Thursday, March 10, 2011

Talents for The Novelist & Psychologist

Talents of the novelist : observation of character, analysis of emotion, people’s feelings, personal relations...(Virginia Woolf)

Secara nggak langsung, kasuistik dan konseling membuat saya belajar banyak tentang hal-hal yang disebut Virginia Woolf. Meski untuk menjadi seorang psikolog yang handal, skills tersebut masih harus didalami lebih lanjut, tapi untuk keperluan menulis cerita, terutama saat menghidupkan karakter tertentu, kedua mata kuliah itu memberi kontribusi yang tidak sedikit. Jadi seperti sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui, ceritanya.

FYI, kasuisitik dan konseling adalah mata kuliah keprofesian yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa keprofesian psikolog di UNPAD, sebagai modal awal untuk menjadi advanced beginner psychologist. Ya, meski masih di tataran pemula, tapi kami diharapkan sudah cukup mahir untuk mendalami dan memahami karakter seseorang. Kasuistik, mewajibkan kita untuk bisa menggunakan serangkaian alat-alat tes dan paham bagaimana menginterpretasi hasil tesnya. Sementara, konseling mewajibkan kita, bukan sekedar menjadi pendengar yang baik, tetapi juga bisa mengetahui core personality dari individu yang meminta bantuan pada kita sehingga kita bisa membantu mereka menolong dirinya sendiri lewat pintu masuk yang tepat.

Awalnya, saya berpikir dua hal tersebut adalah sesuatu yang mudah karena sebelum mengambil profesi saya merasa sudah cukup banyak menguasai alat tes, dan selama ini merasa sudah cukup menjadi pendengar yang baik. Nyatanya, setelah bergelut dengan keduanya, saya menyadari kalau ternyata saya masih harus banyak belajar.

Dan perjuangan untuk mempelajari dua mata kuliah itu pun nggak gampang. FYI lagi, kasuistik di UNPAD itu seperti jadi sesosok monster yang harus berhasil kita jinakkan. Mengingat untuk bisa lulus mata kuliah ini, kami harus praktikum hingga malam-malam, langsung membuat laporan setelah menjalankan battery test sendirian, lalu kemudian mempertanggungjawabkan apa yang sudah kami lakukan di hadapan dosen pemimbing atau dosen penguji. Semua kegiatan yang dilakukan itu selain menguras energi juga untuk menguji otak dan mental kita sendiri sebagai calon psikolog. Apalagi dengan tekanan bahwa psikodiagnostik adalah senjata utama seorang psikolog. Kalo nggak paham benar seluk beluk senjata yang dipakai, apalagi mengoperasikan dan menggunakannya dengan benar, bagaimana bisa menghadapi orang. Awalnya sempat pesimis juga mempelajarinya, apalagi banyak angkatan-angkatan sebelumnya yang mengatakan kalau di kasusitik ini banyak mahasiswa yang harus remedial dan mengulang, tapi kemudian dosen koordinator kami mengatakan hal ini, “jadikan ini sebagai tantangan dan membuat diri kalian lebih kuat.” Dan ya, mantranya menurut saya manjur, karena itu seperti mengembalikan kembali esensi kasuistik sebagai bukan sekedar rutinitas-rutinitas belaka, namun seperti mengingatkan saya kalo mau jadi psikolog ya, harus jadi pribadi yang kuat dan siap menerima tantangan.

Eh, lalu apa hubungannya dengan nulis novel ya? Uhm, yeah dengan belajar dua mata kuliah ini saya merasa bahwa untuk memahami karakter seseorang, nggak cukup dengan jalan mempelajari diri sendiri seperti saat kita sedang nulis cerita. Pasalnya, orang itu unik dan dari sekian banyak karakter harusnya, kalo pake teori psikologi tentang kepribadian manusia, kita bisa bikin banyak cerita dengan karakter yang nggak gitu-gitu aja.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...