Tuesday, October 12, 2010

Psikologi & Bahasa

Apa yang membuat saya menyukai ilmu psikologi salah satunya adalah karena sebenarnya ia sama sekali tak bisa dipisahkan dari ilmu bahasa.

Itu membuat saya merasa akrab dengan ilmu ini. Belajar bahasa mengasah kemampuan berpikir saya, yang pada akhirnya akan menunjang kemampuan kognitif saya dalam mempelajari psikologi. Selanjutnya, belajar psikologi memperkaya bahasa saya. Keduanya menjadi timbal-balik.

Hal itu terbukti saat salah satu dosen di kampus berbicara mengenai terminologi dan sedikit menyingung tentang ‘kelirumologi’ yang banyak diderita masyarakat kita belakangan ini. Kesalahan penggunaan kata, bahasa yang disingkat-singat, dan ketidaktahuan kita pada definisi sebuah kata.

Ketika beliau bercerita tentang hal itu, saya langsung membayangkan kedua guru menulis saya, AS. Laksana, dan Yusi Avianto Pareanom. Pernah, pada saat ngopi-ngopi, Mas Yusi bertanya pada saya definisi dari evakuasi, nuansa, dan emosi. Dan saya memaknakan ketiganya secara keliru. :)

Sesampainya di rumah,

What I Got From Hermann Rorschach


Konon, pria yang berjasa membuat test Rorschach ini mati muda. Ia meninggal saat usianya masih 37 tahun. Saya rasa, dia bahkan belum sempat menikmati hasil kerja kerasnya selama sepuluh tahun melakukan penelitian di rumah sakit tempatnya bekerja sebagai psikiater.

Untung saja ada beberapa pengikutnya yang mau melanjutkan dan menyempurnakan penelitiannya ini. Salah satunya adalah Bruno Klopfer. Ia telah membuat test bercak tinta ini sebagai salah satu test proyektif yang bisa digunakan secara luas.

Beberapa hari ini saya berusaha untuk mempelajari dengan lebih baik alat test ini, mulai dari administrasi hingga intrepretasinya. Sebenarnya, saat di S1 materi kuliah serta praktikum sudah dilakukan, tetapi terasa sekali bahwa apa yang saya lakukan dulu belumlah terinternalisasi dengan baik. Salah satu dosen kawakan di kampus menyadarkan saya betapa sebuah hasil test tidak boleh dimaknai seolah-olah sebagai primbon belaka. Ini sungguh menarik, karena saya kembali diajarkan untuk melihat ‘seseorang’secara utuh, bukan angka atau grafik yang mewakilinya.

Sunday, October 10, 2010

Seandainya Bisa



saya ingin mengeluarkan isi kepalanya, lalu
melahap dan melumatnya dalam satu suapan saja

seperti cuppy cake
image : brain cuppy cake :)

Kotak Impian


Jadi, mana yang lebih baik buatmu saat ini?
Membiarkan mimpimu dimumikan, dimasukkan ke dalam kotak kayu, dan dikuburkan di kedalaman bumi.

Atau, menjalani hidup sambil berpura-pura lupa atau memang lupa di mana sebenarnya kamu pernah meletakkan kotak impian itu?


image : tunnel by salvatore marrazo

Consistency Versus Change


Ada saatnya mempertahankan sesuatu yang menurut kita benar,
dan ada saatnya
belajar melakukan perubahan. Itu kata superego saya.


Meskipun nggak alergi dengan yang namanya perubahan, terkadang saya begitu menikmati melakukan sesuatu yang sama secara berulang-ulang.
Misalnya,
Memutar satu lagu yang sama, berhari-hari, sampai lagu itu kehilangan ‘magic’nya.
Makan dengan satu jenis lauk atau sayur yang sama selama seminggu meskipun ada lauk atau sayur yang lain. Biasanya itu terjadi kalau di rumah sedang ada persediaan abon atau kering kentang :)


Dan yang terakhir.....
yang masih terus saya lakukan berulang-ulang, padahal saya sadar harus berhenti.
Bukan karena enggan, hanya saja hingga saat ini, saya tidak tahu bagaimana menghentikannya.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...