Wednesday, October 28, 2009

Namanya Sofia

Empat belas menit berlalu dan pria itu tetap berdiri di sana, menunggu. Meskipun sepertinya ia sudah tahu kalau biasanya wanita yang ditunggunya itu tidak pernah terlambat barang semenit pun. Hari ini memang tidak seperti biasanya. Wanita itu selalu datang pukul delapan kurang seperempat. Sebelum masuk ke lift menuju ke kantornya di lantai 8 dia selalu mampir ke meja resepsionis dan menitipkan surat-surat untuk diambil koleganya setiap pukul 11. Kurasa pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga wanita itu terlambat masuk kantor hari ini.

Pria itu masih mondar-mandir di depan pintu lift yang sudah membuka dan menutup berulang kali, membawa manusia dari tanah ke langit dan sebaliknya. Tetapi ia bergeming di sana. Dan itu bukan sekali dua kali ia lakukan. Entah sudah yang keberapa kalinya ia melakukan itu. Tapi kali ini jadi terlihat lebih buruk karena orang yang ditunggunya tidak kunjung datang.

Sesaat kemudian kulihat ia masuk ke dalam lift. Kupikir ia sudah bosan menunggu si wanita. Tapi sejurus kemudian, ia keluar lagi dari lift, masih di lantai yang sama. Ia lalu berjalan kembali menuju lobby dan duduk di salah satu sofa di sana. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Memencet nomor dan mendekatkan ponsel pipih itu ditelinganya. Siapa yang diteleponnya? Pasti bukan wanita yang sedang ditunggunya. Aku yakin mereka belum saling kenal. Sebentar kemudian ia menyelipkan kembali benda pipih itu ke saku celananya.

Di lobby ia terlihat resah. Berdiri lalu duduk lagi. Sebentar-sebentar menyisir rambut ikalnya dengan jemari, merapikan letak dasinya yang sebenarnya tidak salah, dan membenarkan ikat pinggang yang menahan celananya yang jatuh terjuntai membungkus kaki kokohnya. Setiap hari dia selalu berdandan rapi dan juga wangi. Semua itu dilakukannya agar wanita itu mau melirik ke arahnya. Sejauh ini dia sudah berhasil membuat seseorang memperhatikannya, meskipun itu belum sesuai harapannya.

Setelah bosan menunggu di lobby ia berjalan menuju keluar. Ia menunggu pintu otomatis terbuka dan menghambur keluar pada mobil-mobil yang sedang menepi menurunkan penumpang. Ia memandangi setiap orang yang baru saja turun dari mobil. Berharap salah satu dari mereka ada yang membuat bagian tertentu di otaknya berpendar.

Tak lama, dari sebuah sedan keluaran Eropa terlihat kaki seorang wanita menjulur, bergerak turun dan mulai menapaki koridor menuju lobby. Ia menenteng sebuah tas dan beberapa kantong belanja di tangan kirinya sementara tangan kanannya menyangga sebuah kotak besar berwarna coklat dengan tutup transparan yang diikat dengan pita kuning. Ada sebuah kue tart besar di dalamnya, mungkin sejenis black forest.

Melihat banyaknya barang bawaan wanita itu, pria yang sedari tadi menunggu itu cepat-cepat berjalan mendahului agar bisa membukakan pintu untuknya. Tapi ia lupa kalau itu adalah pintu otomatis. Maka ketika ia sudah di depan pintu dan pintu itu hampir membuka dia tetap diam menunggu sampai si wanita berjalan di sampingnya. Sambil menarik nafas kulihat ia pura-pura mencari sesuatu di dalam tas kerjanya untuk menunda.

Wanita itu tidak memedulikan semua adegan itu. Semestanya adalah dirinya sendiri. Dan ia tidak pernah menyadari bahwa ada seorang pria yang berdoa agar semua planet kecil yang sedang ditenteng di tangannya itu berhamburan dari orbitnya, sehingga memungkinkan pria itu untuk membantunya memunguti semua serpihan yang ada.

Dan harapan pria itu terkabul sedetik setelah wanita itu berjalan melewati pintu otomatis. Trench coat wanita itu tersangkut di bibir pintu yang sudah menutup dan karena ia berjalan terlalu cepat maka ia jadi oleng dan sedikit kehilangan keseimbangan. Kotak coklat yang disangganya mencelat dari orbitnya dan jatuh di lantai lobby yang dingin. Wanita itu panik. Setelah trench coat-nya berhasil dilepaskan dari bibir pintu, wanita itu buru-buru mengambil kotak coklatnya dan meninggalkan semua barang lainnya di lantai lobby. Pria itu cepat-cepat mengambil kesempatan.

Untung black forest-nya tidak hancur, wanita itu baik-baik saja, tetap menawan seperti biasanya. Dan barang bawaannya yang berhamburan di lantai sudah aman di tangan si pria. Tapi pria itu tidak terlihat baik-baik saja. Ia menjadi lebih resah ketimbang saat belum bertemu wanita itu. Pria itu kini berusaha berjalan berdampingan dengan si wanita menuju ke arah lift. Sementara si wanita seperti lupa dengan barang bawaan lainnya, hanya memandangi kotak coklat berisi black forest itu.

Kurasa pria itu sudah tahu bahwa hari ini adalah saatnya. Setelah 28 hari menunggu akhirnya saat ini tiba juga. Tapi, kulihat begitu kesempatan ini datang, ia malah tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Alih-alih membuka mulut ia malah sibuk mengatur agar tangan kanannya tetap bebas dan tidak memegang apa-apa. Maka ia memindahkan tas dan belanjaan si wanita ke tangan kirinya bersama dengan dengan tas kerjanya agar tangan kanannya bebas dan bisa bersalaman dengan wanita itu.
Tapi wanita itu bukan orang yang terlalu ramah meskipun itu tak menghalanginya untuk berkata terima kasih. Jadi setelah mengucapkan terima kasih si wanita mengangguk seraya meminta kembali barang-barang yang dibawa pria itu. Wanita itu tidak memperkenalkan diri juga tidak menjabat tangan pria itu. Dan aku tahu pria itu kecewa. Terbaca dari raut mukanya. Tapi meskipun begitu si pria tak kehabisan akal.

Pria itu menekan tombol lift untuk si wanita. Si pria tahu jika mereka bisa berada di sana berdua ia masih punya banyak kesempatan. Untuk apa saja. Pintu lift terbuka, tapi wanita itu menengok ke arah yang berlawanan, menanggapi suara seorang pria yang berlari ke arahnya.

“Hei, kau di sini rupanya. Aku sengaja turun untuk menyusul ke apartemenmu. Tadi aku menghubungi ponselmu tapi tidak kau angkat. Tidak biasanya kau datang terlambat. Aku jadi khawatir.”

“Armand,” wanita itu tampak terkejut dengan kemunculan pria itu, “maaf tadi aku membeli ini dulu.” Katanya sambil mengangkat kotak coklatnya yang berharga. “Uhm, selamat ulang tahun yaa.” Wanita itu menarik si pria yang bernama Armand itu mendekat dan mengecup pipinya.

“Iya, sayang terima kasih....” pria itu memeluk erat si wanita dan balas mencium bibirnya. Sementara pria yang lain itu, yang sedari tadi menunggu, tetap berada di ambang pintu lift yang sudah menutup kembali.

Aku tak tahu bagaimana kisah itu berlanjut karena aku memutuskan untuk memalingkan muka. Tak perlu melihat raut muka pria itu untuk tahu apa yang sedang dirasakannya. Aku sudah tahu rasanya. Menunggu seseorang setiap pagi dan berharap bisa mengetahui namanya atau menjabat tangannya. Andai saja kamu mau bertanya padaku akan kuberitahu nama wanita itu, namanya : SOFIA.

Peer Bacaan

Dari mas sulak dan om yusi. Antara lain :
1. Prajurit Schwerk by Jaroslov Hasek (untuk latihan membuat dialog. Nonton juga Before Sunset dan Before Sunrise untuk contoh-contoh dialog yang cerdas)
2. Dataran Tortilla by John Steinbeck(untuk melatih dialog juga)
3. Il postino by Antonio Scarmento (untuk apa ya, lupa...nanti deh ditanyakan pada beliau2 atau mungkin setelah dibaca jadi tahu tentang apa...sayang, belum pernah baca sih)
4. The Catcher In The Rye by JD. Salinger (deskripsi, karakter)
5. Kamus Khazar by Mirolad Pavid (plot, deskripsi)
6. Sejarah Dunia Dalam 10 1/2 Bab by Julian Barnes
7. Sejarah Traktor Dalam bahasa Ukraina
8. Sejarah Cinta....(ini yang dimaksud The History Of Love, bukan yaa?)
9.Adu Jotos Lone Ranger dan Tonto di Surga By Sherman Alexie (Menghapus stereotip dan untuk dialog juga)
10. Million Dollar Baby by F. X. Toole (berkaitan dengan riset)
11.Pencuri Anggrek bu Susan Orleans (riset)
12.Dancer by Column Mc Cann (Point Of View)
13. Apapun Milan Kundera (apapun itu bisa berarti lebih dari satu, kan??? oh no)
14. Apapun Haruki Murakami
15. Apapun Hemingway (untuk belajar deskripsi, mengkongkretkan konsep abstrak)
16.Snow Country by Yasunari Kawabata (menulis ringkas dan tetap indah seperti haiku)
17.G.G Marquez apa saja versi inggrisnya untuk belajar tentang plot
18.Insiden Anjing by Mark Haddon (untuk menulis karakter yang baik dan mengena)
19.Savage Detective by Roberto Belano
20. Mimpi-mimpi Einstein by Alan Lightman (plot)
sejauh ini baru no 20, 18, beberapa milan kundera, beberapa hemingway, eh satu tok deng, 11, 4, dan 6 yang pernah membaca, dan saat ini baru akan membaca lagi pencuri anggrek dan sedang mulai membaca snow country.
Mungkin ada benarnya perkataan beberapa orang bahwa untuk bisa menulis satu buku setidaknya kita perlu membaca 10 buku. Oh, well baiklah....memang banyak, hiks...hiks, tapi baiklah...hehehehe

Friday, October 23, 2009

Vida Winter

"Hampir 60 tahun aku menguping tanpa dikenai sanksi, kehidupan orang-orang yang tak pernah ada. Aku mengintip tanpa malu-malu ke dalam hati dan lemari kamar mandi. Aku mengintip dari balik bahu, mengikuti gerakan pena bulu ketika mereka menulis surat cinta, surat wasiat, dan pengakuan. Aku menyaksikan para kekasih mencinta, para pembunuh membunuh, dan anak-anak melakukan permainan pura-pura...."
"ruang kerjaku penuh dengan tokoh yang berkerumun menunggu giliran ditulis..."
dialog di atas merupakan penggalan dialog yang diucapkan oleh vida winter, salah satu tokoh yang digambarkan sebagai penulis yang cukup produktif menghasilkan karya yang juga digemari banyak orang dalam buku the thirteenth tale, dongeng ketiga belas karangan diane setterfield.
cukup inspiratif, yaa...terutama yang di-bold merah itu.

Thursday, October 22, 2009

Pertanyaan Yang Tak Terkatakan (Part 1)


“Pernahkah suatu saat dalam hidupmu, hanya menginginkan dan menunggu satu hal, sebuah jawaban dari pertanyaan yang tak pernah bisa kau tanyakan?” tanyamu pada sosok gelisah di hadapanmu.

“Apakah itu menyiksamu?” tanyamu lagi, ketika ia berusaha memalingkan wajah. “Apakah itu membuatmu putus asa, karena kata-kata yang sudah menyusun dirinya sendiri dengan rapi menjadi kalimat pertanyaan terpaksa berbaris pulang dan masuk kembali ke bagian terdalam dalam benakmu. Dan diam di sana begitu lama. Menjadi ada dan tiada. Seperti hantu yang tinggal di dalam rumah tua. Yang kadang digosipkan ada namun tak pernah nyata, tapi selalu menghantui semua orang yang lewat di depan rumah tua itu?” cerososmu.

Dan seperti kamu, sosok itu hanya diam. Menunduk. Ketika kau menatapnya lagi. Ia balas menatap. Ketika kau hendak menyentuh wajahnya, ia hanya diam menatap tangan bertemu tangan. Ketika kamu berpaling, ia pun memunggungimu dalam diam.

“Apakah itu membuatmu marah? Karena bahkan kalimat-kalimat tanya yang berdiang di kepalamu tak mampu memutar dirinya sendiri menjadi jawaban. Berkeras diam dalam siklusnya. Seperti air yang tak mau menguap atau logam yang berkeras menjadi karat dan tak rela dirinya melebur ke tempat asalnya, tanah?” tanyamu sekali lagi. Lagi dan lagi dengan rentetan pertanyaan yang tak berhenti. Namun tak kian dijawab.

“Apakah satu-satunya hal yang bisa kau lakukan hanyalah membuat wawancara imajiner dengan dirimu sendiri? Berulang kali menghujani dirimu sendiri dengan pertanyaan yang tak pernah kau tahu jawabannya? Lalu memaki kasar dirimu karena tak pernah bisa memutuskan mana dan apa jawabannya?”

“Apakah hal lain yang kau harapkan terjadi dalam hidupmu adalah ketika kesempatan bertanya itu datang dan seseorang mau memberikan jawabannya dengan tulus dan jujur?”
Dan tiba-tiba kamu pun mengulang jawaban yang sudah kusimpan di kepalaku. “Lalu apa yang akan kau lakukan jika semua jawaban dari pertanyaan di atas itu adalah iya?”

“Bertanyalah, karena bertanya tidak akan membunuhmu,” begitu kata suara lain di balik kepalamu.

“Tapi tidak,” kataku keras. “Kau tak punya keberanian!”

“Ya, memang dan pertanyaan, seperti kait-kait melengkung yang menancap di tubuhku, membunuhmu dengan sakit yang perlahan-lahan.” jelasmu. Kau lalu melanjutkan dengan mimik kesakitan. “Pangkal kaitnya, menyisakan noktah-noktah luka pada sekujur dirimu, darah menetes dari sana, tanpa sadar, noktah-noktah luka itu telah meninggalkan genangan besar tepat di tempat kita berdiri. Dan kau tak pernah menyadari telah kehabisan darah sampai suatu saat kau tak lagi ingat bahwa pertanyaan itu telah sekian tahun hidup di bagian terdalam dirimu. Menyatu dalam sakit-sakit dan racun yang bertahun-tahun tak pernah kau buang. Bergelung dalam nyamannya ketidak tahuan. Tidur dalam kebodohan.”

“Seringnya," potongku. "Kau sendiri yang tak pernah menyadari bahwa mengajukan pertanyaan sungguh lebih mudah ketimbang menyusun jawaban.” katamu ringan.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Tanyakan saja pada seseorang yang pernah ditanyakan hal ini : Apakah kamu jatuh hati padaku?

Aku terdiam menatapmu yang mulai meluruh terhapus dera air hujan yang menerpa kaca jendela. Di luar hujan begitu deras, melabur debu-debu dedaunan, menghayutkan kerikil-kerikil kecil ke selokan. Aku tetap diam bersama dengan pertanyaan tak terkatakanku.

Friday, October 9, 2009

Diawali Dengan Matahari


Ada tulisan menarik tentang kalimat pembuka yang seringkali, secara tipikal diawali dengan : "hari ini matahari bersinar...."
Hal ini, di pertemuan bengkel penulisan novel dkj 2009 yang pertama kemarin (3-10-09), pernah disinggung. Saya baru mulai memikirkannya dengan lebih serius setelah membaca tulisan Teh Rini ini

Simak, sebagian tulisannya di bawah ini dan meluncurlah ke blognya untuk tahu lebih banyak lagi tips-tips penulisan yang ciamik.

"Saya teringat artikel panjang [fokus liputan?] dalam satu edisi Matabaca lama, sastrawan Eka Kurniawan berseloroh kurang lebih, "Penulis yang mengawali cerpennya dengan Pagi merekah cerah, burung-burung berkicau riang pasti tergolong pemalas deh.."

Thursday, October 8, 2009

Curhat, boleh?


Saat ini saya mulai sering mendengar orang berpendapat untuk apa membuat blog kalau hanya ditulisi dengan curahan hati. Hmmmm, rasanya saya mulai bisa menemukan mengapa pendapat itu salah. Bagi saya, jika ingin menulis, menulis sajalah. Tentang apa saja boleh. Mau tentang mencurahkan isi hati. Mau tentang fakta-fakta penting. Mau tentang fiksi, ilusi, terserah saja. Itu hak pribadi. Lagipula membuat blog itu juga gratis. Dan blog adalah sarana yang bisa dipakai oleh siapa saja.

Jangan jadi tergerus semangat menulisnya hanya karena kamu, kita, atau saya sendiri baru bisa menulis blog yang isinya hanya curahan hati yang mungkin untuk orang lain nggak penting. Apa pasalnya saya berpendapat begitu. Ini diandaikan saja begini; bila kita menulis blog dengan maksud untuk latihan menulis, maka yang termudah adalah dengan memulainya dari diri sendiri, pengalaman yang akrab dengan diri kita. Lalu jika suatu saat nanti kita akan menulis cerita tentang orang lain, misalnya akan membuat cerpen atau novel, maka sebelum kita mengetahui dinamika pemikiran, kepribadian dan perasaan seseorang kita harus menyelami punya kita sendiri terlebih dahulu.

Bagaimana bisa kita menulis tentang orang lain kalau kita sendiri belum bisa memindahkan seluruh isi hati, pikiran, dan perasaan kita pada sebuah tulisan? Menurut saya, cara belajar memahami orang lain, sumber termudahnya adalah dari diri sendiri. Kita tahu bahwa saat sedih kita menangis dan mengeluarkan air mata karena itu terjadi pada kita dan kita bisa mengumpamakannya itu terjadi pada orang lain saat kita akan menulis sebuah cerita.

Jadi, jangan berhenti menulis hanya karena kamu merasa tulisan kamu hanya berisi curhat pribadi. Heiii, bukankah banyak juga yang pada akhirnya hasil curhatan pribadinya menghasilkan sesuatu. Raditya Dika dengan Kambing Jantannya, atau blogger-blogger lain yang juga sudah menelurkan karya dari hasil berkontemplasi dengan diri sendiri.

Menulis tentang diri kita ibarat berbicara dengan bagian terdalam diri kita. Kita bisa terkejut dengan sekian banyak pembendaharaan kata yang bisa muncul saat kita berhadapan dengan diri kita sendiri dengan tulus. Menulis, menulis, menulis saja terus. Jangan dengarkan orang yang mematahkan semangatmu untuk terus menulis dan menemukan dirimu sendiri dalam tulisan-tulisan itu.

You can only understand people if you feel them in yourself.

No man really knows about other human beings. The best he can do is to suppose that they are like himself. (from John Steinbeck)

Telur.Peri.Merah Jambu.


[tiga kata itu adalah kata kunci untuk tugas cerpen pertama dari bengkel penulisan novel dkj 2009. dan saya pun berusaha untuk membuat tugas pertama tersebut.] ini cerpennya :


Aku terbangun di sisi kanannya. Perlahan kuloloskan sebelah kakiku yang tertindih kakinya lalu beringsut bangun dari tempat tidur. Setelah meletakkan kembali bantal yang tadi kutiduri pada tempat yang semestinya kuluruskan kakinya yang tertekuk, lalu dengan telapak tangan kulicinkan keriput sarung bantal dan seprai bekas kutiduri. Kulipat juga separuh selimut yang tadi kugunakan bersamanya, sementara sisa selimut yang lain masih membungkus tubuhnya erat. Aku memandangi tubuhnya yang masih tergolek di tempat tidur. Semuanya sudah persis sama seperti apa yang seharusnya. Tinggal membuka sedikit gorden agar nanti sinar matahari bisa menyusup masuk membangunkannya. Dan semuanya akan menjadi sempurna. Hangat dan terang seperti yang pernah kubayangkan.

Aku lalu beranjak menuju dapur, yang harus kulakukan selanjutnya adalah membuat sarapan. Ini bukan semacam keharusan atau tipikalitas, tetapi detail inilah yang kusimpan di ingatan dan ini juga merupakan keinginannya. Jadi, apa salahnya benar-benar mewujudkan detail yang tersimpan di pikiran kita. Dan pasti dia pun akan sangat senang jika aku bisa mewujudkan impian sederhananya. Disiapkan sarapan di tempat tidur oleh seseorang yang dikasihinya.
Ketika membuka lemari es, perasaan gundah menyergapku. Seharusnya aku mempersiapkan diri sejak awal untuk menghadapi peristiwa semacam ini. Tapi, apa yang terjadi semalam memang sedikit di luar rencana. Jadi aku belum bersiap dengan isi lemari esku. Hanya ada telur ayam yang bisa diolah menjadi sarapan. Tidak ada roti tawar, bahkan mie instan. Lagipula santap pagi mie instan tidak sesuai dengan gambaran romantis yang tersimpan di pikiranku. Jadi tidak ada pilihan lain selain menghadapi si telur ayam ini.

Aku tahu ini terdengar bodoh, aku takut pada telur ayam. Bisa jadi ini semacam phobia. Ketakutanku terhadap telur hampir sama seperti seorang kanak-kanak yang takut terhadap peri gigi yang bersembunyi di bawah kolong tempat tidur, yang di malam hari akan mengendap-endap, menakuti mereka. Pada tingkatan yang lebih ringan, ketakutanku ini bisa diumpamakan serupa keengganan seorang pria macho terhadap warna merah jambu yang dianggap kemayu.
Jadi bagaimana, tanyaku pada diriku sendiri. Akankah aku membuat sarapan berbahan telur ayam? Akankah aku menyentuh telur-telur itu? Jika saja si mbok sudah datang dari kampung, aku bisa memintanya memecahkan telur-telur itu tanpa aku harus menyentuhnya, lalu aku akan mengolahnya jadi omelet yang lezat. Tapi sekarang ini hanya ada aku dan telur-telur itu.

Apa yang akan terjadi jika aku menyentuhnya? Pasalnya melihatnya saja sudah membuatku bergidik dan merasa mual. Membayangkan kulitnya yang dingin dan rapuh membuat sebagian bulu kudukku berdiri. Kecemasan perlahan mulai menghinggapiku. Sementara waktu berdetak cepat. Aku harus segera memutuskan, akan membuat sarapan atau tidak, sebelum aku kehilangan momen yang serupa dengan detail di dalam pikiranku dan semua gambaran indah yang sudah kubangun akan hancur. Dan sebelum aku membuatnya kecewa karena tidak bisa memenuhi impian sederhananya, menikmati sarapan di atas tempat tidur.

Aku menarik nafas panjang. Menghitung setiap tarikan dan hembusan lalu kembali mengingat –ingat apa yang pernah dikatakan terapisku tentang menghadapi rasa takut yang tidak masuk akal ini. Aku tahu telur tidak berbahaya, itu hanya telur yang bahkan bisa kuremas dan kuhancurkan dalam sekepalan tangan. Itu tidak akan melukaiku. Aku bahkan bisa membuatnya menjadi santapan yang nikmat. Jadi mengapa manusia harus takut pada sesuatu yang bisa ia makan?

Aku terus menerus mengulang sugesti itu pada pikiranku. Terus dan terus sambil mengambil tisu dari meja makan untuk mengelap bulir-bulir keringat yang mulai muncul di dahiku. Aku mencoba mengerem semua alur pikiran negatif yang berjalan menuju otakku sambil terus mengatakan pada diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja ketika aku menyentuh telur itu. Saat sudah berhasil memegangnya yang perlu kulakukan hanyalah memecahkannya, mengaduknya dengan garpu, lalu telur itu akan berubah menjadi omelet pengambil hati kekasih tercintaku bukan lagi monster tak berkaki dan bertangan yang sering membangkitkan kenangan pahit masa kecilku.

Ketakutanku pada telur ayam memang bermula saat aku masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Saat itu sepulang sekolah, ketika aku baru saja menyebarang jalan, tiba-tiba di depanku ada sebuah truk bermuatan telur yang mengerem mendadak untuk menghindari mobil yang melintas di depannya. Saat mengerem mendadak itulah, tutup bak bagian belakang truk terbuka dan seluruh muatannya berhamburan menimpaku. Seluruh tubuhku tertimbun telur-telur yang hancur. Sejak peristiwa itu aku begitu membenci telur dan menganggapnya monster yang akan melukaiku dan membuatku bau.

Dari jendela dapur, sudah nampak larik-larik sinar matahari. Di kamar tempat ia tidur, matahari pasti sudah mulai mengintip dari celah gorden dan ia pasti akan segera terbangun karena silau. Waktuku semakin sedikit. Aku hampir mengambil keputusan yang menyimpang dari detail yang ada di pikiranku, lari ke depan komplek untuk membeli sarapan berupa bubur, ketika kudengar suaranya. Lembut dan meruntuhkan seluruh sugesti yang tadi sedang kubangun.

“Selamat pagi, kok kamu tidak membangunkanku?”
“Uhm, ya, itu karena aku sedang mempersiapkan sesuatu yang mungkin akan kamu sukai.”
“Ah, aku tahu. Apa itu sarapan pagi berupa bubur ayam Mang Jali yang terkenal enak itu? Sejak tadi malam, aku sudah membayangkan untuk sarapan itu. Makanya aku berharap bisa bangun sedikit lebih pagi dan menunggu Mang Jali lewat. Kelezatan bubur ayamnya sudah terdengar sampai ke daerahku.”
“Ah, ya. Jadi kamu mau bubur ayam dan bukan omelet?” tanyaku sambil menyeka beberapa bulir keringat yang masih menempel di keningku. “Aku baru saja berpikir untuk membelikanmu bubur, kalau memang itu yang kamu inginkan.” lanjutku.
“Ya, tentu saja. Bagaimana kalau kita yang kesana saja. Aku sudah lapar berat.” rajuknya.
“Kamu mau kita makan di sana? Bukan di sini atau di atas tempat tidur?”
“Ya, kenapa?” tanyanya. Pipinya bersemu merah jambu ketika menyadari bahwa aku akan mempersiapkan sarapan-di atas-tempat tidurnya.
“Uhm, itu sedikit di luar detail yang kupersiapkan. Tapi, baiklah jika memang itu yang kau inginkan.”
“Hei, berhentilah untuk selalu menuruti keinginanku. Jika kau lebih suka memasakkanku sesuatu yang istimewa aku tidak keberatan menunggumu memasak.”
“Ah, tidak. Tidak apa-apa. Aku baru saja mulai menyukai detail baru yang kau ciptakan itu. Ayo kita makan bubur ayam Mang Jali. Kau mau makan dengan apa? Apa kau suka taburan kacang, seledri dan bawang goreng secara bersamaan atau hanya salah satu dari semua itu? Kau mau makanan pelengkap apa? Sate ati ampela, telur puyuh?”
“Hei, tidak perlu bertanya sampai sedetail itu juga, kan. Kita lihat saja nanti, ok.” katanya sambil membulatkan kedua matanya. Dan aku pun mulai merasa telah menemukan orang yang tepat, yang bisa mengimbangiku. Dia benar-benar pasangan yang sesuai dengan detail yang kuharapkan.

Gairah

Akhirnya, di antara reruntuhan kertas-kertas yang menggunung (oh lebaynya) dan meja yang sudah sedikit dilicinkan dari berbagai peranti pendistraksi, saya pun duduk manis dan merenung betapa lamanya saya tidak mengupdate blog ini. Perenungan ini berujung pada itikad untuk kembali menghidupkan 'rumah' yang sudah seperti tidak disentuh penghuninya selama beberapa hari karena ia sibuk berjibaku di luar sana, pada rumah-rumah nomaden, kendaraan roda empat, kereta-kereta dan tempat-tempat yang jauh, yang bahkan baru kali itu saya dengar namanya, Lelea, Trusmi. Oh, Tuhan dimanakah gerangan tempat itu berada? Dalam mimpi saya atau memang ada di dunia nyata. Yang jelas jika ada pun saya tak sempat berpijak di tanahnya lebih dari satu malam.
Baiklah, cukup sudah paragraf pembukanya. Biarlah saya mulai memperkenalkan diri kembali pada rumah yang sudah saya tinggal cukup lama ini. Semestinya saya masih orang yang sama. Tapi, entah kenapa saya membiarkan kesibukan menggilas saya menjadi serupa emping yang pipih, nyaris tak lagi dikenali berasal dari biji melinjo berkulit merah yang nampak masif itu. Tapi pada dasarnya saya masih memiliki rasa yang sama. Hanya saja saat ini saya merasa terlalu pipih, tipis, dan rapuh. Dan terkadang terlalu pucat.
Pipih karena belakangan nafsu makan saya mulai timbul tenggelam lagi. Makan baru enak saat disambi menyuapi si kecil Ezra, dan itu pun hanya bisa dilakukan pagi hari sebelum ngantor (terima kasih, Ezra, akhirnya ibu bisa sarapan), atau ketika saya sedang menginginkan makanan tertentu. Selebihnya, benar-benar malas.
Tipis lebih dikarenakan sudah hampir sebulanan lebih saya menjaga jarak dengan buku-buku bacaan. Rasanya seperti ketinggalan banyak hal. Saya seolah bertransformasi jadi buku panduan masak praktis yang tipis, bukan lagi sebuah buku bacaan yang gendut dengan isi menarik yang ketika nyaris sampai di halaman terakhir sangat sayang untuk dituntaskan. Rapuh, karena saya mulai merasa mudah dihancurkan oleh pikiran-pikiran saya sendiri. Dan pucat karena sepertinya saya mulai diharuskan menyukai ruangan tertutup. Ah, yang ini terlalu basi untuk dituliskan.
Ya, mungkin kalimat-kalimat di atas cuma retorika. Atau basa-basi untuk menyelamatkan diri saya sendiri dari perasaan asing pada diri sendiri. Tapi bisa juga karena saya mulai menjauh dari apa yang seharusnya dan ingin saya kerjakan. Salah satunya adalah menulis. Dan membaca buku yang bagus. Dan menulis blog ini dengan segala hal yang berhubungan dengan dunia kepenulisan dan hasil-hasil pemikiran setelah membaca buku-buku bagus. Yang semuanya menjadi salah satu sumber kebahagiaan sederhana saya. Dan karenanya saya mulai membenci diri sendiri karena tidak mampu meluangkan waktu untuk melakukan itu semua dengan dalih kesibukan.
Keinginan untuk kembali 'rajin' menata interior rumah ini dihidupkan dengan diterimanya saya sebagai salah satu peserta bengkel penulisan novel dkj 2009. Dengan begitu, mau tidak mau saya harus bisa menghargai tubuh saya sendiri yang sudah rela bersusah payah menempuh perjalanan Bandung-Jakarta selama 12 kali pertemuan (tersisa 11 pertemuan lagi, yang pertama 3 oktober kemarin) dengan membuat catatan atau apalah mengenai keikutsertaan saya tersebut. Sehingga 12 kali pertemuan itu tidak lalu menjadi sekedar sebuah perjalanan mondar-mandir tak karuan tetapi juga bisa mengembalikan semua gairah yang hilang.
Mengutip dan merangkum ucapan salah satu pengajarnya bengkel penulisan novel dkj 2009, A.S. Laksana, : "Adalah bagaimana kita menjaga gairah kita tetap menyala selama menjalani 12 kali pertemuan ini dan setelahnya. Menjaga gairah dan ritme agar kita dapat menyelesaikan dan menghasilkan sesuatu yang kita harapakan (novel, for sure!)"
Jadi ya, saya senang. Setelah marah-marah pada diri sendiri. Setelah pertemuan pertama itu, Alhamdulillah gairah saya kembali muncul. Buktinya, saya mulai menulis lagi, kan. :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...