Sunday, January 29, 2012

Rain & Tea Harmony : #1 Lemongrass Tea

The rainy season, warm spices tea, and your favorite cookies. A perfect company for your rainy afternoon.

Lemongrass Tea

Seduh semua bahan-bahannya

The Ingredients: Semua dirajang halus agar mudah diseduh

The Ingredients : Lemongrass (sereh), pandan, daun jeruk, laos, gula kristal, dan teh celup.

Friday, January 6, 2012

Kuliner Purworejo : Sate Winong & Dawet Ireng

Sate Winong. Disebut Winong karena berasal dari Desa Winong. Letaknya di jalur Purworejo-Suren Kutoarjo. Rasanya manis, gurih, dan pedas merica. Disajikan dengan irisan kol, bawang merah, dan tomat.

Dawet Ireng (dawet hitam) adalah salah satu komoditi dan kuliner khas Purworejo. Rasa dan tekstur dawetnya sangat khas. Warna hitam dawetnya didapatkan dari sari oman atau batang padi yang dibakar. Disajikan dingin dengan santan cair dan gula merah. Selain segar dan enak, harganya juga murah. 

Selain terkenal dengan Lantingnya, jajanan di atas adalah camilan khas Purworejo, terbuat dari ketan hitam, di dalamnya diberi isian semacam kumbu kacang. Rasanya manis, sayang agak keras, ya :) 

Kuliner Semarang : Sop Kaki & Sate Kambing Sudi Mampir


Lokasinya di samping Gedung Telkom

Menu andalan : Sop Kaki & Sate Kambing

Satenya empuk dan tidak berbau kambing, disajikan bersama acar, tomat, dan taburan merica bubuk.

Sop kakinya terasa hampir seperti soto betawi. Rempahnya cukup terasa dan kuahnya nggak berlemak, tapi cenderung seger. Kita bisa memilih sendiri isinya, umumnya sih, jeroan.

Mendengarkan lantunan lagu-lagu secara live sambil menikmati hidangan.

Tuesday, January 3, 2012

Anniversary Trip : Lereng Gunung Ungaran-Curug Benowo-Curug Lawe (Part 2)


Setelah menikmati pemandangan dan bermain-main air di Curug Benowo, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Curug Lawe. Ada dua rute yang bisa dipilih, kembali ke bawah di tempat persimpangan yang terdapat penunjuk arah menuju ke kedua curug, atau melanjutkan rute yang sama sekali berbeda dari arah samping Curug Benowo. Karena hari sudah lumayan siang dan mulai agak mendung kami memutuskan untuk memilih track yang kedua, yang merupakan jalur tembus dari Benowo ke Lawe. Dan ternyata pilihan itu salah besar saudara-saudara...hehehehe. Kami pikir daripada mengulang track sebelumnya yang 'lumayan', lebih baik lewat jalan tembus. Tapi ternyata medannya jauh lebih berat dibandingkan sebelumnya. Jalan yang kami lalui merupakan jalan setapak yang ditutupi bebatuan, tanah basah gembur, dan tumpukan daun yang jatuh. Jalannya menanjak dan menurun serta cukup licin.  Kami harus menembus hutan yang cukup lebat dan sepertinya belum banyak dilalui orang, kecuali pecinta alam kali, ya. Bungkus permen dan semak-semak yang terinjak membuat kami sedikit terhibur karena setidaknya itu pertanda jalurnya pernah dilewati. Kami beberapa kali terpeleset atau terperosok. Yah, efek alas kakinya juga sih, yang agak kurang memadai. Selain itu, di tengah perjalanan tiba-tiba gerimis, dan kami masih harus menyeberangi sungai sampai beberapa kali. Untungnya debit airnya masih normal.  Entah efek sedang mendung atau bagaimana, perjalanan menuju ke Curug Lawe terasa agak seram, apalagi cuma kami berdua yang memilih rute tersebut.

Rasanya juga seperti nggak sampai-sampai, hehehe. Mungkin karena kondisi fisik sudah tak seprima saat perjalanan ke Benowo. Sayangnya, dengan rute yang kami pilih ini, tidak ada tempat untuk berisitirahat. Bisa sih, istirahat sambil mendinginkan kaki di sungai-sungainya, tapi karena mendung dan suasana hutannya gelap, meskipun lelah kami memilih untuk jalan terus. Di sepanjang perjalanan kami juga nggak terlalu banyak memotret. Pertama karena gerimis, dan yang kedua pingin cepet sampai :). Kami terus berjalan sambil menikmati pemandangan hutan dan sungai-sungainya. Kadang saya berhenti sebentar untuk memetik Daun Poh-Pohan dan mengunyahnya ("bener-bener orang Sunda", kata suami, "dilepas di hutan ada aja yang bisa dimakan"). Setelah beberapa lama, akhirnya kami menemukan petunjuk di sebuah batu yang mengarahkan kami ke Curug Lawe. Kami juga harus menyeberangi jembatan kayu dan sungai, serta melewati jalan yang tertutup pepohonan yang tumbang. Akses menuju air terjunnya bisa dibilang nggak gampang, karena kami harus berjalan menyusuri sungai yang ditutupi dengan kayu-kayu dan pepohonan yang tumbang. 

Sesampainya di depan air terjun, bukannya terpana senang, kami malah cenderung merasa takut, hihihi. Bukannya apa-apa, bagus sih, bagus...tapi suasananya gelap dan 'keueng' kalau kata orang Sunda.  Kami seperti berada di dasar tabung yang sangat besar, dinding air terjunnya kalau menurut saya sih, sekilas seperti gambar dinding rahim yang tertangkap pada foto USG. Di lokasi air terjun Lawe ini kami merasa seperti terkukung karena hutan di sekitarnya juga sangat lebat, dan posisi air terjunnya cenderung di bawah. Kalau mengikuti otak sih, pinginnya jalan sampai ke bagian depan air terjun, tapi entah kenapa hati berkata jangan. Apalagi saat itu hujan mulai menderas, dan suami tiba-tiba nyeletuk gimana kalau ada air bah, dan tabung ini jadi terisi air. Hahaha...jadi bad-trip deh. Akhirnya, setelah memotret sebentar kami pun berjalan ke arah pulang. Dan perjalanan pulangnya pun...wuihhhh...hihihi...coba sendiri, deh.
Curug Lawe : Dindingnya berbentuk setengah tabung.

Akses menuju ke air terjun dipenuhi dengan pohon yang tumbang

Bebatuan yang ditumbuhi lumut


Ya, meskipun hanya menyaksikan keindahan dan kemisteriusan air terjun Lawe selama beberapa menit saja, kami sudah merasa cukup puas dengan trip kami kali ini. Nggak menyangka juga kalau medannya seberat ini. Kami sih, lebih merekomendasikan Curug Benowo ketimbang Lawe, apalagi kalau tujuannya mengisi ulang energi positif. Di Curug Lawe, beberapa foto suami banyak yang dihiasi dengan orbs, mungkin saja sih, itu karena titik air. Selain itu, saat di sana pundak saya terasa agak berat dan sempet tergelincir pula saat jalan di sebuah pohon yang tumbang karena kaki rasanya berat buat melangkah pulang. Tapi terlepas dari semua itu, anniversary trip kami ini bener-bener seru dan menantang. 

Buat yang berminat kesini, gunakan alas kaki yang memadai khusus buat hiking ya, terus bawa perbekalan makanan yang cukup karena di sepanjang perjalanan nggak ada tukang jualan. Kalau mau mengajak anak, trip ini hanya direkomendasikan buat anak usia 10 atau 12 tahun ke atas, itupun yang suka atau terbiasa wisata alam, ya.  

Oya satu lagi, selepas turun dari hutan dan mulai menyusuri kembali jalanan sepanjang saluran irigasi, jangan lupa istirahat dulu di bendungan, normalkan dulu kaki dan telapak kaki kita. Jangan menyusuri jalan sepanjang saluran irigasi sementara kaki masih gemetaran, bisa-bisa nanti oleng seperti saya, hehehe dan berpotensi kecebur ke saluran irigasi :)

Setelah menyusuri kembali jalur pulang dengan sepeda motor, kami menutup perjalanan kami dengan bersantap siang (yang sudah agak terlambat) di Rumah Makan Djawas yang terkenal dengan Nasi Kebulinya. Rumah makan ini terletak di Jl. Gatot Subroto 102 Bandarjo-Ungaran. Kami memesan Nasi Kebuli Spesial Kambing, Roti Cane, dan Teh Manis Hangat. Nasi Kebuli merupakan masakan rekomendasi rumah makan ini. Rasanya enak, rempahnya pas, serta daging kambingnya empuk dan manis. Roti canenya juga enak.  Sangat pas untuk mengisi perut kami yang kelaparan berat setelah naik-turun Lereng Gunung Ungaran. Apalagi saat itu hujan turun lumayan lebat. Kami pun menunggu hujan reda sambil mengingat-ingat kembali perjalanan tadi...Well, anniversary trip ini menutup perjalanan kami di sepanjang tahun 2011. Nggak sabar menunggu trip-trip selanjutnya di tahun 2012.

NB :
Cocok untuk one day trip-perjalanan pulang pergi.
Trip dilakukan pada 31 Desember, 2011.
Berangkat dari Kota Semarang Bawah pukul 07.30. Trip berakhir pada pukul 15.30.
Kendaraan yang bisa digunakan : Sepeda motor atau mobil city car dengan performa yang baik.
Estimasi biaya perjalanan : di bawah 150.000 rupiah untuk dua orang (termasuk uang masuk, makan, minum, dan bensin PP)
Siapkan fisik dan mental yang prima, serta have fun.

(all picture taken with : Canon EOS 40 D Lensa 17-40 f4L, sonphotography)

Anniversary Trip : Lereng Gunung Ungaran-Curug Benowo-Curug Lawe (Part 1)

Udah lumayan lama nggak berpetualang berdua dengan suami, akhirnya tahun ini kami memutuskan untuk merayakan anniversary pernikahan ke-5 dengan hiking ke lereng gunung Ungaran di Semarang, Jawa Tengah sebagai pemanasan untuk trip-trip selanjutnya. Tujuannya adalah untuk menemukan dua curug (air terjun) yaitu Curug Benowo dan Lawe yang masih jarang dijamah orang. Dari cerita beberapa orang, dua curug tersebut terletak di tengah-tengah hutan dengan medan untuk sampai kesananya yang lumayan berat jika dibandingkan curug-curug lain yang ada di daerah sana, seperti Curug Semirang. Awalnya kami berpikir, seberat apa, sih? Paling-paling...Hahahaha. Ternyata memang perjalanan menuju kedua curug ini tidak diperuntukkan bagi yang nggak terbiasa jalan jauh, tracking/hiking menembus hutan, dan ya...untung banget kami nggak jadi mengajak si kecil ikut dalam petualangan seperti biasanya. Kalo iya...waduh.

Perjalanan kami dimulai dengan mengendarai motor dari Kota Semarang Bawah menuju ke daerah Kampus Unnes (Universitas Negeri Semarang) di Sekaran. Dari Asrama Mahasiswa Unnes Sekaran, kami bergerak menuju ke arah Boja. Di sepanjang perjalanan, di kiri-kanan jalannya kami menemukan banyak sekali Pohon Rambutan yang sedang berbuah, juga para penjual Durian serta Rambutan. Sebenarnya, kepingin juga berhenti sebentar buat menikmati Durian karena saat itu harumnya menguar di udara dan menggoda penciuman, tapi karena takut keburu hujan, kami memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan.

Perjalanan dilanjutkan hingga bertemu sebuah kompleks pemakaman yang berada di sisi kanan jalan, yaitu Pemakaman Darul Mukminin Siplaosan Sumur Gunung. Dari sana, belok ke arah kiri jalan menuju Desa Kalisidi. Kedua curug tersebut berada di desa tersebut, namun jalan masuk ke dalamnya masih lumayan jauh, sekitar 15-20 menit perjalanan dengan menggunakan motor. Setelah itu kami menemukan sebuah pos jaga yang memberitahukan tentang arah menuju ke curug. Dari pos jaga tersebut, kami mengendarai motor memasuki area Perkebunan Cengkeh Zanzibar hingga sampai di sebuah pos jaga yang kedua. Di sini, kami harus memarkir motor dan membeli tiket masuk sebesar 3000 rupiah untuk satu orang, dan membayar uang parkir motor. Dari pos tersebut perjalanan dengan berjalan kaki pun dimulai.

Saat masih mengendarai motor tadi, kami sudah disuguhi pemandangan yang indah dan menjanjikan, hamparan kebun cengkeh dengan latar Gunung Ungaran yang dibalut kabut putih. Udara di sekitarnya juga segar dan berbau harum rempah cengkeh. Kami pun memulai perjalanan membelah kebun cengkeh hingga menemukan petunjuk arah yang ditempelkan pada sebuah pohon.


jalanan yang membelah kebun cengkeh zanzibar

jalanannya lumayan berbatu

petunjuk pertama rute ke arah curug

Dari pohon tersebut kami berjalan turun sampai menemukan saluran irigasi. Rute dilanjutkan dengan menyusuri jalan beton yang merupakan bagian sisi dari saluran irigasi. Saluran irigasi ini memanjang di bibir jurang. Rutenyaterdengar membosankan? Jangan salah, meskipun hanya menyusuri saluran irigasi tapi di sisi kanan dan kiri, pemandangannya lumayan juga. Jalur ini hanya bisa dilewati sendiri-sendiri dan saat berjalan juga hrus hati-hati agar tidak terpeleset ke jurang.

menyusuri saluran irigasi

tali putih untuk membatasi saluran irigasi dengan bibir jurang



pemandangan di bawah jurang

Di sisi kiri, terlihat jurang yang ditutupi rimbunnya pepohonan hutan basah dan aliran sungai dengan bebatuannya. Hati-hati saat berjalan di sepanjang saluran irigasi yang cuma bisa dilalui satu orang ini karena selain di sisi kirinya terdapat jurang, terkadang jalannya juga licin oleh lumut dan konturnya berubah-ubah, kadang berkelok, kadang menanjak/berundak. Setelah menyusuri jalanan sepanjang saluran irigasi, kami menemukan jembatan kayu dengan pegangan besi yang terlihat kokoh. Di bawah jembatan tersebut mengalir saluran irigasi.

kata orang sih, namanya jembatan cinta




Di sisi kanannya, banyak sekali aneka tumbuhan yang bisa ditemukan dari mulai tanaman berry dengan buah kecilnya yang merah, sampai aneka phon, tanaman rambat, dan pakis-pakisan.



Setelah menyusuri saluran irigasi kami mendapati sebuah bendungan yang dapat digunakan untuk beristirahat sesaat. Saat sampai di sini, jangan buru-buru melanjutkan perjalanan berikutnya. Istirahat dulu yang cukup karena jalur berikutnya akan menguras tenaga.

bendungan : tempat peristirahatan pertama



Di jalur berikutnya, kami mendapati jalur bebatuan yang konturnya lumayan menanjak. Kami juga harus menembus hutan yang lumayan lebat, kemudian melewati jembatan yang terbuat dari kayu atau bambu, menuruni jalan bebatuan yang lumayan licin, dan menyeberangi sungai. Rasanya, seingat kami tidak ada tempat landai untuk beristirahat sejenak. Selama perjalanan, kami sering tertipu oleh suara gemericik air sungai yang kami pikir adalah pertanda bahwa lokasi air terjunnya sudah dekat. Tapi ternyata masih jauh :) Oya, jangan khawatir tersesat karena di dalam hutan sudah ada papan penunjuk arahnya.


gemericik air sungai





kontur tanah mulai menanjak dan berbatu

setelah berjalan lumayan jauh, akhirnya menemukan tanda ini

Akhirnya, setelah perjalanan yang lumayan, kami bertemu dengan petunjuk yang mengarahkan ke Curug Lawe atau Benowo. Kami pun memilih untuk mengunjungi Curug Benowo terlebih dahulu. Rute menuju ke sana..hmmmmm...lumayan, deh. Buat yang menyukai kegiatan alam/pecinta alam, rutenya mungkin dianggap biasa, tapi bagi yang belum terbiasa, bisa dibilang lumayan berat. Nikmati saja karena reward sudah menunggu di depan. Setelah melewati jembatan kayu dan menyeberangi sungai, dari kejauhan sudah terdengar suara gemericik air terjunnya. Lega rasanya mendengar suara tersebut. Tapi untuk sampai kesana tidak semudah yang dibayangkan, jalan menuju air terjun cukup menanjak, kami harus memanjat beberapa bebatuan agar bisa tiba di atasnya. Dan akhirnya.....kami berhasil sampai di air terjun pertama. Inhale-Exhale sepuasnya karena udaranya bener-bener sejuk.


Curug Benowo

pemandangan ke bawah dari arah curug benowo

Pemandangannya bener-bener bikin semua kelelahan yang tadi didera selama perjalanan menghilang begitu saja. Nikmati rintik-rintik air yang jatuh ke permukaan kulit, nikmati relung-relung dan kontur bebatuan air terjun yang sekilas berbentuk seperti wajah orang yang dipahat, dan ambil sebanyak-banyaknya energi positif yang masih murni di sana. Berlama-lamalah di air terjun ini (Benowo), karena di air terjun kedua kondisinya kurang memungkinkan untuk berlama-lama. Kenapa. Tunggu sambungan ceritanya, ya. :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...