Friday, August 31, 2012

Slow Motion Train





Lokasi :  Museum Kereta Api Ambarawa Jl. Stasiun Ambarawa No. 1

Taken with Canon 40 D, Edited by Me :)

Di dunia yang bergerak semakin cepat ini, makin banyak orang yang sulit memaklumi kelambanan. Segala sesuatu yang baik sering dikaitkan dengan yang serba cepat, instan, dan kilat....

Kecepatan, meskipun dipuja banyak orang, punya dua sisi yang berlawanan. Beberapa hal dalam dunia ini unggul karena kecepatannya, namun kecepatan pun tanpa sadar telah menggerus sekian persen kebahagiaan dalam kehidupan.

Begitu banyak momen yang terlewatkan karena kita berjalan dengan tergesa-gesa,melewatkan diam sejenak,enggan memahami lebih dalam, malas menyimpan dan merenungkan kehidupan...

Terkadang kita melewatkan keindahan yang sekejap, sesaat, dan sementara demi memenangkan kehidupan. Semua manusia berlomba,kadang tanpa sadar berlari mengejar ekornya sendiri, atau mengitari dan menginjak ceruk jejak yang pernah ditinggalkannya, tanpa menyadari mengapa sebuah peristiwa harus berulang.

Banyak yang tidak suka dengan pengulangan, beberapa melihatnya sebagai sumber kebosanan, sedikit yang melihatnya sebagai pendalaman. Bisa jadi sesuatu berulang karena kita belum benar-benar belajar.

Kadang-kadang bertanya-tanya sendiri, mengapa untuk hidup yang sesaat ini kita begitu harus tergesa-gesanya?


See the fashion photo session HERE :)

About The Place :

A Brief About Food Combining

Stok sayuran dan buah : sayuran fav yang biasanya dimakan mentah adalah tespong, aromanya segar, teksturnya renyah, rasanya juga nggak pahit.

Salah satu menu favorit food combining : Nasi Urap. Sayur favoritnya adalah daun adas yang wangi dan yummy

Salah satu contoh menu makan malam food combining : Ca pokcoy, lauknya nugget vegetarian berbahan kedelai dan jamur
Buat yang ingin tahu tentang food combining dan bagaimana menjalankannya, ini rangkuman singkat dari beberapa buku yang sudah saya baca. Semoga bermanfaat bagi para beginners yang ingin menerapkan food combining.

Food combining memiliki beberapa prinsip dasar, antara lain :
1. Asupan makanan diatur sesuai dengan siklus sistem pencernaan.
2. Memperhatikan siklus alami sistem pencernaan atau siklus sirkadian, yaitu :

a. Pukul 04:00-12:00 = saatnya tubuh membuang sampah metabolisme dan sampah makanan, oleh karena itu energi tubuh diarahkan untuk proses pembuangan, bukan pencernaan. Agar prosesnya maksimal maka disarankan untuk mengonsumsi buah-buahan yang nutrisinya lebih mudah diserap oleh tubuh, sehingga tidak membebani sistem pencernaan. Energi tidak terpecah menjadi dua,untuk mencerna dan membuang, sehingga di pagi hari tubuh lebih bugar dan berenergi.

b. Pukul 12:00-21:00 = siklus pencernaan makanan
c. Pukul 21:00-14:00 = siklus penyerapan sari makanan,peremajaan sel.

3. Kunci kesehatan menyeluruh terletak pada = pencernaan yang sehat
4. Food combining membantu menghemat jumlah enzim pangkal sehingga mencegah munculnya penyakit degeneratif dan organ tubuh pun berfungsi lebih baik dalam jangka waktu yang lama
5. Mengapa harus melakukan padu padan makanan yang tepat?

a. Proses pencernaan protein(terutama hewani) tidak berlangsung dalam hitungan jam, melainkan hari sehingga jika menggabungkan makanan hewani dengan karbohidrat maka proses pencernaan karbohidrat akan terganggu

b. Hal tersebut dapat dijelaskan karena pada saat munculnya enzim pepsin (enzim untuk mencerna protein) maka amilase (enzim untuk mencerna karbohidrat) akan berhenti bekerja.

6. Dengan mengonsusmi makanan yang sesuai padu padannya maka tubuh akan menjadi lebih sehat, dan secara tidak langsung akan menyesuaikan sendiri berat badan idealnya (bisa naik/turun) sesuai dengan kebutuhan dan lebih stabil.

Berikut ini adalah urutan makan-minum dalam Food Combining yang saya terapkan dalam kondisi normal (bukan pada saat berpuasa. Dan...hehehe untuk saat ini, kadang-kadang, di akhir pekan saya masih suka jajan di luar, jadi ada juga saat-saat dimana saya tetap makan dengan padu padan di luar food combining) 

Tuesday, August 14, 2012

Entropi VS Sintropi

Postingan ini ditulis dalam rangka memperingati satu bulan saya melakukan perubahan dalam pola makan. Mungkin kedengarannya sepele, tapi perubahan ini benar-benar memberikan efek yang cukup signifikan bagi kesehatan. Sebelumnya, ada banyak keluhan-keluhan yang meski kecil namun kerap saya rasakan, nyaris setiap hari. Misalnya, bersin-bersin yang nyaris terjadi setiap hari dan berlanjut menjadi pilek, kemudian sariawan yang setidaknya terjadi sekali dalam sebulan, keluhan migrain yang sering datang tiba-tiba, dan nyeri saat datang bulan yang kadang sampai menganggu aktivitas.

Keluhan di atas sepertinya terasa ringan, bisa hilang dengan konsumsi obat yang dijual bebas, padahal saya sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh saya. Selama tidak harus masuk rumah sakit maka sama seperti kebanyakan orang, keluhan semacam itu ya, menjadi seperti rutinitas, kalau mulai terasa sakit, ya minum obat. Saya pun hidup dengan keluhan tersebut nyaris bertahun-tahun tanpa berpikir untuk membuat sebuah perubahan.

Sampai kemudian, di usia 26 tahun, saya mulai serius memikirkan kesehatan tubuh, bukan cuma tubuh sendiri, tapi juga si kecil. Banyak sekali perubahan yang saya alami setelah punya anak, sayangnya ada beberapa yang bukan merupakan perubahan baik, salah satunya adalah mengonsumsi obat sakit kepala yang dosisnya mulai di luar kewajaran. Meskipun ketika itu semuanya berjalan normal, saya tetap merasa bahwa cara saya memperhatikan kesehatan tubuh jauh dari kata ideal.

Saya mulai diet asal-asalan selepas masa menyusui si kecil dengan tujuan dangkal, ingin berat badan kembali di angka sebelum hamil dan melahirkan. Meskipun pada titik tertentu saya berhasil, saya tetap tidak merasa sesehat sebelumnya.

Kemudian saat masa menyusui selesai, saya mencoba memberi si kecil susu formula yang direkomendasikan banyak orang, yang iklannya di televisi menjanjikan terbentuknya ‘generasi ajaib'. Iklan yang melenakan. Apalagi sejak minum sufor si kecil makin gembil, dan begitulah masyarakat luas memberi cap, bayi yang sehat adalah bayi yang gembil, montok. Semua berlangsung hingga si kecil nyaris menginjak usia empat tahun.

Selama itu, saya belum terlalu menyadari bahwa setidaknya setiap dua bulan sekali si kecil pasti mengalami keluhan batuk-pilek. Keluhan semakin terasa ketika ia berganti jenis susu dari yang soya-based ke susu sapi, tepat setelah ulang tahunnya yang keempat. Tak lama setelah mengonsumsi susu itu, ia terkena diare. Seminggu kemudian, badannya panas tinggi selama beberapa hari dan tidak kunjung turun. Ini pertama kalinya selama empat tahun ia sakit panas tinggi dan tidak langsung sembuh oleh obat penurun panas. Setelah dibawa ke dokter, si kecil didiagnosis gejala thypus dan harus diopname. Saya merasa tidak rela, lalu memutuskan untuk merawatnya sendiri di rumah. Ketidakrelaan ini berasal dari keengganan saya untuk membiarkan si kecil diberi berbagai macam obat-obatan. Saat itu, saya pribadi sedang berusaha meminimalisir penggunaan obat-obatan. Eh, malah harus si kecil yang diberi berbagai macam obat.

Anehnya lagi, meskipun tidak ada gejala batuk-pilek, si kecil tetap diresepkan obat batuk-pilek oleh dokter. Keanehan ini membuat saya semakin mantap membawanya pulang.

Di rumah, untuk penurun panas saya memberinya sirup cacing, jamu khusus untuk thypus dan demam tinggi. Meskipun penyembuhan berjalan lambat, namun akhirnya setelah 3 hari panasnya benar-benar hilang, dan kondisinya membaik.

Selama tiga hari saya benar-benar tidak kemana-mana, meninggalkan semua pekerjaan dan kegiatan, berkonsentrasi hanya untuk kesembuhan si kecil. Selama tiga hari itu, selain merawat si kecil, saya mulai mencari tahu hal-hal yang berhubungan dengan penyakit thypus, juga tentang kesehatan secara menyeluruh. Di momen tersebut, sebelumnya sudah ada beberapa perubahan positif yang saya lakukan berkaitan dengan kesehatan, seperti mulai kembali yoga dan mempelajari naturopati. Dari yoga dan ketertarikan saya pada naturopati serta homeopati inilah saya mem-follow akun twitter @rezagunawan, suami penulis Dee Lesatri, dan melalui salah satu tweet-nya lah saya dipertemukan dengan artikel tentang #kibulansusu yang ternyata ditulis oleh @erikarlebang tulisan itulah yang mulai membuat perubahan selanjutnya.

Saat membaca kumpulan tweet di web-nya tersebut, saya cukup terkejut dengan fakta-fakta yang dibeberkan mengenai keburukan susu. Apalagi saat itu saya sedang rutin mengonsumsi susu diet. Saya langsung mencermati dengan seksama gejala-gejala yang muncul di tubuh, seperti kembung, sariawan, migrain, dan pilek selama mengonsumsi susu tersebut.

Meskipun tidak langsung menghubungkannya dengan susu yang sedang saya konsumsi, tapi saya mencoba menghentikan konsumsinya. Saat itu saya berpikir begini : kalau benar gejala-gejala ini tidak muncul, saya akan follow akunnya :))

Si kecil pun ikutan berhenti minum sufor. Terhitung sejak bulan April, saya dan si kecil berhenti konsumsi susu. Hal signifikan pertama yang paling terasa ketika berhenti mengonsumsi susu adalah saya tidak mengalami nyeri haid, baiklah sebagian besar pasti berpikir kalau nyeri haid itu normal.

Awalnya saya pun belum terlalu percaya bahwa susu itu bukan minuman sehat, saya sempat berpikir kalau nyeri haid ini berkurang karena saya sudah jarang kembung. Saya pikir, kembung sering saya alami karena di pagi hari saya cuma mengonsumsi susu diet, tetapi setelah makan sedikit, kembung berkurang. Tapi kemudian saya mulai mencatat reaksi tubuh selepas mengonsumsi susu, dan mulai ‘ngeh’ bahwa setelahnya saya sering tiba-tiba bersin-bersin dan pilek.

Perubahan yang lebih signifikan terlihat pada anak saya, buang air besarnya yang dulu tidak teratur, setelah tidak mengonsumsi susu justru jadi sangat teratur, ia bahkan lebih nafsu makan, dan batuk-pileknya pun berhenti. Satu bulan kemudian, saya mulai merasa lebih baik, sariawan tidak muncul, dan tidak ada migrain dalam kurun satu bulan itu adalah sebuah kemajuan. Saya mulai membuang me****l dan berjanji tidak akan mengonsumsinya.

Dari kibulan susu, saya mulai mencermati tweet-tweet mengenai food combining. Sebagai follower baru, dan nggak mau rewel sendiri, saya memutuskan untuk membeli bukunya agar lebih paham arah, maksud, dan tujuan food combining. Selesai membaca bukunya, saya langsung merasa sreg dengan konsep yang ada. Buku tersebut cukup menyenangkan buat dibaca.

Bagi saya, food combining itu sederhana, natural, dan selaras dengan hukum alam. Tidak berhenti di satu buku, saya pun membeli buku yang ditulis oleh Hiromi Shinya. Dan kedua konsep yang dituliskan dalam buku tersebut dapat dikatakan berjalan beriringan dengan buku yang ditulis oleh Erikar Lebang. Saling melengkapi.

Lucunya lagi, terjadi sinkronisitas pada si kecil yang tiba-tiba berminat dengan sebuah buku bergambar berjudul Body Tour terbitan BIP, yang di dalamnya mengambarkan tentang bagaimana organ-organ tubuh bekerja, salah satunya adalah sistem pencernaan. Dari ilustrasi gambarnya, saya seperti disegarkan kembali ingatannya tentang kerja sistem pencernaan dan sinerginya dengan organ yang lain, saya jadi semakin memahami tujuan food combining.

Buku-buku tersebut membawa pemahaman bagaimana tubuh seharusnya bisa berproses secara alami dan selaras.

Akhir Mei, saya mulai coba-coba melakukan food combining yang masih jauh dari kata benar. Pagi mengonsumsi buah, lalu tidak menggabung protein hewani dengan karbo, dst, namun semua dilakukan masih dengan on-off. Meskipun begitu, saya mulai merasakan manfaat yang signifikan, tidak ada migrain, sakit perut tiba-tiba, nyeri haid, pilek, bahkan sariawan. Baru pada bulan Juli saya mulai mencoba menerapkannya dengan relatif benar. Tentu saja ‘benar’ di sini masih dalam tahapan pemula dan belajar, ya.

Tantangan terbesar ketika menjadi pemula adalah berhadapan dengan bulan puasa, bagaimana dengan food combiningnya? Ternyata aturan yang harus diterapkan selama bulan puasa bisa dibilang tidak memberatkan. Bahkan membuat segalanya lebih sederhana.

Ramadhan tahun lalu selalu sibuk memikirkan takjil, makanan atau minuman manis untuk buka puasa, sekarang dua gelas air putih dilanjutkan dengan buah potong atau jus buah tanpa gula rasanya sudah lebih dari cukup, dilanjutkan dengan makanan yang sesuai padu-padannya.

Sahur yang tadinya nasi+lauk pauk dan selalu ditambah dengan segelas susu, kini digantikan dengan aneka buah-buahan. Alhamdulillah, selama puasa, buah-buahan tersebut mendukung performa tubuh dengan baik untuk berkegiatan sepanjang hari, bahkan ketika saya berolahraga di pagi hari pun, tubuh tetap bugar sampai menjelang buka.

Hmmm...*tarik napas dulu :))
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...