Thursday, August 12, 2010

Rumah Di Tepi Pantai


“Bagaimana dengan rumah di tepi pantai?” tanya Artgea sambil mengelus pundak Shereen lembut. Seminggu yang lalu.

Mata Shereen berbinar mendengarnya. Itu pasti. Karena, si lelaki semakin bersemangat menjelaskan detail rumah-yang-masih-di-dalam-imajinasi-itu.

Apa pun yang akan kamu buat, aku pasti suka, asalkan letaknya di tepi pantai. Begitu pikir yang perempuan.

Untuk orang yang seumur hidup menghabiskan waktu di atas gunung_yeah, itu terlalu berlebihan. Atau, lebih tepatnya rumah di kaki sebuah gunung yang selalu diliputi hawa dingin, kabut, dan suasana yang kadang mellow, bayangan tentang memiliki rumah di tepi pantai sungguh menakjubkan.

Terbayang ketika terbangun di pagi hari karena deburan ombak. Lalu, tanpa mengganti piyama, berjalan-jalan dengan kaki telanjang di tepi pantai dan memainkan pasirnya di sela-sela jari kaki. Belum lagi, burung-burung yang terbang lalu lalang di atas kepala, langit yang biru, dan aroma laut yang seksi. Aroma musim panas. Pria-pria bertelanjang dada. Istana pasir. Anak-anak yang ribut mengoper bola warna-warni. Es krim cokelat yang meleleh karena embusan angin yang hangat. Dan...

“Hei, gimana kalo ada tsunami.” sentak Dipi. Mengaburkan semua bayangan indah yang seminggu lalu coba ditanamkan Artega ke kepalanya.

“Lo kenapa sih, selalu aja mikir negatif.” erang Shereen sambil melempar bantal kursi padanya. Dipi menangkisnya dan melemparnya balik. Bantal gendut berbentuk Garfield itu langsung telak mengenai muka Shereen. Membuatnya mendengus sebal.

“Gue cuma mikir realistis aja, She. Kalo ada tsunami. Ntar rumah lo yang kena duluan.”

“Bok, kalo iya bakal ada tsunami, Artega udah duluan ngirim helikopter buat jemput gue kali...”
“Yeah, cowok itu memang bisa melakukan apa pun.” balas Dipi. Dan hening setelahnya.

“Kenapa sih, lo masih aja nyebut dia ‘cowok itu’. Namanya Artega, Dip. Artega Sudirman.”
“Yeah, gue tau. Arsitek hebat yang sekarang mukanya lagi banyak nongol di majalah-majalah sosialita itu. Ngomong-ngomong, dia tuh, arsitek apa clubber, sih?”

“Maksud lo nanya gitu apa sih? Dia tuh sosialisasi, Dip. Dengan begitu kliennya jadi banyak.”
“Oke-oke. Jangan ngambek gitu, dong. Gue cuma...”

“Cuma apa?”

Dipi terdiam. Ia ingin berkata. Gue nggak pengen lo jalan bareng dengan cowok yang salah. Tapi Dipi tak ingin mengatakan itu sekarang. Pasalnya, Shereen bukan tipe cewek yang mau nerima saran gitu aja. Dia pasti bakal nanya KENAPA. Dan, dia belum bisa menjelaskan alasannya untuk sekarang ini. Cuma feeling doang. Shereen pasti nggak bakal percaya. Dan tentang apa yang pernah dilihatnya jauh sebelum Shereen jadian sama Artega, rasanya nggak perlulah diomongin sekarang. Shereen lagi jatuh cinta. Yang artinya : otaknya lagi keracunan sama enzim apa itulah. Yang katanya bikin seseorang yang lagi jatuh cinta nggak bisa mikir dengan jernih. Nanti aja kalo efek jatuh cinta itu udah ilang baru deh, Dipi bakal ceritain apa yang pernah dia liat dulu. Semoga aja itu nggak terlambat.

(to be continued)


NB : Udah lama banget nggak nulis cerpen yang ringan. Nyoba nulis dengan gaya yang berbeda. Hmmm, dan ini terinspirasi setelah kemaren motret-motret.

image by : me, of course :0

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...