Friday, August 28, 2009

Writing Manifesto (Round Up 1)

Diputuskan, inilah round pertama untuk writing manifesto. Jadi di writing manifesto yang pertama ini, saya berhasil mengumpulkan 8 poin yang bisa diterapkan dalam menulis. Semoga bermanfaat yaa...

  1. Meredam stimulus

  2. Bersih-bersih

  3. Ide=Kelinci

  4. Relativitas vs Konsistensi

  5. Jadwalkanlah

  6. Membuat Jarak

  7. Long Road Dark Tunnel

  8. Variasi

Writing Manifesto 8 : Variasi


Manifesto terakhir untuk round terakhir adalah : Variasi.
  1. Dengan mencoba berbagai variasi media untuk menulis, misalnya dari blogspot ke multiply, lalu ke facebook, lalu ke twitter, saya jadi bisa merubah-rubah gaya menulis saya sendiri. Multiply untuk tulisan panjang yang lebih memiliki sentuhan personal, blogspot yang terarah untuk meningkatkan kemampuan menulis cerita pendek dan puisi, lalu facebook atau twitter, membuat saya bisa menulis dengan kalimat yang singkat-singkat saja tetapi tetap maksimal. Belum sepenuhnya bisa menulis dengan kualitas yang bagus untuk masing-masing tempat, tapi media-media itu bisa menjadi sarana untuk latihan dengan cara yang berbeda-beda. Sama halnya dengan ketika hanya menulis di atas selembar tissue, kertas tak terpakai, notes khusus atau buku harian. Semua pasti akan membuat kita menulis dengan gaya yang berbeda-beda.

  2. Variasi lain yang saya lakukan adalah berpindah-pindah dari menulis(juga membaca) tulisan non-fiksi ke fiksi. Dari satu genre ke genre lainnya. Dari satu topik ke topik lainnya. Bisa jadi satu sama lainnya itu tidak berhubungan. Bahkan bukan sesuatu yang saya minati. Tapi, biar saja. Variasi-variasi tersebut justru menghidupkan area-area di otak yang belum menyala. Ide-ide baru bisa muncul karenanya.

  3. Keuntungan yang bisa didapat dari melakukan variasi adalah : otak tidak jenuh, lebih segar, bisa menemukan perspektif baru, mendapati jawaban-jawaban atas pertanyaan yang masih mengambang, dan banyak lagi. Otak juga bisa beristirahat dengan satu topik tertentu ketika berpindah ke topik yang lain. Dan yang paling penting, dengan melakukan variasi kita bisa menemukan kontras yang maksimal. Kekontrasan akan membantu kita menemukan, membedakan, dan menempatkan apa yang paling kita butuhkan dalam sebuah tulisan.

    #Kekontrasan membuat kita bisa melihat dengan lebih jelas. Menambahkan variasi juga kontras warna dalam tulisan kita, akan membuatnya terasa lebih hidup dan tidak membosankan. Bukankah hidup pun begitu, penuh variasi dan kontras. #

Jika


jika pantai
aku cuma
sebutir pasir

jika awan
aku cuma
setitik embun

jika langit
aku bahkan
bukan semburat

jika hujan
aku hanya titik air yang menguap
masih pantaskah aku
berkacak pinggang
di hadapanmu, Tuhan?

Tuesday, August 25, 2009

Baca


Meskipun tidak memposting ‘buku-buku yang kubaca bulan ini’ sebenarnya saya tetap berusaha mengurangi 'tumpukan dosa itu'. Saya mulai berpikir apa gunanya punya akun di Goodreads kalo ga dimanfaatkan. Memang, cara yang ini lebih klasik dan terasa lebih menyenangkan. Tapi, saya mulai tidak punya waktu untuk melakukan itu.

Apalagi, kini saya tidak lagi menerapkan aturan dalam membaca. Saya mulai membaca dengan menggunakan insting semata. Bukan sistem urutan. Kadang buku yang sudah dibeli berbulan-bulan yang lalu yang seharusnya dibaca duluan malah belum tersentuh sampai sekarang. Biar saja. Berarti itu sudah jadi takdirnya.

Beberapa bulan yang lalu tidak ada yang namanya istilah membaca ulang. Selesai dengan halaman terakhir, buku disimpan kembali di rak. Juga tidak ada yang namanya menekuri atau menandai kalimat-kalimat yang 'berkedip' dengan stabilo. Pokoknya yang penting adalah melumat daftar bacaan bulanan sampai habis.

Sekarang sedikit berbeda. Ada beberapa buku yang saya cerna pelan-pelan. Sama seperti gaya makan slow food. Ada juga yang dibaca kembali berulang-ulang. Sampai nyaris hapal dengan kalimat-kalimat tertentu. Nyatanya cara itu jauh lebih meninggalkan jejak di ingatan ketimbang membaca banyak dan melupakan isinya.

[Mungkin juga ini karena saya sedang bosan dengan aturan dan pola-pola. Saya mulai menyukai sistem acak dan kebetulan-kebetulan. Seperti dulu. Biar ketajaman ‘membaca’ itu muncul lagi. Lagipula peer ‘membaca’ saya jauh lebih banyak sekarang.]

Ramadhan, Day 3.
(bersama dengan fritjof capra-the hidden connection...)

Monday, August 24, 2009

Bola-Bola Kertas dan Pas Foto 3x4


Senin meeting. Selasa menyewakan telinga. Rabu analisis jabatan. Kamis interview atau rekruitmen. Jumat laporan presentasi atau membakar kertas-kertas. Sabtu piket. Minggu tidur dalam kehampaan.

Jumat kadang-kadang menjadi hari yang saya sukai. Hanya karena ada bola-bola kertas yang terpanggang api dan pas foto 3x4 bekas yang ditempel ulang di atas kertas HVS yang menjadi hiburan saya belakangan ini.

Seharusnya saya membeli album untuk memajang pas foto-pas foto bekas itu. Bukan menempelnya di kertas. Tapi sudahlah.

Sebenarnya ada dua yang paling istimewa dari deretan pas foto tak terpilih itu. Satu adalah pas foto wanita cantik berambut ikal sebahu. Satu lagi, pria berkacamata dengan rambut cepak.

Dua orang itu ; Satu mantan pacar saya. Satu lagi pacar mantan pacar saya. Keduanya ada di dalam tumpukan kertas yang tidak terpilih.

Entah mengapa bisa begitu. Pasti bukan cuma main-main serupa kebetulan mereka bersama di sana. Aneh rasanya melihat mereka masih saling bersama meskipun hanya dalam bentuk lembar biodata.

Dua orang itulah yang ingin saya temui saat ini. Maka saya masih menyimpan curicullum vitae keduanya.

Saya tidak memburaikan kertas mereka dan menjadikannya bola-bola. Saya menyimpan keduanya pada sebuah map di dalam laci meja kerja.

Mungkin dengan memenjarakannya, saya bisa mengawasi tindak-tanduk mereka.

Dalam keterpisahan ini masihkah mereka mengkhianati saya?

Jika mungkin, kelak saya akan menemui mereka berdua dan bertanya. "Kamu sahabatku. Dan kamu kekasihku. Kenapa kalian melakukan semua ini?"

Ya, sejujurnya cuma untuk satu pertanyaan itu saya masih menyimpan mereka berdua.

Untuk satu pertanyaan yang hampir 9 tahun tidak terjawab, saya tidak menjadikan mereka bola-bola kertas yang terpanggang api. Hiburanku setiap Jumat, satu bulan sekali.

Padahal, pasti sedap melihat mereka berdua terburai menjadi serpihan-serpihan kertas atau terpanggang di atas api.

Saturday, August 22, 2009

Loneliness is Black Coffee and Late-Night Television; solitude is herb tea and soft music.


.loneliness is black coffee and late-night television; solitude is herb tea and soft music.

Kamu menyeruput kopi dari gelas terakhirmu yang berderet belum dicuci. Aku bilang berhenti minum kopi. Kamu jarang minum air putih. Kamu bisa sakit ginjal. Kalau terus-terusan berkebiasaan buruk seperti itu.

Kamu tidur dengan televisi menyala. Aku bilang matikan. Ayo hemat energi. Dunia sebentar lagi kiamat. Akan kau warisi apa anak-anakmu kelak?

Kamu makan tengah malam. Aku bilang hentikan. Kamu sudah kelebihan berat badan. Kamu mau mati duluan? Siapa yang mau mendengarkan semua repetan ini?

Kamu diam. Aku tahu kamu tahu jawabannya.

Sekarang aku memahami arti kesepian, katamu.

Tak ada lagi yang merepet tengah malam;
Tentang pekat dan hitamnya kopi tubruk.
Tentang televisi tengah malam.
Dan piring-piring kotor yang berserakan.

Tapi ini lebih dari kesepian itu sendiri, katamu lagi.

Kamu merunduk ke arahku. Menatapku.

Dan aku tahu apa yang kamu mau. Merengkuhku di saat-saat itu.

Tapi aku tahu, aku sudah tidak bisa lagi melakukannya;

Duduk di kursi di hadapan jendela sambil menyeruput teh dan mendengarkan musik kesayanganku.

Dan kamu tahu alasannya.
Dan kamu semakin mendalami memahami kesunyian.

Friday, August 21, 2009

Bianglala Pasar Malam


bukan roda gila atau rumah hantu yang akan kau datangi. makanya aku memilih untuk menaiki bianglala itu. seperti biasanya. saat itu kau pasti hanya akan duduk menungguku. di kursi hijau tua sambil menikmati kembang gula merah mudamu. atau sesekali melemparkan bulatan rotan pada botol-botol di ujung jalan. dan tentu saja membelikan balon gas yang nanti akan kuterbangkan.

tapi, malam itu tidak. kamu berdiri tepat di hadapan bianglalaku. entah apa yang sedang kau simak. derit-derit roda yang mulai berkarat. atau putarannya yang kian hari kian pelan. kamu menengadah ke atas sambil sesekali menjilati es krim yang kau gengam dengan tangan kanan. aku menatapmu dengan tatapan yang sama seperti hari-hari yang lalu. ketika kamu melambungkan bola ke dalam ring atau mencoba aneka permainan yang kekanak-kanakan. aku tahu kamu tahu. dan sepertinya kamu pun begitu. rasanya tidak perlu ada penjelasan. seperti halnya tidak perlu alasan mengapa pasar malam itu harus diadakan.

tapi malam itu sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu. entah apa. pasti sesuatu yang perlu diucapkan. bukan sesuatu yang hanya disimpan, seperti selama ini. jadi kamu menungguku di bawah bianglalaku yang berputar pelan. aku sendiri heran. mengapa kau tidak naik saja kesini. berputar bersama dalam lingkaran bianglalaku. tapi lalu kulirik bangku di sebelahku yang sudah bermuatan. dan aku mengerti. akan sulit mengatakan sesuatu yang perlu diucapkan jika kau duduk di bangku yang berbeda denganku. jadi aku hanya memandangimu dari atas sini. melihat es krimmu yang mulai melumer. dan matamu yang terpaku melihat putaran bianglalaku.

apa yang kau pikirkan? apa kamu menunggu giliran naik? apa kau tergesa-gesa untuk menyampaikan pesan? mungkin jika kau terbangkan beberapa balon gas kesini aku bisa menangkapnya. kamu bisa menyampaikan pesan dengan cara itu jika kau mau. tapi lalu kusadari setelah kau memberi pesan aku hanya bisa meneruskannya ke angkasa bukan kembali padamu. jadi kamu bergeming. cuma menatap putaran yang terus memelan. mungkin menungguku turun. mungkin berharap saat kau naik nanti aku akan ikut bersamamu. tapi tidakkah kau membaca tulisan di depan, setiap orang hanya punya satu giliran.

ketika bianglala itu benar-benar berhenti. kau segera menghentak. merunduk-runduk di bawah besi-besi penyangga bianglala yang sudah berkarat. menyelinap di tengah deru suara mesin penggerak yang baru saja mengepulkan asap gelap.

"pergi ke penjual tiket." katamu. dan aku menurut. meskipun aku tahu aku tak boleh lagi membeli tiket. penjual tiket itu lalu mengulurkan sebuah amplop padaku. isinya sebuah pesan yang lebih halus dari isyarat. kamu seolah berbisik dalam pesan itu...

"seperti menaiki bianglala
kamu di atas
aku di bawah
di setiap putarannya
kita tetap tak bisa bersama..."

aku lalu menengadah mencoba mengikuti putaran bianglalamu. putarannya bahkan jauh lebih lamban dari putaranku. aku tahu kau akan berada di sana jauh lebih lama lagi. jadi aku pergi dan berlari ke tanah lapang jauh dari hiruk pikuk pasar malam itu. sesampainya di sana pagi mulai datang. penjual balon baru saja melepaskan balon-balon tak terpilih ke langit yang semakin membiru. aku meminta satu. menulisinya pesan lalu menerbangkannya ke angkasa. seperti biasa. satu tahun sekali.

"selamat tinggal pasar malam
bukan bianglalamu yang menarikku kesana
bukan pula manisnya gula-gula
atau badut dengan bola-bola
tapi kenangan akan balon pertama yang kau belikan
setiap malam sebelum ramadhan
selamat tinggal pasar malam
sampai jumpa tahun depan..."
agustus 1986-agustus-2009
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...