Wednesday, December 16, 2009

My Bukowski (Part 2)


yeah, awalnya mencari bukowski saya sendiri ternyata tidaklah sesulit seperti yang harus dilakukan si dan humprey ketika ia harus mendatangi chuck bass ke apartemennnya, lalu mencoba merasakan malam di brooklyn a la chuck bass untuk menambah wawasannya dan berakhir dengan dibuat mabuk oleh chuck bass, terpaksa keluar dari mobil, serta harus menyusuri jalanan malam brooklyn tanpa sepatu.

bukowski saya, tidak membuat saya mabuk, juga tidak membawa saya ke klub malam untuk bertemu dengan wanita-wanita penghibur. tidak itu keterlaluan. bukowski saya juga tidak membuat saya harus melepas sepatu dan berjalan keluar dari mobil tanpa alas kaki, menyusuri jalanan di gelap malam yang dingin. tidak. tetapi ia secara tidak langsung mengatakan hal yang sama yang dilakukan chuck bass pad dan humprey malam itu :

chuck bass : tonight was nothing. you're just a drunken idiot. my amusement for the night.

apakah saya menyesal menjadikannya bukowski. tidak. cuma, seperti di setiap akhir episode gossip girl, sang narator berkata : spotted--dan humprey shoeless and clueless. (dan itulah yang terjadi pada saya, clueless. bedanya saya masih menggunakan 'sepatu' saya.)

tapi episode bukowski ini belum sampai di sini. saya belum membuat tulisan yang berbeda, tetapi saya mencoba melakukan saran gurunya si dan humprey, dan dalam hal ini, mencari rahasia terpendam dari bukowski saya, yang mungkin akan jadi sesuatu yang bagus.


guru : boo!

dan humprey : but--


guru : brooklyn kid sees a live hooker for the first time. loses his shoes. there's so much saccharine in this. it's giving me cancer.

dan humpery : alright, but i did what you told me. I-i went out with a guy i can't stand.


guru : oh yes. this charlie trout's character--now that guy's interesting, complex. A young mephistopheles. write from his point of view, then you'd have a story.

dan humpery : no, there's no way that i'm writing from his point of view. i hate that guy.


guru : you're judging the character, Humprey. You think Capote got national accalim for "in cold blood" by judging the murderers?

dan : i'm--i'm guessing no.


guru : dig beneath the surface. get into Charlie Trout's head. find the humanity.

dan : That might be difficult


guru : we all have a secret. A writer best tool is the baility to draw out a subject's secret and use it

dan : Okay, so i go back out there. make him trust me and find out his secret.


guru : Be ruthless and bring ne back a story with teeth.


tapi kemudian, saya pikir-pikir lagi. tidak-tidak. sudah cukup. saya mau cari bukowski lain saja. tapi tunggu dulu, bukankah saya juga sempat dikerjainya, dijadikan leluconnya, rasanya impas saja kalo saya mengeksploitasinya.
saya menimbang-nimbang, tapi malaikat baik membimbing saya pulang : well, if i have to exploit people to be a good writer. then, you know, maybe--maybe i'm not a good writer. i don't--i'd rather be safe than use people for art.

Tuesday, December 15, 2009

Bagi-Bagi Buku Gratis (Part 2)


here we go, setelah berselang selama beberapa bulan, bagi-bagi buku gratis part 2 bakal diadakan lagi. kalau mau dapet buku gratis dari sunshine awaiter, caranya gampang banget.



tuliskan daftar buku yang sudah kamu baca selama tahun 2009 ini di blog atau akun multiply kamu, lalu pilih 3 buku yang paling berkesan dari semua daftar buku yang sudah kamu baca beserta quote yang paling menarik, sertakan juga link blog: bramasole-menantimatahari.blogspot.com di blog kamu tersebut. nah, kalo sudah kirim email ke ask_nia21@yahoo.com untuk memberitahukan keikutsertaan kamu plus satu lagi, kalo kamu nggak punya akun multiply, jadilah follower di bramasole-menantimatahari.blogspot.com...selesai sudah. gampang, kan. segera kirimkan sebelum tanggal 31 desember 2009 yaaaa....



3 pemenang akan mendapatkan daftar buku-buku di bawah ini plus merchandise dari sunshine awaiter.
buku-buku itu adalah :
1.filosofi kopi-dee
2.orange-windry rahmadhina
3.astral astria-fira basuki
4.kucing melulu & cerita cinta (me)lulu-widya octavia
5.selamanya-rio rinaldo
6.cinta brontosaurus-raditya dika
7.kafe-ch. happyninatyas
8.istoria da paz-okke 'sepatu merah'
9.je'-m'appelle lintang-ollie

sampai jumpa tahun depan dengan kuis-kuis baru lainnya. :)

Thursday, December 10, 2009

Jawaban Yang Tak Terdengar

Photo : Two windows by Ross Sawyers


sambungan dari cerpen yang ini


Sudah terlambat. Aku sudah tahu, jawabannya tidak ada.
Jadi aku pulang sambil mengigit senyumku dalam-dalam. Aku bisa merasakan kepingan hatiku seperti biscotti yang kebanyakan coklat hitam.

Aku menyelipkan pesan di celah jendela kamarnya sebelum itu:

Aku paham, semua yang membuatku tertawa dan bahagia juga bisa membuatku tersungkur dalam kesedihan, jika aku kehilangan.

Lalu, ingin kutuliskan sebait kalimat lagi di bawah pesan itu tapi kuurungkan niatku : Setidaknya, izinkanlah aku merasakan sebuah perpisahan.

Kamu tahu, kan, bahkan sebuah perpisahan yang menyakitkan sekalipun punya sesuatu untuk dikenang : feromone yang menguar habis dari balik kemejamu, lagu yang samar terdengar, awan mendung tipis yang menggelayut di langit yang ringkih, dan punggungmu yang menatapku lalu hilang.

Tapi semua itu tak ada. Tidak ada aroma yang bisa kuingat, tidak ada lagu yang melatari cerita yang bisa kuputar ulang, tidak ada ciuman selamat tinggal yang membekas di ingatan. Tidak ada pelukan perpisahan. Tidak ada apa-apa.

Hanya kebisuan yang terus.

Aku pulang untuk menyampaikan pesan_ atau bagaimana harus kukatakan untuk sesuatu yang bahkan tidak bisa disebut pesan karena memang tak ada apa-apa_padamu dengan sedikit ragu.

Kutatap dirimu dan hanya menggeleng perlahan. Begitu menyesal ketika teringat pertanyaan yang sempat kuutarakan padanya demi dirimu.

"Aku hanya ingin tahu, apakah kata-kata itu, kalimat yang kau rangkai dengan begitu sempurna, indah dan telak mengenai jantungku, apakah itu hanya sebuah kebohongan, salah satu dari keahlianmu dalam menjadikan seseorang sandera hatimu, ataukah itu sebuah kebenaran, yang kau utarakan dari dalam hatimu?

Apakah semua ini, bagian dari permainan, yang sudah begitu lihai kau mainkan. Apakah ini adalah peluru-peluru yang kau tembakkan secara acak untuk membunuh tawananmu?”


Sementara saat ini aku tak membawa jawaban apa-apa. Melihatku kamu cuma diam menatap keluar jendela sampai hujan terakhir tahun ini berhenti lalu angkat bicara,

“Aku sudah tahu. Sejak awal berkata jujur hanya akan memberi kita masalah. Lebih baik, dulu aku mati saja karena kait-kait pertanyaan itu, ketimbang melihatmu pulang gontai tanpa membawa kata-kata.”

“Sudahlah. Tak perlu menyesal, pernah kubilang bertanya tak akan membuatmu mati. Tidak ada jawaban yang malah akan membunuhmu. Kamu baik-baik saja, kan?”

“Tidak. Tapi, kamu juga bakal ikut mati.”

“Iya, kita pasti sama-sama mati. Tapi setidaknya, kamu masih punya aku, kan.”


nb : pengennya ini jadi bagian dari judul besar : DUA PEREMPUAN, sebuah novellette. Tapi, masih belum nemu banyak referensi tentang orang yang hidup dengan dua kepribadian, split personality gitu tapi bisa saling berkomunikasi antara kepribadian satu dengan yang lain. Lagipula, selama ini yang saya tahu, kasus kepribadian ganda selalu tidak diketahui oleh orang yang mengidapnya.

My Bukowski (Part 1)

sedang berada dalam situasi seperti si dan humprey dalam gossip girl season 2 ; Dan Humprey Can't write Needs Bukowski. jadi ceritanya si humprey (katakanlah dalam kehidupan nyata saya sedang berperan sebagai dirinya) menghadap guru sastranya atau guru menulisnya (dan katakanlah si guru ini adalah, bisa jadi master yusi atau master sulak) untuk menanyakan bagaimana pendapat gurunya tentang tulisan yang sedang dibuatnya. dan si guru menjawab.
guru : let me be blunt, Humphrey. These stories are no good. (dalam kehidupan nyata saya, di kelas dkj, semua tulisan dicap jelek dan kami tidak boleh sakit hati, jadi seharusnya saya sudah biasa dengan itu. meskipun sebelumnya pernah sedikit_sangat sedikit malah_dipuji, tetapi itu tidak berpengaruh apa-apa)
dan humprey : what, uh, you--you-- you said my last one was... (saya mencoba berkata, bahwa sebelumnya saya pernah menulis_lumayan_bagus. tapi kemudian mengurungkan niat. karena memang tulisan saya belum kemana-mana. jadi saya diam dan mendengarkan perkataan guru selanjutnya)
guru : it was’nt bad. these are just more of the same. (nah, di sinilah letak masalah saya. menurut guru, tulisan saya mempunyai bawah sadar kolektif yang cenderung sama)
dan humprey: -- okay (dan saya pun menjawab, baiklah...)

guru : you sent me five stories, all about a shelterde young man with girl trouble who lives with his daddy in Brooklyn. You think that’s gonna knock the Yale English Departement off their tenured asses? (ya, memang begitulah. pikiran bawah sadar yang dikekang hal yang sama dan tidak mau keluar dari zona nyaman membuat saya hanya menulis hal-hal yang sama)
dan humprey : I-i just—I thought a writer supposed to write what you know. This is what i know. (saya berpikir begitulah seharusnya, sebelum saya ikut kelas riset dan reportase)
guru : then learn something new, get out your comfort zone. A cardinal rule of writing—if your work’s too safe, do something dangerous. (memang, tidak banyak hal 'berbahaya' yang saya alami belakangan. saya lebih suka sembunyi dalam selimut zona nyaman)
dan humprey : I-i would’nt know where to begin (saya pun membuat alasan klise)
guru : Then find someone who does know. When i was young Bukowski put a shot glass on my head and blew it off with a pistol, find your Bukowski then get back to me. (AHA! Seketika saya ingat beberapa hal menyerempet 'bahaya' yang saya lakukan belakangan ini dan tahu harus bagaimana. saya bertekad menemukan bukowski saya_btw siapa sih dia?)
NB : Bukowski adalah, Henry Charles Bukowski (16 Agustus 19209 Maret 1994) adalah seorang penyair dan novelis Amerika. Cara penulisannya sangat dipengaruhi oleh keadaan kota tempat tinggalnya, Los Angeles. Bukowski telah menghasilkan ribuan puisi, ratusan cerita pendek, dan enam novel, pada akhirnya memiliki lebih dari 50 buku yang sudah diterbitkan.(sumber wikipedia)

Wednesday, December 9, 2009

Energi Patah Hati


...yang membuat saya berhenti komunikasi dengan diri sendiri ternyata mampu menggerakkan saya untuk berkomunikasi dengan sosok-sosok lain yang menghuni kepala ini.

Setelah nyaris 60.000 kata saya ingin sekali berkata padanya, tolong buat saya patah hati sekali lagi. Saya ingin cepat menanjak sampai puncak lalu turun ke lembah dan hibernasi, untuk, mudah-mudahan bisa, kembali bicara dengan diri sendiri.

Tapi saya tahu, jangankan memintanya untuk membuat saya patah hati lagi, dimana itu pasti harus didahului dengan fase jatuh cinta lagi, wong memintanya membuka mulut saja sulit.

Jadi, biarlah saya hemat energi ini. Sampai perciknya habis dan alirannya berhenti.

Sampai mesin ini mati.

I Did It!

Sudah lama tak memosting apa-apa di sini, antara lain lantaran perkara energi patah hati yang sedang menyita seluruh konsentrasi, hal lain, karena setelah selesai dengan Nanowrimo 2009 yang berhasil saya menangkan saya merasa berhak hidup normal tanpa embel-embel menulis di saat-saat bisa istirahat. Jadi, bahkan saya belum bikin posting apa-apa soal kemenangan itu. Ah, baiklah sebagai penanda akan saya lakukan juga meski itu sudah basi.

SAYA BERHASIL di NaNoWriMo 2009 ini : http://http//www.nanowrimo.org/eng/user/590083

Dan lagi pertemuan bengkel novel DKJ 2009 yang tinggal 3 kali lagi mengharuskan saya untuk fokus pada draft, jadi fokuslah saya dengan itu. Meski itu draft yang sama yang saya ikutkan untuk nanowrimo ini dan sudah memenuhi kuota 50.000 kata tetapi nyatanya itu belum sampai ending cerita, (bah, saya nulis apa saja selama ini ya)

Oke, jadi setelah malam kemenangan itu, saya menatap datar layar komputer dan berkata : Thanks God Its Over (TGIO). Nah, sekarang mau ngapain?

Bikin TGIO party dengan si jepang gendut dan oto san dengan berkaraoke dan makan sushi sepuasnya?
atau
Bikin TGIO shopping dengan membeli sepatu Andre Valentino hijau pupus berhak 5 cm yang mungkin tidak akan pernah saya pakai?
atau
Bikin TGIO holiday dengan nekat ke Bangkok akhir tahun ini tanpa peduli apapun?
atau
Bikin things to do after TGIO (sangat basi untuk yang terakhir ini, tapi saya melakukannya juga, dan saya membenci diri saya sendiri karena keterlaluan tidak melakukan yang tiga teratas, atau paling tidak memberi hadiah apa, kek pada diri sendiri.)

Entah kenapa mungkin untuk hal semacam ini saya kelewat kejam pada diri sendiri. Dan bisa nulis 50.000 kata sudah jadi hadiah tersendiri. Lagipula jalan masih panjang, masih banyak yang harus dibenahi.

Tapi tentu saja, Nanowrimo sudah berhasil memotivasi saya untuk menulis sebanyak itu dalam waktu sebulan. Tahun depan ikut lagi, ah....

Monday, November 16, 2009

Laporan Senin

hari senin ini berakhir dengan pencapaian yang lumayan. awalnya cuma menargetkan sekitar 3000-an kata, tapi ternyata konsentrasi sedang baik dan juga sedang tidak terlalu perfeksionis, hasilnya lewat dari target awal 25.000. hari ini sudah mencapai 28.465 kata. fiuhhh, lumayan, kan.
ternyata memang tips-nya adalah 'terus mengayuh'. seperti naik sepeda, kalo berhenti bentar alias ga mengayuh, pasti jatuh, kan dan harus mulai dari awal lagi. selain itu juga ga boleh terlalu perfeksionis. kalau biasanya selalu menunggu perfect words, atau kalimat yang pas, hari ini saya membiarkan karakter si tokoh mengambil alih. saya ikuti maunya apa, membiarkan ia berkata-kata apa saja. tidak membatasinya. dan hasilnya, secara kuantitas lumayan, lah.
mulai sedikit belajar dari cara menulis yang ngebut ini, dan ini juga terinspirasi dari seorang arsitek yang sedang mengerjakan sebuah rumah. bikin struktur itu sebenarnya cepat, yang lama itu finishingnya. dan saya rasa, menulis pun begitu, kalau kita sudah berhasil membuat strukturnya terlihat dan jelas maka proses finishing akan jauh lebih mudah. kalau struktur belum sempurna, ibarat tembok yang belum dibangun, bagaimana mau memilih cat untuknya atau lukisan apa yang akan digantungkan di dindingnya, wong temboknya saja belum berdiri.
maka itu, kuantitas dari tulisan yang sudah saya buat, bagaimanapun selalu saya usahakan untuk membentuk sturktur cerita jadi nggak ngasal juga. dan, well sejauh ini lumayan juga. mulai bisa membayangkan, wallpapper apa yang mau dilekatkan di 'dinding' itu dan perabotan apa yang pasa di ruangan itu.
menyenangkan sekali, bukan.
tapi, saya juga mulai sedikit mengeremnya. mau membaca ulang dulu, supaya plot dan alur ceritanya tetap terjaga. jangan sampai di tengah-tengah jalan nanti harus dirombak habis-habisan gara-gara mengejar kuota.
benar-benar suka sekali hari senin ini.

Mon-16-09


my nanowrimo is : 21.975 words. well, belum memenuhi target 25.000. tapi semoga, hari ini bisa mengejarnya. kurangnya 3025 kata lagi. dan, ya...pasti ada hadiah untuk diri sendiri nanti. apa yaa....


itu, kata-katanya lumayan ok juga : "untuk meraih hal yang besar, diperlukan dua hal : sebuah rencana, dan waktu yang mendesak"




Friday, November 13, 2009

WritingMate-Pet?


beberapa penulis yang saya tahu memiliki peliharaan yang menemani mereka saat sedang menulis. yang paling sering saya dengar adalah memelihara kucing. Ernest Hemingway punya 30 kucing, atau Dickens dengan Master's Cat-nya.

sayangnya, saya tidak menyukai kucing dan terus terang menyukai anjing tapi tidak bisa memeliharanya.

padahal dulu sekali, saya pernah punya anjing, yang walaupun tidak dibiarkan oleh orangtua saya untuk masuk rumah, tetapi sering menunggui saya di bawah jendela kamar. menunggui saya melamunkan banyak hal. tapi, usianya tidak lama. suatu hari anjing kampung itu tertabrak kereta.

tentu jika saat ini saya memutuskan untuk punya anjing, pasti harus berkompromi dengan banyak pihak, dan tentunya dengan sebagian dari diri saya yang lain. hahaha, dasar berkepribadian ganda.

menurut orangtua saya, mungkin saya bisa memelihara anjing jika saya tinggal di pertanian dan berternak sapi atau kambing. dan si anjing akan menjadi anjing penjaga atau penggembala di sana. yang tentunya bukan untuk dipelihara dan jadi teman menulis saya. pun si anjing tidak masuk rumah hanya tinggal di dekat kandang.

jadi, rasa-rasanya, sampai kapanpun saya mungkin tak akan bisa punya teman menulis(hewan peliharaan) kecuali, mungkin, ikan,kura-kura, hamster, ular (ugh, tidak untuk yang terakhir)

jadi ya sudahlah,
dengan berat hati saya mencoret impian saya, untuk punya teman menulis yang tidak terlalu banyak bertanya: sudah sampai bab berapa? hahaha


Workshop Produktif Menulis Buku Anak



yup, buat yang di bandung dan memang menyukai dunia kepenulisan, terutama untuk buku anak. workshop ini sepertinya oke juga.

Jleb

izin pertemuan ke-7
dear master sulak dan master yusi serta teman-teman
tercintah, mohon izinnyauntuk memulihkan kesehatan yaa...jadi ga bisa masuk
sabtu besok.ngomong2, kok tugasnya pada belum ngirim yah. jadi nggak bisa
baca-baca (temenbaca di tempat tidur)oh, iya ini ada kutipan dari E.L
Doctorow
yang Jleb, menancap di hati...semogabisa membuat kita semangat
menulis
:"Planning to write is not writing. Outlining, researching, talking
to
peopleabout what you're doing, none of that is writing. Writing is
writing. "

itulah isi pesan saya buat milis bengkel novel dkj 2009. sungguh, sebenernya amat sangat sayang untuk melewatkan barang satu pertemuan pun, tapi apa daya, badan lagi nggak bisa diajak kompromi. lelah bukan kepalang ditambah maag yang kambuhan (jadi kapok, sok males makan, walaupun emang males)
maka untuk memulihkan energi saya makan apa, saja dan juga mengonsumsi susu coklat sehari tiga kali, kalo pas maag. dan untuk mengobati kekecewaan, saya mulai menamatkan peer bacaan yang dikirim para master.
dan ya, kata-kata E.L Doctorow memang menohok saya. Jleb, langsung ke hati.
(tusuk sekali lagi)
"Planning to write is not writing. Outlining, researching, talking to peopleabout what you're doing, none of that is writing. Writing is writing. "

Begini Jugakah Kamu?

saya begitu. dan distraksi kecil selalu bikin buyar. mestinya saya mulai belajar meng-handle distraksi dengan lebih baik. layaknya meditasi, bukan dengan menolak distraksi-distraksi itu, tapi membiarkannya masuk, menyerapnya ke dalam, membiarkannya menyatu dengan kita. tidak membuat keterpisahan dengannya, sehingga saya dan dia satu. susah!

ya, saya mesti belajar menyerap distraksi.

image :nanowrimo.org

Tuesday, November 10, 2009

Today



my nanowrimo is : 13.686 words so far

Tanggal 15 November nanti , 5 hari lagi, target yang harus dicapai adalah 25.000 kata. Jadi, masih kurang 11.314 kata. Huf, semangat!

Friday, November 6, 2009

My Nanowrimo 2009


Well, udah November aja. Bulan ini selain jadi 'montir'nya bengkel penulisan novel dkj 2009, saya juga ikutan Nanowrimo (national novel writing month) 2009. di bengkel DKJ, kan para montir juga ditarget buat nyelesein novel pada bulan Desember, nah supaya tense dan lebih semangat, didobel ama ikutan NaNowrimo ini deh. Duuh, nantangin banget yak :)

Even ini mentargetkan kita untuk bisa menulis sampai dengan 50.000 kata sampai akhir bulan. Kalo berhasil tentu ada rewardsnya...

Kalo mau tahu lebih lanjut gimana ato mau ikutan check kesini aja: http://www.nanowrimo.org/
udah agak telat sih, karena dimulainya tepat tanggal 1 & berakhir di tanggal 30 November, tapi ga ada salahnya mencoba...

Untuk yang wilayah Indonesia, kamu bisa join di regionnya Asia-Indonesia. Di Facebook juga udah ada group untuk para Wrimos dari Indonesia, sebutannya Nanowrindo, coba search aja nama itu kalo mau join.

Heh, sudah ya...hihihihi, ga banyak2 ceritanya. Segitu aja. Mau ngejar kuota harian, hehehe.

Diakhiri dengan quote hari ini :

'So she sat on, with closed eyes, and half believed herself in Wonderland, though she knew she had but to open them again, and all would change to dull reality...(Lewis Carroll - Alice's Adventures In Wonderland (1865))

Mariiiiiiii semangat menulissss!

image:scottphillips.org

Whatever



Kamu tahu aku sudah bosan
Kebetulan-kebetulan yang dibuat-buat
Hari-hari yang berlalu singkat
Dialog-dialog yang mudah ditebak

Tapi sekarang,
ketika kamu sebuah dokudrama panjang
Ketika kamu bicara secara acak
Ketika kamu beradegan di luar skenario
Ketika kamu tak lagi berimprovisasi
Ketika kamu melepaskan persona peran
Aku tak lagi punya waktu untuk menyimak setiap adegan
Bahkan tidak lagi telaten membaca pesan

Aku kembali merindukan dorama picisan itu
Aku kembali mendamba hidup dalam keseragaman
Aku kembali haus kebetulan
dan malam-malam
yang melaju singkat
Tidur-tidur tanpa mimpi
dan wajah-wajah
bertopeng itu

Sudah terlalu lama
kepalsuan menjadi bagian
Aku tak lagi tersentuh
kereta-kereta penuh muatan
drama kehidupan
yang kau dokumentasikan

Hidupku
Kamu
Kita
Sudah serupa
sinetron
kejar tayang.
image:www.iconoclaststudios.com

Terlalu Cepat

terlalu cepat
kau bekukan
dalam saturasi tinggi.




Aku sudah kehilangan
warna asliku

4(+) Dari Jonathan Stroud


Tips nulis dari Jonathan Stroud penulisnya, The Bartimaeus Trilogy, The Golem's Eye, & Heroes Valley

1. Practise: Write as much and as often as possible.
2. Experiment: Try as many different kinds of writing as you can.
3. Read: As above – as much and as widely as you can.
4. Persevere: (i.) Don't be disheartened by ideas and projects that don't work out. I've got zillions of half-finished things in boxes, assembled over many years. Individually they may not have been any good, but together they pushed me in the right direction.

(ii.) When you're confident you've got something worth showing, send your material to several publishers at once, so you don't waste time if it's rejected. But check to make sure these publishers actually do the kind of book you're proposing! Don't worry if you get rejections, but listen to any advice.

Wednesday, October 28, 2009

Namanya Sofia

Empat belas menit berlalu dan pria itu tetap berdiri di sana, menunggu. Meskipun sepertinya ia sudah tahu kalau biasanya wanita yang ditunggunya itu tidak pernah terlambat barang semenit pun. Hari ini memang tidak seperti biasanya. Wanita itu selalu datang pukul delapan kurang seperempat. Sebelum masuk ke lift menuju ke kantornya di lantai 8 dia selalu mampir ke meja resepsionis dan menitipkan surat-surat untuk diambil koleganya setiap pukul 11. Kurasa pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga wanita itu terlambat masuk kantor hari ini.

Pria itu masih mondar-mandir di depan pintu lift yang sudah membuka dan menutup berulang kali, membawa manusia dari tanah ke langit dan sebaliknya. Tetapi ia bergeming di sana. Dan itu bukan sekali dua kali ia lakukan. Entah sudah yang keberapa kalinya ia melakukan itu. Tapi kali ini jadi terlihat lebih buruk karena orang yang ditunggunya tidak kunjung datang.

Sesaat kemudian kulihat ia masuk ke dalam lift. Kupikir ia sudah bosan menunggu si wanita. Tapi sejurus kemudian, ia keluar lagi dari lift, masih di lantai yang sama. Ia lalu berjalan kembali menuju lobby dan duduk di salah satu sofa di sana. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Memencet nomor dan mendekatkan ponsel pipih itu ditelinganya. Siapa yang diteleponnya? Pasti bukan wanita yang sedang ditunggunya. Aku yakin mereka belum saling kenal. Sebentar kemudian ia menyelipkan kembali benda pipih itu ke saku celananya.

Di lobby ia terlihat resah. Berdiri lalu duduk lagi. Sebentar-sebentar menyisir rambut ikalnya dengan jemari, merapikan letak dasinya yang sebenarnya tidak salah, dan membenarkan ikat pinggang yang menahan celananya yang jatuh terjuntai membungkus kaki kokohnya. Setiap hari dia selalu berdandan rapi dan juga wangi. Semua itu dilakukannya agar wanita itu mau melirik ke arahnya. Sejauh ini dia sudah berhasil membuat seseorang memperhatikannya, meskipun itu belum sesuai harapannya.

Setelah bosan menunggu di lobby ia berjalan menuju keluar. Ia menunggu pintu otomatis terbuka dan menghambur keluar pada mobil-mobil yang sedang menepi menurunkan penumpang. Ia memandangi setiap orang yang baru saja turun dari mobil. Berharap salah satu dari mereka ada yang membuat bagian tertentu di otaknya berpendar.

Tak lama, dari sebuah sedan keluaran Eropa terlihat kaki seorang wanita menjulur, bergerak turun dan mulai menapaki koridor menuju lobby. Ia menenteng sebuah tas dan beberapa kantong belanja di tangan kirinya sementara tangan kanannya menyangga sebuah kotak besar berwarna coklat dengan tutup transparan yang diikat dengan pita kuning. Ada sebuah kue tart besar di dalamnya, mungkin sejenis black forest.

Melihat banyaknya barang bawaan wanita itu, pria yang sedari tadi menunggu itu cepat-cepat berjalan mendahului agar bisa membukakan pintu untuknya. Tapi ia lupa kalau itu adalah pintu otomatis. Maka ketika ia sudah di depan pintu dan pintu itu hampir membuka dia tetap diam menunggu sampai si wanita berjalan di sampingnya. Sambil menarik nafas kulihat ia pura-pura mencari sesuatu di dalam tas kerjanya untuk menunda.

Wanita itu tidak memedulikan semua adegan itu. Semestanya adalah dirinya sendiri. Dan ia tidak pernah menyadari bahwa ada seorang pria yang berdoa agar semua planet kecil yang sedang ditenteng di tangannya itu berhamburan dari orbitnya, sehingga memungkinkan pria itu untuk membantunya memunguti semua serpihan yang ada.

Dan harapan pria itu terkabul sedetik setelah wanita itu berjalan melewati pintu otomatis. Trench coat wanita itu tersangkut di bibir pintu yang sudah menutup dan karena ia berjalan terlalu cepat maka ia jadi oleng dan sedikit kehilangan keseimbangan. Kotak coklat yang disangganya mencelat dari orbitnya dan jatuh di lantai lobby yang dingin. Wanita itu panik. Setelah trench coat-nya berhasil dilepaskan dari bibir pintu, wanita itu buru-buru mengambil kotak coklatnya dan meninggalkan semua barang lainnya di lantai lobby. Pria itu cepat-cepat mengambil kesempatan.

Untung black forest-nya tidak hancur, wanita itu baik-baik saja, tetap menawan seperti biasanya. Dan barang bawaannya yang berhamburan di lantai sudah aman di tangan si pria. Tapi pria itu tidak terlihat baik-baik saja. Ia menjadi lebih resah ketimbang saat belum bertemu wanita itu. Pria itu kini berusaha berjalan berdampingan dengan si wanita menuju ke arah lift. Sementara si wanita seperti lupa dengan barang bawaan lainnya, hanya memandangi kotak coklat berisi black forest itu.

Kurasa pria itu sudah tahu bahwa hari ini adalah saatnya. Setelah 28 hari menunggu akhirnya saat ini tiba juga. Tapi, kulihat begitu kesempatan ini datang, ia malah tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Alih-alih membuka mulut ia malah sibuk mengatur agar tangan kanannya tetap bebas dan tidak memegang apa-apa. Maka ia memindahkan tas dan belanjaan si wanita ke tangan kirinya bersama dengan dengan tas kerjanya agar tangan kanannya bebas dan bisa bersalaman dengan wanita itu.
Tapi wanita itu bukan orang yang terlalu ramah meskipun itu tak menghalanginya untuk berkata terima kasih. Jadi setelah mengucapkan terima kasih si wanita mengangguk seraya meminta kembali barang-barang yang dibawa pria itu. Wanita itu tidak memperkenalkan diri juga tidak menjabat tangan pria itu. Dan aku tahu pria itu kecewa. Terbaca dari raut mukanya. Tapi meskipun begitu si pria tak kehabisan akal.

Pria itu menekan tombol lift untuk si wanita. Si pria tahu jika mereka bisa berada di sana berdua ia masih punya banyak kesempatan. Untuk apa saja. Pintu lift terbuka, tapi wanita itu menengok ke arah yang berlawanan, menanggapi suara seorang pria yang berlari ke arahnya.

“Hei, kau di sini rupanya. Aku sengaja turun untuk menyusul ke apartemenmu. Tadi aku menghubungi ponselmu tapi tidak kau angkat. Tidak biasanya kau datang terlambat. Aku jadi khawatir.”

“Armand,” wanita itu tampak terkejut dengan kemunculan pria itu, “maaf tadi aku membeli ini dulu.” Katanya sambil mengangkat kotak coklatnya yang berharga. “Uhm, selamat ulang tahun yaa.” Wanita itu menarik si pria yang bernama Armand itu mendekat dan mengecup pipinya.

“Iya, sayang terima kasih....” pria itu memeluk erat si wanita dan balas mencium bibirnya. Sementara pria yang lain itu, yang sedari tadi menunggu, tetap berada di ambang pintu lift yang sudah menutup kembali.

Aku tak tahu bagaimana kisah itu berlanjut karena aku memutuskan untuk memalingkan muka. Tak perlu melihat raut muka pria itu untuk tahu apa yang sedang dirasakannya. Aku sudah tahu rasanya. Menunggu seseorang setiap pagi dan berharap bisa mengetahui namanya atau menjabat tangannya. Andai saja kamu mau bertanya padaku akan kuberitahu nama wanita itu, namanya : SOFIA.

Peer Bacaan

Dari mas sulak dan om yusi. Antara lain :
1. Prajurit Schwerk by Jaroslov Hasek (untuk latihan membuat dialog. Nonton juga Before Sunset dan Before Sunrise untuk contoh-contoh dialog yang cerdas)
2. Dataran Tortilla by John Steinbeck(untuk melatih dialog juga)
3. Il postino by Antonio Scarmento (untuk apa ya, lupa...nanti deh ditanyakan pada beliau2 atau mungkin setelah dibaca jadi tahu tentang apa...sayang, belum pernah baca sih)
4. The Catcher In The Rye by JD. Salinger (deskripsi, karakter)
5. Kamus Khazar by Mirolad Pavid (plot, deskripsi)
6. Sejarah Dunia Dalam 10 1/2 Bab by Julian Barnes
7. Sejarah Traktor Dalam bahasa Ukraina
8. Sejarah Cinta....(ini yang dimaksud The History Of Love, bukan yaa?)
9.Adu Jotos Lone Ranger dan Tonto di Surga By Sherman Alexie (Menghapus stereotip dan untuk dialog juga)
10. Million Dollar Baby by F. X. Toole (berkaitan dengan riset)
11.Pencuri Anggrek bu Susan Orleans (riset)
12.Dancer by Column Mc Cann (Point Of View)
13. Apapun Milan Kundera (apapun itu bisa berarti lebih dari satu, kan??? oh no)
14. Apapun Haruki Murakami
15. Apapun Hemingway (untuk belajar deskripsi, mengkongkretkan konsep abstrak)
16.Snow Country by Yasunari Kawabata (menulis ringkas dan tetap indah seperti haiku)
17.G.G Marquez apa saja versi inggrisnya untuk belajar tentang plot
18.Insiden Anjing by Mark Haddon (untuk menulis karakter yang baik dan mengena)
19.Savage Detective by Roberto Belano
20. Mimpi-mimpi Einstein by Alan Lightman (plot)
sejauh ini baru no 20, 18, beberapa milan kundera, beberapa hemingway, eh satu tok deng, 11, 4, dan 6 yang pernah membaca, dan saat ini baru akan membaca lagi pencuri anggrek dan sedang mulai membaca snow country.
Mungkin ada benarnya perkataan beberapa orang bahwa untuk bisa menulis satu buku setidaknya kita perlu membaca 10 buku. Oh, well baiklah....memang banyak, hiks...hiks, tapi baiklah...hehehehe

Friday, October 23, 2009

Vida Winter

"Hampir 60 tahun aku menguping tanpa dikenai sanksi, kehidupan orang-orang yang tak pernah ada. Aku mengintip tanpa malu-malu ke dalam hati dan lemari kamar mandi. Aku mengintip dari balik bahu, mengikuti gerakan pena bulu ketika mereka menulis surat cinta, surat wasiat, dan pengakuan. Aku menyaksikan para kekasih mencinta, para pembunuh membunuh, dan anak-anak melakukan permainan pura-pura...."
"ruang kerjaku penuh dengan tokoh yang berkerumun menunggu giliran ditulis..."
dialog di atas merupakan penggalan dialog yang diucapkan oleh vida winter, salah satu tokoh yang digambarkan sebagai penulis yang cukup produktif menghasilkan karya yang juga digemari banyak orang dalam buku the thirteenth tale, dongeng ketiga belas karangan diane setterfield.
cukup inspiratif, yaa...terutama yang di-bold merah itu.

Thursday, October 22, 2009

Pertanyaan Yang Tak Terkatakan (Part 1)


“Pernahkah suatu saat dalam hidupmu, hanya menginginkan dan menunggu satu hal, sebuah jawaban dari pertanyaan yang tak pernah bisa kau tanyakan?” tanyamu pada sosok gelisah di hadapanmu.

“Apakah itu menyiksamu?” tanyamu lagi, ketika ia berusaha memalingkan wajah. “Apakah itu membuatmu putus asa, karena kata-kata yang sudah menyusun dirinya sendiri dengan rapi menjadi kalimat pertanyaan terpaksa berbaris pulang dan masuk kembali ke bagian terdalam dalam benakmu. Dan diam di sana begitu lama. Menjadi ada dan tiada. Seperti hantu yang tinggal di dalam rumah tua. Yang kadang digosipkan ada namun tak pernah nyata, tapi selalu menghantui semua orang yang lewat di depan rumah tua itu?” cerososmu.

Dan seperti kamu, sosok itu hanya diam. Menunduk. Ketika kau menatapnya lagi. Ia balas menatap. Ketika kau hendak menyentuh wajahnya, ia hanya diam menatap tangan bertemu tangan. Ketika kamu berpaling, ia pun memunggungimu dalam diam.

“Apakah itu membuatmu marah? Karena bahkan kalimat-kalimat tanya yang berdiang di kepalamu tak mampu memutar dirinya sendiri menjadi jawaban. Berkeras diam dalam siklusnya. Seperti air yang tak mau menguap atau logam yang berkeras menjadi karat dan tak rela dirinya melebur ke tempat asalnya, tanah?” tanyamu sekali lagi. Lagi dan lagi dengan rentetan pertanyaan yang tak berhenti. Namun tak kian dijawab.

“Apakah satu-satunya hal yang bisa kau lakukan hanyalah membuat wawancara imajiner dengan dirimu sendiri? Berulang kali menghujani dirimu sendiri dengan pertanyaan yang tak pernah kau tahu jawabannya? Lalu memaki kasar dirimu karena tak pernah bisa memutuskan mana dan apa jawabannya?”

“Apakah hal lain yang kau harapkan terjadi dalam hidupmu adalah ketika kesempatan bertanya itu datang dan seseorang mau memberikan jawabannya dengan tulus dan jujur?”
Dan tiba-tiba kamu pun mengulang jawaban yang sudah kusimpan di kepalaku. “Lalu apa yang akan kau lakukan jika semua jawaban dari pertanyaan di atas itu adalah iya?”

“Bertanyalah, karena bertanya tidak akan membunuhmu,” begitu kata suara lain di balik kepalamu.

“Tapi tidak,” kataku keras. “Kau tak punya keberanian!”

“Ya, memang dan pertanyaan, seperti kait-kait melengkung yang menancap di tubuhku, membunuhmu dengan sakit yang perlahan-lahan.” jelasmu. Kau lalu melanjutkan dengan mimik kesakitan. “Pangkal kaitnya, menyisakan noktah-noktah luka pada sekujur dirimu, darah menetes dari sana, tanpa sadar, noktah-noktah luka itu telah meninggalkan genangan besar tepat di tempat kita berdiri. Dan kau tak pernah menyadari telah kehabisan darah sampai suatu saat kau tak lagi ingat bahwa pertanyaan itu telah sekian tahun hidup di bagian terdalam dirimu. Menyatu dalam sakit-sakit dan racun yang bertahun-tahun tak pernah kau buang. Bergelung dalam nyamannya ketidak tahuan. Tidur dalam kebodohan.”

“Seringnya," potongku. "Kau sendiri yang tak pernah menyadari bahwa mengajukan pertanyaan sungguh lebih mudah ketimbang menyusun jawaban.” katamu ringan.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Tanyakan saja pada seseorang yang pernah ditanyakan hal ini : Apakah kamu jatuh hati padaku?

Aku terdiam menatapmu yang mulai meluruh terhapus dera air hujan yang menerpa kaca jendela. Di luar hujan begitu deras, melabur debu-debu dedaunan, menghayutkan kerikil-kerikil kecil ke selokan. Aku tetap diam bersama dengan pertanyaan tak terkatakanku.

Friday, October 9, 2009

Diawali Dengan Matahari


Ada tulisan menarik tentang kalimat pembuka yang seringkali, secara tipikal diawali dengan : "hari ini matahari bersinar...."
Hal ini, di pertemuan bengkel penulisan novel dkj 2009 yang pertama kemarin (3-10-09), pernah disinggung. Saya baru mulai memikirkannya dengan lebih serius setelah membaca tulisan Teh Rini ini

Simak, sebagian tulisannya di bawah ini dan meluncurlah ke blognya untuk tahu lebih banyak lagi tips-tips penulisan yang ciamik.

"Saya teringat artikel panjang [fokus liputan?] dalam satu edisi Matabaca lama, sastrawan Eka Kurniawan berseloroh kurang lebih, "Penulis yang mengawali cerpennya dengan Pagi merekah cerah, burung-burung berkicau riang pasti tergolong pemalas deh.."

Thursday, October 8, 2009

Curhat, boleh?


Saat ini saya mulai sering mendengar orang berpendapat untuk apa membuat blog kalau hanya ditulisi dengan curahan hati. Hmmmm, rasanya saya mulai bisa menemukan mengapa pendapat itu salah. Bagi saya, jika ingin menulis, menulis sajalah. Tentang apa saja boleh. Mau tentang mencurahkan isi hati. Mau tentang fakta-fakta penting. Mau tentang fiksi, ilusi, terserah saja. Itu hak pribadi. Lagipula membuat blog itu juga gratis. Dan blog adalah sarana yang bisa dipakai oleh siapa saja.

Jangan jadi tergerus semangat menulisnya hanya karena kamu, kita, atau saya sendiri baru bisa menulis blog yang isinya hanya curahan hati yang mungkin untuk orang lain nggak penting. Apa pasalnya saya berpendapat begitu. Ini diandaikan saja begini; bila kita menulis blog dengan maksud untuk latihan menulis, maka yang termudah adalah dengan memulainya dari diri sendiri, pengalaman yang akrab dengan diri kita. Lalu jika suatu saat nanti kita akan menulis cerita tentang orang lain, misalnya akan membuat cerpen atau novel, maka sebelum kita mengetahui dinamika pemikiran, kepribadian dan perasaan seseorang kita harus menyelami punya kita sendiri terlebih dahulu.

Bagaimana bisa kita menulis tentang orang lain kalau kita sendiri belum bisa memindahkan seluruh isi hati, pikiran, dan perasaan kita pada sebuah tulisan? Menurut saya, cara belajar memahami orang lain, sumber termudahnya adalah dari diri sendiri. Kita tahu bahwa saat sedih kita menangis dan mengeluarkan air mata karena itu terjadi pada kita dan kita bisa mengumpamakannya itu terjadi pada orang lain saat kita akan menulis sebuah cerita.

Jadi, jangan berhenti menulis hanya karena kamu merasa tulisan kamu hanya berisi curhat pribadi. Heiii, bukankah banyak juga yang pada akhirnya hasil curhatan pribadinya menghasilkan sesuatu. Raditya Dika dengan Kambing Jantannya, atau blogger-blogger lain yang juga sudah menelurkan karya dari hasil berkontemplasi dengan diri sendiri.

Menulis tentang diri kita ibarat berbicara dengan bagian terdalam diri kita. Kita bisa terkejut dengan sekian banyak pembendaharaan kata yang bisa muncul saat kita berhadapan dengan diri kita sendiri dengan tulus. Menulis, menulis, menulis saja terus. Jangan dengarkan orang yang mematahkan semangatmu untuk terus menulis dan menemukan dirimu sendiri dalam tulisan-tulisan itu.

You can only understand people if you feel them in yourself.

No man really knows about other human beings. The best he can do is to suppose that they are like himself. (from John Steinbeck)

Telur.Peri.Merah Jambu.


[tiga kata itu adalah kata kunci untuk tugas cerpen pertama dari bengkel penulisan novel dkj 2009. dan saya pun berusaha untuk membuat tugas pertama tersebut.] ini cerpennya :


Aku terbangun di sisi kanannya. Perlahan kuloloskan sebelah kakiku yang tertindih kakinya lalu beringsut bangun dari tempat tidur. Setelah meletakkan kembali bantal yang tadi kutiduri pada tempat yang semestinya kuluruskan kakinya yang tertekuk, lalu dengan telapak tangan kulicinkan keriput sarung bantal dan seprai bekas kutiduri. Kulipat juga separuh selimut yang tadi kugunakan bersamanya, sementara sisa selimut yang lain masih membungkus tubuhnya erat. Aku memandangi tubuhnya yang masih tergolek di tempat tidur. Semuanya sudah persis sama seperti apa yang seharusnya. Tinggal membuka sedikit gorden agar nanti sinar matahari bisa menyusup masuk membangunkannya. Dan semuanya akan menjadi sempurna. Hangat dan terang seperti yang pernah kubayangkan.

Aku lalu beranjak menuju dapur, yang harus kulakukan selanjutnya adalah membuat sarapan. Ini bukan semacam keharusan atau tipikalitas, tetapi detail inilah yang kusimpan di ingatan dan ini juga merupakan keinginannya. Jadi, apa salahnya benar-benar mewujudkan detail yang tersimpan di pikiran kita. Dan pasti dia pun akan sangat senang jika aku bisa mewujudkan impian sederhananya. Disiapkan sarapan di tempat tidur oleh seseorang yang dikasihinya.
Ketika membuka lemari es, perasaan gundah menyergapku. Seharusnya aku mempersiapkan diri sejak awal untuk menghadapi peristiwa semacam ini. Tapi, apa yang terjadi semalam memang sedikit di luar rencana. Jadi aku belum bersiap dengan isi lemari esku. Hanya ada telur ayam yang bisa diolah menjadi sarapan. Tidak ada roti tawar, bahkan mie instan. Lagipula santap pagi mie instan tidak sesuai dengan gambaran romantis yang tersimpan di pikiranku. Jadi tidak ada pilihan lain selain menghadapi si telur ayam ini.

Aku tahu ini terdengar bodoh, aku takut pada telur ayam. Bisa jadi ini semacam phobia. Ketakutanku terhadap telur hampir sama seperti seorang kanak-kanak yang takut terhadap peri gigi yang bersembunyi di bawah kolong tempat tidur, yang di malam hari akan mengendap-endap, menakuti mereka. Pada tingkatan yang lebih ringan, ketakutanku ini bisa diumpamakan serupa keengganan seorang pria macho terhadap warna merah jambu yang dianggap kemayu.
Jadi bagaimana, tanyaku pada diriku sendiri. Akankah aku membuat sarapan berbahan telur ayam? Akankah aku menyentuh telur-telur itu? Jika saja si mbok sudah datang dari kampung, aku bisa memintanya memecahkan telur-telur itu tanpa aku harus menyentuhnya, lalu aku akan mengolahnya jadi omelet yang lezat. Tapi sekarang ini hanya ada aku dan telur-telur itu.

Apa yang akan terjadi jika aku menyentuhnya? Pasalnya melihatnya saja sudah membuatku bergidik dan merasa mual. Membayangkan kulitnya yang dingin dan rapuh membuat sebagian bulu kudukku berdiri. Kecemasan perlahan mulai menghinggapiku. Sementara waktu berdetak cepat. Aku harus segera memutuskan, akan membuat sarapan atau tidak, sebelum aku kehilangan momen yang serupa dengan detail di dalam pikiranku dan semua gambaran indah yang sudah kubangun akan hancur. Dan sebelum aku membuatnya kecewa karena tidak bisa memenuhi impian sederhananya, menikmati sarapan di atas tempat tidur.

Aku menarik nafas panjang. Menghitung setiap tarikan dan hembusan lalu kembali mengingat –ingat apa yang pernah dikatakan terapisku tentang menghadapi rasa takut yang tidak masuk akal ini. Aku tahu telur tidak berbahaya, itu hanya telur yang bahkan bisa kuremas dan kuhancurkan dalam sekepalan tangan. Itu tidak akan melukaiku. Aku bahkan bisa membuatnya menjadi santapan yang nikmat. Jadi mengapa manusia harus takut pada sesuatu yang bisa ia makan?

Aku terus menerus mengulang sugesti itu pada pikiranku. Terus dan terus sambil mengambil tisu dari meja makan untuk mengelap bulir-bulir keringat yang mulai muncul di dahiku. Aku mencoba mengerem semua alur pikiran negatif yang berjalan menuju otakku sambil terus mengatakan pada diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja ketika aku menyentuh telur itu. Saat sudah berhasil memegangnya yang perlu kulakukan hanyalah memecahkannya, mengaduknya dengan garpu, lalu telur itu akan berubah menjadi omelet pengambil hati kekasih tercintaku bukan lagi monster tak berkaki dan bertangan yang sering membangkitkan kenangan pahit masa kecilku.

Ketakutanku pada telur ayam memang bermula saat aku masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Saat itu sepulang sekolah, ketika aku baru saja menyebarang jalan, tiba-tiba di depanku ada sebuah truk bermuatan telur yang mengerem mendadak untuk menghindari mobil yang melintas di depannya. Saat mengerem mendadak itulah, tutup bak bagian belakang truk terbuka dan seluruh muatannya berhamburan menimpaku. Seluruh tubuhku tertimbun telur-telur yang hancur. Sejak peristiwa itu aku begitu membenci telur dan menganggapnya monster yang akan melukaiku dan membuatku bau.

Dari jendela dapur, sudah nampak larik-larik sinar matahari. Di kamar tempat ia tidur, matahari pasti sudah mulai mengintip dari celah gorden dan ia pasti akan segera terbangun karena silau. Waktuku semakin sedikit. Aku hampir mengambil keputusan yang menyimpang dari detail yang ada di pikiranku, lari ke depan komplek untuk membeli sarapan berupa bubur, ketika kudengar suaranya. Lembut dan meruntuhkan seluruh sugesti yang tadi sedang kubangun.

“Selamat pagi, kok kamu tidak membangunkanku?”
“Uhm, ya, itu karena aku sedang mempersiapkan sesuatu yang mungkin akan kamu sukai.”
“Ah, aku tahu. Apa itu sarapan pagi berupa bubur ayam Mang Jali yang terkenal enak itu? Sejak tadi malam, aku sudah membayangkan untuk sarapan itu. Makanya aku berharap bisa bangun sedikit lebih pagi dan menunggu Mang Jali lewat. Kelezatan bubur ayamnya sudah terdengar sampai ke daerahku.”
“Ah, ya. Jadi kamu mau bubur ayam dan bukan omelet?” tanyaku sambil menyeka beberapa bulir keringat yang masih menempel di keningku. “Aku baru saja berpikir untuk membelikanmu bubur, kalau memang itu yang kamu inginkan.” lanjutku.
“Ya, tentu saja. Bagaimana kalau kita yang kesana saja. Aku sudah lapar berat.” rajuknya.
“Kamu mau kita makan di sana? Bukan di sini atau di atas tempat tidur?”
“Ya, kenapa?” tanyanya. Pipinya bersemu merah jambu ketika menyadari bahwa aku akan mempersiapkan sarapan-di atas-tempat tidurnya.
“Uhm, itu sedikit di luar detail yang kupersiapkan. Tapi, baiklah jika memang itu yang kau inginkan.”
“Hei, berhentilah untuk selalu menuruti keinginanku. Jika kau lebih suka memasakkanku sesuatu yang istimewa aku tidak keberatan menunggumu memasak.”
“Ah, tidak. Tidak apa-apa. Aku baru saja mulai menyukai detail baru yang kau ciptakan itu. Ayo kita makan bubur ayam Mang Jali. Kau mau makan dengan apa? Apa kau suka taburan kacang, seledri dan bawang goreng secara bersamaan atau hanya salah satu dari semua itu? Kau mau makanan pelengkap apa? Sate ati ampela, telur puyuh?”
“Hei, tidak perlu bertanya sampai sedetail itu juga, kan. Kita lihat saja nanti, ok.” katanya sambil membulatkan kedua matanya. Dan aku pun mulai merasa telah menemukan orang yang tepat, yang bisa mengimbangiku. Dia benar-benar pasangan yang sesuai dengan detail yang kuharapkan.

Gairah

Akhirnya, di antara reruntuhan kertas-kertas yang menggunung (oh lebaynya) dan meja yang sudah sedikit dilicinkan dari berbagai peranti pendistraksi, saya pun duduk manis dan merenung betapa lamanya saya tidak mengupdate blog ini. Perenungan ini berujung pada itikad untuk kembali menghidupkan 'rumah' yang sudah seperti tidak disentuh penghuninya selama beberapa hari karena ia sibuk berjibaku di luar sana, pada rumah-rumah nomaden, kendaraan roda empat, kereta-kereta dan tempat-tempat yang jauh, yang bahkan baru kali itu saya dengar namanya, Lelea, Trusmi. Oh, Tuhan dimanakah gerangan tempat itu berada? Dalam mimpi saya atau memang ada di dunia nyata. Yang jelas jika ada pun saya tak sempat berpijak di tanahnya lebih dari satu malam.
Baiklah, cukup sudah paragraf pembukanya. Biarlah saya mulai memperkenalkan diri kembali pada rumah yang sudah saya tinggal cukup lama ini. Semestinya saya masih orang yang sama. Tapi, entah kenapa saya membiarkan kesibukan menggilas saya menjadi serupa emping yang pipih, nyaris tak lagi dikenali berasal dari biji melinjo berkulit merah yang nampak masif itu. Tapi pada dasarnya saya masih memiliki rasa yang sama. Hanya saja saat ini saya merasa terlalu pipih, tipis, dan rapuh. Dan terkadang terlalu pucat.
Pipih karena belakangan nafsu makan saya mulai timbul tenggelam lagi. Makan baru enak saat disambi menyuapi si kecil Ezra, dan itu pun hanya bisa dilakukan pagi hari sebelum ngantor (terima kasih, Ezra, akhirnya ibu bisa sarapan), atau ketika saya sedang menginginkan makanan tertentu. Selebihnya, benar-benar malas.
Tipis lebih dikarenakan sudah hampir sebulanan lebih saya menjaga jarak dengan buku-buku bacaan. Rasanya seperti ketinggalan banyak hal. Saya seolah bertransformasi jadi buku panduan masak praktis yang tipis, bukan lagi sebuah buku bacaan yang gendut dengan isi menarik yang ketika nyaris sampai di halaman terakhir sangat sayang untuk dituntaskan. Rapuh, karena saya mulai merasa mudah dihancurkan oleh pikiran-pikiran saya sendiri. Dan pucat karena sepertinya saya mulai diharuskan menyukai ruangan tertutup. Ah, yang ini terlalu basi untuk dituliskan.
Ya, mungkin kalimat-kalimat di atas cuma retorika. Atau basa-basi untuk menyelamatkan diri saya sendiri dari perasaan asing pada diri sendiri. Tapi bisa juga karena saya mulai menjauh dari apa yang seharusnya dan ingin saya kerjakan. Salah satunya adalah menulis. Dan membaca buku yang bagus. Dan menulis blog ini dengan segala hal yang berhubungan dengan dunia kepenulisan dan hasil-hasil pemikiran setelah membaca buku-buku bagus. Yang semuanya menjadi salah satu sumber kebahagiaan sederhana saya. Dan karenanya saya mulai membenci diri sendiri karena tidak mampu meluangkan waktu untuk melakukan itu semua dengan dalih kesibukan.
Keinginan untuk kembali 'rajin' menata interior rumah ini dihidupkan dengan diterimanya saya sebagai salah satu peserta bengkel penulisan novel dkj 2009. Dengan begitu, mau tidak mau saya harus bisa menghargai tubuh saya sendiri yang sudah rela bersusah payah menempuh perjalanan Bandung-Jakarta selama 12 kali pertemuan (tersisa 11 pertemuan lagi, yang pertama 3 oktober kemarin) dengan membuat catatan atau apalah mengenai keikutsertaan saya tersebut. Sehingga 12 kali pertemuan itu tidak lalu menjadi sekedar sebuah perjalanan mondar-mandir tak karuan tetapi juga bisa mengembalikan semua gairah yang hilang.
Mengutip dan merangkum ucapan salah satu pengajarnya bengkel penulisan novel dkj 2009, A.S. Laksana, : "Adalah bagaimana kita menjaga gairah kita tetap menyala selama menjalani 12 kali pertemuan ini dan setelahnya. Menjaga gairah dan ritme agar kita dapat menyelesaikan dan menghasilkan sesuatu yang kita harapakan (novel, for sure!)"
Jadi ya, saya senang. Setelah marah-marah pada diri sendiri. Setelah pertemuan pertama itu, Alhamdulillah gairah saya kembali muncul. Buktinya, saya mulai menulis lagi, kan. :)

Friday, August 28, 2009

Writing Manifesto (Round Up 1)

Diputuskan, inilah round pertama untuk writing manifesto. Jadi di writing manifesto yang pertama ini, saya berhasil mengumpulkan 8 poin yang bisa diterapkan dalam menulis. Semoga bermanfaat yaa...

  1. Meredam stimulus

  2. Bersih-bersih

  3. Ide=Kelinci

  4. Relativitas vs Konsistensi

  5. Jadwalkanlah

  6. Membuat Jarak

  7. Long Road Dark Tunnel

  8. Variasi

Writing Manifesto 8 : Variasi


Manifesto terakhir untuk round terakhir adalah : Variasi.
  1. Dengan mencoba berbagai variasi media untuk menulis, misalnya dari blogspot ke multiply, lalu ke facebook, lalu ke twitter, saya jadi bisa merubah-rubah gaya menulis saya sendiri. Multiply untuk tulisan panjang yang lebih memiliki sentuhan personal, blogspot yang terarah untuk meningkatkan kemampuan menulis cerita pendek dan puisi, lalu facebook atau twitter, membuat saya bisa menulis dengan kalimat yang singkat-singkat saja tetapi tetap maksimal. Belum sepenuhnya bisa menulis dengan kualitas yang bagus untuk masing-masing tempat, tapi media-media itu bisa menjadi sarana untuk latihan dengan cara yang berbeda-beda. Sama halnya dengan ketika hanya menulis di atas selembar tissue, kertas tak terpakai, notes khusus atau buku harian. Semua pasti akan membuat kita menulis dengan gaya yang berbeda-beda.

  2. Variasi lain yang saya lakukan adalah berpindah-pindah dari menulis(juga membaca) tulisan non-fiksi ke fiksi. Dari satu genre ke genre lainnya. Dari satu topik ke topik lainnya. Bisa jadi satu sama lainnya itu tidak berhubungan. Bahkan bukan sesuatu yang saya minati. Tapi, biar saja. Variasi-variasi tersebut justru menghidupkan area-area di otak yang belum menyala. Ide-ide baru bisa muncul karenanya.

  3. Keuntungan yang bisa didapat dari melakukan variasi adalah : otak tidak jenuh, lebih segar, bisa menemukan perspektif baru, mendapati jawaban-jawaban atas pertanyaan yang masih mengambang, dan banyak lagi. Otak juga bisa beristirahat dengan satu topik tertentu ketika berpindah ke topik yang lain. Dan yang paling penting, dengan melakukan variasi kita bisa menemukan kontras yang maksimal. Kekontrasan akan membantu kita menemukan, membedakan, dan menempatkan apa yang paling kita butuhkan dalam sebuah tulisan.

    #Kekontrasan membuat kita bisa melihat dengan lebih jelas. Menambahkan variasi juga kontras warna dalam tulisan kita, akan membuatnya terasa lebih hidup dan tidak membosankan. Bukankah hidup pun begitu, penuh variasi dan kontras. #

Jika


jika pantai
aku cuma
sebutir pasir

jika awan
aku cuma
setitik embun

jika langit
aku bahkan
bukan semburat

jika hujan
aku hanya titik air yang menguap
masih pantaskah aku
berkacak pinggang
di hadapanmu, Tuhan?

Tuesday, August 25, 2009

Baca


Meskipun tidak memposting ‘buku-buku yang kubaca bulan ini’ sebenarnya saya tetap berusaha mengurangi 'tumpukan dosa itu'. Saya mulai berpikir apa gunanya punya akun di Goodreads kalo ga dimanfaatkan. Memang, cara yang ini lebih klasik dan terasa lebih menyenangkan. Tapi, saya mulai tidak punya waktu untuk melakukan itu.

Apalagi, kini saya tidak lagi menerapkan aturan dalam membaca. Saya mulai membaca dengan menggunakan insting semata. Bukan sistem urutan. Kadang buku yang sudah dibeli berbulan-bulan yang lalu yang seharusnya dibaca duluan malah belum tersentuh sampai sekarang. Biar saja. Berarti itu sudah jadi takdirnya.

Beberapa bulan yang lalu tidak ada yang namanya istilah membaca ulang. Selesai dengan halaman terakhir, buku disimpan kembali di rak. Juga tidak ada yang namanya menekuri atau menandai kalimat-kalimat yang 'berkedip' dengan stabilo. Pokoknya yang penting adalah melumat daftar bacaan bulanan sampai habis.

Sekarang sedikit berbeda. Ada beberapa buku yang saya cerna pelan-pelan. Sama seperti gaya makan slow food. Ada juga yang dibaca kembali berulang-ulang. Sampai nyaris hapal dengan kalimat-kalimat tertentu. Nyatanya cara itu jauh lebih meninggalkan jejak di ingatan ketimbang membaca banyak dan melupakan isinya.

[Mungkin juga ini karena saya sedang bosan dengan aturan dan pola-pola. Saya mulai menyukai sistem acak dan kebetulan-kebetulan. Seperti dulu. Biar ketajaman ‘membaca’ itu muncul lagi. Lagipula peer ‘membaca’ saya jauh lebih banyak sekarang.]

Ramadhan, Day 3.
(bersama dengan fritjof capra-the hidden connection...)

Monday, August 24, 2009

Bola-Bola Kertas dan Pas Foto 3x4


Senin meeting. Selasa menyewakan telinga. Rabu analisis jabatan. Kamis interview atau rekruitmen. Jumat laporan presentasi atau membakar kertas-kertas. Sabtu piket. Minggu tidur dalam kehampaan.

Jumat kadang-kadang menjadi hari yang saya sukai. Hanya karena ada bola-bola kertas yang terpanggang api dan pas foto 3x4 bekas yang ditempel ulang di atas kertas HVS yang menjadi hiburan saya belakangan ini.

Seharusnya saya membeli album untuk memajang pas foto-pas foto bekas itu. Bukan menempelnya di kertas. Tapi sudahlah.

Sebenarnya ada dua yang paling istimewa dari deretan pas foto tak terpilih itu. Satu adalah pas foto wanita cantik berambut ikal sebahu. Satu lagi, pria berkacamata dengan rambut cepak.

Dua orang itu ; Satu mantan pacar saya. Satu lagi pacar mantan pacar saya. Keduanya ada di dalam tumpukan kertas yang tidak terpilih.

Entah mengapa bisa begitu. Pasti bukan cuma main-main serupa kebetulan mereka bersama di sana. Aneh rasanya melihat mereka masih saling bersama meskipun hanya dalam bentuk lembar biodata.

Dua orang itulah yang ingin saya temui saat ini. Maka saya masih menyimpan curicullum vitae keduanya.

Saya tidak memburaikan kertas mereka dan menjadikannya bola-bola. Saya menyimpan keduanya pada sebuah map di dalam laci meja kerja.

Mungkin dengan memenjarakannya, saya bisa mengawasi tindak-tanduk mereka.

Dalam keterpisahan ini masihkah mereka mengkhianati saya?

Jika mungkin, kelak saya akan menemui mereka berdua dan bertanya. "Kamu sahabatku. Dan kamu kekasihku. Kenapa kalian melakukan semua ini?"

Ya, sejujurnya cuma untuk satu pertanyaan itu saya masih menyimpan mereka berdua.

Untuk satu pertanyaan yang hampir 9 tahun tidak terjawab, saya tidak menjadikan mereka bola-bola kertas yang terpanggang api. Hiburanku setiap Jumat, satu bulan sekali.

Padahal, pasti sedap melihat mereka berdua terburai menjadi serpihan-serpihan kertas atau terpanggang di atas api.

Saturday, August 22, 2009

Loneliness is Black Coffee and Late-Night Television; solitude is herb tea and soft music.


.loneliness is black coffee and late-night television; solitude is herb tea and soft music.

Kamu menyeruput kopi dari gelas terakhirmu yang berderet belum dicuci. Aku bilang berhenti minum kopi. Kamu jarang minum air putih. Kamu bisa sakit ginjal. Kalau terus-terusan berkebiasaan buruk seperti itu.

Kamu tidur dengan televisi menyala. Aku bilang matikan. Ayo hemat energi. Dunia sebentar lagi kiamat. Akan kau warisi apa anak-anakmu kelak?

Kamu makan tengah malam. Aku bilang hentikan. Kamu sudah kelebihan berat badan. Kamu mau mati duluan? Siapa yang mau mendengarkan semua repetan ini?

Kamu diam. Aku tahu kamu tahu jawabannya.

Sekarang aku memahami arti kesepian, katamu.

Tak ada lagi yang merepet tengah malam;
Tentang pekat dan hitamnya kopi tubruk.
Tentang televisi tengah malam.
Dan piring-piring kotor yang berserakan.

Tapi ini lebih dari kesepian itu sendiri, katamu lagi.

Kamu merunduk ke arahku. Menatapku.

Dan aku tahu apa yang kamu mau. Merengkuhku di saat-saat itu.

Tapi aku tahu, aku sudah tidak bisa lagi melakukannya;

Duduk di kursi di hadapan jendela sambil menyeruput teh dan mendengarkan musik kesayanganku.

Dan kamu tahu alasannya.
Dan kamu semakin mendalami memahami kesunyian.

Friday, August 21, 2009

Bianglala Pasar Malam


bukan roda gila atau rumah hantu yang akan kau datangi. makanya aku memilih untuk menaiki bianglala itu. seperti biasanya. saat itu kau pasti hanya akan duduk menungguku. di kursi hijau tua sambil menikmati kembang gula merah mudamu. atau sesekali melemparkan bulatan rotan pada botol-botol di ujung jalan. dan tentu saja membelikan balon gas yang nanti akan kuterbangkan.

tapi, malam itu tidak. kamu berdiri tepat di hadapan bianglalaku. entah apa yang sedang kau simak. derit-derit roda yang mulai berkarat. atau putarannya yang kian hari kian pelan. kamu menengadah ke atas sambil sesekali menjilati es krim yang kau gengam dengan tangan kanan. aku menatapmu dengan tatapan yang sama seperti hari-hari yang lalu. ketika kamu melambungkan bola ke dalam ring atau mencoba aneka permainan yang kekanak-kanakan. aku tahu kamu tahu. dan sepertinya kamu pun begitu. rasanya tidak perlu ada penjelasan. seperti halnya tidak perlu alasan mengapa pasar malam itu harus diadakan.

tapi malam itu sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu. entah apa. pasti sesuatu yang perlu diucapkan. bukan sesuatu yang hanya disimpan, seperti selama ini. jadi kamu menungguku di bawah bianglalaku yang berputar pelan. aku sendiri heran. mengapa kau tidak naik saja kesini. berputar bersama dalam lingkaran bianglalaku. tapi lalu kulirik bangku di sebelahku yang sudah bermuatan. dan aku mengerti. akan sulit mengatakan sesuatu yang perlu diucapkan jika kau duduk di bangku yang berbeda denganku. jadi aku hanya memandangimu dari atas sini. melihat es krimmu yang mulai melumer. dan matamu yang terpaku melihat putaran bianglalaku.

apa yang kau pikirkan? apa kamu menunggu giliran naik? apa kau tergesa-gesa untuk menyampaikan pesan? mungkin jika kau terbangkan beberapa balon gas kesini aku bisa menangkapnya. kamu bisa menyampaikan pesan dengan cara itu jika kau mau. tapi lalu kusadari setelah kau memberi pesan aku hanya bisa meneruskannya ke angkasa bukan kembali padamu. jadi kamu bergeming. cuma menatap putaran yang terus memelan. mungkin menungguku turun. mungkin berharap saat kau naik nanti aku akan ikut bersamamu. tapi tidakkah kau membaca tulisan di depan, setiap orang hanya punya satu giliran.

ketika bianglala itu benar-benar berhenti. kau segera menghentak. merunduk-runduk di bawah besi-besi penyangga bianglala yang sudah berkarat. menyelinap di tengah deru suara mesin penggerak yang baru saja mengepulkan asap gelap.

"pergi ke penjual tiket." katamu. dan aku menurut. meskipun aku tahu aku tak boleh lagi membeli tiket. penjual tiket itu lalu mengulurkan sebuah amplop padaku. isinya sebuah pesan yang lebih halus dari isyarat. kamu seolah berbisik dalam pesan itu...

"seperti menaiki bianglala
kamu di atas
aku di bawah
di setiap putarannya
kita tetap tak bisa bersama..."

aku lalu menengadah mencoba mengikuti putaran bianglalamu. putarannya bahkan jauh lebih lamban dari putaranku. aku tahu kau akan berada di sana jauh lebih lama lagi. jadi aku pergi dan berlari ke tanah lapang jauh dari hiruk pikuk pasar malam itu. sesampainya di sana pagi mulai datang. penjual balon baru saja melepaskan balon-balon tak terpilih ke langit yang semakin membiru. aku meminta satu. menulisinya pesan lalu menerbangkannya ke angkasa. seperti biasa. satu tahun sekali.

"selamat tinggal pasar malam
bukan bianglalamu yang menarikku kesana
bukan pula manisnya gula-gula
atau badut dengan bola-bola
tapi kenangan akan balon pertama yang kau belikan
setiap malam sebelum ramadhan
selamat tinggal pasar malam
sampai jumpa tahun depan..."
agustus 1986-agustus-2009

Friday, July 31, 2009

Peraturan Kebetulan

#1. Dalam sebuah penyelidikan, tidak ada yang namanya kebetulan
#2. Jika sering terjadi, apa itu masih bisa disebut kebetulan?
#3. Bukan sekedar nomor yang berulang.
#4. Atau pertemuan dengan orang yang sama,
#5. Atau pesan yang disampaikan oleh orang tak dikenal
#6. Dan benda-benda mati yang tiba-tiba saja seperti hidup.

Tuesday, July 28, 2009

Bayangan

kalau benar aku bayanganmu, lalu apa?
toh, aku akan tetap jadi bayangan saja, kan...

Jendela

jika pintu yang lain bisa terbuka,
lalu apa?

pernahkah kau mengerti bahwa jendela akan selalu ada di setiap ruangan
di mana saja kecuali penjara?

dari sanalah ia masuk...
ya, dari jendela yang kubuka

ah, lalu apa?
bagaimana?
masa iya aku tak boleh melongok ke luar
atau sebaliknya apa yang di luar
tak boleh menyapa yang di dalam

iya...aku punya jendela
pintu juga, meskipun itu tertutup
jadi bagaimana?

biar dia masuk dari jendela saja, ya...
kalau pintunya masih tertutup

Thursday, July 16, 2009

Ketika Buku Lebih Dari Sekedar Bacaan( by : Wiwiek Sulistyowati)

Selain berfungsi teman yang sangat setia ketika sedang menunggu kereta di stasiun, nunggu teman yang ngaret lebih dari dua jam, buku juga bisa jadi great motivator/penyemangat hidup ketika sedang down/desperado or lainnya.

Ada beberapa buku yang mampu menyalakan api semangat yang kadang-kadang redup tertiup angin.
5 CM nya DONNY DHIRGANTORO, berkisah tentang persahabatan 5 orang yang begitu solid hingga akhirnya memutuskan untuk berpisah sementara. Pertemuan mereka dirayakan dengan melakukan pendakian ke Semeru. Membaca novel ini saya kembali terkenang dengan perjalanan menggapai atap pulau Jawa tersebut. Ada kalimat yang indah, yang selalu saya ingat kala membutuhkan kobaran api semangat.

"Biarkan semua keyakinan, keinginan, cita-cita dan harapanmenggantung.....menggambang ....5 centimeter ....di depan kening kamu ....sehabis itu yang kamu perlu cuma ....kaki yang akan berjalan lebih jau dari biasanya,tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya,mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,leher yang akan lebih sering melihat ke atas,lapisan tekad yang seribu lebih keras dari baja,hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya,serta mulut yang akan selalu berdoa ....."
LIFE OF PI by YAN MARTEL
Ketabahan dan ketegaran Pi mengarungi Samudra Pasific bersama seekor Harimau Benggala selama 7 bulan sangat mengagumkan. Pi mampu melihat segi positif dari musibah yang menimpanya, yang tercermin dalam kalimat "beruntung ada Richard Parker (nama harimau) yang menemaniku, jika tidak mungkin aku sudah didera kesedihan dan putus asa yang berkepanjangan memikirkan keluargaku yang tenggelam"
Ah, Pi memang hebat
STEPHEN KING ON WRITINGSebuah memoar yang ditulis oleh Stephen King ketika ia mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Selain bercerita tentang masa kecilnya, dalam buku ini King juga berbaik hati memberikan tips menulis dan proses kreatifnya ketika menulis novel. Buku ini menjadi bahan contekan yang bermanfaat jika ingin menulis cerita thiller.
Sebenarnya masih banyak buku2 yang inspiring, tapi nanti akan saya tulis di postingan akan datang.

Tulisan ini dibuat dalam rangka bagi-bagi buku gratis yang diselenggarakan oleh mba nia

Kau 'Kan Selalu Kucinta, Sayang...(by: Haryadi Fathin Yansyah)

Pacarku banyak.... banyak sekali malah. Sampe sekarang aku masih aja suka ’selingkuh’ dan ’cari pacar lagi’ –maap bukan penggemar ST 12 :P – Tapi... diantara semua pacar-pacarku itu, beberapa diantaranya sangat mengena di hati dan terasa sangat spesial dan membekas. Aku memang bukan petualang ’cinta’ sejati. Pacar-pacarku, walaupun banyak, hanya berasal dari kalangan yang itu-itu saja. Jadi maaf mungkin pengalamanku soal pacar-memacar =xixi= ini masih seadanya. Tapi... Aku sangat menyayangi pacar-pacarku itu, gak percaya? ini buktinya :)Baik, aku akan memperkenalkan beberapa pacar yang sampe sekarang masih suka kepikiran.

1. Matilda – Roald Dahl
Aku sayaaang sekali sama pacarku yang satu ini. Walaupun sekarang udah dekil, nyatanya aku tetap cintah. Pertama kali aku mengenalnya ketika SMP. Dia ditenteng-tenteng oleh temanku. Aku sempat mengajaknya ’kencan’ berapa hari di rumah, karena kadung jatuh cinta, aku cari dia, dan... jadilah ia pacarku.Dari pacarku yang satu ini, aku belajar banyak. Salah satunya bahwa Matilda, yang digambarkan sebagai gadis kecil yang tidak diperhitungkan, (bahkan oleh orang tua dan saudaranya) ternyata memiliki kejeniusan yang luar biasa. Dengan kecerdasannya, ia berusaha untuk ’memberikan pelajaran’ kepada orang tua, sodara dan juga kepala sekolahnya yang galak. Penggambaran Matilda yang luar biasa bikin aku terkagum-kagum. Bukan main cerdas sekali bocah lucu ini (syukur ketika difilmkan, tidak banyak bagian-bagian yang berubah), jadi mikir... siapa tahu penggambaran Andrea Hirata tentang Lintang terinspirasi dari pacarku ini.

2. Totto Chan – Tetsuko Kuroyanagi
Ketika pertama kali ketemu dengannya, aku sudah jatuh cinta. Love at the first sight gitu deh =alaaah, xixi= Dan ternyata... mencintai dan menyayanginya bikin ’nagih’! Ia yang berkesempatan nyicip sekolah yang berbentuk gerbong kereta api, bikin aku iri. Sampe sekarang, sampe detik ini, aku masih bermimpi bersekolah di sekolah yang menyenangkan seperti itu. Okelah mungkin zamannya sudah lewat, tapi setidaknya aku masih bisa berkesempatan membawa anak-anak merasakan hal-hal menyenangkan ketika bersekolah seperti halnya Totto Chan, kan? Yah, siapa tahu nanti ada sekolah seperti Tomoe Gakuen, dan aku sebagai kepala sekolahnya… menyenangkan sekali setiap hari melihat keceriaan anak-anak. Andai….3. Sang Pemimpi - Andrea HirataDari ketiga pacarku ini, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor (maap Maryamah Karpov gak masuk hitunganku... maap :P) jika ditanya, ”Mana yang paling kamu suka?” maka aku akan jawab, ”Edensor.” Tapi kalo ditanya yang paling berkesan, aku akan jawab Laskar Pelangi. Tetapi.... Sang Pemimpilah yang paling membekas di hati. Adegan Arai yang menangis tersedu di akhir cerita betul-betul bisa memompa semangat dikala down. Mudur maju aku untuk setidaknya bisa bermimpi seperti Arai... ah, mungkin ini saatnya aku mengencani ia lagi :)

4. Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1000 Dolar – Marina Silvia K.
Dari pacarku yang ini, dahaga ’travellingku’ sedikit terpuaskan. Asyik sekali mengencaninya. Aku bisa diajak ’keliling’ Eropa. Melihat tingkah laku orang-orang dan kebudayaan dari negara yang berbeda. Pacarku yang ini juga dengan baik hati menjelaskan setiap detail bagaimana caranya jalan-jalan di eropa. Satu pesan yang paling aku ingat dari pacarku ini, sebuah wejangan bagi orang-orang seperti aku (yang pingin travelling tapi takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan) yang kira-kira seperti ini. ”Semua bisa terjadi di depan rumahmu sendiri!” So... untuk mendapatkan pengalaman mencengangkan, kenapa harus takut?

5. Hafalan Shalat Delisa – Tere Liye
Suka malu sama Delisa yang dengan usianya yang masih muda sudah memiliki ketekunan yang kuat dalam beribadah (kalo males laporan subuh, ya ingat Delisa aja :D ). Bahkan ketika ombak raksasa mengulung tubuh mungilnya, ia tetap berusaha menyelesaikan hafalan shalatnya. Aih Delisa... kau membuatku malu.Inilah sebagian pacarku yang sedikit banyak telah mengubah hidupku. ---

Tulisan ini juga untuk meriahkan acara bagi-bagi buku yang diadakan oleh Mbak Nia :)

Buku yang Mengubah Hidupku (by:Rinurbad)

Dari sekian banyak bacaan yang berkesan, ada baiknya saya sebutkan salah dua saja: The Professor and the Madman karya Simon Winchester dan Sisi Lain Diriku, memoar Sidney Sheldon almarhum.Ihwal buku pertama, saya sudah terkesan pada kata madman di judulnya. Walaupun yang lebih membetot keingintahuan adalah penyusunan kamus. Kisah yang rumit, yang membuktikan intelektualitas seseorang tak terbelenggu oleh jeruji dan dinding tebal rumah sakit jiwa. Satu penegasan lain bahwa seni (dalam arti luas) merupakan terapi yang baik untuk membantu seseorang dalam tekanan hebat tetap bertahan hidup, kendati akhir riwayat sang madman tidaklah manis.
Pada Sisi Lain Diriku, nuansa psikologis terangkum kian kuat. Memang tergores banyak asumsi bahwa kecerdasan atau bakat istimewa kerap berbanding lurus dengan pengalaman pahit masa lalu. Tentu saja daya tarik utama buku ini adalah sang pengarang sendiri, yang memikat saya dengan kepiawaian bercerita di novel-novelnya yang tidak biasa (menurut saya pribadi). Tidak seperti memoar lain, Sheldon memberikan porsi besar pada unsur personal semenjak ia kanak-kanak. Karir kepengarangannya dihadirkan relatif sedikit, utamanya soal menulis novel. Namun tak terasa menggantung, sebab ia menitikberatkan pada sisi-sisi pedih yang perlu dinikmati seseorang demi memperjuangkan cita-citanya.

Secara tak kasat mata, kedua buku ini 'bekerjasama' meniupkan energi semangat dalam batin saya. Tak terkhusus mengenai kepenulisan, namun ketahanan menjalani kelok-kelok hidup. Berdamai dengan kenyataan, sedikit membuka diri agar tidak terbebani. Dokter yang merawat maag saya dulu (hingga pendarahan di rumah sakit) menganjurkan agar saya meringankan beban kejiwaan di hati dan kepala, dengan cara apa saja yang menyamankan diri dan orang-orang di sekitar. Maka dari itu, saya berani sedikit bercerita soal suatu lekuk kelam masa silam dalam Lomba Cerita Mini Indosiar 2008 lalu. Istimewanya lagi, kedua penulis yang sama-sama berjenis kelamin pria mampu membobolkan sungai di mata saya dengan melankolisme proporsional.

Hanya metode itu, hanya sampai langkah itu. Tapi saya merasa tidak sendiri, walau tak mengenal langsung sang profesor yang berkontribusi besar dalam penyusunan kamus Oxford dan Sheldon sang ternama. Saya tidak pernah bosan membaca buku-buku ini kala semangat juang menipis, kala saya nyaris terjerembab dalam keputusasaan, selain berdoa dan berserah diri tentu. Kendati kisah-kisahnya banyak mengusung potret kepedihan, bagi saya sudah cukup mewakili apa yang disebut inspiratif, menggugah dan mencerahkan.
Tulisan ini diposting untuk event Bagi-bagi Buku Gratis yang diadakan Nia Nurdiansyah. Semoga bermanfaat, apa pun hasilnya kelak.

Pemenang Bagi-Bagi Buku Gratis (Part 1)

Ini dia yang sudah terpilih menjadi pemenang dalam 'Bagi-Bagi Buku Gratis Part 1'

1. Pemenang Pertama : Rinurbad. (Pilihan Buku : Jeritan Lirih dan Antara Ketenangan dan Hasrat. )
2. Pemenang Kedua : Haryadi Fathin Yansyah. (Pilihan Buku: The Kitchen God’s Wife Amy Tan dan Ocean Sea oleh Alessandro Baricco)
3. Pemenang Ketiga : Wiwiek. (Pilihan Buku : Brownies, De javu)

Untuk para pemenang dipersilahkan untuk mengirim alamat pengiriman hadiah dan pilihan buku lainnya ke e-mail di : ask_nia21@yahoo.com. Thanks, ya sudah berpartisipasi. Tunggu bagi-bagi buku gratis part 2...ya.

Tuesday, June 30, 2009

Cerpenku Menang

Alhamdullilah cerpenku yang ada penggalannya di sini menang sayembaranya GagasMedia. Selamat juga buat yang lainnya yaaa....
Ini pengumuman pemenangnya (Di copy paste dari : kandangagas.blogspot.com)
Ssst... buat kamu yang mengikuti Sayembara Kucing Melulu dan Cerita Cinta (Me)lulu, pasti menunggu pengumuman pemenang dengan penasaran, kan? hehehe...Supaya rasa penasarannya hilang, yuk kita lihat nama-nama pemenang di bawah ini:

Para pemenang Sayembara Kucing Melulu dan Cerita Cinta (Me)lulu.
Nia Nurdiansyah (Semarang) “Me, My Midas, &Our Little Zoo”
Ryu Tri (Bekasi) “Saingan Sama Ayam”
Nia Chintiya R (Kalimantan Timur) Proyek Kakaktua Memikat Kavi
Aditya Renaldi (Bandung) “From Playboy to Girlfriend”
Sutrisnawati (Jakarta Utara) “Antara Aku, Udin Kura, dan Gebetan Rahasia”
10 Pemenang
Andhika Wandana (Bandung) “KucingCang”
Agustina Wulandari (Jakarta Selatan), “Ketika Kucing Sakit Hati”
Desfirawita (Pariaman, Sumbar) “Love’s Cat”
Juwita Purnama sari (Bekasi) “Nuriku, Diaryku”
Anis Arviani (Magelang) “Suka Manis”
Ningrum Setya (Jakarta Selatan) “Buffey—Hamster Pembawa Cinta”
Rahmat Nugroho (Depok) “Kamu Semanis Ikan Mas Kokiku”
Graysia W. (Riau) “Cinta Bersemi di Ruang Tunggu Dokter Hewan”
Riana Setyawati, “Si Cokelat, Hamster Pintar”
Devalina R. “Me, Luffy, and The Love”
Selamat ya dan terus berkarya!

Hadiah Lomba Resensi LDL

dari Korea sudah datang...isinya...


sekotak coklat......
yipiiiiieeeee....


Tuesday, June 9, 2009

Bacaan Bulan Mei.


Bulan Mei kemarin jumlah buku yang dibaca masih berada pada angka di bawah 10. Lagi-lagi saya belum bisa mematuhi list yang sudah dibuat bulan sebelumnya. Bukan apa-apa, pasalnya membaca buat saya melibatkan mood, dan pilihan bacaannya seringkali berkaitan dengan mood tersebut. Ketersediaan waktu yang memadai juga menjadi salah satu alasan mengapa hanya buku-buku yang memiliki ‘something’ saja yang biasanya didahulukan.
Biasanya saya akan lebih dulu membaca buku yang ‘gw banget’.

Kalau dipikir-pikir, jika menjadi buku saya akan menjadi apa, maka jawabannya adalah buku apa saja. Tapi, meskipun menyukai jenis buku apa saja, dari mulai fantasy, horor, roman, kriminal, buku anak, science-fiction, self-help, dan sebagainya, bukan berarti saya tidak punya pendirian. Ada satu syarat penting ketika saya memilih untuk membaca sebuah buku dan juga menonton film.

‘There’s must be ‘something’. Nah, ‘something’ itulah yang susah, karena ‘something’ baru bisa ketahuan jika sudah membaca buku atau menonton film tersebut. Tapi, percaya atau tidak saat akan membeli buku atau film saya bisa mengetahui apakah di balik cover buku atau film tersebut terdapat ‘something’ yang saya cari. Somethingnya bisa apa saja, apakah karena itu berkaitan dengan sesuatu yang sedang dialami, ada sesuatu yang menarik perhatian. Yah, pokoknya ada sesuatunya lah...

Jadi kalau diibaratkan sebagai buku saya memilih untuk menjadi buku yang memiliki ‘something’ tersebut. Memang susah dijelaskan faktor ‘something’ itu tapi, biarlah...’something’ itulah yang justru membuat hidup ini jadi lebih menarik.

Dan bulan Mei kemarin, buku-buku yang memiliki something hingga akhirnya dibaca duluan adalah :

1. Sheldon & Mrs. Levine : An excruciating correspondence. A Parody By Sam Bobrick & Julie Stein

2. Someday By : Alison McGhee & Peter H. Reynolds.

3. Metropolis By : Windry Ramadhina

4.Long Distance Love By : Imazahra, dkk.

5.The Good Luck Book By : Bill Harris

6. The Proposing Tree By : James F. Twyman

7.Japan From A-Z By : James M. Vardman & Michiko S. Vardman

Dua buku teratas adalah buku yang lebih banyak gambarnya ketimbang tulisannya, hehehehe. Benar-benar dua buku yang paling menghibur di antara semuanya. Buku yang pertama, malah isinya berupa kartu pos2 atau surat yang ditempel di lembaran buku yang menceritakan kisah surat menyurat antara ibu dan anak lelakinya. Lucu dan menghibur banget.
Buku kedua bercerita tentang seorang ibu (lagi-lagi) yang berflash-back dengan kisahnya ketika melahirkan anak perempuannya. Bukunya mengharukan dan dipenuhi dengan ilustrasi yang indah.
gambar : empat di antara 7 buku yg sudah dibaca
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...