Tuesday, August 14, 2012

Entropi VS Sintropi

Postingan ini ditulis dalam rangka memperingati satu bulan saya melakukan perubahan dalam pola makan. Mungkin kedengarannya sepele, tapi perubahan ini benar-benar memberikan efek yang cukup signifikan bagi kesehatan. Sebelumnya, ada banyak keluhan-keluhan yang meski kecil namun kerap saya rasakan, nyaris setiap hari. Misalnya, bersin-bersin yang nyaris terjadi setiap hari dan berlanjut menjadi pilek, kemudian sariawan yang setidaknya terjadi sekali dalam sebulan, keluhan migrain yang sering datang tiba-tiba, dan nyeri saat datang bulan yang kadang sampai menganggu aktivitas.

Keluhan di atas sepertinya terasa ringan, bisa hilang dengan konsumsi obat yang dijual bebas, padahal saya sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh saya. Selama tidak harus masuk rumah sakit maka sama seperti kebanyakan orang, keluhan semacam itu ya, menjadi seperti rutinitas, kalau mulai terasa sakit, ya minum obat. Saya pun hidup dengan keluhan tersebut nyaris 30 tahun tanpa berpikir untuk membuat sebuah perubahan.

Sampai kemudian, di usia 26 tahun saat saya hamil dan melahirkan, saya mulai serius memikirkan kesehatan tubuh, bukan cuma tubuh sendiri, tapi juga si kecil. Banyak sekali perubahan yang saya alami setelah melahirkan, sayangnya ada beberapa yang bukan merupakan perubahan baik, salah satunya adalah mengonsumsi obat sakit kepala yang dosisnya mulai di luar kewajaran. Meskipun ketika itu semuanya berjalan normal, saya tetap merasa bahwa cara saya memperhatikan kesehatan tubuh jauh dari kata ideal. Saya mulai diet asal-asalan selepas masa menyusui si kecil dengan tujuan dangkal, ingin berat badan kembali di angka sebelum hamil dan melahirkan. Meskipun pada titik tertentu saya berhasil, saya tetap tidak merasa sesehat sebelumnya.

Kemudian saat masa menyusui selesai, saya mencoba memberi si kecil susu formula yang direkomendasikan banyak orang, yang iklannya di televisi menjanjikan terbentuknya ‘generasi ajaib'. Iklan yang melenakan. Apalagi sejak minum sufor si kecil makin gembil, dan begitulah masyarakat luas memberi cap, bayi yang sehat adalah bayi yang gembil,montok. Semua berlangsung hingga si kecil nyaris menginjak usia empat tahun. Selama itu, saya belum terlalu menyadari bahwa setidaknya setiap dua bulan sekali si kecil pasti mengalami keluhan batuk-pilek. Keluhan semakin terasa ketika ia berganti jenis susu dari yang soya-based ke susu sapi, tepat setelah ulang tahunnya yang keempat. Tak lama setelah mengonsumsi susu itu, ia terkena diare. Seminggu kemudian, badannya panas tinggi selama beberapa hari dan tidak kunjung turun. Ini pertama kalinya selama empat tahun ia sakit panas tinggi dan tidak langsung sembuh oleh obat penurun panas. Setelah dibawa ke dokter, si kecil didiagnosis gejala thypus dan harus diopname. Saya merasa tidak rela, lalu memutuskan untuk merawatnya sendiri di rumah. Ketidakrelaan ini berasal dari keengganan saya untuk membiarkan si kecil diberi berbagai macam obat-obatan. Saat itu, saya pribadi sedang berusaha meminimalisir penggunaan obat-obatan. Eh, malah harus si kecil yang diberi berbagai macam obat. Anehnya lagi, meskipun tidak ada gejala batuk-pilek, si kecil tetap diresepkan obat batuk-pilek oleh dokter. Keanehan ini membuat saya semakin mantap membawanya pulang.

Di rumah, untuk penurun panas saya memberinya sirup cacing, jamu khusus untuk thypus dan demam tinggi. Meskipun penyembuhan berjalan lambat, namun akhirnya setelah 3 hari panasnya benar-benar hilang, dan kondisinya membaik. Selama tiga hari saya benar-benar tidak kemana-mana,meninggalkan semua pekerjaan dan kegiatan, berkonsentrasi hanya untuk kesembuhan si kecil. Selama tiga hari itu, selain merawat si kecil, saya mulai mencari tahu hal-hal yang berhubungan dengan penyakit thypus, juga tentang kesehatan secara menyeluruh. Di momen tersebut, sebelumnya sudah ada beberapa perubahan positif yang saya lakukan berkaitan dengan kesehatan, seperti mulai kembali yoga dan mempelajari naturopati. Dari yoga dan ketertarikan saya pada naturopati serta homeopati inilah saya mem-follow akun twitter @rezagunawan, suami penulis Dee Lesatri, dan melalui salah satu tweet-nya lah saya dipertemukan dengan artikel tentang #kibulansusu yang ternyata ditulis oleh @erikarlebang tulisan itulah yang mulai membuat perubahan selanjutnya.

Saat membaca kumpulan tweet di web-nya tersebut, saya cukup terkejut dengan fakta-fakta yang dibeberkan mengenai keburukan susu. Apalagi saat itu saya sedang rutin mengonsumsi susu diet. Saya langsung mencermati dengan seksama gejala-gejala yang muncul di tubuh, seperti kembung, sariawan, migrain, dan pilek selama mengonsumsi susu tersebut. Meskipun tidak langsung menghubungkannya dengan susu yang sedang saya konsumsi, tapi saya mencoba menghentikan konsumsinya. Saat itu saya berpikir begini : kalau benar gejala-gejala ini tidak muncul, saya akan follow akunnya :))

Si kecil pun ikutan berhenti minum sufor. Terhitung sejak bulan April, saya dan si kecil berhenti konsumsi susu. Hal signifikan pertama yang paling terasa ketika berhenti mengonsumsi susu adalah saya tidak mengalami nyeri haid, baiklah sebagian besar pasti berpikir kalau nyeri haid itu normal. Awalnya saya pun belum terlalu percaya bahwa susu itu bukan minuman sehat, saya sempat berpikir kalau nyeri haid ini berkurang karena saya sudah jarang kembung. Saya pikir, kembung sering saya alami karena di pagi hari saya cuma mengonsumsi susu diet, tetapi setelah makan sedikit, kembung berkurang. Tapi kemudian saya mulai mencatat reaksi tubuh selepas mengonsumsi susu, dan mulai ‘ngeh’ bahwa setelahnya saya sering tiba-tiba bersin-bersin dan pilek.

Perubahan yang lebih signifikan terlihat pada anak saya, buang air besarnya yang dulu tidak teratur, setelah tidak mengonsumsi susu justru jadi sangat teratur, ia bahkan lebih nafsu makan, dan batuk-pileknya pun berhenti. Satu bulan kemudian, saya mulai merasa lebih baik, sariawan tidak muncul, dan tidak ada migrain dalam kurun satu bulan itu adalah sebuah kemajuan. Saya mulai membuang me****l dan berjanji tidak akan mengonsumsinya.

Dari kibulan susu, saya mulai mencermati tweet-tweet mengenai food combining. Sebagai follower baru, dan nggak mau rewel sendiri, saya memutuskan untuk membeli bukunya agar lebih paham arah, maksud, dan tujuan food combining. Selesai membaca bukunya, saya langsung merasa sreg dengan konsep yang ada. Buku tersebut cukup menyenangkan buat dibaca, suami saya yang males baca buku yang isinya panjang-panjang sangat terbantu dengan cara penulisannya.

Bagi saya, food combining itu sederhana, natural, dan selaras dengan hukum alam. Tidak berhenti di satu buku, saya pun membeli buku yang ditulis oleh Hiromi Shinya. Dan kedua konsep yang dituliskan dalam buku tersebut dapat dikatakan berjalan beriringan dengan buku yang ditulisoleh Erikar Lebang. Saling melengkapi. Lucunya lagi, terjadi sinkronisitas pada si kecil yang tiba-tiba berminat dengan sebuah buku bergambar berjudul Body Tour terbitan BIP, yang di dalamnya mengambarkan tentang bagaimana organ-organ tubuh bekerja, salah satunya adalah sistem pencernaan. Dari ilustrasi gambarnya, saya seperti disegarkan kembali ingatannya tentang kerja sistem pencernaan dan sinerginya dengan organ yang lain, saya jadi semakin memahami tujuan food combining. Buku-buku tersebut membawa pemahaman bagaimana tubuh seharusnya bisa berproses secara alami dan selaras.

Akhir Mei, saya mulai coba-coba melakukan food combining yang masih jauh dari kata benar. Pagi mengonsumsi buah, lalu tidak menggabung protein hewani dengan karbo, dst, namun semua dilakukan masih dengan on-off. Meskipun begitu, saya mulai merasakan manfaat yang signifikan, tidak ada migrain, nyeri haid, pilek, bahkan sariawan. Baru pada bulan Juli saya mulai mencoba menerapkannya dengan relatif benar. Tentu saja ‘benar’ di sini masih dalam tahapan pemula dan belajar, ya.

Tantangan terbesar ketika menjadi pemula adalah berhadapan dengan bulan puasa, bagaimana dengan food combiningnya? Ternyata aturan yang harus diterapkan selama bulan puasa bisa dibilang tidak memberatkan. Bahkan membuat segalanya lebih sederhana. Ramadhan tahun lalu selalu sibuk memikirkan takjil , makanan atau minuman manis untuk buka puasa, sekarang dua gelas air putih dilanjutkan dengan buah potong atau jus buah tanpa gula rasanya sudah lebih dari cukup, dilanjutkan dengan makanan yang sesuai padu-padannya. Sahur yang tadinya nasi+lauk pauk dan selalu ditambah dengan segelas susu, kini digantikan dengan aneka buah-buahan. Alhamdulillah, selama puasa, buah-buahan tersebut mendukung performa tubuh dengan baik untuk berkegiatan sepanjang hari, bahkan ketika saya berolahraga di pagi hari pun, tubuh tetap bugar sampai menjelang buka.

Hmmm...*tarik napas dulu :))
Tulisan kali ini lumayan panjang ya...beberapa mungkin bertanya-tanya arah dan tujuan tulisan ini. Promosi bukunya orang? Pamer perubahan? Atau apa...? Sejujurnya ini cuma sebuah langkah kecil saya untuk berbagi dan menjadi bermanfaat lewat tulisan.

Sebelum lebih jauh, coba nyalakan televisi dan mulai cermati representasi dunia kita di layar kaca? Terusikkah Anda dengan iklan-iklan susu yang bintangnya ‘anak-anak ajaib’ yang sudah bisa mengancingkan baju sendiri, sementara anak Anda di rumah, mandi dan pakai baju saja harus dikejar-kejar? Terusikkah melihat anak usia dini sudah bisa menarik garis lurus, membuat rangkaian gambar metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu, dan gambaran ‘anak ajaib’ lainnya, sementara anak Anda adalah...ya, hanyalah anak-anak?

Terusikkah dengan bagaimana produsen mie instan memasang anak-anak sebagai role-modelnya, padahal di rumah Anda berusaha membatasi konsumsi produk instan berpengawet? Terusikkan Anda jika ada yang bilang kalau minuman A lebih baik dari air putih, dan kandungan minuman B disetara-setarakan dengan C?

Manusia yang memproduksi berusaha mencari jalan agar manusia lain mengonsumsi, kadang dengan mengorbankan akal sehat, hati nurani, dan melawan hukum alam...beberapa yang mencipta tidak sadar bahwa mereka juga sedang menghancurkan. Itulah sebagian cerminan dunia masa kini kita. Dunia yang bergerak menuju entropi atau pembusukan, kehancuran. Dunia yang semakin jauh dari akarnya, semakin melawan hukum alam, semakin tidak selaras, dan kehilangan keseimbangan.

Hal-hal buruk dikemas sedemikian rupa sehingga diminati banyak orang, sementara hal-hal baik terlihat begitu rumit dan tersembunyi. Padahal, manusia bukan cuma dibekali oleh thanatos, tapi juga eros. Manusia diberikan kesempatan untuk melakukan sintropi, mengerem laju kehancuran itu sendiri, mengerem proses laju entropi menuju regenerasi, keseimbangan, dan perbaikan.

Terakhir, mengutip kata-kata Dahlan Iskan, jika saya ditakdirkan berumur pendek, saya ingin hidup sehat, produktif, dan bermanfaat bagi orang lain. Jika saya ditakdirkan berumur panjang, saya pun tidak mau hidup sakit-sakitan dan menyusahkan orang lain. Dan semoga perubahan yang saya lakukan ini dapat berkontribusi bagi kesehatan jasmani dan rohani.

Semoga tulisan ini bermanfaat :)
NB : Terima kasih, Mas Erikar Lebang yang sudah membagikan ilmunya di buku Mitos dan Fakta Kesehatan, semoga banyak yang semakin sadar dengan kebaikan-kebaikan 'tersembunyi' di muka bumi ini.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...