Monday, October 31, 2011

Jumpa Lebih Dekat dengan Jostein Gaarder







Tahun 2001 adalah perkenalan pertama saya dengan Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder. Sejak saat itu, saya selalu memburu dan melahap semua bukunya. Setiap kali selesai membaca bukunya, saya selalu merasa bahwa merenung dan suka bertanya aneh-aneh itu dibolehkan. Dan saya bahagia dengan kenyataan tersebut.

Dunia Sophie membuat saya menyukai filsafat dan itu mungkin juga dirasakan sebagian besar orang yang membacanya. Ia berhasil membuat saya survive menjalani mata kuliah filsafat selama di S1. Meskipun begitu, buku favorit saya justru adalah Misteri Soliter, yang baru saya tahu ternyata edisi Indonesianya menurut Jostein sendiri adalah edisi bajakan karena dia belum pernah menandatangani kontrak terjemahan untuk Misteri Soliter ke Bahasa Indonesia. Misteri Soliter juga menjadi salah satu buku favorit si pengarang.

Ketika mendengar selentingan kalau Jostein Gaarder akan mampir ke UI untuk memberikan kuliah umum berkaitan dengan Sophie Prize yang ia buat bersama istrinya, saya langsung mencari celah untuk bisa bertemu langsung dengan beliau, atau setidaknya menitipkan buku-buku saya pada teman yang datang ke UI agar ditandatangani. Tapi, ternyata siapa yang menyangka kalau saya bisa bertemu langsung, mendengarkan diskusi buku-bukunya, meminta tanda tangan, bahkan sampai sempat menanyakan perihal akun twitternya, yang setelah saya konfirmasi ternyata bukan dia sendiri yang membuatnya. "Saya tidak terlalu menyukai hal semacam itu," kata beliau.

Mungkin, Jostein memang lebih suka merenung ketimbang berkicau, dan dari hasil renungannnya serta keinginannya untuk berbagi itulah yang menjadikan ia seorang penulis, yang menurut saya cukup legendaris dan fenomeanl. Ia tidak pernah menyangka bahwa bukunya akan diterjemahkan ke hampir 56 bahasa. Ia tidak menyangka bahwa Dunia Sophie akan tumbuh begitu besar, sehingga dulu saat ia baru merilis Dunia Sophie yang awalanya ditujukan untuk materi ajar, istrinya pun berujar, "Cepat, tulis dan selesaikan buku yang lainnya." Hal itu karena mereka masih merasa kekurangan materi. Namun, kini menurut Jostein, ia telah memiliki segalanya dan untuk itulah ia ingin berbagi. Salah satunya dengan memberikan penghargaan di bidang lingkungan hidup. Menurutnya, menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pribadi, namun juga tangung jawab kosmik. Kita semua bertanggung jawab terhadap kelangsungan kehidupan di bumi ini.

Saat ditanya apa keinginannya saat ini yang belum dicapai, Jostein menjawab : Jika diperbolehkan, saya ingin mati hari ini, saat peradaban masih ada, dan manusia masih ada. Akan sangat menyedihkan jika saya berumur panjang, namun manusia dan peradaban sudah hilang.     

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...