Friday, May 29, 2009

Ulas Buku : Metropolis






Judul : Metropolis
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Grasindo

Pertanda : Siang itu, di toko buku seseorang menyusuri sudut rak new release, tatapannya melekat pada sebuah buku. Sesaat setelah ia pergi saya menghampiri rak yang sama dan menyadari apa yang sudah membetot perhatiannya.

Sebuah buku, Metropolis, sampulnya serupa koran bekas, dengan bercak darah di atasnya. Sebuah tagline: Demi ayahku yang sudah mati, membangkitkan suatu firasat. Bisa jadi ini firasat baik bisa juga buruk.

Saya menimang buku yang cukup tebal itu lalu menimbang testimoni yang disampaikan Winna Effendi dan Sefryana Khairil. Kisah kriminal. Saya sedikit mengerutkan alis, tapi itu tak berarti pertanda buruk. Hanya saja dalam kehidupan sehari-hari, menyantap hidangan kriminal secara berlebihan, bahkan ketika kita enggan sekalipun, bukan lagi menu baru.

Kali ini hidangan itu tersaji dalam novel. Bagai santapan biasa yang terhidang di meja restoran. Tapi, saya tidak mau berprasangka buruk dulu. Toh, banyak santapan sehari-hari yang jadi luar biasa lezat dan istimewa ketika diolah oleh koki yang handal. Dan tidak setiap hari juga saya makan di restoran.

Hidangan yang diolah oleh seorang ‘koki’ wanita, yang pernah meramu roman Orange yang hangat dan manis, memantik rasa penasaran saya. Terlebih tidak banyak aroma mesiu, kokain dan amis darah terendus dari buku fiksi buatan penulis Indonesia yang saya konsumsi belakangan ini.

Selanjutnya, jika seorang foodtester, saya akan mengomentari betapa renyahnya gigitan pertama ‘hidangan’ ini, lalu melanjutkan kunyahan, seraya menelusuri setiap lapis rasa yang tersimpan dalam serat-serat makanannya.

Jika seorang detektif, dengan tertantang saya berkata, Ya, saya akan tangani kasus ini. Lalu ketika memulai penyelidikan di sepuluh halaman pertama. Saya tidak ingin berhenti. Dan itu adalah pertanda baik.

Kasus :
Kisah diawali dengan kematian. Tentu saja. ‘Detektif’ mana yang tak akan tergugah jika sudah ada korban di awal cerita.

Beberapa tokoh penting muncul pada saat pemakaman Leo Saada, pemimpin jaringan narkotika di wilayah 10. Sebelumnya, pemimpin geng wilayah 11, Maulana Gilli mati dibunuh penembak misterius. Kematian tersebut menyulut perang antar geng. Tapi, jangan buru-buru memetakan siapa berdiri di kubu lawan dan siapa berdiri di kubu kawan. Bahkan, Bram, polisi dari reserse narkotika yang bertugas untuk mengusut kasus ini seolah berdiri di area abu-abu.

Di bab pertama, sebelum hal ke-10, sebuah teka-teki muncul, seorang tokoh mengintip untuk memancing rasa ingin tahu. Siapa perempuan itu?

Kepingan tanya atau brainteaser juga diletakkan di beberapa akhir cerita atau bab. Seolah dirancang agar ‘penyelidik’ mau masuk lebih dalam dan menuntaskan kasus hingga akhir. Seperti saat kematian pemimpin wilayah 4. Maaf, Ambon Hepi, Rasanya tidak ada lain kali.
Setelah kematian itu, memecahkan pola dan siapa dalang di balik pembunuhan berantai sederet pemimpin sindikat narkotika di ibukota, adalah misi awal kasus ini. Namun, kemudian cerita bergulir dengan alur maju dan mundur. Tokoh-tokoh bermain dalam realitas saat ini lantaran api masa lalu yang belum padam. Hubungan sebab akibat terbongkar. Akar konspirasi mencuat dari balik gundukan misteri. Tidak ada tokoh yang cuma duduk menonton dalam kisah ini, semua menjadi pemain, atau setidaknya korban.

Mulai terasa, ini bukan sekedar kisah detektif mencari siapa dalang pembunuhan. Bukan kisah yang batas hitam dan putihnya jelas. Motif psikologis mulai mengiring ‘penyelidik’ masuk ke area abu-abu, didudukkan di ruang tertutup dan dipaksa menangkap pelakunya melalui logika. Saat masing-masing tokoh mulai menunjukan siapa dirinya dan di mana mereka berdiri, keperpihakan pun bergeser, tidak hanya pada tokoh protagonis tetapi juga kepada tokoh antagonis.

Bram yang tak ingin melepaskan ikan kecil demi mengail ikan yang lebih besar. Miaa yang bergerak berlawanan sekaligus seiringan dengan Bram. Fery Saada yang mengalami kriris kepemimpinan setelah kematian ayahnya. Johan Al yang berusaha menuntaskan dendam masa lalunya. Sosok Aretha yang mengetahui segalanya, dan tokoh-tokoh lain yang menempati kepingan teka-teki yang membentuk kisah ini.

Petunjuk:
Petunjuk yang terserak dalam kisah ini membuat pembaca bisa ikut ambil bagian. Menjadi ahli balistik yang menyelidiki serakan bubuk mesiu saat olah TKP, ahli forensik yang menguak bagaimana sebuah kematian terjadi, hingga seorang ahli kesehatan yang memaparkan sebuah penyakit langka dengan obat berharga selangit.

Beberapa ilustrasi cukup membantu merangkai imajinasi. Denah rumah, kertas fax dengan tulisan yang terpotong, daftar nama-nama pemimpin sindikat 12, dan urutan bilangan angka. Detail yang disajikan bukan sekedar remah-remah tak berarti yang boleh luput dari penyelidikan, justru itu merupakan kunci daya tarik sebuah kisah kriminal. Semuanya diramu dengan pengetahuan yang didasari oleh riset yang baik. Yang sedikit janggal adalah sosok Johan yang penyakitan dan lemah tetapi tetap bisa bertahan meskipun telah berulang kali didekati kematian.

Dalam mendedahkan kisah ini penulis seolah berusaha melepaskan stereotip umum yang melekat pada suatu tokoh. Bisa dilihat dari tokoh Erik, asisten Bram yang dinamai nama laki-laki padahal ia adalah perempuan. Lalu, Johan Al yang digambarkan sebagai laki-laki cantik dengan karakter yang tidak seharusnya dilekatkan pada senjata api, pembunuhan, dan narkotika. Penokohan tidak dibuat secara langsung melainkan dengan cara yang dramatik, sehingga tokoh-tokoh yang keluar masuk dalam Metropolis ini bernyawa.

Diksi yang mewarnai kisah ini lugas dan tidak bertele-tele. Bahasan kriminalnya dibuat lentur hingga mudah dicerna. Beberapa penggalan kalimatnya mengusung humor gelap dan roman yang khas penulis. Memberikan percikan kehangatan yang mengimbangi percik merah dan hitam kisah ini.

Simpulan :
‘Penyelidik’ menutup kasusnya, menyadari cerita tidak berhenti bergulir saat liang ditutup. Mungkin beginilah seharusnya sebuah kisah dituturkan, menyisakan ruang bagi pertanyaan untuk lalu lalang dan membuat kita ingin menelisik ulang.

Bukan akhir yang menyenangkan. Bisa jadi itu memang disebabkan karena sebagian bukti datang terlambat, sebagian lainnya tidak muncul sama sekali, seperti yang dituliskan di bab terakhir. Tetapi, mungkin inilah bayangan sesungguhnya dari penegakan hukum di Indonesia. Terpantul pada cermin kelabu yang pecah berkeping-keping. Sementara, kepingan terpenting terserak dalam labirin hirarki yang tak kasat mata. Bukan perkara putih harus menang atas hitam, tetapi siapa terkuat yang bertahan.


Diposting untuk lomba ulas buku perkosakata 2008 di sini http://perkosakata2009.wordpress.com


Wednesday, May 27, 2009

Komentar Positif

yang membuat saya bersemangat hari ini datang dari sini klik aja. Senang karena hasil resensi buku yang saya buat mendapatkan feedback yang positif dari penulis dan pengagasnya. Ini penggalan kalimatnya yang membuat girang dan jadi makin bersemangat membaca buku :

Ini adalah ulasan Long Distance Love yang menurut saya lain dari yang lain. Susunan kata-katanya sungguh terpilih. Diksinya pun terpilih. Dan yang terpenting, resensinya sungguh detail dan ditulis sepenuh hati.Buat saya pribadi, inilah resensi Long Distance Love yang saat ini paling istimewa di hati.
Terima kasih banyak Mba Nia, karena sudah membeli dan meresensi dengan hati...


O iya, baru kemaren dikabarin sama pengagas buku ini, Mba Ima kalau resensi yang saya buat akan dijadikan resensi di bukukita.com klik di sini senangnya, karena jadi bersemangat untuk terus membaca dan meresensinya.

Meet & Greet With : Trinity The Naked Traveler


The world is a book, and those who do not travel read only a page.
(Saint Augustine )


Pernahkah memikirkan bahwa dunia ini terasa hanya selebar daun kelor karena kita memang tidak benar-benar keluar dan melihat dunia yang sesungguhnya? Bayangkan saja, saat ini Indonesia memiliki 33 provinsi, belum lagi pulau-pulau kecil yang tersebar di antaranya yang belum pernah kita datangi. Lalu, bagaimana dengan dunia, benua-benua di dalamnya dan negara-negara yang terbagi-bagi diantaranya?

Bisa jadi masih sedikit yang kita ketahui tentang dunia. Teknologilah yang telah menyelamatkan kita dari ketidaktahuan. Tanpa perlu mengepak ransel, kita bisa melihat Gobi, Patagonia, dan Kalahari tanpa tersengat panasnya matahari gurun. Kita dapat duduk-duduk sembari menyelonjorkan kaki untuk merasakan kemegahan dunia dari puncak Everest. Kita bisa menyepi di kamar tidur, sementara keriuhan Tokyo di pagi hari, hanya selangkah dari jendela kamar, atau sebaliknya di tengah hiruk pikuk jalanan kota yang macet, kita bisa melarikan diri sejenak ke Pulau Bouvet yang tidak berpenghuni di daerah Norwegia.

Waktu dan jarak kini bukan lagi masalah besar bagi seseorang yang ingin melihat dunia. Televisi, internet, teknologi yang selalu up to date dan media massa lainnya telah menciptakan cara berlibur, petualangan, dan perjalanan yang baru dan mudah bagi siapa saja. Tapi untuk benar-benar tergerak, berpindah, dan mengeksplorasi seperti halnya Phileass Fogg, tokoh dalam buku Around The World in 80 Days karangan Jules Verne, yang melakukan perjalanan dari London menuju Suez, dilanjutkan ke Calcuta, lalu ke Hongkong dan Yokohama, kemudian berpindah ke San Fransisco dan berakhir di New York dengan total waktu selama 80 hari dibutuhkan jiwa, dan itu tidak selalu mudah bagi siapa saja.

Namun, lain halnya dengan Trinity. Saya harus mengacungkan banyak jempol untuknya. Sangat sedikit female traveler yang memiliki jiwa seperti Phileass Fogg, mungkin bisa dikatakan Trinity adalah satu-satunya di Indonesia. Waktu saya bertanya apakah pada saat ia berkeliling dunia ia pernah bertemu dengan sesama female traveler asal Indonesia, ia menjawab tidak. Bahkan teman-teman backpacker-nya sering berujar bahwa ia adalah yang pertama dan satu-satunya dari Indonesia.
Trinity menuturkan bahwa kebanyakan dari kita hanya bisa sirik saja saat melihat orang lain bisa berkeliling dunia. Padahal, menurutnya modal berkeliling dunia adalah keberanian. Keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Tentunya membutuhkan biaya, tetapi itu bisa disiasati. Salah satunya adalah dengan menghindari tempat-tempat yang menguras kocek. Menginap di hostel atau homestay di rumah penduduk setempat, makan di kaki lima, dan tidak harus berwisata yang mewah, mingle dengan masyarakat setempat juga bisa menjadi salah satu cara berwisata yang menyenangkan.

Ada beberapa tips dan trick dari Trinity untuk female traveler yang terjun ke belantara petualangan sendirian, antara lain :

Berpakaianlah yang nyaman dan tidak mengundang.
Be confident.
Jangan terlihat bingung atau kurang menyakinkan.
Buatlah rencana perjalanan dengan matang.
Carilah sesama teman yang ber-backpacker sendirian sebagai teman perjalanan.
Lakukanlah riset sebelum mendatangi suatu tempat dengan bertanya atau mencari di internet.

Meskipun Trinity sudah bepergian ke 37 negara dan banyak melihat tempat-tempat indah, ia mengatakan bahwa Indonesia tetaplah yang ternyaman. Saat ditanya negara mana yang paling berkesan baginya, jawabannya adalah New Zealand dan Philipine.

New Zealand memiliki pemandangannya yang sangat menakjubkan. Landscape yang pernah kita lihat pada film Lord Of The Ring bisa dilihat langsung di sana. Cantik dan menggetarkan. Bahkan, menurut Trinity, di setiap kelokan kita akan menemukan pemandangan yang tak terduga indahnya.

Philipine disukai karena kondisinya yang tidak jauh berbeda dengan Indonesia, orang-orangnya yang hampir mirip dengan orang indonesia, transportasinya yang mudah serta akses menuju pantainya yang cantik sangat gampang.


Jika sudah pernah membaca bukunya: The Naked Traveler, kita bisa ikut tergelak dan mengalir dengan berbagai pengalaman yang ia tuturkan. Banyak hal unik dan informatif bisa digali di sana, misalnya saja tentang bandara paling unik yaitu El Nido, di Philipine karena pesawat, becak, dan pejalan kaki menggunakan jalur yang sama atau tentang daerah paling angker di Indonesia, yaitu Pulau Moyo di Sumbawa. Selanjutnya, Trinity juga akan kembali membuat seri lanjutan kisah perjalanannya dalam The Naked Traveler 2

Trinity bukanlah sosok yang biasa, sama seperti halnya traveling yang bukan hobi biasa. Ia memiliki jiwa petualangan dan itu sudah terbentuk sejak kecil, saat orangtuanya sering mengajak ia bepergian ke seluruh penjuru nusantara. Banyak percakapan lucu terlontar saat ia bertandang ke Gramedia Pandanaran, Semarang, 22 Mei 2009 kemarin, salah satunya adalah tentang berat badan. Jika bagi sebagian orang perkara berat badan bisa menyinggung perasaan, lain dengan Trinity, ia bisa menjadikan perkara ini pertanyaan untuk kuisnya. Mungkin baginya bukan penampilan fisik yang terpenting tetapi bagaimana isi jiwa mampu memaknai kehidupan sebagai sebuah perjalanan dalam arti yang sesungguhnya. Dan saya bangga, Indonesia memiliki female traveler seperti Trinity..



Dalam traveling, filosofi kehidupan membungkusnya, bahkan sejak awal kita memilih akan pergi kemana. Apa saja yang akan kita bawa dalam ransel atau koper seperti menunjukan siapa diri kita. Preferensi terhadap perjalanan atau tempat tujuan ibaratnya cara pandang kita terhadap proses dan hasil dalam kehidupan.

Apa yang ingin kita lihat, apa yang ingin kita cecap, apa yang ingin kita maknai dan apa yang ingin kita bagi selama berada dalam perjalanan serta pada saat sampai di tempat tujuan melibatkan semua hal yang pernah kita pelajari sejak dilahirkan.

Traveling adalah hobi yang sanggup memanusiakan kita kembali. Melepaskan kita dalam tertibnya rutinitas, membiarkan kita keluar dari kenyamanan wilayah yang sudah kita kuasai dan menjadikan kita dilahirkan kembali menjadi bayi yang penuh rasa ingin tahu lalu menjadi dewasa setelah mengitari dunia.

So, siapa yang mau menyusul menjadi the next Trinity, female-naked traveler ?(jangan diartikan yang tidak-tidak, lho)

Tuesday, May 26, 2009

Ulas Buku : Long Distance Love


Review Buku

Judul : Long Distance Love
Oleh :Imazahra, dkk.Penerbit : PT. Lingkar Pena Kreativa Jakarta cetakan Pertama, Maret 2009


Kesan pertama yang seringkali menarik perhatian seseorang untuk membaca sebuah buku bisa jadi sama seperti apa yang biasanya membuat seseorang jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan itu adalah penampakan luarnya.

Suasana membiru lautan dan langit, seorang lelaki yang berdiri di ujung dermaga seolah menatap ke seberang lautan dan ke balik deretan pegunungan, serta langkahnya yang seolah terhenti, membuat penampilan muka Long Distance Love mampu memetik dawai hati. Apalagi ketika membaca penggalan kalimat : Mozaik Kehidupan Seperti Apa yang Kau Jalani Sekarang, Saat Aku Tak di Sisimu, Sayang?

Pada mulanya orang akan mengira buku ini sebagai sebuah kisah keterpisahan. Pada beberapa orang, gagasan akan kisah ini memantik benak, seolah dengan membacanya, wacana yang masih mengambang pada dirinya bisa dipertegas. Bukankah salah satu ketakutan manusia adalah pada keterpisahan? Dan rasa takut adalah salah satu alasan mengapa seorang manusia mencari pengetahuan.

Kemudian kita mulai membacanya, lalu menyadari ini adalah kumpulan kisah nyata dari pasangan yang hidup terpisah kota, pulau, bahkan benua dan lautan. Adakah kepingan kisah ini mampu menyentuh relung terdalam hati kita? Jawabannya ada pada saat membuka lembar demi lembar pertama buku ini. Terus terang, tidak ada alasan untuk tidak menitikkan air mata saat membaca kisah Tahun-tahun Mengeja Jarak, kisah dari penggagas buku ini.

Pembaca mungkin tidak hanya akan menitikkan air mata lantaran bersimpati pada kisah pasangan yang hidup terpisah ini namun juga pada indahnya jalinan cinta antara dua sejoli juga Sang Pencipta. Tersadarlah bahwa buku ini tidak hanya merekam jejak kisah keterpisahan tetapi juga tentang semangat hidup dan kasih sayang antar manusia.

Kepingan berikutnya terdiri dari kisah Para Sahabat yang mengalami Long Distance Love. Awalnya terbersit dugaan bahwa setiap cerita akan menyajikan irama yang sama. Nyatanya, sungguh di luar dugaan, buku ini bercerita dalam irama dan nada yang berbeda-beda. Sehingga bukan saja air mata yang merintik turun namun juga derai tawa dan kehangatan.

Meskipun setiap kisahnya memiliki benang merah yang sama, bahwa kecintaan kita terhadap manusia tidak boleh melebihi kecintaan kita pada Sang Pencipta, namun masing-masing kisah memiliki kepribadiannya sendiri-sendiri. Dan begitulah seharusnya kumpulan kisah nyata ditulis, memperlihatkan keragaman bukan keseragaman. Ini juga yang membuat buku ini menjadi kaya dan pantas dijadikan salah satu sumber wacana bagi kehidupan berumah tangga.

Bukan sekedar kisah yang dituturkan, buku ini juga memberikan kita solusi mengenai bagaimana mengatasi hubungan cinta jarak jauh. Meskipun tip-tip yang disajikan terdengar umum, namun menjadi istimewa karena sebelumnya kita sudah membaca kisah-kisah nyata yang secara tidak langsung menceritakan bagaimana penerapan dari tips dan trik tersebut. Jadi bab terakhir hanya sekedar merangkumkan untuk pembaca sehingga lebih mudah untuk menerapkannya.

Sama halnya dengan pasangan yang bersanding dengan kita yang pastinya tidak sepenuhnya sempurna, dalam buku ini juga terdapat beberapa hal yang sedikit membuat tidak nyaman. Yang paling kentara adalah adanya duplikasi halaman di bagian awal buku sehingga pembaca harus memberi perhatian ekstra untuk mencari lanjutan dari kisah yang sedang dibacanya. Entah apakah duplikasi ini terjadi pada setiap buku atau memang hanya buku yang saya beli.

Secara keseluruhan, jika diibaratkan dengan wanita, buku ini bukan tipe buku habis-dibaca-lalu-dipajang, ini adalah sebuah buku yang selalu mengajak ‘pasangannya’ untuk berdiskusi setiap saat, menimang dan menimbang pendapatnya setiap saat diperlukan, dan mendengarkannya di mana saja, sepanjang kebersamaan hidupnya.

Komentar Untuk : Catatan Cinta Sebuah ‘Setrika’. Oleh : Revina Octavianita.
Apa yang paling membekas di ingatan saya ketika membaca kisah yang dituturkan suami Ibu Mabes kepada Revina Octavianita ini adalah kalimat ini : Kami pun menjalani pernikahan jarak jauh yang bagi saya ibarat menjalankan fungsi sebuah setrika, mesti bolak-balik dari ujung baju ke ujung lainnya supaya licin dan rapi.

Analogi ini menurut saya paling mengena di hati, karena sebelumnya kita mengenal kalimat ini : Istri adalah pakaian bagi suami dan suami adalah pakaian bagi istri.

Penulis kemudian mengemas kalimat di atas dengan bahasa yang lebih populer, bernada humoris dan berupa kalimat yang terdiri dari kata kerja (menjalani pernikahan, menjalankan fungsi sebuah setrika, mesti bolak-balik). Seolah itu ditegaskan penulis bahwa kehidupan, juga cinta adalah kata benda dan untuk menjadikannya ‘ada’ dibutuhkan kata kerja (contoh : menjalani kehidupan, atau diberi imbuhan dan akhiran : men-cinta-i ) agar mewujud sempurna.
Rasanya benar juga kata penulis, jika suami atau istri diibaratkan dengan setrika dalam sebuah keluarga. Menghilangkan kerut di sana-sini dan membuat keluarga terlihat ‘rapi’ dan nyaman dikenakan. Jika itu terjadi barulah kemudian istri bisa menjadi pakaian bagi suami dan sebaliknya, serta suami-istri bisa menjadi pakaian untuk anak-anaknya.

Kisah Catatan Cinta Sebuah ‘Setrika’ dalam buku ini kembali mengingatkan bahwa di dalam hidup berumah tangga, kita juga harus menyisipkan unsur komedi agar hidup lebih menyenangkan. Maka istilah ‘Ibu Mabes’ yang dilekatkan pada sang istri digunakan tanpa beban apa-apa. Seolah memang begitulah adanya pasangan ini. Memiliki toleransi yang baik terhadap perannya masing-masing. Ketaatan dan komitmen suami pada istri dan keluarga juga digambarkan dengan nada yang ringan.

Kisah ini mengalir dan memberi aura positif, membuat pembaca melihat dari sudut berbeda dan menjadi bersemangat. Seolah hati jadi berteriak: Jika keluarga ini saja bisa kenapa saya tidak!. Pembaca bisa merasakan bahwa tidak selamanya hidup berumah tangga harus dijalani dengan penuh drama, bahkan bisa saja yang ‘dimainkan’ adalah kisah petualangan atau komedi yang menyenangkan. Masalah disikapi sebagai bagian dari kehidupan, bukan sesuatu untuk dilipatgandakan, melainkan untuk disiasati. Dan keterpisahan hanyalah ujung lain dari sebuah kehidupan yang dapat diseimbangkan lagi dengan pertemuan.


Diposting untuk mengikuti lomba : Gift Cantik Dari Korea Untuk Para Reviewer ‘Long Distance Love’. Klik di sini

Monday, May 25, 2009

Twitter For a Better Writer


Menurut Jennifer Blanchard seorang copywriter, creative marketing writer untuk HRTools.com, dan seorang part-time freelance writer serta fiction writer, Twitter bukan sekedar tempat yang asyik buat berbisnis tetapi juga tempat untuk meningkatkan kemampuan menulis. Menurut Blanchard: I’ve been using Twitter since January, and my writing skills have not only improved, but I’ve been writing better copy as well.
Kenapa, ya...

1. Twitter hanya memiliki 140 karakter saja. Itu membuat kita belajar untuk benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya ingin kita ungkapkan, kemudian menuliskannya dengan kalimat yang singkat dan tepat sasaran.
Nah, alasan itu sudah merupakan salah satu bentuk latihan agar kita bisa menulis dengan bernas, padat, singkat dan tepat alias tidak terlalu lebay. (lebay; bersayap, berbunga-bunga, tidak fokus, dan tidak tepat sasaran)

2. Twitter mendorong kita untuk belajar kosa kata lebih banyak lagi. Semakin banyak kosa kata yang dikuasai, baik dalam bahasa Inggris maupun Indonesia, maka semakin banyak pilihan kata yang bisa digunakan. Berbagai padanan kata bisa dipilih untuk menggantikan kata-kata atau kalimat yang terlalu panjang. Ini kata Blanchard :

"Crafting a message for Twitter requires you to “pump up” your verbs (replacing adverbs and adjectives with them), and discover a better, clearer and more concise way to say what you want to say. "

3. Twitter membantu meningkatkan kemampuan editing. Kemampuan ini sangat diperlukan untuk para penulis atau siapa pun yang bekerja dengan mengunakan kemampuan menulisnya.

"Every writer needs to be able to edit their work. And by using Twitter, you can really hone your editing skills and make them top-notch. It’s almost like playing a game; trying to write a 140-character message and still get your point across in a way that inspires your followers to take action, to click on your link or to “retweet” your post. "

Menurut Jennifer Blanchard, Twitter bisa menjadi sebuah brainteaser, mendorong kita untuk berpikir lebih baik, menggali kosa kata lebih dalam, dengan tujuan memperpendek pesan yang ingin disampaikan.

Jadi, bagaimana? Mau melawan mainstream saat ini (Facebook) dan mengasah kemampuan menulis kita agar lebih baik. Mari kita ber-tweet...tweet.

Cornelia Funke : Dari Mana Datangnya Ide?


Funke says: "Read – and be curious. And if somebody says to you: 'Things are this way. You can`t change it' - don`t believe a word.

Menurut Cornelia Funke penulis Inkheart, Inkspell, dan Inkdeath serta beberapa buku lainnya seperti: Dragon Rider dan The Thief Lord, Ide berasal dari everywhere and nowhere.


Ini dia beberapa pendapatnya mengenai ide:
  1. The vital starting point for a good book is an "idea", and if that idea is worth it, to research on interesting topics which support the idea, and to search for appropriate places and characters.
  2. Ideas come from everywhere and nowhere, from outside and inside.

  3. I have so many (ideas), I won`t be able to write them down in one lifetime.
  4. Dan bagaimana ia bisa menulis karakter-karakter yang menakjubkan dalam buku-bukunya? Here We Go...
"Kebanyakan, karakter-karakater itu memasuki ruangan menulis saya, mereka terasa begitu hidup. Saya sendiri sering bertanya-tanya bagaimana bisa mereka begitu terasa hidup, dari mana datangnya?
Tentu saja sebagian besar dari mereka lahir dari proses berpikir yang cukup keras, saya juga berusaha untuk menambahkan karakter sifat masih-masing tokoh, tetapi sebagian lagi sudah hidup apa adanya sejak pertama kali muncul di kepala saya. "
"Dustfinger dari "Inkheart" adalah salah satu contohnya. Ia adalah karakter yang begitu hidup dan terang di pikiran saya."

Dr Seuss (juga suka yang pendek)

Tips menulis dari Dr. Seuss:
It has often been said
there's so much to be read
you never can cram all those thoughts in your head.
So the writer who breeds more words than he needs
is making a chore for the reader who reads.
That's why my belief is
the briefer the brief is the greater the sigh of the reader's relief is.

Lagi-lagi, bernas adalah salah satu kuncinya. Terus terang, saya pun ingin bisa menulis dengan bernas. Selain itu, meskipun singkat tetapi juga harus tepat sasaran dan efektif. Harus lebih banyak belajar, nih. Tentang kosa kata, diksi atau gaya bahasa...biar bisa menghasilkan tulisan yang bernas dan nggak lebay.
Lebay : Berlebihan
Bernas : ber·nas a 1 berisi penuh (tt butir padi, susu, bisul, dsb): buah padi --; 2 ki banyak isinya (tt pidato, petuah, ceramah, dsb); 3 dapat dipercaya: janjinya selalu --

Philip Pullman : moral dan makna cerita

Anyway, I'm not in the message business; I'm in the “Once upon a time” business.
Tidak semua orang memiliki pandangan yang sama terhadap sebuah buku. Apa yang tertulis di dalam buku dapat diterjemahkan berdasarkan persepsi masing-masing orang. Dan persepsi itu dibentuk oleh pengalamannya. Ada yang menjadikan buku sebagai sarana hiburan, ada pula yang menjadikannya sebagai sarana belajar dan berkembang. Sebuah buku, baik itu yang fiksi maupun non fiksi memiliki sebuah 'motivasi', bahkan ketika kata-kata seolah hanya diam saja, sebenarnya secara tidak langsung kata demi kata, kalimat demi kalimat telah hidup di benak kita. Mereka hidup berinteraksi dengan sel-sel otak kita, berhubungan dan berkembang biak menjadi banyak hal. Tergantung apa yang kita beri 'makan' lebih banyak. Tergantung apa yang kita pelihara dengan baik.


Adakalanya pesan-pesan dalam sebuah buku tersembunyi sedemikan rupa, ada pula yang begitu kasat mata. Bahkan sebuah buku yang motivasinya hanya menghibur belaka bisa bertindak lebih bagi benak kita. Kata 'kuning' misalnya, bisa menimbulkan berbagai rasa bagi pembacanya. Dan buku tidak hanya terdiri dari satu kata saja tapi berjuta-juta. Dan siapa yang bisa melarang otak seseorang untuk mengaitkannya dengan puluhan makna dan pengalaman yang bersifat individual.



Menurut Philip Pullman, bukan tugas penulis untuk memberitahu pada pembaca apa pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah buku. Pembacalah yang bisa mengetahui apa pesan dan makna atau mungkin moral cerita dari sebuah buku. Begini katanya:



As a passionate believer in the democracy of reading, I don't think it's the task of the author of a book to tell the reader what it means.
The meaning of a story emerges in the meeting between the words on the page and the thoughts in the reader's mind. So when people ask me what I meant by this story, or what was the message I was trying to convey in that one, I have to explain that I'm not going to explain.
Anyway, I'm not in the message business; I'm in the “Once upon a time” business.






Friday, May 22, 2009

Tentang 'makna kata' & Alice Through The Looking Glass


Ternyata, untuk belajar menulis dengan baik, kita nggak harus baca buku-bukunya Gorys Keraf, kok atau literatur-literatur lainnya yang berat-berat. Buktinya, saat membaca kembali Alice Through The Looking Glass, saya menemukan penggalan percakapan yang cukup menarik. Menjelaskan tentang bagaimana kita memilih dan menggunakan sebuah kata :

Coba simak penggalan percakapan antara Alice dengan HumptyDumpty di bawah ini. Penggalan percakapan yang di-bold dalam kisah Alice Through The Looking Glass ini, bisa memberikan gambaran pada kita mengenai makna dari sebuah kata.

"There's glory for you!"
"I don't know what you mean by 'glory,'" Alice said.
Humpty Dumpty smiled contemptuously. "Of course you don't—till I tell you.
I mean 'there's a nice knock-down argument for you!'""But 'glory' doesn't mean "a nice knock-down argument,'" Alice objected.
"When I use a word," Humpty Dumpty said, in rather a scornful tone, "it means just what I choose it to mean—neither more nor less."
"The question is," said Alice, "whether you can make words mean so many different things."
"The question is," said Humpty Dumpty, "which is to be master—that's all."

Alice was too much puzzled to say anything; so after a minute Humpty Dumpty began again. "They've a temper, some of them—particularly verbs: they're the proudest—adjectives you can do anything with, but not verbs—however, I can manage the whole lot of them! Impenetrability! That's what I say!""Would you tell me please," said Alice, "what that means?"
"Now you talk like a reasonable child," said Humpty Dumpty, looking very much pleased. "I
meant by 'impenetrability' that we've had enough of that subject, and it would be just as well if you'd mention what you mean to do next, as I suppose you don't mean to stop here all the rest of your life.""That's a great deal to make one word mean," Alice said in a thoughtful tone.
"When I make a word do a lot of work like that," said Humpty Dumpty, "I always pay it extra."

Effective Writing Tips Dari Ernest Hemingway



  1. Gunakan kalimat pendek. Hemingway bisa dibilang seorang penulis dengan gaya : Simple Genius. Lihat saja bagaimana tulisan ini : For sale : baby shoes, never used. Ia menggunakan kalimat minimalis tetapi tepat sasaran. Ia menghilangkan kata sifat yang ‘berbunga-bunga’

  2. Tulislah paragraf pertama dengan singkat. Tidak ada paragraf yang bertele-tele. Yang ada adalah kalimat pembuka yang menarik dan tepat pada sasaran.

  3. Pilih kata-kata yang ‘hidup’. Kata atau kalimat yang bernyawa terbentuk oleh ‘passion’ yang melekat pada kata tersebut. Kata yang hidup biasanya fokus atau tepat sasaran dalam menerjemahkan suatu makna atau perasaan dan kata itu memiliki intensi atau tujuan.

  4. Gunakan bahasa yang positif, bukan negatif. Misalnya, dengan mengantikan 'murah' dengan ekonomis, atau contoh lain misalnya : “this procedure is painless,” dengan “there’s little discomfort” atau “it’s relatively comfortable,”. Contoh lain : “this software is error-free” atau “foolproof,” digantikan dengan : “this software is consistent” or “stable.”

  5. Tip terakhir dari Hemingway yang sudah mencakup keseluruhan, tertuang dalam kata-katanya ini :
    “I write one page of masterpiece to ninety one pages of shit,” Hemingway confided to F. Scott Fitzgerald in 1934. “I try to put the shit in the wastebasket.”

Kata Winnie The Pooh Soal Puisi






"But it isn't easy," said Pooh.

"Because Poetry and Hums aren't things which you get, they're things which get you.

And all you can do is to go where they can find you."



(Winnie-the-Pooh, The House at Pooh Corner)

Paulo Coelho : Warrior of The Light


Paulo Coelho adalah salah satu penulis favorit saya. Semua tulisan dalam buku-bukunya sangat inspiring. Pertama kali membaca karyanya yang berjudul The Alchemist pada tahun 2000 awal. Setelah itu jadi semakin jatuh cinta dengan karya-karyanya yang lain. Menurut saya Paulo Coelho bisa menyampaikan pesan tanpa memberi kesan 'preachy'. Bahkan semua hal tersirat atau tersurat dalam ceritanya itu bisa melebur dalam karakter, setting, konflik dan jalan cerita yang dibuat. Bagi saya buku-buku Paulo Coelho termasuk jenis buku yang memiliki faktor 'something' yang membuat saya jadi ingin membaca semua buku-bukunya. Belakangan ini saya juga mulai mengikuti daily blognya di : http://warriorofthelight.com


Menyenangkan sekali mengetahui keseharian si Coelho ini. Inspiring dan...ya, coba aja baca beberapa penggalan yang saya kopi dari blog-nya ini :

Sometimes readers complain that I say very little about my private life in this column. I do talk a lot – mostly about my questionings in the imaginary world. They insist: “but what’s your life like?” Well, then, for a whole week I went out with a notebook and jotted down more or less what happens in seven days:

Sunday: 1] In silence, I drive the 540 kilometers from Paris to Geneva. Six hours and no important conclusion, no extraordinary revelation. Since I love my work, I swore never to think about it on Sundays, so I try to control myself.
2] Filling station: I see a very interesting collection of metal maquettes. I think about buying them all, but then I reckon that further ahead I will have excess baggage, and many of them could break on the journey. I will use the Internet to do that.
3] Bath. Nap. Dinner with a friend. She tells me that the man she is interested in just wants to make love, nothing else. I don’t know what to answer.

Tentang Puisi


Penggambaran mengenai puisi menurut saya, yang paling mudah dipahami dan menarik adalah apa yang dikemukan Naoshi Koriyama dalam A Loaf of Poetry berikut ini :


you mix
the dough
of experience with
the yeast of inspiration
and knead it well
with love
and pound it

with all your might
and then leave it until
it puffs out big
with its own inner force
and then knead it again
and shape it into
a round form
and bake it in the oven
of your heart

Untuk mengetahui tentang Naoshi Koriyama klik ini : The Poetry Of Friendship

Manifesto Ketujuh : Long Road Dark Tunnel



Pada satu titik, menulis terkadang terasa seperti berjalan di dalam gua gelap yang panjang. Kita tahu bahwa gua ini memiliki ujung, bahkan mungkin kita sudah bisa melihat secercah sinar di ujung gua , tetapi mengapa rasanya berjalan ke arah ujung tersebut terasa sulit. Dan perjalanannya terasa menjemukan?

Pada titik yang lain kita akan mengetahui bahwa menulis bisa diumpamakan sebagai sebuah perjalanan menyusuri jalan yang panjang. Cahaya lampu mobil tidak perlu menyorot sampai ke ujung jalan tetapi menyorot jalan di depan, yang terdekat, yang akan kita lewati. Begitu juga dengan senter yang menempel di kepala kita, biasanya hanya menerangi sebatas pandangan mata kita, hanya dengan melangkah terus ke depan kita bisa mengetahui dan menyibak kegelapan.

Menulis menjadikan kita perangkat penerang bagi diri kita sendiri, tetapi itu hanya apabila kita mau terus bergerak.

Selain Nulis Ngapain?





"When I'm not writing books I like to draw and to make things out of wood. I also like to play the piano. I'd like to play it well, but I can't, so the rest of the family has to put up with my playing it badly."


(Philip Pullman)



Itu yang Philip Pullman lakukan jika ia sedang tidak menulis.

Menurut saya, apa yang kita lakukan jika sedang tidak menulis, (sesuatu yang berasal dari ruangan yang sama yang bernama kreativitas) biasanya bisa menjadi ‘charger’ bagi kegiatan utamanya, yaitu menulis.

Jika tidak menulis, saya memasak. Believe me or not, memasak membuat otak kanan saya terangsang dan entah dengan cara bagaimana seolah energi baru terkumpul kembali membuat saya jadi bersemangat dan lebih kreatif.

Memasak bagi saya, hampir sama seperti menulis, kita mereka-reka komposisinya (diksi atau gaya bahasa) yang dalam memasak bisa diibaratkan sebagai bumbu, memilih bahan-bahan masakannya yang dalam menulis adalah memilih kosa kata, dan memutuskan akan memasak apa yang dalam menulis adalah memilih gagasan keseluruhan akan apa yang mau kita tulis.

Dulu saya juga suka menggambar, membuat sketsa-sketsa tetapi kemudian kegiatan itu saya tinggalkan. Padahal menggambar bisa membangkitkan imajinasi juga. Tapi kemudian memasak dan traveling lebih menarik perhatian.

Karena traveling tidak bisa dilakukan setiap saat maka sebagai gantinya saya nonton film. Ya, bukankah menonton film bisa mengantarkan kita ke berbagai tempat tanpa harus mengangkat pantat? Melihat banyak hal baru, warna, budaya, keragaman, pemandangan, semuanya yang membangkitkan syaraf-syaraf yang tertidur di dalam ruangan bernama kreativitas bisa membangkitkan pikiran.

Beberapa orang menyukai musik, dan memang musik adalah cara paling gampang dan murah untuk mengiring feeling kita, sesuatu yang juga harus ada saat kita menulis.

13 tips from Chuck Palahniuk


Inilah 13 tips menulis dari Chuck Palahniuk. Chuck adalah penulis novel 'Fight Club' yang sudah difilmkan, dimainkan oleh Edward Norton dan Brad Pitt. Ia juga menulis Choke, Invisible Monsters, Survivor, Haunted, Lullaby, dan masih banyak lagi.



  1. When you don’t want to write, set an egg timer for one hour (or half hour) and sit down until the timer rings. Menurut Chuck, biasanya saat weker sudah berbunyi kita sudah terlanjur asyik menulis dan lupa dengan batasan waktu yang kita buat. Biasanya kalau saya berhasil menulis selama target waktu yang sudah ditentukan tersebut saya akan menghadiahi diri sendiri dengan hal yang menyenangkan, misalnya buka FB atau ngeblog.


  2. Menurut Chuck, pembaca adalah orang-orang yang lebih pintar dari apa yang kita bayangkan sebelumnya. Jadi saat menulis kita harus bisa lebih kreatif dengan bentuk atau gaya cerita maupun plotnya. Menurut Chuck : younger readers distain most books dan film-film yang beredar saat ini telah membentuk pandangan penontonnya sehingga penonton atau pembaca sekarang tidak mudah untuk dikagetkan oleh suatu klimaks atau kejutan-kejutan dalam cerita.


  3. Sebelum duduk menulis sebuah scene, pikirkan dengan baik adegan tersebut seolah kita masuk dan melakukan adegannya. Pikirkan apa yang mungkin mengawali suatu adegan apa pencetusnya, bagaimana reaksinya, dan apa yang akan terjadi setelah itu. Ketika sedang menuliskan sebuah adegan bawalah selalu adegan tersebut dalam keseharian kita dan temukan kemungkinan-kemungkinan yang beragam dari sebuah adegan dari yang mungkin sampai yang tidak mungkin.


  4. Surprise your self, begitu kata Chuck...saat menulis sebuah cerita, dan cerita itu bisa membawa kita sendiri pada tempat asing atau baru maka sedikit banyak kita juga telah membuat pembaca cerita kita mengalami hal yang sama. Jadi jika sebuah cerita jalannya cukup mengejutkan kita maka seharusnya begitupula dengan yang membaca.


  5. Ketika mengalami stuck, kembalilah ke belakang, pada scene-scene sebelumnya.
    Menurut Chuck, di sanalah kita bisa menemukan ‘buried guns’ yang bisa memberikan kita ide untuk membuat ending cerita atau mengembangkan suatu karakter.


  6. Tulislah buku atau cerita yang memang kita sukai dan akan kita baca. Tempatkan diri kita sebagai pembaca, kira-kira buku apa yang kita sukai dan akan kita baca hingga tamat.


  7. Mulailah dengan ketidaktahuan, menurut Chuck : the longer you can allow a story to take shape, the better the final shape will be. Jangan terburu-buru saat membuat ending sebuah cerita. Biarkan scene demi scene muncul dalam benak kita. Tidak harus semuanya terungkap sekaligus.


  8. Jika merasa terkukung dengan jalan cerita yang sudah dibuat atau ada karakter yang terasa menghambat, mungkin itu saatnya kita mempertimbangkan untuk mengeliminasi karakter tersebut. Atau mungkin dengan merubah namanya agar muncul ide baru mengenai si karakter.


  9. Characters aren’t real, and they aren’t you.


  10. Ada tiga tipe pembicaraan : deskriptif, instruktif, dan ekpresif. Menurut Chuck, saat menulis gunakanlah ketiganya, mix them up. Karena begitulah orang berbicara dan menjalani kesehariannya.


  11. Write about the issues that really upset you. Those are the only things worth writing about.


  12. Carilah teman atau komunitas yang bisa memberi support dalam kegiatan menulis.


  13. Apakah kita seorang penulis yang gagal atau berhasil menurut Chuck : Whether he was a failure or a hero. He’d dissappeared, gone off to whereever, and all we were seing was his work.

Saturday, May 16, 2009

Doa


Pada malam yang bersaput jelaga
aku berdoa
memanjatkan kata
merentang harpa
dan memetik dawai-dawainya.


Pada kelam yang bungkam
kutangisi kegamangan malam
kurajut angan

kugulung lebam-lebam

menjadi sebuah rajutan.


Tuhan, tolong jawab saja!


Akankah semuanya berbalik?
Doa-doa akan kembali

seperti kapal pulang ke dermaga


Akankah semua berbalas?

seperti gema digaungkan ke

di dinding-dinding relung hatiku.


Tuhan, jawab saja! Atau jika tidak
tolong nyalakan terang dihatiku
Setidaknya sedikit binar
untuk melewati malam panjang ini.

Puisi Hujan



Kucari makna
dari riuh yang tercurah itu.

Kupahami rasa yang mengalir
dari daun yang debunya tersibak air,
dari rumput yang basah,
dari tanah yang menyerap basah,
dari burung yang berteduh.


Kutatap terus
derai yang terus mengguyur.


Mencoba mencari arti
dari awan mendung yang bergelantung
dari dingin yang terpercik
dari semayam hati ini
yang selalu terpaut akan rindu
menatap mentari.

Sudah Surutkah Kamu?



Hujan mendekapnya.
Melepas gerahnya.
Mencuci raganya.


Ia tersuruk pasrah,
Dan aku bertanya-tanya…

Adakah angan tercurah
dari ritmik yang berjatuhan
dan melebur dengan tanah?

Adakah pesan yang ingin disampaikan
dari lirik lagu hujan yang berjatuhan?

Adakah anganmu terarak bersama awan,
bergolak bersama penat
dan gerahnya langit
lalu turun menjadi hujan?

Membasuh peluhmu,
melawan amarahmu,
membasuh resahmu,
dan mengalir hilang,
bersama dengan
surutnya hujan..?

Dan aku bertanya-tanya....
Sudah surutkah kamu?

Penyusup

Menelusup pekat pada terang bohlam malam.
Cahaya berkedip sesaat.
Meredup lalu padam.

Gelap tersuruk,lentera-lentera tua padam.
Cahaya neon menusuk.
Larik cahaya sahut-menyaut
Musik berderap, ritmik berlompatan

Dinding berdentum menyesakkan
Sepi menyusup, mengusik.
Menggarap ramai,
merengkuh kesendirian
yang memuakkan

Penyusup di saat seperti ini,
tak pernah luput
tak pernah surut.

Menerjang kegamangan
menyundut ramai
menusuk,
kesendirian.

Mengeliminasi Abjad


(Tulisan ini saya re-post dari sebuah milis :)

Abjad yang digunakan di dalam bahasa Indonesia berjumlah 26. Ke-26 abjad tersebut rasanya masih terlalu banyak, dan lagipula ada beberapa abjad yang jarang sekali digunakan. Oleh karena itu mari kita sederhanakan abjad-abjad tersebut dan menyesuaikan dengan kata-kata yang kita gunakan.

Pertama-tama, huruf X, kita ganti dengan gabungan huruf K dan S.Kebetulan hampir tidak ada kata dalam bahasa Indonesia asli yang menggunakan huruf ini, kebanyakanmerupakan kata serapan dari bahasa asing. Misalnya taxi menjadi taksi, maximal menjadi maksimal, dst.

Selanjutnya, huruf Q kita ganti dengan KW.Serupa dengan X, kata2 yang menggunakan huruf ini juga sedikit sekali.

Berikutnya, huruf Z.Huruf Z kita ganti menjadi C. Tidak ada alasan kuat tentang hal ini.

Huruf Y diganti dengan I.Hal ini dilakukan sebab bunii huruf tersebut mirip dengan I.

Kemudian huruf F dan V keduania diganti menjadi P.Pada lepel ini masih belum terjadi perubahan iang signipikan.

Hurup W kemudian diganti menjadi hurup U.Berarti sampai saat ini kita sudah mengeliminasi 7 hurup.

Hurup iang bisa kita eliminasi lagi adalah R, mengingat baniak orang iang kesulitan meniebutkan huruptersebut. R kita ganti dengan L.

Selanjutnia, gabungan hulup KH diganti menjadi H.

Iang paling belpengaluh adalah hulup S iang diganti menjadi C.

Hulup G juga diganti menjadi K.

Dan hulup J juga diganti menjadi C.

Caia laca cudah cukup untuk hulup-hulup konconannia. Cekalank kita kanti hulup pokalnia.

Cuma ada lima hulup pokal, A, I , U, E, O.

Kita akan eliminaci dua hulup pokal. Hulup I mencadi dua hulup E iaitu EE. Cementala hulup U mencadee dua hulup O iaitoo OO.

Cadi, campe cekalank, keeta belhaceel menkoolangee hooloop-hooloop keeta. Kalaoo keeta tooleeckan lagee, hooloop-hooloop eeang telceeca adalah:
A, B, C, D, E, H, K, L, M, N, O, P, T.

Haneea ada 12 belac hooloop!! Looal beeaca bookan?? Padahal cebeloomneea keeta pooneea 26 hooloop.

Eenee adalah penemooan eeang cankat penteenk dan cikneepeekan! !
Co, ceelahkan keeleemkan tooleecan anda denkan menkkoonakan dooa belac hooloop telceboot.

Miss U My Two


Sebenarnya cukup membuka jendela untuk menyampaikan pesan.
Tapi entah kenapa aku begitu enggan.

Sebenarnya cukup dengan sedikit keberanian terguyur hujan.
Agar pesan itu tersampaikan.

Tapi jarak yang ribuan telah mengaburkan angan.
Meredam keinginan.
Memeram kerinduan.
Menjadi sebentuk kepasrahan.

Sampai kadang bosan bermesraan dengan hujan.
Sebab ketika sedang menadahinya di tangan.
Aku tak pernah menemukan lautan.
Untuk membiarkan yang setetes ini ikut aliran.

Dan pulang ke kampung halaman.

Satu Episode Hujan


Sudah gamang siang terguyur hujan.
Airmata langit berderai
mengoyak tanah,
menerbangkan debu.

Kerikil kecil terseret.
Daun terbang limbung.
Seseorang,
meratap di bawah atap.
Seseorang,
Menunggu reda.

Sesuatu,
meneduh di sela rumput.

Seseorang masih,
menunggu jeda.

Sejumput angin
menggesek kalbu
memainkan dawai seseorang.

Melantunkan tembang musim hujan.
Dan hujan tetap rata.

Satu Tembakan Telak


Mengetuk kesendirian di depan pintu ramai
berpaling kesunyian pada teriak
dan hingar bingar.

Bergolak senyap pada benak yang penat
dan mulut yang ramai.

Terseok kata pada kelegaan ruang
menyumbat makna
membekukan rasa.

Menyusup sepi pada musik yang berdegup
pada jantung kehidupan
dan nadi yang dialiri
pergerakan.

Membelengu diam pada lalu lalang kehidupan
kepekaan berderit-derit
mobil-mobil mengerem
menghindari kematian.


Satu tembakan telak

telah mematahkan semua pergerakan

dan semua diam.
image : deviantart

Friday, May 15, 2009

To Make The Portrait Of A Bird


Poem By : Jacques Prevert

Pertama-pertama lukislah sebuah sangkar
Dengan sebuah pintu yang terbuka
Kemudian lukislah
Sesuatu yang indah
Sesuatu yang sederhana
Sesuatu yang cantik
Sesuatu yang bermanfaat
Untuk burung itu
Kemudian sandarkanlah kanvasnya di sebuah pohon
Di suatu taman
Di sebuah hutan kecil
Di sebuah hutan belantara
Sembunyikan di balik pohon
Tanpa ada suara
Tanpa ada gerakan
Kadangkala burung itu datang tiba-tiba
Tetapi tidak mustahil kau harus menunggunya bertahun-tahun
Sebelum dia memutuskan
Jangan putus semangat
Tunggulah
Jika perlu tunggulah hingga bertahun-tahun
Cepat atau lambat kedatangan burung itu
Tidak ada hubungannya dengan keindahan lukisan tersebut
Ketika burung itu datang
Jikalau dia datang
Amatilah keheningan di sekelilingnya
Tunggulah sampai burung itu memasuki sangkar
Dan pada tahap itulah
Tutup pintunya pelan-pelan dengan satu goresan kuas
Hapuslah satu per satu penghalang yang ada
Lakukanlah dengan hati-hati agar bulu-bulu burung itu tidak ada yang tersentuh
Kemudian lukislah sebuah pohon
Pilihlah cabang-cabang yang terbaik
Untuk burung itu
Juga lukislah dedaunan yang hijau dan kesejukan tiupan angin
Debu matahari
Suara-suara serangga di sela-sela rerumputan dalam panasnya cuaca musim panas lalu tunggulah hingga burung itu memutuskan untuk bernyayi
Jika burung itu tidak bernyanyi
Itu pertanda buruk
Sebuah pertanda bahwa lukisannya buruk
Tetapi jika dia bernyanyi itu adalah pertanda baik
Suatu pertanda bahwa engkau boleh menorehkan tanda tangan
Kemudian cabutlah sehelai bulu burung itu dan tulislah namamu di salah satu sudut lukisan itu.

Tahukah Kamu?


Tahukah kamu,
dari semua yang sedang berlangsung saat ini,
apa yang paling aku takutkan?


Bukan sebuah kepastian,

bukan juga sebuah keputusan

atau kepergian.


Tahukah kamu,

dari semua yang sedang kita jalani saat ini,

yang paling aku takutkan

adalah....ketika....aku menanggap

semua yang terjadi ini normal,

biasa saja.


Tidakkah itu terasa lebih menyakitkan,

dibandingkan jika kita mengakui

bahwa masing-masing dari kita

merasa kehilangan?


Tidakkah itu lebih menyesakkan,

dibandingkan kenyataan

bahwa sesungguhnya

kita tidak mampu menjalani semua ini sendirian?


Jadi jangan kau katakan semua ini mudah...

Tidak ada yang mudah dari sebuah perpisahan,

juga kematian.


Itulah mengapa rasanya tidak waras

jika langkah yang kuambil

hanya semakin merentangkan jarak di antara kita...


Itulah mengapa aku tak pernah merasa ini biasa

ketika sedikit saja kau mengambil jalur yang salah

dan pegangan kita terpisahkan.


Yang kita butuhkan hanyalah kepercayaan.

Dan kepercayaan hanya bisa kita dapatkan

jika kita percayakita bisa.


Itu saja sayang.

Wednesday, May 13, 2009

Tuhan, izinkan saat itu datang, ya.




















Aku menunggu saat itu datang.
Saat dimana aku bisa tersenyum
dan merasakan semua yang membebat
hatiku,
panca inderaku,
dan jiwaku,
terlepas ke lautan lepas.
Mengembara samudera,
bersatu dalam biru samudera dan angkasa

Aku menunggu saat itu tiba.
Saat dimana aku bisa kembali tertawa.
Bahagia digenapi jiwa yang serupa.

Seperti tetes gerimis yang bersatu tanah.
Seperti angin yang memainkan dedaunan.


Seperti menemukan kembali rumah
yang hilang,
yang terenggut,
yang kosong,
dan hampa.
Dan mendengar kembali suara tawa di sana,
doa-doa, rasa syukur yang suka cita,
harapan baru,
dan sekali lagi, senyum bahagia, tentunya.

Tuhan, izinkanlah saat itu datang, ya.

Friday, May 8, 2009

Manifesto Keenam: Membuat jarak




















Ada hal penting lainnya ketika kita sudah selesai menulis atau membuat suatu karya. Kita harus menciptakan jarak dengan tulisan atau karya yang kita buat agar bisa melihat dengan jelas tulisan atau karya kita itu.

Bayangkan saja, kita membuat tulisan di atas kertas putih. Setelah itu tempelkanlah kertas yang sudah ditulisi itu ke mata kita. Bisakah kita membacanya atau bisakah kita melihat tulisan itu dengan jelas?

Bahkan huruf yang ditulis terlalu rapat-rapat terlihat kacau dan sulit untuk dibaca.


Membuat jarak akan membuat kita berpindah peran dari sekedar penulis menjadi pembaca. Dengan menjadi pembaca kita bisa menemukan kekurangan yang ada pada tulisan dan karya yang kita buat. Menjadi pembaca akan menggeser sudut pandang kita sehingga kita melihat tulisan kita dengan cara pikir yang lain.
Menjadi pembaca juga membuat kita lebih mudah melakukan self-critisize.

Keira

image : itu gambarnya Sigrid Agren...sosok seperti dialah yang saya bayangkan tetapi...belum final siy. Masih mencari sosok lain yang lebih pas. Apalagi kalo ada sosok asli Indonesi


Yippieee!! Seneng banget akhirnya chapter pertama dari novel yang sedang saya tulis sudah rampung.

Itu juga berarti saya sudah berhasil membentuk seluruh karakter dari tokoh utama di novel ini. Tantangan tersulit yang dirasakan kemarin adalah saat menulis karakter Kei.

Wuihhh, akhirnya semua yang sudah pernah saya tulis tentang dia kira-kira enam tahun yang lalu saya rombak kembali.

Kini karakternya suduh mewujud. Apakah sudah menjadi karakter yang tiga dimensi, saya belum mengamatinya dengan baik. Saya mau meninggalkannya sebentar agar bisa melihat dari sudut pandang yang lain.

Wednesday, May 6, 2009

Manifesto Kelima : Jadwalkanlah




















Manifesto yang kelima masih berkaitan dengan manifesto sebelumnya yaitu konsistensi.
Untuk menjaga konsistensi juga irama atau ritme tulisan (biasanya ketika menulis fiksi) maka kita harus membuat jadwal harian dalam kegiatan penulisan kita. Temukan waktu yang tepat, yaitu saat di mana kita merasa paling fresh, atau bisa juga dipilih berdasarkan pengamatan atau pengalaman kita.

Misalnya kalau kita menulis di tengah malam yang sunyi atau di pagi-pagi buta hasil tulisan kita kualitas dan kuantitasnya baik maka di waktu itulah yang kita tetapkan sebagai 'saatnya menulis'. Jadwal yang kita buat juga harus kita taati, karena hanya dengan konsistensi saja sebuah kebiasaan baik dapat terbentuk.

Manifesto Keempat : Relativitas VS Konsistensi















Siapa bilang hanya pelajaran Fisika saja yang mengenal rumus relativitas. Dalam menulis, kita juga mengenal istilah ini. Relativitas dapat digambarkan begini :

Dalam menulis kita bisa mengalami hal ini : duduk di hadapan komputer selama belasan bahkan puluhan jam tetapi yang kita hasilkan hanya 2 halaman atau 500 kata saja. Sebaliknya kita duduk selama 15 menit dan kita menghasilkan 10 halaman atau mungkin 1000 kata.

Meskipun begitu, (minimal) 15 menit dalam satu hari itu harus ada. Itulah (konsistensi) yang bisa mengalahkan relativitas waktu dalam menulis.

Writing Manifesto Ketiga : Ide = Kelinci




















Ide itu seperti kelinci, carilah sepasang, beri tempat tinggal yang nyaman, peliharalah dengan baik, beri makan dengan teratur, maka ide itu akan beranak-pinak.


Jika sudah bertemu si kelinci pertama (biasanya gagasan) temukan ia dengan kelinci yang satunya lagi (jalan cerita) tempatkan mereka berdua dalam sebuah rumah bernama outline, mulailah mempelajari kebiasaan kelinci-kelinci itu dengan baik mulailah survey (mengenai ide, gagasan, dan cerita yang mungkin berhubungan). Jika sudah mulailah memberi makan mereka. Makanan merupakan salah satu faktor penting agar kelinci-kelinci itu bisa berkembang biak dengan baik. Jika salah memberi makan kelinci juga bisa mati.

Makanan yang baik harus diberikan secara teratur, porsinya juga harus pas, dan sesuai dengan selera serta kebiasaan.



Sunday, May 3, 2009

Menunggumu Di Pesisir Pantai


Ceruk waktuku memang terbatas menampung
tetes gerimis sore itu.
Tapi (sungguh!) tak pernah kubiarkan ia meleber sia-sia
tak tertampung...

Kuredam waktu yang tersisa untuk memikirkanmu, yang bagai
ombak mengulung pulang pada lautan di ujung mimpimu
(mimpi kita)

Mudah-mudahan kau tak kecewa.

Sungguh, karena lautan masih selalu punya ombak
aku tetap percaya.

Tinggal ku berjalan ke pesisir menunggumu,
Tak lama lagi, kita akan bersua.
Gembira bagai bocah turun gunung, hilang ingatan akan mendung dan kabut
Puas bermain dengan buih ombak yang tak pernah habis dipecah waktu.
image by : deviantart.com

Rindu




















In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.
By the Sun and its (glorious) splendour;
By the Moon as it follows (the Sun);
By the Day as it shows up (the Sun's) glory;
By the Night as it conceals it;
By the Firmament and its (wonderful) structure;
By the Earth and its (wide) expanse;
[By the Soul, and the proportion and order given to it;
And its enlightenment as to its wrong and its right;
Truly he succeeds that purifies it,
And he fails that corrupts it!
The Thamud (people) rejected (their prophet) through their inordinate wrong-doing.
(Ash-Shams)


Rindu....
rindu melafalkan puisi indah itu pada sujud dhuhaku
rindu merasakan aliran air yang nyaris membuatku menangis
ketika selesai membacanya...
Pagi itu, kutepis rinduku dengan menemuinya...
mengadukan siangku yang bimbang
menanyakan malam yang rasanya terlalu panjang
memohon pagi dibukakan segera...
Seandainya setiap saat kutahu hanya Dhuhaku obat setia
mungkin tak sedikitpun aku akan berpaling dariNya...
(tadi pagi...saat aku tak lagi bisa membendung bimbangku. Dhuha adalah, juga, inspirasiku)
image : deviantart.com

Bacaan Bulan April















Gambar di samping adalah 'tumpukan dosa' yang berhasil saya tebus di bulan April kemarin.
Saatnya untuk membuat daftar bacaan untuk bulan Mei:

Negeri Van Oranje.

Tea for Tw0-Clara Ng.

Dengan Hati-Syafrina Siregar.

The Magic of Tea-HP. Melati.

Metropolis-Windry Rahmadina.

Sejarah Dunia Dalam 10 1/2 BaB.

Kumpulan Cerita Rashomon.

Tapi, daftar itu bisa berubah. Tergantung dengan mood saat itu, bisa saja buku di tumpukan teratas yang dibaca lebih dulu atau malah jika ada buku pinjaman yang menarik itu yang dibaca dulu. Hehehehe. Intinya, dosa-dosa itu tetap harus ditebus, kan.

Bacaan Bulan Maret












Ini re-post dari blog saya di multiply dengan maksud agar ada kontinuitas tentang perkembangan saya membabat 'tumpukan dosa'. Tumpukan dosa adalah sebutan bagi buku-buku yang saya beli secara impulsif maupun terencana, lalu kemudian saya buka sampul plastiknya, saya intip sebentar lembar demi lembarnya, saya baca sinoposis di halaman belakangnya, lalu, tanpa perasaan bersalah, saya tumpuk kembali di rak buku, atau di mana saja sambil menunggu waktu yang 'tepat' untuk benar-benar membacanya.

Saya baru akan merasa bersalah jika menjelang akhir bulan yang padat pekerjaan, buku-buku itu melirik saya dengan sinis dan berkata :

Writing Manifesto Kedua: Bersih-Bersih.


‘Ruangan’ yang bersih, rapi, dan nyaman membuat inspirasi betah tinggal berlama-lama. Menulis adalah ungkapan hati dan jiwa, maka hal pertama yang harus kita bersihkan adalah pikiran.

Kita tidak bisa menuangkan apa yang ada di hati atau jiwa kita secara langsung, semuanya harus dibawa ke pikiran atau melewati pikiran terlebih dahulu. Kalau suasana pikiran kita kelam maka sejernih apapun aliran inspirasi yang dibawa dari hati atau jiwa akan diwarnai dengan apa yang mewarnai pikiran kita.

Makanya sebelum mulai menulis kita harus bersih-bersih tempat di mana ‘debu dan kotoran’ biasa bersarang. Karena pikiran yang kalut dan penat seringnya sulit untuk bisa menghasilkan tulisan yang mengalir jernih. Jadi first from all, ada baiknya juga menkondisikan pikiran kita untuk tetap positif, gembira, fokus, dan terarah.


Ruangan tempat kita bekerja juga harus rapi, paling tidak terasa nyaman untuk diri sendiri. Ada yang merasa nyaman ketika menulis di tempat yang tak terorganisir, ada yang merasa nyaman menulis di tempat yang bersih dari segala macam bentuk distraksi. Kita sendiri yang harus bisa menemukan tempat semcam apa yang kita sukai, dan membuat inspirasi mau berkunjung dan berbincang-bincang lama dengan kita. Sama halnya dengan tamu atau teman yang datang berkunjung ke tempat tinggal kita, inspirasi juga akan betah berlama-lama apabila kita menyambutnya dengan ramah, dan dengan pikiran yang terbuka.

Friday, May 1, 2009

Writing Manifesto 1 : Meredam Stimulus


Adakalanya banyak membaca, mengeja, melihat, mendengar, berkata, dan meraba (ughh, aneh juga yang terakhir ini) itu membuat kita lebih lancar untuk menuangkan ide-ide atau menulis sesuatu.

Tetapi pada satu titik saya pernah mengalami apa yang dirasa sebagai less is more.
Mengapa begitu?

Satu. Ketika saya terlalu banyak membaca karya-karya fiksi orang lain, seringkali ketika menulis, tanpa sadar saya seolah masih membawa gagasan yang sama, bahkan terkadang bahasa dan gaya yang sama.

Itu aneh sekaligus juga membuat saya berpikir bahwa buku itu hebat karena telah mencuci pikiran saya dengan kata-katanya. Tapi saya tidak mau hal itu berpengaruh kuat hingga mengaburkan gaya dan cara saya sendiri.

Waiting List


Apa yang bakal kamu lakukan kalau naskah yang sudah kamu kirimkan ke penerbit masuk daftar waiting list ? Jangan menunggu. Karena waktu akan menjadi relatif. Jika hanya melonggo dan tidak berbuat apa-apa, waktu sebulan bisa berasa setahun. Tapi kalau kita melakukan sesuatu, terutama yang menyenangkan, maka semuanya bisa terasa sebentar saja.


Untuk itu, menulislah lagi, buat naskah yang lain dan kalau sudah selesai kirimkanlah lagi.

Ini juga yang sedang terjadi pada saya. Tadi siang saya menghubungi editor menanyakan kabar naskah non-fiksi saya yang pertama, dan dikabarkan naskah saya sedang dalam proses tunggu untuk tiga bulan ke depan. Pasalnya penerbit baru saja membuat kebijakan baru. Yang awalnya dalam satu bulan mengeluarkan 16 judul dipangkas menjadi 8 judul saja. Naskah saya yang baru masuk dua bulan yang lalu otomatis harus mengalah pada naskah-naskah yang sudah datang duluan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...