Thursday, November 27, 2014

Pregnancy Journey : Kehamilan 32 Minggu-Gentle Birth After Cesarean Part #2

Nggak terasa kehamilan sudah memasuki usia 32 minggu. Di masa-masa ini mulai kerasa 'hamil beneran'. Kemarin-kemarin perut masih terlihat kempis kalau pakai baju yang longgar, kadang banyak orang di sekeliling yang jadi ngga ngeh kalau saya lagi hamil. Kalaupun tahu saya sedang hamil pasti dikomentari 'kok kecil'. Meskipun perut terlihat kecil, tapi sebenarnya berat janin menurut hasil USG terhitungnya normal. Saat ini, perkiraan berat janin sekitar 1,7kg. Bersyukur karena di kehamilan ini berat badan naiknya nggak kebangetan.  

Di setiap tahap kehamilan pasti selalu ada tantangannya. Memasuki usia kehamilan 32 minggu ini, pegal di bagian pinggang belakang mulai terasa, terkadang kalau habis berdiri lama kaki juga jadi gampang pegal. Ada beberapa catatan yang harus diperhatikan memasuki usia kehamilan 32 minggu ini. Jadi, ceritanya karena merasa waktu persalinan sudah dekat, tiap pagi saya rajin naik-turun tangga dan latihan jongkok berdiri, tapi ternyata setelah kontrol ke bidan, saya disarankan buat cooling down dan mengurangi aktivitas fisik yang terlalu menguras energi. Pasalnya, selain keluhan pegal-pegal tadi, dua minggu terakhir ini perut bagian atas sering banget terasa kencang dan kaku. Waktu kontrol dan berkonsultasi, kondisi seperti itu disebut juga dengan kontarksi palsu atau braxton hiks. Kontraksi palsu memang umum terjadi saat kehamilan sudah memasuki usia delapan bulan. Ada sisi positif dari kontraksi ini, tapi ada juga sisi negatifnya. 

Sisi positifnya, kontraksi ini akan semakin memantapkan posisi janin di jalan lahir, sayangnya karena usia bayi pralahir masih 32 minggu, kontraksi tersebut bisa berbahaya karena bisa memicu kelahiran prematur. Kontraksi semacam ini terjadi salah satunya karena kondisi fisik ibu yang kelelahan. Memang sih, dua minggu belakangan saya memang lagi aktif-aktifnya, nggak menyadari kalau badan sebenarnya kelelahan dan si baby-pun memberi peringatan. Selain disarankan untuk mengurangi aktivitas fisik, olahraga jongkok-berdiri dan pelvic rock juga belum disarankan di usia kehamilan ini. 

"Nanti dulu, Bu...coba sekarang aktivitasnya yang ringan-ringan dulu. Prenatal yoganya yang gentle, jalan kaki pelan-pelan tiap pagi maksimal 10 menitan, atau renang paling lama 15 menit saja. Dan kalau merasa kecapean, apalagi perut mulai terasa kencang, sebaiknya langsung istirahat."

Ternyata, melakukan persiapan persalinan juga harus disesuaikan dengan kondisi fisik ibu dan usia janin. Ada beberapa persiapan persalinan seperti pijat perineum dan pelvic rock yang sebaiknya dilakukan setelah usia kehamilan memasuki usia 35 minggu. Kalau terlalu cepat dilakukan, bisa-bisa memicu persalinan dini. Kemarin, waktu saya kontrol diberitahu oleh Bu Bidan, kalau sampai kontraksi-kontraksi palsunya berlanjut harus bersiap-siap, misalkan dengan suntik pematangan paru-paru untuk bayi. Ditakutkan bayi lahir prematur dan paru-parunya belum benar-benar matang. 

Apa sih, yang menyebabkan kontraksi palsu bisa terjadi saat kehamilan delapan bulan?
Jadi, selain kelelahan fisik tadi, kontraksi palsu juga bisa terjadi karena ibu mengalami dehidrasi, ibu dalam keadaan lelah, kurang asupan nutrisi, dan kondisi emosional yang tegang.

Apa yang bisa dilakukan agar kontraksinya mereda?
  1. Mandi berendam air hangat. 
  2. Mengoleskan minyak lavender di bagian atas perut, atau dihirup untuk membantu ibu lebih relaks.
  3. Penuhi asupan nutrisi dan cairan untuk ibu dan janin.
  4. Naikkkan kaki ke atas dinding, dan sandarkan pinggul selama beberapa saat.
  5. Tidur dengan posisi badan menghadap ke kiri. Atau tumpuk dua buah bantal kemudian letakkan guling secara melintang di atas bantal, dan berbaringlah di atas guling dalam posisi telentang, dengan punggung bagian tengah tepat berada di atas ujung guling, buka lebar kaki dan paha, dan silangkan kaki ke atas, lalu lakukan latihan pernapasan perut untuk meredakan ketegangan.
  6. Jika keluhan perut yang tegang dna kaku terus berlanjut, dokter atau bidan biasanya akan memberikan obat yang dapat mengurangi kontraksi.
  7. Perhatikan bagaimana kontraksi berlangsung, apakah hanya terjadi pada perut bagian atas atau menjalar ke bagian bawah dan diiringi dengan pegal bagian pinggul bawah? Perhatikan juga frekuensinya, jika frekuensinya semakin sering dan jarak waktunya semakin dekat, harus segera berkonsultasi dengan dokter atau bidan.

Monday, November 3, 2014

Pregnancy Journey : Gentle Birth After Cesarean Part #1


Jadi karena update postingan perjalanan kehamilan kedua ini sering telat, saya buat rangkuman aja deh, dari perjalanan 16-24 weeks dan seterusnya. Saat postingan ini ditulis, kehamilan saya sudah memasuki usia 31 minggu. 

Memasuki trimester ketiga ini, alhamdulillah nggak banyak keluhan yang berarti. Pilek yang selalu mendera di trimester kedua akhirnya berakhir dengan sendirinya, yeayy. Keluhan berganti dengan tidur malam yang jadi gampang kebangun, bahkan karena suara kecil sekali pun...krik...krik. 

Supaya tidur malam lebih berkualitas bantal harus ditumpuk-tumpuk dulu, miring ke kiri dengan kaki ditumpangkan ke atas guling. Pokoknya bener-bener menguasai tempat tidur, deh. Selain lampu harus remang atau gelap, kadang saya juga oles-oles EO-nya YL yang lavender biar tidur makin nyenyak dan ngga diganggu nyamuk.   

Di trimester ketiga ini, alhamdulillah banget ketemu support system yang keren dari teman-teman komunitas Gentle Birth Untuk Semua (GBUS). Di kehamilan kedua ini saya berencana untuk melahirkan normal, jadi mesti banyak belajar lagi untuk menginstal ulang software lama di kepala dan menggantinya dengan software baru yang berisi command bahwa melahirkan minim rasa sakit, tanpa trauma, nyaman, dan lembut itu bisa dilakukan, kok. 

Karena berencana melakukan VBAC atau GBAC makanya pemberdayaan diri harus dilakukan. Selain baca-baca buku lagi, juga harus mau belajar dan latihan. Semua itu harus dilakukan sejak masa kehamilan ini. Adanya dukungan dari teman-teman komunitas bukan hanya dengan saling share pengalaman mereka saat melahirkan atau birthplan mereka bagaimana, tetapi juga dengan adanya kelas-kelas kecil dan bahkan seminar, ilmu kami jadi ikut bertambah. 

Selain kelas-kelas yang saya ikuti di RSB. Ngesti Widodo, Ungaran, sebuah klinik milik  Bidan Naning yang inspiratif di Ungaran, saya juga mengikuti beberapa seminar atau kelas, seperti seminar untuk pendidikan bayi pralahir, kelas hypnobirthing, dan kumpul-kumpul tiap Minggu pagi untuk melakukan prenatal yoga bersama teman-teman di GBUS yang dilanjutkan dengan sesi sharing. Selain semakin dikuatkan untuk menjalani proses kelahiran alami, banyak sekali ilmu baru yang didapatkan dari kelas-kelas dan seminar ini. Yang juga bikin semakin happy adalah bisa dipertemukan dengan Bidan Yesie Aprilia dari Bidan Kita dan Bu Lanny Kuswandi pakarnya Hypnobirthing Indonesia.

Semoga bentuk pemberdayaan diri ini bisa menjadi bekal untuk mewujudkan mimpi saya melahirkan dengan normal, nyaman, lembut, minim rasa sakit, dan tanpa trauma. 

One Afternoon In Watu Gunung, Ungaran.





Jadi ceritanya ini jalan-jalan tergeje bulan kemarin. Niatnya memang bukan mau jalan-jalan, tapi ngintil Pak Suami yang lagi ada kerjaan motret. Pulang motret, tiba-tiba Ezra bilang kalau dia pengin main ke air terjun, padahal ya, udah siang bolong dan rasanya males kalau siang-siang harus blusukan cari air terjun yang searah sama jalan pulang dari arah Ungaran menuju Semarang. Mikir-mikir, akhirnya saya inget sama Watu Gunung yang nggak jauh dari Kampung Seni Lerep. 

Dulu banget pernah main ke Kampung Seni Lerep dan pengin juga liat Watu Gunung tuh kayak apa. Jadi diputuskanlah buat ke sana. Eh, tapi taunya jalan menuju ke sana aksesnya ditutup karena sedang ada perbaikan jalan atau jembatan gitu. Jadi harus muter cari jalan lain. Nah, yang bikin geje adalah saat cari jalan alternatif ini, padahal ya kalau mau rada mikir dikit ternyata jalan alternatifnya lebih gampang kalau lewat dekat Kolam Renang Siwarak di Jl. Yos Sudarso Ungaran. 

Baiklah setelah melewati beberapa desa, blusuk ke desa tempat dimana Pesantrennya Daarul Quran berada, lewat ke jalan yang cuma bisa dilalui satu mobil dengan tanjakan dan turunan yang mayan terjal, kesasar satu kali, muter balik, akhirnya sampai juga ke Watu Gunung ini. 

Fiuhhh...untung ya, tempatnya sesuai harapan, dan Ezra juga langsung seneng. Tapi tetep yang ditanya pertama kali, air terjunnya mana? Untung di tengah area ada danau buatan yang mayan bikin Ezra tertarik buat menjelajah tempat ini. Dan setelah menjelajah tempat ini, ternyata memang ada air terjun buatan juga meskipun mini. Cukup mengobati keinginan Ezra buat bermain di alam. 

Hihihi, nemu tempat baru lagi nih buat ngajak anak bermain di alam. Di lokasi Watu Gunung ini juga sudah dibangun kolam renang tapi waktu datang ke sana belum difungsikan karena pembangunan belum selesai. Nantinya setiap rumah yang ada di sana akan disewakan, jadi semacam resort kecil-kecilan gitu. Pemandangan dan udaranya juga lumayan menyegarkan. Siang menjelang sore itu kita cuma kongkow-kongkow di sana sambil menikmati nasi goreng yang bisa dipesan di bagian resepsionis.   

Tuesday, October 7, 2014

Mengajak Anak Menyukai Matematika Sejak Dini.

Pelajaran Matematika buat sebagian besar anak, dan mungkin juga kita para orangtua, menjadi salah satu mata pelajaran yang kurang disukai atau bahkan ditakuti. Padahal, menurut  Jeff Sharpe, seorang direktur eksekutif di Vertex Academic Service mengatakan bahwa pelajaran ini justru dapat mengasah kemampuan anak dalam berpikir menggunakan logika.

Matematika juga membuat anak-anak menjadi lebih solutif. Dalam sebuah penelitian di Universitas North Carolina's School of Education ditemukan bahwa siswa yang cepat dan mudah berhitung memiliki intuisi yang lebih tajam dalam memecahkan persoalan dan tantangan, mereka juga lebih cepat dalam mengenali kesalahan.

Jadi, sebenarnya sangat disayangkan kalau sejak dini anak-anak sudah menjadikan pelajaran ini sebagai momok. Terkadang, mind set yang selalu terbawa dari sekolah atau bahkan mind set yang kita tularkan pada anak-anak kita adalah bahwa matematika itu sulit dan tidak menyenangkan.

Matematika memang bukan konsep yang mudah. Banyak sekali faktor yang berperan di dalamnya, misalnya intuitive number sense atau perkiraan sistem numerik, yaitu kapasitas seseorang untuk membedakan kelompok-kelompok besaran. Namun, bukan berarti anak tidak bisa dilatih sejak dini untuk menyukai pelajaran ini, bahkan menguasainya dengan mudah. 
(Article Source : Berbagai sumber, Kompas, Wired Science.)

Ada banyak cara yang bisa dilakukan orang tua untuk membangun mind set bahwa Matematika itu ilmu pengetahuan yang menyenangkan dan menantang. Ini beberapa tips, yang juga sedang saya terapkan sehari-hari agar Ezra bisa menyukai dan menguasai mata pelajaran ini dengan baik. 
  • Turn everyday activities into fun math learning. Misalnya nih, kalau sedang makan bersama, contohnya sedang makan pizza atau cake, kita minta si anak untuk memotongkan pizzanya setengah atau seperempat. Sambil makan, secara tidak langsung si anak jadi belajar konsep sederhana tentang fraction.
  • Belajar Matematika itu harus melibatkan kreativitas. Jadi, jangan ragu-ragu untuk menggunakan materi yang sedikit berbeda atau cenderung seperti bermain-main. Misalnya, dengan menggunakan kartu domino dan kartu remi untuk mengajari penjumlahan atau konsep perbandingan. 
  • Gunakan materi belajar yang fun, berwarna-warnidan dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk anak-anak usia SD, tidak ada salahnya menggunakan banyak ilustrasi atau alat bantu belajar untuk membantu proses berpikir mereka. 
  • Make numbers a part of your everyday routine. Kita bisa membuat pertanyaan-pertanyaan sederhana yang melibatkan soal cerita dalam aktivitas sehari-hari. Contohnya : "Tadi pagi Ibu beli enam buah jeruk, dimakan kakak satu, dan dimakan adik dua, sekarang jeruk Ibu tinggal berapa? 
  • Lakukan latihan mengerjakan persoalan Matematika setiap hari. Tentu saja dengan cara yang fun. Persoalannya pun nggak harus berdasarkan text book. Orang tua bisa membantu mengunduhkan si kecil berbagai aplikasi permainan yang melibatkan persoalan Matematika di dalamnya lewat berbagai macam gadget atau komputer atau kita juga bisa mengarang soal cerita sederhana, bahkan teka-teki untuk dipecahkan setiap harinya. Tapi ingat, untuk anak di bawah usia 9 tahun atau untuk anak yang masih duduk di bangku kelas 1-3 SD, batasi waktunya hanya 30 menit saja setiap harinya.
  • Saat mengajari anak Matematika, selalu gunakan bahasa yang positif dan encourage si anak dengan pujian atau penghargaan jika ia dapat mengerjakan suatu persoalan. 
  • Ciptakan suasana yang santai dan komunikatif ketika mengajari mereka. Sesekali, biarkan mereka yang menerangkan kepada kita suatu konsep yang telah kita ajarkan, agar kita tahu sampai mana tingkat pemahamannya. Ini juga bisa dilakukan dengan cara meminta mereka menanyai kita balik, atau membuat soal untuk kita jawab. "Ayo, sekarang coba kamu buat soal buat Bunda, nanti Bunda yang jawab,..."
  • Masing-masing anak, punya tingkat pemahaman sendiri-sendiri, orang tua harus sabar untuk membimbing. Biasanya, kalau si anak sudah merasa klik dan nyantol dengan satu materi, ke depannya akan lebih mudah baginya untuk menyelesaikan persoalan Matematika.
  • Hati-hati pada saat mengajari suatu konsep matematika kepada anak, lihat mana yang seharusnya menjadi konsep dasar sebelum beranjak ke konsep yang tingkatannya lebih kompleks. Misalnya, sebelum anak belajar penjumlahan, apa yang harus mereka tahu dan pahami agar bisa menyelesaikan soal penjumlahan dengan baik. Ajarkan konsep dasarnya terlebih dahulu dan jangan tuntut anak untuk menyelesaikan persoalan sebelum kita tahu apakah mereka sudah menguasai konsep dasarnya atau belum.
  • Bantu ubah mind set mereka, atau mind set yang terbentuk dari aktivitas belajar di sekolah atau lingkungan bahwa anak yang pandai matematika akan selalu menjadi anak yang sukses. Katakan bahwa matematika bukanlah satu-satunya penentu kesuksesan mereka, tetapi matematika adalah bagian yang akrab dalam kehidupan sehari-hari, dan kita harus menyukainya. 
Oke, semoga tipsnya bermanfaat, ya. Di bawah ini, ada video Ezra yang sedang belajar konsep Number Bonds dengan mengunakan permen gummy bear sebagai alat bantunya. Sila disimak, siapa tahu bermanfaat untuk ide mengajari anak di rumah.

Thursday, September 25, 2014

Our Staycation At Kayu Arum Resort & Spa

Karena lagi males bepergian yang perjalanannya bikin waktu libur akhir pekan yang cuma satu setengah hari habis di jalan (karena hari Sabtu, Ezra tetap masuk sekolah meskipun pulang jam setengah sebelas), belakangan ini staycation jadi pilihan kita buat alternatif short getaway.

Setelah googling, ada beberapa pilihan tempat yang kayaknya seru buat dijadikan tujuan staycation kita, yaitu Kayu Arum Resort & Spa yang ada di daerah Salatiga. Sebenarnya, tujuan awalnya, kita penasaran pengin staycation di salah satu hotel yang lagi banyak diunggah gambarnya ke instagram. Sayangnya, lokasi hotelnya di Jogja, dan pas booking kok, kamar yang kita pengin udah full booked, dan dua hari sebelum rencana keberangkatan Ezra sempat demam. Ya sudahlah, sepertinya lebih berjodoh dengan Kayu Arum. Setelah booking yang lumayan rada mepet, dapetlah kita satu kamar di sana. Setelah agak waswas apakah demamnya Ezra bakal turun atau nggak, dan ternyata demamnya reda, Sabtu siang kita meluncur dari Semarang.

Awal masuk ke area parkir, sempet mikir kok hotelnya 'nggak keliatan', kok kayak agak-agak spooky. Tapi kesan awal itu langsung hilang setelah masuk ke lobby dan disambut sama resepsionisnya yang ramah-ramah. Kesan spooky muncul mungkin karena bangunannya bergaya semi-semi kolonial gitu, jadi terkesannya tua, padahal sebenarnya bangunannya baru, kok. 

Berjalan semakin masuk ke bagian dalam hotel, makin jatuh cinta sama suasananya yang tenang, adem, dan hommy. Jadi, di bagian tengah hotel ada halaman yang cukup luas. Tamannya ditata apik dengan banyak sekali kursi-kursi kayu untuk duduk-duduk bersantai menikmati hari di tengah taman yang teduh. Selanjutnya, biar gambar yang berbicara, deh. 




Untuk fasilitas lainnya seperti kolam renang, juga tersedia. Ada juga Kamaratih Spa dengan harga mulai dari 181.000 untuk Aromatheraphy Massage selama 60 menit. Yang saya suka dari kolam renangnya, airnya bersih dan kandungan klorinnya tidak membuat mata pedas. Menu sarapan paginya termasuk enak, meskipun pilihan menunya memang nggak terlalu banyak, tapi pas kalau buat saya yang nggak suka dengan terlalu banyak pilihan menu saat sarapan pagi, hehehe. So far, resort kecil di daerah Salatiga ini recomended banget. Ratingnya 3,5/5 deh.  

Selain staycation, di Salatiga kita juga berwisata kuliner dengan menjajal beberapa kafe yang lumayan menyenangkan atmosfernya, yaitu Ki Penjawi Joglo dan Kafeole. Dua tempat itu lumayan recomended juga sih suasananya, sayangnya kenapa saya ngerasa makanannya biasa saja, ya. Enak sih, tapi nggak stand out banget. Mungkin bisa ditanyakan ke masing-masing tempat, rekomendasi hidangannya atau makanan andalannya apa.
Ki Penjawi Joglo

Kafeole

NB:
all photos courtesy of the son photography
Jln. Magersari Ringinawe Tegalrejo, Salatiga.
(Kalau tahu Bakso ABC Salatiga, nah patokannya belokannya deket-deket situ, deh.)

Next, staycation kemana ya...

Monday, September 15, 2014

Fun Learning: The Secret Recipe of Pizza (Thematic; Science & Math For First Grade)

Sejak masuk SD dan memilih sekolah dengan kurikulum mixed antara diknas dan cambridge, sebagai ortu saya semakin tertantang buat memotivasi Ezra buat menyukai kegiatan belajar secara aktif. Ditambah lagi perubahan kurikulum 2013 yang menggunakan konsep tematik yang mungkin membuat bingung beberapa ortu pada awalnya, seperti halnya saya. Setelah tanya sana-sini dan sedikit baca-baca tentang kurikulum baru tersebut, akhirnya mulai bisa membuat mapping yang jelas tentang sebenarnya ini anak-anak sekolahan SD mau belajar dengan cara seperti apa. Terlepas dari pro kontranya, saya memilih untuk beradaptasi dan mengawal Ezra agar bisa mengikuti pelajaran sekolah dengan baik (cieee banget bahasanya) Yaa, mau gimana lagi, saya kan bukan pemegang kebijakan, yak. Berharap, next cabinet, menteri pendidikannya bikin peraturan baru agar jam sekolah dikurangi dan hari Sabtu diwajibkan libur, yeaayy.

Baiklah, jadi sebagai guru les privatnya, saya nggak mau jadi guru les yang ngga asyik dan galak. Saya pengin Ezra selalu ngerasa fun waktu belajar bareng saya, dan dia juga jadi lebih aktif, bukan sekadar disodorin materi-materi, terus lupa dan nggak bisa mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Kali ini, saya bikin fun learning activities di rumah yang melibatkan materi tematik: science dan math untuk kelas 1. 

Sebelumnya, saya cari tahu tujuan dari kegiatan fun learning ini berdasarkan buku pegangan di sekolah. Tujuannya antara lain adalah agar Ezra bisa mengenali bentuk-bentuk geometri 2D dan hapal namanya dan mengenal konsep fraction sederhana (1/2, 1/4, dst) untuk mapel matematika dan kemudian memahami fungsi indera perasa (lidah) dan jenis-jenis rasa yang bisa dikecap oleh lidah untuk mapel science

Fun learning ini saya beri judul : The Secret Recipe of Pizza. Bahan dan alatnya bisa dilihat di gambar-gambar di bawah, ya. Selanjutnya setelah semua bahan dan alat disiapkan, Ezra mulai diminta untuk membaca petunjuk pada resep dan mulai membuat 'pizza' nya.

siapkan 'resep', bendera aneka rasa, dan lem berwarna.

resep alias petunjuk sederhana 

alat dan bahan

setelah selesai menempelkan 'toping' sesuai resep, anak diminta untuk membubuhkan 'bumbu' di atas adaonan pizzanya. warna-warna dari cat air mewakili setiap rasa, seperti sour, spicy,  salty, dan sweet.

setelah itu, anak diminta membagi dua pizzanya, dna kita menjelaskan konsep setengah, seperempat, dst.

menancapkan bendera rasa sesuai dengan warna yang dicat pada adonan.

voila, shapes pizza-nya sudah jadi :)


Ezra's Weekend Projects : Treasure Hunt & First Grade Math

Setelah Ezra masuk SD, saya semakin excited sama agenda Ezra's Weekend Projects karena semakin banyak hal-hal seru yang bisa dilakukan bareng saat akhir pekan. Jadi lebih seru juga karena tema proyek akhir pekannya nggak melulu sesuatu yang berhubungan sama crafting atau DIY things, tapi juga bisa nyelipin materi-materi pelajaran di sekolah.

Berhubung saya dan suami sepakat untuk tidak memberi Ezra les tambahan pelajaran di luar jam sekolah maka kami pun harus bekerjasama buat menciptakan atmosfer learning is fun di rumah. Jadi, selain sekolah, Ezra cuma ikut latihan wushu, les musik, dan menggambar saja. Keputusan ini diambil karena pengalaman suami semasa kecil dulu yang merasa bosan dengan yang namanya 'les belajar' dan jadi alergi sama yang namanya pelajaran sekolah, hehehe. Selain itu, saya juga pengin Ezra masih punya banyak waktu untuk bermain.

Nah, karena nggak mau mengulangi kesalahan yang sama, kami berdua ingin menciptakan suatu kondisi bagi si anak bahwa yang namanya belajar itu sebenarnya tidak terpisah dari bermain. Dalam bermain ada belajar, dan dalam belajar ada bermain. Belajar tidak harus formal dan kaku, belajar bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan dan menjadi bagian dari keseharian. Memang, pasti ada banyak hal-hal yang menantang dan sulit untuk dipelajari, tapi hidup aslinya kan juga gitu. 

Ihiyyy, konsep sih, udah seru. We'll see bagaimana dalam perjalanannya nanti. Semoga kami tetep istiqomah. Singsingkan lengan baju!

Proyeknya Ezra pada akhir pekan ini adalah 'Treasure Hunt'. Berhubung hari Seninnya, Ezra bakal ulangan matematika, maka proyek akhir pekannya sengaja dibikin nyambung dengan materi-materi pelajaran matematika yang sedang dipelajari sama dia. 

Materi math-nya antara lain berkaitan dengan :
Counting & writing numbers 1-20 (in english)
Largest, smallest, dan greatest number
Ordinal number
Numbers patterns '2'  

Terus, gimana mengaitkan dengan tema mencari harta karunnya? Jadi, saya sengaja membuatkan dia peta tempat persembunyian harta karun, yang petunjukknya adalah soal-soal matematika yang harus diselesaikan. Dari petunjuk di peta, Ezra harus mencari amplop-amplop yang di dalamnya terdapat soal-soal yang jawabannya akan mengarahkan pada petunjuk selanjutnya. 

Buat bayangan, bisa dilihat di gambar di bawah, ya. Dan untuk hadiahnya, saya menyiapkan beberapa barang yang kebetulan lagi dia inginkan. Barang yang murmer tapi bikin dia seneng. Kebetulan dia lagi pingin kaca pembesar, terus kotak pensil ngajinya baru aja rusak. Jadi, barang-barang itulah yang saya bungkus untuk jadi harta karun, plus tambahan permen, coklat, dan pernak-pernik buat lucu-lucuan. 



Dan hasilnyaa..dia seneng banget memecahkan satu-persatu soal yang ada di petunjuk, dan waktu berhasil nemuin harta karunnya, lalu membuka hadiah dan nemuin barang yang lagi dia inginkan, ekspresinya itu priceless bangettt. Rasanya terharu dan jadi pengin menghentikan waktu pas dia meluk saya dan bilang, "Makasiihh ya, Bundaaa...udah kasih aku kaca pembesar...aku sayaangg banget sama Bunda."

Ya ampun, cuma kaca pembesar limarebuan padahal. *nahanmewek 

Oya, kalau yang punya instagram, bisa juga follow saya di: @nianurdiansyah, Insha Allah di sana mau rutin posting tentang #learningwhileplaying atau #learningathome, siapa tahu kita bisa saling berbagi ide tentang belajar sambil bermain di rumah. 

Thursday, September 11, 2014

Ezra's Weekend Project : World Map

Postingan ini sambungan dari Ezra's weekend project yang ini, ya. Jadi, ceritanya karena ketertarikannya sama berbagai negara di dunia, Ezra jadi suka banget ngamatin peta, terutama sih yang dari google maps. Dia suka nanya-nanya sama saya letak negara A tuh, dimana, dan B dimana. Lama-lama dia juga mulai tertarik sama bendera-bendera di tiap negara dan landmarknya apa aja. 

Seru juga sih, ngajarin sesuatu yang pada dasarnya memang disukai si anak. Informasi yang diterima jadi lebih cepet nyantol. Akhirnya, biar makin seneng saya sengaja ngeprint satu gambar peta dunia yang ada ilustrasinya, selanjutnya Ezra bikin bendera dari tiap negara yang dia tahu dan nancepin bendera-bendera itu di atas peta dunia.  Proyek yang so simple ini ternyata bikin dia happy. Saya juga jadi tahu, dia sudah hapal sama negara dan bendera apa saja.

Bahan dan alatnya pun sederhana. Cuma peta dunia yang ditempel di atas gabus, kertas untuk menggambar bendera dan tusuk gigi buat menempelkan gambar bendera-benderanya.




Pregnancy Journey: 8 Weeks - 16 Weeks



Hiyyaaa, ketunda lama kan, posting tentang kehamilannya, padahal dari awal tahu hamil sudah diniatkan supaya rajin bikin catatan di blog, biar suatu hari nanti bisa dibaca-baca lagi ceritanya. Aslinya sekarang tuh, udah lewat dari 16 weeks, tapi supaya runut pengin cerita mulai dari trisemester awal, deh. Mudah-mudahan ke depannya bisa lebih rajin.

Biar lebih gampang, saya mau bikin rangkuman aja deh, tentang perjalanan kehamilan dari usia delapan minggu sampai enam belas minggu.

Keluhan.
Keluhan utama trisemester pertama saya adalah mual yang amat sangat terasa. Kalau dibandingkan kehamilan yang pertama jauuuh banget bedanya. Dulu, seingat saya mualnya nggak terlalu kerasa dan badan juga relatif lebih fit. Pas kehamilan menginjak dua bulan saya dan suami pergi umroh, dan sama sekali ngga merasakan keluhan-keluhan yang dirasakan sekarang.  Ya iyalah, faktor U sepertinya juga berpengaruh :D. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...