Thursday, January 19, 2017

(draft) Catatan Perjalanan Tujuh Tahun Kedua-Konflik

Konflik itu baik untuk perkembangan anak.

Kemarin sore, waktu Kakak pergi ke masjid untuk maghriban, hujan belum turun. Nggak lama kemudian, hujan turun lumayan deras, dan sudah waktunya Kakak pulang, sementara dia ngga bawa payung. Jarak dari rumah ke masjid kira-kira satu blok. Kepikiran buat ngejemput, tapi lalu mbatin: ini saatnya Kakak belajar sesuatu.

Beberapa waktu lalu, Kakak juga pernah lupa bawa bekal yang sudah disiapkan dari rumah. Kira-kira kirim ke sekolah atau nggak ya? Kemudian mikir, kalau nggak dikirim dia pasti laper banget, kalau dikirim, kira-kira besok Kakak akan mengulang kesalahan yang sama nggak ya?

"Bun, kemarin itu di sekolah Ezra nangis karena penghapusnya hilang..." cerita Bu Guru di sekolahnya. Waktu itu, Ezra juga cerita kalau beberapa temannya komentar, "cuma penghapus aja kok,nangis..."

Saya lalu ngobrol sama Bu Guru pas rapotan;menjelaskan kenapa karena hal kecil itu Ezra menangis. Soal gampang nangis itu, sebenernya juga PR buat saya untuk mengajarkan Ezra agar tidak terlalu sensitif dan be a tough boy.

Balik lagi soal penghapus. Jadi, sejak masuk SD, kami memang mengajarkan Ezra untuk menjaga barang-barang pribadinya. Sekarang, kami mungkin masih mengamanahkan hal kecil seperti alat-alat tulis, tetapi seiring waktu, amanah yang akan kami berikan akan bertambah besar, termasuk amanah untuk menjaga dirinya sendiri.

Jadi biarlah sekarang dia menangis untuk penghapusnya yang hilang dan tidak akan kami ganti, daripada kelak dia akan menangis karena kehilangan sesuatu yang lebih besar.
Alhamdulillah, Bu Guru mendukung prinsip yang sedang kami ajarkan.

Cerita yang berbeda. Dulu, di sekolah lamanya, sepatu Kakak pernah tertukar sehabis ngaji di masjid. Saya lalu memintanya kembali ke sekolah, mencari anak yang sepatunya tertukar. Sejak itu saya katakan kepadanya: "Kakak harus perhatian sama barang-barang yang dibawa, kalau hilang atau tertinggal, itu tanggung jawab Kakak."
Atau pernah juga saat bukunya tertinggal. "Sekolah kan, tugas Kakak. Bunda ngga akan antar, biar kakak tahu arti tanggung jawab."
Gurunya saat itu bilang kalau seharusnya saya tidak terlalu menuntut anak dengan menambahkan konflik yang nggak perlu karena tugas ortu adalah melancarkan proses belajar anak. Artinya, kalau bukunya tertinggal, harus diantarkan. Saat itu saya memang tidak mengantar bukunya karena saya pikir, mungkin benar kegiatan sekolahnya akan lancar, tetapi Kakak tidak akan 'belajar'.

Kakak nanya, "tanggung jawab itu kalau penghapusku ilang, aku harus beli sendiri lagi kan, Bun?"

"Bisa jadi. Tapi itu artinya Kakak juga harus ngerasain akibat dari sikap Kakak sendiri. Misalnya jadi repot karena minjem penghapus terus," jawab saya.

Beberapa hari kemudian ayahnya meminjami penghapus. "Dijaga, ya." Nggak lama setelahnya, dia mendapat dua penghapus baru, satu dari goodie bag ultah, satu dari teman sekelasnya. "Ini harus dijaga, Bun," kata Ezra dengan muka berseri-seri.

Saya pun ikut senyum dan berpikir bahwa tanggung jawab bisa terasah karena konflik. Selalu menjadi bemper untuk setiap konflik yang dihadapi anak berarti pelan-pelan mengajari anak melepas tanggung jawab. Biar deh, sekarang susah-susah dulu, In syaa Allah ke depannya bisa lebih baik.

Tuesday, January 10, 2017

Hotel Review : Sala View For Short Staycation

Ada beberapa poin ceklis yang saya dan Pak Suami bikin kalau mau staycation di suatu hotel.
Antara lain :
1. Lokasi hotel dan jaraknya dengan pusat wisata atau hiburan di kota tersebut.
2. Ada kolam renangnya atau tidak?
3. Sarapannya oke atau nggak ?

Kalau berdasarkan tiga poin ceklis itu, Sala View Hotel yang lokasinya nggak jauh dari Stasiun Kereta Api Purwosari tersebut masuk kategori tempat staycation yang cukup nyaman, kids friendly dan budget friendly.

Menemukan Sala View Hotel ini berawal dari ada pekerjaan yang harus diselesaikan selama beberapa hari di Solo, kemudian harus hotel hopping, lalu ketika akhir pekan tiba dan anak-anak ikut serta karena sedang liburan sekolah, saya pun mencari tahu beberapa hotel yang fasilitasnya cukup nyaman buat anak-anak dan ramah di kantong.

Dan Sala View pun menjadi pilihan. Pertama kali, tertarik dengan sky poolnya. Sepertinya akan seru melihat pemandangan Kota Solo dari ketinggian. Akhir pekan kedua di Solo pun kami habiskan bersama anak-anak di hotel ini.

Si sulung sudah ngga sabar untuk melihat sky poolnya, dan waktu naik ke atas agak sedikit ohhh, kolamnya kecil yaa...tapi blessing in disguisenya kolamnya jadi lebih kids friendly, dengan kedalaman 0,8 m saya ngga khawatir mengajak si toddler ikut main air di kolamnya. Sekadar tips, bisa lho berenang lebih pagi saat masih sepi, selain nyaman juga dapat bonus lihat sunrise dari rooftopnya.

Soal lokasi, sebenarnya ngga istimewa banget. Selain dekat dengan Stasiun Kereta Api, tinggal jalan kaki kurleb 100 meter, dan juga berhadapan dengan ruas Jalan Slamet Riyadi dengan city walknya, selebihnya --kalau tujuannya mau mengeksplorasi Kota Solo-- agak terlalu jauh dari keramaian. Tapi karena dasarnya kami niat pindah tidur, hihihi...jadi it's oke lah. Oya sebenernya ngga jauh juga sih dari Stadion Manahan dan di dekat hotel ada koridor Batik Trans juga.

Nah, untuk sarapannya tergolong memuaskan. Ada buah-buahan, yoghurt yang yummy, western breakfast, Indonesian food kayak nasi goreng, soto, dan bubur ayam juga ada. Dengan menu yang cukup variatif, rasa yang enak dan fresh, plus tempat bersantap yang airy, fresh, dan nyaman, hotel ini boleh lah masuk rekomendasi untuk didatangi lagi.

Ini beberapa foto dari hotel Sala View yang kami abadikan.



Tuesday, January 3, 2017

Rumah Turi Solo

Setelah hampir tiga tahun lebih, akhirnya saya kembali lagi ke hotel ini. Awalnya gara-gara gagal liburan ke Jogja karena ada pekerjaan akhir tahun yang mendadak. Sebelumnya, kami sudah berencana bakal jalan-jalan Jogja dan ngecim salah satu hotel yang mengusung green life style di sana, tapi karena pekerjaan mengharuskan untuk berada di Solo selama beberapa hari, akhirnya salah satu pilihan akomodasi penginapan saat keluarga harus ikut menyusul jatuh pada Rumah Turi ini.

Meskipin termasuk hotel butik, tapi lokasi Rumah Turi ini relatif dekat dari pusat kota. Kalau dari Solo Paragon Mal tinggal jalan kaki kurang lebih lima menit. Dari perempatan Solo Paragon kita tinggal menyeberang ke arah daerah Turisari Mangkubumen lalu berjalan sedikit sampai menemukan jalan Srigading II No.12, di situlah Rumah Turi Eco Hotel berada. Lokasinya memang berbaur dengan rumah penduduk sekitar jadi cukup tenang meskipun tidak jauh dari keramaian.

Di halaman depannya ada pohon turi merah yang sedang berbunga, dan saat masuk ke halamannya langsung terasa aura segar dan hijaunya. Deretan tanaman yang ditata dalam gaya vertikal garden semakin menambah kuat kesan green life style.

Kalau baru pertama ke sini jangan kaget kalau hotelnya terasa sepi dan mungil. Rumah Turi memang mengusung konsep butik dan gaya hidup ramah lingkungan, jadi penggunaan lighting pun sangat minimalis dan disesuaikan dengan kebutuhan.

Saat itu kami sampai di hotel masih siang, jadi lampu-lampu pun belum dinyalakan, begitupula dengan area restoran yang masih gelap dan baru dinyalakan beberapa lampu saat ada pengunjung.

Saya dan keluarga memang sengaja mencari suasana penginapan yang tenang dan hommy, apalagi setelah beberapa hari merasa penat dengan pekerjaan. Sayangnya, memang tidak banyak fasilitas yang bisa membuat anak-anak betah lama-lama di sini, misalnya kolam renang atau play area. Kalau boleh dibilang, Rumah Turi ini lebih cocok buat pasangan honeymoon atau solo traveller yang sedang ingin mencari ketenangan.

Setelah melihat-lihat kamar, kami bersantap siang dulu di restonya. Sedikit berbeda dengan beberapa tahun lalu, kini menu makanan di resto ini sudah berubah konsep jadi makanan sehat. Ada juga beberapa menu vegetarian. Padahal saya lagi pingin makan Empal Gentongnya, akhirnya karena tidak ada, saya memesan tumis sayuran yang fresssh dan enaak. Sementara anak-anak memesan nasi goreng. Waktu ngobrol-ngobrol dengan pelayannya dijelaskan kalau saat ini masakan yang dibuat menggunakan bahan-bahan alami, nasi goreng ayamnya saja menggunakan ayam kampung.

Penasaran dengan hotel boutique yang eco friendly ini, silakan lihat-lihat fotonya. Oya, yang lucu ternyata hotel ini masih bersaudara dengan hotel di Jogja yang rencananya mau kami inapi. Rumah Turi ini lebih duluan dibangun, sementara Green Host di Jogja masih baru jadi terhitungnya adik dari Rumah Turi di Solo ini. Konsep yang diusung pun sama, hotel hijau ramah lingkungan.






Thursday, December 22, 2016

Ide Liburan Biar Nggak Bosan

Ini buat anak-anak ya, Buibu. Kalau para emaks mah, libur sekolah itu artinya pakpikpuk pagi berkurang, yang biasa berternak macan bisa agak-agak mager atau bobo syantik pas siang. Tapi ya itu kadang anak-anak mah, ngga bisa lihat emaks santai dikit yaah pasti ada aja pingin ini itunya.

Liburan panjang tahun ajaran yang lalu saya bikin semacam workbook buat aktivitas liburan. Isinya:

Rules selama liburan sekolah.
Jadi pas awal mulai liburan saya bikin kesepakatan dulu sama si sulung. Boleh nonton tv, pegang gadget, tidur hibernasi sampai musim salju berakhir (Emangnya beruang) monggo! Yang penting daftar rules nya di checklist dulu.

Amazing lhoo, cara ini berhasil bikin emak ngga banyak ngomel. Inti dari liburan kan emak juga harus mengistirahatkan cangkem yak.

Kalau punya anak tipe kinestetik-spatial macam anak saya, In syaa Allah kegiatan di workbook ini manjur deh, buat meredam energi suka petakilannya. Ada banyak macem brain teaser dan kegiatan bermodus misi rahasia berhadiah pelukan atau tidur siang bareng atau syukur-syukur snack favoritnya.

Ini beberapa contoh kegiatannya.

Play Around Your Home: Temukan botol atau kemasan yang ada di rumah, coba periksa berapa isi/volumenya dan buat catatan di tabel yang sudah disediakan.

Menulis Cerita: Siapkan satu gambar berwarna yang menarik dan biarkan anak menuliskan apa yang bisa diceritakan dari gambar tersebut.

Play Outside : Kumpulkan jenis-jenis daun dengan bentuk berbeda-beda lalu tempelkan. Amati bentuk-bentuk awan dan gambarkan di bukumu, dan misi-misi lainnya.

Selain misi-misi itu, ada juga misi berkenalan dengan orang baru, mengumpulkan tiket masuk ke museum, belajar naik kendaraan umum, pergi ke perpus, dsb.

Saya sengaja memasukkan misi berkenalan dengan orang baru buat meningkatkan ketrampilannya bersosialisasi. Plus ada juga misi mengumpulkan tanda tangan dari orang yang menurut anak saya keren atau inspiratif.

Terus gimana kalau anaknya terlanjur lebih suka main gadget. Ada beberapa games yang kami (saya dan Ezra) rekomendasikan:

Beaker. Games ini lumayan asyik buat anak yang suka kepo, campur-campur suatu bahan kimia di rumah (Ezra suka nyampur sabun cuci piring sama minyak, kadang shampoo, saos, pelembut dimainin buat dicampur apalah) tapi emaks ngga mau rugi bahan dan ngga pingin ada ledakan kecil atau insiden berbahaya lainnya. Di aplikasi ini anak bisa mencampur potasium dan air lalu muncul ledakan kecil yang bikin anak happy, zero risk.

Code Spark. Games asyik buat anak untuk mengenalkan coding dan pemrograman. Edisi ngga berbayarnya lumayan oke buat ngisi waktu, sementara yang edisi berbayar punya tingakatan yang lengkap untuk belajar coding buat anak-anak kalau udah main, bisa, dan suka, anak-anak jadi tertantang untuk mengerjakan tiap levelnya. Pokoknya ini game cukup win win solution buat emak dan anak. Kalau emak pingin bobo-bobo siang bentar, sodorin game ini, 45 menit napping tanpa rengekan.

Selain main games di gadget, ada juga aktivitas browsing-unduh-print-crafting yang biasa kami lakukan. Situs yang paling sering dikunjungi adalah mr.printables.com , banyak ide permainan buat anak laki-laki maupun perempuan yang bisa dikembangkan di sini. Terus kalau udah mentook banget biasanya meluncur ke twistynoodle buat bikin lembaran mewarnai, tema, tulisan, dan gambarnya bisa disesuaikan. Cuss print dan minta anak mewarnai sampai selesai sementara kita masak atau bersih-bersih rumah.

Selain crafting, science experiment sederhana dari Komik Science Quark juga cukup jadi rujukan buat kami. Kadang kalau bosan dengan science experiment, masak bareng juga jadi salah satu senjata ampuh buat mengisi waktu liburan.

Liburan kali ini, saya ngga bikin workbook karena punya buku The Totally Bumper Puzzle Book yang isinya ratusan kegiatan brain teaser. Muntah-muntah deh, itu Ezra ngerjainnya, hihihi. Tapi dia suka kok, soalnya banyak teka-teki yang menstimulasi kemampuan bahasa dan logikanya.

Senjata lain, yang bisa diarahkan kalau mulai bosen di rumah adalah ngajarin anak practical life skill sesuai usianya. Bisa dengan mengajari dia untuk menyortir mainannya, membereskan kamar, menyapu halaman, dsb.

Itu sih, beberapa ide tentang kegiatan liburannya. Semoga bermanfaat dan liburan semesteran kali ini berkesan.








Winter Wonderland Imaginative & Sensory Play Bersama Rumah Main Katumbiri

Minggu, 18 Desember yang lalu, saya diajak Mba Chandra dari Komunitas Eping Semarang untuk mengisi kids corner di acara gathering komunitas tersebut. Kebetulan Rumah Main Katumbiri yang diprakarsai saya dan seorang rekan sudah punya program akhir tahun untuk mengisi liburan di sebuah mal tetapi dibatalkan karena suatu hal, jadi daripada konsep yang sudah disusun sia-sia, saya pun menawarkan kegiatan Imaginative dan Sensory Play untuk kids cornernya.

Via skype saya dan rekan yang sekarang sedang berada di Australia mulai membahas tema. Dia merasa prihatin dengan situasi Indonesia saat ini terutama sih, di medsos. Saya mencoba menenangkan, yang kamu lihat di sosmed sekarang ngga sepenuhnya cerminan dunia nyata, saya masih asyik ngobrol dan berinteraksi langsung dengan berbagai kalangan dan orang yang berbeda-beda latar belakangnya, kok.

"Oke, bikin sesuatu yang bisa cooling the heat."

"Saljuu..."balas saya. "Pingin deh, ngajak anak-anak main salju sambil sensory play, terus ada story telling juga."

"Cerita tentang pemanasan global aja, salju-salju mencair, permukaan air laut naik, kutub yang..."

"Eh tapi aku malah mau buat hewan-hewan dibekukan dan anak-anak bantu menyelamatkan buat sensory playnya..."

“Ya udah, bungkus. Nanti bikin reportnya di blog ya, mau gue ajuin juga kegiatan macam ini di kampus sini, buat day carenya."
~~
Itu tadi sedikit cerita di balik layar tentang proyek Rumah Main Katumbiri, ang sementara ini sistem kelas bermainnya pop-up jadi kami bisa hadir di mana saja anak-anak pingin bermain dan belajar.

Ini gambar-gambar acara kemarin.





Monday, December 19, 2016

Upgrade Ilmu Tentang Makan Sehat Bersama Dr. Tan Shot Yen

Postingan ini masih berkaitan dengan acara ultah AIMI Jateng yang ke-6. Dari acara itu, saya dapat oleh-oleh ilmu tentang hidup yang lebih sehat dengan makanan sehat sejak dini. Seminar tersebut mengusung dr. Tan Shot Yen sebagai narasumbernya.

Ada beberapa hal penting yang berhasil saya rangkum, salah satunya tentang menu makanan untuk orang dewasa. Poin pentingnya antara lain:

1. Cermati, apakah pola konsumsi kita cenderung pada konsumsi makanan budaya (nasi, pasta, produk kemasan, susu dan turunannya, trans fat, margarin, tepung2an, gula dan pemanis buatan)atau konsumsi makanan alamiah.
2. Kurangi, bahkan hilangkan kebiasaan konsumsi makanan budaya. Makan makanan yang minim proses pemasakannya.
3. Masukkan 3-5 porsi buah dan sayuran segar dalam konsumsi harian.
4. Kebutuhan protein orang dewasa juga sebesar telapak tangannya. Sumbernya bisa dari ayam, ikan, jamur, telur,  kacang2an, dan tempe. Lebih baik proses memasaknya dikukus bukan digoreng.
5. Orang dewasa juga butuh lemak sehat. Asam lemak esensial bisa didapat dari minyak tumbuhan peras dingin (olive oil) kemiri, kacang, alpukat. Lemak menjadi tidak sehat bagi tubuh karena dikonsumsi bersama dengan gula (nasi juga penghasil gula). Coba googling tentang  artikel yg ditulis dr. Tan tentang kolesterol dan gula, atau baca bukunya.
6. Karbohidrat dengan indek glikemiks tinggi dikonsumsi sesuai kebutuhan. Kalau kita karyawan yang duduk di balik meja, jangan makan seperti tukang bangunan. Sesuaikan dengan kebutuhan.
7. Mengubah pola makan sehat itu harus dipaksa, seperti halnya kita bekerja awalnya bukan karena keinginan tapi kebutuhan. Makan jangan karena ingin, tapi tanya juga apakah tubuh membutuhkannya atau tidak.
8. Tujuan makan sehat apa? Untuk yang usia produktif, agar bebas penuaan dini, untuk senior agar tetap produktif dan tidak jadi beban.

Sementara itu, untuk panduan menyusun Mpasi, ada beberapa poin penting, yaitu:
1. Kebutuhan protein harian anak itu sebesar telapak tangannya.
2. Berat badan yang cukup, rumusnya 2(n)+8, dengan n usia anak tsb.
3. Membiasakan anak untuk makan sealami mungkin, paling mendekati bentuk aslinya. Zat gizinya masih utuh, minim campur tangan manusia.
4. Menu makanan harus seimbang karbohidrat, protein, vitamin dan mineralnya. Untuk karbo, jangan terpaku pada nasi dan tepung-tepungan. Ajarkan makan ubi, singkong, ganyong.
5. Sumber zat besi bukan hanya Ati ayam, justru dr. Tan tidak menyarankan, karena Hati adalah organ penetral racun. Racun-racun yang termakan oleh ayam dinetralkan di hati. Sumber zat besi, ada brokoli, kecipir, daun ketela rambat.
6. Pagi hari berikan buah, selingi dengan jus buah. Ajari makan sayur.
7. Lemak sehat bukan hanya dari mentega apalagi minyak goreng. Alpukat sumber lemak sehat yang sangat baik. Olive oil sebaiknya tidak dipanaskan karena pembuatannya saja tidak melalui proses pemanasan. Kenapa kita justru memakainya untuk menumis?
8. Manage waktu belanja, mengolah, dan storage agar memudahkan. Menu makan mpasi anak tidak perlu dipisah dengan menu dewasa. Misal menu dewasa opor ayam, si kecil bisa kita kukuskan ayam, dst.

Itu tadi beberapa catatan penting yang saya dapatkan dari seminarnya, semoga bermanfaat.

Catatan Tentang InspirASI Alam: HUT Ke-6 AIMI Jateng

Pada puncak acara rangkaian HUT ke-6 AIMI Jateng, Minggu 4 Desember 2016 di Hotel Grasia Convention Center kemarin, ada sebuah pesan tak tertulis yang ingin disampaikan. Kali ini bukan sekadar soal menyusui dan ASI saja, tetapi lebih dari itu. Ini tentang sebuah sinergi, bahwa menjadi sebuah bangsa yang berdaya dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Menyusui bukan hanya tentang relasi ibu dan bayi, menyusui adalah tentang membangun sebuah budaya dalam masyarakat.

Dua bintang tamu pria dihadirkan dalam acara ini, Pak Ganjar yang seorang Gubernur dan Arda vokalis Band Naff, Hot Papa yang concern dalam tumbuh kembang anak. Terbaca bahwa menyusui bukan lagi ranah domestik para Ibu. Suami, ayah, dan seorang laki-laki sebenarnya punya andil besar untuk menjadikan aktivitas alamiah menyusui ini menjadi sebuah budaya dan karakter bangsa.

Baru 30% Ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif di Indonesia. Jumlah yang masih relatif kecil. Bayangkan jika setelah seminar tersebut ada lebih banyak lagi hot papa dan pejabat pemerintah yang concern terhadap aktivitas menyusui, jumlah tersebut pasti akan meningkat.

Seolah pesannya belum cukup nendang, dr. Tan Shot Yen, dihadirkan untuk menggeret paksa perspektif kita tentang sehat sejati. Jika sudah dimulai dengan yang terbaik dan paling alamiah pada awal-awal kehidupan mengapa justru selanjutnya dirusak dengan makanan budaya yang tidak alamiah?

Dari mulai penyakit fisik dan psikis dicontohkan menjadi akibat dari pola makan yang tidak alamiah.
"Kedaulatan bangsa tercermin dari bahasa, budaya, dan ketahanan pangannya," papar dr. Tan Shot Yen.

"Lihat bagaimana Indonesia saat ini, semua makanan impor masuk dengan dalih globalisasi sambil kita sendiri lupa kekayaan kearifan lokal kita sendiri. "

Tentu semua yang sudah dipaparkan bukan semata-mata tentang ASI, ini adalah InspirASI Alam untuk kita bangsa Indonesia, agar menjadi bangsa yang berdaya dan berdaulat dengan karakter serta budayanya. Dan apa yang sudah dilakukan AIMI Jateng dalam rangkaian acaranya kemarin, yang terbilang sukses, adalah sebuah upaya untuk menyebar benih InspirASI sebanyak-banyaknya pada masyarakat luas.

Untuk Bangsa Indonesia yang lebih baik.



Saturday, November 19, 2016

Tazka Homeschooling Journey (Part 1)


Jadi setelah kurang lebih setahun mencoba menjalankan program   'belajar sambil bermain di rumah' bersama si toddler, Tazka, saya memutuskan di tahun kedua ini kegiatannya harus berkembang menjadi program Homeschooling yang lebih fokus. Dan karena banyak sekali materi yang tidak terdokumentasi serta terorganisir dengan baik selama setahun kemarin, maka dibuatlah catatan khusus di blog ini tentang perjalanan homeschooling Tazka di tahun keduanya.

Kemarin itu, banyak serabutannya; main comot materi yang kadang belum sesuai sama perkembangan dan usia mentalnya. Anaknya dan saya juga sempet stuck; sebenernya aktivitas ini mau dibawa kemana, sih.

Akhirnya, meluruskan niat lagi. Mengosongkan cangkir lagi dan mulai belajar lagi tentang dasar pendidikan anak usia dini, dan macem-macem lainnya. Yang paling kena di hati waktu mulai baca-baca tentang pendidikan anak berbasis fitrah dan juga natural, conscious, and gentle parenting.

Pas udah mulai klik antara apa yang diharapkan dalam pendidikan anak dengan bagaimana memulai langkah-langkah kecil untuk mewujudkannya, baru deh, semedi bikin oret-oretan tentang visi misi goal pendidikan di rumah ini.

Supaya ngga serabutan seperti sebelumnya, yang berimbas pada ketidakkonsistenan, saya menyiapkan lesson plans jauh-jauh hari. Disusun berdasarkan pengalaman satu tahun pertama kemarin plus hasil observasi tumbuh kembang si anak, tentunya.

Untuk pemilihan metode, tadinya condong mau pakai Montessori saja, tapi setelah baca-baca dan berguru sana sini, saya memutuskan untuk menggabungkan beberapa metode dan beberapa dasar teori seperti teorinya Vygotsky yang menekankan pada Zona Perkembangan Proksimal dan bagaimana interaksi sosial dapat memboost kemampuan kognitif anak (Ini juga hasil observasi saya terhadap si sulung, dimana teman sebaya ternyata juga bisa memengaruhi perkembangan kognitifnya). Selain menggunakan teori Vygotsky, saya juga menggunakan Multiple Intelligence dari Howard Gardner agar anak dapat mengeksplorasi setiap sisi kecerdasan yang ada di dalam dirinya. Teori Multiple Intelligence ini dipadukan juga dengan pendekatan belajar BCCT (Beyond Centers and Circle Time) atau pendidikan berbasis Sentra. Dan tentu saja dengan muatan pendidikan karakter Islam.
Untuk yang ingin tahu lesson plansnya seperti apa, bisa diintip di sini.

Tahun depan, In syaa Allah beberapa kegiatan homeschooling juga akan bekerjasama dengan Rumah Main Katumbiri dan akan ada playdate-playdate seru, fieldtrip, science class dan english club, serta bocoran yang lebih seru lainnya, In syaa Allah akan ada guru khusus yang bakal mengajar tentang Sejarah Islam untuk anak-anak plus orangtuanya

Untuk info kegiatan Rumah Main Katumbiri dan kegiatan Homeschooling Tazka, kepoin blog ini terus, ya. In syaa Allah bisa saling berbagi manfaat di sini.

Tuesday, November 8, 2016

The (Un)friendly Travel Spot for Kids

Pernah ngga sih, menemukan sebuah travel spot yang lagi hits di medsos karena fotonya yang oke dan jadi pingin mendatanginya, kemudian setelah sampai di sana merasa tempatnya ngga sesuai ekspektasi?
Saya pernah 
Jadi sejak lebaran tahun 2016 kemarin penasaran banget sama Goa Rong View. Dan baru berkesempatan buat main ke sana dua minggu lalu.
Ceritanya kami sekeluarga lagi kangen hiking dan memutuskan buat main ke Goa Rong View karena tertarik lihat postingan di medsos yang bersliweran.

Minggu agak siangan kami berkendara ke arah Bawen bersama Si Sulung 8yo dan Si Toddler 22m. Sudah siap ransum Nasi Padang lengkap buat botram di sana, plus setelan hiking, ergobaby, sendal gunung, hihihi...pokoknya udah siap banget, deh.

Mengandalkan Si Waze kami pun cuss. Kurleb satu jam, hmmm, lupa tepatnya, kami sampai di Tlogo Resort yang kemudian mengarah ke Goa Rong View ini. Selama perjalanan dari gerbang masuknya, udah girang karena disambut hutan karet yang cukup rimbun dan hijau.
Sampai di pelataran parkirnya, Si Sulung langsung excited dan langsung melompat turun, cuss mengeksplor area seputaran parkiran. Sementara, saya, Paksu, dan si toddler masih wait and see.
"Ini, cuma gini aja, nih? Mana spot wisatanya?"
"Itu tuh, kayaknya kita musti turun ke situ deh, di sana kayaknya yang orang biasanya foto-foto itu."

Kami pun menuruni beberapa anak tangga...dan, taraaa oh, ini tho. Kami berjalan mendekat ke pagar yang membatasi tempat ini dengan dinding jurang. Di depannya ada tulisan 'Goa Rong View'. Dari situ, kami bisa melihat pemandangan Rawa Pening yang lumayan breathtaking.

"Keren sih, tapi masak cuma gini aja. Hikingnya?Goanya?"
Sambil pandangan menyisir lokasi yang ada, kami duduk-duduk di area cafe dulu. Di depan area cafe ada tempat yang menyewakan bioskop 9D. Karena niatnya hiking dan menikmati alam kami ngga mencoba hiburan tersebut.

Setelah memastikan memang ngga ada spot lain yang kami lewatkan dari mulai area tempat parkir sampai cafe, kami pun memutuskan buat melihat yang dimaksud dengan Goa Rong ini.

Mulanya, kami masih excited saat melihat pemandangan yang ada, tapi kemudian saat mulai menuruni anak tangga satu persatu yang sangat curam kami pun mulai sangsi.

"Ini turun sejauh ini, worthed ngga buat anak-anak, naiknya lagi mereka bakal capek ngga?"
Hihihi, jangankan anak-anak, saya aja kok rasanya males yaa kalau harus balik lagi naik tangga nanti. Maunya pasti terbang. Setengah jalan, saya googling pic Goa nya...dan..oh, gini niih. Ya udah kita balik aja deh, kasian anak-anak...
Iya, sehabis mendaki naik sambil ngosngosan (gimana kalau sampai bawah) kami pun memutuskan buat foto-foto aja deh, terus habis itu gelar botraman di salah satu spot dekat parkiran yang berumput dan lumayan datar.

Anak-anak dilepas sebentar supaya bisa main-main. Tapi kami terus merasa khawatir karena tempatnya ngga kids friendly; spotnya ngga datar dan tidak ada pembatas yang menandai naik turunnya spot tersebut, plus ada sejenis tanaman di area rumput yang tajem dan bisa melukai kaki.

Bukannya overprotective, tapi memang kalau menurut pengamatan kami, ini bukan tempat yang bisa bebas melepas anak bermain dan mengeskplorasi alam. Skala kemungkinan bahayanya dibanding nilai adventurenya 6:1.

Jadi anak-anak cuma boleh gugulingan di bukit-bukit kecil dengan catatan, hati-hati banget karena bisa aja terjatuh ke jurang atau tempat yang lebih rendah yang tertutup semak-semak. Ngga ada hiking dan lari-larian seperti yang dibayangkan anak-anak. Wahana permainannya lebih pas buat remaja ketimbang anak-anak.

Agak ngga sesuai harapan, tapi anak-anak menikmati perjalanannya. Jadi so far, tempat ini masuk list yang penting tahu, hihihi.

Udah gitu aja. Foto-fotonya juga ngga banyak, bagusan dilihat langsung daripada di foto.




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...