Friday, September 17, 2010

Silence Theraphy


Kuliah profesi sedang banyak menarik energi saya pada satu titik. Saya nyaris belum bisa membagi energi untuk hal-hal lain di luar kuliah. Saat ini, mau tidak mau, keluarga dan kuliah menjadi prioritas utama dalam agenda keseharian. Dengan amat terpaksa, beberapa rencana dan proyek kecil dicoret atau ditangguhkan.

PRIORITAS dan TUJUAN. Ya, saya harus kembali bertanya pada diri sendiri mengenai kedua hal tersebut. Saya butuh keheningan agar bisa mendengar pertanyaan-pertanyaan diri sendiri dengan lebih baik. Terutama sekali, saya butuh keheningan agar bisa menjawabnya dengan baik dan benar. Atau jika memang tidak bisa menjawabnya, saya bisa menemukan jawaban dalam keheningan.

Manusiawi Versus Hewani


Kami sedang serius mendengarkan materi psikodiagnostik saat kucing berbulu coffee creme latte vanilla ini mengetuk-ngetuk pintu samping ruang kuliah kami dengan kaki kanannya.

Di hari-hari sebelumnya, kucing ini juga sering mondar-mandir di ruangan kelas. Ia berjalan dan menyelinap di antara kaki-kaki mahasiswa dan sesekali duduk atau bergelung di sudut ruangan.

Beberapa dari kami ada yang berusaha mengusirnya, namun ada juga yang tersenyum dan membiarkannya.

Tapi ada satu hari yang agak berbeda bagi kucing itu dan juga kami. Hari itu, si kucing tidak bisa lagi seenaknya nyelonong keluar masuk ruangan karena pintu pintu depan dan samping di tutup dengan rapat.

Namun, tampaknya ia tidak menyerah untuk bisa masuk ke dalam. Sambil mengeong, ia mendorong-dorong pintu yang sengaja diganjal kursi dengan kakinya. Membuat pintu seolah-olah diketuk. Ia mengeong dengan keras untuk menarik perhatian orang yang ada di dalam agar mau membukakan pintu.

Saat tidak berhasil dengan pintu samping kelas, ia mencoba dengan pintu di bagian depan. Ia mengeong keras di depan pintu dan sepertinya berusaha mendorong pintu dengan badan dan kepalanya. Tak ayal tingkahnya itu kembali mengundang perhatian dosen serta mahasiswa yang ada di dalam kelas.

Beberapa dari kami berpikir kalau ia adalah kucing yang gigih. Yang lain bertanya-tanya, mengapa kucing itu benar-benar ingin masuk ke dalam, apa yang memotivasinya?

Tidak lama, kami pun mendapatkan jawaban setelah si kucing berhasil masuk melalui connecting door antara ruang kelas kami dengan ruang test.

Benar-benar tindakan yang menurut pandangan kami (manusia) sangat kreatif karena si kucing mesti tahu dan ingat bahwa ruangan di belakang ruangan kelas terhubung oleh sebuah pintu. Si kucing juga harus masuk ke ruangan test dulu dan berjalan melalui pintu penghubung agar bisa masuk ke ruang kuliah.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah : untuk apa ia masuk ke dalam dan berusaha begitu kerasnya?

Jika alasannya karena suhu di luar yang dingin, maka menghangatkan diri di ruang test pun akan sama saja dengan di ruang kuliah. Apakah jika ia berada di ruang kuliah maka ia bisa mendapat perhatian dari orang-orang yang ada di ruangan kuliah? Ataukah suhu ruangan kelas kami lebih hangat karena dipenuhi cukup banyak orang?

Jawaban selanjutnya baru kami dapatkan saat ia berjalan menuju mimbar. Tak lama, kucing itu pun nonggol dari kolong mimbar sambil menggondol anaknya dengan mulutnya.

Seisi kelas pun ber-oooo-ria. Ternyata, si kucing baru saja melahirkan dan meninggalkan anak-anaknya di kolong kotak mimbar tersebut. Si kucing berusaha keras agar bisa kembali ke dalam ruangan kuliah untuk menemui anak-anaknya dan membawa mereka ke tempat yang lebih nyaman. Ternyata, motivasinyayang begitu kuat salah satunya digerakkan oleh insting keibuan.

Kejadian itu membuat saya sedikit terhenyak. Seekor kucing ternyata dapat melakukan hal yang terasa manusiawi bagi manusia.

Saya jadi ingin tahu apa pendapat seekor kucing jika melihat seorang ibu yang baru saja melahirkan lalu menelantarkan bayinya. Bahkan membuangnya. Mungkinkah si kucing akan terhenyak juga dan berpikir betapa hewaninya perilaku mahluk yang berkata dirinya manusia ini.

The Journey of (29 1/2 Hari) #8

Hal yang sangat ingin saya lakukan semenjak renik pertama dari benih kisah 29 1/2 Hari ini mengada di semesta pikiran_bahkan mungkin di semesta itu sendiri; menyelesaikan draft ceritanya hingga final.

Setelah nyaris sembilan tahun, renik itu mulai membesar dan menghuni sebagian besar sel abu-abu saya. Nyaris semua bagian itu telah dicemari oleh nama-nama seperti Grey, Ken, Nero, dan Keira juga oleh polah tingkah mereka menghadapi cinta, cita, dan kehidupan. Pikiran saya pun ikut berkelana. Bermula di sebuah kota di Dijon, Perancis, lalu Provence, Singapura, Bandung...dan banyak tempat lain di mana imajinasi saya dan tokoh-tokoh itu tinggal.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...