Monday, February 20, 2017

Bulu-Bulu Yang Berterbangan

Ini cerita tentang 'berbagi sesuatu'.

Beberapa waktu lalu, di sore yang terik dan bikin kerongkongan kering, saya jajan sejenis pencuci mulut yang dijual di pinggir jalan. Singkat cerita setelah nyaris menandaskan semangkuk pencuci mulut nan segar, kegiatan menyeruput saya terhenti karena mendapati sesuatu yang menyerupai ulat kecil nan imut sedang asyik kecipak-kecipuk di kuah santan yang tadi saya seruput. 

Duh, ngapain kamu berenang di mari, ganggu aja. Sambil menyingkirkan si ulat imut itu saya pun menelisik isi mangkuk. Ternyata ada lagi temannya si Ucil, yang tampaknya sudah sugar coma, sebab perutnya sudah penuh oleh kuah yang manis. Karena menemukan lebih dari dua Ucil, kegiatan menyeruput kuah pun saya hentikan. Apalagi Ucil-Ucil ini tampak makin menyerupai Bilatung. Sambil agak bergidik kecewa karena kegiatan menuntaskan dahaga nggak paripurna, saya pun berharap pencernaan saya baik-baik saja. 

Selesai membayar dan beranjak dari tempat itu, saya kasak-kusuk sama Pak Suami. "Gimana tadi enak minumannya, ada yang aneh-aneh ngga?"  

Dan dijawab dengan gelengan. "Lumayan kok, seger." Terbukti juga sih, dari isi mangkuknya yang tandas tanpa sisa. 

"Punyaku tadi agak aneh, kayaknya ada salah satu bahan yang udah asem, jadi kayak ada ulet-uletnya gitu." tambah saya. Tadinya saya mau bilang 'besok-besok ngga usah jajan di sana lagi, deh'. Namun, tiba-tiba saya ingat tentang kisah 'Bulu-Bulu Yang Berterbangan' dan mengurungkan niat.

Beberapa waktu kemudian. Ada teman yang mengajak untuk ngiras di situ lagi. Padahal sudah janji sama diri sendiri buat ngga jajan di situ lagi, tapi si teman agak maksa. Waktu mau berbagi pengalaman makan di sana, saya kembali teringat dengan kisah 'Bulu-Bulu Yang Berterbangan'.

"Kamu udah sering makan di sana? Enak ya?" tanya saya, dan dijawab dengan anggukan dan rekomendasi positif. 

Oh oke. Di dalam diri mulai ada pertentangan dan keraguan.
Kasih kesempatan sekali lagi coba, batin saya. Karena kebenaran itu kan harus diuji dulu. 

Saya pun memesan menu yang sama. Sebelum asyik menyeruput, saya cermati dulu semua komponen yang ada di dalam mangkuk, sambil sesekali menghirup aromanya. Kalau-kalau ada yang tidak biasa. Setelah radar mengatakan aman, baru saya mulai makan. 

Sampai suapan terakhir, alhamdulillah semuanya aman. Saya lirik si teman, dia pun sama. Dasar mangkuknya kosong dan berkilat. Hati ini agak legaan. 

Coba kalau tadi saya langsung mengatakan: jangan makan di situ, makanannya basi! bla bla bla, dan si teman percaya lalu memviralkan, kira-kira masihkah ada yang datang ke lapak Si Bapak? Masihkah Si Bapak ini bisa menafkahi keluarganya? 

Meskipun pengalaman saya faktual, ada data yang bisa dipertanggungjawabkan, tetapi saya tidak punya wewenang untuk memukul rata bahwa semua produk jualan Si Bapak ini basi dan nggak layak jual. Mungkin saja kebetulan cuma punya saya yang asem dan ada Ucilnya karena satu atau dua komponen yang salah dalam bahan makanan atau proses memasaknya. Bisa juga karena faktor tempat yang terbuka, kebetulan ada lalat yang hinggap di salah satu bahan makanan yang disajikan kepada saya dan kebetulan si lalat ini membawa telur larva. Banyak kemungkinannya. 

Dan bagaimana kalau ternyata hari itu saya memang sedang ketiban ujian untuk menahan diri? Menahan diri untuk tidak buru-buru menghakimi sesuatu?
Image : modified from lifeandshape.org

Seandainya saya nggak ingat kisah tentang 'Bulu-Bulu Yang Berterbangan', mungkin saya lupa untuk menahan diri. 

Menyebarkan sesuatu itu seperti memburai isi bantal yang berisi bulu-bulu angsa ke udara. Kalau yang kita sebarkan kebohongan, memulihkan nama baik berarti mengumpulkan kembali bulu-bulu yang sudah berterbangan ke udara itu satu persatu.

Kamu sanggup?

Memilih Mainan Yang Tepat Untuk Anak Usia 0-3 Tahun


Ibu-ibu, pernah ngga waktu masuk ke toko mainan merasa bingung dengan mainan apa yang harus kita belikan untuk si kecil?

Saya sering. Memang sih, agak beda ceritanya kalau masuk ke toko mainan dan mengajak si kecil untuk memilih mainan yang menarik perhatiannya. Tapi cara seperti itu juga belum tentu menyelesaikan masalah lhoo. Kadang masalah baru yang muncul adalah baru beberapa hari di beli dari toko mainan, udah aja gitu mainannya ditinggal dan tidak dimainkan lagi. 

Kalau sudah begitu, letak kesalahannya dimana, ya? 

Kemarin waktu ikut ELC Parenting Club dengan tema memilih mainan yang tepat untuk anak usia 0-3 tahun, saya mendapatkan jawabannya. 

Kenapa anak bosan dengan mainan yang sudah kita belikan dan dipilihnya sendiri? 

Salah satu jawabannya adalah, mainan tersebut tidak lagi memiliki tantangan untuk dimainkan. Duh, main aja kok harus ada tantangannya segala sih. 

Ternyata pemilihan mainan juga harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan dan pertumbuhan anak. Spesifikasi mainannya harus sesuai dengan usia anak. Misalkan, mainan untuk anak dengan rentang usia toddler nggak sama dengan mainan khusus newborn. 

Anak-anak yang lebih besar cenderung ingin dapat memanipulasi mainan miliknya, bahasa sederhananya, bisa diutak-atik dan memiliki banyak kemungkinan cara bermain. Permainan seperti ini sangat merangsang imajinasi anak sehingga ia tidak mudah bosan dengan mainan tersebut. 

Selain itu, mainan harus ada sepaket dengan kehadiran orangtua atau pendamping. Iya, jadi quality time dan membersamai anak dalam bermain itu juga sangat penting.

Untuk beberapa permainan yang tujuannya mengasah perkembangan ketrampilan kognitif, orangtua wajib hukumnya mendampingi dan sedikit memberikan tantangan dalam permainan yang disajikan. Misalkan, saat menyusun gelang, orangtua bisa menyembunyikan salah satu bagia gelang untuk melihat bagaimana respon anak saat menghadapi masalah dalam permainan tersebut. 

Nah, untuk anak usia 0 sampai 3 tahun, mainan yang bisa diberikan harus merangsang beberapa aspek perkembangan yang sedang berlangsung dalam tahapan usia tersebut, misalnya kemampuan berbahasa, motorik halus dan kasar, serta kemampuan kognitifnya. Mainan yang diberikan pun memiliki tahapan dari yang simple seperti merangsang sentuhan, penglihatan, pendengaran, sampai yang complex seperti ilustrasi gambar di bawah. 

Nah, kalau kita ke toko mainan ELC rasanya kebingungan memilih mainan bisa sangat berkurang karena setiap mainan yang ada disertakan keterangan untuk rentang usia berapa dan apa saja tahapan perkembangan yang akan dirangsang dalam mainan tersebut. Memilih mainan yang tepat buat si kecil pun jadi lebih mudah.



Monday, February 13, 2017

Everglow



Ini kisah kenangan tentang seseorang yang telah pergi. 

Orang-orang umumnya tidak akan pernah melihatnya--kerlip cahaya yang berpindah dari sudut mata seseorang, ketika ajalnya telah dekat, ke benda-benda atau orang lain yang dekat dengannya saat itu. 

Tetapi aku bisa. 

Jadi siang itu, saat aku menjenguknya ke rumah sakit, dan dia sedang tertidur, aku mencium punggung tangan dan keningnya--sama seperti saat aku masih kecil atau saat aku terakhir kali mengunjunginya dan dia masih sehat.

Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, kerlip cahaya yang selalu ada di matanya, telah berpindah menempel di wajah, telapak tangan, dan lenganku. Aku tahu kerlip cahaya ini akan menempel terus padaku sampai harinya tiba. 

Aku pulang ke rumah dengan beribu kenangan tentangnya: Saat ia mengantarku mendaftar ulang kuliah di luar kota, saat hari raya tiba, bagaimana senyumnya, cara bicaranya yang unik, dan keramahannya yang selalu mewarnai hari-hari ketika aku berkunjung ke rumahnya.

Pada hari-hari di mana kerlip itu masih melekat padaku, aku bahkan bisa mengulang kembali semua kenangan masa kecil dimana dia ada di dalamnya. Begitu terang seolah aku sedang berada di rumahnya. 

Jumat pagi hari, satu minggu kemudian. Sehabis mencuci pakaian dan menjemur, aku mandi dan berkaca. Kupikir aku akan kuat ketika melihat kerlip itu menghilang dariku, namun aku justru terduduk lemas di depan pintu kamar mandi. 

Ponselku berdering, tanpa perlu menyimak orang yang berbicara di seberang telepon, aku sudah tahu berita apa yang akan disampaikan. Aku terisak, dadaku terasa begitu sesak karena setiap kenangan yang kemarin melekat terlepas satu persatu. 

Kamu pergi hari ini, Pakde. Jumat hari yang baik. Semoga husnul khotimah dan setiap zarah amal kebaikanmu diterima olehNya. 

Hari Jumat tiga pekan yang lalu di dalam mata yang terisak ada hati yang sedikit tersenyum, bersyukur karena aku sempat memeluk dan mencium keningmu, membisikimu terima kasihku karena telah menjadi bagian penting dari hidupku. 

Aku pernah ingat sebuah kisah darimu, tentang apa yang akan dilakukan orang beriman di alam kubur setelah ia selesai ditanyai oleh malaikat? 

"Apa?" tanyaku saat itu.

"Ia ingin segera bertemu dengan keluarganya."

Mengingat cerita itu membuatku kembali menangis. Kususut air mata dengan tanganku, masih ada sisa kerlip di sana. Sambil bersimpuh kubuka kedua tanganku, kulepas sisa kerlip yang masih ada di dalam genggaman tanganku. 

Semoga kelak kami dipertemukan kembali sebagai keluarga. 

(Dalam kenangan, 14 Februari 1947-20 Januari 2017)


Catatan :
Tentang Everglow.

Judul tulisan ini terinspirasi dari lirik lagu Coldplay yang berjudul 'Everglow'. Bagian lirik yang saya suka:
"So if you love someone you should let them know. Oh, the light that you left me will everglow"

Chris Martin sendiri waktu ditanya definisi tentang Everglow, begini jawabnya:

"To me, it's about--whether it's a loved one or a situation or a friend or a relationship that finished, or someone's passed away-- I was thinking about, after you've been through the sadness of something, you also get this everglow. That's what it's about." 

Tulisan ini diilhami kisah yang nyata, untuk mengenang Pakde saya yang tiga pekan lalu telah berpulang dan empat belas Februari adalah hari kelahirannya. Karena sebaik-baik pengingat adalah kematian.


Sunday, February 12, 2017

Product Review : Cloth Diaper Little Hippo




Sebagai Ibu yang anaknya memakai Clodi, senang sekali rasanya kalau ada produk baru yang bisa menjadi pilihan pemakaian clodi harian. 

Saya membagi pemakaian clodi si kecil jadi dua, yang dipakai malam hari saat tidur dan yang dipakai saat siang hari.  

Biasanya untuk clodi malam, saya memilih yang benar-benar tahan bocor sampai maksimal 8 jam pemakaian dan produk-produk yang dipilih clodi premium, sementara untuk pemakaian siang clodi yang digunakan yang relatif ekonomis. Ekonomis di sini tentu saja mengacu pada clodi yang harganya relatif lebih murah namun tetap berkualitas.

Ada beberapa brand yang saya gunakan dan termasuk dalam kategori murah namun berkualitas untuk pemakaian siang hari, dan kali ini saya akan mereview clodi dari little hippo

Kesan pertama yang saya rasakan dari  little hippo ini adalah meskipun merupakan produk bersegmen ekonomis namun tampilannya terlihat sangat rapi, dengan desain print yang menarik, cute look pokoknya. Kemasannya juga terlihat simple, bersih, dan praktis. 

Setelah di prewash dulu sebelum digunakan, saya langsung memakaikan clodi ini pada si kecil. Ternyata desainnya pas dengan lekuk tubuh si kecil, meskipun bagian belakang agak sedikit bulky setelah diberi insert, namun tidak mengurangi kenyamanan si kecil saat beraktivitas. 

Nah, soal ketahanannya bagaimana? Si kecil memakai clodi ini dari pukul delapan pagi, dan insertnya baru terasa sangat lembab saat pukul sebelas siang, cukup tahan lama bukan untuk pemakaian siang. Tentu saja setelah kurang lebih tiga jam saya memang selalu mengganti insert si kecil sembari mengajarinya toilet training. 

Bagian luar dari clodi ini memang memakai bahan anti air dan cukup tahan untuk pemakaian seharian, jadi cukup hemat juga karena tidak harus mengganti outernya. 

Setelah proses pencucian, clodi Little Hippo ini, baik insert maupun outernya termasuk yang mudah dibersihkan dan tidak meninggalkan bau tak sedap. Tentunya, ini juga berkaitan dengan proses pencucian yang benar, ya. 

Sejauh ini, saya cukup puas dengan clodi Little Hippo dan merekomendasikan juga kepada para Ibu yang anaknya memakai clodi untuk mencoba clodi yang murah tapi berkualitas ini. Selain karena harganya yang juga cukup bersahabat dan cocok untuk dipakai beraktivitas si kecil di siang hari. 

Thursday, February 9, 2017

Mencetak Pembelajar Dengan Mind Mapping

Salah satu learning habit yang pengin saya tularkan kepada anak-anak adalah belajar dengan menggunakan metode mind mapping.

Mind Mapping pengertian ringkesnya adalah pemetaan pikiran atau peta pikiran. Metode ini pertama kali dikembangkan oleh Tony Buzan, seorang Psikolog dari Inggris.

Kenapa saya ingin anak-anak, terutama si sulung, bisa belajar dengan cara ini salah satunya karena terkadang saya mendapati beberapa tujuan pembelajaran di sekolah hanya mengetes memori bukan pemahaman atas sebuah konsep. Ujung-ujungnya kadang anak-anak hanya hapal tapi tidak paham. Yang namanya hapalan itu kan, prinsipnya kalau ngga digunakan lagi informasinya maka ingatan akan informasi tersebut akan aus dan hilang.

Sementara mind mapping sendiri adalah proses memetakan pikiran untuk menghubungkan konsep-konsep permasalahan, dari cabang-cabang sel saraf membentuk korelasi konsep menuju pada suatu pemahaman dan hasilnya dituangkan langsung di atas kertas dengan gambar yang disukai dan gampang dimengerti oleh pembuatnya. Sehingga apa yang dibuat dalam bentuk mind mapping merupakan gambaran langsung dari cara kerja koneksi-koneksi di dalam otak.

Jadi, idealnya memang saat mau memindahkan sebuah konsep dari text book ke dalam mind mapping, kita sendiri yang membuat.

Tapi untuk mengajarkan dan membiasakan, terutama untuk anak usia SD, orangtua bisa memberi contoh dulu. Harapannya di usia SMP nanti sudah bisa membuat mind mapping sendiri.

Mind mapping ini mengajak anak untuk berpikir sistematis, dan melatih otak untuk menyimpan sebuah kesan atau citra dari sebuah gambar atau tulisan. Dengan cara ini memahami materi pelajaran jadi lebih cepat, mudah, dan fun.

Kalau lihat materi anak esde sekarang suka geleng-geleng kepala sendiri. Ini kalau pendidik dan orangtua nggak bisa mengarahkan anak jadi 'pembelajar' dan menyukai ilmu pengetahuan sepertinya sekolah hanya akan mencetak robot-robot penghapal dan penghasil nilai saja.

Membuat Mind Mapping

Lalu bagaimana orangtua bisa mulai mengajari metode mind mapping kepada anak-anak? Apa saja langkah-langkahnya.

1. Siapkan kertas kosong tak bergaris.
2. Pena dan pensil warna.
3. Otak.
4. Imajinasi.

Menurut Tony Buzan, membuat Mind Mapping membutuhkan imajinasi atau pemikiran, adapun cara pembuatan Mind Mapping adalah:

1) Mulailah dari tengah kertas kosong.
2) Gunakan gambar (simbol) untuk ide utama.
3) Gunakan berbagai warna.
4) Hubungan cabang-cabang utama ke gambar pusat.
5) Buatlah garis hubung yang melengkung.
6) Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis.
7) Gunakan gambar.

Panduan Membuat Mind Mapping


Pada gambar di bawah ini, ceritanya saya sedang membantu Kakak Ezra untuk menghapal materi PUK Pesta Siaga. Di bagian tentang penyakit, dibuat ilustrasi yang memberi kesan 'sakit', penggunaan warna, gambar, dan garis-garis tertentu dibuat agar otak menangkap kesan 'penyakit' sehingga ketika informasi ini disimpan di otak bisa masuk lebih dalam ke long term memori.

Bandingkan kalau memahaminya hanya dengan bentuk tabel atau tulisan. Selain memakan waktu yang lama, anak-anak juga mudah bosan karena rentang konsentrasi dan fokusnya masih pendek. Namun dengan metode ini, kreativitas anak akan terbangun, ia dapat lebih memusatkan perhatian dan memahami suatu konsep dengan lebih baik. Pada akhirnya, ketika anak belajar dengan senang, ia akan menyukai ilmu pengetahuan, ia pun belajar bukan hanya karena ingin mencetak nilai belaka, namun juga karena ingin menjalankan fitrahnya sebagai seorang pembelajar.




Thursday, February 2, 2017

What You Seek Is Seeking You




Akhir tahun kemarin Yang Maha Baik menitipkan beberapa pertanyaanNya untuk saya melalui beberapa orang yang melintas dan berbaur di jalan yang sedang saya lewati.

Bertepatan dengan habisnya analisis GROW lima tahunan saya. Pertanyaan-pertanyaan itu menyusupi pertimbangan untuk menyusun GROW lima tahun ke depan dan membuat hari-hari awal tahun 2017 ini diwarnai kontemplasi.

Menengok ke belakang sedikit--hal yang sebenarnya tidak suka saya lakukan karena saya tidak akan kembali lagi ke sana--tahun 2012 sampai 2013 adalah tahun di mana saya mengambil sebuah belokan tajam dari rancangan perjalanan yang awalnya lurus-lurus saja. Banyak yang hilang dari pengambilan keputusan tersebut, tetapi hidup harus terus berjalan. Saat itu saya harus mengurangi barang bawaan agar kendaraan tetap melaju, dan saya memutuskan hanya akan ada tiga hal penting yang akan dibawa dalam perjalanan.

Tentu tidak mudah memutuskan tiga hal terpenting apa yang harus saya bawa kala itu, tetapi Allah SWT yang Maha Baik sembari menitipkan satu lagi amanah di rahim saya-- sekaligus sebuah senyuman dan penawar rasa sakit-- membisiki sesuatu.

Setelah badai proses yang rumit untuk dijelaskan, saya memutuskan hanya ada tiga tas yang akan saya bawa dalam perjalanan.

Tahun-tahun selanjutnya--sampai sekarang, adalah tahun proses untuk melepaskan kemelekatan saya dengan barang-barang bawaan yang lainnya.

Namun, meski barang-barang bawaan yang lainnya itu sudah tidak ada di dalam bagasi kendaraan saya, tetapi mereka masih ada dalam pikiran saya.

Disadari atau tidak tahun-tahun berikutnya saya berjalan sambil memanggul beban yang tidak kelihatan.

Karena merasa diganduli saya sering merasa tidak bergerak kemana-mana. Saya masih dalam status mental yang sama. Semesta saya tidak berkembang.

Dua pekan yang lalu seorang rekan yang amat mengerti panggilan hati saya, bertanya sudah sampai mana perjalananmu? Apakah kamu sudah memenuhi panggilan jiwamu?

Saya belum bisa menjawabnya. Bersamaan dengan itu ada sebuah tawaran menarik dari seorang kolega untuk melanjutkan riset saya tentang dilema peran ibu bekerja. Riset berskala internasional yang mungkin akan menuntut saya untuk memulai lagi dari nol dan meninggalkan rumah, suami, serta anak-anak.

Lagi? Pikir saya. Terbayang malam-malam yang harus saya lalui sambil mendengar tangisan Ezra diseberang telepon, atau rengekan dan 'pura-pura' kuatnya dia saat saya berpamitan untuk pergi. Dan sekarang sudah ada Si Adek juga.

"Jangan terburu-buru menolak, ujar teman saya itu. Berdoalah agar Allah membukakan jalan yang terbaik. Mungkin saja kalian malah bisa hijrah sekeluarga."

Sama sekali nggak terpikirkan wacana pindah bersama keluarga, tapi saya meng-aamiin-kan. Allah Maha Tahu apa yang paling dibutuhkan. Mungkin sesuatu yang kita inginkan bukanlah yang kita butuhkan dan sebaliknya.

Sambil menarik napas dalam, saya mencoba menyamankan hati ini: Apa yang kamu cari juga tengah mencarimu. Saat kamu bergerak tenang layaknya air, yang mencarimu pun bergerak senada. Saat kamu bergerak berputar-putar seperti angin topan, yang mencarimu pun bergerak dengan cara yang sama, saat itu keduanya mungkin tidak akan bertemu karena jalan yang menghubungkan keduanya telah berserakan.

Yang perlu kamu lakukan hanyalah berserah. Sesuatu yang kamu inginkan mungkin hanya sebuah permainan pikiran, namun mungkin juga karena Allah menghendakiNya demikian. Ini tentang sikap. Apa yang kamu inginkan dan yang menginginkanmu bisa saja bertemu, perbedaannya terletak pada bagaimana pertemuan tersebut akan berlangsung. Apakah kalian akan bertemu dalam dua aliran air yang seirama ataukah dalam keadaan topan nan badai.

Monday, January 30, 2017

Catatan Homeschooling Tazka-Januari 2017 : Berharap Pada Ledakan Bahasa

Bulan Januari ini, kalau mengacu pada lesson plan yang sudah dibuat, tema home activities dan HS Adek Tazka adalah tentang mengenal tubuh dan bagian-bagiannya.

Berdasarkan lesson plan baru sekitar 60 persen materi home activities yang direncanakan bisa terealisasi. Pasalnya minggu pertama di bulan Januari Adek sempat sakit, begitupun di minggu terakhir ini, Adek sempat demam selama tiga hari, batpil sampai meler. 

Selain karena Adek sempat sakit, bulan Januari ini termasuk bulan berduka karena saya baru saja kehilangan Pakde tersayang. Selain itu hampir tiap minggu saya harus pergi ke luar kota bawa-bawa Adek untuk keperluan keluarga atau pekerjaan. 

Dari enam puluh persen hasil pembelajaran, target untuk pengembangan bahasa dan adab sehari-hari masih belum optimal. Tapi Adek sangat responsif dengan materi pengenalan anggota tubuh. Meski belum fasih menyebutkan namanya, namun dia sudah bisa menunjuk sendiri bagian tubuhnya, seperti mata, telinga, hidung, bibir, lidah, gigi, perut, kaki, kepala, rambut, dan tangan. 

Kalau saya perhatilan perkembangan verbal dan bahasanya di usia dua tahun (14  Januari 2017) masih cenderung lambat. Tetapi secara bahasa reseptif sangat baik. Dia sudah mengerti pembicaraan yang kami anggap panjang untuk anak seusianya. Sedikit berpikir bahwa kendala untuk mereproduksi kembali kata-kata yang sudah familiar baginya disebabkan karena pengajaran bahasa yang bilingual bahkan trilingual. Contoh sederhana, waktu berhitung selain menggunakan bahasa Indonesia, Adek juga meniru Kakak menggunakan bahasa Inggris dan kadang saya juga suka sedikit menyelipkan Bahasa Perancis. Sepertinya ini tugas saya untuk lebih konsisten dalam mengenalkan satu bahasa dulu. 

Selain karena bahasa di rumah yang campur-campur, saya berpikir apakah kendala Adek Tazka dalam mereproduksi bahasa disebabkan juga karena dulu dia sempat mengalami tongue tie dan lip tie sekaligus. Merunut ke riwayat perkembangan Pak Suami yang katanya juga mengalami keterlambatan bahkan sampai dewasa juga merasa sering kesulitan mereproduksi kata-kata, mungkinkah keterlambatan Adek ini ada kaitan genetisnya? Karena baru ketahuan kalau Ayah juga ternyata tongue tie dan liptie. Peer lagi buat Ibuk untuk banyak baca dan bertanya-tanya. 

Meski cenderung lambat, tapi menurut hasil screening saya, kemampuan verbal Adek masih dalam proses perangkaian di otaknya. Ia seperti sedang menyerap berbagai kata dan kemudian pada titik tertentu akan terjadi ledakan bahasa. Yes, be positive Mom!

Selain perkembangan kecerdasan verbal, saya menyoroti perkembangan kinestetiknya di tahun kedua ini cukup baik, ia dapat menirukan gerakan dari lagu Head, Shoulder, Knees, and Toes, menjaga keseimbangan tubuh saat berada di titian, dan bisa menari. Yipiee, thanks to Kakak yang ikut mengajari Adek menari yaa. 

Kecerdasan sosial Adek bulan ini banyak terasah oleh pertemuannya dengan berbagai figur, dari yang familiar sampai yang asing. The good things, waktu Adek ketemu Mamah-Papah saya saat mereka melayat Pakde saya, dia bisa mengenali kalau itu orang yang sama yang suka ngobrol di telpon dan juga bermain dengannya enam bulan lalu. Waktu dititip-titip sama saudara atau keponakan, alhamdulillah ngga kejadian yang namanya separation anxiety sama Adek. 

Bulan ini, Adek juga mulai punya ketertarikan dengan angka dan warna, mulai bisa memilih pakaian apa yang akan dia kenakan. Adek juga mulai hapal urutan membuat roti favoritnya, dan kemana arah supermarket langganan belanja mingguan kita. Jadi bisa dibilang kalau kemampuan spatialnya pun berkembang. 

Alhamdulillah, semoga Februari home activities nya lebih seru yaa 😊😊


Menempel panca indera yang hilang
Treasure Hunt : Berburu kartu my body



Wednesday, January 25, 2017

Kitchen Life : Daily Cooking Management

"Aku tuh, suka masak Mas tapi ngga mau masak itu jadi beban. Cooking should be fun."

Gitu komentar saya sama Pak Suami waktu pertama kali merintis bisnis Little Organic Kitchen di tahun 2013. Kalau dipikir-pikir sudah tiga tahun (dikurangi masa hibernasi selama setahun lebih karena kehamilan kedua ngga sanggup terjun ke dapur) saya menjalankan peran sebagai tukang masak.

Dari yang awalnya ngerasa ujung-ujung kuku kayak mau copot saking capeknya bikin pesanan sampai mulai terbiasa bangun menjelang dini hari tanpa alarm. Tahun kemarin termasuk yang lumayan capek dan bikin banyak belajar.

Terutama belajar manajemen waktu. Dan bab itu, duuh, belum lulus juga. Pelajaran penting banget yang lain adalah tentang mengatur menu masakan untuk keluarga. Ini jadi alert banget karena sejatinya saya ini koki keluarga. Kalau saya bisa memerhatikan pola makan, bikin resep dan pesanan konsumen harusnya sudah khatam dalam hal melayani konsumen utama yaitu, suami dan anak-anak.

Pelajaran berharga di tahun kemarin salah satunya saya dapat juga dari dr. Tan terutama dalam hal mengatur menu makan anak-anak.

Pertama saya coba figure out masalah anak-anak yang berkaitan dengan makan adalah : BB rendah atau di bawah grafik normal usia, suspect untuk keduanya asupan protein yang belum memadai, si sulung picky eater dan susah mengikuti pola makan sehat. Si toddler gagal dalam ber-BLW. Makan sih, alhamdulillah lahap, tapi multitasking sambil mainnya itu lhoo.

Duh, peer saya banyak banget kan. Belum lagi PR pola makan kedua orangtuanya yang jadi sedikit berantakan karena kesibukan.

Tahun ini, pelan-pelan memperbaiki bersama. Salah satunya dengan memakai lagi trik lama menyiasati daily cooking. Antara lain:

1. Belanja Mingguan di luar keperluan Little Organic Kitchen.

2. Membuat menu mingguan dan menaatinya.

3. Semua bahan masakan disiapkan saat wiken, seolah akan memasak semua menu dalam seminggu. Taruh di tupperware atau plastik klip. Simpan di kulkas.

4. Memelajari cara mengolah masakan. Misalkan kalau sayuran apakah harus raw atau melalui proses tertentu. Pelajari juga cara penyimpanan berbagai jenis bahan makanan. Salah menyimpan juga bisa mengurangi kandungan gizi makanan tersebut.

5. Membuat bumbu dasar, misal baceman bawang putih, bumbu dasar putih, kuning, dan merah. Menyetok dressing sauce rumahan.

6. Mengolah bahan masakan yang tidak tahan lama dan menambahkan zat gizi tambahan. Misalkan membuat otak-otak ikan, tempura, frozen homemade nugget dengan menambahkan bahan pangan lain untuk menaikkan nilai gizinya, misal nugget ayam, brokoli, dan keju.

7. Membuat sendiri bekal praktis harian dengan cara yang sama seperti menyiapkan menu masakan harian.

Seperti contoh gambar di bawah: Stok pizza yang dipanggang setengah matang dan dibekukan plus adonan dan isian untuk stok bekal sekolah. Pizza setengah matangnya nanti bisa dihangatkan lagi. Praktis buat bekal pagi hari. Gambar di bawahnya, stok menu olahan berbahan dasar ikan.

Menu protein olahan untuk satu minggu: Eeomuk alias fish cake, pempek kulit, nugget ayam keju wortel, kekian ayam. 

Blueberry Cream cheese Bun. Roti favorit anak-anak belakangan ini. Biasanya saya nyetok sekalian buat bekal sekolah.

Kalau pagi hari berhasil menyiapkan bekal dengan paripurna itu rasanya puaas 😁😀

Saya percaya, makanan rumahan itu lebih enak. Bumbunya lebih spesial karena ada doa, kasih sayang, ketulusan dari pembuatnya.

Oya, selamat hari gizi nasional juga, ya. Semoga anak-anak Indonesia makin sehat karena tangan-tangan terampil para Ibu dalam mengolah makanan di rumah. #Giziterbaikdarirumah 😊😊


Monday, January 23, 2017

Tips Mencegah Tantrum Pada Anak Dua Tahun.


Konon ketika si kecil memasuki usia dua tahun, ia memasuki masa yang istilahnya nyebelin banget, terrible two. Di usia ini, si kecil cenderung cukup sering mengalami temper tantrum. Bahasa gampangnya sih, ngamukan atau nangis histeris karena suatu sebab.

Pencetusnya bisa banyak hal, dari yang bisa dipahami orangtuanya sampai yang sama sekali nggak terpikir oleh kita.

Pengalaman pribadi, Tazka (2month, 20 days) pernah tantrum gara-gara biskuit yang sedang dia makan bentuknya ngga utuh lagi. Yakali, Dek. Biskuit kalau digigit malah tambah panjang.

Tantrum juga bisa terjadi dimana saja, kapan saja. Duuh, coba kurus yang bisa terjadi di bagian mana saja dan kapan aja kita mau yaak.

Syukur-syukur tantrum pas di rumah yaa, ehtapi kalau misalnya si kecil tantrum pas kita lagi ngantri bikin paspor, belanja di swalayan, dan di tempat publik lain yang mengundang mulut orang buat nganga (awas kemasupan laler) terus bagaimana?

Pernah kejadian Si Adek yang strongwilled ini kekeuh pengin nyobain makanan sejenis ayam crispy berbumbu pedas yang sedang kita makan ...dudududu. Waktu kita akhirnya menyerah karena tantrumnya bisa bikin pengunjung lain kabur, terpaksa kita kasih icip tuh, ayam...hehehe, si toddler ganti nangis karena kepedesan dan alhasil orang-orang menatap balik ke kami dengan tatapan...you know lah.

Singkat cerita, Ibuk harus pinter-pinter nih, mempelajari pola tantrum si amazing two (iya, kami lebih suka bilang masa ini emejing)

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya si TT ini.  Tips dan triknya:

1. Perhatikan Bawaan Dasar Orok.

Periksa apakah kebutuhan dasar dan bawaan orok si dua tahun sudah terpenuhi semua, misalkan saat bepergian atau menghadiri suatu acara. Apakah dia haus atau lapar, apakah sudah jamnya tidur, dsb. Banyak kondisi mendasar yang umumnya menjadi triggers dari tantrum itu sendiri.

2. Tanda Untuk 5 Menit Berikutnya.

Kalau sedang main di suatu tempat, melakukan sesuatu, dan kegiatan tersebut akan berakhir, coba lakukan antisipasi dari awal.
"Dek, lima menit lagi kita pulang, ya." Atau, "...ini udah mau selesai ya, mainnnya."

Dengan memberi semacam warning, kita tidak menghentikan kegiatan dengan tiba-tiba yang dapat memicunya munculnya tantrum.

3. Perhatikan Apakah Ia Sedang Mencari Perhatian.

Tantrum bisa terjadi karena si kecil bosan dan tidak tahu bagaimana harus mengekspresikannya. Cara termudah adalah dengan mencari perhatian kita. Pelajari dan kenali tanda-tanda apabila si kecil merasa bosan, luangkan waktu berkualitas dengannya, dan beri penghargaan saat ia bersikap kooperatif dan menyenangkan agar ia juga tahu apa yang diharapkan darinya.

4. Terapkan Jadwal Harian yang Rutin.

Kegiatan yang terpola setiap harinya akan menurunkan tingkat kecemasan anak dan membuatnya merasa aman. Si kecil jadi tahu kapan ia harus makan, tidur, dan bangun. Dengan jadwal yang rutin, orangtua juga bisa mengantisipasi jika ada hal-hal yang tak biasa.

5. Mengajarkan anak 'feeling words'

Sebagian besar tantrum terjadi
karena anak memiliki keinginan atau merasakan sesuatu namun belum maksimal dalam mengekspresikannya. Orangtua bisa membantu mengajarkan beberapa pembendaharaan kata baru yang berkaitan dengan emosinya.

"Ibu tahu Adek lagi kesal ya, karena mainannya direbut."  Atau, "Adek ngga suka ya, karena di mal tadi berisik sekali."

6. Batasi Pilihan.

Untuk meminimalkan perasaan frustasi berikan maksimal tiga pilihan dalam suatu aktivitas, misalnya mau bermain mobil, dibacakan cerita, atau tidur. Untuk hal-hal tertentu, orangtua juga perlu mengenalkan bahwa ada hal-hal yang sifatnya wajib, misal harus melepas sandal saat masuk masjid, atau membuka pakaian saat mandi.

7. Alihkan Pada Hal Lain.

Ini jurus penangkal terakhir, biasanya orangtua sudah merasakan indikasi anak akan tantrum, misalnya saat di toko mainan dan anak sudah memilih mainan tetapi kantong kita tidak sreg dengan pilihannya.

Gunakan bahasa positif saat mengalihkan perhatian, misalkan...yuk, kita lihat mainan di sebelah sana yuk, ada yang warna merah kesukaan Adek.

Jangan katakan, ini mainannya jelek, ngga usah beli, yaa. Kalimat negatif seperti ini justru akan menjadi triggers untuk si kecil tantrum.

Foto di bawah ini merekam momen rentan tantrum si Adek :
1. Pergi ke kondangan malem saat Si Adek udah ngantuk.
2. Sedang main yang disukai tapi harus pulang.
3. Ngga mau mentas pas berenang.
4. Mau naik kereta tapi kereta yang akan ditumpangi belum dateng.

Momen rentan tantrum si kecil yang lain apa, Buibu?


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...