Wednesday, June 3, 2009

Siapa Soulmate Saya?


Sore itu, seseorang datang. Sama seperti hari-hari sebelumnya, kami bertemu untuk berbincang.
Tidak lama. Satu jam cukup baginya. Jika masih kurang, kami akan membuat janji kembali minggu berikutnya. Begitu, seterusnya. Sampai ia rasa sudah sampai pada satu titik di mana ia telah tersembuhkan dengan perbincangan ini.

Dia tidak sadar. Lewat perbincangan ini, bukan hanya dia yang disembuhkan tetapi juga aku.
Seandainya dia tahu, tadi malam aku sama bimbangnya dengan dia, dan dengan kedatangannya padaku, dengan maksud mengadu, dia tak sadar telah mengeluarkanku dari sebuah kebimbangan.

Perbincangan kami sederhana. Ia bertanya mengapa dirinya tak kunjung memiliki jodoh. Dia bertanya pada saya, di mana soulmate-nya berada.

Dia mengeluh. Jangan-jangan saya tidak cukup baik. Karena, katanya semua pria baik akan bersama wanita baik.

Dia menangis. Semua orang mengatakan ini dan itu tentang kesendiriannya.

Tentu saja, saya tidak cuma diam mendengarkan. Meskipun sebenarnya, dengan mendengarlah saya dibayar. Saya mencoba menganalisa, dari sudut pandang saya. Mencoba mencari-cari celah, mencoba menawarkan sudut pandang baru.

Lalu sekali lagi dia berkata, sepertinya semua pria baik-baik sudah diambil wanita baik-baik. Dan saya tidak cukup baik....jadi saya tidak mendapatkan yang terbaik.

Kalimatnya mengambang. Tapi, tidak hati saya.
Hati kecil saya seperti tertancap belati mendengar kata itu. Bocor, mengeluarkan air hingga susut dan tenggelam ke dasar kegelapan.

Saya terdiam, mulut saya terkunci meskipun seharusnya saya bicara.
Lalu, pelan-pelan saya berkata, takut salah, karena sejujurnya saya belum melakukan hal serupa untuk diri saya sendiri.

"Memang benar wanita baik-baik diperuntukkan untuk pria baik-baik, tetapi...jika begitu dunia ini akan penuh dengan penjahat" kata saya hati-hati.

Dia mengernyitkan alisnya. "Kenapa memang?"

"Setiap orang pada dasarnya baik tetapi tidak berarti ia tidak memiliki kekurangan, kan? Setiap orang dipasangkan serupa puzzle, masing-masing saling melengkapi.

Seseorang yang bersama kita, dikirim Tuhan untuk suatu alasan....agar masing-masing bisa saling bertukar peran dan pengalaman, agar masing-masing bisa saling menyeimbangkan."

Ia lalu tersenyum, sedikit lebih lebar. "Iya, bener juga...pasti itu..." Binar matanya terlihat lebih bersemangat.

Saya lalu menimpalinya lagi," Bukan habis, pria baik-baik yang bersama wanita baik-baik, terbentuk dari proses saling melengkapi. Begitu sebaliknya. Paket baik-baik itu terbentuk karena pertukaran. Tidak begitu saja, seolah jika kita sudah merasa baik maka kita juga akan mendapatkan pasangan yang baik. Tidak semudah itu,"

"Yang terpenting sekarang hanyalah, temukan saja orang yang mau belajar bersama, dan itu sudah lebih dari cukup. Teman belajar itulah soulmate kita."

Dia tersenyum jauh lebih lebar lagi.
Hati saya mengangga jauh lebih lebar lagi. Air di dalamnya seolah ingin membuncah.
Saya membalikkan badan dan mata saya mulai tergenang. Mencoba sebisa mungkin menahannya agar tidak tumpah demi nama profesionalitas.

Seandainya dia tahu, kata-kata tadi, kalimat yang barusan saya ucapkan, sesungguhnya juga telah mengobati diri saya sendiri.

"Terima kasih, Mba. Minggu depan kita ngobrol-ngobrol lagi, ya. Di sini jam setengah 4, ya..."
"Boleh, tapi minggu depan nggak usah di sini, deh. Gimana kalo di Food Court, saya yang traktir..."

Bandung, 2 April 2009.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...