Wednesday, July 25, 2012

Kronologi Patah Hati


images : google
Tengah malam dilepaskannya semua atribut yang menggelayutinya. Ia tidak ingin menjadi siapa-siapa atau apapun. Ia ingin menghilang ditelan kegelapan kamar tidurnya, memasuki dunia mimpi dan tunduk kepada alam bawah sadarnya untuk menjadi apa saja selain dirinya.

Ia berbaring dan membiarkan sosoknya ditelan selimut besar. Ia berusaha mematikan semua inderanya agar dapat tertidur lelap. Meskipun segala bentuk lelah tengah memukul-mukul tubuhnya. Ia percaya, tidur dan tidak menjadi siapa-siapa atau apapun mampu menyembuhkan segala bentuk sakit.

Namun tidak, malam itu otak dan hatinya sedang tidak mengizinkan tuannya buru-buru memejamkan mata. “Dengarkan kami dulu!” katanya.

Sosok yang sedang menahan lelah itu menimpali. “Tidurlah dulu. Kita bahas besok.”

“Tidak bisa!” kata Otak dan Hati bersamaan.

“Besok tidak akan sama lagi buatmu.” tambah Hati.

Baiklah. Aku mendengarkan kalian.

“Kau tahu, Hati, dengan perasaan-perasaannya sudah mempermainkanku. Aku benci jika dia melakukan itu dan tidak mendengarkan perkataanku.” kata Otak sengit.

“Hei, aku tidak merencanakan semua itu.” bantah Hati. “Perasaan itu datang begitu saja. Aku tidak tahu apa alasannya. Bukankah kamu sendiri yang biasanya berurusan dengan alasan-alasan. Kamu sendiri kan, yang selalu berusaha berpikir dan mencari penjelasan tentang segala sesuatu. Aku sih, cuma merasakan saja. Dan sebenarnya itu sudah cukup buatku. Kamu sendiri yang membuat perasaanku semakin kuat. Kamu bilang kalau dia memiliki sesuatu yang menarik perhatian alam bawah sadar.”

“Kau tahu, kata-kata itu terlontar seolah-olah tanpa kupikir masak-masak. Aku seperti di komando orang lain.” balas Otak.

“Ah, dasar Otak bodoh. Mana mungkin komandan tertinggi dikomandani sesuatu yang kita sama-sama tidak tahu apa.”

“Di semesta ini memang ada hal-hal semacam itu, Hati. Katanya kau ini merasakan, bukan memikirkan. Harusnya kau tahu, kalau hal-hal seperti itu memang ada. Kau tahu tidak, saat aku bilang bahwa dia memiliki sesuatu yang menarik perhatian alam bawah sadar, aku melihat bahwa apa yang kau rasakan menjadi semakin nyata.”

“Itulah. Kamu ini selalu memperkuat aku, Otak. Kasihan kan, Tuan kita sekarang jadi begitu kelelahan karena harus mendengarkan kita.”

“Sudah tugas kita berdua untuk menjelaskan semua ini padanya, Hati. Aku ingin kau tahu bahwa aku sama sekali tidak menjatuhkan pilihan padanya. Kau harus mengakui bahwa kau sendirilah yang memilihnya.”

“Iya, memang aku yang memilihnya. Aku juga tak tahu sebabnya. Aku hanya merasa bahwa ia adalah hati yang selaras denganku. Kalau kamu yang memilih, biasanya kamu akan banyak pertimbangan kan, Otak. Kamu pasti akan mempertimbangkan baik-buruknya, kelebihan dan kekurangannya. Aku, Hati, tidak melakukan semua itu. Aku memilih karena aku memang diatur sedemikian rupa untuk mengetahui apa yang tepat bagiku sendiri.”

“Kau ini kadang-kadang sombong, Hati. Nanti kalau sudah terluka kamu akan mengiba-iba padaku minta disembuhkan.”

“Ah, kamu yang angkuh. Aku, Hati, selalu tahu apa yang diinginkan, tapi pikiran logismu selalu menginterupsi. Semua informasi yang menyesaki labirin-labirinmu itu sudah menjauhkanmu dari intusi. Intuisi adalah cara untuk mengenali takdir, cara kaum kami untuk berbicara dengan yang Maha Tahu.”

“Jangan lupa diri, Hati. Aku juga anugerahNya yang paling besar. Kau tidak pernah menyadari betapa hebatnya aku. Kau bahkan tidak menyadari kehadiran hati orang itu sebelumnya.”

“Itu karena aku belum terbuka,maka aku belum bisa melihatnya.”

“Kau sudah kena tipu dia, Hati. Dia itu semacam pedang yang selalu diasah. Maka kilaunya mampu merobek sedikit permukaan hatimu,bahkan sebelum dia menyentuhkan ujung pedangnya padamu. Aku kasihan melihat kau terluka seperti itu. Luka kecil itu membuat yang lain-lain begitu mudah masuk dan menginfeksi tubuh tuan kita. Lihat, sekarang virus-virus tak kasat mata itu menggerogotinya.”

“Tapi, saat itu dia bahkan tidak bilang apa-apa padaku.”

“Pedang tertajam seringkali adalah pedang yang diam, Hati. Kau tergores kecil tanpa merasa sakit. Kau menerima perasaan itu dengan sukarela. Kau bahkan bantah aku saat aku beberkan fakta-fakta tentang dirinya. Perbedaan-perbedaan. Jarak-jarak. Aku perlihatkan bagaimana seribu satu ketidakmungkinan akan menghalangi kalian untuk bersama. Aku perlihatkan batasan-batasannya. Aku mengulurmu sedikit, tapi tidak ingin kau melampaui batas. Tuan kita hidup dalam batasan. Kau harus tahu itu. Meskipun kau bebas berkelana, tapi tuan kita tidak.”

“Jadi, aku tidak akan pernah mendapatkan apa yang benar-benar aku inginkan? Tidak bisakah aku tidak memedulikan semua fakta penting yang sudah kau beberkan itu? Bagaimana jika ternyata dialah yang akan menutup ruang bagi kepinganku yang hilang. Bagaimana jika...”

“Berhentilah berandai-andai. Pengandaian itu pengalih perhatian. Fokuslah pada apa yang seharusnya kamu lakukan sekarang. Meskipun aku ini terlihat pragmatis, tapi percayalah. Aku ini juga percaya pada takdir, aku percaya semua akan ada waktunya...”

“Sudah-sudah hentikan.” kata Hati lirih. “Kalau begitu, tolong aktifkan kelenjar air mata. Aku ingin didetoksifikasi. Aku ingin semua virus keluar dari hatiku melalui air mata itu. Aku akan menyembuhkan luka kecilku dan akan kubiarkan kau mengambil alih kembali kemudiku...”kata Hati. Ia mulai mengap-mengap.

Otak menegang, menahan diri. Ia bisa merasakan kesedihan Hati. Ia sebenarnya sudah mencari tahu bahwa di dunia ini mungkin saja ada dua orang yang sudah ditakdirkan untuk bersama,namun terkadang pilihan-pilihan hidup kedua orang tersebutlah yang justru memisahkannya. Usia, agama, tempat, dan jarak bukanlah kendala. Semua bisa dikompromikan. Rasionalisasilah yang terkadang, tanpa disadari oleh kedua belah hati, yang perlahan memisahkan mereka dari kesejatian.

Dan...aku menangis lagi.

Sosok yang menahan lelah itu sudah selesai mendengarkan dialog keduanya. Ia membalikkan badan, membiarkan air mata yang meluruh dari hatinya turun dan diserap busa bantalnya.

 Bandung, Sabtu, 21-07-12

Friday, July 13, 2012

It's Almost Five! : Pentingnya Jurnal Tumbuh-Kembang Si Kecil


Ini nih, penampakan blog si kecil dulu.
Lucu juga kalau ingat masa-masa kehamilan anak pertama dulu. Looking back, ternyata saya punya semacam blog yang merekam tumbuh kembang si kecil meskipun isinya sedikit sekali. Sebenarnya dulu saya rajin menulis di sebuah buku catatan perihal kehamilan saya sampai nyaris mau melahirkan. Saya juga menulis tip-tip yang saya temukan di beberapa buku dan majalah, juga pembicaraan dengan dokter serta beberapa ahli. Itu salah satu modal saya membuat buku ini.

Niatnya, catatan itu juga ingin dipindahkan ke blog (dulu di multiply) supaya kelak bisa jadi kenang-kenangan buat si kecil. Tapi karena nggak telaten. Blog itu terbengkalai sampai sekarang, bahkan sampai situsnya sudah bermetamorfosis jadi situs belanja online. Dan berita buruknya lagi saya lupa password-nya :)

Buat para orangtua yang rajin, oke juga lho, bikin semacam catatan tumbuh-kembang si kecil. Bisa dibuat di jurnal pribadi atau dipublish secara online lewat blog. Selain kelak bisa dibaca ulang, kita juga bisa merekam banyak informasi yang mungkin di masa depan sangat dibutuhkan. Misalkan berkaitan dengan riwayat kesehatannya,jenis makanan-minuman,bahkan obat yang pernah dikonsumsi, warna kesukaan, pakaian,kecenderungan perilaku, penyakit yang pernah diderita, dan banyak lagi.

Lagipula, masa bayi sejak satu sampai lima tahun itu singkaaatttt sekali. Saya saja merasa sangat sayang melewatkan semua itu dan menyesal karena ngga telaten buat blog-nya. Sekarang Ezra sudah mau lima tahun. Tidak terasa!

Sementara ia terus beranjak dewasa, saya pun terus belajar untuk menyesuaikan diri menjadi ibu untuk seorang baby boy, lalu kemudian seorang little boy, yang kenyataannya sangat berbeda penanganannya untuk setiap tahap. Bayangkan kira-kira lima atau enam tahun lagi, saya bakal berurusan sama lelaki kecil yang beranjak remaja, yang mulai naksir lawan jenis, mulai akil baligh...Hmmm, such a new adventure yaa.

Beneran deh, buat ibu-ibu yang anaknya masih kecil nggak perlu keseringan ngeluh. Energi kita simpan baik-baik untuk menghadapi masa-masa yang lebih menantang. Masa remaja! Have fun Mom!

Toddler Time : Banana Ice Cream


It doesn’t always an iPad or dvd player time for you to run out activities that keep your toddler busy and happy. Cooking is a sampling of toddler activities that she/he may loves. Just remember to ensure that the tools is safe for your toddler. For example : use plastic knife, if you want to teach your toddler to chop or slice something.

Nggak bisa dipungkiri kalau masa-masa toddler itu lebih rempong ketimbang saat si kecil masih bayi. Sebagai orangtua mesti pintar-pintar cari permainan yang menyenangkan sekaligus juga bisa menyelipkan aktivitas-aktivitas yang merangsang perkembangan motorik halusnya. Bermain masak-masakan bisa mengasah ketrampilan motorik halus, salah satunya karena jari-jari tangan harus berkoordinasi untuk mengiris, menusukkan sesuatu, dan memegang benda-benda yang rumit/kecil. Si kecil juga bisa belajar untuk berkonsentrasi dan menyelesaikan perintah-perintah sederhana yang rewardnya adalah makanan buatan sendiri yang bisa ia makan. Hal ini juga akan meningkatkan kepercayaan dirinya.

Ezra (4yo) suka banget kalo liat acara-acara masak di tivi, kadang suka ikut ngerusuhin ibunya masak. Biar tersalurkan rasa penasarannya, saya pun mengajak dia membuat sendiri camilannya. Banana Ice Cream!

Tuesday, July 10, 2012

Memory is Energy (Bag.2)

"It is an illusion that youth is happy, an illusion of those who have lost it; but the young know they are wretched for they are full of the truthless ideal which have been instilled into them, and each time they come in contact with the real, they are bruised and wounded. It looks as if they were victims of a conspiracy; for the books they read, ideal by the necessity of selection, and the conversation of their elders, who look back upon the past through a rosy haze of forgetfulness, prepare them for an unreal life. They must discover for themselves that all they have read and all they have been told are lies, lies, lies; and each discovery is another nail driven into the body on the cross of life." (W. Somerset Maugham)

Kalau membaca kutipan dari Of Human Bondage yang ditulis oleh Maugham di atas, mungkin kita bisa sedikit memahami betapa sesuatu yang pernah singgah di ingatan kita akan membentuk harapan dan kemudian perilaku kita. Terkadang, ketika harapan-harapan itu tidak sesuai dengan realita kita pun dapat dengan mudah terluka. 

Berbagai kejadian dalam hidup menumpuk di dalam kotak memori kita,membentuk, dan menggerakkan kita. Banyak dari kita yang bergerak berdasarkan program yang terekam dalam memori usang tersebut. Tidak semua memori usang menggerakkan kita untuk melakukan aktivitas yang positif,beberapa memori justru membuat kita jalan di tempat. Banyak orang bilang,kita harus mengalir, move on, agar kehidupan selalu diperbarui,namun tidak semua orang bisa melakukan itu.

Memang, kita tidak dapat memilih dan mengontrol apa yang terjadi di luar sana serta apa yang akan terjadi pada diri kita. Namun, kita bisa memilih untuk mengingat hal yang baik dan membuang kenangan akan hal yang tidak menyenangkan. Memilih adalah kekuatan manusia yang lain. Terdengar seperti perkara yang mudah,memang. Padahal,meskipun sebuah kekuatan, memilih juga bisa menjadi sumber petaka manusia. Itulah mengapa ada istilah kamu adalah pilihan hidupmu. Namun,memilih dan memilah adalah sesuatu yang harus kita latih di dalam kehidupan ini. Dengan begitu kita akan tahu mana yang akan berimbas baik dan mana yang buruk. Sama halnya dengan berlatih memilih ingatan positif, tidak akan terbiasa jika kita tidak membiasakannya.

Mengingat sesuatu, mostly hal yang menyenangkan adalah bahan bakar untuk dapat berpikir positif,yang pada akhirnya akan menggerakkan kita untuk melakukan aktivitas yang positif.

Here some tips :

Tuesday, July 3, 2012

Memory is Energy (Bag.1)

pic from : tumblr
Memori atau ingatan yang dimiliki manusia bisa menjadi kekuatan sekaligus kelemahannya. Seseorang bisa menjadi kuat ketika ia mampu mengingat suatu hal penting,namun ia pun bisa menjadi lemah ketika yang diingatnya adalah hal-hal yang tidak seharusnya ia ingat.

Beberapa hal melekat begitu kuat di ingatan karena kita menginginkannya, beberapa remah ingatan harus tergerus roda waktu tanpa bisa kita pertahankan. Kita tidak mengingat semua hal, tentu saja. Bayangkan jika kita bisa mengingat semua hal yang terjadi sejak kita dilahirkan hingga saat ini? Betapa beratnya beban pikiran kita saat ini. Maka Tuhan menganugerahi kita lupa. Hal-hal yang tak lagi kita butuhkan samar-samar menghilang, digantikan dengan hal-hal yang lebih krusial untuk menjalani hidup di kekinian.

Nama,peristiwa,tempat,deretan angka, bahasa, perasaan...banyak hal, sangat banyak. Semua itu dikodekan rapi di tempat penyimpanan. Kita memanggilnya kembali sesekali,mengenangnya, melupakannya, dan terkadang berusaha keras untuk mengingatnya. Ingatan-ingatan itu membentuk kita ; mengukir karakter dan kepribadian kita. Cara kita berpaling pada ingatanlah yang seringkali menentukan apa yang akan kita rasakan dan lakukan terhadap diri sendiri dan dunia. Kita bisa memilih berpaling pada ingatan yang tidak menyenangkan atau sebaliknya,pada hal-hal yang menyenangkan. Keduanya akan menghasilkan efek yang berbeda bagi kehidupan.

Sebagai contoh :

Monday, July 2, 2012

Summer Scent : #2 Mojito Tea

Summer has come :) The scents of holiday is up in the air. Let's make fresh drinks with the freshness scents of lime, fresh minty leaves, and green tea.

The Ingredients
And...voila! The Mojito Tea is ready...Actually, Mojito is a cocktail that consists of five ingredients : sparkling water, rum, sugar cane, and mint leaves. Cuba is the birthplace of the Mojito.
Add ice cubes and liquid sugar for a better taste

The taste is sweet, sour, and fressshh :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...