Tuesday, June 30, 2009

Cerpenku Menang

Alhamdullilah cerpenku yang ada penggalannya di sini menang sayembaranya GagasMedia. Selamat juga buat yang lainnya yaaa....
Ini pengumuman pemenangnya (Di copy paste dari : kandangagas.blogspot.com)
Ssst... buat kamu yang mengikuti Sayembara Kucing Melulu dan Cerita Cinta (Me)lulu, pasti menunggu pengumuman pemenang dengan penasaran, kan? hehehe...Supaya rasa penasarannya hilang, yuk kita lihat nama-nama pemenang di bawah ini:

Para pemenang Sayembara Kucing Melulu dan Cerita Cinta (Me)lulu.
Nia Nurdiansyah (Semarang) “Me, My Midas, &Our Little Zoo”
Ryu Tri (Bekasi) “Saingan Sama Ayam”
Nia Chintiya R (Kalimantan Timur) Proyek Kakaktua Memikat Kavi
Aditya Renaldi (Bandung) “From Playboy to Girlfriend”
Sutrisnawati (Jakarta Utara) “Antara Aku, Udin Kura, dan Gebetan Rahasia”
10 Pemenang
Andhika Wandana (Bandung) “KucingCang”
Agustina Wulandari (Jakarta Selatan), “Ketika Kucing Sakit Hati”
Desfirawita (Pariaman, Sumbar) “Love’s Cat”
Juwita Purnama sari (Bekasi) “Nuriku, Diaryku”
Anis Arviani (Magelang) “Suka Manis”
Ningrum Setya (Jakarta Selatan) “Buffey—Hamster Pembawa Cinta”
Rahmat Nugroho (Depok) “Kamu Semanis Ikan Mas Kokiku”
Graysia W. (Riau) “Cinta Bersemi di Ruang Tunggu Dokter Hewan”
Riana Setyawati, “Si Cokelat, Hamster Pintar”
Devalina R. “Me, Luffy, and The Love”
Selamat ya dan terus berkarya!

Hadiah Lomba Resensi LDL

dari Korea sudah datang...isinya...


sekotak coklat......
yipiiiiieeeee....


Tuesday, June 9, 2009

Bacaan Bulan Mei.


Bulan Mei kemarin jumlah buku yang dibaca masih berada pada angka di bawah 10. Lagi-lagi saya belum bisa mematuhi list yang sudah dibuat bulan sebelumnya. Bukan apa-apa, pasalnya membaca buat saya melibatkan mood, dan pilihan bacaannya seringkali berkaitan dengan mood tersebut. Ketersediaan waktu yang memadai juga menjadi salah satu alasan mengapa hanya buku-buku yang memiliki ‘something’ saja yang biasanya didahulukan.
Biasanya saya akan lebih dulu membaca buku yang ‘gw banget’.

Kalau dipikir-pikir, jika menjadi buku saya akan menjadi apa, maka jawabannya adalah buku apa saja. Tapi, meskipun menyukai jenis buku apa saja, dari mulai fantasy, horor, roman, kriminal, buku anak, science-fiction, self-help, dan sebagainya, bukan berarti saya tidak punya pendirian. Ada satu syarat penting ketika saya memilih untuk membaca sebuah buku dan juga menonton film.

‘There’s must be ‘something’. Nah, ‘something’ itulah yang susah, karena ‘something’ baru bisa ketahuan jika sudah membaca buku atau menonton film tersebut. Tapi, percaya atau tidak saat akan membeli buku atau film saya bisa mengetahui apakah di balik cover buku atau film tersebut terdapat ‘something’ yang saya cari. Somethingnya bisa apa saja, apakah karena itu berkaitan dengan sesuatu yang sedang dialami, ada sesuatu yang menarik perhatian. Yah, pokoknya ada sesuatunya lah...

Jadi kalau diibaratkan sebagai buku saya memilih untuk menjadi buku yang memiliki ‘something’ tersebut. Memang susah dijelaskan faktor ‘something’ itu tapi, biarlah...’something’ itulah yang justru membuat hidup ini jadi lebih menarik.

Dan bulan Mei kemarin, buku-buku yang memiliki something hingga akhirnya dibaca duluan adalah :

1. Sheldon & Mrs. Levine : An excruciating correspondence. A Parody By Sam Bobrick & Julie Stein

2. Someday By : Alison McGhee & Peter H. Reynolds.

3. Metropolis By : Windry Ramadhina

4.Long Distance Love By : Imazahra, dkk.

5.The Good Luck Book By : Bill Harris

6. The Proposing Tree By : James F. Twyman

7.Japan From A-Z By : James M. Vardman & Michiko S. Vardman

Dua buku teratas adalah buku yang lebih banyak gambarnya ketimbang tulisannya, hehehehe. Benar-benar dua buku yang paling menghibur di antara semuanya. Buku yang pertama, malah isinya berupa kartu pos2 atau surat yang ditempel di lembaran buku yang menceritakan kisah surat menyurat antara ibu dan anak lelakinya. Lucu dan menghibur banget.
Buku kedua bercerita tentang seorang ibu (lagi-lagi) yang berflash-back dengan kisahnya ketika melahirkan anak perempuannya. Bukunya mengharukan dan dipenuhi dengan ilustrasi yang indah.
gambar : empat di antara 7 buku yg sudah dibaca

Writer's Block Symptom


We want the writing to be perfect
and we want the damned thing
done as soon as possible.
We know what we know
but we don't know
what our readers know.

We know how the memo should sound,
but we don't have all the facts we need.
We know everything about the software,
but we don't know what an article should look like.

We know what we have to say
but we are afraid that it won't measure up
to our expectations
or to our readers' expectations.

Merasakan gejala itu beberapa hari ini, lalu mulai mengevaluasi beberapa strategi salah yang awalnya dikira bisa mengurangi gejala tersebut, nyatanya...bukannya membaik malah tambah parah.

Ternyata :
  1. Berusaha membuat tulisan yang sempurna, membuat kita jadi malas menulis. Kita berharap semua ide akan datang sekaligus, berharap semua kalimat bagus terkumpul di kepala, agar bisa dituangkan bersama-sama hingga menjadi draft yang sempurna dan itu membuat kita selangkah lebih dekat dengan yang namanya mandek.

  2. Buka Thesaurus atau kamus untuk mencari kata-kata baru dan berharap itu akan berkembang menjadi sebuah kalimat, itu memakan waktu dan ternyata sangat tidak efektif.

  3. Berkata : 'O iya, nanti aku akan menuliskan ini pada adegan yang ini' atau 'Kalimatnya nanti gini, deh'.....yang benar : Langsung tuliskan saja. Masalahnya, Short Term memory kita terbatas...bisa-bisa setelah mandi dan gosok gigi lalu makan dan akan mulai menulis kembali apa yang tadi ingin ditulis sudah menguap. 'Ah, tadi mau nulis apa, yaa...kalimatnya gimana, ya.'

Friday, June 5, 2009

Bagi-Bagi Buku Gratis (Part 1)


Karena rak sudah hampir tumbang (hiperbolis, ah) dan dalam rangka mau pindahan (mengurangi beban tukang angkut-angkut) kami (penyandang dana, si penumpuk ‘dosa’, si tukang baca, pemilik blog, si tukang ngawul-ngawul buku alias my baby) berinisiatif untuk bagi-bagi buku.

Mau?Caranya gampang banget, kok.
Intip aja gambar buku di atas, kira-kira buku mana yang diminati. Pilih masing-masing 3 buku. Setelah itu, tinggalkan pesan di bagian komentar(yang ada di bawah).

Isi komentarnya: Buku yang kamu minati, plus link jika kamu punya blog atau website, lalu jawab pertanyaan ini:

Buku apa yang merubah hidupmu?
Jawabannya boleh panjang boleh singkat, yang penting menarik. 3 jawaban terbaik akan mendapatkan masing-masing, 2 buku tambahan yang ada di daftar plus gift cantik dari sunshine awaiter. Hadiah berupa gift cantik dan bukunya akan dikirimkan ke alamat pemenang, okay.

Kamu juga bisa posting tulisan di blog kamu sendiri yang bercerita tentang buku yang merubah hidupmu lalu tinggalkan link postingan tersebut di bagian komentar. Setelah itu jadilah pengikut di blog ini. Caranya, tinggal klik tulisan : sunshine follower (di pojok kiri atas) dan tinggal ikuti saja petunjuk selanjutnya. Lalu kirimkan jawabanmu paling lambat 30 Juni 2009.
Sok, monggo dipilih...dipilih...dipilih. Ini buku-bukunya :

Ini daftar buku-bukunya :

Jomblo-Aditya Mulya
Beauty Case-Icha Rahmanti
Tembang Bukit Kapur-Cerpen Pilihan Escaeva
The Kitchen God’s Wife -Amy Tan
3Some - Nova Riyanti Yusuf
Mates, Dates and Sole Survivor -Cathy Hopkins
Coincidentia -Tari Danawidjaja
Lelana, Jiwa-Jiwa yang Pulang-Anjar
Neo - Adri Basuki
Galaniza -Maria Bee
Ocean Sea -Alessandro Baricco
Antara Ketenangan dan Hasrat -Kaori Ekuni dan Hitonari Tsuji(2 buku)
Kafe- Ch. Happyninatyas
Rate My Love -Cassandra & Ela
Brownies- Fira Basuki
Apres La Pluie, Setelah Hujan- Leni W
Deja Vu- Fani Krismawati
Je m’appelle Lintang -Ollie
Stella etc. 6 -Karen Mc Combie
Jeritan Lirih-Kenzaburo Oe

NB : Pilihan buku berdasarkan skala prioritas dari pemenang. Jadi, pemenang pertama berhak mendapatkan buku yang sesuai dengan yang sudah dipilihnya. Buku yang sudah dipilih pemenang pertama tidak bisa dipilih pemenang kedua, dst.

O iya, sebagai info bagi-bagi buku gratis ini baru yang part one ya, jadi akan ada part 2, 3, dst...jadi terus main ke sini, komen-komen, intip-intip, siapa tahu ada kuis lagi.
Mari kita sama-sama budayakan membaca, menulis, dan berpikir kreatif untuk kemajuan bangsa kita. (Cieeh...ciehhh...) Salam habis gelap terbitlah terang dari sunshine awaiter.

Reading is the resonance of ideas on the Soul's willing ear. It is a lonely mind through which the thoughts of another have not passed.(Emily Dickinson)

Keping Yang Hilang


Kau belah hatiku melintang.
Lalu sekali lagi.
Kau buat silang
Kau tembak tepat sasaran.
Lalu dengan enggan.
Kau biarkan bercendawan
Kau jatuhkan ia dari ketinggian.
Hancur berkepingan.
Dan kepingan itu yang kau bawa pulang.
Kau tak mau hatiku yang utuh menyeluruh.
Kau hanya perlu sebagian.
Dan menurutmu itu cukup.
Keping itu kau simpan.
Aman.
Tapi, aku tak pernah merasa nyaman.
Bagiku, selalu ada yang hilang.

(Draft) Sycamore


“Tanyakan Lady Ark, kapan pagi tiba. Bukan aku yang memegang kuncinya!”

Sudah biasa. Yang kulihat di sini hanya empat warna. Hitam, putih, abu-abu, dan merah, itu pun jika ada seseorang yang harus disingkirkan. Atau jika cherry blossom milik Lady Ark mekar. Jangan tanyakan aku kenapa warnanya merah bukan pink. Aku tak pernah keluar dari sini. Itu yang terlihat dari sini, jendela kecil berjeruji besi.

Aku tak tahu kenapa Lady Ark mengurungku. Sampai seseorang memasukkan makanan berwarna kelabu dengan nampan perak ke celah pintu. Bayangan wajahku terpantul di sana dan aku terperanjat.

Mungkinkah karena itu aku dikurung?

(to be continued)

Orujo


Malam itu aku menegak orujo.
Api menjulur dari bibir gelas
menjilat lidahku.
Panas.
Sakit.
Tapi itulah cara terbaik
mengajari lidahku
sopan santun.
Karena
pedang hanya bisa dilelehkan api.

Ngapain Nge-Blog?

Neil Gaiman menjawab, kenapa dia nge-blog: "because writing is, like death, a lonely business."

Sedikit banyak, I agree with him... Nge-blog sometimes jadi cara terbaik untuk bisa bicara dengan diri sendiri. Kalau pada akhirnya bisa seperti Neil Gaiman, membaginya pada publik. Well, nice work. Karena tidak ada yang lebih jujur selain bicara pada diri kita sendiri, kan?

Apa Yang Penting?


Tahun 2009 sudah dijalani setengahnya. Dan hidup tidak bisa dijalani sambil memejamkan mata. Waktu bisa habis tetapi, seperti dalam film Little Black Book:
Bagaimana seorang gadis terjun dengan mata terbuka ke lubang kelinci dan memasuki kekacauan, bisa keluar di ujung satu lagi tanpa perubahan apa-apa jawabannya? Ia pasti mengalami perubahan.
Seseorang tetap berubah!
Dan pada akhirnya nanti kita akan bertanya
Apa yang penting (dalam perjalanan waktu dan perubahan ini)?Katanya, hal-hal penting tidak pernah boleh berada di bawah kekuasaan
hal-hal yang paling tidak penting. Sudahkah seperti itu di tahun ini?
Coba, tanyakan ini pada diri sendiri:

Apakah satu hal yang dapat kita kerjakan (kita tidak sedang mengerjakannya sekarang) yang jika kita kerjakan secara teratur dan tetap, akan membuat perbedaan positif yang luar biasa pada hidup pribadi kita?


Jika yang terpenting mungkin menulis, (yang lain mungkin memiliki hal lainnya)
terapkan ini :
The writer must believe that what he is doing is the most important thing in the world. And he must hold to this illusion even when he knows it is not true. Itu kata John Steinbeck

Satu Kepala


Seandainya bisa, mari kita buat perjanjian. Di sini, Selasa depan. Itu seminggu lagi. Jangan lupa ransel dan perbekalan. Kita mendaki, untuk pertama kalinya berdua, Rante Mario.

Kita, dua orang, mungkin nanti bisa jadi satu saja.Setelah masing-masing dari kita saling menyamarkan. Oh, bukan. Tapi, menghilangkan. Atau sama-sama menjadi orang yang lain. Maksudku tidak benar-benar lain. Kita masih kita. Tapi kamu yang lain dan aku yang lain.
"Ah. Alter ego." katamu. Tepat itu. Kita di sini, Selasa depan dengan alter ego masing-masing.
"Aku akan membawa mie instant."kataku.
"Aku akan mengajarimu membuat simpul dan membaca kompas." katamu
"Ah. Tidak perlu. Kamu bawa kantung tidur saja. Mungkin nanti kita membutuhkan itu."
"Kamu akan tidur satu kantung denganku?"
"Ya, supaya lebih hangat, kan."
"Aku belum siap untuk itu."
"Tenang saja kita tidak akan melakukan apa-apa."

Kuduga, kita hanya akan berbaring tenang. Pada cuaca yang terang, kita akan menghitung bintang. Kita hanya akan bercerita, sepanjang malam, tentang apa saja.

"Bagaimana dengan mereka?" tanyamu.
"Tidak ada mereka. Kita dua orang yang berbeda kali ini. Jadi lupakan untuk sementara, ya."
"Baiklah sampai jumpa Selasa depan. Aku akan menunggumu di pintu gerbang."
Hari itu sama seperti ramalan cuaca di berita. Matahari teduh, tapi sinarnya tetap hangat. Siang akan sedikit panas, tetapi itu lebih baik dibandingkan hujan.

Kamu menggelar peta. Aku duduk di belakang memandangi punggungmu yang tampan.
Ah, bagaimana bisa punggung terlihat tampan? batinku. Tentu saja, ada hati di tengah-tengah tulang rusuk. Tepat pada lengkungannya. Itu yang membuat siapa saja, jika mau sedikit sabar, bisa membaca perasaan seseorang dari punggungnya.
Aku lalu berjalan ke depan. Punggungku berkata kau sedang memandangi rambutku yang berkibar tertiup muson lembut. Kau lalu memandangi kepalaku. Menimbang-nimbang sekiranya apakah ada bagian lain yang lebih menarik dari kepalaku.

Ah, kepala? Dia wanita, masa yang menarik hanya kepala. Batinmu, lalu terdiam.

Memang kepala. Segala yang sama keluar dari sana, sungguh menakjubkan. Sebelum kau sempat berkata-kata kepala itu sudah tahu apa yang ingin kau katakan. Sebelum melucuti pakaianmu, kepala itu sudah tahu bagaimana lekuk tubuhmu.
Kepala itu memikat. Menggairahkan. Karena itu juga aku ke sini melakukan pendakian.

Kami lalu berjalan bersisian. Tangannya menarik lembut tanganku ke dalam genggamannya.
Sungguh menarik, batinku. Caranya mengandeng tangan. Mantap dan hangat. Beginilah tanda-tanda seseorang yang sudah menguasai medan. Kau sudah paham benar setapak labirin di punggung gunung ini. Kelokannya, tanjakannya, liukannnya. Kau tahu kapan harus melepaskan genggaman tangan.

Kami menyusuri hutan cemara, kadang merunduk menembus semak belukar, kadang melompati bebatuan, kadang bertemu aliran sungai. Sesekali kau harus membabat semak-semak yang tinggi dengan sebilah golok yang nampak berkilau. Kau mungkin sudah mengasahnya sebelum berangkat.

"Kita istirahat dulu," katanya kemudian. Sambil mengangsurkan botol minuman dia menatapku. "Lelah?"
Aku menggeleng. Tidak akan. Wajahmu adalah obatnya, batinku. Kulihat ia telah bercukur. Rahangnya bersih. Semburat biru menghiasi dagu bawahnya.

"Apa yang kamu pikirkan tentang aku?" tanyanya.
"Tidak ada." Kataku berbohong.
"Katakan saja. Bukankah kita dua orang yang lain hari ini."
Aku ragu. Tapi, "Baiklah."
"Kamu jatuh cinta padaku?" tanyanya sebelum aku sempat melanjutkan.
Aku terperanggah. “Alter egoku yang jatuh cinta padamu.”
“Bagaimana jika alter ego itu adalah dirimu yang sebenarnya?”
Aku mengangkat bahu. Aku tahu itu mungkin saja. “Aku tidak keberatan.”
“Baiklah kalau begitu,”
“Aku menyukaimu. Seandainya saja kita memang bukan orang yang sama seperti hari-hari biasa.”
“Dan sekarang adalah hari yang tidak biasa,”
“Baiklah kalau begitu aku memang menyukaimu.”
Dia diam, wajahnya mengeras. Merasa tidak perlu mengatakan apa-apa. Sudah pasti dia juga berpikiran sama denganku. Jika tidak, ia tidak akan datang, dan juga menggenggam tanganku serupa tadi.

Kami terus berjalan, menembus hutan hingga kemudian memutuskan untuk bermalam.

Sama seperti yang sudah diduga. Kami hanya berbaring dan menghitung bintang. Bintang demi bintang meredup selesai diabsen. Suara desis api unggun dan cahayanya menari-nari serupa hiburan. Tidak sadarkan diri tangan kami bersentuhan.Mula-mula hanya ujung jarinya, kemudian jari-jari yang lain hingga akhirnya saling mengenggam. Kemudian seperti yang diduga sebelumnya kami mulai bercerita apa saja. Hingga, tak terduga, akhirnya bibir kami yang bertautan. Dan malam semakin kelam. Desis api unggun tak terdengar lagi. Percik-perciknya padam.

Suasananya begitu tenang yang terasa hanya aliran air, hangat, meleber dari leher menuju bahuku, terus dan terus tak ada habisnya hingga pagi datang.

Menjelang pagi, kau bangun, menguap dan tersenyum. Kau merengangkan badan. Duduk sebentar lalu mengangkat kepalaku, memasukkannya ke dalam ransel. Gelap di dalam.

Satu jam kemudian kudengar gumaman. “Hanya ada satu kepala untuk satu tubuh.” Kau melanjutkan pendakian.

Rante Mario, Desember 2008.

Wednesday, June 3, 2009

(penggalan) Me, My Midas, & Our Little Zoo


Aku menyadari bahwa seharusnya cinta itu tidak buta. Cinta itu bisa melihat kebenaran dan ketulusan. Apa yang kualami bersama Frans bukan cinta tetapi ide tentang cinta. Jika aku benar-benar jatuh cinta, seharusnya cintaku bisa melihat cinta yang sama yang terpancar dari hati Frans. Tetapi aku malah dibutakan oleh hal-hal dangkal yang melekat padanya.

(hal. 14)


Dari Midas aku belajar satu hal penting dalam hidup; sedekat apapun belahan hati kita berada, jika belum saatnya bertemu kita tidak akan bertemu. Semua sudah diatur dengan indah oleh semesta. Hati akan bertaut pada saat yang tepat dan kesedihan akan hanyut pada aliran sungai yang tepat melaju menuju laut lepas.

(hal.18)


Ditulis untuk GagasMedia : Sayembara Kucing Melulu & Cerita Cinta Me (Lulu)

Siapa Soulmate Saya?


Sore itu, seseorang datang. Sama seperti hari-hari sebelumnya, kami bertemu untuk berbincang.
Tidak lama. Satu jam cukup baginya. Jika masih kurang, kami akan membuat janji kembali minggu berikutnya. Begitu, seterusnya. Sampai ia rasa sudah sampai pada satu titik di mana ia telah tersembuhkan dengan perbincangan ini.

Dia tidak sadar. Lewat perbincangan ini, bukan hanya dia yang disembuhkan tetapi juga aku.
Seandainya dia tahu, tadi malam aku sama bimbangnya dengan dia, dan dengan kedatangannya padaku, dengan maksud mengadu, dia tak sadar telah mengeluarkanku dari sebuah kebimbangan.

Perbincangan kami sederhana. Ia bertanya mengapa dirinya tak kunjung memiliki jodoh. Dia bertanya pada saya, di mana soulmate-nya berada.

Dia mengeluh. Jangan-jangan saya tidak cukup baik. Karena, katanya semua pria baik akan bersama wanita baik.

Dia menangis. Semua orang mengatakan ini dan itu tentang kesendiriannya.

Tentu saja, saya tidak cuma diam mendengarkan. Meskipun sebenarnya, dengan mendengarlah saya dibayar. Saya mencoba menganalisa, dari sudut pandang saya. Mencoba mencari-cari celah, mencoba menawarkan sudut pandang baru.

Lalu sekali lagi dia berkata, sepertinya semua pria baik-baik sudah diambil wanita baik-baik. Dan saya tidak cukup baik....jadi saya tidak mendapatkan yang terbaik.

Kalimatnya mengambang. Tapi, tidak hati saya.
Hati kecil saya seperti tertancap belati mendengar kata itu. Bocor, mengeluarkan air hingga susut dan tenggelam ke dasar kegelapan.

Saya terdiam, mulut saya terkunci meskipun seharusnya saya bicara.
Lalu, pelan-pelan saya berkata, takut salah, karena sejujurnya saya belum melakukan hal serupa untuk diri saya sendiri.

"Memang benar wanita baik-baik diperuntukkan untuk pria baik-baik, tetapi...jika begitu dunia ini akan penuh dengan penjahat" kata saya hati-hati.

Dia mengernyitkan alisnya. "Kenapa memang?"

"Setiap orang pada dasarnya baik tetapi tidak berarti ia tidak memiliki kekurangan, kan? Setiap orang dipasangkan serupa puzzle, masing-masing saling melengkapi.

Seseorang yang bersama kita, dikirim Tuhan untuk suatu alasan....agar masing-masing bisa saling bertukar peran dan pengalaman, agar masing-masing bisa saling menyeimbangkan."

Ia lalu tersenyum, sedikit lebih lebar. "Iya, bener juga...pasti itu..." Binar matanya terlihat lebih bersemangat.

Saya lalu menimpalinya lagi," Bukan habis, pria baik-baik yang bersama wanita baik-baik, terbentuk dari proses saling melengkapi. Begitu sebaliknya. Paket baik-baik itu terbentuk karena pertukaran. Tidak begitu saja, seolah jika kita sudah merasa baik maka kita juga akan mendapatkan pasangan yang baik. Tidak semudah itu,"

"Yang terpenting sekarang hanyalah, temukan saja orang yang mau belajar bersama, dan itu sudah lebih dari cukup. Teman belajar itulah soulmate kita."

Dia tersenyum jauh lebih lebar lagi.
Hati saya mengangga jauh lebih lebar lagi. Air di dalamnya seolah ingin membuncah.
Saya membalikkan badan dan mata saya mulai tergenang. Mencoba sebisa mungkin menahannya agar tidak tumpah demi nama profesionalitas.

Seandainya dia tahu, kata-kata tadi, kalimat yang barusan saya ucapkan, sesungguhnya juga telah mengobati diri saya sendiri.

"Terima kasih, Mba. Minggu depan kita ngobrol-ngobrol lagi, ya. Di sini jam setengah 4, ya..."
"Boleh, tapi minggu depan nggak usah di sini, deh. Gimana kalo di Food Court, saya yang traktir..."

Bandung, 2 April 2009.

Monday, June 1, 2009

Write Only What You Want To Write

Gara-gara membaca sebuah novel, tiba-tiba saja saya jadi mogok melanjutkan tulisan saya sendiri. Hssshhh, terhitung sudah hampir seminggu saya break melanjutkan tulisan untuk novel. Saya tiba-tiba merasa apa yang saya tulis jadi nggak penting, alias pointless hanya karena membandingkan dengan apa yang sudah saya baca di novel itu.

Ya, novel itu sudah membunuh sebagian mood saya untuk segera menamatkan naskah saya sendiri sampai final. Kesal sih,...tapi, kemudian saya ‘main-main’ bersama Philip Pullman (lagi)dan menemukan sarannya yang begitu menyejukkan hati.

"Don't listen to any advice, that's what I'd say. Write only what you want to write. Please yourself. YOU are the genius, they're not. Especially don't listen to people (such as publishers) who think that you need to write what readers say they want. Readers don't always know what they want. I don't know what I want to read until I go into a bookshop and look around at the books other people have written, and the books I enjoy reading most are books I would never in a million years have thought of myself. So the only thing you need to do is forget about pleasing other people, and aim to please yourself alone. That way, you'll have a chance of writing something that other people WILL want to read, because it'll take them by surprise. It's also much more fun writing to please yourself."
Sekarang sudah terisi lagi mood-nya tinggal menangkap kembali nyawa-nyawa yang melayang karena saya biarkan nganggur beberapa hari. Nah, itu dia, menangkap nyawa-nyawa itu yang susah. Sekarang saya sedang berusaha menangkap nyawa Keira yang kebetulan lagi pelesir, entah kemana. Come, come, Kei, back to Mama...

Bunga-Bunga Juni


Dan bulan Juni pun datang, tangkai bunga-bunga sweetpea berayun lembut, merah-mudanya begitu riang. Sinar matahari Juni masih sama, benderang dan panas terik pada setiap siang. Kadang kala hujan mengguyur rerumputan dandelion, meluruhkan bulu-bulunya yang lembut.

Ada kabar senang yang membuat saya tersenyum di pagi pertama bulan Juni ini, resensi Long Distance Love yang saya buat menang dan itu hanya sebagian kecil saja karena target-target pekerjaan di bulan Mei sudah terselesaikan dengan baik.

Bulan ini sebenarnya pekerjaan yang harus diselesaikan semakin menantang. Semuanya harus selesai pada akhir bulan Juli,untuk mengantisipasi jika saya harus kembali berangkat ngantor 9-5 sehingga tidak lagi bisa mengamati sulur-sulur morning glory menjalari tembok dan kuncup-kuncup ungunya bermekaran.

Jadwal freeter sebenarnya enak, bisa diatur sendiri sesuai keinginan asalkan deadline bisa terpenuhi semuanya baik-baik saja. Tapi, kalau memang dituntut kembali bekerja full time maka komitmen pada pekerjaan-pekerjaan lain harus dituntaskan dulu. Utang dengan salah satu penerbit saja masih ada satu yang belum tuntas, hmmmm...payah, nih.

Rupanya saya tidak boleh terlalu lama duduk-duduk di taman, sudah saatnya pergi ke tanah lapang menyemai biji bunga matahari, semoga sebelum musim hujan biji-biji itu telah menempati celah tanah yang tepat, dan ketiga air mengguyurnya, tinggal tunggu saja tunas-tunas kecil bermunculan.

Dan semoga bunga matahari saya segera bermekaran, bias kuning cantiknya bersanding dengan birunya awan. Saat musim penghujan, kuning cantiknya akan berpendar selaksa mentari, menggantikannya yang bersembunyi di balik awan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...