Saturday, December 1, 2012

Finding Your Deepest Dreams #2 : The Questions



picture from here
No matter what passage of life's time march you find your self in--your twenties, thirties, forties, or fifties and beyond--it is important that you keep your dreams alive. First you have to identify what your dreams means to you. Dreams and desires should connect you with your deepest yearning to experience love and connection, and to affect the world for better. It's only natural for our dreams to change over the years, but the deeper dream that drives us toward our destiny remains the same. Now, take out your journal or a piece of paper the fill the key quetions below. The questions will help you connect to your true desires or dreams.

1. When was the last time you felt genuinely yourself and exactly where you ought to be?
2. What makes your heart start pumping and your creativity kick into gear?
3. What makes you feel younger and more alive than you usually feel?
4. What desires keep coming to the surface no matter how much you try to ignore them?
5. Do you ever feel like you've just plugged in to something big and have an unlimited source of energy?
6. When does this happen?
7. Is there anything you do that s so exciting it makes even most difficult sacrifices seem insignificant?

Finish?
What's important is that you already get in touch with your unique set of answers, and they might be your deepest dream. Look at your answers and find ways to remind yourself of these dreams throughout the day. For those of you who have never dared to have a dream for yourself because you felt you weren't important enough or felt that your dreams were too big to acomplish, too impossible--forget it! Nothing is impossible when you set your intention on what you want and work with your spritual energy.

Friday, November 30, 2012

Finding Your Deepest Dreams #1: The Hungry Ghost

picture from here
Some of us may have clear desires, but perhaps some of us haven’t figured out what our dream might be. Until you start going after what you desire, you won’t trully be happy, because you are not following the deep longings of your soul.

There are often two forces that propel us toward our dreams: positives and negative desires.

A positive desires is a longing force inside of us that connects us to higher self. Positives desires make you feel energized and happy. You will ask your self: “Will fulfilling my dreams challenge me to go beyond where I am, to create greater possibilities in my life? Will this desire positively impact me and other people? If you have answered yes, you are in the positive desires zone.

Negative desires come from a hollow spot inside of ourselves that we can never fill. No matter how busy you are it keeps nudging you. The negative desires create the ravenous creatures called Hungry Ghost; it never feels full or satisfied no matter how hard we’ve tried to feed it. The emotional energies of envy, greed, insecurity, fear of not being enough drive the desires and dreams of the Hungry Ghost. People find themselves in the realm of the Hungry Ghost when they let their insecurities and fears disconnect them from their core energy. If your desires born out of revenge or hurt, motivated by proving that I am good enough, trying to get someone else’s approval, feeling inadequate, and envious of what other people have, that was the sign of being in the negative desire zone.

In order to realize your desires and feel good about them, you have to shift negative desires to positive ones. This shift can occur only when you completely honest with yourself. Release your negative energy; transform it to create your dreams. Release the negative energy and then watch iti flutter off. Now your positive energy of desire is available.

Monday, November 19, 2012

How to Organize Your Work Space


image from here

image from here

ruangan yang cukup lapang dan pencahayaan yang baik adalah beberapa elemen penting yang harus diperhatikan di ruang kerja. image from here

Setelah sebelumnya membahas tentang penempatan rak buku dan mengulas tentang meja kerja para penulis dunia di sini. Sekarang, saatnya berbagi tips mengenai bagaimana mengatur ruang kerja kita agar terasa nyaman. Kali ini, Teh @rinurbad, yang sehari-harinya berprofesi sebagai penerjemah dan editor, akan sharing tentang bagaimana ia mengatur ruang kerjanya. 

"Saya bukan tipe orang yang mudah bekerja di mana saja, karena rentan terdistraksi. Sewaktu berada di restoran atau mal, misalnya, saya lebih suka memanfaatkan waktu menyantap makanan atau menikmati kebersamaan dengan suami/teman/saudara. Untuk bekerja sendirian "di luar", juga riskan mengingat saya pelupa. Khawatir waktu lengah, laptop disambar orang. Selain itu, saya punya pengalaman buruk membawa-bawa laptop dalam perjalanan kemudian hardisk-nya terguncang dan harus diganti semua.Tentu saja biayanya tidak murah.

Elemen paling penting yang saya pikirkan adalah kursi. Sebagus apa pun mejanya, kursi tidak boleh dilupakan. Megingat saya biasa duduk berlama-lama, kursinya harus memungkinkan saya duduk dengan punggung tegak. Kalau terlalu empuk, malah bikin pegal. Saya tidak lagi menggunakan kursi beroda yang bisa diputar-putar, karena malah menambah alasan malas beranjak/bergerak.

Terkait ruang tempat meja diletakkan, sedapat mungkin cukup lapang (ini relatif bagi tiap orang) sehingga ada jarak yang memadai antara kursi dan meja. Pasalnya, saya tergolong slordig, kagetan, dan sering terbentur/tersandung. Lagi pula, kaki butuh ruang untuk selonjoran sedikit, meski saya masih sering melipatnya dan baru ingat meluruskan kalau sudah kesemutan. Di kolong meja sebelah kiri pun saya meletakkan berkas kerja dan buku-buku.

Sesuai kebutuhan, meja kerja saya harus menampung banyak barang. Saya berusaha tidak makan/minum sambil mengetik, kecuali terpaksa. Yang penting bisa menaruh klender, bookstand/bookholder, alat tulis, kamus, dan peranti kerja lainnya. Saya lebih mengandalkan pencahayaan alami ketimbang lampu meja/lampu besar di ruangan. Di samping berhemat energi, lampu meja kadang terasa panas dan menyilaukan tampilan layar.

Oleh sebab itu, meja kerja diletakkan di dekat pintu atau bukaan lainnya (pernah juga dekat jendela kamar yang sering dibuka lebar-lebar). Risikonya, arah angin yang masuk kerap langsung menembus punggung saya. Untuk itu, saya mengganjal kursi di bagian pinggang dengan bantal."

Nah, itu tadi tips dari Teh Rinurbad. Semoga bermanfaat bagi yang sedang mengatur ruang kerjanya. Apalagi untuk para work at home person yang membutuhkan kenyamanan ruang kerja.

Bookshelf Theraphy

Bagi saya, punya rak buku yang disesaki banyak buku itu rasanya menyenangkan. Di saat-saat tertentu, memandanginya somehow bisa membuat perasaan jadi tenang.  Setiap orang punya cara sendiri-sendiri bagaimana mengatur bukunya di dalam rak, dan di mana mereka akan meletakkan rak bukunya tersebut.

Di bawah ini ada beberapa ide peletakkan rak buku yang mungkin bisa menginspirasi :) Kalau rak buku saya, sekarang, lebih mirip sama gambar yang pertama karena kebiasaan menyusun buku berdasarkan genre. Kadang juga nggak meletakkannya dalam satu tempat atau rak yang sama. Misalnya, untuk buku-buku yang berhubungan dengan resep masakan saya taruh di meja dapur, biar gampang saat mau baca atau mempraktekkan resepnya.

mengelompokkan buku-buku sesuai genre
buku-buku disusun berdasarkan warna
very organized
idenya boleh juga. apalagi untuk rumah dengan ruangan terbatas
buku disusun sebagai elemen interior
rak buku sebagai penyekat ruang makan
rak buku diletakkan untuk penyekat ruang tidur
rak buku di dalam ruang khusus seperti home library
images from : apartementtheraphy.com

Breaking the Habits



images minjem dari sini
Empat puluh empat hari lagi kita akan mengalami pergantian tahun. Biasanya, di momen menjelang pergantian tahun seperti inilah kebanyakan orang melakukan ulasan tentang hari-hari yang sudah mereka lalui. Menuliskan resolusi adalah hal umum yang biasa dibuat orang-orang menjelang pergantian tahun. Dengan harapan mendapatkan perubahan yang lebih baik di tahun yang akan datang, kita menuliskan satu demi satu harapan dan keinginan kita. Termasuk keinginan untuk bisa melepaskan diri dari kebiasaan buruk, seperti menunda-nunda pekerjaan, kurang produktif, dan lain sebagainya.

Namun, apa yang terjadi ketika perubahan yang kita harapkan tidak kunjung datang? Perasaan kecewa dan merasa resolusi yang sudah kita tuliskan sepertinya sia-sia saja akan muncul. Itu membuat kita jadi malas untuk menuliskan resolusi, bahkan akhirnya membuat kita menyerah pada kebiasaan lama yang merugikan.

Ternyata, menurut sumber di sini, berharap dapat mengubah seluruh aspek kehidupan kita secara bersamaan adalah cara yang tepat untuk gagal. Kita tidak dapat mengubah keseluruhan kebiasaan buruk yang kita miliki secara bersamaan.

Bener juga, sih.

Contohnya saya sendiri :). Memulai sebuah kebiasaan baru setelah kurang lebih 30 tahun menjalani kebiasaan lama itu nggak gampang. Harus mengerahkan usaha ekstra untuk membentuk kembali dan mengaktifkan kebiasaan baru tersebut.

Kebiasaan lama itu ibarat kawat yang dipilin satu per satu hari demi hari selama 30 tahun, dan memutuskan jalinan kawatnya—bisa dibayangkan sendiri, kan.

Jadi, sebenernya gimana cara memutuskan kebiasaan lama yang efektif itu? Di sini, saya akan mencoba berbagi cara memutus kebiasaan lama yang buruk dan menggantinya dengan yang lebih baik. Cara ini saya kumpulkan dari berbagai sumber kemudian diolah kembali dan disesuaikan dengan kebutuhan. Semoga bermanfaat, ya.

Friday, November 9, 2012

Writer's Room & Author's Desk : Part #3

Jika sebelumnya dibahas tentang dua tempat kerja milik penulis perempuan. Sekarang, kita lihat bagaimana ruang kerja milik seorang master paradoks, George Bernard Shaw. Shaw mendatangi sebuah tempat di usianya yang ke-50 tahun pada tahun 1906: The Hertfordshire village of Ayot St Lawrence. Di masa itu, tempatnya bisa dibilang aneh karena tidak memiliki stasiun kereta, hanya memiliki satu buah toko, dua gereja, dan tidak ada pengantar surat kabar. Mungkin Shaw memang sengaja mencari tempat yang dapat memberinya privasi pada saat menulis. 

Shaw Corner
Rumahnya merupakan sebuah villa suburban yang sebelumnya digunakan sebagai rektori. Shaw tinggal di rumah tersebut hingga ia meninggal pada tahun 1950. Ruang kerjanya disebut dengan "Shaw's Corner", kadang pondok menulisnya juga dikenal sebagai "summer house". Pondoknya ini dilengkapi dengan pemanas elektrik, mesin tik, bangku tidur, dan telepon yang tersambung ke rumahnya, yang biasa ia gunakan saat ada keadaan mendesak, seperti makan siang.  

Ternyata, privasi bukan satu-satunya hal yang menjadi syarat utama tempat kerja para penulis. Charles Darwin, misalnya. Meskipun ia menyukai tempat yang tenang dan nyaman, namun pintu ruang kerjanya tidak pernah tertutup sepenuhnya. Ia membiarkan anaknya masuk dan bermain-main di dalam ruang kerja. Ia membiarkannya bermain dengan kursi duduk yang berbentuk bulat dan menggunakan tongkat berjalannya untuk mendayung, seolah kursi bulat itu adalah perahunya.


Di ruang kerja inilah Darwin menulis the Origin of Species, dan di ruang ini jugalah ia menghadapi badai kritik atas karyanya.Saat menulis, ia biasa duduk di kursi kulit berwarna hitam dengan papan penyeimbang di lututnya. Ruangannya dipenuhi dengan potrait istri dan teman-teman dekatnya. Darwin dikenal sebagai seorang suami dan ayah yang hangat. Saat sedang menulis, ia juga secara teratur melakukan break dengan berjalan-jalan di sekitar kebunnya.

Jika yang sudah-sudah dibahas tentang para penulis yang memiliki ruang khusus, bahkan sampai membuat pondokan khusus untuk ruang kerjanya, Jonathan Safran Foer justru bekerja di ruang publik, tepatnya yaitu di New York Public Library, di Rose Reading Room of the 42nd Street Branch.

Tuesday, November 6, 2012

Writer's Room & Author's Desk : Part #2

Kedua tempat kerja milik dua penulis wanita ini bener-bener bikin iri, deh. Kapan ya, bisa punya ruang kerja khusus macam milik mereka.
Kita intip rumah dan ruang kerja milik Jane Austen dulu, ya.

Meja sekecil ini yang digunakan austen untuk menulis

Chawton Cotttage yang sekarang dijadikan museum Jane Austen
Beautiful white window with pale pink roses climbing in the brick wall

Kebun cantik di Chawton Cottage

Tempat yang minimalis tidak selalu menghasilkan karya yang minimalis. Buktinya adalah meja kerja milik Jane Austen yang bisa jadi merupakan meja terkecil yang digunakan oleh seorang penulis. Meja yang terbuat dari kayu walnut bersegi dua belas dengan satu kaki ini digunakan Austen untuk menulis selama masa-masa tenangnya. Dari meja kecil itu lahir karya-karya seperti Sense and Sensibility, Pride and Prejudice. Novel pertamanya ditulis di lantai atas di sebuah rumah kependetaan di Hampshire yang merupakan kediaman ayahnya. Tahun 1800 ia pindah ke Bath dan tidak memiliki kesempatan untuk menulis. Baru pada tahun 1809 saat kembali lagi ke Hampshire dan menetap di sebuah cottage milik kakak lelakinya di Chawton, ia mulai bisa menulis lagi. Sekarang, tempat tinggalnya dijadikan semacam museum.

Selanjutnya, kita lihat bagaimana tempat yang digunakan Virginia Woolf untuk berkarya

Virginia Woolf dan suaminya membeli sebuah rumah di daerah Sussex pada tahun 1919. Dua tahun kemudian ia membuat sebuah ruang kerja khusus di kebunnya. Ruang kerja tersebut memiliki jendela besar yang menhadap ke jalanan menuju Mount Caburn. Ia bekerja di sana selama musim panas, dan meskipun konsentrasinya sering terganggu oleh suara lonceng gereja, atau suaminya yang sedang menyortir apel, namun ia menyukai tempat tersebut. Di tahun 1942, ia memindahkan writer lodge-nya ke bagian belakang kebun, di samping pohon chestnut. Ia menulis di sana dengan papan yang diletakkan di atas pangkuannya.
Ruang kerja yang menghadap ke kebun.
Kamar tidur Woolf. Warna hijau pucat adalah warna favoritnya.
Tempat yang disebut writing lodge oleh woolf, yang ada di bawah pohon chestnut.
Ini adalah ruang duduk favorit Woolf. Motif armchair-nya dirancang oleh saudara perempuannya.  
To be continued

image from: ntpl/eric cricthon

Sunday, November 4, 2012

Writer's Room & Author's Desk : Part #1

Udah lama nggak share hal-hal yang berkaitan dengan dunia tulis-menulis. Kali ini, mau berbagi sesuatu yang menyenangkan dan nggak terlalu berat dibaca, yaitu tentang writer’s room atau author’s desk.

Ruang atau meja kerja merupakan tempat yang cukup penting untuk penulis. Meskipun tidak semua penulis punya ruang kerja khusus, dan ada juga yang bekerja di ruang-ruang publik seperti kafe atau perpustakaan, tetapi setidaknya mereka punya meja kerja.

Berikut ini adalah beberapa ruangan atau meja kerja milik penulis-penulis ternama. Yuk, kita intip satu-satu tempat mereka melahirkan karya-karya hebatnya :)

Kita mulai dari ruang kerja milik Roald Dahl. Penulis yang menghasilkan buku-buku, seperti Matilda, The Witches, dan banyak lagi ini memiliki ruang kerja khusus yang berada di dalam semacam lumbung atau gudang.
pondok roald dahl yang ada di tengah-tengah kebun miliknya. small but pretty.
roald dahl's sanctuary
Ia menulis sambil duduk di sebuah sofa yang sandarannya dibuat senyaman mungkin menggunakan sebuah papan yang dibuat khusus agar pas dengan sandaran lengan pada sofa dengan model kuno. Di hari-hari yang dingin, ia menyusupkan kakinya ke dalam sarung tidur yang digelar di bawah sofa tersebut. Saat menulis, ia selalu menutup tirai jendela agar pemandangan di luar tidak menganggu imajinasinya pada saat menulis. Meja kerjanya dipenuhi barang-barang yang dikirimkan dari fans atau anak-anak sekolah, selain itu, ada juga koleksi kertas perak pembungkus cokelat miliknya yang dikumpulkan sejak ia masih muda.

Sekarang, kita intip ruang kerja milik Mark Haddon, ya.

Haddon's Basement 
Haddon bekerja di sebuah ruang bawah tanah. Ruangan miliknya terlihat cukup berwarna karena selain menulis ia juga melakukan banyak hal di ruang kerjanya; menggambar, melukis sesuatu, atau memainkan piano. Sebagian besar buku yang ada di ruang kerjanya adalah berbagai edisi dari The Curious Incident of the Dog in the Night-time dari berbagai negara. Perhatikan model kursinya yang unik. Nyaman nggak ya, seharian duduk di kursi model begitu.

To be continued.

Image from here

Saturday, November 3, 2012

Father and Consistency

image from here

I owe my father for always taught me about consistency.

"Apa pun bidang pekerjaan yang kamu pilih, cuma rajin dan konsisten kunci kesuksesannya." Begitu ucap ayah saya, yang selalu saya panggil Papah, setiap kali meminta restu beliau saat akan bekerja atau melakukan sesuatu.  
Konsistensi menurut kacamata ayah saya, di dalamnya termasuk juga kejujuran. Beliau selalu bilang, "Jadi orang jujur itu susah dan hasilnya nggak pernah instan, tetapi selama teguh memegang pendirian, hasilnya bakal keliatan. Right is right eventough nobody do that, and wrong is wrong tough everyone do that."

Prinsip itu selalu ditanamkan beliau sejak saya masih kecil, dan meski dulu saya melihat sosok ayah saya itu sebagai sosok yang galak dan tegas, sekarang, bisa merasakan sendiri manfaatnya. Cara itu juga yang membuat beliau terus memiliki prestasi dalam karirnya. Saat orang-orang memasuki masa pensiun, ayah saya justru memulai awal karir yang baru di bidang yang sama karena menjadi satu-satunya orang yang menguasai satu bidang pekerjaan secara mumpuni. Hampir semasa hidupnya beliau tekun menggeluti bidang yang sama dan tidak pernah berpikir untuk ganti haluan. Jatuh bangun beliau lalui, dan hasilnya, di usianya yang menginjak 57 tahun sekarang, ia masih terus aktif berkarya.  

Tidak mudah menjadi seperti ayah saya, bahkan untuk bisa memenuhi secuil harapan dari beliau untuk menjadi lebih baik dari dirinya pun belum saya lakukan. Itu peer buat saya. Belajar konsisten, rajin, dan jujur itu tigahal yang nggak gampang. Apalagi, ayah saya selalu bertanya, "Kamu ini sebenarnya mau menggeluti bidang apa? Kalau mau jadi penulis dan psikolog, nggak boleh setengah-setengah, harus sampai 'jadi ' begitu yang ayah saya katakan. Kalau mau jadi penulis, minimal bukunya ada yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan dijual di luar."

Wow juga, kan. Padahal, saya masih jauh sekali dari itu. Tapi, setidaknya, saya akan selalu mengingat pelajaran berharga dari beliau : Konsisten. Semoga, dengan itu saya bisa memenuhi harapan beliau. 

Terima kasih, Pah. I always proud being your daughter

NB : Postingan ini dalam rangka janji saya yang tertulis di postingan sebelum ini, ya. Daftar masih panjang, hehehe :) 

Tuesday, October 9, 2012

Where are you?


images from here
Salah satu teman saya, @mailindra, menulis di dinding situs jejaring sosial pada saat ulang tahun saya beberapa waktu yang lalu. Intinya, selain mengucapkan selamat, dia juga menanyakan kapan saya selesai berhibernasi.

Saya tersenyum membacanya dan menyadari kalau sudah lama sekali saya tidak bertemu dengan beberapa teman. Bahkan beberapa teman berpikir saya mulai menghilang ditelan kesibukan. Lalu, saya bertanya kepada diri sendiri. Kemanakah saya selama ini? Kemudian, setelah berpikir beberapa saat, saya merevisi pertanyaan itu. Apa yang sedang saya lakukan selama ini?

Seringkali, bukan dimana kita berada yang penting, tapi apa yang sedang kita lakukan di suatu tempat dan suatu waktulah yang penting.

Terus terang, saya merasa belum melakukan apa-apa. Untuk diri saya sendiri, orang-orang terdekat, bahkan juga lingkungan. Saya ingat, suatu hari entah dimana saya pernah membaca bahwa menuntut ilmu lagilah nanti setelah ilmu yang kaudapatkan sebelumnya sudah kauamalkan. Dari situ, saya jadi berpikir apakah saya sudah melakukan itu? Mengamalkan ilmu yang sudah saya pelajari, menjadikannya manfaat bagi orang lain?

Rasanya belum. Ini mungkin terdengar pesimis, atau secara umum sebagian besar orang memang merasa belum melakukan apa-apa untuk dirinya sendiri dan orang lain. Tapi saya pikir, ini keterlaluan. Jika saya mendapatkan begitu banyak kebaikan yang berasal dari orang lain maka bukankah saya seharusnya juga meneruskan kebaikan itu. Mungkin tidak harus berupa balasan yang setimpal. Mungkin, ucapan terima kasih pun bisa. Tapi sudahkah saya mengucapkannya, sudahkah orang-orang yang berbaik hati itu tahu bahwa saya telah benar-benar berterima kasih kepadanya?

Akhirnya, saya memutuskan menyelipkan PR itu ke dalam agenda saya sebelum akhir tahun 2012 ini. Saya memutuskan untuk menuliskan kisah-kisah saya dengan beberapa orang tersebut di sini. Semoga saya berhasil melakukannya.

Saturday, September 22, 2012

Tastes of 21-09-12


"Dalam menjalani hidup kita tidak selalu bisa mengecap manisnya kehidupan atau mendapat potongan kue terbesar, terkadang kita harus mau mencicipi kegetiran, rasa pahit, dan sisa-sisa remah kehidupan.
Kadang harus mau belajar bahwa sesuatu yang pahit bisa menjadi obat yang menyembuhkan, sementara racun-racun yang menyebabkan kita sakit terkadang menyaru dalam rasa dan bentuk yang manis."  (NN-210912)


"Dalam hidup setiap orang, pada suatu saat, padamlah api dalam diri. Api itu kembali menyala karena pertemuan dengan orang lain. Kita semuanya seharusnya berterima kasih kepada orang-orang yang kembali mengobarkan semangat dalam diri kita." (Albert Schweitzer)

Terima kasih untuk orang-orang spesial yang telah hadir dalam tiga dekade kehidupan ini. Sangat bersyukur bisa bertemu, dipertemukan, dan ditemukan oleh kalian semua.

Red Velvet & Green Tea Cup Cake with Cream Cheese

Rainbow Cake In A Jar



The Vegetables

Seafoods


Lamb

The Desserts : Ice Cream Mocca, Vanilla, Strawberry

The Dessert : Colorfull Fruty Jelly & Pudding
NB : Cupcake & Rainbow Cake from @seNIRAsa_

Sunday, September 2, 2012

Lebaran Trip : Pantai Batu Karas


Lebaran 1433 H kemarin kami sekeluarga mengunjungi kampung halaman masa kecil ayah saya di daerah Pangandaran, Ciamis Jawa Barat. Selepas acara keluarga, kmi melanjutkan acara keluarga di Pantai Batu Karas yang menurut banyak orang lebih bersih dan sepi dibandingkan Pantai Pangandaran. Tapi karena musim libur ya, pantainya sih, tetap penuh sih, tapi setidaknya tidak sepadat di Pantai Pangandaran. Pantainya cukup bagus, pasirnya meskipun nggak putih, tapi cukup lembut dan bersih. Dan ini adalah pertama kalinya saya ke pantai yang udaranya terbilang sejuk, bahkan saat main air di pantai selepas matahari terbit saya sampai mengigil kedinginan.
The Beach
Di sini kita bisa main Banana Boat dan berselancar. Saat kesini, cukup bnyak juga orang sing yang menunggu saat yang tepat buat berselancar, biasanya sih, menjelang sore gitu.
Bukit aman evakuasi yang letaknya ngga jauh dari tempat parkir
Salah satu bukit karang yang ada di tepi pantai. Di sebelah kanan pantai juga ada sih, lebih landai dan bisa dinaiki, tapi saya nggak sempat main-main kesana.
Bersepeda dari Pantai Pangandaran ke Batu Karas, seru juga.
Ombaknya cukup friendly dan fun buat bermain kecipak-kecipuk atau menyewa papan selancar kecil seharga Rp.10.000
Menurut ayah Saya, Warung Mang Aip ini masakan ikannya paling Maknyus, meskipun harganya relatif lebih mahal, tapi ikannya beneran segar. Sayang, nggak sempet foto ikan bakarnya, karena keburu habis disantap :))
Beda dengan Pangandaran yang view pantainya tertutup oleh para pedangang cinderamata, di Pantai Batu Karas para penjual dan pedagang ditempatka di lokasi tersendiri dan tertata rapi.
Di sini Ezra ngga terlalu banyak main air karena kecapean dengan perjalanannya, tapi dia seneng banget bisa main pasir dan bikin jejak kaki di sini.
The Hotel, kalo mau nginep di sini, mesti reservasi dari jauh-jauh hari ya, soalnya pasti penuh. Tapi di sekitar juga banyak hotel lain yang cukup nyaman dan bersih, seperti Bonsai Bungalow atau Pondok Putri.
Sepanjang perjalanan menuju ke pantai, selepas Desa Cijulang kita akan disuguhi pemandangan persawahan dan ladang yang lumayanlah...daripada jenuh menunggu sampai di pantai.
Dan kita juga akan menyusuri jalanan yang di pinggirnya adalah Green Canyon, warna airnya kehijauan dan di sisi kiri-kanannya ditumbuhi vegetasi yang lumayan rapat, beberapa adalah daun semacam pandan yang biasanya digunakan sebagai bahan baku tikar.


How To Get There :
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...