Friday, April 24, 2009

kenapa 'bramasole-menanti matahari' ?


Bramasole berasal dari Bahasa Italia. Bramare artinya Menanti, dan Sole artinya Matahari.

Tidak ada yang istimewa dari kata itu. Saya suka saja! Tapi hari gini, bikin sesuatu hanya karena alasan suka pasti dikomentarin soooo yesterday, ga berkonsep, dan bla...bla...bla...So, akhirnya saya coba mengulik memori mengapa saya suka dengan kata itu.
Mungkin saya memilih kata itu karena mewakili kesukaan saya pada Bunga Matahari yang kuning menawan, ketimbang Mawar Merah, yang memang cantik, tapi berduri.

Bunga Matahari sendiri nama latinnya Helianthus, gabungan dari kata Helios yang berarti Matahari dan Anthos yang berarti Bunga. Kenapa dinamakan begitu? Karena karakteristik bunga ini yang selalu mengikuti kemana arah cahaya matahari. Menurut saya Bunga Matahari, tuh pas banget untuk menggambarkan kata Bramasole sendiri. Simbolismenya, dimana ia sangat suka menghadap matahari, juga memiliki arti yang sangat bagus, yaitu selalu punya semangat untuk menjadi lebih baik. Karena cahaya, sinar matahari, dan pagi selalu diasosiasikan dengan kehidupan yang lebih baik, masa depan yang cerah, dsb.

Beda dengan Bunga Mawar, yang menurut saya manja karena harus dirawat dengan telaten, diberi pupuk agar berbunga, Bunga Matahari bisa tumbuh subur dan berbunga tanpa harus dihandle extra. Kalo diibaratkan cewek, Bunga Matahari itu cantik tapi tetap mandiri, strong, dan selalu berusaha untuk survive. Warna kelopaknya yang kuning juga menyiratkan semangat dan keceriaan.

Saat menelusuri lebih jauh relung-relung ingatan, 'Menanti Matahari' ternyata punya makna lebih buat saya. Semua ingatan itu memang hanya seperti sebuah retakan-retakan kecil puzzle yang tidak bisa saya utarakan dalam kalimat yang bertautan. Saya belum bisa menyusunnya dalam sebuah kepingan gambar yang utuh :
Tuscany, kota yang indah di Italia, doa-doa yang dilantunkan saat menunggu pagi datang, kehangatan sinar mentari yang menyusup dari sela-sela dedaunan, the fact that the sunshine coming in my first morning, after very dark dreams, is very relieving, summer scent, waktu Dhuha yang menenangkan jiwa, kehangatan sinar matahari di Minggu pagi yang melegakan, moyan bersama ibu saya diselingi canda tawa dan pegal-pegal di punggung yang sirna begitu saja, menunggu matahari saat hujan begitu deras. Ahhh, masih banyak sekali ingatan tentang itu. Itulah mengapa saya hanya bisa bilang saya suka 'Menanti Matahari' itu saja.


Saya pikir di satu titik kita diperbolehkan bilang : Saya suka. Cuma karena suka saja. Titik. Sama halnya ketika saya bilang : Saya sayang. Kenapa? Sayang aja!

Sunflower,
Each petals savor the memories, fragments of insight, prays, and wishes. The center of the flower likewise hope and hole in the same time.

Sunflower,

Solitaire- sun searcher, who always loved the blue melancholy of sky and rainy days.

(nia)

image by : deviantart.com

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...