Monday, January 8, 2018

Gerai Baru Everbest di Paragon Mall Semarang


Kalau pas lagi jalan-jalan di Paragon, salah satu lifestyle mall di Semarang rasanya ada sesuatu yang kurang saat melakukan window shopping karena masih ada satu brand favorit yang belum membuka gerainya di mall tersebut. 

Ya, gerai itu adalah gerai sepatu Everbest. Pasti kenal dengan brand yang didirikan pada tahun 1979 di Singapura itu kan. 

Everbest membuka toko pertamanya di Indonesia tepatnya di Mal Kelapa Gading dan counter pertamanya di Metro Pondok Indah Mall dan Sogo Plaza Indonesia pada tahun 1993.

EVERBEST pun semakin berkembang, sekarang telah memiliki lebih dari 80 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia dan memiliki dua sister brands, yaitu EVB dan TRACCE. 

Everbest, EVB, dan Tracce. 


Jika EVERBEST ditujukan untuk pria dan wanita, dengan mengedepankan rancangan-rancangan yang stylish dan elegant namun tetap memberikan kenyamanan, EVB ditujukan untuk para wanita modern yang bergaya muda and chic. Sedangkan Tracce ditujukan bagi para pria, wanita maupun anak-anak yang menyukai penampilan yang fresh dan cool

Grand Opening Everbest Paragon Mall. 


Nah, kalau sebelumnya gerai Everbest baru ada di Citraland Mall, sekarang di Paragon sudah dibuka gerai baru Everbest dengan mengusung konsep baru. 

Dengan dibukanya kembali toko dengan konsep baru, Everbest ingin memberikan pengalaman baru dalam berbelanja dengan mempercantik tokonya sehingga menjadi lebih bright dan open, salah satunya dengan pemilihan warna putih dan abu-abu muda sebagai warna utama tokonya. 

“Dengan konsep baru, kami ingin supaya toko-toko kami menjadi lebih open supaya customers yang datang lebih feel welcomed saat masuk ke toko kami dan merasa memiliki a personal relationship dengan Everbest,” ungkap Melissa Nindyawati, Brand Manager Everbest Indonesia. 

Acara peresmian opening toko Everbest Paragon City Mall Semarang menggunakan tema “Everlasting Moment” sebagai bentuk apresiasi Everbest kepada para member Everbest Style Points. 

“Acara Everlasting Moments ini kami selenggarakan selain untuk memperkenalkan konsep baru toko kami, juga sebagai bentuk terima kasih atas support yang telah diberikan oleh customer terhadap brand kami selama 24 tahun ini,” jelas Melissa. 

Dengan konsep baru yang lebih fresh, Everbest bermaksud untuk melakukan brand rejuvenation agar produk-produk Everbest tetap dapat diminati oleh customer lintas-generasi. “Everbest saat ini juga ingin mulai merangkul customers muda yang elegant namun tetap trendy. Dan, harapan ke depannya, Everbest akan terus bisa menghadirkan produk-produk on-trend yang berkualitas untuk para customers-nya,” tambah Melissa. 



Acara Everbest Everlasting Moment ini dimeriahkan dengan Mini Fashion Show Winter 2017 Collection dan DJ Ayuinoo serta turut dihadiri oleh CEO Pollux Malls Indonesia Bapak Handoyo, Manajemen Paragon City Mall Semarang Bapak Jemmy Lie selaku General Manager & Bapak Ajie Wibowo selaku Promotion Manager, Fashion Blogger Agnes Yi, serta Influencers Rere Winter dan Nadiya Amaliya. 

Selain di Paragon City Mall Semarang, Everbest juga dapat ditemukan di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta dan di lebih dari 20 kota lainnya di Indonesia. 

Di samping itu untuk memenuhi kebutuhan para customers yang saat ini mengutamakan kemudahan dalam berbelanja, EVERBEST dan TRACCE memiliki e-commerce website di everbestshoes.com dan tracceshoes.com di mana pecinta produk-produk EVERBEST dan TRACCE dapat melakukan pembelian secara online. 

Untuk mendukung pelayanan support customer service-nya, EVERBEST, EVB dan TRACCE juga menggunakan media sosial sebagai alat untuk menjangkau para customers. 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, EVERBEST Group (Everbest, evb, dan Tracce) menyelenggarakan kegiatan amal untuk memberikan kembali kepada masyarakat. Dengan setiap pembelian Everbest Charity Coupons senilai Rp. 50.000, pelanggan dapat berkontribusi untuk tujuan ini dan sebagai tanda apresiasi, Everbest Group memberikan diskon khusus sebesar 30%. 

Khusus pada tanggal 9 Desember 2017 selama event berlangsung, customer yang memberikan kontribusi dalam Charity Program akan diberikan tambahan potongan sebesar Rp. 100.000.

Thursday, December 21, 2017

Pengalaman Potong Rambut Di Kidstory Semarang


Buibu, pernah nggak sih sudah ngajak Si Toddler potong rambut ke salon khusus anak-anak, terus sampai tempatnya ia menolak bahkan nangis nggak mau dipotong rambutnya?

Saya beberapa kali mengalami kejadian tersebut. Sampai akhirnya memutuskan buat memangkas rambut Si Kecil sendiri. Tapi nggak berhasil juga karena dia menolak dan nangis juga.

Akhirnya, karena nyerah, saya biarkan saja rambutnya gondrong. Meski kadang gemas ngeliat rambutnya yang acak-acakan, tapi mau gimana lagi. 

Sampai suatu hari, saking udah gatel lihat rambutnya yang acak-acakan apalagi pas habis keringetan, saya mencoba sebuah tempat potong rambut anak di daerah Erlangga, Semarang. 

Agak-agak cemas juga sih kalau percobaan potong rambut tersebut bakal gagal lagi.

Oh ya, saya nyoba beberapa trik ini : 

Ajak Ngobrol Kenapa Dia Harus Potong Rambut. 

Belajar dari pengalaman sebelumnya, saya coba ajak ngobrol Si Kecil dulu sebelum berangkat. Saya bilang, kalau rambutnya sudah terlalu panjang dan bikin nggak nyaman. 

"Kalau rambut Adek terlalu panjang, Adek jadi garuk-garuk leher dan ngucek mata terus karena kena ujung rambut yang sudah panjang. Nanti kalau rambutnya sudah dirapikan, Adek nggak bakal garuk-garuk lagi."

Cara ini cukup berhasil lho untuk membujuk dia mau pergi bersama saya ke salon khusus anak.

Datang Lebih Awal Dan Ajak Si Kecil Main-Main Dulu. 

Sebelum potong rambut, saya minta izin sama Mbak Salonnya supaya Si Kecil bisa main-main dulu. Untungnya Salon Kidstory ini sudah bisa menangkap kebutuhan anak-anak untuk eksplorasi dan bermain.


Kidstory menyiapkan playground yang berisi banyak sekali mainan. Saat pertama kali masuk ke salon ini, mata anak-anak langsung berbinar dong melihat playground dan interior yang ditata berwarna-warni dan menarik perhatian mereka.

Kesan pertama yang terbentuk dari interior yang ramah anak ini penting banget lho buat membangun suasana hati anak-anak.

Ajak Si Kecil Berkenalan Dengan Si Pemotong Rambut. 

Salah satu alasan kenapa Si Kecil sering menolak kalau dipotong rambutnya, bisa jadi karena ia tidak ingin orang asing masuk ke zona pribadinya.

Ada baiknya, kalau kita mengajak Si Kecil berkenalan dulu dengan Si Pemotong Rambut.

"Mas/Mbak ini, namanya A. Dia nanti yang akan membantu merapikan rambut kamu."


Oh ya, para staf di Kidstory ini ramah-ramah dan kids friendly, lho. Mereka juga sabar dalam menghadapi anak-anak dan saling berbagi peran ketika proses memotong rambut berlangsung.

Sikap ramah dan terbuka ini menjadi kunci supaya anak-anak bisa percaya terhadap mereka, dan tidak berpikir kalau apa yang akan mereka lakukan bisa membahayakan Si Kecil.

Dampingi Selama Proses Memotong Rambut. 

Jika anak-anak sudah kenal dengan Si Pemotong Rambut, dampingi ia saat proses memotong rambut dimulai. Kita bisa memberikan pilihan apakah ingin dipangku atau duduk sendiri.

Di Kidstory, tempat potong rambutnya berbentuk mobil-mobilan sehingga Si Kecil akan merasa bahwa dia sedang bermain pada saat duduk untuk dipangkas rambutnya.

Berikan Hiburan Sebagai Bentuk Pendekatan dan Agar Terbangun Rasa Nyaman. 

Terkadang saat mulai potong rambut, anak-anak berubah jadi lebih tegang dan cemas. Apalagi kalau ini adalah pengalaman pertama mereka potong rambut.

"Aku mau diapain, nih?" batin mereka.

Supaya lebih relaks, anak-anak bisa ditawari buku bacaan, mainan, atau tontonan untuk mengalihkan kecemasan. Nanti ketika rambut mereka sudah mulai dipotong dan menyadari kalau aktivitas tersebut nggak mengancam mereka, pasti kecemasannya pun mereda.

Ini terbukti pada Si Kecil lho Buibu. Awalnya dia menolak buat dipangku dan potong rambut. Tapi setelah tahu bahwa dia bisa bermain-main di mobil-mobilan, dia pun melunak.

Yang saya suka dari Kidstory, ada dua orang yang menangani saat Si Kecil potong rambut. Satu yang merapikan dan memangkas, satu lagi yang menenangkan dan mengarahkan Si Kecil.

Libatkan Mereka Dalam Proses. 

Trik lain supaya Si Kecil nggak merasa cemas adalah dengan ikut melibatkan saat proses potong rambut berlangsung.

"Ini ada gunting yang nanti akan memotong rambut Adek. Perhatikan deh, nanti akan ada suara kres kres gitu waktu rambut kamu dirapikan. Setelah itu nanti akan dipakaikan alat yang satu ini supaya rambutnya lebih rapi.

Peralatannya aman kok, nanti yang dipotong kan hanya rambutnya saja. Kita coba, yuk."

Terkadang ada beberapa anak yang tidak nyaman menggunakan clipper. Bisa jadi karena mereka masih asing dengan suara dengungnya. Untuk mengatasi, kita bisa mengatakan bahwa alat ini aman dan tidak akan melukainya.

Berikan Penguatan dan Penghargaan Ketika Mereka Kooperatif. 



"Wah, sekarang Adek jadi tambah cakep ya karena rambutnya rapi. Adek juga jadi nggak perlu garuk-garuk lagi kan."

Di Kidstory, selesai memangkas rambut dan dikeramasi, kita juga bisa memesan minuman atau camilan untuk Si Kecil. Hal ini bisa juga dijadikan semacam reward atas sikap kooperatifnya.

Sejauh ini, saya puas dengan tempat, pelayanan, dan hasil potong rambut di Kidstory.


Kalau Buibu sedang mencari tempat potong rambut yang kids friendly, santai, stafnya ramah, Kidstory ini recommended lho.





Wednesday, December 20, 2017

Celebrate Chirstmas With Obermain

Bulan Desember jadi salah satu bulan favorit saya karena suasana festive-nya cukup terasa. Bertepatan pula dengan musim hujan, natalan, dan menyongsong tahun baru. Pusat-pusat perbelanjaan mendekor tempatnya dengan berbagai dekorasi bertema natal.





Natal juga identik dengan bulan untuk berbagi kebahagiaan, salah satunya adalah dengan memberikan hadiah pada orang terdekat, pasangan, maupun anggota keluarga. 

Di bulan Desember ini, Obermain, sebuah brand sepatu asal Jerman yang sudah ada sejak tahun 1888 ini memberikan penawaran menarik, yaitu diskon 30 (plus) +10 persen selama bulan Desember ini.


Obermain menjadi salah satu kado pilihan favorit di saat natal ini karena kualitas sepatunya yang menggunakan teknologi berkualitas tinggi.

Beberapa di antaranya adalah teknologi Shoeteraphy Comfort System, atau yang biasa disingkat SCS atau dikenal pula dengan Sapato Theraphy.

Selain teknologi SCS, Obermain juga memiliki teknologi Active Air Gel yang diterapkan pada beberapa seri lainnya. Teknologi tersebut mampu memberikan rasa nyaman pada kaki, terutama di bagian telapak kaki.

Teknologi SCS yang dipatenkan di Brazil ini, menciptakan sepatu yang nyaman dikenakan penggunanya karena setidaknya ada 10 lapisan pada satu sepatu yang gunakan teknologi ini. Mulai dari sistem sirkulasi udara pada bagian terbawah, karet anti slip yang dibenamkan pada bagian tumit, peredam getaran, hingga area terluar yang berbahan kulit asli 100 persen.

Meskipun berlapis-lapis, namun sepatunya sangat ringan. Berbagai model sepatu, baik yang berkesan formal maupun kasual, ditawarkan di kisaran antara Rp satu juta-an ke atas, hingga Rp dua juta-an ke atas.

Obermain menjadi salah satu pilihan untuk kado natal karena sepatu dari brand ini, selain nyaman dipakai juga relatif awet digunakan. Jadi, meskipun harganya relatif tinggi namun sebanding dengan daya tahan dan kenyamanannya.

Tentu kita juga ingin memberikan yang terbaik bagi orang tersayang di momen natal ini, bukan? Jadi tunggu apa lagi, segera langkahkan kaki menuju lantai dasar Paragon Mall Semarang untuk melihat-lihat koleksi sepatu Obermain. Let's Celebrate and Share the Joy! 





Tuesday, December 19, 2017

Wisata Cirebon : Alternatif Tempat Liburan Akhir Tahun


Buat teman-teman yang tinggal di Semarang, destinasi wisata luar kota yang menjadi tujuan saat liburan, biasanya berkisar antara ke Solo, Jogja, atau destinasi wisata lainnya di bagian selatan dan sekitarnya bukan? 

Pernah nggak, teman-teman berpikir untuk mencari spot liburan ke arah barat, Cirebon misalnya. 

Hmmm, memangnya ada wisata apa sih, di Cirebon? Bagaimana keadaan kotanya, menyenangkan nggak buat staycation? Tempat wisata dan kulinernya apa saja? 

Mari kita bahas. 

How To Get There. 

Cirebon dapat ditempuh dari Kota Semarang, selama kurang lebih 5 jam setengah menggunakan mobil atau bus. Kalau malas nyetir sendiri, ada Bus Nusantara yang bertolak dari Pool-nya di daerah Kalibanteng setiap pukul 09.00 setiap harinya, dan akan membawa penumpang sampai di Terminal Bis Harjamukti Cirebon.

Bisa juga dengan menggunakan kereta api. Dari Stasiun Semarang Poncol, ada KA. Ciremai yang berangkat pukul 17:35 dan sampai di Cirebon pukul 20:52. 

Alternatif lain, bisa juga memilih berbagai KA dari Stasiun Tawang, mulai dari Argo Muria sampai Gumarang yang sebagian besar pasti melewati Stasiun Cirebon. Tinggal menyesuaikan dengan bujet saja. 

Setelah survei dan mencoba beberapa moda transportasi, berwisata ke Cirebon paling ekonomis dan waktunya pas adalah dengan menggunakan Bus Nusantara dengan harga Rp. 90.000.- per orang, atau menggunakan kendaraan pribadi. Tapi kalau ngga keberatan sampai di Cirebon saat malam hari, maka KA. Ciremai bisa menjadi pilihan yang ekonomis dengan waktu tempuh yang lebih singkat. 

Penginapan. 

Semenjak dibukanya Tol Cipali, Cirebon yang mem-branding dirinya sebagai 'Ciayumajakuning' yang menjual potensi wisata alam, budaya, dan kuliner mulai bergeser menjadi 'Cirebon Kota Wisata Hotel'. Kalau kalian berkunjung ke kota ini kalian akan mendapati belasan hotel hanya pada satu ruas jalan saja. 

Banyak sekali alternatif pilihan menginap di Kota Cirebon, mulai dari guest house, kelas melati, sampai bintang empat.

Rekomendasi pertama saya jatuh pada Aston Cirebon. Lokasinya memang agak jauh dari pusat kota, yaitu di daerah Bypass, namun kalian bakal mendapatkan pengalaman staycation yang nggak terlupakan. Kalau mau menginap di Aston Cirebon, jangan lupa untuk booking jauh-jauh hari karena penawaran menarik via online app sering full booked.




Rekomendasi lainnya yang pernah saya coba adalah Santika Cirebon. Meskipun termasuk hotel zaman old, tetapi lokasinya yang berada di Jl. Wahidin sangat dekat dengan pusat kota dan pusat perbelanjaan. Salah satu kelebihan Santika Cirebon adalah kolam renangnya.


Wisata Kuliner. 

Salah satu daya tarik berwisata ke Cirebon adalah karena keragaman kulinernya. Banyak ragam kuliner Cirebon yang menarik perhatian sejak dari pengucapannya. Sebut saja Nasi Jamblang, Empal Gentong, Tahu Gejrot, Nasi Lengko, dan masih banyak lagi.

Saat tiba di Cirebon, saya langsung minta rekomendasi pada orang asli daerah tersebut soal pilihan tempat kulinernya.

Untuk Nasi Jamblang, lima dari tujuh orang yang saya tanya merekomendasikan Nasi Jamblang Mang Dul, dua orang merekomendasikan Nasi Jamblang Ibu Nur.

Waktu pertama kali sampai di Cirebon, saya mencoba Nasi Jamblang di depan Hotel Santika karena sudah keburu lapar dan malas eksplor. Dari sana, jadi tahu kalau cara penyajiannya dibungkus pakai daun jati dan pilihan lauknya banyak, serta yang bikin khas itu sambelnya. Kalau sudah nyoba gini kan jadi bisa membandingkan dengan Nasi Jamblang Mang Dul.



Nasi Jamblang Mang Dul lokasinya di Jalan Dr.  Cipto, daerah Kesambi. Lebih dekat sih, kalau dari Santika dibandingkan ke Nasi Jamblang Ibu Nur. Saya berkunjung pas jam makan siang, di hari Minggu pula jadinya mesti ngantri deh.

Nasi Jamblang Mang Dul ini sudah ada sejak tahun 70-an dan paling digemari sama orang asli Cirebon sendiri. Soal rasa, bisa dibilang memang lebih maknyus dan fresh dibandingkan yang saya coba sebelumnya. Pilihan lauknya juga banyak, sambelnya juga enak.

Selain Nasi Jamblang, nggak lupa saya juga mencoba tahu gejrot yang mangkal di pelataran warung makan Nasi Jamblang Mang Dul.

Wisata Sejarah dan Budaya.

Kalau merujuk pada sejarah, Cirebon merupakan salah satu tempat yang termasuk ke dalam jalur sutera. Laksamana Chengho bahkan sempat berlabuh dan melakukan perdagangan di Cirebon.

Cukup banyak tujuan wisata budaya atau sejarah di Cirebon. Salah satunya adalah Keraton Kasepuhan yang berusia 500 tahun, kemudian ada sekitar 30 masjid kuno, dan makam Sunan Gunung Jati, dan juga kelenteng tertua pada masa Laksamana Cheng Ho.


Pada saat kunjungan ke Cirebon kemarin, saya sempat berkunjung ke Taman Sari Gua Sunyaragi.

Gua Sunyaragi berada di daerah kelurahan Sunyaragi. Asal-usul nama “Sunyaragi” berasal dari 2 kata, yaitu Sunya yang memiliki arti Sepi dan Ragi yang memiliki arti Raga.

Bangunan tersebut digunakan sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya. Ada beberapa bagian dari bangunan tersebut, masing-masing memiliki nama serta fungsinya sendiri.

Misalnya, Bangsal Jinem adalah tempat Sultan memberi wejangan sekaligus melihat prajurit yang sedang berlatih. Gua Pandekemasang digunakan sebagai tempat membuat senjata-senjata tajam. Gua Simanyang digunakan sebagai tempat pos penjagaan. Gua Langse sebagai tempat untuk bersantai. Gua Peteng sebagai tempat nyepi untuk melatih kekebalan tubuh. Gua Arga Jumud sebagai tempat orang penting keraton. Gua Padang Ati digunakan sebagai tempat bersemedi. Gua Kelanggengan digunakan untuk tempat bersemedi agar langgeng jabatannya. Gua Lawa merupakan tempat berkumpulnya para kelelawar. Gua Pawon sebagai ruangan dapur dan penyimpanan makanan. 

Zaman dahulu kompleks gua tersebut dikelilingi Danau Jati namun saat ini sudah mengering. 

Yang menarik, ada sebuah mitos yang cukup terkenal di Gua Sunyaragi ini, yaitu mitos tentang Perawan Sunti. Konon siapapun yang memegang patung batu Perawan Sunti akan sulit jodoh. 

Wisata Alam. 



Kota Cirebon sendiri memang tidak memiliki spot wisata alami, namun jika berjalan ke arah Kab. Cirebon atau Majalengka ada beberapa spot wisata alam seperti Batu Lawang di Desa Cupang dan Goa Lalay di Majalengka. 

Buat kalian penggemar naik gunung, ada Gunung Ciremai yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat (3078mdpl)

Sayangnya karena cuma berkunjung dua hari, saya belum sempat mengeksplorasi wisata alam tersebut. Jadi belum bisa bercerita banyak. 

Panduan Liburan Akhir Tahun. 

Nah, buat kalian yang merencanakan liburan akhir tahun, ada beberapa panduan yang bisa kalian ikuti, nih. Tema liburan akhir tahun ini merupakan tema yang diusulkan untuk dibahas oleh Mbak Uniek, foundernya komunitas blogger di Semarang, Gandjelrel dan Novia Domi, seorang Blogger sekaligus founder Titik Tengah Partnership.

Apa saja panduan liburan akhir tahunnya, terutama kalau kalian memilih Cirebon sebagai destinasi liburan akhir tahun.

Siapkan dana khusus sejak jauh-jauh hari. Tidak perlu terlalu besar karena biaya hidup di Cirebon relatif murah dibandingkan kota-kota tujuan wisata yang lain.

Pilih lokasi liburan yang anti mainstream. Meskipun mungkin kalian baru kali ini memilih Cirebon untuk destinasi liburan akhir tahun, tapi ada baiknya juga untuk memperhitungkan kemungkinan warga seputaran Cirebon yang juga akan berkunjung karena lokasinya yang strategis.

Pesan akomodasi sejak jauh-jauh hari. Hotel di Cirebon termasuk yang punya tingkat hunian tinggi bahkan pada saat weekdays, jadi pastikan sudah memesan hotel dari jauh-jauh hari.

Gunakan transportasi umum bebas macet seperti kereta api, karena jika kalian berkunjung ke Cirebon via Pantura pada saat libur akhir tahun maka bersiap-siaplah dengan kondisi jalanan yang padat.












Monday, December 18, 2017

Generasi Zaman Now Prioritaskan Jalan-Jalan Ketimbang Beli Hunian

Pernah dengar nggak, kalau saat ini terjadi pergeseran skala prioritas kebutuhan generasi millenial yang lebih memilih untuk belanja leisure atau pengalaman ketimbang membeli hunian?

Meskipun fenomena ini tidak bisa diseragamkan di semua tempat, namun mengutip hasil survei dari KompasProperti yang memberikan questionnaire terhadap 10 anak muda pada Minggu (12/11/2017) yang bermukim dan bekerja di daerah Jadebotabek, ternyata generasi milenial usia 25-35 lebih memilih jalan-jalan ketimbang membeli hunian. 

Bisa jadi fenomena 'menabung untuk membeli pengalaman travelling ketimbang hunian' itu juga terjadi pada generasi di kota-kota lainnya, misalnya di Semarang.

Pergeseran gaya hidup tadi bisa jadi disebabkan oleh meningkatnya pendapatan dan pertumbuhan internet of things atau IOT, yang membuat aktivitas leisure dan traveling lebih masif terekspos.

Biasanya, masyarakat cenderung mengikuti apa yang sedang tren di media sosial, padahal saat ini bisa dilihat bahwa media sosial lebih banyak mengangkat aktivitas leisure dan traveling.

Menurut laporan Bank Indonesia preferensi konsumen terhadap investasi berbentuk properti, saat ini turun 0,6 persen menjadi 22,5 persen selama bulan Oktober 2017 saja. Sementara itu, sebanyak 65,9 persen konsumen menyatakan tidak memiliki rencana membeli atau membangun rumah dalam 12 mendatang. Angka ini naik dari sebelumnya 64,4 persen.

Di sisi lain, jumlah konsumen yang menyatakan adanya kemungkinan membeli atau membangun rumah menurun dari 29,1 persen menjadi 26,9 persen.

Beli Rumah Impian Gratis Trip Ke Korea. 

Berbeda dengan di Jadebotabek, di Semarang, yang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah, meskipun pertumbuhan ekonominya berjalan lebih lambat dibandingkan di Jadebotabek, namun minat masyarakat untuk membeli hunian masih sangat potensial.

Pengembangan kawasan Semarang atas juga masih menarik minat masyarakat, baik kelas menengah maupun kelas atas untuk membeli properti atau hunian di daerah tersebut.

Apalagi jika menilik ilmu Hong Shui, Semarang memiliki kontur tanah yang unik. Bentuknya berbukit dan menghadap ke Laut Jawa.

Menurut Hong Shui, konsep lokasi yang bersandar bukit dan menghadap laut, akan memberikan keuntungan dan kebaikan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.

Itulah mengapa masyarakat Semarang mulai banyak yang memilih hunian di daerah atas yang bebas banjir dan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi CBD.


Salah satu kawasan perumahan yang banyak diminati oleh masyarakat adalah kawasan yang dikembangkan oleh pengembang PT. Bukit Semarang Jaya Metro, yaitu Bukit Kencana Jaya, Bukit Emerald Jaya, Pandanaran Hills, Bukit Mutiara Jaya, Bukit Safir Jaya, Bukit Flourite Jaya, Bukit Violan Jaya, Pandanaran Village, Siranda Hills, Pandanaran Height, dan Emerald Garden.





PT. Bukit Semarang Jaya Metro merupakan salah satu pengembang terpercaya karena sudah berpengalaman mengembangkan kawasan pemukiman di Semarang sejak tahun 1987.

Produk perumahannya pun menawarkan konsep-konsep inovatif yang variatif, memiliki mutu yang sangat memuaskan konsumen, dan dapat merangkul segmen low, middle sampai premium.

Membeli hunian di kawasan yang dikembangkan oleh PT. Bukit Semarang Jaya Metro memiliki nilai investasi yang cukup tinggi karena saat ini kawasan tersebut dapat dibilang sudah 'hidup' secara sosial dan ekonominya. Ditambah lagi dengan udara yang relatif lebih sejuk karena berada di area perbukitan, menjadikan kawasan ini menjadi hunian hijau dan sehat yang menjadi impian generasi millienial. Kawasan ini juga akan berkembang menjadi pusat bisnis di daerah atas.

Untuk generasi millenial yang sangat mementingkan tampilan rumah yang kekinian, banyak sekali pilihan jenis rumah yang bisa dipertimbangkan. Model rumah yang instagramable juga didukung oleh jaringan listrik bawah tanah, dan drainase yang tertutup.

Kepedulian pihak pengembang terhadap konsumen juga menjadi salah satu nilai tambah pemilihan hunian di kawasan tersebut.

Salah satu bentuk kepedulian pengembang adalah dengan mengadakan gathering bagi para konsumennya.

Minggu, 17 Desember 2017 yang lalu juga diadakan gathering dalam rangka penarikan undian promo spektakuler akhir tahun.

Program pengundian tersebut dilakukan untuk pembelian di semua grup Jaya Metro selama bulan Oktober, November, dan Desember. Hadiah utamanya, yaitu trip ke Korea untuk dua orang.

Selain trip ke Korea, adapula hadiah lainnya, yaitu voucher belanja sebesar dua juta rupiah untuk dua orang, satu buah Honda Beat, satu buah ponsel Samsung S8, dan Televisi 42 inch.

Program ini merupakan salah satu benefit bagi konsumen PT. Bukit Jaya Metro Semarang. Untuk periode ini, ada 40 konsumen yang ikut serta dalam program pengundian hadiah.

Pengundian hadiah dilakukan dalam acara gathering konsumen yang berlokasi di Nestcology, Jl. Tambora, Semarang, dan dihadiri oleh pihak Dinsos, Kepolisian, serta Notaris terkait.

Acara dibuka dengan hiburan berupa live music, dilanjutkan dengan makan siang bersama dan pemutaran video profile dari PT. Jaya Metro.

Inilah para pemenang promo undian akhir tahun. 


Para pemenang terdiri dari :
Pemenang Voucher Belanja, yaitu PT. Tenang Jaya Sejahtera dan Ibu Narariya Dita Handayani. Pemenang TV LED 42 Inch, yaitu Ibu Yunita Nur Fitriani. Pemenang Samsung S8, yaitu Rifky Wahyu. Pemenang Honda Beat, yaitu Agung. Sementara itu, pemenang trip ke Korea adalah Ibu Asti dari Bukit Violan Jaya.

Dengan hadiah utama trip ke Korea ini, pengembang sepertinya sudah bisa menangkap kebutuhan konsumen kekinian yang suka akan pengalaman jalan-jalan.

Meskipun kebutuhan akan hunian masih menjadi prioritas utama, namun para konsumen zaman now juga masih memiliki kesempatan untuk mewujudkan impiannya, yaitu jalan-jalan ke luar negeri.

Jadi prioritas beli hunian nggak harus selalu dikalahkan untuk hasrat jalan-jalan, kan.

Nah buat kalian yang dalam waktu dekat ini akan berinvestasi dengan membeli hunian, ada promo menarik sampai akhir Desember ini, yaitu promo undian tahunan berupa satu unit Toyota Calya.









Saturday, December 16, 2017

Pieces of Motherhood

Gambar pinjam dari sini

Until you're broken, you don't know what you're made of. It gives you the ability to build yourself all over again, but stronger than ever. (Michael Jordan)

Untuk memulai tulisan ini saya meminjam kutipan dari seorang pemain basket terkenal MJ. Kutipannya tersebut, menurut saya punya kaitan dengan motherhood lyfe.

Hmmm, memang pemain basket tahu apa sih, soal motherhood hahahaha. Kalau kalian baca baik-baik kalimat tersebut, pasti bisa merasakan kalau seorang ibu suatu saat pernah merasakan, setidaknya satu kali dalam hidupnya, hancur berkeping-keping dan nggak punya pilihan selain menjadi lebih kuat setelahnya.

Ada banyak momen yang kalau dipikir-pikir saat masih lajang kayaknya horor banget. 

Misalnya nih, saat Adek masih bayi banget waktu itu. Imunisasinya aja belum lengkap, dan harus berhadapan dengan virus dari Kakak yang kena cacar air. Otomatis mereka berdua harus pisah kamar. Waktu itu rumah lagi renovasi dan saya single fighter karena ayahnya anak-anak lagi kerja dinas luar kota. 

Akhirnya, Kakak mesti 'diisolasi' di kamar lantai atas, dan Adek tidur berdua sama saya di kamar lantai bawah. Posisinya, di rumah lagi ada tujuh tukang, laki-laki semua, yang meskipun tinggal di bagian samping rumah tetep aja rasanya serem karena pernah suatu hari saya mergokin salah satu tukang 'main fisik' sama Si Sulung dengan memegang salah satu bagian tubuh yang nggak seharusnya disentuh orang asing. Untung banget kejadian itu kepergok langsung sama saya. Jadi pelakunya langsung saya tegur. Kakak juga langsung saya beritahu semua hal berkaitan dengan cara menjaga dan melindungi diri. 

FYI, lokasi kamar yang ditempati Kakak berbatasan dengan bagian rumah yang direnovasi dan ditinggali tukang. Jadi saat Kakak sakit itu, hampir tiap hari rasanya paranoid karena ngga bisa setiap saat menjaga dia karena harus mengurus bayi yang masih kecil. Dalam sehari bisa bolak-balik sepuluh kali lebih mengecek kondisi Kakak, sementara Adek di kamar bawah. 

Rasanya kayak tinggal sama predator di dalam rumah, sementara salah satu anggotanya ada yang sakit, dan ada bayi kecil yang harus dilindungi dari virus. 

Momen horor lainnya adalah saat, Kakak masuk rumah sakit dan Adek juga ikutan sakit. Sebagai ibu, kalian pasti pernah merasakan atau mengucapkan kalimat, "coba sakitnya bisa digantikan sama saya,..." tapi seringnya saya memilih jadi sehat supaya tetep bakoh mengurus keduanya. 

Being mom bikin seseorang nggak bisa lagi cengeng menghadapi keadaan karena pilihannya ya, cuma jadi kuat. 

Momen yang suka bikin hati Emak pecah berkeping-keping sebenarnya nggak cuma karena kondisi dari dalam, banyak juga hal-hal yang berasal dari faktor luar. 

Misalnya nyinyiran sesama Emak lain, atau yang populer disebut Mom Wars. Kalau ngikutin isu ini, kepala suka jadi ngebul sendiri ngga sih, hahahah. Makanya saya memilih untuk melipir dari isu begituan. Saya lebih suka being ordinary Mom kayak zaman old Ibu saya yang saling damai hidup berdampingan antara Ibu bekerja dan Ibu di rumah. 

Ibu saya seorang pekerja kantoran, tetapi beliaulah yang mengajari saya membaca untuk pertama kalinya. Beliau selalu meluangkan waktu untuk mengantar saya ke dokter gigi, dan kami sering jalan-jalan berdua kapanpun ada kesempatan untuk itu. Sampai duduk di bangku kuliah, bahkan saat sudah punya anak, beliau masih sering memaksa saya makan dengan cara menyuapi saya. Di matanya, apa yang saya makan selalu terlihat terlalu sedikit dan nggak bergizi. Padahal mungkin itu karena pandangan beliau terhadap pola makan saya sejak masih kecil yang masih melekat di matanya. Di matanya, saya tetap anaknya yang picky eater. 

Waktu saya memutuskan lebih suka kerja di rumah dan bukan ngantor seperti beliau, ada rasa kecewa di sorot matanya, namun beliau akhirnya menyadari pilihan karena zaman yang sudah berbeda. Ibu saya menyadari bahwa di zaman now, anak-anak butuh pendampingan lebih. 

Ketika pada akhirnya saya sempat merasakan ngantor pun, saya menyadari bahwa pilihan semacam ini bukan untuk diperdebatkan apalagi dipergunjingkan di medsos. Pilihan ini bukan sekadar iya dan tidak. Banyak faktor in between

Pilihan lain soal melahirkan normal atau cesarean, ASI atau sufor, homeschooling atau sekolah formal, menurut saya juga bukan untuk dijadikan bahan peperangan sesama ibu. 

Tantangan jadi seorang ibu itu sudah banyak, nggak perlu ditambahi dengan hal-hal kurang penting macam memperdebatkan pilihan hidup. Ada banyak hal yang seriously nggak bisa kita kontrol sepenuhnya saat menjadi ibu. 

Ibu sekelas Kate Middleton aja akhirnya buka-bukaan sama co-foundernya Mush lho. Mush itu aplikasi yang bisa menghubungkan satu ibu dengan ibu lainnya. 

Kate yang selama ini selalu mencoba menjaga privasinya bersama anak-anak bercerita bahwa sejak kehadiran Pangeran George dan Putrinya Charlotte, dia merasakan kesepian : "it is lonely at times and you do feel quite isolated, but actually so many others mothers are going through exactly what you are going through." 

Sebenernya yang paling bikin seorang ibu merasa sendirian itu adalah karena kurangnya empati antara sesama, padahal sebenarnya kita menjalani hal yang serupa, tetapi kita sering membuat ilusi bahwa apa yang kita lakukan lebih baik dari mereka.

Ibu sekelas Kate aja masih merasa ada judgements dari sesama ibu kalau ia bukan ibu yang baik, hmmm....sebenarnya yang tahu kita itu ibu yang baik, anak kita atau anak orang lain sih? Diri kita sendiri atau orang lain?

Being mom artinya fokus untuk berkompetisi menjadi lebih baik dengan diri sendiri, karena kita yang paling tahu hal apa dan hal mana yang bisa membuat kita lebih kuat.

Selamat hari ibu buat setrong Mom Blogger sekaligus Ibu Guru Cheila dan Mba Norma, Ibu Dosen sekaligus Ibu yang kece buat kedua anaknya. Terima kasih untuk tema arisan blog periode ke-17 bareng Gandjel Rel.







Friday, December 15, 2017

Sepatu Andalan Travel Blogger


Seberapa kuat ya, sebenarnya seorang travel blogger itu sanggup berjalan kaki dalam sehari? 

Kalau sedang dalam kondisi sehat dan bugar, rata-rata kaki manusia sanggup berjalan sampai kurang lebih 4 kilometer per hari. 

Kalau ditotal, sepanjang hidupnya manusia bisa berjalan sampai 24.000 km. Dan jarak itu hampir sama dengan jarak kalau seseorang mengelilingi dunia. 

Nah, jarak maksimal yang bisa ditempuh seseorang dengan berjalan kaki adalah sejauh 19,2 kilometer setiap harinya. Tapi itu juga tergantung sepatunya, sih. 

Kebayang nggak kalau saat berjalan-jalan jauh kita mengenakan sepatu yang ngga nyaman di kaki. Duh, jangankan 19 kilometer, baru saja jalan 500 meter saja, kaki terutama telapaknya sudah terasa pegal kan. 

Salah satu resolusi saya di tahun depan adalah pengin lebih banyak mengeksplorasi destinasi wisata di seluruh Indonesia, makanya perlu shoe-mate yang pas. 

Pas banget nih, Hush Puppies di Paragon Mall Semarang, baru saja meluncurkan koleksi sepatu terbaru yang diberi nama "Schnoodle". Sepatu casual super ringan ini memiliki bagian atas dari bahan rajut sehingga sangat breathable dan fleksibel. 




Koleksi ini memiliki fitur Zero-G dari Hush Puppies, dimana outsole dan alas kakinya memiliki material EVA yang menawarkan kenyamanan ekstra sepanjang hari. 




Saya dan beberapa teman blogger juga berkesempatan untuk menjajal sepatu ini, lho. Dan memang terasa nyaman dan pas banget di kaki. Rasanya seperti menyatu dengan telapak kaki. Saking ringannya sepatu ini, waktu ditimbang bareng ponsel ternyata jauh lebih berat ponsel lho. 

Yang menarik, pilihan warnanya juga banyak. Jadi bisa memadukan sesuai dengan outfits travelling yang akan dikenakan. 

Ada warna-warna netral seperti hitam, abu-abu, navy, tetapi ada juga warna-warna yang menarik perhatian seperti hijau mint, biru muda, dan fuschia. Warna-warni ini juga cocok untuk dikenakan baik untuk pria maupun wanita. 

Setelah menjajal sepatu dari Hush Puppies ini, sepertinya beberapa kriteria untuk shoe-mate selama travelling sudah terpenuhi, yaitu : 

  1. Ringan, outsole berbahan karet sehingga anti slip, dan cocok untuk musim hujan. 
  2. Breathable. Karena terbuat dari bahan rajutan yang memiliki lubang-lubang sehingga kaki dapat bernapas selama mengenakan sepatu ini. 
  3. Modelnya casual dan banyak memiliki pilihan warna. Cocok untuk travel blogger yang stylish. 
  4. Harga yang sepadan dengan ketahanan serta kekuatan sepatu. 
Nah, tunggu apa lagi kan. Yuk, coba sepatu ini di Paragon Mall lantai 1 dan dapatkan penawaran menarik dengan Buy 2 Get 1 Free untuk setiap pembelian termasuk koleksi terbaru dari Hush Puppies. 


Wednesday, December 13, 2017

Wisata Kabupaten Brebes : Catatan Perjalanan #1

Malam hari, pukul setengah delapan lebih kereta kami merapat di Stasiun Tegal. 

Sejak awal saya tidak meletakkan harapan yang terlalu tinggi terhadap objek-objek wisata yang ada di kota ini, pun karena tujuan saya dan rombongan sebenarnya adalah menuju ke Kabupaten Brebes, sebuah tempat yang berada di pantai utara Jawa Tengah, tempat yang menurut informasi yang saya dengar pernah berjaya karena menjadi sentra penghasil udang windu dan bandeng. 

Juga setiap kali bertolak ke luar kota via pantura, saya pasti akan mendengar orang-orang mengaitkan Brebes dengan telur asin dan bawang merah. 

Belum pernah sekalipun saya mendengar orang-orang membicarakan Brebes dalam konteks tempat pariwisata. 

Di benak saya, daerah pesisir utara umumnya pantainya kurang menarik dan paling-paling didominasi oleh tambak atau ladang garam. 

Masih mending Tegal yang berulang kali dibicarakan karena punya pemandian air panas Guci. 

Jadi kita mau ngapain sih, di Brebes? Pertanyaan itu berulang kali berputar di benak. 

Saat memeriksa rundown acara, disebutkan kalau kami akan berkumpul di Pendopo Mangrove di Desa Wisata Mangrove Sari. Letaknya ada di Dukuh Pandansari, Kaliwlingi. 

Kalau merujuk pada fenomena dan elemen pariwisata, (uhuk, kita bicara teori sedikit) fenomena pariwisata muncul sejak seseorang mulai melakukan perjalanan refreshing (leisure and pleasure) ke suatu tempat di luar lingkungan dan kebiasaannya sehari-hari untuk mendapatkan sensasi baru yang bisa membebaskan seseorang dari rasa bosan sesuai dengan kemampuan dan motivasi setiap individu. 

Fenomena tersebut nantinya akan menghasilkan beberapa elemen penting dari pariwisata. 

Sampai sini kira-kira sudahkah Brebes memenuhi kriteria dari elemen pertama, yaitu Elemen Tempat Asal Wisatawan? 

Kalau kalian berasal dari kota besar yang padat, atau malah dari daerah di pegunungan, pergi ke daerah pesisir terdengar eksotis. Namun 'terdengar' saja belum menjadi jaminan seseorang akan berkunjung ke tempat tersebut. Setidaknya harus ada jaminan bahwa berwisata ke Desa Wisata Mangrove Sari di Dukuh Pandansari bisa memberikan pengalaman perjalanan dengan sensasi baru dan membebaskan seseorang dari rasa bosan. 

Perjalanan berkereta dari Semarang ke Tegal membutuhkan waktu kurang lebih dua jam empat puluh lima menit. Sementara jika menggunakan kereta yang langsung bertolak ke Brebes, bisa menggunakan kereta Kaligung yang bertolak dari Stasiun Poncol. Waktu tempuhnya sekitar tiga jam lebih. Kereta yang digunakan merupakan kereta ekonomi AC yang cukup nyaman harganya sekitar limapuluh ribuan. 

Dari hal itu, kita bisa menilai elemen kedua, yaitu Elemen Persiapan Perjalanan. Dimana Brebes termasuk daerah yang aksesbilitasnya cukup baik. 

Selanjutnya tinggal bagaimana dengan perjalanan dari stasiun ke lokasi wisata itu sendiri. 

Dari Stasiun Tegal, saya dan rombongan dijemput oleh pihak panitia. Karena harus menunggu beberapa jam sampai jemputan datang, kami memutuskan untuk melakukan eksplorasi singkat di lokasi seputaran stasiun. 

Awalnya kami mengira, lapangan terbuka becek yang dipenuhi dengan tenda pedagang dan wahana permainan anak merupakan Alun-Alun Kota Tegal. 

Salah satu teman blogger nyeletuk, "kok gini amat ya, alun-alunnya." Ternyata beberapa jam kemudian kami baru mendapatkan jawaban yang sebenarnya. 

Penjemput kami, dua orang yang ngakunya kembar dan pandai bicara berbagai bahasa dari penjuru nusantara, mengajak kami mengenal lebih dekat kota yang sedang kami datangi. 

Mulai dari Alun-Alun Tegal yang ternyata megah; "Lhoo, ini malah alun-alunnya. Siapa coba tadi yang bilang kalau alun-alunnya jelek?", sampai mengenalkan pada kami asal muasal kata Brebes, hewan apakah Blengong itu, dan jenis makanan apakah Glabed itu. Semua dilakukan selama perjalanan dari stasiun menuju ke lokasi Forum Komunikasi Deswita di Desa Kaliwlingi. 

Oh ya, sebelumnya mereka juga membawa kami mengitari Alun-Alun Brebes. Kesan pertama mengenai Alun-Alun Kota Tegal yang kurang tertata, 'mau wisata apa sih, di Brebes?', perlahan terkikis oleh kehangatan yang mereka ciptakan. 

Besok pasti banyak hal yang lebih menarik, begitu pikir saya. Kami pun jadi terslimur kalau sudah capek menunggu berjam-jam karena sepanjang perjalanan keduanya membuat kami tertawa terus. 

Tiba di Pendopo Mangrove, sudah sangat malam. Sepertinya kami melewatkan acara pembukaan dan selanjutnya sudah tidak ada kegiatan apa-apa. Jadi setelah mengisi buku tamu dan mendapatkan souvenir berupa kalung berbandul capit kepiting, kami langsung diantarkan ke homestay

Ini kali kedua saya menginap di rumah penduduk ketika travelling. Kesan yang bisa saya tangkap dari homestay di Desa Wisata Mangrove Sari adalah bahwa para penduduk setempat sudah cukup siap dan sigap menerima tamu wisatawan. 

Tempat tidur sudah disiapkan dengan cukup rapi, sarapan pagi berupa ikan goreng, telur dadar, dan sambal kecap juga sudah siap ketika pagi hari perut kami kelaparan. 

Sampai di sini, perjalanan awal sejak dari Stasiun Tegal hingga tiba di homestay sudah memenuhi unsur ketiga dari elemen pariwisata, yaitu Elemen Pengalaman. 

Having a new sensation: tidur di rumah warga dan berbaur dengan kebiasaan masyarakat setempat. 

Selanjutnya, di pagi hari pertama, mari kita lihat apakah Desa Wisata Mangrove Sari memiliki pull factor dengan berbagai faktor pendukung, seperti kemudahan aksesibilitas, amenitas, kearifan lokal, dan faktor keamanan yang mendorong seseorang (push factor) melakukan suatu perjalanan. 

Aksesibilitas 

"Eh, ini gimana kita balik lagi ke Pendopo semalem buat ikut ngumpul pas acara?" ujar salah seorang teman blogger sambil menunggu giliran mandi pagi. 

Salah satu teman yang lain, yang ditunjuk sebagai koordinator berkata, "tenang nanti kita dijemput ke Sanggar jam delapan". 

Sebagai tamu undangan, jaminan untuk diopeni pasti membuat tamunya tenang. Namun, bagaimana kondisinya jika pengunjung datang bukan bertepatan dengan adanya kegiatan. Atau mereka memang benar-benar datang untuk berwisata. Tentu saja moda transportasi harian dari rumah warga sebagai homestay ke spot wisata harus menjadi perhatian. 

Kemarin, saya lupa bertanya mengenai hal ini. Tapi kalau boleh memberi masukkan, moda transportasi seperti sepeda yang disewakan bisa jadi pilihan. Jadi saat pengunjung menginap di homestay dan ingin jalan-jalan, mereka bisa menyewa sepeda dari penduduk setempat. 

Setelah rombongan bergabung, kami pun dijemput menuju ke sanggar, dimana acara forum komunikasi desa wisata yang dihadiri oleh pokdarwis dari berbagai daerah di Jawa Tengah berlangsung. 

Ada dua hal yang paling membekas dari kegiatan tersebut di ingatan saya. 

Pertama, saya mau meminjam satu kata milik Pak Auky alias Bang Bas; GILA! Iya gila banget, waktu Pak Hadi presentasi mengenai site plan Desa Wisata Mangrove Sari beserta track hutan mangrove-nya saya langsung bergeleng-geleng. Beneran mau dibuat seperti itu? Setengahnya saya berdecak kagum karena perencanaan yang dilakukan sudah begitu matang, setengahnya lagi merasa nggak yakin, takutnya rencana itu ketinggian banget untuk sebuah desa wisata, di Brebes lagi. 

Saya pun melirik catatan soal singkatan dari kata GILA : Gerakan Insan Lestarikan Alam yang dilontarkan Pak Auky. Memang dari paparan presentasi Pak Hadi, sudah ada beberapa upaya untuk memperbaiki kondisi desa yang pantainya nyaris kena abrasi karena kurang bijaknya mengelola ekosistem tambak. Antara lain dengan kegiatan kontruksi dan regulasi, vegetasi dan rehabilitasi, serta pendekatan sosial ekonomi dan budaya. Tapi karena belum melihat dengan mata kepala sendiri, jadi rasanya masih belum percaya. 

Blogger memang ngga seharusnya duduk manis menyimak presentasi. Blogger itu harus eksplor. 

Hutan Ekowisata Mangrove Sari 

Cuss, GILA, 'gali ide langsung action'. Rombongan blogger dikawal Pak Auky yang super talkative dan informatif langsung menggiring kami keluar dari sanggar menuju spot wisata pertama, yaitu Wisata Taman Mangrove Pandansari. 

Setelah berkendara selama kurang lebih setengah jam kami pun tiba di Dermaga Pandansari. Di titik inilah rasa pesimis kami runtuh sedikit demi sedikit, berganti dengan sebuah harapan.

Welcome To The Jungle Track

Biar nggak salah langkah


Jembatan Cinta

Gardu Pandang Pertama 


Baru saja masuk ke dermaga, beberapa teman blogger sudah ada yang komentar, "Wow, kalau kayak gini sih, apa yang dipaparkan Pak Mashadi tadi sangat-sangat mungkin terwujud". Atau komentar lainnya, "Ini jauh banget dari apa yang kubayangkan soal tracking di hutan mangrove", dan lain sebagainya. 

Apa yang terbayang di benak saya ketika berada di sanggar seketika langsung berubah saat kami menaiki perahu. 

Sejauh mata memandang tampak perairan luas dengan ranting-ranting bakau mencuat dari permukaan. Rasanya nggak percaya kalau saya sedang berada di Brebes. Rasa kagum yang hampir full itu pun saat kami belum sampai di trekking mangrove-nya. 

Saat perahu menepi di dermaga, perjalanan menuju ke trekking mangrove pun dimulai. Ini bukan sekadar trekking pendek seperti yang pernah saya datangi di tempat lain. Sampai nggak tahu harus menggambarkannya seperti apa, yang pasti hutan mangrovenya sangat luas, berhektar-hektar. 

Kembali ke poin aksesibilitas. Dengan pengalaman saya menyeberang menggunakan perahu yang perjalanannya cukup mulus maka dua elemen baru, yaitu pengalaman baru dan kemudahan akses langsung tercentang. 

Amenitas 
Amenitas adalah segala sesuatu yang terkait dengan fasilitas yang seharusnya tersedia di tempat wisata, seperti akomodasi, toilet umum, tempat makan, signage, tempat belanja dan oleh-oleh, pusat informasi untuk wisatawan. 

Dari semua aspek tersebut, dapat disimpulkan bahwa Hutan Ekowisata Mangrove Sari sudah memiliki segenap aspek yang disebutkan. Saat menyusuri hutan, kami bisa melihat signage yang cukup informatif bagi pengunjung. 

Dengan memperhitungkan spot-spot selfie sebagai daya tarik wisata kekinian, signage yang ada bisa berpadu apik dengan spot selfie

Tempat makan atau warung makan tersedia di sepanjang track dengan harga makanan yang terstandar dan dipantau oleh pihak pengelola, pilihannya pun cukup beragam. Ada pula toko-toko yang menjual souvenir dan barang-barang yang dibutuhkan oleh wisatawan, toilet dan mushola pun tersedia. Kemarin saya tidak terlalu memperhatikan apakah juga terdapat pusat informasi untuk wisatawan. 

Kearifan Lokal 
Kearifan lokal merupakan faktor yang sangat menentukan, karena daya tarik yang bagus, amenitas yang baik, dan aksesibilitas yang mudah akan menjadi sia-sia tanpa sikap penduduk yang ramah, kompeten, dan positif terhadap kegiatan pariwisata itu sendiri. 

Tadi di depan, saya sudah menyinggung bahwa ada dua hal yang paling membekas di ingatan saya mengenai kunjungan ini, pertama diwakili oleh kata GILA yang dilontarkan Pak Auky, yang kedua adalah karena saya begitu terkesan dengan keramahan orang-orang yang saya temui di sana. 

Human, merupakan kekuatan pariwisata di Kabupaten Brebes. 

Bayangkan apa jadinya ketika penjemputan, saya tidak dijemput oleh dua orang yang ngaku-ngaku kembar--yang sampai saat ini saya belum berhasil mengingat namanya --yang bercerita banyak hal soal Brebes. Keduanya adalah duta pariwisata yang bisa meniupkan jiwa kepada sebuah tempat, sehingga pengunjung tertarik untuk mengenal jiwa itu lebih dekat. 

Bayangkan jika perjalanan menyusuri hutan mangrove tidak ditemani oleh seorang tour guide handal seperti Pak Auky. Kami mungkin hanya akan mendapatkan lelah saja. 

Perjalanan dengan beliau membuat berhektar-hektar pepohonan bakau meniupkan kisahnya. Dari yang konyol, seperti konon propagul pohon bakau jika dimakan oleh kaum pria bisa mendongkrak stamina, hingga akhirnya kami pun jadi punya tagline khusus, yaitu salam dua senti. Sampai kisah yang saintifik, seperti bagaimana membedakan ikan glodok dan glanyar yang sering berantem di atas permukaan lumpur, dan bahwa buah mangrove bisa menghasilkan pati yang menjadi bahan baku pembuatan dawet. 

Buah Mangrove yang bisa diolah jadi pati

Dari sini nih, salam dua senti muncul. 


Untuk mendapatkan sensasi baru yang memberikan efek refreshing, para wisatawan dapat memilih daya tarik dari semua faktor pendukungnya yang bersifat alami (given) atau buatan manusia (man made). 


Daya tarik alami yang dimiliki Kawasan Ekowisata Hutan Mangrove Sari adalah 1, 8 km sabuk hijau dari masifnya rumpun mangrove, pemandangan Gunung Ciremai dan Slamet yang terlihat dari kejauhan saat mengendarai perahu serta luasnya tambak yang berbatasan dengan Laut Jawa. 

Sementara daya tarik buatan manusianya berupa jalur trekking, jembatan cinta, menara pandang, dan berbagai aksesori yang mempercantik area hutan bakau. 

Namun, bagi saya daya tarik yang paling melekat dalam ingatan adalah keramahan dari setiap orang yang berperan sebagai duta wisata, baik itu penduduk setempat, maupun tour guide-nya. 

Positive attitude terhadap kegiatan pariwisatanya sendiri begitu terasa, sehingga mimpi besar untuk menjadikan Kabupaten Brebes sebagai sebuah destinasi wisata nasional tidak terasa mengawang-awang karena setiap insan yang terlibat di dalamnya saling berpegangan tangan dan melangkah bersama-bersama demi kemajuan pariwisatanya. 

Sekian dulu bagian pertama dari kisah perjalanan saya ke Brebes. Episode berikutnya, saya akan menuliskan kembali kisah penyeberangan kami ke Pulau Cemara, kuliner khas Brebes, dan potensi lainnya. See you soon.

Tuesday, December 12, 2017

Kurangnya Minat Masyarakat Pada Produk Lokal


Artikel yang saya tulis kali ini sedikit melanggar 'kode etik blog pribadi' dalam hal aturan penulisan suatu konten karena memakai judul yang bermuatan cenderung negatif.

Sebenarnya ini merupakan eksperimen untuk membuktikan apakah judul konten dengan nada negatif dapat menarik lebih banyak perhatian ketimbang yang positif atau netral.

Meski judulnya bernada pesimis, saya justru akan bercerita bagaimana perspektif pribadi soal produk-produk lokal, khususnya di Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah jadi bergeser. Jauh dari titik awal saya berdiri. 

Terima kasih kepada Dinas Koperasi Usaha Mikro Kota Semarang yang sudah mengajak para blogger untuk mengikuti kegiatan One Day Trip pada tanggal 30 November 2017 lalu, sehingga kami bisa mengenal lebih dekat produk-produk lokal khas Semarang.

Dulu, saya agak males mengenakan produk buatan lokal karena beberapa alasan :

Mutu produk yang rendah.
Misalnya nih, beli tas berbahan kain batik buatan lokal yang cuma tahan dipakai beberapa bulan saja karena jaitannya yang gampang sobek.


Sekarang, setelah main ke Semarang Creative Gallery yang berlokasi di kawasan kota lama Semarang, saya langsung berpikir ulang soal melabeli produk lokal dengan mutu rendah. 

Bagaimana tidak, semua produk yang dipamerkan di galeri ini bukan cuma memanjakan mata karena kreasinya yang unik dan apik, tetapi juga karena produknya terlihat digarap dengan serius dan detail. Mutunya bahkan bisa disandingkan dengan beberapa produk terkenal buatan luar negeri.

Sepatu yang mengusung tema etnik dari Prajna Indonesia. 

Ada beberapa produk yang langsung membetot perhatian, misalnya Prajna Indonesia. Kebetulan hari itu saya bertemu langsung dengan pemilik UKM yang memproduksi sepatu, Paloma Paramita. Darinya saya banyak mendengar cerita bagaimana produknya bisa eksis bukan hanya di kancah lokal, namun juga nasional bahkan internasional.

Kuncinya ada pada konsistensi untuk mempertahankan ciri khas yang ada, yaitu dengan mengangkat keberagaman warna-warna cantik dari kain-kain tradisional Indonesia seperti batik, sarung, tenun, maupun lurik dalam kreasi sepatu dan sandal.

Meski banyak produk serupa yang mengusung tema etnik, namun Prajna Indonesia yakin mampu bersaing dengan produk dengan tema serupa. Buktinya, koleksi sepatu Prajna pernah digunakan oleh desainer Deden Siswanto saat acara Jakarta Fashion Week 2018. Selain eksis di tingkat nasional sepatu-sepatu etnik Prajna juga sudah merambah Australia.

Kurang dapat membaca selera pasar.
Meski masalah selera itu bersifat relatif, namun produk lokal terkadang masih belum dapat menangkap kebutuhan dari segmen masyarakat dalam negeri.

Misalnya nih, saya punya pengalaman dengan membeli t-shirt buatan lokal yang menambahkan detail yang justru menurunkan nilai jualnya, yaitu detail gambar atau jahitan yang terlalu pasaran dan kurang fungsional. Padahal kalau tidak menambahkan detail tersebut, produknya akan terlihat jauh lebih berkelas.

Kadang beberapa produk lokal belum bisa menangkap tren pasar, terutama dalam hal desain yang sederhana sehingga bercitra simple. Masih banyak yang justru memilih desain rumit yang ramai sehingga berkesan berantakan.

Waktu mengamati semua produk UKM yang dipamerkan di Semarang Art Gallery, sebagian besar produk sudah mampu membidik kelas tersendiri. Bisa dibilang kelas ekspor.

Penyuka barang-barang bernuansa etnik memang sebagian besar orang luar negeri, namun produk yang dipamerkan di sana tetap mengusung nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Kalau dicermati, desainnya pun sudah berkesan simpel dan elegan.

Ada satu merek tas yang cukup menarik perhatian saya, yaitu Judy & Frances. Kalau melihat sekilas saja pasti nggak percaya kalau tas ini merupakan produk buatan lokal.

Dari kiri atas : Tas Judy & Frances berbahan batik dengan detail anyaman. Tas Judy & Frances dengan detail bergambar wayang. Tas sulam pita dari lokapita dan tas berbahan anyaman bahan alam dengan detail bebungaan 3D.

Kemasan yang kurang menarik.
Sebagian besar produk yang banyak digemari oleh masyarakat adalah produk dengan kemasan yang menarik. Banyak sekali produk lokal yang sebenarnya memiliki kualitas yang sangat baik, namun tidak dikemas dengan menarik bahkan terkesan seadanya.

Sebagian besar produk di Semarang Creative Gallery adalah produk kriya atau karya seni kreatif yang dengan produknya sendiri sudah mampu mewakili citra merek tersebut. Namun, tidak semua produk dari produsen lokal, terutama yang memproduksi makanan bisa menjawab tantangan ini.

Masukan untuk produk stik bandeng adalah adanya keterangan Angka Kecukupan Gizi atau AKG. Masukan untuk Bandeng Presto adalah pengemasan yang lebih menarik. 

Contohnya saat berkunjung ke sentra pembuatan bandeng presto di daerah Krobokan, Semarang. Secara rasa dan kualitas, saya bisa memberikan acungan dua jempol karena tidak kalah dengan produsen bandeng presto yang sudah tersohor di Semarang. Apalagi produk bandeng presto dengan nama dagang New Istichomah ini juga cukup inovatif mengembangkan produk pendamping lainnya, misalnya tahu bakso bandeng dan stik dari duri ikan.

Masukan untuk produk tersebut adalah pembuatan kemasan yang lebih menarik serta adanya keterangan angka kecukupan gizi pada produk stik dari duri bandeng. Hal tersebut menurut saya merupakan suatu upaya agar produk makanan lebih terpercaya.

Kemasan yang menarik tentu saja akan memberi nilai tambah dan membangun citra produk UKM lokal yang dapat bersaing dengan produk hasil industri berskala pabrik maupun skala internasional.

Kurang memiliki nilai tambah positif.
Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir semua produk UKM lokal memiliki keseragaman dalam hal tema, bahan, dan eksekusi pemasaran. Kalau saya amati sebagian besar merupakan produk-produk yang berusaha mengangkat bahan-bahan lokal dan tradisional dari tempatnya berasal. Misalnya kain batik dan kuliner khas dari bahan-bahan lokal.

Hampir semua tempat di Indonesia memiliki kain khasnya, batik terutama. Ada berbagai macam jenis batik yang tersebar di Pulau Jawa. Jika biasanya sebagian besar kain batik dibuat sebagai sekadar komoditi agar warisan budaya ini tidak hilang maka ada yanng sedikit berbeda dengan batik yang diproduksi di Kampung Batik Malon, Gunung Pati Semarang.

Ini merupakan pertama kalinya saya berkunjung ke Kampung Alam Batik Malon. Kami diterima di sanggar Zie Batik dan melihat lokasi tempat pembatikan yang ada di tengah-tengah kampung bernuansa pedesaan.

Tentu saja ini menghapuskan ekspektasi awal bahwa saya hanya akan menemukan sebuah workshop dimana pengrajin batik duduk dengan cantingnya di hadapan tungku kecil yang berisi lelehan malam, seperti kunjungan ke beberapa kampung batik yang pernah saya lakukan.

Di luar ekspektasi, rombongan blogger disambut oleh pemilik sanggar Zie Batik, yaitu Pak Heno beserta istrinya. Di sana kami mendengarkan paparan kisah mereka merintis Kampung Batik Malon dan bagaimana Zie Batik tidak sekadar sebuah komoditi tanpa nilai tambah. Kisah tersebut nanti akan saya bahas tersendiri, ya.

Salah satu nilai tambah yang membuat Zie Batik berbeda adalah karena produksinya mengusung konsep ramah lingkungan. Misalnya dengan pemilihan pewarnaan batik yang menggunakan bahan-bahan alami dan nonkimia.

Warna-warni batik berasal dari berbagai tanaman seperti putri malu, mahoni, pinang, jelawe, kunyit, indigo, secang, kulit rambutan, kulit manggis, kecapi, daun mangga, daun alpukat, mengkudu, dan mimosa. Warna ungu kemerahan didapat dari kulit manggis. Biru indigo dari tanaman indigofera tinctoria atau tom dalam bahasa Jawa.

Yang menarik, Zie Batik juga menggunakan propagul tanaman mangrove untuk menghasilkan warna coklat. Perhatian kedua pemilik sekaligus founder Zie Batik terhadap lingkungan hidup menggerakkan mereka untuk turut menyumbangkan satu nilai tambah pada pelestarian lingkungan hidup.

Tanaman Mangrove yang terkenal sebagai tanaman yang menghambat abrasi oleh air laut menginspirasi keduanya untuk menciptakan Batik Mangrove.

Meskipun batik warna alam memiliki kelemahan dalam hal ketahanan warna, namun founder Zie Batik yakin bahwa batik buatan mereka dapat mengantongi SNI dalam hal mutu pewarnaan.


Nah, sampai di Kampung Alam Malon, perspektif saya soal produk UKM asal Semarang langsung bergeser jauh dari titik sebelumnya. Semarang ternyata memiliki potensi produk UKM yang masih tersembunyi dan terus berkembang. Dukungan dari berbagai pihak tentu saja dibutuhkan agar potensi 'emas' yang tersembunyi dapat terlihat kilaunya sampai ke mancanegara.


Kegiatan One Day Trip blogger bersama Dinkop Usaha Mikro Kota Semarang menjadi sebuah jembatan yang dapat menghubungkan jurang antara produsen potensial yang belum dikenal luas padahal memiliki karya-karya sepadan dengan produk internasional, dengan konsumennya, yaitu masyarakat lokal yang masih ragu bahkan kurang berminat terhadap produk UKM lokal.

Tidak menutup kemungkinan juga bahwa informasi mengenai keberadaan UKM di Kota Semarang ini dapat menginspirasi masyarakat yang lebih luas untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif.

Ekonomi kreatif diprediksi akan menjadi mesin penggerak ekonomi Indonesia di masa depan.

Menurut Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf menjelaskan, ada 16 subsektor ekonomi kreatif yang dibina Bekraf. Subsektor itu ialah aplikasi dan pengembang permainan, arsitek, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film (animasi dan video), fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, dan televisi serta radio.

Dari 16 subsektor, yang menyumbang kontribusi produk domestik bruto (PDB) ekonomi kreatif terbesar adalah kuliner, fashion dan kriya.

Jadi kalau teman-teman terinspirasi dengan para pelaku UKM yang sudah sukses seperti yang saya tuliskan di atas, dan ingin berkontribusi maka jangan ragu untuk mengeksplorasi ketiga subsektor tadi.

Salam,
#SemarangHebat #BanggaUKMSemarang #ProdukUKMSemarang

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...