Tuesday, October 12, 2010

Psikologi & Bahasa

Apa yang membuat saya menyukai ilmu psikologi salah satunya adalah karena sebenarnya ia sama sekali tak bisa dipisahkan dari ilmu bahasa.

Itu membuat saya merasa akrab dengan ilmu ini. Belajar bahasa mengasah kemampuan berpikir saya, yang pada akhirnya akan menunjang kemampuan kognitif saya dalam mempelajari psikologi. Selanjutnya, belajar psikologi memperkaya bahasa saya. Keduanya menjadi timbal-balik.

Hal itu terbukti saat salah satu dosen di kampus berbicara mengenai terminologi dan sedikit menyingung tentang ‘kelirumologi’ yang banyak diderita masyarakat kita belakangan ini. Kesalahan penggunaan kata, bahasa yang disingkat-singat, dan ketidaktahuan kita pada definisi sebuah kata.

Ketika beliau bercerita tentang hal itu, saya langsung membayangkan kedua guru menulis saya, AS. Laksana, dan Yusi Avianto Pareanom. Pernah, pada saat ngopi-ngopi, Mas Yusi bertanya pada saya definisi dari evakuasi, nuansa, dan emosi. Dan saya memaknakan ketiganya secara keliru. :)

Sesampainya di rumah,

What I Got From Hermann Rorschach


Konon, pria yang berjasa membuat test Rorschach ini mati muda. Ia meninggal saat usianya masih 37 tahun. Saya rasa, dia bahkan belum sempat menikmati hasil kerja kerasnya selama sepuluh tahun melakukan penelitian di rumah sakit tempatnya bekerja sebagai psikiater.

Untung saja ada beberapa pengikutnya yang mau melanjutkan dan menyempurnakan penelitiannya ini. Salah satunya adalah Bruno Klopfer. Ia telah membuat test bercak tinta ini sebagai salah satu test proyektif yang bisa digunakan secara luas.

Beberapa hari ini saya berusaha untuk mempelajari dengan lebih baik alat test ini, mulai dari administrasi hingga intrepretasinya. Sebenarnya, saat di S1 materi kuliah serta praktikum sudah dilakukan, tetapi terasa sekali bahwa apa yang saya lakukan dulu belumlah terinternalisasi dengan baik. Salah satu dosen kawakan di kampus menyadarkan saya betapa sebuah hasil test tidak boleh dimaknai seolah-olah sebagai primbon belaka. Ini sungguh menarik, karena saya kembali diajarkan untuk melihat ‘seseorang’secara utuh, bukan angka atau grafik yang mewakilinya.

Sunday, October 10, 2010

Seandainya Bisa



saya ingin mengeluarkan isi kepalanya, lalu
melahap dan melumatnya dalam satu suapan saja

seperti cuppy cake
image : brain cuppy cake :)

Kotak Impian


Jadi, mana yang lebih baik buatmu saat ini?
Membiarkan mimpimu dimumikan, dimasukkan ke dalam kotak kayu, dan dikuburkan di kedalaman bumi.

Atau, menjalani hidup sambil berpura-pura lupa atau memang lupa di mana sebenarnya kamu pernah meletakkan kotak impian itu?


image : tunnel by salvatore marrazo

Consistency Versus Change


Ada saatnya mempertahankan sesuatu yang menurut kita benar,
dan ada saatnya
belajar melakukan perubahan. Itu kata superego saya.


Meskipun nggak alergi dengan yang namanya perubahan, terkadang saya begitu menikmati melakukan sesuatu yang sama secara berulang-ulang.
Misalnya,
Memutar satu lagu yang sama, berhari-hari, sampai lagu itu kehilangan ‘magic’nya.
Makan dengan satu jenis lauk atau sayur yang sama selama seminggu meskipun ada lauk atau sayur yang lain. Biasanya itu terjadi kalau di rumah sedang ada persediaan abon atau kering kentang :)


Dan yang terakhir.....
yang masih terus saya lakukan berulang-ulang, padahal saya sadar harus berhenti.
Bukan karena enggan, hanya saja hingga saat ini, saya tidak tahu bagaimana menghentikannya.


Friday, September 17, 2010

Silence Theraphy


Kuliah profesi sedang banyak menarik energi saya pada satu titik. Saya nyaris belum bisa membagi energi untuk hal-hal lain di luar kuliah. Saat ini, mau tidak mau, keluarga dan kuliah menjadi prioritas utama dalam agenda keseharian. Dengan amat terpaksa, beberapa rencana dan proyek kecil dicoret atau ditangguhkan.

PRIORITAS dan TUJUAN. Ya, saya harus kembali bertanya pada diri sendiri mengenai kedua hal tersebut. Saya butuh keheningan agar bisa mendengar pertanyaan-pertanyaan diri sendiri dengan lebih baik. Terutama sekali, saya butuh keheningan agar bisa menjawabnya dengan baik dan benar. Atau jika memang tidak bisa menjawabnya, saya bisa menemukan jawaban dalam keheningan.

Manusiawi Versus Hewani


Kami sedang serius mendengarkan materi psikodiagnostik saat kucing berbulu coffee creme latte vanilla ini mengetuk-ngetuk pintu samping ruang kuliah kami dengan kaki kanannya.

Di hari-hari sebelumnya, kucing ini juga sering mondar-mandir di ruangan kelas. Ia berjalan dan menyelinap di antara kaki-kaki mahasiswa dan sesekali duduk atau bergelung di sudut ruangan.

Beberapa dari kami ada yang berusaha mengusirnya, namun ada juga yang tersenyum dan membiarkannya.

Tapi ada satu hari yang agak berbeda bagi kucing itu dan juga kami. Hari itu, si kucing tidak bisa lagi seenaknya nyelonong keluar masuk ruangan karena pintu pintu depan dan samping di tutup dengan rapat.

Namun, tampaknya ia tidak menyerah untuk bisa masuk ke dalam. Sambil mengeong, ia mendorong-dorong pintu yang sengaja diganjal kursi dengan kakinya. Membuat pintu seolah-olah diketuk. Ia mengeong dengan keras untuk menarik perhatian orang yang ada di dalam agar mau membukakan pintu.

Saat tidak berhasil dengan pintu samping kelas, ia mencoba dengan pintu di bagian depan. Ia mengeong keras di depan pintu dan sepertinya berusaha mendorong pintu dengan badan dan kepalanya. Tak ayal tingkahnya itu kembali mengundang perhatian dosen serta mahasiswa yang ada di dalam kelas.

Beberapa dari kami berpikir kalau ia adalah kucing yang gigih. Yang lain bertanya-tanya, mengapa kucing itu benar-benar ingin masuk ke dalam, apa yang memotivasinya?

Tidak lama, kami pun mendapatkan jawaban setelah si kucing berhasil masuk melalui connecting door antara ruang kelas kami dengan ruang test.

Benar-benar tindakan yang menurut pandangan kami (manusia) sangat kreatif karena si kucing mesti tahu dan ingat bahwa ruangan di belakang ruangan kelas terhubung oleh sebuah pintu. Si kucing juga harus masuk ke ruangan test dulu dan berjalan melalui pintu penghubung agar bisa masuk ke ruang kuliah.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah : untuk apa ia masuk ke dalam dan berusaha begitu kerasnya?

Jika alasannya karena suhu di luar yang dingin, maka menghangatkan diri di ruang test pun akan sama saja dengan di ruang kuliah. Apakah jika ia berada di ruang kuliah maka ia bisa mendapat perhatian dari orang-orang yang ada di ruangan kuliah? Ataukah suhu ruangan kelas kami lebih hangat karena dipenuhi cukup banyak orang?

Jawaban selanjutnya baru kami dapatkan saat ia berjalan menuju mimbar. Tak lama, kucing itu pun nonggol dari kolong mimbar sambil menggondol anaknya dengan mulutnya.

Seisi kelas pun ber-oooo-ria. Ternyata, si kucing baru saja melahirkan dan meninggalkan anak-anaknya di kolong kotak mimbar tersebut. Si kucing berusaha keras agar bisa kembali ke dalam ruangan kuliah untuk menemui anak-anaknya dan membawa mereka ke tempat yang lebih nyaman. Ternyata, motivasinyayang begitu kuat salah satunya digerakkan oleh insting keibuan.

Kejadian itu membuat saya sedikit terhenyak. Seekor kucing ternyata dapat melakukan hal yang terasa manusiawi bagi manusia.

Saya jadi ingin tahu apa pendapat seekor kucing jika melihat seorang ibu yang baru saja melahirkan lalu menelantarkan bayinya. Bahkan membuangnya. Mungkinkah si kucing akan terhenyak juga dan berpikir betapa hewaninya perilaku mahluk yang berkata dirinya manusia ini.

The Journey of (29 1/2 Hari) #8

Hal yang sangat ingin saya lakukan semenjak renik pertama dari benih kisah 29 1/2 Hari ini mengada di semesta pikiran_bahkan mungkin di semesta itu sendiri; menyelesaikan draft ceritanya hingga final.

Setelah nyaris sembilan tahun, renik itu mulai membesar dan menghuni sebagian besar sel abu-abu saya. Nyaris semua bagian itu telah dicemari oleh nama-nama seperti Grey, Ken, Nero, dan Keira juga oleh polah tingkah mereka menghadapi cinta, cita, dan kehidupan. Pikiran saya pun ikut berkelana. Bermula di sebuah kota di Dijon, Perancis, lalu Provence, Singapura, Bandung...dan banyak tempat lain di mana imajinasi saya dan tokoh-tokoh itu tinggal.

Thursday, August 12, 2010

Rumah Di Tepi Pantai


“Bagaimana dengan rumah di tepi pantai?” tanya Artgea sambil mengelus pundak Shereen lembut. Seminggu yang lalu.

Mata Shereen berbinar mendengarnya. Itu pasti. Karena, si lelaki semakin bersemangat menjelaskan detail rumah-yang-masih-di-dalam-imajinasi-itu.

Apa pun yang akan kamu buat, aku pasti suka, asalkan letaknya di tepi pantai. Begitu pikir yang perempuan.

Untuk orang yang seumur hidup menghabiskan waktu di atas gunung_yeah, itu terlalu berlebihan. Atau, lebih tepatnya rumah di kaki sebuah gunung yang selalu diliputi hawa dingin, kabut, dan suasana yang kadang mellow, bayangan tentang memiliki rumah di tepi pantai sungguh menakjubkan.

Terbayang ketika terbangun di pagi hari karena deburan ombak. Lalu, tanpa mengganti piyama, berjalan-jalan dengan kaki telanjang di tepi pantai dan memainkan pasirnya di sela-sela jari kaki. Belum lagi, burung-burung yang terbang lalu lalang di atas kepala, langit yang biru, dan aroma laut yang seksi. Aroma musim panas. Pria-pria bertelanjang dada. Istana pasir. Anak-anak yang ribut mengoper bola warna-warni. Es krim cokelat yang meleleh karena embusan angin yang hangat. Dan...

“Hei, gimana kalo ada tsunami.” sentak Dipi. Mengaburkan semua bayangan indah yang seminggu lalu coba ditanamkan Artega ke kepalanya.

“Lo kenapa sih, selalu aja mikir negatif.” erang Shereen sambil melempar bantal kursi padanya. Dipi menangkisnya dan melemparnya balik. Bantal gendut berbentuk Garfield itu langsung telak mengenai muka Shereen. Membuatnya mendengus sebal.

“Gue cuma mikir realistis aja, She. Kalo ada tsunami. Ntar rumah lo yang kena duluan.”

“Bok, kalo iya bakal ada tsunami, Artega udah duluan ngirim helikopter buat jemput gue kali...”
“Yeah, cowok itu memang bisa melakukan apa pun.” balas Dipi. Dan hening setelahnya.

“Kenapa sih, lo masih aja nyebut dia ‘cowok itu’. Namanya Artega, Dip. Artega Sudirman.”
“Yeah, gue tau. Arsitek hebat yang sekarang mukanya lagi banyak nongol di majalah-majalah sosialita itu. Ngomong-ngomong, dia tuh, arsitek apa clubber, sih?”

“Maksud lo nanya gitu apa sih? Dia tuh sosialisasi, Dip. Dengan begitu kliennya jadi banyak.”
“Oke-oke. Jangan ngambek gitu, dong. Gue cuma...”

“Cuma apa?”

Dipi terdiam. Ia ingin berkata. Gue nggak pengen lo jalan bareng dengan cowok yang salah. Tapi Dipi tak ingin mengatakan itu sekarang. Pasalnya, Shereen bukan tipe cewek yang mau nerima saran gitu aja. Dia pasti bakal nanya KENAPA. Dan, dia belum bisa menjelaskan alasannya untuk sekarang ini. Cuma feeling doang. Shereen pasti nggak bakal percaya. Dan tentang apa yang pernah dilihatnya jauh sebelum Shereen jadian sama Artega, rasanya nggak perlulah diomongin sekarang. Shereen lagi jatuh cinta. Yang artinya : otaknya lagi keracunan sama enzim apa itulah. Yang katanya bikin seseorang yang lagi jatuh cinta nggak bisa mikir dengan jernih. Nanti aja kalo efek jatuh cinta itu udah ilang baru deh, Dipi bakal ceritain apa yang pernah dia liat dulu. Semoga aja itu nggak terlambat.

(to be continued)


NB : Udah lama banget nggak nulis cerpen yang ringan. Nyoba nulis dengan gaya yang berbeda. Hmmm, dan ini terinspirasi setelah kemaren motret-motret.

image by : me, of course :0

Tuesday, July 20, 2010

Perjalanan Menuju Profesionalitas


Alhamdulillah, jalan untuk mewujudkan salah satu mimpi saya mulai terbuka. Tanggal 3 Juli-2010 yang lalu adalah pengumuman kelulusan bagi calon mahasiswa Pascasarjana UNPAD. Berdebar-debar, saya ketikkan nomor ujian ke dalam kotak yang disediakan lalu ‘klik’, muncul hasilnya.
Saya diterima di Program Profesi Psikologi UNPAD.

Setelah empat tahun menunda karena berbagai alasan, mulai dari kesibukan kerja, menikah dan punya momongan, akhirnya, jalan untuk menjadi Psikolog bisa terwujud. Meskipun ini baru permulaan, dan jalan yang harus ditempuh masih panjang, tetapi saya bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk belajar. Sejak memilih kuliah di Fakultas Psikologi UNDIP, saya memang sudah bercita-cita untuk meneruskannya ke jenjang S2 hingga saya bisa menggunakan ilmu saya secara profesional seperti halnya dokter.
Sebenarnya, dulu ibu dan kakek menginginkan saya untuk menjadi dokter. Sayang, karena nyali yang ciut untuk berhadapan dengan berbagai pernik kuliah di kedokteran (yang saya bayangkan adalah harus tega melihat darah, berani masuk kamar mayat, dan berhadapan dengan aneka penyakit yang wujud fisiknya mungkin kurang menyenangkan) maka saya mengurungkan niat tersebut dan memilih untuk mengambil jurusan yang berhubungan dengan ‘menyembuhkan’ orang, tetapi nggak harus berurusan dengan hal-hal yang sudah saya sebutkan di atas :)

Sebelumnya, saya sempat bimbang akan melanjutkan pendidikan profesi ke mana. Mulanya saya berpikir untuk mendaftar ke UI, mengikuti jejak senior dan beberapa teman, tetapi ketika melihat biayanya yang fantastis, dan itu berarti saya harus hijrah ke Jakarta yang sudah semakin padat, maka saya memutuskan untuk melanjutkan profesi di UGM atau UNPAD. Ternyata, saya ketinggalan pendaftaran masuk UGM, dan opsi yang tersisa adalah UNPAD. Saya tahu Tuhan Maha Tahu, Ia pasti memilihkan yang terbaik di momen yang tepat. Saya pun segera meneguhkan niat untuk mendaftar tahun ini juga karena sebenarnya rencana melanjutkan kuliah sudah mundur setengah tahun dari yang direncanakan.

Sharing pengalaman pendaftaran dan tes masuk Profesi Psikologi UNPAD

Setelah memutuskan untuk mengambil tes masuk gelombang ke-1, mulailah saya membeli pin pendaftaran di bank lalu mendaftar online dan mengirimkan berbagai berkas yang menjadi persyaratan. Setelah itu, barulah menjalani serangkaian tes. Dimulai dari tes yang sifatnya umum. Jadi, semua calon mahasiswa pascasarjana dari berbagai pilihan fakultas digabung jadi satu untuk menjalani Tes TKB Advanced dan TOEFL. Tes pertama berlangsung pada hari Minggu, 20 Juni 2010.

Tes kedua berlangsung di fakultas pilihan masing-masing pada hari berikutnya. Untuk yang mengambil Profesi dan Magister Sains Psikologi, tes berlangsung di Kampus Pascasarjana Psikologi UNPAD yang ada di Dago Atas. Tes terdiri dari, Tes Tertulis yang berisi pertanyaan-pertanyaan seputar teori-teori psikologi yang pernah dipelajari sebelumnya dan dilanjutkan dengan beberapa tes yang lain. Selanjutnya, tes yang ketiga adalah wawancara. Saat tes wawancara ini, satu peserta berhadapan dengan dua pewawancara yang merupakan dosen maupun Psikolog UNPAD.

Jumlah peserta yang saat itu mendaftar untuk program profesi kalau tidak salah ada 159 orang, sementara yang akan diterima untuk program profesi adalah 70 orang dan untuk magister sains adalah 10 orang.

Saat tes kedua yang berlangsung di kampus Pascasarjana Psikologi ruang kuliah S3, saya berjalan mengelilingi kampus dan mulai menerapkan ‘the secret’, seolah-olah lorong-lorong dan taman yang asri yang ada di kampus akan menjadi bagian dari hari-hari saya ke depan, dan ternyata semesta serta Tuhan mendengarnya. Semoga saya bisa menjalani hari-hari di sana dengan sebaik-baiknya.

image : pergola di kampus magpro psikologi unpad & taman2nya yg asri

Saturday, July 3, 2010

Kesulitan (seharusnya) Tidak Membuatmu Berhenti


Kenapa mesti takut dengan kesulitan. Dilakukan sekarang atau besok, bisa jadi tetap akan berhadapan dengan kesulitan, dan bukankah setelahnya selalu dijanjikan olehNya kemudahan.

Pernyataan bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan bahkan sudah dituliskan di Al-Quran, Surat Al-Insyirah Ayat 1-8, dan sampai diulang dua kali pula.

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?

Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu?

Yang memberatkan punggungmu

Dan Kami tinggikan bagimu sebutan namamu

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan

Maka apabila kamu telah selesai dengan satu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain

dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

image by : nia, taken with canon G10

Baterai Baru


mundur seminggu dari waktu yang direncanakan. sedang butuh banyak baterai baru plus baterai cadangannya untuk berjaga-jaga.

image: nia taken with canon G10

Thursday, June 17, 2010

The Journey of (29 1/2 Hari) #7


"Hanya dengan berjarak aku bisa melihat warnamu. Apakah merahnya menyebar rata, apakah hitamnya pas dan apakah putihnya tidak berlebihan?"


"Hanya dengan berjarak aku bisa melihat wujudmu. Sempurnakah senyumanmu, tegapkah cara berjalanmu, dan sesuaikah baju yang kaukenakan?"



image : deviantart.com

The Journey of (29 1/2 Hari) #6



"Bukan cuma aku yang menginginkan ini. Mereka juga. Yang membuatku berbeda dari merekalah yang akan membuat ini berhasil."




image by : deviantart.com

Thursday, June 10, 2010

The Man Who Loved Books Too Much



Saya sedang terserap dengan bacaan non fiksi ini. Sebelumnya saya pernah juga membaca buku semacam ini, Pencuri Anggrek yang ditulis oleh Susan Orleans. Cukup bagus juga, sih, bahkan bisa dibilang sangat detail. Tapi karena lebih banyak membicarakan soal tanaman langka dan lebih tebal dari buku yang ini bacanya jadi agak tersendat-sendat. Sementara yang ini, karena berkisah soal buku jadi lumayan asyik juga menyelami kehidupan John Gilkey (orang yang begitu mencintai buku) melalui penelusuran yang dilakukan oleh Bartlett. Bahasanya mengalir dan memberi saya banyak pengetahuan baru soal buku-buku langka yang ada di dunia. Artikelnya tentang John Gilkey ini masuk dalam Best American Crime Reporting 2007.

"Apa yang harus kulakukan dengan semua bukuku?" adalah pertanyaannya, jawaban, "Baca mereka, " menenangkan si penanya. Tetapi jika kau tidak bisa membaca mereka, pegang mereka, atau tepatnya, timang mereka. Pandangi mereka. Biarkan terbuka di mana pun mereka mau. Bacalah dari kalimat pertama yang menarik bagimu. Lalu balik ke halaman berikutnya. Lakukan petualangan, arungi laut yang belum terpetakan. Kembalikan mereka ke rak dengan tanganmu sendiri. Susun mereka dengan aturanmu sendiri, jadi jika kau tidak tahu apa isi mereka, setidaknya kau tahu di mana posisi mereka. Jika mereka tidk bisa menjadi temanmu, setidaknya jadikan mereka kenalanmu. Jika mereka tidak bisa memasuki lingkaran kehidupanmu, setidaknya jangan ingkari keberadaan mereka."

(The Man who Loved Books Too Much-Allison Hoover Bartlett, Hal.105)

The Journey of (29 1/2 Hari) #5



Setiap pijakan mempunyai beberapa kemungkinan :

a. membuatmu maju

b. membuatmu mundur

c. membuatmu jalan di tempat.


image : deviantart.com

The Journey of (29 1/2 Hari) #4


"Kamu pilih mana, aku menemuimu setiap saat tapi hanya memberimu omong kosong atau kita bertemu pada saat aku sudah memiliki sesuatu yang penting untuk dituliskan?"
image:deviantart.com

Tuesday, June 8, 2010

The Journey of (29 1/2 Hari) #3


"Sekarang kamu paham kenapa kamu terlambat. Kamu selalu menunggu kalimat yang tepat untuk memulai."
image: deviantart.com

Monday, June 7, 2010

The Journey of (29 1/2 Hari) #2


"Bayangkan akhirnya. Adakah perpisahan atau kematian? Adakah kecupan atau kemenangan? Dan gerakanlah tubuhmu ke arah sana. Bukan cuma jemarimu semata."
image: deviantart.com

Sunday, June 6, 2010

The Journey of (29 1/2 Hari) #1



"kamu sudah memulainya tapi ingin mengakhirinya dengan cepat. kamu lupa bahwa masalahnya ada di tengah-tengah. proses."
image: deviantart.com

Wednesday, February 10, 2010

Pemenang Bagi-Bagi Buku Gratis (Part 2)




3 pemenang utamanya adalah :

1. Gita Aryana
2. Budi Budi (Ihwan Hariyanto)
3. Leila Niwanda

Dan pemenang hiburannya adalah : Rinurbad.
Thanks udah berpartisipasi yaaa....

Monday, January 4, 2010

Peserta Bagi-Bagi Buku Gratis (Part 2)

Kuis bagi-bagi buku gratis part 2 sudah ditutup saat pergantian tahun 2009 kemarin, ini dia para peserta yang sudah mengikuti kuis ini. Terima kasih ya, teman-teman sudah ikut berpartisipasi. Seneng deh, liat temen-temen begitu banyak melahap buku-buku di tahun 2009 kemarin sekaligus berbagi quote menarik dengan sunshine awaiter. Semoga tahun depan makin banyak buku yang dibaca, ya dan bisa saling menulari semangat membaca buku. Pengumuman pemenang akan dilakukan tanggal 1 Febuari 2009.
:http://lafatah.multiply.com/journal/item/772/Lomba_35_Buku_3_Kutipan_Menarik

Haruna Desiana : http://lunaticanna.multiply.com/journal/item/58/Lomba_Bacaan_di_Tahun_2009

Iwok : http://iwok.multiply.com/journal/item/360/Lomba_Bukuyangkubaca_2009

Barokah Ruziati

Budi Budi : http://iwok.multiply.com/journal/item/360/Lomba_Bukuyangkubaca_2009

Desfirawita Desfirawita

Fathin Az-Zhaahiru

Bu Catur (Retno): http://retnadi.multiply.com/journal/item/207/kuis_buku_bacaan_saya_di_tahun_2009

Yudith Fabiola http://fefabiola.multiply.com/reviews/item/8?mark_read=fefabiola:reviews:8

Rini Nurul : http://rinurbad.multiply.com/journal/item/2609/Tiga_Buku_Favorit_Rinurbad_2009

Amnah Atisah : http://www.atisah149.multiply.com/

Akhi Dirman Al-Amin : http://www.atisah149.multiply.com/

Aisyah Dian : http://erryanti.multiply.com/journal/item/171/Kuis_buku_dan_3_Quote
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...