Wednesday, December 13, 2017

Wisata Kabupaten Brebes : Catatan Perjalanan #1

Malam hari, pukul setengah delapan lebih kereta kami merapat di Stasiun Tegal. 

Sejak awal saya tidak meletakkan harapan yang terlalu tinggi terhadap objek-objek wisata yang ada di kota ini, pun karena tujuan saya dan rombongan sebenarnya adalah menuju ke Kabupaten Brebes, sebuah tempat yang berada di pantai utara Jawa Tengah, tempat yang menurut informasi yang saya dengar pernah berjaya karena menjadi sentra penghasil udang windu dan bandeng. 

Juga setiap kali bertolak ke luar kota via pantura, saya pasti akan mendengar orang-orang mengaitkan Brebes dengan telur asin dan bawang merah. 

Belum pernah sekalipun saya mendengar orang-orang membicarakan Brebes dalam konteks tempat pariwisata. 

Di benak saya, daerah pesisir utara umumnya pantainya kurang menarik dan paling-paling didominasi oleh tambak atau ladang garam. 

Masih mending Tegal yang berulang kali dibicarakan karena punya pemandian air panas Guci. 

Jadi kita mau ngapain sih, di Brebes? Pertanyaan itu berulang kali berputar di benak. 

Saat memeriksa rundown acara, disebutkan kalau kami akan berkumpul di Pendopo Mangrove di Desa Wisata Mangrove Sari. Letaknya ada di Dukuh Pandansari, Kaliwlingi. 

Kalau merujuk pada fenomena dan elemen pariwisata, (uhuk, kita bicara teori sedikit) fenomena pariwisata muncul sejak seseorang mulai melakukan perjalanan refreshing (leisure and pleasure) ke suatu tempat di luar lingkungan dan kebiasaannya sehari-hari untuk mendapatkan sensasi baru yang bisa membebaskan seseorang dari rasa bosan sesuai dengan kemampuan dan motivasi setiap individu. 

Fenomena tersebut nantinya akan menghasilkan beberapa elemen penting dari pariwisata. 

Sampai sini kira-kira sudahkah Brebes memenuhi kriteria dari elemen pertama, yaitu Elemen Tempat Asal Wisatawan? 

Kalau kalian berasal dari kota besar yang padat, atau malah dari daerah di pegunungan, pergi ke daerah pesisir terdengar eksotis. Namun 'terdengar' saja belum menjadi jaminan seseorang akan berkunjung ke tempat tersebut. Setidaknya harus ada jaminan bahwa berwisata ke Desa Wisata Mangrove Sari di Dukuh Pandansari bisa memberikan pengalaman perjalanan dengan sensasi baru dan membebaskan seseorang dari rasa bosan. 

Perjalanan berkereta dari Semarang ke Tegal membutuhkan waktu kurang lebih dua jam empat puluh lima menit. Sementara jika menggunakan kereta yang langsung bertolak ke Brebes, bisa menggunakan kereta Kaligung yang bertolak dari Stasiun Poncol. Waktu tempuhnya sekitar tiga jam lebih. Kereta yang digunakan merupakan kereta ekonomi AC yang cukup nyaman harganya sekitar limapuluh ribuan. 

Dari hal itu, kita bisa menilai elemen kedua, yaitu Elemen Persiapan Perjalanan. Dimana Brebes termasuk daerah yang aksesbilitasnya cukup baik. 

Selanjutnya tinggal bagaimana dengan perjalanan dari stasiun ke lokasi wisata itu sendiri. 

Dari Stasiun Tegal, saya dan rombongan dijemput oleh pihak panitia. Karena harus menunggu beberapa jam sampai jemputan datang, kami memutuskan untuk melakukan eksplorasi singkat di lokasi seputaran stasiun. 

Awalnya kami mengira, lapangan terbuka becek yang dipenuhi dengan tenda pedagang dan wahana permainan anak merupakan Alun-Alun Kota Tegal. 

Salah satu teman blogger nyeletuk, "kok gini amat ya, alun-alunnya." Ternyata beberapa jam kemudian kami baru mendapatkan jawaban yang sebenarnya. 

Penjemput kami, dua orang yang ngakunya kembar dan pandai bicara berbagai bahasa dari penjuru nusantara, mengajak kami mengenal lebih dekat kota yang sedang kami datangi. 

Mulai dari Alun-Alun Tegal yang ternyata megah; "Lhoo, ini malah alun-alunnya. Siapa coba tadi yang bilang kalau alun-alunnya jelek?", sampai mengenalkan pada kami asal muasal kata Brebes, hewan apakah Blengong itu, dan jenis makanan apakah Glabed itu. Semua dilakukan selama perjalanan dari stasiun menuju ke lokasi Forum Komunikasi Deswita di Desa Kaliwlingi. 

Oh ya, sebelumnya mereka juga membawa kami mengitari Alun-Alun Brebes. Kesan pertama mengenai Alun-Alun Kota Tegal yang kurang tertata, 'mau wisata apa sih, di Brebes?', perlahan terkikis oleh kehangatan yang mereka ciptakan. 

Besok pasti banyak hal yang lebih menarik, begitu pikir saya. Kami pun jadi terslimur kalau sudah capek menunggu berjam-jam karena sepanjang perjalanan keduanya membuat kami tertawa terus. 

Tiba di Pendopo Mangrove, sudah sangat malam. Sepertinya kami melewatkan acara pembukaan dan selanjutnya sudah tidak ada kegiatan apa-apa. Jadi setelah mengisi buku tamu dan mendapatkan souvenir berupa kalung berbandul capit kepiting, kami langsung diantarkan ke homestay

Ini kali kedua saya menginap di rumah penduduk ketika travelling. Kesan yang bisa saya tangkap dari homestay di Desa Wisata Mangrove Sari adalah bahwa para penduduk setempat sudah cukup siap dan sigap menerima tamu wisatawan. 

Tempat tidur sudah disiapkan dengan cukup rapi, sarapan pagi berupa ikan goreng, telur dadar, dan sambal kecap juga sudah siap ketika pagi hari perut kami kelaparan. 

Sampai di sini, perjalanan awal sejak dari Stasiun Tegal hingga tiba di homestay sudah memenuhi unsur ketiga dari elemen pariwisata, yaitu Elemen Pengalaman. 

Having a new sensation: tidur di rumah warga dan berbaur dengan kebiasaan masyarakat setempat. 

Selanjutnya, di pagi hari pertama, mari kita lihat apakah Desa Wisata Mangrove Sari memiliki pull factor dengan berbagai faktor pendukung, seperti kemudahan aksesibilitas, amenitas, kearifan lokal, dan faktor keamanan yang mendorong seseorang (push factor) melakukan suatu perjalanan. 

Aksesibilitas 

"Eh, ini gimana kita balik lagi ke Pendopo semalem buat ikut ngumpul pas acara?" ujar salah seorang teman blogger sambil menunggu giliran mandi pagi. 

Salah satu teman yang lain, yang ditunjuk sebagai koordinator berkata, "tenang nanti kita dijemput ke Sanggar jam delapan". 

Sebagai tamu undangan, jaminan untuk diopeni pasti membuat tamunya tenang. Namun, bagaimana kondisinya jika pengunjung datang bukan bertepatan dengan adanya kegiatan. Atau mereka memang benar-benar datang untuk berwisata. Tentu saja moda transportasi harian dari rumah warga sebagai homestay ke spot wisata harus menjadi perhatian. 

Kemarin, saya lupa bertanya mengenai hal ini. Tapi kalau boleh memberi masukkan, moda transportasi seperti sepeda yang disewakan bisa jadi pilihan. Jadi saat pengunjung menginap di homestay dan ingin jalan-jalan, mereka bisa menyewa sepeda dari penduduk setempat. 

Setelah rombongan bergabung, kami pun dijemput menuju ke sanggar, dimana acara forum komunikasi desa wisata yang dihadiri oleh pokdarwis dari berbagai daerah di Jawa Tengah berlangsung. 

Ada dua hal yang paling membekas dari kegiatan tersebut di ingatan saya. 

Pertama, saya mau meminjam satu kata milik Pak Auky alias Bang Bas; GILA! Iya gila banget, waktu Pak Hadi presentasi mengenai site plan Desa Wisata Mangrove Sari beserta track hutan mangrove-nya saya langsung bergeleng-geleng. Beneran mau dibuat seperti itu? Setengahnya saya berdecak kagum karena perencanaan yang dilakukan sudah begitu matang, setengahnya lagi merasa nggak yakin, takutnya rencana itu ketinggian banget untuk sebuah desa wisata, di Brebes lagi. 

Saya pun melirik catatan soal singkatan dari kata GILA : Gerakan Insan Lestarikan Alam yang dilontarkan Pak Auky. Memang dari paparan presentasi Pak Hadi, sudah ada beberapa upaya untuk memperbaiki kondisi desa yang pantainya nyaris kena abrasi karena kurang bijaknya mengelola ekosistem tambak. Antara lain dengan kegiatan kontruksi dan regulasi, vegetasi dan rehabilitasi, serta pendekatan sosial ekonomi dan budaya. Tapi karena belum melihat dengan mata kepala sendiri, jadi rasanya masih belum percaya. 

Blogger memang ngga seharusnya duduk manis menyimak presentasi. Blogger itu harus eksplor. 

Hutan Ekowisata Mangrove Sari 

Cuss, GILA, 'gali ide langsung action'. Rombongan blogger dikawal Pak Auky yang super talkative dan informatif langsung menggiring kami keluar dari sanggar menuju spot wisata pertama, yaitu Wisata Taman Mangrove Pandansari. 

Setelah berkendara selama kurang lebih setengah jam kami pun tiba di Dermaga Pandansari. Di titik inilah rasa pesimis kami runtuh sedikit demi sedikit, berganti dengan sebuah harapan.

Welcome To The Jungle Track

Biar nggak salah langkah


Jembatan Cinta

Gardu Pandang Pertama 


Baru saja masuk ke dermaga, beberapa teman blogger sudah ada yang komentar, "Wow, kalau kayak gini sih, apa yang dipaparkan Pak Mashadi tadi sangat-sangat mungkin terwujud". Atau komentar lainnya, "Ini jauh banget dari apa yang kubayangkan soal tracking di hutan mangrove", dan lain sebagainya. 

Apa yang terbayang di benak saya ketika berada di sanggar seketika langsung berubah saat kami menaiki perahu. 

Sejauh mata memandang tampak perairan luas dengan ranting-ranting bakau mencuat dari permukaan. Rasanya nggak percaya kalau saya sedang berada di Brebes. Rasa kagum yang hampir full itu pun saat kami belum sampai di trekking mangrove-nya. 

Saat perahu menepi di dermaga, perjalanan menuju ke trekking mangrove pun dimulai. Ini bukan sekadar trekking pendek seperti yang pernah saya datangi di tempat lain. Sampai nggak tahu harus menggambarkannya seperti apa, yang pasti hutan mangrovenya sangat luas, berhektar-hektar. 

Kembali ke poin aksesibilitas. Dengan pengalaman saya menyeberang menggunakan perahu yang perjalanannya cukup mulus maka dua elemen baru, yaitu pengalaman baru dan kemudahan akses langsung tercentang. 

Amenitas 
Amenitas adalah segala sesuatu yang terkait dengan fasilitas yang seharusnya tersedia di tempat wisata, seperti akomodasi, toilet umum, tempat makan, signage, tempat belanja dan oleh-oleh, pusat informasi untuk wisatawan. 

Dari semua aspek tersebut, dapat disimpulkan bahwa Hutan Ekowisata Mangrove Sari sudah memiliki segenap aspek yang disebutkan. Saat menyusuri hutan, kami bisa melihat signage yang cukup informatif bagi pengunjung. 

Dengan memperhitungkan spot-spot selfie sebagai daya tarik wisata kekinian, signage yang ada bisa berpadu apik dengan spot selfie

Tempat makan atau warung makan tersedia di sepanjang track dengan harga makanan yang terstandar dan dipantau oleh pihak pengelola, pilihannya pun cukup beragam. Ada pula toko-toko yang menjual souvenir dan barang-barang yang dibutuhkan oleh wisatawan, toilet dan mushola pun tersedia. Kemarin saya tidak terlalu memperhatikan apakah juga terdapat pusat informasi untuk wisatawan. 

Kearifan Lokal 
Kearifan lokal merupakan faktor yang sangat menentukan, karena daya tarik yang bagus, amenitas yang baik, dan aksesibilitas yang mudah akan menjadi sia-sia tanpa sikap penduduk yang ramah, kompeten, dan positif terhadap kegiatan pariwisata itu sendiri. 

Tadi di depan, saya sudah menyinggung bahwa ada dua hal yang paling membekas di ingatan saya mengenai kunjungan ini, pertama diwakili oleh kata GILA yang dilontarkan Pak Auky, yang kedua adalah karena saya begitu terkesan dengan keramahan orang-orang yang saya temui di sana. 

Human, merupakan kekuatan pariwisata di Kabupaten Brebes. 

Bayangkan apa jadinya ketika penjemputan, saya tidak dijemput oleh dua orang yang ngaku-ngaku kembar--yang sampai saat ini saya belum berhasil mengingat namanya --yang bercerita banyak hal soal Brebes. Keduanya adalah duta pariwisata yang bisa meniupkan jiwa kepada sebuah tempat, sehingga pengunjung tertarik untuk mengenal jiwa itu lebih dekat. 

Bayangkan jika perjalanan menyusuri hutan mangrove tidak ditemani oleh seorang tour guide handal seperti Pak Auky. Kami mungkin hanya akan mendapatkan lelah saja. 

Perjalanan dengan beliau membuat berhektar-hektar pepohonan bakau meniupkan kisahnya. Dari yang konyol, seperti konon propagul pohon bakau jika dimakan oleh kaum pria bisa mendongkrak stamina, hingga akhirnya kami pun jadi punya tagline khusus, yaitu salam dua senti. Sampai kisah yang saintifik, seperti bagaimana membedakan ikan glodok dan glanyar yang sering berantem di atas permukaan lumpur, dan bahwa buah mangrove bisa menghasilkan pati yang menjadi bahan baku pembuatan dawet. 

Buah Mangrove yang bisa diolah jadi pati

Dari sini nih, salam dua senti muncul. 


Untuk mendapatkan sensasi baru yang memberikan efek refreshing, para wisatawan dapat memilih daya tarik dari semua faktor pendukungnya yang bersifat alami (given) atau buatan manusia (man made). 


Daya tarik alami yang dimiliki Kawasan Ekowisata Hutan Mangrove Sari adalah 1, 8 km sabuk hijau dari masifnya rumpun mangrove, pemandangan Gunung Ciremai dan Slamet yang terlihat dari kejauhan saat mengendarai perahu serta luasnya tambak yang berbatasan dengan Laut Jawa. 

Sementara daya tarik buatan manusianya berupa jalur trekking, jembatan cinta, menara pandang, dan berbagai aksesori yang mempercantik area hutan bakau. 

Namun, bagi saya daya tarik yang paling melekat dalam ingatan adalah keramahan dari setiap orang yang berperan sebagai duta wisata, baik itu penduduk setempat, maupun tour guide-nya. 

Positive attitude terhadap kegiatan pariwisatanya sendiri begitu terasa, sehingga mimpi besar untuk menjadikan Kabupaten Brebes sebagai sebuah destinasi wisata nasional tidak terasa mengawang-awang karena setiap insan yang terlibat di dalamnya saling berpegangan tangan dan melangkah bersama-bersama demi kemajuan pariwisatanya. 

Sekian dulu bagian pertama dari kisah perjalanan saya ke Brebes. Episode berikutnya, saya akan menuliskan kembali kisah penyeberangan kami ke Pulau Cemara, kuliner khas Brebes, dan potensi lainnya. See you soon.

Tuesday, December 12, 2017

Kurangnya Minat Masyarakat Pada Produk Lokal


Artikel yang saya tulis kali ini sedikit melanggar 'kode etik blog pribadi' dalam hal aturan penulisan suatu konten karena memakai judul yang bermuatan cenderung negatif.

Sebenarnya ini merupakan eksperimen untuk membuktikan apakah judul konten dengan nada negatif dapat menarik lebih banyak perhatian ketimbang yang positif atau netral.

Meski judulnya bernada pesimis, saya justru akan bercerita bagaimana perspektif pribadi soal produk-produk lokal, khususnya di Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah jadi bergeser. Jauh dari titik awal saya berdiri. 

Terima kasih kepada Dinas Koperasi Usaha Mikro Kota Semarang yang sudah mengajak para blogger untuk mengikuti kegiatan One Day Trip pada tanggal 30 November 2017 lalu, sehingga kami bisa mengenal lebih dekat produk-produk lokal khas Semarang.

Dulu, saya agak males mengenakan produk buatan lokal karena beberapa alasan :

Mutu produk yang rendah.
Misalnya nih, beli tas berbahan kain batik buatan lokal yang cuma tahan dipakai beberapa bulan saja karena jaitannya yang gampang sobek.


Sekarang, setelah main ke Semarang Creative Gallery yang berlokasi di kawasan kota lama Semarang, saya langsung berpikir ulang soal melabeli produk lokal dengan mutu rendah. 

Bagaimana tidak, semua produk yang dipamerkan di galeri ini bukan cuma memanjakan mata karena kreasinya yang unik dan apik, tetapi juga karena produknya terlihat digarap dengan serius dan detail. Mutunya bahkan bisa disandingkan dengan beberapa produk terkenal buatan luar negeri.

Sepatu yang mengusung tema etnik dari Prajna Indonesia. 

Ada beberapa produk yang langsung membetot perhatian, misalnya Prajna Indonesia. Kebetulan hari itu saya bertemu langsung dengan pemilik UKM yang memproduksi sepatu, Paloma Paramita. Darinya saya banyak mendengar cerita bagaimana produknya bisa eksis bukan hanya di kancah lokal, namun juga nasional bahkan internasional.

Kuncinya ada pada konsistensi untuk mempertahankan ciri khas yang ada, yaitu dengan mengangkat keberagaman warna-warna cantik dari kain-kain tradisional Indonesia seperti batik, sarung, tenun, maupun lurik dalam kreasi sepatu dan sandal.

Meski banyak produk serupa yang mengusung tema etnik, namun Prajna Indonesia yakin mampu bersaing dengan produk dengan tema serupa. Buktinya, koleksi sepatu Prajna pernah digunakan oleh desainer Deden Siswanto saat acara Jakarta Fashion Week 2018. Selain eksis di tingkat nasional sepatu-sepatu etnik Prajna juga sudah merambah Australia.

Kurang dapat membaca selera pasar.
Meski masalah selera itu bersifat relatif, namun produk lokal terkadang masih belum dapat menangkap kebutuhan dari segmen masyarakat dalam negeri.

Misalnya nih, saya punya pengalaman dengan membeli t-shirt buatan lokal yang menambahkan detail yang justru menurunkan nilai jualnya, yaitu detail gambar atau jahitan yang terlalu pasaran dan kurang fungsional. Padahal kalau tidak menambahkan detail tersebut, produknya akan terlihat jauh lebih berkelas.

Kadang beberapa produk lokal belum bisa menangkap tren pasar, terutama dalam hal desain yang sederhana sehingga bercitra simple. Masih banyak yang justru memilih desain rumit yang ramai sehingga berkesan berantakan.

Waktu mengamati semua produk UKM yang dipamerkan di Semarang Art Gallery, sebagian besar produk sudah mampu membidik kelas tersendiri. Bisa dibilang kelas ekspor.

Penyuka barang-barang bernuansa etnik memang sebagian besar orang luar negeri, namun produk yang dipamerkan di sana tetap mengusung nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Kalau dicermati, desainnya pun sudah berkesan simpel dan elegan.

Ada satu merek tas yang cukup menarik perhatian saya, yaitu Judy & Frances. Kalau melihat sekilas saja pasti nggak percaya kalau tas ini merupakan produk buatan lokal.

Dari kiri atas : Tas Judy & Frances berbahan batik dengan detail anyaman. Tas Judy & Frances dengan detail bergambar wayang. Tas sulam pita dari lokapita dan tas berbahan anyaman bahan alam dengan detail bebungaan 3D.

Kemasan yang kurang menarik.
Sebagian besar produk yang banyak digemari oleh masyarakat adalah produk dengan kemasan yang menarik. Banyak sekali produk lokal yang sebenarnya memiliki kualitas yang sangat baik, namun tidak dikemas dengan menarik bahkan terkesan seadanya.

Sebagian besar produk di Semarang Creative Gallery adalah produk kriya atau karya seni kreatif yang dengan produknya sendiri sudah mampu mewakili citra merek tersebut. Namun, tidak semua produk dari produsen lokal, terutama yang memproduksi makanan bisa menjawab tantangan ini.

Masukan untuk produk stik bandeng adalah adanya keterangan Angka Kecukupan Gizi atau AKG. Masukan untuk Bandeng Presto adalah pengemasan yang lebih menarik. 

Contohnya saat berkunjung ke sentra pembuatan bandeng presto di daerah Krobokan, Semarang. Secara rasa dan kualitas, saya bisa memberikan acungan dua jempol karena tidak kalah dengan produsen bandeng presto yang sudah tersohor di Semarang. Apalagi produk bandeng presto dengan nama dagang New Istichomah ini juga cukup inovatif mengembangkan produk pendamping lainnya, misalnya tahu bakso bandeng dan stik dari duri ikan.

Masukan untuk produk tersebut adalah pembuatan kemasan yang lebih menarik serta adanya keterangan angka kecukupan gizi pada produk stik dari duri bandeng. Hal tersebut menurut saya merupakan suatu upaya agar produk makanan lebih terpercaya.

Kemasan yang menarik tentu saja akan memberi nilai tambah dan membangun citra produk UKM lokal yang dapat bersaing dengan produk hasil industri berskala pabrik maupun skala internasional.

Kurang memiliki nilai tambah positif.
Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir semua produk UKM lokal memiliki keseragaman dalam hal tema, bahan, dan eksekusi pemasaran. Kalau saya amati sebagian besar merupakan produk-produk yang berusaha mengangkat bahan-bahan lokal dan tradisional dari tempatnya berasal. Misalnya kain batik dan kuliner khas dari bahan-bahan lokal.

Hampir semua tempat di Indonesia memiliki kain khasnya, batik terutama. Ada berbagai macam jenis batik yang tersebar di Pulau Jawa. Jika biasanya sebagian besar kain batik dibuat sebagai sekadar komoditi agar warisan budaya ini tidak hilang maka ada yanng sedikit berbeda dengan batik yang diproduksi di Kampung Batik Malon, Gunung Pati Semarang.

Ini merupakan pertama kalinya saya berkunjung ke Kampung Alam Batik Malon. Kami diterima di sanggar Zie Batik dan melihat lokasi tempat pembatikan yang ada di tengah-tengah kampung bernuansa pedesaan.

Tentu saja ini menghapuskan ekspektasi awal bahwa saya hanya akan menemukan sebuah workshop dimana pengrajin batik duduk dengan cantingnya di hadapan tungku kecil yang berisi lelehan malam, seperti kunjungan ke beberapa kampung batik yang pernah saya lakukan.

Di luar ekspektasi, rombongan blogger disambut oleh pemilik sanggar Zie Batik, yaitu Pak Heno beserta istrinya. Di sana kami mendengarkan paparan kisah mereka merintis Kampung Batik Malon dan bagaimana Zie Batik tidak sekadar sebuah komoditi tanpa nilai tambah. Kisah tersebut nanti akan saya bahas tersendiri, ya.

Salah satu nilai tambah yang membuat Zie Batik berbeda adalah karena produksinya mengusung konsep ramah lingkungan. Misalnya dengan pemilihan pewarnaan batik yang menggunakan bahan-bahan alami dan nonkimia.

Warna-warni batik berasal dari berbagai tanaman seperti putri malu, mahoni, pinang, jelawe, kunyit, indigo, secang, kulit rambutan, kulit manggis, kecapi, daun mangga, daun alpukat, mengkudu, dan mimosa. Warna ungu kemerahan didapat dari kulit manggis. Biru indigo dari tanaman indigofera tinctoria atau tom dalam bahasa Jawa.

Yang menarik, Zie Batik juga menggunakan propagul tanaman mangrove untuk menghasilkan warna coklat. Perhatian kedua pemilik sekaligus founder Zie Batik terhadap lingkungan hidup menggerakkan mereka untuk turut menyumbangkan satu nilai tambah pada pelestarian lingkungan hidup.

Tanaman Mangrove yang terkenal sebagai tanaman yang menghambat abrasi oleh air laut menginspirasi keduanya untuk menciptakan Batik Mangrove.

Meskipun batik warna alam memiliki kelemahan dalam hal ketahanan warna, namun founder Zie Batik yakin bahwa batik buatan mereka dapat mengantongi SNI dalam hal mutu pewarnaan.


Nah, sampai di Kampung Alam Malon, perspektif saya soal produk UKM asal Semarang langsung bergeser jauh dari titik sebelumnya. Semarang ternyata memiliki potensi produk UKM yang masih tersembunyi dan terus berkembang. Dukungan dari berbagai pihak tentu saja dibutuhkan agar potensi 'emas' yang tersembunyi dapat terlihat kilaunya sampai ke mancanegara.


Kegiatan One Day Trip blogger bersama Dinkop Usaha Mikro Kota Semarang menjadi sebuah jembatan yang dapat menghubungkan jurang antara produsen potensial yang belum dikenal luas padahal memiliki karya-karya sepadan dengan produk internasional, dengan konsumennya, yaitu masyarakat lokal yang masih ragu bahkan kurang berminat terhadap produk UKM lokal.

Tidak menutup kemungkinan juga bahwa informasi mengenai keberadaan UKM di Kota Semarang ini dapat menginspirasi masyarakat yang lebih luas untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif.

Ekonomi kreatif diprediksi akan menjadi mesin penggerak ekonomi Indonesia di masa depan.

Menurut Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf menjelaskan, ada 16 subsektor ekonomi kreatif yang dibina Bekraf. Subsektor itu ialah aplikasi dan pengembang permainan, arsitek, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film (animasi dan video), fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, dan televisi serta radio.

Dari 16 subsektor, yang menyumbang kontribusi produk domestik bruto (PDB) ekonomi kreatif terbesar adalah kuliner, fashion dan kriya.

Jadi kalau teman-teman terinspirasi dengan para pelaku UKM yang sudah sukses seperti yang saya tuliskan di atas, dan ingin berkontribusi maka jangan ragu untuk mengeksplorasi ketiga subsektor tadi.

Salam,
#SemarangHebat #BanggaUKMSemarang #ProdukUKMSemarang

Monday, December 11, 2017

Lima Hal Penting Dari Acara Temu Blogger Kesehatan & Dinkes Kota Semarang.

Kesehatan anak Indonesia terancam, difteri, penyakit menular akibat kuman Corynebacterium Diptheriae kembali mewabah. Hingga November 2017, 11 provinsi melaporkan kejadian luar biasa difteri dan 32 kasus di antaranya meninggal dunia.


Kalimat tersebut adalah penggalan berita yang saya baca dari beberapa portal berita online. Setelah sebelumnya saya mendapatkan sebuah foto bagian dalam rongga mulut seorang anak yang terkena penyakit difteri beredar di grup whatsapp. 

Seperti biasanya, kalau mendapatkan berita seperti itu, ada dua respon yang umumnya muncul; pertama antipati dan berpikir kalau berita tersebut hoaks atau justru jadi paranoid. 

Berita yang berkaitan dengan kesehatan memang paling sering beredar dan cepat dilahap oleh masyarakat. 

Sayangnya, tidak semua berita kesehatan yang beredar itu benar. Ditambah lagi dengan kesadaran warganet yang masih rendah untuk memfilter berita dan mencari tahu kebenaran dari sumber yang kredible, malahan respon yang terlampau cepat untuk segera membagikan berita yang didapat menyebabkan benang-benang informasi bergulung seperti benang kusut. Sulit untuk mengurai manakah berita yang benar dan mana yang hoaks.

Berkaitan dengan berita mewabahnya difteri, berdasarkan laporan data dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan menunjukkan, cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) periode 2008-2011 berada di atas 90 persen. Namun, sejak 2012 hingga 2015 menurun jadi di bawah 90 persen.

Penurunan tersebut bisa jadi ditengarai oleh adanya pro kontra yang beredar di sosial media mengenai pemberian imunisasi. Informasi yang simpang siur dapat mengubah perilaku suatu kelompok. Kelompok yang kontra bisa saja dimanfaatkan oleh kepentingan kelompok tertentu sehingga berita hoaks yang mendukung sikap mereka semakin mudah tersebar. Misalnya, ada anggapan mengenai ketidakhalalan bahan yang digunakan sebagai vaksin, sampai berita yang menyebutkan bahwa vaksin imunisasi bisa menyebabkan anak mengalami autisme.

Apa yang saya tulis di atas merupakan sedikit gambaran bagaimana sebuah isu kesehatan dapat memengaruhi perilaku suatu kelompok. Masih banyak isu-isu kesehatan lainnya yang menjadi perhatian dan cukup penting untuk dicermati. Pengetahuan dari sumber yang kredible menjadi bekal bagi warganet khususnya blogger untuk dapat menjadi titik tengah penyebar informasi yang berimbang.

Berangkat dari wacana tersebut maka pihak pemegang kebijakan atau instansi kesehatan terkait perlu menjalin kerjasama dengan warganet agar sosialisasi terhadap isu kesehatan dapat berjalan sesuai dengan koridornya.

Warganet akan menjadi salah satu agen yang dapat menyampaikan informasi kesehatan yang tepat dan sesuai sasaran.

Temu Blogger Kesehatan & Dinkes Kota Semarang. 




Pada bulan November lalu, tepatnya di tanggal 27-28 Dinas Kesehatan Kota Semarang (DKK) mengadakan Temu Blogger Kesehatan dengan agenda kegiatan Diseminasi Informasi. Diseminasi adalah suatu kegiatan yang ditujukan pada target kelompok atau individu agar mereka memperoleh informasi, timbul kesadaran, menerima dan akhirnya memanfaatkan informasi tersebut. Diseminasi adalah proses penyebaran informasi yang direncanakan, diarahkan dan dikelola.

Kegiatan ini merupakan suatu bentuk kerjasama, dimana blogger selaku warganet aktif yang memiliki jaringan di sosial media membantu pihak Dinas Kesehatan Kota Semarang untuk menyosialisasikan program-program kesehatannya, baik yang sudah berjalan dan dikenal masyarakat maupun yang belum familiar.

Apa saja kegiatan yang dilakukan dalam acara Temu Blogger Kesehatan bersama DKK Semarang ini serta hal apa saja yang didapatkan teman-teman blogger yang bisa dibagi kepada warganet lainnya atau bahkan masyarakat luas :

1. Berobat ke puskesmas itu keren!

Acungkan tangan buat kalian yang masih suka meng-underestimate keberadaan puskesmas? Masih banyak kan yang berpikir kalau pelayanan kesehatan di puskesmas itu standar banget, cenderung ribet birokrasi pendaftarannya, antrinya panjang, jam bukanya juga pendek, dan obatnya generik pula.


Dari 36 Blogger yang hadir, dibagi dua kelompok untuk melakukan kunjungan ke dua puskesmas di Semarang, yaitu Halmahera dan Gayamsari.

Saya sendiri kebagian untuk berkunjung ke Puskesmas Halmahera. Dari kunjungan tersebut, ada beberapa hal yang langsung mengubah pandangan saya tentang pelayanan kesehatan di puskesmas.

Puskesmas Halmahera sudah dilengkapi dengan fasilitas gawat darurat, rawat jalan, rawat inap, farmasi, laboratorium dan persalinan. Puskesmas ini juga merupakan salah satu yang memiliki Rawat Inap Bersalin PONED. Puskesmas Halmahera merupakan salah satu puskesmas di kota Semarang yang memiliki fasilitas pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED).

Pelayanan persalinan yang cukup lengkap, membuat PONED menjadi salah satu layanan unggulan yang terkenal di Puskesmas Halmahera.

2. Semarang punya Ambulans Hebat. Masyarakat dapat menghubungi call center 1500-132



Pemerintah Kota Semarang juga menyediakan Ambulans Hebat. Ambulance Hebat adalah layanan ambulans gratis bagi warga yang membutuhkan pelayanan ambulans atau ketika mengalami keadaan, seperti: Kegawatdaruratan Medis Kegawatdaruratan, Kehamilan dan Kecelakaan.

3. Jaminan Berobat Gratis Bagi Seluruh Warga Kota Semarang.




Sudah pernah dengar UHC atau Universal Health Coverage? Program ini merupakan wujud dari visi Pemerintah Kota Semarang, yaitu Semarang sebagai Kota Perdagangan dan Jasa yang HEBAT menuju masyarakat semakin sejahtera. 

Dengan UHC maka semua warga dapat memperoleh pelayanan kesehatan dengan gratis melalui BPJS. Syaratnya cukup mudah. Calon peserta UHC yang merupakan warga kota Semarang, berdomisili di Semarang minimal selama 6 bulan, cukup menunjukkan KTP dan KK Kota Semarang sebagai bukti, dan bersedia ditempatkan di kelas 3.

4. Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS)



Tahukah kalian bahwa fungsi sebenarnya dari puskesmas sebenarnya adalah untuk aktivitas promotif dan preventif?

Fenomena yang terjadi justru masyarakat yang mengalami sakit berat karena penyakit-penyakit degeneratif berobat ke puskesmas, sementara yang sakitnya batpil malah berobah ke rumah sakit.

Fenomena inilah yang ingin diubah oleh dinas kesehatan. Ilustrasinya begini: Di Indonesia ada 70% penduduk Indonesia yang sehat dan 30% yang sakit.

Dari 30% penduduk yang sakit, permasalahannya ditangani oleh dinas kesehatan, puskesmas, rumah sakit maupun pihak swasta. Sedangkan yang 70% hanya diurusi oleh 37 puskesmas. Jumlahnya menjadi tidak sepadan dengan jumlah penduduk sehingga tindaka edukasi untuk usaha preventif dan promotif belum maksimal. Oleh karena itu, dibuatlah gerakan masyarakat sehat di Indonesia.

Germas di tahun 2017 menitikberatkan pada tiga hal, yaitu melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, konsumsi buah dan sayur, serta melakukan check-up kesehatan secara rutin.

5. 70 persen peserta blogger berada dalam kategori kurang bugar.


Persiapan Test Kebugaran dengan Metode Rockpot

Pemanasan sebelum test kebugaran berlangsung

Blogger sebagai agen penyebar informasi kesehatan diberikan kesempatan oleh DKK untuk mengetahui kondisi kesehatannya sendiri. Jadi ketika kami sudah sampai di The Wujil, Ungaran agenda lain selain mendapatkan berbagai paparan mengenai program kesehatan juga akan mendapatkan tes kesehatan antara lain, test tekanan darah, test kadar gula dan kolesterol.

Keesokan harinya, kami juga mendapatkan test kebugaran dengan metode rockpot. Kalau yang belum familiar, test ini dilakukan untuk mengukur kebugaran jantung-paru. Test ini berfungsi untuk panduan dalam menjaga dan meningkatkan kebugaran jantung-paru.

Test ini dapat dilakukan perorangan atau kelompok. Tidak ada alat khusus, hanya membutuhkan lintasan datar sepanjang 1,6 km, alat pencatat waktu dan sepatu untuk berolahraga. Peserta cukup berjalan cepat atau berlari secara konstan, sebelumnya diukur terlebih dahulu denyut nadi sebelum dan sesudah test.

Hasilnya cukup mengejutkan juga, 70 persen peserta Blogger berada dalam kategori kurang bugar. Mungkin ini karena kebiasaan kami kelamaan mager di depan laptop dan gadget kali, ya.

Dari pengalaman ini, banyak lho teman-teman blogger yang mulai menyadari pentingnya aktivitas fisik harian dan berjanji untuk mulai berolahraga lagi.

Jika kerjasama antara pemegang kebijakan kesehatan dan warganet khususnya blogger terjalin dengan baik, diharapkan penyebarluasan informasi kesehatan pun akan semakin merata dan tertarget. Yuk, kita menjadi bagian dari warganet yang sehat, bugar, dan produktif.

Salam Germas!


Wednesday, November 29, 2017

Guru-Guru Kehidupan


Seandainya bisa memutar ulang seluruh babak kehidupan, satu persatu akan tersingkap bagaimana perkembangan kehidupan kita dari mulai titik nol hingga saat ini. 

Di sepanjang masa itulah kita akan menemukan orang-orang yang berperan sebagai guru kehidupan. Orang-orang yang datang di dalam kehidupan kita dan mengajarkan banyak hal, dari mulai aksara, membaca, dan banyak hal lain yang mungkin tak tertera. 

Ada yang masih ingat guru sekolah dasar yang berhasil mengajari diri kita membaca? 

Saya masih, bahkan masih bisa mengambarkan sosoknya dengan baik. Postur tubuhnya kecil, kulitnya kuning langsat, bentuk wajahnya mirip Bu Tien Soeharto, dan rambutnya ikal. Bu Nana adalah orang yang mengajari saya menuliskan kalimat 'Ini Ibu Budi' 

Namun jauh sebelum itu, Mama adalah orang pertama yang mengenalkan aksara, bahwa deretan aksara bila bersanding dengan tepat bisa dibaca bahkan bercerita. Mama juga guru kehidupan yang pertama kali mengenalkan keajaiban yang ada di dalam buku-buku. 

Usia 4,5 tahun beliau membuat saya fasih mengeja, dan saat usia 5 tahun saya mulai membaca buku-buku yang beliau pinjamkan dari perpustakaan. 

Waktu masuk SD, di usia 6 tahun kurang, saya belum mahir menulis. Kemampuan motorik halus saya berkembang relatif lebih lamban, tetapi Bu Nana sangat telaten mengajari saya menulis. 

Dulu saya benci pelajaran menulis, apalagi harus mengulang menuliskan 'a-b-c' sampai berderet-deret dari mulai huruf besar sampai kecil. Buat saya yang kala itu sudah bisa membaca tapi belum lancar menulis, aktivitas itu rasanya sia-sia. 

Entahlah, mungkin saja saat masih enam tahun, kemalasan menulis kala itu saya terjemahkan seperti itu, tapi bisa jadi cuma sekadar malas saja. Sementara anak-anak lain, masih berkutat menyalin 'Ini Ibu Budi' saya justru merasa bosan dan ingin membaca yang lainnya. Tidak ada yang menangkap kebutuhan tersebut sehingga saya mudah merasa bosan berada di ruangan kelas dan lebih suka mengeksplorasi sekitar. 

Saya terlambat menyukai angka, bahkan kadung membencinya sebab belum menemukan 'guru kehidupan' yang tepat untuk itu. Kebencian terhadap angka ternyata juga punya kaitan dengan relasi saya dengan figur otoritas, seperti ayah dan guru-guru tertentu yang punya gaya otoriter--dan kebanyakan itu adalah guru mata pelajaran eksak. Saya baru mengetahui setelah kuliah Psikologi selama beberapa tahun tentang kaitan rendahnya minat seseorang terhadap Matematika dan figur otoritas. 

Ayah saya orang teknik yang bekerja dengan angka-angka, menyukai kepresisian segala hal, termasuk dalam hal waktu. Meski di satu sisi beliau membuat saya menjaga jarak dengan angka, namun beliau menjadi guru kehidupan dalam hal sistematika berpikir dan manajemen waktu. Untuk hal-hal yang berbau keteraturan, saya berterima kasih kepadanya. 

Di kelas tiga dan empat SD saya mulai bosan dengan kelas dan sekolah, saya lebih suka ikut Ibu saya ke kantornya yang memiliki ruangan perpustakaan sendiri dengan berbagai koleksi 'keajaiban' di rak-raknya. Saya mulai membangun dunia sendiri di dalam pikiran saya, tentang Alice in The Wonderland,  Peterpan, bahkan kisah-kisah perjuangan dan kisah dari buku-buku angkatan Balai Pustaka. 

Saya kembali menyukai sekolah ketika, salah seorang guru SD memberi saya kesempatan untuk ikut cerdas-cermat dan lomba bidang studi IPA lantaran saya bisa menjawab beberapa pertanyaan untuk kategori SMP saat tes seleksi. Lagi-lagi itu pun karena kebosanan dan mulai iseng membaca buku-buku pelajaran IPA untuk tingkat SMP. Saya suka buku IPA karena banyak ilustrasi gambar yang menarik. 

Karena keterlibatan saya dalam lomba-lomba itulah saya kembali menyukai sekolah. Sayangnya saya ketinggalan banyak hal di bidang Matematika. Kalau boleh menyalahkan keadaan, saya akan dengan mudah menunjukkan satu jari kepada seorang guru Matematika yang sudah mematikan kepercayaan diri saya. 

Namun kini saya belajar bahwa dalam perjalanan hidup, kita akan berjodoh dengan 'guru kehidupan' atau justru kehilangan 'guru kehidupan'. Saat Matematika diperkenalkan oleh guru kehidupan yang salah maka kesempatan seseorang untuk jatuh hati kepada bidang tersebut pun akan menghilang. 

Bagi saya saat ini, yang salah bukan ilmu pengetahuannya, tetapi siapa yang memperkenalkannya. Matematika menjadi semacam monster yang bersembunyi di kolong kegelapan. 

Orang yang menariknya ke luar dari kolong adalah seorang guru yang mau tidak mau harus ekstra mengajar saya untuk mengejar semua ketertinggalan, dan untuk menyiapkan ujian kelas enam. 

Beliau berhasil membuat saya sedikit melirik Matematika, terutama dalam hal yang berkaitan dengan berdagang dan bangun ruang. Sejak itu saya tahu kalau monster itu hanya perlu diajak ngobrol lebih akrab. 

Lepas dari bangku SD, di sekolah menengah saya tidak berjodoh dengan guru kehidupan yang bisa membuat Matematika tidak tampak seperti monster lagi. 

Alih-alih, monster yang awalnya kecil mulai tumbuh besar dan bertaring. Dia sudah tidak bisa diajak ngobrol akrab lagi. 

Saya harus menghindarinya. Saya berusaha lari dari monster tersebut kepada hal-hal lainnya; puisi dan seni. 

Beruntung salah satu guru kehidupan di bidang bahasa menaikkan level kepercayaan diri saya dengan memuji puisi yang saya buat dalam tugas sekolah. Saya pun mulai mengabaikan keberadaan si monster dan membuat banyak puisi. Puisi membuat saya lebih besar dari monster bertaring tersebut. 

Selain itu, seni menggambar dan melukis juga membuat hari-hari bersama si monster terasa lebih baik.

Lagi-lagi itu pun karena saya dipertemukan dengan guru seni yang menyenangkan, pandai membangkitkan sisi kreatif murid-muridnya. 

Beberapa murid yang belum bisa menaklukkan si monster memilih untuk menyalurkan energi dan rasa takutnya pada bahasa, seni, musik, dan mata pelajaran lain yang lebih ramah. 

Tiga tahun di sekolah menengah lolos saya lalui dengan standar cukup yang bisa mengantarkan ke sekolah negeri favorit. Lumayan untuk ukuran murid yang tiap hari main petak umpet sama si monster. 

Masa SMA adalah masa di mana saya memiliki banyak sekali kesempatan untuk bertemu dengan guru kehidupan, mulai dari guru-guru ilmu eksakta hingga sosial. Perubahan yang cukup signifikan berlangsung ketika saya berjodoh dengan guru kehidupan justru bukan dari institusi formal atau sekolah. 

Untuk guru-guru itu saya ingin berterima kasih. Karena mereka saya mendapatkan kesempatan kedua untuk jatuh hati pada ilmu pengetahuan. Saat perkembangan syaraf-syaraf belajar sudah matang dan saling berjalinan sempurna, guru-guru kehidupan hadir. Benar kata pepatah, guru hadir saat kita siap menerima pembelajaran. 

Ketika itu, kemampuan belajar seolah melejit. Buku-buku eksakta tampak semakin menarik untuk dibaca, bahkan dituangkan menjadi sebuah karya seni. Saya ingat beberapa kali menjuarai lomba membuat poster bertema lingkungan hidup yang temanya diambil dari buku Biologi dan Kimia, atau ketika kebosanan melanda saya membuat kartu ucapan ulang tahun dengan ilustrasi gambar sel yang diwarnai. 

Semakin relevan ilmu pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari, makin menarik ilmu itu. Terima kasih untuk guru-guru kehidupan yang berhasil menerjemahkan buku teks menjadi kisah-kisah penemuan yang mengubah kehidupan manusia sepanjang masa. 

Monster bertaring tumbuh semakin besar dan kompleks, tetapi saya sudah dipertemukan dengan sesosok guru kehidupan yang membantu saya untuk menaklukkannya. Saya masih ingat sosok guru les Matematika saya itu, bertubuh kecil, berkulit putih, matanya sipit, dan pelit senyum. Tetapi sekalinya saya dapat menyelesaikan persoalan Matematika beliau akan memberikan senyuman dan penghargaan yang mampu melunturkan rasa takut saya menghadapi si monster. 

Bersamanya, helaian rumit yang membelit tubuh si monster langsung rontok. Lapis demi lapis bulu hijau tebal yang membalut tubuh si monster terkelupas. 

Pada akhirnya, di dalam sosok monster besar nan mengerikan saya bisa melihat sesosok laki-laki kecil yang amat cerdas memainkan teka-teki angka. Matanya bulat bersinar penuh rasa ingin tahu, tangannya begitu cakap memainkan kubus rubik. 

Ternyata, di dalam sosok menyeramkan si monster, hidup bocah kecil yang semangat belajarnya luar biasa besar. 

Saya pun belajar, guru yang tidak tepat bisa mengubah bocah mana pun yang awalnya memiliki rasa ingin tahu dan semangat belajar menjadi sesosok monster. Tapi saya pun belajar, bahwa guru yang tepat dapat mengubah kembali monster tersebut ke wujud aslinya dalam waktu yang singkat. 

Bukan ilmu yang harus kamu takuti, tetapi orang yang menguasai ilmu itulah yang perlu kamu waspadai. Di tangan orang yang tepat, ilmu dapat bermanfaat, di tangan orang yang tidak tepat, ilmu bisa jadi mudharat. 

Kisah tentang guru-guru kehidupan ini masih akan panjang, tetapi saya akan melanjutkannya di lain waktu. Terima kasih Mba Relita dan Mba Yuli yang sudah mengangkat tema ini untuk arisan blog Gandjelrel periode 16. Selamat hari guru, para guru kehidupan. 




Saturday, November 25, 2017

Tips Berinternet Sehat Dari Orang Yang Tidak Bersosmed.


Kalau ngobrol sama teman yang sama sekali nggak menggunakan medsos, (Wow! Ada ya, yang hari gini nggak pakai medsos) saya sering dikomentari kurang kerjaan kalau pas update status, posting konten gambar di Instagram sampai mikirin caption yang berfaedah plus feeds yang cantik. 

"Buat apa sih? Segitunya banget, emang bermanfaat ya?" 

Kalau ketemu sama yang awam gini, saya nggak pernah bete kalau ditanya begitu, dan kadang kalau dia mau tahu, saya bakal menjelaskan kenapa dan buat apa saya menggunakan sosial media. 

Tapi sebelumnya, saya sendiri yang duluan bertanya kenapa dia sama sekali ngga tertarik bersosial media. 

Penasaran sama jawabannya? 

Sebelumnya, saya bakal kasih clue tentang karakter teman saya ini. Atas seizin dia, saya boleh membagi sedikit sudut pandang baru tentang mengapa dia tidak bersosmed. 

Typically, teman saya ini bukan orang yang gaptek lho. Dia melek sama gadget dan teknologi. Ponselnya malah update pisan dan kalau ngelirik apps yang ada di ponselnya suka sirik karena dia tukang ngulik apps unik berfaedah yang saya sendiri nggak bakal tahu ada di muka bumi ini kalau ngga dikasih tahu dia. 

Misalnya nih, kalau habis baca buku oke, dia langsung bisa bikin infographic keren hanya dengan pake ponselnya, terus bikin grafis dari quotes bagus hasil baca buku dipadu hasil grafis gambaran tangannya yang udah di-scan lewat apps di hapenya. 

Kalau pas mau presentasi sama klien, dia cuma bikin keynote pake pesan suara dan kadang ngerjainnya sambil makan siang, jalan-jalan, atau pas travelling. Misal dia teringat sesuatu, dia bakal ngomong sama apps di ponselnya dan taraaa, satu keyword bakal tercatat di situ.

Malemnya kalau udah di rumah, dia tinggal colokin ponsel ke laptopnya. Semua keywords tadi udah berubah jadi artikel berita atau tulisan yang related. Dia duduk membaca semua itu untuk bikin summary dan menuangkan ke presentasinya. 

Kadang kalau saya ngintip hasil infografis yang dia buat, saya suka nyeletuk mau bikinin dia Instagram, pasti berfaedah banget deh karyanya itu.

Tapi dia menggeleng nggak mau. Dengan agak sinis dia bilang,

"....enak banget yang ngga pernah baca buku dapet rangkuman dari gw."

Kids zaman now are tukang copy paste dan kadang nggak bisa ngehargaian hak cipta orang. Aku bikin beginian, buat diriku sendiri, dan kata-kata yang aku pakai di infografis hasil pemikiran orang lain.

I bought the books abroad, read them, and Instagram people just take it for the sake of caption. I hate it!" 

Kayak aku dong, balas saya merasa kesepet. Aku juga suka ambil kutipan dari buku buat bikin caption

Dan dia bilang, dengan perkembangan teknologi saat ini makin banyak orang yang belum sadar etika kutip mengutip sesuatu, apalagi kalau akhirnya menjadikan kutipan yang dibuat jadi komersial. 

"Itu yang jadi salah satu highlight buat aku kenapa malas bersosmed. Semua orang sepertinya jadi punya tuntutan untuk harus selalu komentar banyak hal, yang kadang mereka sendiri nggak tahu-tahu banget. Sosmed itu bikin makin banyak yang males baca buku, makin banyak yang suka hal yang instan, the world will slowly dying."

Nah, sampai sini dapat kan gambaran kenapa teman saya ini nggak suka bersosmed.

Jadi, orang yang bersosmed sebenernya ngga selalu gaptek. Justru kadang karena mereka paham behind the scene of technology, mereka memutuskan buat nggak terbawa arus utama. 

Kalau ngulik lagi tentang hal itu, saya juga bakal diceramahi tentang dampak negatif bersosial media. Saya sering ikut baca kajian psikologis yang sedang dia susun untuk bukunya, dan kadang jadi merasa ngeri sendiri juga sih. 

Nah, karena Arisan Gandjel Rel periode 15 ini bertema tentang Internet Sehat, saya sengaja nodong teman saya ini untuk kasih tips supaya tetap sehat bersosmed.

Here we go:

  1. Internet itu sehat, kalau kadar asupannya dibatasi, seperti halnya lemak. 
  2. Dan kamu nggak boleh pilih lemak yang jahat. Pilih lemak yang sehat mendukung growth-mu bukan yang bikin kamu jadi sakit.
  3. Internet itu sehat, kalau nggak bikin sakit (Dih, nyebelin yaa. Kayak Cak Lontong aja) banyak penyakit yang muncul dari internet dan sosmed. Sindrom FOMO atau fear of missing something adalah salah satunya. Ada juga penyakit membanding-bandingkan diri yang mencuri sedikit demi sedikit kemampuanmu buat bersyukur dan menaikkan standar kebahagiaan ke levelnya orang lain. 
  4. Internet itu sehat kalau bermanfaat buat memperlancar aktivitas, bukan bikin kamu malas. Pilih aplikasi di ponsel yang bikin kamu pingin gerak, bukannya mager. 
  5. Internet itu sehat kalau kamu nggak bergantung kepadanya. Bergantunglah kepada Sang Pencipta, bukan kuota. 
  6. Internet itu sehat kalau kamu masih tertarik bertatap muka dan ngobrol langsung, bukannya chat virtual. 
  7. Internet itu sehat, kalau kamu belajar untuk mencari tahu manfaat bukan mudharat. 
Apalagi yaaa...kayaknya dari obrolan dua setengah jam, cuma itu yang bisa saya sarikan. Nah, kalau Internet sehat versi Mba Dedew Rieka sendiri selaku pengagas tema arisan blog ini apa yaa. Saya juga pingin tahu versi internet sehatnya Mba Prananingrum, nih. Kapan-kapan share yaa. 


Wednesday, November 22, 2017

Pilihan Warna Lipstick Wardah Matte Intense

Di Indonesia ada banyak sekali brand kosmetik yang menawarkan lipstik dengan jenis berbeda-beda dan warna yang beraneka ragam. Salah satu brand lipstik lokal yang paling populer dan teruji kualitasnya adalah Wardah. 

Ya, brand kosmetik dengan bidikan konsumen para perempuan muslimah ini juga sangat terkenal dengan rangkaian merk lipstik berkualitas premium dengan harga yang sangat terjangkau. 

Salah satunya adalah Lipstik Wardah Matte kategori Intense Matte. Dalam satu set terdapat 12 warna yang bisa Anda pilih lho. Apa saja nih pilihan warnanya?



Warna Lipstik Wardah Matte 

Lipstik Wardah Matte 01 – Sociolite Pink

Lipstik wardah matte satu ini memiliki warna peach yang lembut di bibir. Karena warnanya yang cenderung cerah lipstik satu ini lebih sesuai dikenakan oleh kamu yang memiliki kulit putih atau kuning langsat. Sedangkan jika kamu memiliki kulit dengan warna medium atau sawo matang, shade ini akan membuat bibir terlihat pucat karena terlalu kontras dengan warna kulit alami kamu.

Lipstik Wardah Matte 02 – Blushing Nude 

Tema yang diusung oleh seri lipstik ini bisa saja berjudul “intense”, tapi ternyata kamu juga bisa menemukan pilihan warna nude, lho. Blushing Nude memiliki warna pink yang tidak terlalu intens, yang menjadi ciri khas dari lipstik nude. Dan kabar baiknya, warna lipstik ini cocok juga untuk dikenakan bagi yang memiliki kulit sawo matang lho. 

Lipstik Wardah Matte 03- Peach Perfect 

Dibandingkan dengan swatch Sociolite Pink, warna lipstik Peach Perfect ini cenderung lebih light. Buat kamu yang tidak nyaman mengenakan lipstik dengan warna cerah, bisa memilih lipstik satu ini. Hanya saja, Peach Perfect ini akan memberikan kesan bibir yang pucat dan membuat penampilan terlihat seperti orang sakit jika memiliki kulit sawo matang. 

Lipstik Wardah Matte 04 – Mauve Mellow 

Tapi jangan putus harapan, ladies. Karena walaupun kamu tidak cocok mengenakan swatch sebelumnya, Wardah Intense Matte Lipstick memiliki jenis lipstik nude lain yang terlihat lebih cocok buat kamu kok. Mauve Mellow memiliki warna pink nude dengan sedikit undertone abu-abu. Warna lipstik ini cocok untuk semua jenis warna kulit


Lipstik Wardah Matte 05 – Easy Brownie 

Warna terakhir dari rangkaian nude lipsticks ini memiliki spektrum warna yang paling tua. Warna cokelat yang sangat lembut sangat cocok untuk dikenakan untuk kamu yang ingin tampil dengan penampilan natural. Sama seperti Mauve Mellow, Easy Brownie ini cocok untuk semua jenis warna kulit, lho. 

Lipstik Wardah Matte 06 – Blooming Pink 

Buat kamu yang ingin tampil sedikit intens dengan lipstik warna pink, swatch lipstik satu ini bakal membuat penampilan Anda terlihat lebih fresh. Lipstik pink dengan sedikit hint warna merah ini cocok untuk dikenakan oleh semua jenis warna kulit. 

Lipstik Wardah Matte 07- Passionate Pink 

Untuk alternatif, kamu juga bisa memilih Passionate Pink dengan warna magentanya yang memukau. Dijamin penampilanmu bakal terlihat lebih fresh. 

Lipstik Wardah Matte 08 – Retro Red 

Ingin tampil sedikit daring? Swatch Retro Red menawarkan warna merah dengan sedikit tone pink yang cocok untuk semua jenis warna kulit, dan terutama buat kamu yang memiliki bibir dengan warna gelap. 

Lipstick Wardah Matte 09 – Vibrant Red 

Untuk membuat riasan simple kamu menjadi lebih WAH, lipstik Vibrant Red ini wajib dicoba. Warna merah maroon-nya yang berani sangat cocok buat para perempuan perkasa yang tidak takut untuk menjadi pusat perhatian. 

Lipstick Wardah Matte 10 – Miss Terracota 

Shade warna merah lainnya yang harus kamu coba adalah swatch nomor 10 ini. Warna merah bata dari Miss Terracota ini memilikit sedikit tone abu-abu dan masuk untuk semua jenis warna kulit. 

Lipstik Wardah Matte 11 – Choco Town 

Swatch warna cokelat yang menjadi salah satu shade favorit dari hampir semua orang yang pernah mencoba seri Wardah Intense Matte Lipstick. Warna cokelatnya yang subtle namun tetap intens menjadi salah satu alasan kenapa banyak orang jadi jatuh cinta. Apakah kamu akan jadi salah satunya?

Lipstik Wardah Matte 12 – Lady Burgundy

Aiming for mysterious vampy look? Coba poleskan swatch lipstick terakhir dari lipstik Wardah matte ini. Lady Burgundy memiliki warna dark plum yang sophisticated dan membuat penampilan kamu terlihat misterius dan dewasa.

Warnanya yang paling pigmented membuat Lady Burgundy juga menjadi salah satu swatch favorit dari semua orang.

Nah, warna lipstik Wardah matte mana nih yang paling kamu favoritkan?

Wednesday, November 1, 2017

Rumah Kampung Ramah Lingkungan


Jantung sebuah rumah adalah dapurnya, sementara nyawa dari sebuah rumah adalah kebun atau perpustakaan di dalamnya. 

Kalau dipikir-pikir, ujaran tersebut ada benarnya juga sih. Dapur adalah tempat kehangatan dan kehidupan disalurkan kepada seluruh penghuni rumah, sementara kebun atau perpustakaan menandakan ada tidaknya aktivitas penghuninya.

Kalau ada kebun, berarti ada seseorang yang berkebun artinya rumah tersebut bernyawa sementara perpustakaan menandakan ada orang yang membaca. Keduanya adalah aktivitas yang menandakan 'nyawa' atau kehidupan. 

Bicara tentang rumah atau hunian, teman-teman blogger Gandjel Rel Semarang lagi dapat peer nih dari Mba Archa seorang blogger sekaligus dosen arsitektur dan Mba Dian Nafi penulis yang punya latar belakang pendidikan arsitektur juga. Peernya adalah menuliskan seperti apakah rumah impian kami sedetail-detailnya. Gitu ya, memang kalau dapet peer dari orang arsitektur semuanya mesti detail, hehehe. 

Rumah impian versi saya sebenarnya simpel, punya tiga hal yang saya sebutkan di atas tadi; dapur, sedikit kebun, dan perpustakaan. Tapi pasti ngga boleh kan nulis gitu doang, kan mesti detail. Jadi mari memvisualisasikan impian tentang rumah idaman tadi. 

Lokasi
Kalau boleh milih, saya pingin punya rumah yang dekat dengan kota dan pusat aktivitas sehari-hari, tapi bersuasana kampung. 

Beberapa tahunan yang lalu kayaknya ngerasa pesimis bakal bisa mendapatkan lokasi seperti itu. 

Waktu tinggal di Bandung, rumah saya termasuk komplek yang letaknya di pelosok yang jauh ke pusat kota. Terus sempat pindah ke kota yang dekat dengan pusat aktivitas, rumahnya bener-bener walking distance buat kemana-mana tapi lama kelamaan jadi ngga nyaman karena aksesnya macet. 

Baru pas di Semarang ini bisa menemukan lokasi yang sesuai harapan. Jarak dari rumah ke pusat kota paling lama sepuluh menit, dan posisinya pun di tengah-tengah. 

Lingkungan. 
Kalau bicara soal lingkungan idaman, saya memilih kampung atau pedesaan. Tapi susah juga kan ya kalau pingin suasana rumah seperti itu tapi sekaligus nggak jauh dari pusat kota. Jadi kalau nggak dapat lingkungan yang seperti itu, prinsip saya sih ciptakan lingkungan yang paling nggak mendekati suasana tersebut. 

Ukuran. 
Semua orang punya perhitungan sendiri untuk masalah ukuran karena besar atau kecil jadi relatif kalau sudah berkaitan dengan kenyamanan hunian. 

Ada yang merasa nyaman dengan rumah yang lapang, sebaliknya ada juga yang nyaman dengan hunian yang mungil. 

Kalau saya lebih mengutamakan fungsionalnya. Ya kalau bisa sih, rumah mungil yang fleksibel, jadi pas bersih-bersih areanya mengecil tapi kalau pas kedatangan tamu atau keluarga besar rumahnya membesar, hihihi. Coba bisa gitu ya. 

Fungsional bagi saya artinya nggak banyak ruang yang mubazir dan semua punya tempatnya sendiri-sendiri. 

Bentuk
Rumah bergaya Tudor.

Courtyard House Style, dengan bagian terbuka di tengah-tengah rumah. 

Kalau mau pura-pura lupa sedang tinggal di negara tropis pengin banget punya rumah bergaya tudor atau courtyard, tapi setelah suatu hari braimstroming sama sesebapak yang arsitek ternyata rumah yang paling merespon iklim dan cuaca negara tropis adalah rumah yang bergaya tropis. Duh, agak teknis sih ini ngobrolnya jadi takut salah kalau harus ngomongin alasannya kenapa, padahal sih lupa

Rumah bergaya tropis

Nah, udah makin spesifik kan ya. Setelah ngobrolin lokasi, lingkungan, dan bentuk maka konsep yang paling pas untuk diadopsi untuk rumah idaman adalah Rumah Kampung Bergaya Tropis Yang Ramah Lingkungan. 

Rumah Ramah Lingkungan.





Ada beberapa poin tentang rumah ramah lingkungan yang sudah dijalankan selama membangun hunian yang sekarang saya tempati, yaitu menganggarkan sebagian lahan untuk area hijau dan peresapan air. 

Tapi ada beberapa poin idaman lain yang belum dan masih dicicil untuk diwujudkan, salah satunya yaitu sudut pemilahan sampah. 

Padahal kurun waktu 2013-2015 saya sudah mulai mengolah sampah organik menjadi kompos sendiri, sayangnya selepas renovasi rumah dan dua tahun belakangan ini malah berhenti mengolah sampah sendiri. Jadi itu bakal jadi goal untuk tahun depan, deh. Mulai memilah sampah lagi. 

Peer bikin rumah ramah lingkungan ini masih panjang prosesnya. Antara lain mengganti atap galvalum dengan genteng, lalu mendak beberapa bagian atap untuk dijadikan rooftop garden. Itu juga upaya agar suhu bagian dalam rumah lebih adem tanpa penggunaan AC. Pinginnya kalau punya rezeki lebih, bisa membuat instalasi energi surya di bagian atap yang bisa menghasilkan listrik jadi ngga bergantung sama PLN doang.  

Ada juga peer lain, yaitu membuat bak penampungan air hujan. Jadi selama musim hujan bisa menabung air yang kelak bisa digunakan untuk menyiram tanaman saat musim kemarau.





Selain itu, ada juga peer untuk membuat kebun sayur organik, menanam pohon duit kelor, dan mulai lebih banyak lagi menghijaukan lingkungan. Semoga musim hujan ini, hasrat tanam-menanam saya muncul, ya. Jadi bisa lebih rajin berkebun.

Ini adalah tampak depan rumah yang didesain dengan konsep tropis + industrial. Masih ada beberapa bagian yang unfinished juga sih. 

Nah, itu tadi gambaran mengenai rumah idaman yang saya inginkan. Semoga bisa mencicil untuk mewujudkannya. Kalau rumah idaman kalian yang seperti apa?


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...