Friday, November 9, 2012

Writer's Room & Author's Desk : Part #3

Jika sebelumnya dibahas tentang dua tempat kerja milik penulis perempuan. Sekarang, kita lihat bagaimana ruang kerja milik seorang master paradoks, George Bernard Shaw. Shaw mendatangi sebuah tempat di usianya yang ke-50 tahun pada tahun 1906: The Hertfordshire village of Ayot St Lawrence. Di masa itu, tempatnya bisa dibilang aneh karena tidak memiliki stasiun kereta, hanya memiliki satu buah toko, dua gereja, dan tidak ada pengantar surat kabar. Mungkin Shaw memang sengaja mencari tempat yang dapat memberinya privasi pada saat menulis. 

Shaw Corner
Rumahnya merupakan sebuah villa suburban yang sebelumnya digunakan sebagai rektori. Shaw tinggal di rumah tersebut hingga ia meninggal pada tahun 1950. Ruang kerjanya disebut dengan "Shaw's Corner", kadang pondok menulisnya juga dikenal sebagai "summer house". Pondoknya ini dilengkapi dengan pemanas elektrik, mesin tik, bangku tidur, dan telepon yang tersambung ke rumahnya, yang biasa ia gunakan saat ada keadaan mendesak, seperti makan siang.  

Ternyata, privasi bukan satu-satunya hal yang menjadi syarat utama tempat kerja para penulis. Charles Darwin, misalnya. Meskipun ia menyukai tempat yang tenang dan nyaman, namun pintu ruang kerjanya tidak pernah tertutup sepenuhnya. Ia membiarkan anaknya masuk dan bermain-main di dalam ruang kerja. Ia membiarkannya bermain dengan kursi duduk yang berbentuk bulat dan menggunakan tongkat berjalannya untuk mendayung, seolah kursi bulat itu adalah perahunya.


Di ruang kerja inilah Darwin menulis the Origin of Species, dan di ruang ini jugalah ia menghadapi badai kritik atas karyanya.Saat menulis, ia biasa duduk di kursi kulit berwarna hitam dengan papan penyeimbang di lututnya. Ruangannya dipenuhi dengan potrait istri dan teman-teman dekatnya. Darwin dikenal sebagai seorang suami dan ayah yang hangat. Saat sedang menulis, ia juga secara teratur melakukan break dengan berjalan-jalan di sekitar kebunnya.

Jika yang sudah-sudah dibahas tentang para penulis yang memiliki ruang khusus, bahkan sampai membuat pondokan khusus untuk ruang kerjanya, Jonathan Safran Foer justru bekerja di ruang publik, tepatnya yaitu di New York Public Library, di Rose Reading Room of the 42nd Street Branch.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...