Thursday, April 30, 2009

Tulang Punggung Fiksi


Saya mau mengakui bahwa saya tidak benar-benar meninggalkan KEN beberapa hari ini. Benar, saya memang beralih dari KEN, tapi saya tidak benar-benar pergi dari 'tempatnya bermain' karena sampai hari ini, tanggal 30 April, saya malah asyik bergulat dengan fiksi alias draf novel saya.

Dari KEN saya mengunjungi KEIRA yang tertelantarkan cukup lama. Gadis ini sempat akan saya eliminasi saja tapi ternyata kehadirannya memberi sentuhan yang berbeda bagi keseluruhan jalan cerita yang didominasi oleh tokoh-tokoh pria. Manis, lembut, dan rapuh seperti gula-gula kapas. Ia juga memberi sedikit nuansa'pink' pada keseluruhan cerita yang terasa agak gelap.

Sayapun larut dalam 'taman bermain' ini. Imajinasi berputar-putar dan mewarnai hidup saya beberapa hari ini. Sudah lama tidak begini riang karena biasanya saya harus memikirkan baik-baik yang saya tulis karena itu adalah sebuah non-fiksi.

Hmmmm, sesungguhnya saya menikmati wisata imajinasi ini tapi lalu saya menemukan masih ada kelemahan-kelemahan pada novel yang sedang saya buat.

Saya kebanyakan bermain-main dengan gagasan. Padahal tulang punggung fiksi adalah cerita.

Tuesday, April 28, 2009

Tentang Gelap

Kadang aku menyerah dalam gelap,

membiarkan desak nafas yang tersisa mau membimbingku pulang.

Tapi kemana?

Aku tak melihat ada jalan.

Hanya pengap.

Hitam yang pekat.



Lalu aku menutup mata.

Sama gelapnya dengan buta.

dan dalam terpejam aku berdoa,

Kapan aku punya kuasa menjentikkan sedikit cahaya.

Kapan aku menjadi terang itu?


(Saat kamu rela menjadi bagian dari gelap)

Kata sebuah suara.


Saat kamu telah menjadi pekat itu sendiri.

Saat kamu telah memahami setiap bagian dari kegelapan itu.

Monday, April 27, 2009

Hujan Kamu Turun Saja, Ya.


Cinta, kemarin kamu berkubang di sebuah ceruk yang tak bermuara.
Kamu tak lagi bergerak kemana-mana. Menggenang di situ saja.
Aku takut kamu akan habis terserap oleh tanah.
Atau_yang lebih kutakutkan lagi_kamu menguap kering karena terik panas.

Ah, kenapa kamu diam saja, sih.


Rela disekap dalam gelap, jadi air tanpa riak.
Sudah saatnya kamu bergerak.
Mungkin hujan harus turun,
dan memenuhi kembali ceruk itu.
Biar airnya meluber dan bergerak,
menuju sungai di ujung sana.
Biar lepas ia menghampiri samudera.
Biar bermukim bersama kawanan cinta.
Bergulung dan mengejar ujung-ujung pulau kelapa.
Biar ia jadi ombak yang mencium lembut bibir pantai.

Ya, hujan kamu turun saja, ya.


Sama seperti air, cinta juga butuh dinamika.


(Nia-Minggu, 26 April 2009)

Meninggalkan Ken.


Adakalanya kita tidak bisa memaksakan sebuah mood dalam menulis. Seperti yang saya alami belakangan ini. Akhirnya ketimbang tidak melakukan apa-apa saya mencoba menuruti apa yang sedang saya mau. Membaca buku.


Saya keluarkan beberapa buku yang sudah masuk list bacaan bulan April dan memutuskan untuk membaca Ai-nya Winna Effendi. Kavernya terlihat menarik dan menyejukkan dibandingkan buku-buku lain yang jadi list bacaan saya saat itu. Kelihatannya ceritanya juga ringan dan tidak bikin dahi berkerut.


Sayapun membaca lembar demi lembar dan larut dalam tokoh-tokoh di novel itu. Ai, Sei, Shin, dan Natsu...


Selesai membaca perasaan saya jadi lebih baik (ulasan bukunya nanti, deh) dan mood untuk menulis kembali muncul. Sayangnya, bukan mood untuk menulis non-fiksi yang deadline-nya sudah mepet. Tapi tak apalah saya turuti kemauan ini dan mood untuk melanjutkan fragmen-fragmen dalam novel saya.


Malam minggupun saya habiskan untuk menulis dan menulis. Semua berjalan lancar dan tidak terasa saya menulis hingga jam setengah empat pagi. Saya lalu pergi tidur dan berniat menyambungnya keesokan hari. Tapi apa mau dikata, ada satu peristiwa yang merusak mood saya untuk menulis. Tertundalah fragmen itu untuk beberapa waktu hingga akhirnya di hari Senin ini saya kembali menekuri laptop dan menghidupkan tokoh-tokoh di dalam imajinasi saya.

Saturday, April 25, 2009

My Mood of Writing is Going Nowhere in Particular!


I can't understand my self lately!

Susah banget untuk fokus! Pikiran rasanya terbelah-belah pada hal-hal yang tidak semestinya dipikirkan saat ini. Seharusnya bulan ini saya sudah masuk proses self-editing untuk proyek penulisan ketiga yang dideadline oleh pihak penerbit pada awal Mei ini. Tapi, boro-boro melakukan self-editing, bab 1 aja masiiiih jauh dari rapi. Padahal masih ada 2 bab yang harus diselesaikan. Outline yang dibuat memang sudah rapi, tapi entah kenapa untuk kembali menuangkan kalimat-kalimat yang pas untuk tulisan non-fiksi rasanya susaahhh banget.


Apa iya, saya sedang dalam titik jenuh karena sejak awal tahun mengerjakan tulisan non-fiksi? Entahlah. Anehnya, di saat saya seharusnya semangat mengolah data-data non fiksi, misalnya hasil wawancara, riset, dan observasi untuk bahan penulisan, saya malah lebih suka berimajinasi dengan hal-hal tak nyata alias fiksi. Alhasil saya jadi membuka folder fiksi dan melanjutkan beberapa bagian dari draft novel saya dengan perasaan bersalah.


Pokoknya jadi serba nanggung, deh. Mau ngelanjutin draft novel merasa bersalah karena harus menyelesaikan yang non-fiksi dulu. Lagi mengerjakan yang non-fiksi, pikiran tertarik pada tokoh-tokoh yang tiba-tiba saja kembali hidup di benak saya dan minta dituliskan kisahnya.


Gangguan lain yang juga membuat saya tidak fokus adalah, Facebook. Mesin jejaring pertemanan ini memang rada distracting! Saya harus mulai bisa mengontrol diri mengenai yang satu ini. Jangan sampai Facebook pelan-pelan membuat saya numb!

Friday, April 24, 2009

Kenapa 'bramasole-menanti matahari' ?


Bramasole berasal dari Bahasa Italia. Bramare artinya Menanti, dan Sole artinya Matahari.

Tidak ada yang istimewa dari kata itu. Saya suka saja! Tapi hari gini, bikin sesuatu hanya karena alasan suka pasti dikomentarin soooo yesterday, ga berkonsep, dan bla...bla...bla...So, akhirnya saya coba mengulik memori mengapa saya suka dengan kata itu.
Mungkin saya memilih kata itu karena mewakili kesukaan saya pada Bunga Matahari yang kuning menawan, ketimbang Mawar Merah, yang memang cantik, tapi berduri.

Bunga Matahari sendiri nama latinnya Helianthus, gabungan dari kata Helios yang berarti Matahari dan Anthos yang berarti Bunga. Kenapa dinamakan begitu? Karena karakteristik bunga ini yang selalu mengikuti kemana arah cahaya matahari. Menurut saya Bunga Matahari, tuh pas banget untuk menggambarkan kata Bramasole sendiri. Simbolismenya, dimana ia sangat suka menghadap matahari, juga memiliki arti yang sangat bagus, yaitu selalu punya semangat untuk menjadi lebih baik. Karena cahaya, sinar matahari, dan pagi selalu diasosiasikan dengan kehidupan yang lebih baik, masa depan yang cerah, dsb.

Beda dengan Bunga Mawar, yang menurut saya manja karena harus dirawat dengan telaten, diberi pupuk agar berbunga, Bunga Matahari bisa tumbuh subur dan berbunga tanpa harus dihandle extra. Kalo diibaratkan cewek, Bunga Matahari itu cantik tapi tetap mandiri, strong, dan selalu berusaha untuk survive. Warna kelopaknya yang kuning juga menyiratkan semangat dan keceriaan.

Saat menelusuri lebih jauh relung-relung ingatan, 'Menanti Matahari' ternyata punya makna lebih buat saya. Semua ingatan itu memang hanya seperti sebuah retakan-retakan kecil puzzle yang tidak bisa saya utarakan dalam kalimat yang bertautan. Saya belum bisa menyusunnya dalam sebuah kepingan gambar yang utuh :

Making New Blog


Entah angin darimana tiba-tiba saya jadi ingin membuat blog di blogspot. Padahal, rasanya semua kebutuhan untuk 'menulis', posting photos, resep masakan, insignificant things, daily ramblings, musik favorit, videos, de el el, semuanya sudah terpenuhi oleh blog lama saya di multiply: starvingspica.multiply.com. Tapi, entahlah. Rasanya saat ini saya seperti merindukan sebuah rumah baru dan tertantang untuk menata interior dan eksteriornya. Seolah-olah punya banyak waktu luang saja.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...