungkin karena bangunannya bergaya semi-semi kolonial gitu, jadi terkesannya tua, padahal sebenarnya bangunannya baru, kok. 

Berjalan semakin masuk ke bagian dalam hotel, makin jatuh cinta sama suasananya yang tenang, adem, dan hommy. Jadi, di bagian tengah hotel ada halaman yang cukup luas. Tamannya ditata apik dengan banyak sekali kursi-kursi kayu untuk duduk-duduk bersantai menikmati hari di tengah taman yang teduh. Selanjutnya, biar gambar yang berbicara, deh. 




Untuk fasilitas lainnya seperti kolam renang, juga tersedia. Ada juga Kamaratih Spa dengan harga mulai dari 181.000 untuk Aromatheraphy Massage selama 60 menit. Yang saya suka dari kolam renangnya, airnya bersih dan kandungan klorinnya tidak membuat mata pedas. Menu sarapan paginya termasuk enak, meskipun pilihan menunya memang nggak terlalu banyak, tapi pas kalau buat saya yang nggak suka dengan terlalu banyak pilihan menu saat sarapan pagi, hehehe. So far, resort kecil di daerah Salatiga ini recomended banget. Ratingnya 3,5/5 deh.  

Selain staycation, di Salatiga kita juga berwisata kuliner dengan menjajal beberapa kafe yang lumayan menyenangkan atmosfernya, yaitu Ki Penjawi Joglo dan Kafeole. Dua tempat itu lumayan recomended juga sih suasananya, sayangnya kenapa saya ngerasa makanannya biasa saja, ya. Enak sih, tapi nggak stand out banget. Mungkin bisa ditanyakan ke masing-masing tempat, rekomendasi hidangannya atau makanan andalannya apa.
Ki Penjawi Joglo

Kafeole

NB:
all photos courtesy of the son photography
Jln. Magersari Ringinawe Tegalrejo, Salatiga.
(Kalau tahu Bakso ABC Salatiga, nah patokannya belokannya deket-deket situ, deh.)

Next, staycation kemana ya...

Monday, September 15, 2014

Fun Learning: The Secret Recipe of Pizza (Thematic; Science & Math For First Grade)

Sejak masuk SD dan memilih sekolah dengan kurikulum mixed antara diknas dan cambridge, sebagai ortu saya semakin tertantang buat memotivasi Ezra buat menyukai kegiatan belajar secara aktif. Ditambah lagi perubahan kurikulum 2013 yang menggunakan konsep tematik yang mungkin membuat bingung beberapa ortu pada awalnya, seperti halnya saya. Setelah tanya sana-sini dan sedikit baca-baca tentang kurikulum baru tersebut, akhirnya mulai bisa membuat mapping yang jelas tentang sebenarnya ini anak-anak sekolahan SD mau belajar dengan cara seperti apa. Terlepas dari pro kontranya, saya memilih untuk beradaptasi dan mengawal Ezra agar bisa mengikuti pelajaran sekolah dengan baik (cieee banget bahasanya) Yaa, mau gimana lagi, saya kan bukan pemegang kebijakan, yak. Berharap, next cabinet, menteri pendidikannya bikin peraturan baru agar jam sekolah dikurangi dan hari Sabtu diwajibkan libur, yeaayy.

Baiklah, jadi sebagai guru les privatnya, saya nggak mau jadi guru les yang ngga asyik dan galak. Saya pengin Ezra selalu ngerasa fun waktu belajar bareng saya, dan dia juga jadi lebih aktif, bukan sekadar disodorin materi-materi, terus lupa dan nggak bisa mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Kali ini, saya bikin fun learning activities di rumah yang melibatkan materi tematik: science dan math untuk kelas 1. 

Sebelumnya, saya cari tahu tujuan dari kegiatan fun learning ini berdasarkan buku pegangan di sekolah. Tujuannya antara lain adalah agar Ezra bisa mengenali bentuk-bentuk geometri 2D dan hapal namanya dan mengenal konsep fraction sederhana (1/2, 1/4, dst) untuk mapel matematika dan kemudian memahami fungsi indera perasa (lidah) dan jenis-jenis rasa yang bisa dikecap oleh lidah untuk mapel science

Fun learning ini saya beri judul : The Secret Recipe of Pizza. Bahan dan alatnya bisa dilihat di gambar-gambar di bawah, ya. Selanjutnya setelah semua bahan dan alat disiapkan, Ezra mulai diminta untuk membaca petunjuk pada resep dan mulai membuat 'pizza' nya.

siapkan 'resep', bendera aneka rasa, dan lem berwarna.

resep alias petunjuk sederhana 

alat dan bahan

setelah selesai menempelkan 'toping' sesuai resep, anak diminta untuk membubuhkan 'bumbu' di atas adaonan pizzanya. warna-warna dari cat air mewakili setiap rasa, seperti sour, spicy,  salty, dan sweet.

setelah itu, anak diminta membagi dua pizzanya, dna kita menjelaskan konsep setengah, seperempat, dst.

menancapkan bendera rasa sesuai dengan warna yang dicat pada adonan.

voila, shapes pizza-nya sudah jadi :)


Ezra's Weekend Projects : Treasure Hunt & First Grade Math

Setelah Ezra masuk SD, saya semakin excited sama agenda Ezra's Weekend Projects karena semakin banyak hal-hal seru yang bisa dilakukan bareng saat akhir pekan. Jadi lebih seru juga karena tema proyek akhir pekannya nggak melulu sesuatu yang berhubungan sama crafting atau DIY things, tapi juga bisa nyelipin materi-materi pelajaran di sekolah.

Berhubung saya dan suami sepakat untuk tidak memberi Ezra les tambahan pelajaran di luar jam sekolah maka kami pun harus bekerjasama buat menciptakan atmosfer learning is fun di rumah. Jadi, selain sekolah, Ezra cuma ikut latihan wushu, les musik, dan menggambar saja. Keputusan ini diambil karena pengalaman suami semasa kecil dulu yang merasa bosan dengan yang namanya 'les belajar' dan jadi alergi sama yang namanya pelajaran sekolah, hehehe. Selain itu, saya juga pengin Ezra masih punya banyak waktu untuk bermain.

Nah, karena nggak mau mengulangi kesalahan yang sama, kami berdua ingin menciptakan suatu kondisi bagi si anak bahwa yang namanya belajar itu sebenarnya tidak terpisah dari bermain. Dalam bermain ada belajar, dan dalam belajar ada bermain. Belajar tidak harus formal dan kaku, belajar bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan dan menjadi bagian dari keseharian. Memang, pasti ada banyak hal-hal yang menantang dan sulit untuk dipelajari, tapi hidup aslinya kan juga gitu. 

Ihiyyy, konsep sih, udah seru. We'll see bagaimana dalam perjalanannya nanti. Semoga kami tetep istiqomah. Singsingkan lengan baju!

Proyeknya Ezra pada akhir pekan ini adalah 'Treasure Hunt'. Berhubung hari Seninnya, Ezra bakal ulangan matematika, maka proyek akhir pekannya sengaja dibikin nyambung dengan materi-materi pelajaran matematika yang sedang dipelajari sama dia. 

Materi math-nya antara lain berkaitan dengan :
Counting & writing numbers 1-20 (in english)
Largest, smallest, dan greatest number
Ordinal number
Numbers patterns '2'  

Terus, gimana mengaitkan dengan tema mencari harta karunnya? Jadi, saya sengaja membuatkan dia peta tempat persembunyian harta karun, yang petunjukknya adalah soal-soal matematika yang harus diselesaikan. Dari petunjuk di peta, Ezra harus mencari amplop-amplop yang di dalamnya terdapat soal-soal yang jawabannya akan mengarahkan pada petunjuk selanjutnya. 

Buat bayangan, bisa dilihat di gambar di bawah, ya. Dan untuk hadiahnya, saya menyiapkan beberapa barang yang kebetulan lagi dia inginkan. Barang yang murmer tapi bikin dia seneng. Kebetulan dia lagi pingin kaca pembesar, terus kotak pensil ngajinya baru aja rusak. Jadi, barang-barang itulah yang saya bungkus untuk jadi harta karun, plus tambahan permen, coklat, dan pernak-pernik buat lucu-lucuan. 



Dan hasilnyaa..dia seneng banget memecahkan satu-persatu soal yang ada di petunjuk, dan waktu berhasil nemuin harta karunnya, lalu membuka hadiah dan nemuin barang yang lagi dia inginkan, ekspresinya itu priceless bangettt. Rasanya terharu dan jadi pengin menghentikan waktu pas dia meluk saya dan bilang, "Makasiihh ya, Bundaaa...udah kasih aku kaca pembesar...aku sayaangg banget sama Bunda."

Ya ampun, cuma kaca pembesar limarebuan padahal. *nahanmewek 

Oya, kalau yang punya instagram, bisa juga follow saya di: @nianurdiansyah, Insha Allah di sana mau rutin posting tentang #learningwhileplaying atau #learningathome, siapa tahu kita bisa saling berbagi ide tentang belajar sambil bermain di rumah. 

Thursday, September 11, 2014

Ezra's Weekend Project : World Map

Postingan ini sambungan dari Ezra's weekend project yang ini, ya. Jadi, ceritanya karena ketertarikannya sama berbagai negara di dunia, Ezra jadi suka banget ngamatin peta, terutama sih yang dari google maps. Dia suka nanya-nanya sama saya letak negara A tuh, dimana, dan B dimana. Lama-lama dia juga mulai tertarik sama bendera-bendera di tiap negara dan landmarknya apa aja. 

Seru juga sih, ngajarin sesuatu yang pada dasarnya memang disukai si anak. Informasi yang diterima jadi lebih cepet nyantol. Akhirnya, biar makin seneng saya sengaja ngeprint satu gambar peta dunia yang ada ilustrasinya, selanjutnya Ezra bikin bendera dari tiap negara yang dia tahu dan nancepin bendera-bendera itu di atas peta dunia.  Proyek yang so simple ini ternyata bikin dia happy. Saya juga jadi tahu, dia sudah hapal sama negara dan bendera apa saja.

Bahan dan alatnya pun sederhana. Cuma peta dunia yang ditempel di atas gabus, kertas untuk menggambar bendera dan tusuk gigi buat menempelkan gambar bendera-benderanya.




Pregnancy Journey: 8 Weeks - 16 Weeks



Hiyyaaa, ketunda lama kan, posting tentang kehamilannya, padahal dari awal tahu hamil sudah diniatkan supaya rajin bikin catatan di blog, biar suatu hari nanti bisa dibaca-baca lagi ceritanya. Aslinya sekarang tuh, udah lewat dari 16 weeks, tapi supaya runut pengin cerita mulai dari trisemester awal, deh. Mudah-mudahan ke depannya bisa lebih rajin.

Biar lebih gampang, saya mau bikin rangkuman aja deh, tentang perjalanan kehamilan dari usia delapan minggu sampai enam belas minggu.

Keluhan.
Keluhan utama trisemester pertama saya adalah mual yang amat sangat terasa. Kalau dibandingkan kehamilan yang pertama jauuuh banget bedanya. Dulu, seingat saya mualnya nggak terlalu kerasa dan badan juga relatif lebih fit. Pas kehamilan menginjak dua bulan saya dan suami pergi umroh, dan sama sekali ngga merasakan keluhan-keluhan yang dirasakan sekarang.  Ya iyalah, faktor U sepertinya juga berpengaruh :D. 

Ezra's Weekend Project : World Map & 3D House

Beberapa waktu lalu, saya sempet kaget waktu Ezra tahu-tahu gambar bendera negara-negara asing, seperti Brazil, Jepang, dan Italia. Nggak inget pernah ngajarin warna dan gambar bendera-bendera tersebut. Ngajarinnya baru gambar bendera Indonesia doang. Eh, tau-tau dia udah bisa aja. Ternyata dia tahu gambar bendera tersebut setelah nonton Cars 2. Jadi, sebenernya nonton film kartun itu, selama dipilihkan yang sesuai, ada manfaatnya juga, kok.

Nah, di film Cars 2 itu, ceritanya, si tokoh utama yang bernama Lightning McQueen ikutan perlombaan semacam Grand Prix yang mengharuskan dia keliling dunia. Nah, karena liat film itu jadilah Ezra mulai berminat sama peta dunia. Sebelumnya, saya pernah sih, mengenalkan dia sama benua-benua yang ada di dunia, tapi jarang di recall lagi, jadinya dia belum hapal banget di mana Afrika, Amerika, Asia, dsb. Yo wis, mumpung anaknya lagi semangat jadinya Ezra's Weekend Project kali ini temanya peta dan bendera dunia.

Selesai dengan proyek pertama, pulang nemenin saya ke Gramedia, kami menemukan puzzle 3D yang bentuknya rumah-rumahan khas negara-negara. Sepertinya pas dengan tema wiken kali ini, dibelilah satu buat percobaan dulu, takutnya nggak sesuai harapan. Ternyata setelah dirakit jadinya lucu. Jadi kepikiran buat bikin maket global village-nya. Ihiyy, udah ada ide buat next project, nih.

Proyek 3D House ini aslinya gampang banget karena bahan-bahannya tinggal beli jadi aja. Ngga perlu digunting pula, tinggal dipotek-potek dan dirakit sama dikencengin pakai selotip. Hasilnya bisa dilihat di gambar. Next postingan tentang world map dan bendera-bendera negaranya, ya. 


Tuesday, August 19, 2014

Cerita Lebaran 1435 H ( yang udah telat banget)

Ih ya ampun lama pisan ngga update di mari, yak. Ambil sapu dan mulai bersih-bersih debu yang udah tebel banget. Jadi ceritanya been males lately karena internet rumah lagi ngadat. Hasilnya mau ngeblog dari kapan ketunda-tunda terus, padahal lagi banyak yang pingin diceritakan dan disimpan di sini. Dari mulai cerita mudik, kehamilan sampai Ezra yang baru jadi anak SD. Baiklah, kita posting satu persatu aja.  Dimulai dari cerita lebaran, tapi sebelumnya mohon maaf lahir dan batin yaa, semoga dimaafkan semua kesalahan- kesalahan kata dan ucapan saya selama menulis di blog ini.

Jadi ceritanya lebaran tahun ini saya sekeluarga ngga mudik dan sowan ke Jakarta as usual, tapi ke Pangandaran seperti dua tahun sebelumnya. Padahal waktu itu udah kapok lho karena kena macet selama berjam-jam. Keinginan sih, pingin ngadem-ngadem aja di Bandung, apalagi kehamilan saya juga baru empat bulan, males rasanya pergi jauh-jauh via jalan darat. Tapi berhubung kakak sepupu saya akan melangsungkan pernikahan di sana, dan ayah saya didapuk untuk menjadi wali dan pendampingnya, ya sudah kami sekeluarga kompakan untuk berlebaran di sana.

Alhamdulillah, perjalanan Bandung-Parigi, Cibenda Pangandaran ditempuh 7 jam saja ( biasanya 6 jam). Sampai sana subuh. Habis sholat dan istirahat mulai menyusun itinerary mau mbolang kemana aja. Kami menginap di kampung halaman Ua dan kakek saya, yang lokasi ke spot wisata pantainya relatif dekat. Dari mulai Pantai Batu Hiu, Batu Karas, Pangandaran, dan sebuah curug ( apa namanya lupa) yang katanya sih, lumayan bagus. Karena sudah pernah ke Pantai Batu Karas, tujuan yang itu dicoret.

Diputuskanlah untuk ke Pantai Pangandaran dulu karena sesiangan itu saya ngidam makan rujak. Fyi, hamil ini hampir tiap hari saya makan rujak. Sampai Pangandaran langsung hunting tukang rujak, dari mulai tukang rujak bebeg sampai rujak potong bakulan disambangin semua, dibeli semua, dan langsung disantap saat itu juga sambil nungguin yang pada main air dan pasir. Suasananya lumayan, ngga terlalu ramai kayak cendol, padahal kan pas liburan biasanya penuh. Mungkin karena faktor ombak yang lagi lumayan besar, jadi jarang yang berenang.

Setelah puas makan rujak dan leyeh-leyeh nikmatin matahari yang lagi redup, kami memutuskan buat nyebrang ke pulau pasir putih. Kami nyewa kapal dan dihajar ombak tiga meter saat nyebrang. Aslinya serem waktu itu, tapi nggak tahu gimana kita malah ketawa-ketawa dramatis selesai diterjang ombak dan bajunya sampai basah kuyup. Sampai di pulau langsung meriksa barang bawaan. Hikks, kamera dslr langsung error, juga beberapa smartphone yang kita bawa langsung is dead. Tinggal iphone sama tab yang selamat baik-baik saja dan masih bisa dipake buat foto2.

Sampai pulau pasir putih, Ezra langsung girang dan lupa sama insiden diterjang ombak, padahal dia yang paling panik sampai semua doa dan surat pendek yang hapal dibaca sama dia, keras-keras. ( proud of my boy, di kala emaknya ketawa histeris dramatis campur panik, anaknya ngga lupa istigfar. Worthed juga nyekolahin di sekolah yang goalnya hafidz Quran). Dia langsung nyemplung, berenang sepuasnya sambil mungutin kerang dan karang yang lucu-lucu bentuknya.  Sementara kita-kita yang udah gede was was sama barang bawaan yang basah kena ombak. Bisa dibilang, kita ngga persiapan bener2 waktu mutusin naik kapal, mikirnya kan ngga bakal kena ombak juga.

Tapi biar ngga jadi bad trip, kita tetep nikmatin main-main di pantainya selama lebih dari dua jam sebelum dijemput lagi sama kapal yang tadi nganter kita. Menjelang sore baru deh, pulang ke rumah.
Kampung halaman kakek dan ayah saya ini enaak banget suasananya. Udaranya relatif adem dan masih dikelilingi perkebunan kelapa. Kalau malem, pas lagi sepi, orang-orang udah pada tidur, bisa denger suara ombak dari kejauhan. Rasanya bikin hati adem. Selama nginep di sana, cuma satu provider yang sinyalnya bagus, sisanya matek semua. Terus selama di sana berasa program penaikan BB karena tiap hari ada aja makanan yang menggugah selera, dari mulai rendang paru yang endess sampai pepes entah apa, pokoknya ada nasinya plus ati ampela yang diungkep sama bumbu-bumbu yang rasanya enakk banget. Ada juga tape ketan yang dibungkus daun, tapi saya cuma nyicipin seujung jari doang.

Besoknya hari H pernikahan sepupu. Setelahnya, itinerary berlanjut ke Pantai Batu Hiu dan si curug itu sama area persawahan. Pantai Batu Hiu kalau menurut saya sih, biasa aja. Sayang, kita ngga jadi main ke curug dan area persawahan, dan memutuskan buat main di seputaran kampungnya aja. Besok malemnya kita pulang ke Bandung, sengaja berangkat jam 3 pagi, etapi tetep 12 jam bok di perjalanan pulangnya. Nagrek oh nagrek. Nggak lagi-lagi, deh kena macet di area itu.

Friday, May 30, 2014

And...The Pregnancy Journey Begins (again)

Alhamdulillah,
Setelah penantian yang lumayan lama, akhirnya Allah SWT kasih kepercayaan saya buat hamil lagi. Perjalanan buat hamil kedua ini lumayan banyak ups and downs dan dramanya.

Awalnya saya dan suami berencana untuk menambah momongan itu tahun 2012. Kami nggak program ke dr. spog dan berpikir pasti bisa hamil lagi dengan proses yang natural seperti halnya waktu hamil anak pertama. Tapi sepertinya Allah SWT mau kasih saya dan suami hikmah bahwa yang Maha Mengatur dan memberi kehidupan itu cuma Allah SWT. Jadi, ceritanya sebelum tahun 2012 saya sempat takut hamil karena sedang LDM dengan suami dan masih awal-awal kuliah profesi. Setiap kali telat haid rasanya galau dan berdoa mudah-mudahan jangan hamil dulu. Waktu itu, saya memang nggak menggunakan apa-apa untuk pencegah kehamilan. Bukannya pasrah dan berserah diri, setiap kali mendekati masa period doanya malah semoga haidnya lancar dan nggak hamil. Rupanya, doa-doa itulah yang didengar dan dikabulkan sama Allah ketika pada akhirnya di tahun 2012 saya mulai berencana untuk punya anak lagi.      

Lesson learned. Hati-hati dalam berucap karena ucapan bisa jadi doa.

Sepanjang tahun 2012 masih lumayan santai dalam menjalani rencana untuk hamil lagi. Waktu tahu kalau ternyata selalu dapat haid tiap bulan alias belum kunjung positif, saya mikirnya pasti karena kami berhubungan bukan di masa subur. Ya, mau gimana lagi, kami juga pas LDMan waktu itu. Kalau pas masa subur, saya lagi di luar kota atau malah sebaliknya suami yang sedang pergi ke luar kota. Menjelang akhir tahun 2012 load kerjaan semakin banyak, ditambah lagi mulai nyusun thesis,dan bolak-balik keluar kotanya semakin sering. Badan yang sebenernya sudah di ambang batas kelelahan tetep dipaksa buat melakoni semua hal dalam waktu yang bersamaan.

Wednesday, May 28, 2014

Ketika Si Kecil Mengganti Nama Panggilan Orangtuanya.

gambar pinjam dari sini

Saya pikir, Ezra akan selamanya memanggil saya dengan sebutan 'Ibu' seperti yang sudah biasa kami biasakan sejak dia masih bayi. Jadi berdasarkan kesepakatan bersama, suami saya  dipanggil 'Ayah' dan saya dipanggil 'Ibu' oleh Ezra.

Tapi, skhir Maret lalu semuanya berubah. Adalah Mama saya yang awalnya mengompori Ezra untuk mengganti nama panggilan saya dari 'Ibu' menjadi 'Bunda'. Omanya Ezra menerangkan dengan sabar kalau panggilan 'Ibu' itu nggak ada bedanya dengan panggilan untuk ibu-ibu lain yang ditemui Ezra di luar rumah. Mama saya bilang kalau pas Ezra memanggil gurunya kan juga menggunakan sebutan 'Ibu', tapi kan Bu Guru bukan ibunya Ezra. Lebih pas kalau manggilnya pakai 'Bunda' karena pasangannya 'Ayah' itu 'Bunda'. 

Dan doktrin Mama saya itu sepertinya mengena banget di diri Ezra. Ezra pun bilang kalau mulai sekarang dia bakal panggil saya Bunda dan saya harus merespon. Awalnya, saya masih nggak mau dan ingin mempertahankan panggilan 'Ibu' yang rasanya lebih istimewa dan bergetar di hati saya. Atau kalau rasanya belum terlalu personal, bisa diubah menjadi 'Ibuk'. Suami juga ogah. Nggak tau kenapa, sejak awal dia geli sama panggilan 'Bunda'. Pokoknya dia merasa nggak suka aja. 

Saya pun bilang sama Ezra kalau saya ingin tetap dipanggil 'Ibu', tapi entah gimana kok sepertinya dia maksa saya harus mau dipanggil 'Bunda'. 

E(zra): "Ya udah, kalau gitu aku mau ganti nama jadi Razor aja, kalo Bunda nggak mau?" (Lha, nggak ada hubungannya juga, Nak). Tapi pernyataan itu serius ternyata. Dia bilang lagi: "Kok Bunda kasih nama aku Ezra nggak 'Razor' atau 'Fun' aja? Aku juga mau panggil Bunda aja kalau gitu?" (Trik yang cerdas sebenernya, karena menyiratkan kalau ibunya aja bisa kasih nama sesuka udelnya, hehehe, sebagai anak boleh dong manggil orangtuanya dengan nama yang paling si anak inginkan.)

Saya terpaksa mengeluarkan akte kelahiran buat kasih tahu Ezra kalau namanya sudah nggak bisa diganti karena sudah tertulis secara hukum dan disahkan dalam akte kelahirannya. Terus, saya jelaskan arti namanya apa, dan idenya darimana. Dia pun mau memahami dan bilang : "Aku suka kok, sama nama Ezra. Tapi aku tetep mau manggil Bunda aja."

Oh baiklah. Karena nama anak nggak bisa dengan gampang digonti-ganti dan panggilan untuk orangtua itu sebenernya lebih fleksibel (selama sopan, ya), saya mau mengabulkan keinginan sederhana bocah kecil ini. 

B(unda): "Ya udah, oke. Kamu boleh panggil Bunda. Tapi kamu juga harus bilang sama ayah, ya?"

E : "Deal," jawab Ezra, "sekarang aku mau buat surat dulu buat Bunda, ya?"
B: "Surat apa?"
E: "Surat buat ganti nama, Bun? Biar Bunda nggak ganti-ganti lagi nanti kalau udah aku tandatanganin."
B: "Oh," (sambil garuk-garuk kepala)

Terus habis suratnya ditandatangani, beberapa hari kemudian dia ngetes saya.
E: "Bunnn, Buunnnda?"
B: "Iya, ada apa sih, kok teriak-teriak?"
E: "Cuma mau tau, Bunda lupa apa nggak?"

Lain waktu, pas ayahnya kepleset masih manggil dengan sebutan 'Ibu' (Dengan berat hati dia pun menyetujui panggilan 'Bunda') 
E: "Ayah, bukan Ibu, tapi Bunda. Buuunnnndaaaa. Ayo latian manggilnya Bundaa. B-U-N-D-A, ya.


Sampai hari ini saya masih sering lupa, karena panggilan Ibu tuh, lebih punya kesan di pikiran saya, lebih nyantol rasanya. Pak Suami juga masih sering manggil dengan sebutan Ibu. Ezra justru udah fasih banget. Sepertinya sebutan 'Bunda' lebih punya kesan buat dia. Ya udahlah ya, daripada saya mesti ganti nama dia jadi Razor juga.    

Pernah punya pengalaman serupa Moms? 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...