Friday, October 13, 2017

Berbagi Kebahagian Dengan Menjadi Duta Zakat Di Lazizba


Pernah dengar kan ucapan atau kalimat kalau apa yang benar-benar kita miliki sebenarnya adalah apa yang kita bagikan kepada orang lain?

Apa pun itu, baik ilmu, rezeki, maupun jasa atau tenaga rasanya akan menjadi sumber kebahagian jika bisa bermanfaat bagi orang lain.

Nah, misalkan suatu saat kita sedang diberi kelapangan rezeki lalu ingin berbagi, kemudian bingung mau menyalurkannya kemana, saya punya rekomendasi nih. 

Buat yang berdomisili di Semarang, tahu dong Masjid yang ada di tengah-tengah kota dan dekat sekali dengan Simpang Lima?



Di sana ada sebuah lembaga amil zakat, yaitu Lazis Baiturrahman yang akrab disebut Lazizba. Lembaga amil zakat ini berada di bawah Yayasan Pusat dan Pengembangan Islam (YPKPI). 

Secara legalitas, Lazisba sudah terdaftar dalam SK Kemenkunham No AHU-10075.50.10.2014 menjadi Laziz Baiturrahman. 

Dengan begitu dana bantuan yang teman-teman donasikan Insya Allah akan bermanfaat bagi sesama yang membutuhkan, tentu saja tepat sasaran dan akan ada laporan berkala bagi donatur.

Dengan menjadi donatur atau duta zakat di Lazizba, kita bisa mulai sedikit demi sedikit berbagi kebahagiaan lho. Karena dana atau rezeki yang kita bagikan benar-benar jelas kebermanfaatannya. 

Nah, untuk apa saja sih donasi yang diterima Lazisba?
Ada beberapa program yang menjadi andalan Lazisba diantaranya: 

1. Bidang Ekonomi.
Lazisba memiliki program pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan memberikan bantuan berupa pinjaman modal usaha tanpa bunga untuk para mustahik atau orang yang berhak mendapatkan zakat, infak, sadaqah. 

Programnya bernama Kubah atau Kredit Usaha Barokah. Kubah ini sudah menjangkau banyak pihak diantaranya para nelayan di Desa Tambak Mulya tahun 2009, para petani Tegowanu-Karangawen di tahun yang sama, dan masih banyak lagi. 

2. Bidang Pendidikan.
Di bidang pendidikan, Lazisba memiliki program memberikan beasiswa untuk anak asuh tingkat SD-SMA. 

Nama programnya BUS alias Bea Siswa Untuk Surga. Selain itu, ada kegiatan memberikan bantuan renovasi bagi sekolah yang bangunannya sudah memprihatinkan. Nama programnya Sekolahku Indah. 

Ada juga program ELC atau Education Learning Centre. ELC ini adalah pusat pengembangan pendidikan bagi para mustahik untuk meningkatkan kemampuan diri untuk hidup yang lebih baik.

Untuk daerah yang rawan aqidah, Lazisba mendirikan TPA Taman Syiar Al Quran juga menyediakan pendampingan.

3. Di Bidang Kesehatan.
Program yang berjalan adalah BERCERITA (Bersalin dan berbagi cinta) atau bersalin gratis untuk mustahik, program IBU–KUS ( Ibuku sehat–Anaku Cerdas ) atau pemeriksaa dan penguatan serta peningkatan gizi Ibu dan anak di desa binaan atau yang telah terdata sebagai mustahik.

Selain itu, ada juga baksos kesehatan di daerah binaan hingga Sunah (Sunat Barokah) yaitu program Sunat gratis bagi anak yatim piatu, yatim, dhuafa.

4.Di Bidang Kepemudaan atau SABAB (SATUAN PEMBINA UMAT LAZISBA). 

Program tersebut menciptakan pemuda muslim yang sempurna iman dan ilmu yang siap menegakkan Islam, berkarakter Islami, mandiri dan berjiwa sosial tinggi, sumber dai–dai dalam pembinaan, sebagai sarana pengembangan semangat kewirausahaan di kalangan pemuda, dan yang lainnya.

Semua program di atas, bisa berjalan berkat tiga sumber dana, yaitu infaq dan zakat serta shodaqoh, dana CSR perusahaan, hingga dana program dari donatur tertentu dengan rentang waktu tertentu pula.

Artinya, setiap orang bisa menjadi donatur dengan memberikan zakat, infaq, dan shodaqoh di Lazis Baiturrahman.

Berapapun nominalnya, tentu menjadi kontribusi yang sangat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya di sekitar Semarang.

Bagi yang merasa belum memiliki materi untuk disalurkan, bisa menjadi Duta Zakat yaitu relawan yang membantu mereka memberi informasi kepada masyarakat luas mengenai Lazis Baiturrahman.

Nah, nggak susah kan berbagi kebahagiaan bersama Lazizba ini.

Untuk informasi silakan hubungi: Sobat Zakat Lazis Baiturrahman FB / Fanspage : Lazis Baiturrahman
IG: @lazisbaiturrahman
Twitter: @lazisbaiturrahm
Call center : 085100999774

Wednesday, October 11, 2017

Lima Hobi WAHM Yang Menjaga Kewarasan


Sudah pada tahu kan kalau tanggal 10 Oktober 2017 adalah Hari Kesehatan Mental Sedunia?
WHO sebagai organisasi kesehatan dunia memperingati Kesehatan Mental Dunia pada 10 Oktober dengan tujuan meningkatkan kesadaran seputar kesehatan mental dan menggerakan usaha untuk mendukung kesehatan mental yang lebih baik. 

Perayaan tersebut pertama kali diinisiasi oleh World Federation for Mental Health pada tahun 1992. Misinya adalah untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan advokasi masyarakat seluruh dunia mengenai kesehatan jiwa. 

Di Indonesia, Hari Kesehatan Jiwa Sedunia baru mulai ditetapkan pada tahun 1993. Misinya untuk menghormati hak ODMK (Orang dengan Masalah Kejiwaan), memperluas program pencegahan masalah kesehatan jiwa, mendekatkan akses kesehatan pada masyarakat, memperluas cakupan pelayanan, dan meningkatkan upaya kesehatan jiwa secara optimal.

Tahun 2017 ini penekanan temanya ada pada Kesehatan Mental Di Tempat Kerja. Dikutip dari laman independent.co.uk bahwa satu dari empat orang dewasa merasakan bahwa pada satu titik, sekali dalam setahun, dirinya mengalami sakit mental. 

Apa saja sih, penyakit mental yang dimaksud tersebut? 

Kalau menyimak berita yang cukup nge-hits beberapa minggu yang lalu pasti tahu dong kasus vokalis Linkin Park yang memutuskan untuk bunuh diri. Menurut keluarganya, Chester Benington ini mengalami depresi.

Depresi, stress, kecemasan adalah beberapa bentuk gangguan kesehatan mental yang dapat terjadi pada pekerja atau karyawan. 

Tapi nggak menutup kemungkinan kalau orang yang tidak bekerja dengan office hour 9 to 5 nggak bakalan mengalami gangguan kesehatan mental. 

Nah, kali ini saya mau menyoroti sedikit tentang gangguan kesehatan mental pada Work At Home Mom atau yang lebih dikenal dengan istilah WAHM.


Banyak yang berpikiran kalau jadi Ibu Bekerja Dari Rumah itu enak. Kerjanya bisa dasteran aja, bisa curi-curi tidur siang, bahkan sambil ngelonin atau nemenin si kecil main. 

Tapi benarkah begitu realitanya? Benarkan seorang WAHM bisa mengalami stress layaknya pekerja kantoran? 

Jawabannya sangat mungkin sekali. Kenapa? Karena seorang WAHM terpapar dua peran ganda sekaligus dalam satu waktu dan di tempat yang sama. Meskipun wanita dikenal sebagai jagoannya multitasking, tetapi seorang WAHM harus bisa lebih lentur untuk menyeimbangkan peran-peran itu dalam satu waktu. 

Menjadi lentur itu nggak mudah kan ya. Karena setiap hari seorang WAHM berhadapan dengan banyak sekali tuntutan yang kadang bertentangan satu sama lain. Misalnya harus memilih untuk menyelesaikan pekerjaan atau bermain dengan Si Kecil. Terkadang tugas-tugas tersebut membutuhkan situasi mental yang berbeda. Fokus saat bekerja, sebaliknya bersikap santai saat main dengan anak. Kebayang dong, bagaimana seorang WAHM harus berpindah-pindah situasi emosional dalam sehari saja. 

Supaya syaraf fisik dan mental seorang WAHM bisa lentur, dia harus memiliki hobi yang melatih kelenturannya tersebut.

Berikut ini adalah beberapa hobi yang dapat melenturkan syaraf-syaraf mental dan fisik, plus menjaga kesehatan mental WAHM tetap waras. 

Menulis. 

Writing therapy adalah satu dari sekian terapi yang paling manjur untuk mengobati kecemasan, fokus yang bercabang, dan unidentified feeling.

Banyak WAHM yang susah melatih fokus mereka dalam satu waktu sehingga kadang beberapa pekerjaan yang dikerjakan dari rumah tidak tertangani dengan baik. Menulis sangat membantu melatih fokus.

Pada awal memulai, ketika baru menuliskan kata pertama, segalanya terasa sulit. Namun ketika seseorang bertahan untuk menulis selama minimal 10 menit, tanpa terasa ia sebenernya sudah melatih dirinya untuk memerhatikan hanya pada satu titik saja, yaitu tulisannya.

Saat tulisannya tersebut mengalir, beberapa bentuk kecemasan karena perasaan-perasaan yang tidak teridentifikasi menjadi terangkat. Saat itulah menulis menjadi sebuah katarsis. 

Membaca.

Sebagai seorang WAHM, terkadang sulit menganggarkan waktu untuk 'me time' apalagi pergi piknik.

Kabur ke suatu tempat tanpa harus menggeser pantat adalah salah satu benefit yang bisa didapatkan dari hobi membaca.

Coba deh, ambil satu buah buku yang memang sudah diidam-idamkan untuk dibaca, ambil waktu khusus, dan mulailah membaca. Kalau bisa sampai tuntas.

Saat seseorang terserap dalam alur cerita, setting, bahkan tokoh-tokohnya, ia sebenernya sedang kabur dari rutinitas hariannya.

Tiba-tiba saja, ia berpindah ke tempat lain dan menjadi tokoh lain. Masalah-masalah yang dialaminya pun menghilang. Saat inilah tubuh mulai mengeluarkan hormon endorphin yang membuatnya jadi lebih relaks. 

Merawat Tubuh.

Kalau tidak merawat tubuh dan dampaknya bisa bikin seseorang stress maka jangan pernah melupakan hal ini dalam keseharian seorang WAHM.

Jangan karena kerjanya dari rumah, jadi lupa kalau rambut butuh di hair spa dan ditata sesekali, atau kulit badan perlu luluran dan tetap pakai lotion untuk melembabkan bahkan sunblock.

Semua bentuk perhatian terhadap diri sendiri merupakan wujud dari Self Love. Beberapa menganggap ini perilaku yang egosentris, padahal untuk bisa berfungsi penuh ketika berhadapan dengan orang lain seseorang harus mapan dan mantap dengan dirinya lebih dulu. Analoginya seperti saat di pesawat terbang, orang dewasa dulu yang memakai masker oksigen, baru kita membantu anak yang bersams kita. Self love juga merupakan bentuk penghargaan bagi pencapaian diri sendiri. 

Bernafas Dalam atau Deep Breath. 

Aktivitas ini terdengar sepele ya. Padahal 'sadar napas' sangat penting bagi keseharian kita. Apalagi buat WAHM yang sibuk.

Cobalah ambil jeda pada waktu-waktu tertentu. Duduk dengan posisi yang nyaman, lalu letakkan satu telapak tangan di atas perut dan satu lagi di atas dada. Mulailah dengan menarik napas dalam kemudian hembuskan perlahan.

Rasakan otot perut mengembang saat sedang menarik napas dan mengempis saat membuang napas. Lakukan selama sepuluh kali tarikan napas. Buat aktivitas ini menjadi sebuah rutinitas, misalnya satu hari tiga kali atau pada saat kita merasa beban mental semakin menggunung. Kuncinya adalah sadari dan ambillah jeda waktu.

Olahraga. 
Beberapa WAHM merasa kesulitan meluangkan waktu untuk berolahraga. Seringkali pekerjaan rumah seperti menyapu dan mengepel menjadi bentuk olahraga cardio bagi WAHM. Sebenarnya aktivitas bebersih tersebut sama-sama membakar kalori sih, tapi apakah hal tersebut sudah termasuk pada olahraga?



Olahraga bukan aktivitas multitasking. Kita perlu menyiapkan waktu khusus dan mengarahkan satu fokus untuk sebuah tujuan dan pergerakan. Yang membedakan olahraga dengan bebersih rumah adalah cara otak merespon aktivitas tersebut.

Saat bebersih, otak mengirimkan sinyal bahwa goal yang akan dicapai adalah rumah yang bersih bukan tubuh yang sehat. Sebaliknya saat fokus berolahraga, otak kita akan mengirimkan sinyal pada tubuh untuk lebih relaks. Pencitraan otak dari seseorang yang berolahraga berbeda dengan yang menganggap bebersih sebagai olahraga.

Jadi sebagai WAHM wajib deh punya hobi berolahraga. Minimal luangkan 30 menit sehari, ya. 

Itu tadi lima hobi yang sebaiknya dimiliki oleh WAHM, kalau teman-teman punya tambahan daftar hobi yang bisa menjaga kewarasan WAHM, boleh dong dibagi di kolom komentar.

Oya, tulisan ini jadi bagian dari Arisan Blog Gandjel Rel Periode Ke-13 yaa. Tema kali ini disponsori oleh Mba Ika, seorang WAHM yang punya segudang aktivitas lain selain nge-blog. Ada juga Mba Arina Mabruroh Momblogger yang sedang jadi bumil tapi tetap aktif berkegiatan kesana-kemari. Sehat-sehat ya, Mba. 

Tuesday, October 10, 2017

Bersepeda di Sepanjang Pulau Panjang


"I still believe in paradise. But now at least I know it's not some place you can look for. Because it's not where you go. It's how you feel for a moment in your life when you're a part of something. And if you find that moment... It lasts forever"

Kalimat itu adalah salah satu penggalan dialog yang diucapkan oleh Richard (diperankan oleh Leonardo Dicaprio) dalam film The Beach yang rilis 17 tahun silam. Sudah pernah nonton kan? 


Kalau belum, coba deh cari filmnya. The Beach bercerita tentang perjalanan seorang Backpacker bernama Richard di Bangkok. Saat di hostel ia mendengar tetangganya bercerita tentang sebuah pantai tersembunyi yang belum banyak dikunjungi turis bahkan katanya pantai tersebut adalah 'surga tersembunyi' bagi para backpacker. Richard kemudian berusaha menemukan peta rahasia yang bisa memberikan petunjuk untuk membawanya ke sana.

Bicara tentang tempat wisata yang selalu mendapat julukan 'surga tersembunyi' atau 'kepingan surga di bumi' rasanya suka jadi dilematis deh, antara ingin menceritakan pada semua orang tentang keindahan tempat itu atau tetap menjaga kerahasiaan agar imaji 'surgawi' dari tempat itu tetap terjaga.



Biasanya tempat wisata-wisata dengan embel-embel 'surga' itu sulit untuk dijangkau dan terpelosok. Tapi bicara soal 'kepingan surga' tadi, ada lho sebuah pulau tak berpenghuni yang ada di Kelurahan Ujung Batu, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara. Namanya Pulau Panjang. 

Kalau kalian pernah punya impian untuk berlibur di pantai milik pribadi. Atau pantai rahasia seperti yang ada di film The Beach. Dan berharap menemukan hamparan pantai berpasir putih yang airnya bening, ditambah lagi lokasinya juga nggak jauh-jauh banget dari kota. Juga ngga perlu sampai harus menemukan peta rahasia terlebih dahulu untuk menjangkaunya. Maka Pantai Pulau Panjang ini bisa mewujudkan impian kalian. 

Untuk sampai ke pantai ini, dari kota terdekat yaitu Semarang, kalian nggak perlu menempuh perjalanan berjam-jam dan berpindah-pindah moda transportasi. Dari Semarang lakukan perjalanan menuju Kota Jepara kemudian carilah Pantai Kartini.

Dari Pantai Kartini, Pulau Panjang ini berjarak sekitar 2,5 kilometer. Kalian bisa menaiki Perahu Sapta Pesona untuk menyeberang ke Pulau Panjang. Waktu tempuhnya sekitar 15 menitan, dan cukup membayar sebesar Rp. 20.000 untuk perjalanan pulang-pergi. Perahu akan mengantar kalian sampai di lokasi kemudian saat pulang nanti kalian cukup mencari perahu Sapta Pesona untuk kembali. Ingat, jangan sampai salah perahu dan dermaga, ya.

Selain dari Pantai Kartini, kalian juga bisa menyeberang dari Pantai Bandengan, tetapi dengan menggunakan Kapal Wisata Bahari.

Kemarin, saya menyeberang ke Pulau Panjang melalui Pantai Kartini. Setelah menempuh perjalanan dengan kapal selama kurang lebih 15 menit, saya sampai di sebuah pulau yang kalau dilihat-lihat sih, tampak memanjang. Mungkinkah itu sebabnya dinamakan Pulau Panjang?

Suasana pantai yang memang sedang sepi, jadi serasa pantai pribadi. 

Pasir pantainya yang putih dan halus, menjadi daya tarik pantai ini. 

Kids friendly Beach 



Ekspektasi saya soal 'surga kecil' yang melekat pada pantai ini cukup terbayar kok. Keindahannya memang masih cukup terjaga. Pasirnya putih, bibir pantainya cukup landai untuk bermain-main air, dan airnya sebening kristal sehingga warna biru langit terpantul dengan sempurna.

Menurut saya, Pantai Pulau Panjang ini juga cukup kids friendly karena termasuk laut yang dangkal dan ombaknya tidak begitu besar.

Sesampainya di dermaga, air laut yang begitu bening menggoda saya untuk segera menyeburkan diri. Tapi di bawah dermaga tersebut ada beberapa anak, kemungkinan penduduk lokal, yang sedang berenang dan meminta pengunjung yang lewat untuk melemparkan koin kepada mereka. 

Masuk lebih ke dalam, saya disambut semilir angin dari pepohonan yang tumbuh di area pinggir pantai. Tidak jauh dari sana, tampaknya masih ada hutan tropis dengan aneka pepohonan yang cukup rimbun.

Sebelum mulai bermain air, saya memutuskan untuk menjelajahi bagian dalam pulau ini. Tidak jauh dari jalan setapak yang ditutupi oleh paving block, ada pos yang menyewakan sepeda. Saya cukup membayar sebesar tigapuluh ribu untuk berkeliling pulau sepuasnya.





Medan untuk bersepeda sudah disiapkan oleh pengelola setempat, yaitu berupa jalur paving block yang memang digunakan juga untuk pejalan kaki.

Saya pun mulai mengayuh sepeda dan menikmati semilir angin. Di kiri dan kanan, terdapat pohon kapuk dan beberapa vegetasi khas hutan tropis seperti Pohon Mahoni dan Jati.

Jalur bersepeda mengantarkan saya pada sebuah dermaga yang sepertinya memang tidak aktif digunakan. Saya pun memarkir sepeda di dekat sebuah pohon dan melanjutkan dengan berjalan kaki menuju dermaga. Dari dermaga, suasana pantai semakin terasa sepi, seolah pantai ini memang milik pribadi.

Setelah mengambil beberapa foto di sana, saya berjalan kembali. Tampak pemandangan mercusuar menjulang di balik rimbunnya pepohonan. Saya pun memutuskan untuk mengayuh pedal menuju area tempat mercusuar itu berada.

Sesampainya di sana, entah karena lelah mengayuh pedal, saya tidak mengeksplorasi lebih jauh bangunan tersebut, apalagi berpikir untuk menaikinya. Padahal mungkin saja saya dapat mengambil foto yang bagus dari atas.

Oh ya, di perjalanan bersepeda tersebut saya juga mendapati Kompleks pemakaman Syekh Abu Bakar bin Yahya Ba’alawy, yang merupakan salah satu penyebar agama Islam di Jepara. Ternyata Pulau Panjang ini juga menjadi salah satu tujuan Wisata Religi di Jepara.

Selesai menjelajahi Pulau Panjang, saya kembali menyusuri jalan setapak yang tadi dilewati, mampir sejenak untuk membeli es kelapa muda yang diminum langsung dari batoknya, kemudian mengembalikan sepeda lalu kembali ke tepi pantai untuk bersiap-siap main air.

Persiapan main air, tentu nggak lupa oles-oles sunblock dulu sebelum nyebur, dan barang-barang penting seperti ponsel atau kamera dimasukkan ke dalam dry bag.

Oh ya, saya juga nggak lupa buat mengikutsertakan si kecil Insto buat jaga-jaga kalau mata jadi merah karena air laut.

Sebelum main air, saya juga sudah sempat meneteskan Insto Dry Eyes gara-gara mata saya terasa kering saat bersepeda mengelilingi Pulau Panjang. Mungkin karena lupa pakai kacamata juga, sih.

Iya kacamata dan Insto memang dua barang bawaan wajib kalau sedang menjelajahi alam. Kacamata berfungsi melindungi mata dari radiasi sinar ultraviolet. Nah, kalau mata mulai kerasa lelah dan perih, saya biasanya langsung meneteskan Insto.

Jadi gimana, kalian tertarik buat menemukan 'surga kecil' di akhir pekan ini dengan berkunjung ke Pulau Panjang?

Rekomendasi saya, coba menjelajahi pulaunya dengan bersepeda. Oh ya, kalian juga nggak bisa menginap di pulau ini lho karena belum tersedia fasilitas penginapannya. Jadi pastikan jam datang dan pulangnya sesuai dengan jadwal kapal yang ada, ya.



Monday, October 9, 2017

Jika Anak-Anakku Bersekolah Di Finlandia


Disclaimer : ini tulisan lama yang saya posting ulang dari judul asli 'Andai Anak Kita Bersekolah di Finlandia atau Korea Selatan' yang juga pernah dimuat di portal online. Karena temanya masih relevan dengan dunia pendidikan baru-baru ini, jadi saya putuskan untuk mengunggah di blog pribadi juga.

Tulisannya cukup panjang, jadi siapkan cemilan dan kopi ya buat temen baca. 

Selamat menikmati.

Salah satu buku yang bisa jadi rujukan kalau ingin tahu lebih dalam tentang sistem pendidikan di Finlandia. Karya Timothy D. Walker

Dunia pendidikan Indonesia sedang mengalami demam. Penyebabnya masih harus ditelusuri. Bisa jadi ini karena Pak Anies Baswedan baru saja pergi membawa sebagian besar harapan masyarakat Indonesia akan pendidikan yang lebih baik, sebagian yang lain mungkin sedang meraba-raba dahi dan bertanya-tanya apakah ini karena wacana yang digulirkan Pak Menteri baru tentang mewajibkan anak-anak untuk full day school

Reaksi masyarakat terhadap demam ini beragam, sebagian ada yang berangan-angan, "Andai anak-anak kita sekolah di Finlandia."

Tidak ada PR di Finlandia, jam sekolahnya pun lebih pendek, tetapi sistem pendidikan di sana melahirkan anak-anak yang lebih pandai dan lebih sukses.


Tetapi benarkah anak-anak pandai itu lahir dari jam sekolah yang pendek dan tidak adanya PR?

Fakta menariknya, poin penting dalam sistem pendidikan Finlandia adalah rasio jumlah guru dan murid. 1 guru untuk 12 anak, bandingkan dengan di beberapa negara maju lain, 1 guru untuk 24 anak. 

Lalu, bagaimana dengan di Indonesia? 

Posisi seorang guru terhadap muridnya, di sana, layaknya pengacara dengan kliennya atau dokter dengan pasiennya. 

Di Finlandia, tes atau ujian yang sifatnya terstandar hanya diberikan setelah anak berusia 16 tahun. Di Indonesia, mau masuk TK saja ada tesnya. 

Coba hitung berapa kali anak Indonesia harus berhadapan dengan tes terstandar nasional sebelum mereka berusia 16 tahun?

Dengan beban sekolah yang lebih ringan, anak-anak Finlandia mempunyai lebih banyak waktu untuk menjadi anak-anak sesungguhnya dan berada di rumah. 

Yang menarik, jika mengacu pada hasil riset internasional, anak-anak menghabiskan 7800 jam di rumah dan 900 jam di sekolah selama setahun.

Pertanyaannya, which teacher has the biggest influence? Guru atau orangtua?


Ketika anak-anak Finlandia berada di rumah, orangtua mereka mengajari bagaimana menghabiskan waktu dengan membaca. Ketika anak-anak Indonesia mendapatkan jam sekolah formal yang lebih pendek maka sisa waktu mereka diisi dengan les tambahan di bidang akademis. 

Apakah itu artinya anak Indonesia lebih senang belajar dibandingkan anak-anak Finlandia? 

Sementara anak Indonesia mengejar kemampuan akademis dengan les matematika, bahasa asing, dsb, minat membaca anak Indonesia justru menukik tajam dibandingkan negara-negara lain di Asia. 

Anehnya, meski anak-anak Indonesia kelihatan suka sekali belajar ketimbang membaca, tetapi nilai PISA 2012* (Programme International Student Assessment)nya berada di ranking 61 untuk literasi membaca dan ranking 64 untuk literasi Matematika serta Sains. Itu dari 64 negara yang mengikuti asesmen tersebut. 

Ranking lima teratas diduduki oleh China (Shanghai), Singapura, Hongkong, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang. Negara-negara yang relatif lebih dekat dengan Indonesia dan sangat mungkin menjadi bagian dari MEA (Masyarakat Ekonomi Asean)

Mungkin anak-anak Indonesia tidak akan bersaing dengan anak-anak Finlandia, tetapi dalam MEA anak-anak Indonesia akan bertemu dengan anak-anak dari Singapura atau Vietnam. Dua negara di Asia Tenggara yang nilai literasi membacanya jauh lebih baik. 

Andai anak-anak kita bersekolah di Korea Selatan atau China.

Baiklah, kalau begitu mari berangan-angan, "Andai anak-anak kita bersekolah di Korea Selatan atau China." Apa yang terjadi di sana? 

Sebagian besar remaja di Korea Selatan bangun jam 6.30 pagi dan menghabiskan waktu di sekolah dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore, jam 5 jika ada kegiatan klub atau ekstra. Setelah itu mereka pulang sebentar untuk makan dan pergi ke 'sekolah kedua' dari jam 6 sampai 9 malam. Setelah itu masih ada sesi self study selama 2 jam sebelum akhirnya mereka tidur dan bangun untuk mengulang kembali rutinitas yang sama. 

Mereka sudah terbiasa bukan hanya dengan Full Day School, tetapi juga dengan Double Shift School. Hal tersebut sudah menjadi gaya hidup sebagian besar remaja di sana. 

Dari hasil penelitian* sebagian besar orangtua, terutama ibu, merasa cemas dengan kondisi tersebut, mereka harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pendidikan dan merasakan tekanan sosial yang sangat hebat pada anak-anak mereka. 

"Korea tidak punya banyak sumber daya alam, manusialah yang menjadi penopang, sehingga harus bisa benar-benar stand out agar bisa berkompetisi." 

Hasil investasi besar-besaran dalam dunia pendidikan sangat dirasakan oleh Korea Selatan, dengan lompatan kemajuan pembangunan ekonomi dan teknologinya yang sangat pesat. Bahkan keberhasilan anak-anak Korea Selatan (berdasarkan hasil GSCE test dibandingkan dengan murid dari Wales, England, dan Irlandia Utara) dalam mendapatkan skor test matematika yang sempurna, dengan waktu hanya setengah dari yang diberikan, membuat Menteri Pendidikan UK mencontoh kurikulum yamg diterapkan di Korea Selatan tersebut.

Tentu ada pengorbanan yang harus ditempuh untuk semua itu.

Angka statistik kematian penduduk di bawah usia 40 tahun yang disebabkan karena bunuh diri sangat tinggi, dan hal itu juga berkaitan dengan kompetisi dalam hal pendidikan dan pekerjaan. 

Menyikapi hal tersebut, Menteri Pendidikan Korea Selatan, Nam Soo Suh, membuat kebijakan baru dalam hal pendidikan, tujuannya untuk menyeimbangkan dan membuat orang-orang lebih bahagia. 

Prof. Juho Lee, Menteri Pendidkan yang sebelumnya menambahkan bahwa sudah saatnya mereformasi sistem pendidikan yang hanya berbasis pada hasil test, skor memang penting di masa Industrialisasi, tetapi sekarang sudah saatnya beralih pada kreativitas dan kapasitas sosial-emosional. 

Jika diibaratkan sakit, Korea Selatan sudah menemukan apa yang menyebabkannya sistem pendidikannya mengalami demam. 

Tidak berbeda jauh dengan di Korea Selatan, China juga menjadi salah satu negara yang penduduknya memberikan penekanan ekstrem pada investasi uang dan waktu dalam hal pendidikan. 

Antropologis dari Australian National University, Andrew Kipnis, mengatakan bahwa di China, orangtua dari kelas menengah lebih mementingkan dana untuk sekolah dibandingkan kesehatan anaknya. Tidak jarang mereka sampai terlilit hutang agar bisa menyekolahkan anaknya di luar negeri.

Anak-anak, bahkan sejak sekolah dasar, sudah mendapatkan pelajaran tambahan, semua itu untuk persiapan masuk universitas. 

India dan Indonesia adalah dua negara yang belakangan masuk ke dalam deretan negara yang titik berat pengeluaran terbesarnya ada pada investasi pendidikan. 

Rasanya, tidak jauh berbeda dengan di China atau Korea Selatan, di Indonesia pelan-pelan sistem pendidikannya seolah bergeser pada siapa yang mempunyai dana lebih dan waktu yang lebih banyak yang akan mendapatkan pelayanan pendidikan yang lebih baik. 

Itu baru sebagian kecil persoalan yang dianggap menyebabkan 'demam' belum lagi masalah kurikulum yang bergonta-ganti, atau implementasi kebijakan yang belum dapat terealisasi dan memberi hasil yang positif. 

Lalu, sekarang bergulir wacana tentang full day school. Meskipun sebenarnya beberapa sekolah swasta sudah menerapkan hal itu. 

Pertanyaannya bukan lagi apakah dengan menyekolahkan anak di sekolah mahal atau full day school akan menjamin kesuksesan hidupnya, tetapi apakah sistem pendidikan yang dienyam anak kita mampu melahirkan anak-anak pembelajar? 

Teringat obrolan dengan seorang rekan WNA. Dia bertanya bagaimana anak Indonesia bisa survive dalam persaingan global? 

Salah satu alasan dia bertanya begitu, "...they dont even know how to use public transport..."

Me  : "Why did you say so?"

R  : "Mereka seperti tinggal dalam gelembung, dari rumah diantar supir dengan mobil berpendingin, masuk private school, pulang atau les, kemana-mana diantar lagi. Even Japan kindergarten know how to deal with strangers or predators."

Me: "Well, ngga semua anak di Indonesia gitu sih, mungkin yang kamu liat di Jakarta sekarang yang seperti itu tapi ada juga yang nggak. 

Di Bandung, Semarang, Jogja beda lagi. I used to naik angkot saat sekolah, di Bandung sekarang banyak yang bike to school juga. When you doing your research here, you'll develop new point of view.." 

R : "Well, kalau in goverment school, yes i believe ada yang begitu, but they dont get much at public school, that's why your country develop so many private and religious based school. 

Mereka terlalu takut anaknya terkontaminasi pendidikan yang jelek dan terpapar ajaran agama yang berbeda. Mereka bikin pendidikan jadi eksklusif dan mahal."

Agak menohok sih, percakapan itu dengernya.

Saya juga memasukkan anak ke sekolah swasta salah satunya dengan alasan, kalau sekolah di negeri masih harus memberi pelajaran tambahan lain, misalnya bahasa Inggris, dan belum pede kalau harus ngajarin bab agama sendiri. 

Seperti bisa menangkap apa yang sedang saya pikirkan, dia berkata lagi. 

R: "See, you too..not confident to decide about homechooling your kids..kamu dibandingin ibu di pasar Sukumvit kemarin itu jauh lebih confident dia. Dia berani ambil keputusan ngajarin anaknya sambil dia jualan di pasar. Dia yakin anaknya bisa belajar banyak hal saat di pasar. 

Said that a mother is her childs first school in Islam, right. If your religion said so, you should be sure about that," katanya menyemangati. 

Ingatan saya melayang kembali saat melihat seorang ibu berjualan di tengah keramaian pasar sementara anaknya belajar membaca, rekan saya itu mewawancarainya. 

Saya mendengar penerjemah membahasakan kembali beberapa kalimatnya. 

"Kita tidak bisa berharap terlalu banyak pada pemerintah, sekolah, atau guru. Sebenarnya di mana saja anak kita bisa belajar, sekalipun kita memasukkannya ke sekolah yang bagus, kita tidak bisa memindah tangankan begitu saja nasib anak kita kepada mereka. 

Sudah tugas saya mengajarinya membaca, besok dia juga harus bisa berhitung, meskipun sederhana, dan hanya digunakan untuk melanjutkan pekerjaan saya berjualan di pasar." 

Anaknya mendongak ketika melihat ibunya diajak bercakap-cakap dengan seorang bule. Ia mendekati rekan saya, ikut mendengarkan percakapan dan sesekali ikut tersenyum sambil memerhatikan ibunya bercerita tentang keluarga mereka. 

Saat melihat sorot mata anak itu, saya percaya dia akan tumbuh menjadi seorang pembelajar, tanpa perlu pergi ke sekolah mahal atau full day school

Ada rasa ingin tahu yang besar dari sorot matanya, bukan tentang bagaimana ibunya menghasilkan uang, tetapi tentang bagaimana ibunya menjalani kehidupan. 

Tidak, rasanya saya tidak perlu berandai-andai menyekolahkan anak di tempat yang sempurna, karena pasti tidak ada, saya hanya perlu mengajari anak-anak untuk percaya bahwa ruang kelas bukan hanya di sekolah, tetapi pada hati yang terbuka pada tempat dan orang-orang di sekitarnya. 

Nia Nurdiansyah, Semarang 8 Agustus 2016

Sunday, October 8, 2017

Maliobro City Walk Sambil Mengenal Beda Sunblock dan Sunscreen


"Memang masih perlu ya, pakai sunblock pas jalan-jalan kalau kita sudah pakai baju tertutup dan kaos lengan panjang," tanya saya kepada teman jalan-jalan ke Malioboro beberapa minggu yang lalu. 

Apalagi ini mataharinya nggak panas-panas banget lho." tambah saya sambil melihat langit Jogja yang agak kelabu siang itu. Matahari juga kayaknya nggak nyorot-nyorot amat meskipun udara Jogja tetap kerasa sumuk. 

"Iyalah Sis kan kamu nggak bisa lihat gimana sinar UVA dan UVB bisa merusak kulit kita. Tahu-tahu aja nanti muka kita muncul flek-flek hitam gitu." 

"Kalau buat muka, aku sih memang selalu pakai pelindung," jawab saya masih aja ngeyel. "Minimal oles pelembab yang ada SPF-nya. Memang itu nggak cukup ya? Kulit tangan dan kaki juga harus?" 

"Dih, biarin ah kalau tau-tau pulang dari Jogja kulit kamu gosong." balas teman saya itu jengkel. 

Saya pun mengabaikannya dan berjalan menghampiri salah satu Andong yang mangkal di ruas Jalan Malioboro. 

"Pak, kalau mau muter-muter Malioboro sini pinten, Pak?" 

"Dari sini, ke kantor pos lalu Stasiun Tugu, 60 ribu Mbak, gimana?" jawab Bapak yang mengenakan kemeja lurik dan blankon itu.

"Saya cuma mau muter Malioboro aja, Pak. Dari sini, ke belakang Jl. Bhayangkara terus balik lagi ke sini." 

"Oh, kalau itu 35ribu, Mbak." 

Saya pun mengiyakan dan mengajak teman saya itu untuk segera naik ke Andong tapi dia menolak, "kamu aja, aku tak nunggu di perpus ya, lagi malas panasan. Nih, pake'o jangan ndablek." katanya sambil mengangsurkan sebuah botol biru ke tangan saya. Sementara ia balik berjalan menuju sebuah perpustakaan yang ada di ruas Jalan Malioboro. 

Sambil menikmati pemandangan di sisi kanan dan kiri Jalan Malioboro, saya iseng membuka tutup botol itu. Rasa malas langsung menghampiri lantaran ingat kalau lotion sunblock itu seringnya lengket dan susah sekali menyerap di kulit.




Iseng-iseng, saya pencet dan tuang sedikit dong lotion itu ke telapak tangan. Saya endus juga baunya. Hmmm, kok baunya seger ya. Coba oles dikit, ah. 

Coba di satu tangan dulu. Nanti biar bisa buat perbandingan. Satu tangan lagi saya tutupi lengan kaos yang memang panjang. 

Sambil oles-oles di punggung tangan. Eh, kok nyerapnya cepet amat. Nggak lengket lagi. 

Tapi beneran nih, bakal mencegah kulit saya dari sunburnt. Iseng dong, sambil lihat-lihat pemandangan, saya sengaja mengeluarkan tangan dari Andong biar kena sinar matahari langsung. 

Kita lihat, yang satu dilindungi sunblock, yang satunya pakai kain kaos. Kalau sampai beneran sunblock ini bisa menjaga dan melindungi kulit saya dari sengatan matahari, saya bakal rajin oles-oles sunblock deh. 

Dua puluh menit berlalu sudah, saya cukup menikmati city walk di Malioboro dengan menggunakan Andong. 


Ada beberapa tempat menarik yang saya lewati. Salah satunya Kampoeng Ketandan dan Pasar Beringharjo tapi karena saya cuma waktu sejam buat jalan-jalan di Malioboro jadi belum bisa eksplor. 

Turun dari Andong, saya hampiri teman saya di Perpus sambil ngadem. "Nih, barusan aku percobaan pakai sunblock yang kamu kasih," kata saya sambil menyodorkan kedua belah tangan saya kepadanya. 

Dia pun membuka salah satu punggung tangan yang tertutup kain kaos. Ada semburat kemerahan di punggung tangan tersebut. 

"Ini nggak diolesin, kan?" tanyanya. Coba liat bedanya dengan tanganmu yang sebelah." 

Saya langsung mengulurkan tangan satunya. Benar saja. Punggung tangan satunya kayaknya adem ayem aja. Malah kelihatan lembab. 

"Nah, ini bedanya pakai sunblock sama enggak." balasnya puas.

Hmmm langsung nggak enak hati sudah nggak menuruti perkataannya tadi. "Tapi aku tuh masih suka bingung lho bedanya sunblock sama sunscreen. Kasih tahu dong," rajuk saya biar dia nggak ngambek.

Teman saya itu pun menjelaskan bedanya.
Di rumah, saya mencoba mempraktekkan lagi eksperimen di Jogja. Satu tangan dioles sunblock, satunya hanya ditutupi kain kaos. 

Nah, habis saya jalan-jalan kira-kira selama dua puluh menitan dengan sengatan matahari yang lumayan terik, hasilnya tangan yang pakai sunblock sama sekali ngga terlihat memerah dan masih terasa lembab. Sementara tangan yang satu lagi tampak kemerahan.

Sunblock & Sunscreen

Sunscreen atau tabir surya, biasanya berupa lotion cair yang berfungsi sebagai penyaring sinar matahari. Kalau pakai sunscreen masih ada sebagian sinar matahari yang terserap oleh kulit. 

Tekstur sunscreen lebih tipis dan nggak akan terlihat mata saat diaplikasikan. 

Kalau sunblock mengandung mineral seperti zinc oxide atau titanium dioxide yang membangun lapisan di atas permukaan kulit, berfungsi sebagai dinding penghalang kulit dari sinar matahari. 

Tekstur sunblock lebih kental, berwarna putih susu, dan dapat terlihat jelas oleh mata. 

"Kalau kamu bakal beraktivitas berjam-jam di bawah sengatan matahari, seperti berenang atau bermain di pantai. Atau kayak sekarang ini, saranku pakailah sunblock." jelas teman saya itu. 

"Oke. Terus tadi kamu bilang soal UVA sama UVB, itu apa bedanya sih?"

UVA dan UVB apa bedanya?

Itu istilah yang mengacu pada Broad Spectrum. Ada dua tipe sinar matahari: UVA dan UVB. Huruf A pada UVA berarti ”Aging” (penuaan) dan B pada UVB artinya “Burning” (pembakaran).

Tabir surya idealnya nggak cuma mengandung UVB saja. Tapi juga memiliki perlindungan dari kedua sinar UV baik A maupun B.

Satu lagi biar lengkap, ada juga istilah SPF singkatan dari Sun Protection Factor. Kan suka ada angkanya tuh. Nah, angka SPF adalah penentu seberapa lama kamu bisa aman berada di bawah sinar matahari tanpa terbakar selama memakai produk tersebut.

Misalnya gini kalau kita membutuhkan waktu sekitar 15 menit sampai kulit mulai terbakar matahari tanpa dilindungi apapun, dan kamu pakai m SPF 10, produk tersebut akan memperpanjang waktu kamu hingga 10 kali lipat lebih lama sebelum terbakar, atau 15×10 menit = 150 menit alias 2,5 jam.

Kalau kulit kamu biasanya terbakar matahari dalam 10 menit jika tidak pakai krim pelindung, dan kalau kamu pakai SPF 30, maka krim akan melindungi dari paparan matahari selama 300 menit.

Semakin tinggi angka SPF tidak mengindikasikan seberapa kuat perlindungan yang disediakan oleh produk tersebut. SPF10 melindungi dari terik matahari sama baiknya dengan SPF15 atau SPF50 sekalipun. Tingkat SPF tinggi akan memblokir lebih banyak UVB, namun tidak menyediakan 100% proteksi dari risiko kulit terbakar.

"Terus jadi gimana dong, nggak perlu pakai yang tinggi-tinggi kayak gini?"

Nggak gitu juga karena produk ber-SPF tinggi mampu memberikan perlindungan lebih baik dari risiko kerusakan kulit jangka panjang, seperti kanker kulit.

Kalau tingkat SPF kecil kamu harus sering mengaplikasikan ulang. Nah, karena aku tau kamu orangnya malas makanya kukasih yang SPF tinggi.

Oya, kamu juga mesti tahu kalau produk pelindung matahari, baik itu tabir surya atau sunblock, gampang terbilas air. Terus kalau aplikasinya nggak rata atau nggak cukup sering juga dapat mengurangi efektivitasnya.

Jadi berapapun tingkat SPF, gunakan ulang secara merata baik setelah jangka waktunya habis, atau segera setelah selesai berenang atau berkeringat.

Nah, masih mau bandel travelling atau jalan-jalan di bawah terik matahari tanpa sunblock?


Thursday, September 28, 2017

Seminar Bisnis Yang Bikin Nangis



Tanggal 19 Agustus 2017 saya catat sebagai pertama kalinya saya menangis di acara seminar bisnis. Ini bukan sekadar berkaca-kaca, tapi menangis yang sampai saya harus meninggalkan ruangan karena tiba-tiba isakan saya mulai mengundang pandangan orang lain di kiri, kanan, dan depan.

Saya keluar ruangan bukan karena malu mata dan wajah saya basah, tetapi karena harus mengendalikan diri. 

Di kamar mandi, saya menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya ke cermin, dan berkata: "mereka dikirim Tuhan untuk mendetoksifikasi racun-racun di otakmu, melegakan hatimu," 

Saya percaya salah satu tujuan manusia diberi Tuhan kemampuan menangis adalah untuk itu. 

Menangis di sebuah seminar bisnis adalah sesuatu yang nyaris baru buat saya, bahkan bisa dikatakan pertama kalinya. Jadi Mbak-Mbak penggagas tema arisan link blog periode 12 kali ini, yang temanya yang pertama-pertama itu, dan pemirsa sekalian sepertinya bakal kecewa kalau berharap postinganku tentang malam pertama, cinta pertama, dll hahaha. 

Terima kasih ya, Mba Marita dan Mba Dini akhirnya tulisanku yang ini bisa naik karena disambung-sambungin sama tema yang sekarang. 

Balik ke topik. 

Dua sosok pembicara yang duduk di depan panggung bukan sedang membetot otot kewirausahaan saya, tetapi sedang menyorot lubang tersembunyi di hati dengan penerangan setara lampu LED 20 Watt. Saking terangnya, saya bisa memaknai beberapa hal yang nggak terlihat sebelumnya. 


Saya akan cerita sedikit soal mereka sebelum membuat daftar pendek tentang pelajaran hidup yang bisa saya ambil dari seminar itu. 

Keduanya bukan siapa-siapa. So? Masih harus diterusin baca postingan ini, nih. 

Ini adalah sebuah premis yang akan terjadi di belahan dunia manapun. 

Saya kasih contoh ya, ketika kalian ketemu seseorang yang tidak kalian kenal, tidak terkenal, dan bukan siapa-siapa kemudian orang itu memakai pakaian dari irisan tipis daging sashimi yang ditempel satu persatu ke tubuhnya, kepalanya ditutupi topi caping petani yang ditumbuhi rumput sungguhan, alas kakinya bakiak berhak sepuluh sentimeter dengan ukiran ular, apa komentar dan pikiran kalian? 

Orang gila! Wong gendeng! 

Sebentar. 

Tapi jika sosok dengan penampilan kayak Wong Gendeng itu ternyata adalah Lady Gaga, penyanyi internasional yang tersohor. Komentar akan terbagi ke beberapa kubu dan bahkan bergeser menjadi : Gayanya unik, out of the box, cutting edge, blablabla. Nggak menutup kemungkinan akan ada yang tetep bilang Wong Gendeng juga, sih. 

Tapi itulah kita. Kita selalu terpenjara oleh siapa yang berkata atau mengatakan sesuatu, bukan pada esensi cerita atau maknanya. Kalau ada dua orang bicara tentang hukum mencuri, yang satu mantan maling yang satu ustad, kalian akan lebih mendengarkan siapa? 

Itulah. 

Padahal, seringkali pelajaran penting dalam hidup datang dari bukan siapa-siapa dan kita mengabaikannya lantaran bukan siapa-siapanya itu. 

Kembali ke dua sosok 'bukan siapa-siapa' yang duduk di hadapan panggung tadi. 

Yang satu adalah seorang pemuda, masih duapuluhan sekian. Beberapa minggu sebelumnya, saat momen lebaran, ia mengalami kecelakaan. Kakinya tergilas truk hingga hancur dan harus diamputasi. 

Saat semua orang berbahagia di hari kemenangan dan merasa suci kembali karena dosa-dosa yang hilang dilebur puasa selama sebulan, pemuda ini kehilangan salah satu tumpuan hidupnya. 

Ia terpuruk selama beberapa minggu. Membeli kaki palsu seharga puluhan juta untuk menggantikan salah satu penumpu tubuhnya, tetapi kaki palsu itu membuat kulitnya panas, gatal, berat dan tak nyaman untuk berjalan. 

Pemuda itu lalu berkreasi dengan barang-barang bekas yang ada di sekitarnya. Ember plastik bekas cat, pipa paralon, dll. Dan jadilah sebuah kaki palsu yang kalau dikalkulasi harganya tidak sampai dua juta. Dipakai jalan dan gerak nyaman, tidak panas atau bikin gatal. 

Pemuda itu lalu membuatkan kaki palsu secara cuma-cuma untuk para penyandang disabilitas lainnya yang membutuhkan dan punya pengalaman serupa dengannya. 

"Saya bersyukur karena kecelakaan itu mengubah hidup saya. Sekarang saya tahu harus berbuat apa untuk orang lain..." 

Entah sampai di cerita ini kalian akan terharu atau tidak, tetapi pada waktu itu, ketika ia mengucapkan kalimat tersebut hati saya seperti ditusuk-tusuk. 

Kala itu, saya masih bisa menulis di atas selembar kertas : "kita sering merasa hidup dan diri kita sudah baik sehingga tidak pernah berbuat lebih untuk diri sendiri, apalagi orang lain..." 

Saat menuliskan itu, saya ingat kebodohan-kebodohan diri sendiri yang sering taken for granted terhadap apa saja. Tercermin dari, misalnya begitu gampang saya melabeli sesuatu meski cuma dalam hati saja.

Misalnya karena merasa nggak pernah berbuat dosa maka rasanya gampang banget komen atau nyinyir saat di linimasa ada kasus pasutri bawa lari uang jamaah. Atau kasus-kasus heboh lainnya. 

Atau karena merasa ibadah diri udah sempurna gampang saja nunjuk kelompok lain sesat, dan sebagainya. Itu contoh melabeli yang saya maksud. Ini benar, itu salah. Itu nggak gue banget, deh. Dih, masak gitu aja nggak bisa. Dan seterusnya. Sila tambah sendiri. 

Taken for granted adalah penyakit kaum mediocre, batin saya ngece diri sendiri. Karena merasa nggak pernah bikin salah, merasa ada di tengah-tengah, merasa dalam kondisi baik-baik dalam segala aspek, lupa kalau suatu saat posisi kita bisa bergeser ke kiri atau kanan. 

Kalau suatu saat posisi kita bergeser, masihkah mampu memaknai cobaan sebagai cara Tuhan menjadikan kita orang yang lebih baik?

Karena yang diperhitungkan bukan soal siapa kita sekarang, tetapi siapa kita pada akhirnya. 

Itu life lesson yang saya dapat dari pemuda yang kakinya diamputasi tersebut. 

Narasumber yang satu lagi, Mas Agung namanya. Agung Nekatzz julukannya. Selama bertahun-tahun ia hidup taken for granted. Menyia-nyiakan usia dengan mabuk, mencuri, molimo kalau kata orang Jawa. Hingga kemudian karena kebiasaannya mabuk, overdosis, livernya rusak dan ia nyaris mati saat dibawa ke rumah sakit. 

Saat ia dibaringkan di ranjang rumah sakit, teman sekamarnya sakaratul maut. Sesosok tubuh kaku kemudian ditutupi kain putih, jasadnya didorong keluar kamar. Mas Agung pun sendirian di bangsal karena istrinya juga enggan menemani lantaran takut. 

Setiap malam, di tengah tidur dan terjaga, sadar dan pingsan, Mas Agung mendengar seseorang di ranjang sebelah berujar, 
"Irupmu ki rak ono gunane...kamu manusia sia-sia. Kamu mati ajalah karena hidupmu nggak punya arti apa-apa!" 

Tiap malam, secara berulang-ulang Mas Agung mendengar ujaran itu. Hingga kepedihan kata-kata itu merasuki tubuhnya, dan menjadi semacam kekuatan untuk bangun. 

Ketika pada akhirnya Mas Agung pulih, ia pun bangun menjadi pribadi yang berbeda. Ia membuktikan diri dengan menjadi lebih baik meski saat ini ia menjadi penyandang disabilitas karena kakinya harus diamputasi lantaran penyakit diabetes yang dideritanya. 

Sampai sini, kalian dan orang-orang terdekat Mas Agung mungkin nggak akan percaya perubahan apa yang bisa dia lakukan buat dirinya sendiri bahkan untuk orang lain. Wong Molimo arep gawe opo? 

"Saya sadar, kalau saya yang dulu duduk di hadapan Anda semua, pasti tidak akan ada yang mau mendengarkan bahkan melihat kepada saya."

Waktu itu saya masih sebatas berkaca-kaca saja saat mendengar kisahnya, namun ketika ia membeberkan apa saja yang sudah ia lakukan untuk anak-anak di lingkungan sekitarnya, air mata saya tidak bisa dibendung lagi. 

Pelajaran budi pekerti dan agama di hari Jumat. Baca tulis dan Bahasa Inggris di hari Sabtu. Semua itu untuk anak-anak di lingkungan tempat ia tinggal. 

Ia mendirikan Trashure. Mengolah sampah dan barang bekas jadi kerajinan tangan dan barang-barang bernilai seni dan ekonomi. Melatih penyandang disabilitas dengan seni kriya. Memberdayakan remaja lokal dalam Komunitas Harapan. 


Saya nyaris terisak lebih keras saat nyadar jadi manusia paling merugi di dunia. 

"Ini cuma soal momentum saja. Kalian nggak butuh motivator atau ustad yang menyuruh kalian untuk menjadi lebih baik. Kalau kalian merasa sekarang saatnya, jadilah!"

Pernah liat tanaman sukulen? Kita cukup meletakkan daunnya di tanah, dan dari daun yang lama kelamaan mengering dan mati itu akan muncul tunas sukulen baru. 

Selagi masih ada waktu. Kita punya kesempatan yang sama untuk jadi lebih baik. 

Kita yang merasa cukup, baik, bahkan dinilai sempurna oleh orang lain. 

Kita yang pernah berbuat salah bahkan merasa menjadi pendosa. 






Friday, September 22, 2017

Aplikasi Yang Mendukungku Ngeblog dari Ponsel


Banyak yang suka nggak percaya kalau beberapa tulisan di blog ini adalah hasil ngetik menggunakan ponsel. Malahan pernah saat ada lomba blog bertema travel yang tengat waktunya mepet banget juga saya kerjakan pakai ponsel ini. 

Ada beberapa pertimbangan kenapa saya memilih mengunggah tulisan ke blog via ponsel. 

Sebagian besar ide-ide tulisan atau penggalan kalimat lebih sering saya tulis di aplikasi notes yang ada di ponsel. Setiap kali terlintas suatu ide atau ada kata-kata yang harus saya catat, paling gampang memang buka ponsel. Jadi rasanya lebih praktis mindah-mindahnya kalau nulis versi panjangnya juga pakai ponsel.

Dulu saya notebook mania, kemana-mana bawa buku notes, terus nanti kalau ada ide langsung coret-coret di kertas. Saat mau mindah baru buka laptop, dan mengetik ulang semua di sana. 

Kadang mikir, kayaknya kok kurang praktis, ya. Tapi cara begini juga punya keuntungan, yaitu nggak memakan memori ponsel dan risiko hilang atau terhapusnya lebih kecil, kecuali bukunya hilang, ya. 

Cuma semenjak jarang kerja pake laptop, kecuali untuk desain dan bikin laporan nan panjang, lebih suka mengandalkan dan memaksimalkan fitur dan aplikasi yang ada di ponsel buat mendukung pekerjaan menulis atau blogging. 

Kelebihannya ya karena praktis dan bisa dikerjakan dalam langkah-langkah yang lebih pendek. Kekurangannya, buat yang matanya minus harus benar-benar bisa mengatur penggunaan ponsel buat nulis panjang. Juga memerhatikan faktor pencahayaan di ruangan. 

Apa saja aplikasi dan fitur yang saya pakai selama ngeblog pakai ponsel: 

WPS Office.

Meskipun jika membuka dashboard blogger(dot)com langsung dari chrome atau browser saya bisa langsung ngetik di new post, tapi ada kalanya aplikasi ini saya gunakan. Alasannya supaya tulisan punya backup dan tersimpan dalam folder 'blogpost'. 

Nanti setelah tulisan selesai diketik, saya tinggal copy paste saja ke dashboard blogger dan dirapikan formatnya. Keuntungan pakai WPS Office, ada fitur word count dan proses editing lebih cepat. Meskipun saat dipindah ke blogpost seringnya harus diedit ulang. Tapi buat kamu yang pingin aman dan punya data backup, gunakan WPS Office ini. 

Notes.

Ribet sama WPS Office, pakailah fitur notes bawaan ponsel masing-masing. Biasanya kalau napas nulisnya pendek-pendek dan dimulai dari ide-ide random yang sedikit tapi bertebaran, saya pakai aplikasi notes bawaan ponsel. 

Lagi baca buku, ada kutipan menarik langsung saya tulis ulang di notes. Nanti kalau mau dipakai buat tulisan di blog tinggal salin dan tempel. 

Picsart. 

Nah, untuk urusan konten foto yang akan naik di blogpost atau akun sosmed lain, Picsart jadi salah satu andalan saya. Dulu waktu ngetik pakai tab, saya juga menggunakan Snapseed, tapi buat di ponsel saat ini cukuplah pakai Picsart. 

Nggak usah kuatir ukuran fotonya jadi kebesaran karena di aplikasi ini kita bisa mengubah ukuran foto yang akan diunggah. Selain itu, fitur adjustment untuk brightness dll sudah cukup bagus untuk editing sederhana. Mau pasang watermark, shapping, cropping juga bisa. 

Typorama.

Buat bikin cover atau head title yang menarik saya pakai aplikasi ini. Sayangnya aplikasi ini belum kompatibel sama Android dan cuma bisa diakses pake ios. Thanks to my old iPhone, hehehe yang masih berguna untuk aplikasi-aplikasi semacam ini. 

Whatsapp, Twitter, dan Pinterest.

Tiga aplikasi terakhir ini must have buat memperlancar urusan blogging. Kalau nggak ada WA, gimana coba mau ngocok arisan link dan saling nginfo tentang tema tulisan, dll. Thanks to WA yang mempermudah pertukaran informasi di antara seluruh member Gandjel Rel. 

Seperti sekarang, tema yang digulirkan oleh Mba Rahma dan Nyi Penengah ini sudah sampai ke periode 11 lho. 

Kalau Twitter dan Pinterest itu sumber tempat mencari ide-ide keren buat nulis. Dengan Twitter, saya belajar memadatkan kata-kata. Pinterest membantu saya yang tipe visual buat menghidupkan ide-ide lewat gambar. 

Nah, gara-gara tulisan bertema aplikasi yang mendukung ngeblog inu, saya juga bisa bertukar ilmu dengan peserta arisan link yang lain. Nggak sabar buat berkunjung ke blog masing-masing jadinya. 

Glamping dengan 'Tenda' Kontainer Di Tepi Sungai Citumang.


Pernah nggak berkunjung ke suatu tempat, dan setelah pulang dari sana, pikiran kalian benar-benar nggak bisa move on dari tempat itu karena tersihir oleh keindahannya? 

Saya yakin sih, beberapa dari kalian pernah merasakan hal itu. 

Nah, kalau cerita 'nggak bisa move on' versi saya ini awalnya terjadi karena sebelum pergi ke tempat itu saya kayak meng-underestimate gitu. 

'Ahh, beneran nih, ada sungai yang airnya sejernih dan sebiru itu? Yakin ini bukan karena aplikasi filter foto?'


Kalau inget pernah membatin kayak gitu, jadi ngerasa kualat karena sekarang jadi kangen banget sama tempat dengan sungai berwarna toska beneran itu. 

Lebih kangen lagi karena di sanalah saya ketemu teman-teman travel blogger dari berbagai daerah dan merasakan pengalaman glamping dengan 'tenda' berbentuk kontainer yang ditata senyaman hotel berbintang. 

Saya bakal nulis beberapa poin kenapa saya ngga bisa move on dari tempat tersebut, tapi sebelumnya saya bakal kenalin dulu di manakah tempat ini berada dan bagaimana saya bisa sampai ke sana. 

Kurun waktu 2013-2015 saya beberapa kali berkunjung ke daerah ini bersama keluarga, tepatnya ke Pangandaran, tempat beberapa saudara dan kerabat tinggal. 

Dari mereka sudah banyak cerita tentang lokasi wisata yang nge-hits tapi masih sangat terjaga kecantikkannya di daerah sana; Pantai Pasir Putih, Batu Karas, Cukang Taneuh atau Green Canyon. 

Belum ada yang bercerita kepada saya soal Sungai Citumang, kecuali seorang ibu penjual kelapa dari Cibenda yang sempat berkisah tentang sebuah sungai yang kalau pas musim kemarau, airnya jadi biru dan jernih banget, juga ada air terjun tersembunyi di tengah-tengah hutan, tempat bidadari-bidadari dari kayangan numpang mandi di telaganya. 

'Pokona mah, Eneng harus kesana suatu hari nanti!' 
Aamiin. Balas saya beberapa tahun yang lalu. 

Kisah ibu itu terasa mahiwal (red: tidak umum, Bhs. Sunda) bagi penduduk kota seperti saya yang kalau melihat sungai langsung suudzon airnya pasti keruh dan ada UFO (Objek tidak dikenal yang melayang-layang) di dalamnya. 

Obrolan itu pun terlupakan seiring waktu. Sampai suatu ketika saya di-DM via Instagram oleh @bangaswi bahwa saya terpilih untuk ikut serta dalam kegiatan Blogger Gathering di HAU Citumang. 

Waktu itu saya sebenarnya sedang persiapan untuk pergi ke suatu tempat juga, dan kalau dari perhitungan waktu kayaknya saya nggak bakalan bisa bergabung acara gathering itu. 

Singkat kata, kalau Yang Diatas sudah menggariskan datang ke suatu tempat semuanya jadi dipermudah. Ternyata tiket pulang ke tanah air bisa dimajukan tanpa kena biaya apa-apa dan aktivitas saya di sana selesai lebih cepat. 

HAU Citumang...Aku Datang! 

Sebelum perjalanan dimulai saya browsing-browsing dan kepoin gambar-gambar pemandangan dan suasana di HAU Citumang dari Instagram-nya @hau.citumang rasanya antara takjub, underestimate, sama nggak percaya tempat seindah itu beneran ada. 

Cuma di hati kecil ada suara yang bilang kalau tempat ini adalah tempat yang sama yang diceritain ibu penjual kelapa. Jadi tempat ini bukan khayalan dong! 

Hari H pun tiba. Kalau tahu bakal ikutan acara Blogger Gathering ini saya milih stay di rumah Bandung aja biar nggak kayak setrikaan. 

Jadi dari rumah tinggal ke Stasiun Kiaracondong buat naik Kereta Pasundan dan turun di Stasiun Banjar baru lanjut ke daerah Citumang menggunakan mobil elf. 

Tapi karena mesti ke Semarang dulu, jadi rute yang saya tempuh adalah: 
  1. Semarang ke Jogja via travel Joglosemar. Travel berangkat jam 07.00 sampai di Jogja jam 10.00
  2. Pool travel di Jalan Magelang KM.7 ke Stasiun Lempuyangan by Gojek. Perjalanan kurang lebih 10 menit. 
  3. Stasiun Lempuyangan ke Stasiun Banjar via KA Pasundan. Kereta berangkat pukul 14.10 dan sampai di Stasiun Banjar pukul 18:29. 
  4. Stasiun Banjar ke Citumang, perjalanan dengan mobil elf sekitar dua jam. 

Kayak setrikaan yah, tapi Alhamdulillah jalan yang 'disetrika' mulus semua. Jam setengah sepuluh malam rombongan sampai di HAU Citumang, tepatnya di Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Dusun Sukamanah Pangandaran. 

Keramahan tempat ini langsung terasa karena begitu datang kita langsung disambut ayam goreng dan sambal kecap honje  udara yang sejuk dan semilir angin yang mengantarkan suara gemerisik daun dari pepohonan di sekitarnya. 

Teh Dani dari pihak HAU Citumang dengan senyum ramahnya yang khas langsung menyambut dan mempersilakan kami santap malam. 

Kayaknya nggak ada yang berdalih ngantuk deh, waktu melihat sajian hidangan berupa ayam kampung goreng, nasi liwet, lengkap dengan tumisan sayur, kerupuk, sambal terasi dan sambal kecap honje serta lalapan. Semua asyik menikmati makan malam sebelum glamping dimulai. 

Glamping Di 'Tenda' Kontainer. 

Selesai makan malam, kami nggak perlu susah payah mendirikan tenda dulu karena tempat menginap kami adalah di dalam boks kontainer. Kunci-kunci dibagikan dan masing-masing peserta bersiap dikirim ke dengan kapal ke beberapa benua alam mimpi. 

Please jangan dibayangin kalau di dalam kontainer itu pengap dan panas karena kalian bakal kecewa. 

Begitu buka pintu...traalalala; satu buah ranjang untuk dua orang plus satu ranjang tambahan yang ditata rapi terlihat sangat mengundang kami untuk segera merebahkan punggung. 

Pesawat televisi dengan channel-channel pilihan tersedia tepat di bagian atas depan ranjang. Pendingin udara, yang kayaknya nggak perlu dinyalakan karena udara malam itu sudah cukup sejuk, terpasang rapi di salah satu bagian dinding. Kamar mandi dengan pancuran air dingin dan panas yang kucurannya siap menjadi tenaga pemijat bagi pungung-punggung yang pegal karena perjalanan yang cukup jauh juga tinggal dipencet saja. 

Duh, jadi udah nggak bisa ngebayangin isi bagian dalam kontainer yang sebenarnya deh, (belum pernah masuk juga, sih) karena kamar 'hotel' ini luar biasa memanjakan mata dan mengademkan perasaan. Kalau dibilang ini 'kemah' termewah rasanya nggak berlebihan juga.

Suasana di sekitar kontainer

Ada sepuluh kontainer di lokasi HAU Citumang, warnanya juga beda-beda dan desain atau tulisan di dinding atas ranjangnya pun beda-beda, tergantung mood mau yang mana. Yang pasti sih, semua instagramable.

Jadi jangan buru-buru gogoleran kalau nginep di sini. Selfie atau wefie dulu barang sekali dua kali mah nggak dosa, sebelum selimut-selimut yang nyaman tergulung dan kasur jadi berantakan karena kamu mager nggak mau bangun dari sana. 

Tapi magernya juga jangan kelamaan, rugi pisan kalau kamu nggak meluangkan waktu buat menjelajahi area HAU Citumang ini.

Sayang banget kan kalau kamu lewatkan spot-spot ini. 

Coba deh, bangun agak pagian, terus berdiri di balkon kamar kontainer sambil membuka seluruh panca indera. Kamu bakal mendengar gemericik suara air, kerisik dedaunan, dan cuitan suara burung.

Kamu juga bakal mencium aroma sungai yang jernih dan udara pagi yang bersih. Mata kamu bakal dimanjakan biru dan jernihnya air sungai, dan hijaunya lingkungan. Kamu bisa merasakan tetesan embun dari dedaunan di sekitar HAU dengan ujung jarimu, dan hangatnya matahari pagi yang menerpa kulitmu.

Saking semangatnya setiap jam makan tiba, suka lupa mengabadikan foto-foto makanannya. 

Saat sarapan tiba, lidah kamu bakal dikejutkan dengan cita rasa nasi goreng cikur yang bikin lidah penasaran. Kerupuk, sambal kecap honje khas penduduk lokal, ayam atau ikan gorengnya, semua bercita rasa alami. Kelezatannya jadi terasa berlipat karena merupakan ayam kampung lokal dan ikannya hasil budidaya sendiri. 

Semua pengalaman glamping itu bisa kalian dapatkan dengan harga per kontainer untuk tiga orang mulai dari 750k untuk weekdays dan 1juta-an untuk akhir pekan. 

Kalau tertarik untuk merasakan momen glamping tersebut, kalian bisa mengontak narahubung di bawah ini atau memesannya lewat aplikasi Traveloka. 

Narahubung HAU Citumang : 
Pak Erry 0813 2012 0999

Menggedepankan Konsep Ecotourism. 

Apa sih, yang beda dari menginap ala glamping di HAU Citumang ini sampai-sampai saya belum bisa move on

Pertama, karena saya termasuk orang yang peka sama pancaran energi sekitar, saya langsung bisa ngerasain banget kalau aliran chi tempat ini bagus banget. 

Padahal kalau yang pernah denger cerita orang-orang lokal katanya daerah Citumang itu banyak unsur gaibnya. Meskipun memang semua tempat itu pasti ada aja kan cerita gaibnya. 

Ngomong-ngomong cerita misteri coba tanya @kang.geri soal kisah perempuan berbaju putih di Stasiun Banjar atau sama Mas @nuzulularifin biasanya beliau suka punya cerita di balik layar. 

Tapi kalau ((sepenerawangan)) saya, lokasi HAU Citumang ini 'bersih' malah energinya bisa mengembalikan mood yang lesu jadi up lagi. Jadi, memang pas banget kalau berlibur ke sini dengan tujuan mengembalikan stamina mental. 

Setelah menelusuri kawasan seluas 4000 meter persegi tersebut, saya simpulkan kalau area resort di HAU Citumang ini memang sangat bersahabat dengan alam dan lingkungan sekitar.


Semua pohon-pohon di lingkungan HAU Citumang dijaga dan dihargai sebagai 'pribadi'. Terbukti dari pemberian papan nama di masing-masing pohon. Biar pengunjung jadi kenal dan sayang sama mereka.

Baru tahu kan ada pohon namanya Mara.
Atau Kopo itu ternyata nama pohon. 

Percaya nggak, untuk membangun resort tersebut hanya ada lima pohon yang ditebang, itu pun dengan alasan keamanan dan dengan pertimbangan yang panjang.

Bahkan ada dua pohon yang ditebang diam-diam tanpa persetujuan Pak Hendra, owner naturalis yang sangat concern pada lingkungan hidup.

Eh, si pohon itu kemudian dikubur tapi jadi ketahuan sama owner karena suatu hari muncul tunas pohon itu dari dalam tanah. 

Timbal balik rasa sayang dan menghormati lingkungan dari pemilik resort terhadap lingkungan diganjar energi alam yang seimbang, selaras, dan harmonis. Makanya orang-orang yang menginap di sini dengan mudah melepas beban pikiran dan stamina mentalnya membaik.  

Resor ini juga mengolah limbah sendiri dengan proses BIO, menanam kembali pohon-pohon dan tanaman langka, serta merawat aneka tumbuhan dan juga hewan. 

Filosofi HAU Citumang terletak pada kata 'HAU' yang merupakan singkatan dari How Are You dalam Bahasa Inggris. Atau 'Hauce' yang artinya bagus dalam Bahasa China dan 'Hawu' yang artinya dapur dalam Bahasa Sunda. 

Dapur merupakan jantungnya rumah, tempat kehangatan bermula. Dan konsep kehangatan tersebut berhasil dituangkan dalam konsep resort serta sikap para staf yang hangat dan ramah. 

Jadi sepulang dari sini dan ditanya How Are You? Saya pasti kasih jawaban bintang 4 dari 5. Untuk konsep glamping, nilai yang diberikan di atas standar.

Tentunya masih ada beberapa catatan untuk penyempurnaan, misalkan agar lebih kids dan family friendly

Aktivitas Di Seputar HAU Citumang 

Jadi kalau kalian menginap di sini apakah cuma buat mager aja? Oh, tentu tidak. Ada beberapa aktivitas yang bisa kamu lakukan di sini, yaitu: 
  1. Body Rafting di Green Valley dengan biaya sekitar 125k termasuk paket makan siang dan dokumentasi kegiatan. 
  2. Fish Theraphy di kolam ikan nilam yang bakal dengan rakus mengkerikiti kulit mati kalian (termasuk paket body rafting) 
  3. Masuk ke dalam Goa Kalinumpang dan lompat dari dinding akar setinggi 7 meter. (Ya, empat atau tiga meter boleh lah buat pemula) 
  4. Menjajal level adrenalin dengan lompat dari tangga tali setinggi 12 meter (saat body rafting)
  5. Pura-pura jadi Tarzan yang mengejar Jane, atau sebaliknya, dengan berayun di tali kemudian nyebur ke sungai yang berwarna toska (saat body rafting)
  6. Mengarungi jeram-jeram Sungai Green Valley dengan badan sendiri atau bikin kekeretaan bersama rombongan (saat body rafting)
  7. Trekking di Hutan untuk menemukan air terjun tersembunyi tempat mandi para bidadari. Jangan lupa bekal baju renang ya karena nggak mungkin kalian tahan godaan air yang biru nan jernih itu kecuali tahan gigit jari dan memendam penyesalan saat sudah pulang. 
    Saya lagi ngikutin bidadari berselendang putih @dian_ismyama yang udah kepanasan pengin berendam di sungai. 

    Bidadari @atanasiarian yang bimbang apakah mau nyemplung atau sekadar mengabadikan keindahan sungai seperti bidadari @alaikaabdullah
  8. Selfie sepuasnya di area resort. Banyak sekali spot instagramable di area ini. Jadi kalau kalian mau nyetok konten atau foto yang keren-keren di sinilah temptanya. 
  9. Bercengkarama dengan teman dan keluarga berkat sinyal yang timbul tenggelam. Nggak ada pilihan yang lebih menarik selain ngobrol di area ini. Gorengan mana gorengan? 
  10. Mandi di sungai nan jernih dan menyalurkan ke-halu-an dengan pura-pura jadi bidadari yang turun dari kayangan.
  11. Bidadari-bidadari pemburu sinyal dan pengumpul konten foto. 
  12. Menyalurkan ke-halu-an dengan pura-pura jadi Jaka Tarub yang mencuri selendang para bidadari. 
  13. Sebagian penampakan Jaka Tarub yang berhasil di tangkap kamera tim pemburu hantu
  14. Duh, kamu nggak bakal kehabisan ide kegiatan deh, kalau di sini. Sok kalau mau nambahin daftarnya karena di daftar saya masih ada beberapa hal yang bakal saya lakukan kalau balik lagi ke sini salah duanya : nyicipin kuliner lokal kayak rujak dan loteknya, dan ngajak becanda Mang Ajum, pemandu rafting kami yang mukanya lempeng alias datar pisan saat becanda maupun serius sampai-sampai saat dia becanda "Jangan motret pakai pelampung ya," semua peserta nggak ada yang ngeh kalau maksudnya bercanda. "Ya iyalah Mang, motret mah pake kamera atau hape. Bukan pake pelampung." We miss you, Mang!  













Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...