Friday, May 1, 2009

writing manifesto 1 : meredam stimulus


Adakalanya banyak membaca, mengeja, melihat, mendengar, berkata, dan meraba (ughh, aneh juga yang terakhir ini) itu membuat kita lebih lancar untuk menuangkan ide-ide atau menulis sesuatu.

Tetapi pada satu titik saya pernah mengalami apa yang rasa sebagai less is more.
Mengapa begitu?

Satu. Ketika saya terlalu banyak membaca karya-karya fiksi orang lain, seringkali ketika menulis, tanpa sadar saya seolah masih membawa gagasan yang sama, bahkan terkadang bahasa dan gaya yang sama.

Itu aneh sekaligus juga membuat saya berpikir bahwa buku itu hebat karena telah mencuci pikiran saya dengan kata-katanya. Tapi saya tidak mau hal itu berpengaruh kuat hingga mengaburkan gaya dan cara saya sendiri.

Dua. Ketika terlalu banyak stimulus, baik itu karena latar musik yang mengiringi saya ketika menulis, sedikit-sedikit mengintip deretan status yang terus berganti di sebuah situs pertemanan, suara berita di televisi, teh yang harus diseruput, dan mungkin dering ponsel, semua lalu lintas pikiran yang sudah berada di jalur yang semestinya berubah menjadi macet di salah satu titik, atau malah arusnya menjadi terlalu kencang sehingga sulit terbendung.

Untuk itulah, salah satu manifesto saya ketika mulai bekerja untuk menulis atau berkonsentrasi terhadap suatu hal saya menerapkan prinsip : less is more.

Menulis bagi saya seperti bermeditasi. Suara-suara di luar kita dan berbagai stimulus akan tetap ada, kita tidak bisa menolaknya. Yang diperlukan hanyalah, kita harus tetap fokus pada kesadaran kita lalu meredam semua stimulus dan bunyi-bunyian yang masuk. Membuat dinding antara kesadaran tubuh kita, apa yang sedang menjadi fokus utama, dan membiarkan yang tidak signifikan tetap berada di luar jangkauan indera dan lingkaran psikologis kita.

Jadi, saya menemukan manifesto pertama saya dalam menulis: meredam stimulus.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...