Tuesday, July 3, 2012

Memory is Energy (Bag.1)

pic from : tumblr
Memori atau ingatan yang dimiliki manusia bisa menjadi kekuatan sekaligus kelemahannya. Seseorang bisa menjadi kuat ketika ia mampu mengingat suatu hal penting,namun ia pun bisa menjadi lemah ketika yang diingatnya adalah hal-hal yang tidak seharusnya ia ingat.

Beberapa hal melekat begitu kuat di ingatan karena kita menginginkannya, beberapa remah ingatan harus tergerus roda waktu tanpa bisa kita pertahankan. Kita tidak mengingat semua hal, tentu saja. Bayangkan jika kita bisa mengingat semua hal yang terjadi sejak kita dilahirkan hingga saat ini? Betapa beratnya beban pikiran kita saat ini. Maka Tuhan menganugerahi kita lupa. Hal-hal yang tak lagi kita butuhkan samar-samar menghilang, digantikan dengan hal-hal yang lebih krusial untuk menjalani hidup di kekinian.

Nama,peristiwa,tempat,deretan angka, bahasa, perasaan...banyak hal, sangat banyak. Semua itu dikodekan rapi di tempat penyimpanan. Kita memanggilnya kembali sesekali,mengenangnya, melupakannya, dan terkadang berusaha keras untuk mengingatnya. Ingatan-ingatan itu membentuk kita ; mengukir karakter dan kepribadian kita. Cara kita berpaling pada ingatanlah yang seringkali menentukan apa yang akan kita rasakan dan lakukan terhadap diri sendiri dan dunia. Kita bisa memilih berpaling pada ingatan yang tidak menyenangkan atau sebaliknya,pada hal-hal yang menyenangkan. Keduanya akan menghasilkan efek yang berbeda bagi kehidupan.

Sebagai contoh :
Seandainya saja bisa mengingat senyum pertama kedua orangtua kita saat baru saja melihat kita hadir di dunia ini? Maka mungkin kita akan merasa disayangi, diharapkan, dan diterima kehadirannya di dunia ini. Sayangnya, kita tidak bisa mengingat momen itu. Kita hanya bisa mendengar cerita dari orangtua tentang bagaimana kita diterima dan ditunggu-tunggu kehadirannya. Padahal, seandainya saja hal sederhana itu masih membekas di ingatan kita saat ini maka saat dewasa kita tidak perlu mati-matian berjuang untuk merasa diterima, menjadi seseorang yang diharapkan ‘semua orang’, dan kemudian menjadi ‘orang’ (seperti yang orang-orang bilang bahwa kita harus menjadi ‘seseorang’) untuk membuktikan pada diri kita sendiri dan dunia bahwa kelahiran kita tidak sia-sia.

Saya sempat berpikir bahwa semua perilaku manusia di muka bumi ini dilakukan untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa kehadirannya di dunia ini bukan sebuah kesia-siaan. Maka sejak kecil hingga dewasa manusia selalu berusaha agar dirinya dapat ‘terlihat’ dengan berbagai cara. Mereka bertumbuh,berkembang, belajar, berjuang, bekerja, bercinta (dan ‘ber-ber’ yang lainnya) untuk membuktikan keberadaannya. Untuk membuktikan bahwa kisah tentang bagaimana orangtuanya tersenyum bahagia saat ia dilahirkan bukan isapan jempol semata. Untuk memenuhi harapan yang dibisikkan kedua orangtuanya saat ia tertidur lelap dalam buaian.

Dan seiring perjalanan waktu...beberapa ingatan mematahkan hatinya. Membuatnya bertanya-tanya,buat apa aku hadir di dunia ini?

‘Ibuku memarahiku ketika aku berlari kesana kemari ketika seluruh keluarga besar sedang berkumpul. Itu pasti karena ibuku tidak ingin aku menggunakan kedua kakiku untuk menjelajahi rumah ini..bahkan mungkin dunia.’

‘Ayahku berteriak marah ketika aku bersuara keras-keras. Itu pasti karena ia tidak ingin mendengar suaraku, bahkan mungkin dunia tidak ingin mendengarkan pendapatku.’

‘Belum lagi mereka,orang-orang dewasa lainnya, yang melarangku ini dan itu. Aku lebih banyak mendengar kata tidak ketimbangan anggukan. Lebih banyak ancaman dan amarah dalam tahun-tahun pertama kehidupanku.’

Semua hal tadi mungkin telah samar bahkan hilang dari ingatan,namun perasaan yang sama saat kalimat-kalimat itu dilontarkan seringkali masih membekas pada diri kita. Peristiwa itu telah meninggalkan memori dan turun ke dalam aliran darah kita. Membentuk kita menjadi manusia yang haus akan penerimaan dan pengakuan.

(bersambung)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...