Monday, May 7, 2012

Puzzle From The Past

"Berkarya itu nggak harus selalu dengan nulis..." kata suami beberapa waktu yang lalu. 

Dia yang bukan penggemar buku dan bahkan kadang kesulitan untuk menuangkan sebuah pemikiran ke dalam satu kalimat, memberi saya ide untuk break sesaat dari aktivitas nulis atau ngetik. Sungguh, dua deadline yang saya canangkan sendiri untuk tahun ini : thesis dan satu buah novel, membuat aktivitas menulis tidak bisa mengalir terlalu lancar. Bisa jadi karena saya terlalu memberikan tekanan pada aktivitas tersebut. Keharusan seringkali membuat kita merasa terkotakkan.

Saya ingat kata-kata dosen saya di kampus, Ibu Maya Ardiwinata, yang setiap kali memberikan tugas sering berkata : Coba, kalian berpikir out of the box dulu, liarkan pikiran kalian. Dan kalimat itu terbukti manjur, membuat saya belajar untuk memandang sesuatu hal dari berbagai konteks.

Saya pun mulai berpikir untuk melakukan hal yang seikit berbeda. Awalnya saya ingin kembali melukis, tapi karena sudah absen melukis nyaris sepuluh tahun, peralatan standar pun sudah entah kemana. Akhirnya, saya memutuskan untuk ikut suami hunting foto. Saat di Kota Semarang, kami berkunjung ke daerah Kota Lama yang terkenal dengan sebutan Little Netherlands-nya, dan menjepret beberapa spot yang menarik. Tidak disangka, sebuah ide cerita muncul di sana. Saya pun mengambil beberapa gambar untuk nanti dikembangkan menjadi ilustrasi cerita.

Puzzle From The Past : Taken with Canon 40D by : Nia
Mulanya hasil jepretan itu ingin saya jadikan ilustrasi untuk sebuah cerita pendek berlatar belakang sejarah kota lama, namun akhirnya setelah diberi sedikit sentuhan, saya memutuskan untuk ikut memajang foto ini dalam rangka ulang tahun Kota Semarang.  Foto ini kemudian dipamerkan dalam rangka Pameran Seni Sem(b)arang dari komunitas Ora(r)t oret, di gedung cagar budaya Sobokarti di Jalan Dr Cipto 31-33, pada tanggal 2-4 Mei 2012. Tetap dengan menggunakan judul yang sama : "Puzzle from The Past"

Puzzle From The Past

Dari pameran kecil ini saya belajar bahwa berkarya karena panggilan hati itu menyenangkan...dan melegakan. Kita bisa menyalurkan energi kita untuk menghasilkan sesuatu yang kita sukai....saya pun ingin terus menulis (atau berkarya yang lainnya) karena panggilan hati...bukan karena keterpaksaan. Sekarang, tinggal bagaimana kita belajar memadukan antara panggilan hati, teknk, teori, dan komitmen untuk menghasilkan karya yang mampu menginspirasi banyak orang.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...