Tuesday, December 10, 2013

Belajar Calistung : Latihan Menulis Untuk Anak Usia 3-5 Tahun

propertinya Ezra waktu latihan menulis

Kapan waktu yang tepat ajari anak membaca, menulis, dan berhitung?

Pertanyaan itu sering kali muncul saat saya dan ibu-ibu atau para orangtua sedang berdiskusi tentang perkembangan anak. Apalagi kalau anaknya sebentar lagi mau masuk ke sekolah dasar.

"Gimana, nih? Mau masuk SD mana? SD yang itu harus bisa calistung dulu, ya?"
"Iya, sekolah A, tes masuknya ada tes calistung segala, padahal anakku belum bisa baca, apalagi nulis."

Tapi ada juga orangtua yang merasa cukup tenang karena sudah menemukan sekolah dasar yang tidak mewajibkan calon anak didiknya bisa menulis dan membaca terlebih dahulu.  

Meskipun begitu, kelak Calistung akan tetap menjadi salah satu keterampilan dasar yang harus dikuasai anak kita. Idealnya, anak usia di bawah usia lima tahun memang tidak boleh dipaksakan untuk sudah bisa membaca dan menulis dengan lancar. Tetapi bukan berarti kita tidak bisa menstimulasinya. 

Ada banyak cara untuk menstimulasi anak di bawah lima tahun untuk belajar menulis, membaca, dan berhitung dengan cara yang menyenangkan dan tidak membuatnya merasa tertekan. 

Latihan Menulis Untuk Si Kecil

Yang perlu digarisbawahi--terutama saat mengajari si kecil menulis--lihatlah terlebih dahulu keterampilan motorik halusnya. Apakah kemampuan motorik halusnya sudah siap dan koordinasinya baik, apakah cara memegang pensilnya sudah benar, apakah koordinasi antara gerakan mata dan tangannya sudah baik? Dsb.

Jika belum, maka yang perlu dilakukan adalah melatih kemampuan motorik halusnya terlebih dahulu. Jangan buru-buru mengajarinya menuliskan huruf atau angka, tetapi ajarkan si kecil untuk terbiasa memegang alat tulis terlebih dulu. Atau ajarkan ia untuk terampil menggunakan otot-otot halusnya. Hal itu juga berguna untuk melatih kemampuan motorik tangannya ketika memegang alat tulis. 

Ada banyak cara lho, untuk melatih kemampuan motorik halusnya, misalkan :

Monday, December 9, 2013

Hotel Review : Rumah Batu Villa & Spa

Waktu bertandang ke Solo kemarin, saya menginap di hotel ini. Lokasinya memang tidak di tengah-tengah kota, tetapi sebenarnya jaraknya juga nggak jauh-jauh amat dari kota. Kira-kira bisa ditempuh sekitar 15 sampai 20 menit dari Jl. Slamet Riyadi.

Hotel ini cocok buat yang ingin menepi sejenak dari suasana kota yang ramai dan sibuk. Atmosfer back to nature-nya sangat terasa berkat eksteriornya yang banyak menggunakan material alam sebagai penunjang. Hotel yang mengusung konsep green living ini juga memiliki fasilitas spa sebagai penunjang. Spa di sini menggunakan L'occitane sebagai produk perawatan wajah dan tubuhnya.

Secara keseluruhan, pelayanan hotelnya cukup memuaskan. Kamar tidur dan kamar mandinya bersih dan nyaman. Lingkungan hotelnya juga terasa tenang dan asri sekali. Yang kurang.cuma pilihan sarapan paginya. Hanya tersedia menu nasi goreng, mie goreng, omelet, dan buah-buahan potong. Menu makan paginya juga disajikan ala carte. Makanan yang ada di restaurannya, yang patut dicoba adalah Bistik Nyonya-nya. 

  

Pentingnya Menjaga Pakaian dan Mesin Cuci Tetap Bersih


Belakangan ini, setelah kami mulai sering melakukan clutter free project di rumah, rasanya makin sering deh, yang namanya nyuci. Terutama nyuci barang-barang yang sudah kita kelompokkan dalam kategori 'pakai kembali'. Karena mau dipakai kembali, biasanya barang-barang itu kan mesti kita cuci bersih dulu. Nah, kebanyakan dari barang-barang itu biasanya adalah gorden, aneka cushion, taplak-taplak, seprai, sarung bantal-guling, sampai bed cover. Karena ada mesin cuci yang kapasitasnnya lumayan. Jadi, beberapa barang tadi kami cuci sendiri di rumah. Sisanya, yang besar-besar dimasukkan ke tempat laundry. 

Ternyata ya, clutter free project itu juga bikin kita semakin menyadari pentingnya menjaga pakaian dan mesin cuci yang kita gunakan untuk selalu dalam keadaan bersih. 

Pernah membayangkan nggak bakteri apa saja yang ada di pakaian kotor Anda? Walaupun tidak terlihat, banyak jenis bakteri dan virus yang ada di pakaian kotor seperti E.Coli, salmonella dan virus hepatitis A. 

Menggunakan pemutih klorin bisa menjadi pilihan yang baik karena produk ini mengandung disinfektan untuk membunuh kuman. Namun selalu ikuti petunjuk keselamatan dan pemakaian yang tertera di label sebelum menggunakannya. Ada beberapa jenis pakaian yang tidak disarankan untuk menggunakan pemutih karena dapat merusaknya. Deterjen yang baik akan membantu membersihkan kotoran yang menempel di pakaian kita dari kegiatan sehari-hari dan membuatnya menjadi wangi dan terlihat rapi. 

Dengan melakukan beberapa langkah tambahan sederhana berikut ini, Anda akan mengurangi kuman di cucian dan mesin cuci Anda. Berikut ini adalah beberapa tipsnya:

Seberapa Sering sih Kita Harus Mencuci? 
Mungkin ini salah satu pertanyaan yang sering diajukan. Tentunya jawaban yang mudah adalah setiap kali selesai digunakan! Memang pakaian seperti t-shirt, pakaian dalam dan kaus kaki harus dicuci setiap kali sehabis digunakan, namun pada beberapa jenis pakaian seperti celana jeans bisa dipakai beberapa kali sebelum dicuci. 

Sebuah lembaga bernama American Cleaning Institute menyarankan untuk mencuci berbagai macam jenis pakaian dengan rentang waktu sebagai berikut: 
  • Sprei: cuci sprei Anda paling tidak tiap 2 minggu sekali. Jika Anda mempunyai badan yang lebih mengeluarkan keringat, Anda harus mencucinya lebih sering. 
  • Jeans: celana jeans biasanya dapat digunakan selama 3 kali sebelum dicuci. Ikuti petunjuk di label perawatan dalam memastikan cara mencuci jeans yang disarankan untuk menjaganya tetap awet. 
  • Handuk : cuci handuk anda setelah 3 atau 4 kali digunakan, atau lebih sering jika handuk tersebut dipakai untuk kegiatan olahraga. Biasakan menggantung handuk dengan baik untuk mempercepat proses pengeringannya. 
Mesin Cuci Juga Perlu Dibersihkan 

Ternyata bukan hanya pakaian yang harus dicuci, namun mesin cuci juga perlu dibersihkan. Terkadang kita lupa, mungkin hanya membersihkan bagian luarnya saja, atau bahkan tidak pernah melakukan hal ini. Membersihkan mesin cuci sangat penting untuk membuang kotoran dan kuman yang menumpuk dari beberapa cucian sebelumnya. Terlebih jika Anda baru saja mencuci pakaian kotor yang penuh dengan noda lumpur atau noda berat lainnya. 

Berikut langkah membersihkan jenis mesin cuci berbeda yang bisa diterapkan dengan mudah: 
  • Untuk mesin cuci front-loading (bukaan depan), jalankan mesin cuci dalam keadaan kosong dengan menggunakan siklus cuci 40 derajat. Masukkan sekitar dua cangkir cuka putih ke dalam laci deterjen untuk membantu menghilangkan bau. 
  • Untuk mesin cuci top-loading (bukaan atas), langkahnya serupa dengan mesin cuci front-loading. Jalankan mesin cuci dalam keadaan kosong dengan siklus panas. Saat mesin cuci sudah mulai berguncang, masukkan sekitar tiga setengah cangkir cuka putih ke dalamnya dan tunggu hingga selesai. 
Jika dirasa perlu, ulangi langkah diatas sekali lagi. Jadi pastikan Anda mencuci pakaian dan membersihkan mesin cuci dengan teratur. Lebih baik mencegah daripada mengobati bukan?

This post is sponsored by Rinso

Sunday, November 24, 2013

Travel : Solo City

Udah lama banget kepengin main ke kota ini. Sejak Eyang saya meninggal dan rumah keluarga besar dijual--hiks--saya dan keluarga jarang banget mampir ke kota ini. Padahal dulu hampir setiap lebaran kita mudik ke Boyolali dan Solo. 

Beberapa minggu yang lalu, saya meluangkan waktu buat nengokin Pakde-Bude. Sebenernya, agenda perginya berlapis: ada yang mau survei sambil kerja, ada yang setengahnya pingin ngabur dari deadline sambil liburan ekspres :D

Intinya melepas kepenatanlah. Dan Solo, menurut saya, kota yang tepat buat ngabur dari keramaian. Atmosfernya hangat, dan banyak tempat menyenangkan yang bisa dieksplor.  Saya sih, penasaran sama keratonnya, dan udah lama banget pingin masuk ke dalemnya dalam rangka riset buat cerita. Jadi deh, agenda main ke keraton dimasukin dalam daftar jalan-jalannya. 

Pas di keraton, kita beli tiket untuk tiga orang harganya 8000/orang. Terus waktu mau foto sama prajurit yang lagi jaga di depannya, kita juga kasih salam tempel 10.000 rupiah (sesuai anjuran penjaga tiket masuknya). 

Selain foto-foto, kita juga bisa eksplor museumnya. Banyak yang bisa diliat, sih. Suami yang asyik foto-foto, tapi sayanya malah agak buru-buru. Nggak tau kenapa, abis beberapa kali kayak merinding-rinding mulu :D.

Setelah dari museum, kita sengaja tur naik becak, abis mataharinya lagi terik banget, jadi kayaknya males kalo musti muter-muter komplek keraton sambil jalan kaki. Ongkos becaknya 30ribu perak. Kita dibawa keliling liat Kebo Bule, komplek-komplek keraton, Kampung Batik Kauman, dan Pasar Klewer. Mamang becaknya lumayan banyak cerita tentang ini-itu. Jadinya, sambil liat-liat, dengerin mamang becaknya cerita macem-macem. 

Selain Keraton Solo, banyak juga spot wisata yang bisa dikunjungi di kota Solo ini. Ada Galabo atau tempat wisata kuliner malam, Taman Sriwedari, dsb. Kemarin kita juga menyempatkan untuk mengunjungi beberapa tempat lain, seperti Pasar Malam Ngarsopuro, dan Pasar Barang Bekas. 

Yang ngga boleh dilewatkan tentu saja kulinernya. Di agenda kita, ada tiga spot wisata kuliner yang pengin kita coba. Pertama Kedai Tiga Tjeret, angkringan yang menyajikan aneka nasi kucing dan ubo rampenya (aneka sate). Suka banget sama nasi kucing yang rasa daging terik. Kedua, Selat Solo Mbak Lies dan yang ketiga Es Dawet Pasar Gede. tiga-tiganya, kalau menurut kita patut dicoba lhoo.  

Lokasi Selat Solo Mbak Lies, awalnya agak susah menemukannya. Tapi setelah tanya sana-sini, terutama tukang parkirnya, akhirnya ketemu juga, deh. Lokasinya memang masuk ke dalam sebuah gang gitu. Sementara kalau yang Es Dawet, kita harus blusukan ke dalam Pasar Gede untuk bisa mencicipi dawetnya yang maknyuss ini.

Travel : Ekowisata Taman Air Tlatar & Etasia Woodball

Di perjalanan menuju kota Solo beberapa minggu yang lalu, saya menemukan tempat yang lumayan menyenangkan untuk mengajak si kecil main-main air dan menangkap ikan. Lokasi Ekowisata Taman Air Tlatar ini, kalau dari arah Semarang menuju ke Solo, ada di sebelah kiri jalan. Patokannya setelah Hotel Ayu, di seberang jalannya ada baliho besar yang memberitahukan lokasi tempat wisata ini. Selanjutnya, setelah hotel tersebut, baru belok ke kiri. Setelah kurang lebih perjalanan selama 4,5 km, sampai, deh ke lokasi yang dimaksud. 

Tempat keceh ini menyuguhkan pemandangan yang lumayan menyejukkan mata. Kolam kecehnya cukup luas, ikan-ikannya banyak. Si kecil yang penasaran sama ikan, bisa main-main di dalam kolam sambil mencoba menangkapnya dengan jaring yang bisa dibeli seharga 5000 rupiah.  Selain tempat main air, ada juga kolam renang, fish spa, pemancingan, dan tempat makan lesehan.

Untuk makanannya, ada banyak pilihan hidangan berbahan dasar ikan dalam porsi yang lumayan besar. Mulai dari lele hingga gurami bakar. Jadi, bisa buat makan bareng-bareng. Minuman yang menurut saya enak sih, es asem sama dawetnya. Ada juga penjual yang menjajakan camilan lain seperti rujak dan gorengan. 

Nah, kalau Etasia Woodball ini adalah semacam hutan mini yang bisa dipakai buat outbond dan main woodball. Di sana ada beberapa wahana yang bisa dicoba buat anak seumuran Ezra (5y11m), yaitu outbond, meniti tali, dan labirin. Tempatnya lumayan juga lho, bisa jalan-jalan di hutannya yang hijau dan melepaskan penat sebelum melanjutkan perjalanan ke Solo.  

Friday, September 6, 2013

Leap of Faith

gambar dari sini

Gambar dari sini

Gambar dari sini
Hidup ini serangkaian pilihan, kadang nggak semua hal bisa kita lakoni dalam satu waktu, terkadang juga, kebutuhan-kebutuhan mengalahkan daftar prioritas yang sudah kita susun.

Saya nyadar, gampang banget menuliskan sederet kalimat di atas itu, padahal untuk bisa ‘walk the talk' ; bergerak dari apa yang sudah kita yakini dan menjadikannya suatu tindakan, ternyata nggak gampang.

Di antara banyak pilihan sejak bangun tidur hingga tidur lagi, kita juga dihadapkan dengan yang namanya keinginan, impian, dan target. Seringnya, kalau mau buka mata dan hati lebar-lebar, semua yang tadi saya sebutkan itu sering kalah sama yang namanya kebutuhan.

Belakangan saya mulai belajar kalau penggerak perilaku yang paling kuat itu bukan keinginan apalagi impian, melainkan kebutuhan. Kalau suatu hal sudah menjadi kebutuhan (yang mana kita nggak bisa ‘hidup’ tanpa hal itu) maka kita akan punya energi ekstra untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kita akan bangkit dan memaksakan diri untuk memenuhinya meskipun berat, meskipun jauh, meskipun harus menunggu dalam jangka waktu yang lama.

Masalahnya, kita sering menukar-nukar posisi antara kebutuhan dan keinginan. Yang tadinya cuma keinginan biasa, seolah jadi kebutuhan yang harus dipenuhi, sementara yang benar-benar menjadi kebutuhan, justru sering kita pinggirkan. Belajar memilah keduanya memang nggak gampang. Nyaris seperti berusaha memisahkan minyak dengan air, yang batasnya jelas, tetapi sulit dipisahkan kalau sudah tercampur.

Dan…(saatnya pengakuan)

Saturday, August 31, 2013

Botol Kenangan

gambar dari sini

Teluk Kiluan, senja hari. 
Kau tertambat di sana; berdiri di bibir pantai yang berpasir putih sambil memandangi gulungan ombak yang menyeret pulang sebuah botol kaca. Di dalamnya ada banyak sekali kenangan; berpendaran seperti kunang-kunang yang terperangkap. 

Aku melihatmu membuka sumbatnya. Kautuangkan isinya ke telapak tangan. Kupikir, senja akan berubah gemerlap, tetapi justru pasir yang mengalir dari dalamnya. Rupanya kisah-kisah yang kaukumpulkan telah melapuk dimakan deburan ombak dan hantaman karang. Hancur menjadi butiran pasir. Kaupandangi butiran pasir yang mulai berterbangan dari telapak tanganmu dengan tatapan kosong. Kau bergeming meskipun langit telah menghitam dan tubuhmu telah beralih menjadi siluet. 
*** 

Wake Me Up When September Comes

Bulan Agustus udah mau habis aja, ya. Ada banyak cerita yang ketinggalan buat disimpan. Bisa dibilang Agustus kemarin itu rasanya bittersweet
 
Awal Agustus diawali dengan datang ke acara Kumpul Ramadhannya Penerbit GagasMedia yang dihadiri penulis dan pembaca. Momennya pas banget karena awal Agustus sedang di Jakarta. Acara dengan GagasMedia lumayan seru, diawali dengan nonton Teater Bintang di Planetarium Jakarta, dilanjutkan dengan sesi talkshow, lelang, dan ketemu serta kenalan dengan banyak penulis lainnya. Mumpung di Jakartanya agak lama, sekalian deh, jalan-jalan sama adik tercinta dan buka puasa bersama dengan the [V]; sahabat-sahabat semasa kuliah s1 yang sekarang sebagian besar bermukimnya di Jakarta.

Ini beberapa foto yang berhasil diabadikan.

Para Penulis di Acara Kumpul Ramadhan GagasMedia

Bukber The V, Gandaria City


Agustus juga mulai disibukkan dengan aktivitas-aktivitas baru. Beberapa di antaranya adalah pembuatan website untuk Sarekat Penulis Kuping Hitam (saya ikut berkontribusi menulis cerpen di sini, sementara webnya dibuat oleh software engineer andalan SPKH @mailindra) dan website untuk Daily Hijab Fashion Inspiration. Ini dia proyek-proyek yang sudah terwujud itu.

Sisanya, mari bersemangat menyambut September.

 
Website Kuping Hitam, KLIK DI SINI


Daily Hijab Inspiration KLIK DI SINI

Thursday, July 18, 2013

Orkes Simfoni Selepas Hujan

Ini adalah penggalan puisi yang saya ambil dari naskah berjudul Rhythm of The Rain yang sedang saya edit belakangan ini. Saya mencoba untuk memusikalisasikan penggalan puisi tersebut; menyandingkannya dengan instrumentalia dari Yiruma yang berjudul Kiss The Rain. Ini salah satu cara agar saya bisa lebih semangat untuk memperbaiki naskahnya. 

Rekaman ini bisa dibilang postingan perdana saya di Soundcloud, dan hasilnya agak berantakan :). Masih terdengar suara gemerisik kertas-kertas, dan suaranya...uhmmm(bersihin tenggorokan) sengau nggak jelas karena sedang flu. Sudah minta pendapat suami, katanya: "kamu sambil nangis ya, baca puisinya?" :)

Sila disimak dan kasih komentar, ya.


Wednesday, July 17, 2013

Pemenang Give Away: Bagi Bagi Buku Gratis Part 3

Halo,
Terima kasih banyak buat teman-teman dan pembaca blog yang sudah berpartisipasi dengan mengikuti give away: Bagi-Bagi Buku Gratis Part 3 dengan mengirimkan flash fiction bertema 'Rintangan'.

Setelah membaca cerita yang dikirimkan; dengan berbagai penilaian dari isi cerita, ejaan, tata bahasa, dan sebagainya. Pemenang GA bertema 'Rintangan' kali ini adalah:
  1. Rini Ramli
  2. Reni Judhanto
  3. Arga Litha
Ketiga pemenang tersebut, masing-masing akan mendapatkan hadiah berupa paket buku senilai @100.000 rupiah. Untuk alamat pengiriman hadiah, sila japri ke : nia.nurdiansyah@yahoo.com ya.

Oh ya, sekalian juga; ada beberapa catatan dari cerita-cerita yang sudah dikirimkan. Ini berkaitan dengan hal-hal yang elementer seperti penulisan huruf, penulisan kata, penggunaan tanda baca, dan sebagainya.

Dari cerita-cerita yang dikirimkan, masih banyak yang tidak menyadari kesalahan-kesalahan dalam hal-hal tersebut. Ini beberapa yang berhasil saya garis bawahi :
  1. Pemakaian tanda petik. Tanda petik ("....") ini mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lan. Contoh: "Aku sudah melakukan semua yang perlu," ujar Suri. Perhatikan bahwa setelah tanda petik kata (ujar) yang mengikutinya diawali dengan huruf kecil. Dari cerita yang dikirimkan, masih ada yang menuliskannya dengan huruf besar.
  2. Partikel pun seharusnya ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Contoh : Apa pun yang aku lakukan tidak mengubah pendiriannya. Kelompok yang lazim disambung atau ditulis serangkai adalah: adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, dan walaupun.
  3. Ada beberapa kata atau frasa yang bila diletakkan di awal kalimat seharusnya diikuti dengan tanda koma (,). Contoh: Agaknya,... Akan tetapi,... Akhirnya,... Akibatnya,...Jadi,..., dst.
Oke. Mungkin itu dulu catatan tentang tata cara penulisannya, ya. Saya juga masih belajar, kok. Jadi, bisa sama-sama saling berbagi tip penulisan. Pada saat menulis cerita, khususnya cerpen, novel, dan bahkan artikel ilmiah, kita wajib belajar tata bahasa dan cara penulisan yang baik dan benar supaya bisa menghasilkan tulisan yang enak dibaca. Kita juga harus tahu mau menyampaikan ide kita dalam bentuk apa? Puisi, prosa pendek, cerpen, flash fiction? Semua ada ketentuannya. Dengan belajar dan memahami ketentuan yang berlaku secara umum, tulisan kita akan lebih mudah dicerna dan diterima dengan baik oleh pembaca.  
Salam,

Mental Blocked : Being Perfectionist

" a writer who waits for ideal conditions under which to work will die without putting a word on paper."
Uhmmm, itu bener banget. Lagi sering kejadian sama saya. Kalau lagi mau mulai nulis, bawaannya pingin bersih-bersih meja dulu lah, ngepel dulu lah, nuntasin urusan cucian dulu lah. Terus, kalau udah beres keburu energinya habis; keburu capek duluan dan ended up bikin excuses: istirahat dulu beberapa menit kali, ya. Terus malah buka internet; browsing, nengok medsos. Nah kan, waktu berkualitas buat nulisnya melayang begitu saja. Hilang fokus dan jadi susah tune in lagi.

Setelah dipikir-pikir. Kebiasaan kayak gini tuh, nggak boleh berlanjut. Saya lalu mulai mencari tahu kira-kira apa penyebab semua ini. Setelah dirunut-runut, saya berkesimpulan kalau sikap kayak gini tuh berakar dari kecenderungan sifat yang perfeksionis. Serius, deh. Akhirnya saya nyadar kalau sifat ini tuh, nggak bagus-bagus amat kalau porsinya kebesaran. Malah cenderung kompulsif. Makanya di sini saya tulis berjanji pingin mengurangi kadarnya.

Dalam hal pekerjaan menulis kaitannya dengan sifat perfeksionis itu begini: Kita ingin menghasilkan tulisan yang bagus dan mulai berpikir kalau lingkungan atau kondisi tempat kerja kita bagus maka cara kerja kita juga akan ikut menjadi bagus. Uhmm, pikiran kayak gini nggak salah juga, sih. Tapi cenderung dangkal dan shortcut semacam ini bisa menjerumuskan kita pada sebuah mental blocked.

Mental blocked? Serius amat. Yes. Ini adalah ‘racun’ paling mematikan buat kreativitas. Dan kalau menurut saya, perfeksionis adalah salah satu bentuk mental blocked yang kalau dimanja justru akan jadi ‘dikasih hati minta jantung’. Bener, deh.

Penjelasan tentang mental blocked, saya rumuskan begini: Pertama, dengan memanjakan mental blocked being perfeksionis, kita justru melatih diri sendiri untuk berfungsi optimal hanya pada kondisi yang ideal, padahal kan kenyataannya nggak bisa selalu seperti itu. Tuntutan sehari-hari yang ditemui, kita justru harus bisa berfungsi optimal dalam keadaan apa pun termasuk yang chaos.

Karena kondisi harus ideal dulu maka sebelum melakukan inti dari tugas yang harus diselesaikan kita berupaya untuk memperbaiki kondisi lingkungan atau penunjangnya, dan berpikir bahwa tindakan itu akan banyak membantu dalam menyelesaikan tugas utama. Seringnya, kita berhasil mengubah kondisi lingkungan dan mengoptimalkan penunjang, tapi nggak berhasil menyelesaikan tugas utama.

Analoginya, kita ambil contoh pekerjaan di dapur, deh.

Ceritanya kita mau bikin hidangan spesial buat makan malam. Sudah tahu mau masak apa dan bahan-bahan sudah disiapkan. Lalu kita ngomong pada diri sendiri: "Kayaknya enak nih, kalau sebelum mulai masak kita bersih-bersih dapur dulu, biar enak masaknya. Kalau dapur bersih pasti moodnya tambah oke, masakan juga pasti jadinya lebih enak. Sehabis itu melirik ke peralatan dapur. Enak nih, kalau pisaunya di asah dulu, terus itu kompor dibersihin dulu kali ya, bagian bawahnya biar kinclong. Masak harus bersih dan higienis juga dong."

Terus...terus, tahu-tahu udah jam makan malam. Dapur kinclong, kompor mengilat, pisau setajam silet. Tapi mana masakannya?

Nah, gampang kan kalau udah dianalogikan sama kegiatan dapur. Ini saya kasih tambahan buat bahan renungan:

@Quotes4writers: Every excuse is a goal. Yes! We say we want to write but instead come up with excuse after excuse not to. So we make that excuse our goal.

Jadi, mental blocked being perfectionist itu nggak lain nggak bukan hanya alasan sementara yang dipindai otak kita sebagai: kita sudah mulai melakukan pekerjaan utama, kok or half the way to it. Padahal belum. Padahal yang kita lakukan itu semacam ritual. Ritual buat nggak nyelesein pekerjaan. Hiiiii.

When i make excuses for not writing, I am making those excuses (chores, etc) as my goals. Shocked? Yes I was shocked too!

Thursday, July 11, 2013

Ezra School Holiday Activities : Lembang Floating Market

Yeay, akhirnya di minggu ketiga liburan sekolah Ezra, kami bisa liburan full team. Sayang, full team-nya tetep nggak lengkap karena papa-mama saya yang gantian ada acara saat wiken. Ya sudah, akhirnya, saya, suami, Ezra, plus tantenya memutuskan buat jalan-jalan di seputaran Bandung. Agak gambling bakal menyenangkan atau nggak karena tau sendiri gimana Bandung di saat wiken, apalagi lagi musim liburan sekolah. Di hari Jumat, kami masih belum tau mau kemana. Intinya jangan sampai ujung-ujungnya ngemal, dan harus nyari tempat yang bikin anak fun, tapi orang dewasa juga tetep bisa refresh.

Suami pingin ke Bosscha, saya pingin liat sayuran dan bunga di Cikole, dan adik saya pingin petualangan ala Sherina (saat adegan Sherina lagi lari-lari di pasar sayur-bunga) karena lagi rajin nyari objek foto. Yang jelas, kalau mau main ke Teropong Bintang Bosscha di Lembang memang nggak sesantai yang dibayangkan karena tempat itu memang bukan tempat wisata, melainkan observatorium milik ITB. Ada beberapa peraturan khusus yang harus dibaca di sini kalau mau berkunjung ke sana.

Nah, Lembang Floating Market itulah yang akhirnya menggabungkan keinginan kami semua. Dari rumah, kami berangkat pukul enam (agak lebay kepagiannya mengingat wiken dan takut kena macet), tapi ternyata kita sudah sampai di Lembang pukul setengah tujuh, itu pun karena sempat muter-muter nggak jelas di daerah Sariwangi. Sampai di sana malah bingung karena Floating Market baru buka jam 8-9 pagi. Ya sudah, keliling Lembang dulu jadinya mumpung lalu lintas belum begitu padat. Tujuan pertama adalah mencari objek foto demi memuaskan keinginan sang adik. Tapi Pasar Lembang gagal bikin dia terpesona. Kami pun berputar-putar untuk mencari, Deetje, sebuah rumah bergaya kolonial milik seorang pengusaha susu. Pernah diberitahu seorang teman yang tergabung dalam komunitas bernama Aleut, katanya Deetje ini termasuk bangunan kolonial yang unik. Tapi karena nggak tahu lokasi tepatnya, jadi nggak ketemu. 

Menyerah. Akhirnya kami ngemil ketan bakar dan pisang keju di pinggir jalan. Mendekati jam 8, kami bergerak menuju ke arah Pasar Lembang, lokasi Floating Market nggak jauh dari sana. Tinggal belok ke kanan, menyusuri Jalan Grand Hotel Lembang, dan Floating Market ada di kiri jalan. 

Untuk masuk ke sini, pengunjung dikenakan biaya @10.000 rupiah. Cukup murah mengingat uang masuk tersebut merupakan kupon welcome drink yang bisa ditukar dengan minuman seperti hot chocolate, cafe latte, lemon tea, dsb. Tapi tiket masuk tersebut nggak termasuk biaya untuk naik perahu atau memasuki wahana-wahana yang ada di lokasi tersebut.

Lembang floating market menawarkan pemandangan yang breathtaking dan atmosfernya cukup menenangkan pikiran. Situ Umar berada di tengah-tengah lokasi dan dikelilingi oleh pemandangan lembah serta pegunungan.Yang dibilang dengan floating market itu sebenarnya adalah perahu-perahu yang tertambat (seolah-olah) di dermaga atau tepian danau yag bernama Situ Umar itu, dan perahu-perahu itu menyajikan aneka makanan dan camilan. Untuk bisa menikmati makanan atau wahana yang ada di tempat tersebut, kita harus menukarkan uang dalam bentuk koin (yang menurut saya sih, ribet).

Eh, tapi jangan mengira kalau datang ke sini cuma buat makan lhoo ya. Ada beberapa spot menarik yang bisa dikunjungi di lokasi tersebut. Ada miniatur kampung dan perkebunan. Di sana, kita bisa memetik sayuran organik dan strawberi. Ada juga tempat di mana kita bisa memberi makan hewan ternak seperti kelinci dan angsa. Soal makanannya, memang sih, harga yang ditawarkan untuk makanan yang biasa, agak lebih mahal, tapi lumayanlah variasinya banyak. 

Yuuk, kita mulai liat gambar-gambarnya aja, deh. 

Ezra's School Holiday Activities : Cimory on The Valley, PVJ Bird Park, & Garden Ice

Tahun ini jadi tahun pertamanya Ezra merasakan yang namanya liburan sekolah. Memang sih, bagi anak-anak seusia Ezra (5y7m) mungkin belum kerasa banget perbedaan antara hari-hari yang full aktivitas di sekolah dengan hari-hari libur yang sebagian besar dihabiskan di rumah. Hanya saja, sekarang dia sudah mulai bisa membedakan dan bertanya-tanya kenapa tiap pagi dianya nggak lagi rutin beraktivitas di sekolah. Setelah dijelaskan kalau habis dibagi rapot dan acara pentas seni, murid-murid istirahat dari kegiatan di sekolah supaya nanti pas masuk lagi bisa lebih semangat ngapa-ngapainnya (dijelaskan juga kenapa ada bagi rapot). Setelah dikasih tahu, baru deh, anaknya ngerti.

Liburan kali ini waktunya lumayan panjang. Di buku panduan sekolah, rencana libur sekolah itu dimulai 15 Juni, ternyata jadinya maju satu minggu lebih awal. Total lima minggu, deh. Agak bingung juga, ya waktu selama itu mau diisi dengan apa. Apalagi, Ezra termasuk yang bosenan. Saya juga berusaha menghindari agar ia nggak cuma mengisi liburannya dengan nonton kartun atau main game. Masalahnya, ortunya juga nggak bisa full menemani dia liburan karena pekerjaan, dan tahun ini kami nggak punya rencana untuk liburan di hari kerja. 

Jadilah, dibuat semacam agenda liburan meskipun sebagian besar cuma bisa dilakukan pas wiken.

Wiken pertama, pas banget dengan acara suami yang harus mengurus kerjaan di daerah Ungaran, Semarang. Setelah nyari-nyari dan nanya sana-sini, ada beberapa pilihan tempat di daerah itu yang bisa dijadikan tempat liburan. Ada Kampung Seni Lerep dan sebuah desa wisata yang konon sering menampilkan dolanan anak tradisional. Tapi setelah browsing malah nggak nemu lokasi tepatnya, dan Kampung Seni Lerep sepertinya nggak terlalu pas untuk anak seusia Ezra. Karena bukan bapak-ibunya yang mau liburan maka dicarilah tempat yang lebih kids oriented.

Akhirnya, diputuskanlah buat ke Cimory on The Valley, Restaurant & Milk Factory. Waktu pertama kali sampai di lokasi, sempat mikir kalau main ke sini pasti ujung-ujungnya cuma makan, hehehe. Tenyata, lokasi Cimory di daerah Bergas, Ungaran ini cukup luas juga. Di area belakangnya, dekat tempat parkir, ada kandang sapi, kelinci, dan rusa. Menurut bapak yang jaga di sana, nantinya pengunjung bisa melihat proses pemerahan susu sapi dan akan ada pabrik susu yang rencananya akan beroperasi di Juli 2013. Selain itu, ada juga playground untuk anak-anak. Kandang sapi dkk tadi lokasinya di bagian bawah. Dari arah resto, kita harus berjalan turun melewati undakan dan tangga yag sudah dipersiapkan. Cimory Ungaran ini memang punya kontur tanah yang berbukit, dan itu yang menjadi salah satu daya tarik tempat ini. Penataan tempatnya juga oke, dan thematic dengan pattern hitam-putih ala bercak-bercak sapi. Dari restonya, kita bisa lihat pemandangan sawah terasering. Di bagian depan juga ada kandang merak, ayam mutiara, dan burung kakatua. Untuk makanannya, lumayan oke dan cukup murahlah. Yang paling kerasa enak sih, susu segarnya, hehehe..soalnya udah lama banget pensiun minum susu.

Oke, sekarang let's take a look to the pictorial journey.

Cimory on The Valley
Liburan di wiken kedua mulai bingung mau kemana dan ngapain. Soalnya, Ezra kepingin banget naik kereta api. Awalnya, mau ajak dia ke Taman Bunga Nusantara di daerah Cianjur. Dari Cimahi rencananya mau naik kereta. Tapi nggak dapat izin dari Eyangnya Ezra karena perginya nggak ditemenin sama suami. Ezra kekeuh mau naik kereta. "Ya sudah, kita main ke stasiun aja, deh. Kita liat kereta, ya." 

Rencananya, mau naik kereta dari Stasiun Cimahi sampai Stasiun Bandung, yang mana jarak tempuhnya cuma lima belas menitan. Dari Stasiun Bandung, rencananya mau ajak Ezra keliling Bandung naik angkot dengan tujuan Bonbin atau Museum Geologi. Tapi rencananya itu gagal total karena...hiikks ketinggalan kereta. Ezra agak ngambek gitu. Putar otak, akhirnya ujung-ujungnya jalan-jalan naik angkot. Agak amnesia kalau Bandung di hari wiken itu macetnya ngga banget, akibatnya sesuai perkiraan, baru separo jalan Ezra udah cranky di dalam angkot. Tujuan ke bonbin jadi kerasa jauhh, padahal baru sampai di daerah Cimindi. Duuh, kemana yaak. Emaknya bingung, anaknya macam nggak mau diajak berpetualang, padahal naik angkot kan enak, nggak perlu mikir rute dan macet, kaki nggak pegel, dan bisa nikmatin pemandangan kota. Oh ya, sudahlah. Kita ngadem di mal aja. Kata hati sih, menolak. Males juga main ke mal wiken-wiken. 

Untunglah ada Paris Van Java karena ada hal lain yang ditawarkan sama mal yang satu ini. Yup, selain tenant-tenant, cafe, resto, dan departement store ternama @PVJbandung juga punya Butterfly & Bird Park, Rooftop Garden, dan Garden Ice di bagian atasnya. Kalau dari tempat parkir, bisa langsung ke dekat Garden Ice, tapi kalau dari bawah, bisa pakai eskalator naik dari arah dekat Starbucks.

Masuk ke Bird Park, pengunjung dikenai biaya 30.000 rupiah, itu sudah termasuk makanan untuk burung berupa jangkrik dan ulet-ulet kecil, kalau mau tambahan untuk beli makanan burung yang berupa biji-bijian bisa dengan 5000 rupiah. Agakagak mahal sih, untuk tempat yang nggak terlalu luas itu. Untungnya, setelah masuk nggak mengecewakan juga, kok. Koleksi burungnya lumayan. Ada burung hantu, elang, rangkok, kakatua, dsb. Yang menyenangkan itu waktu masuk ke area burung yang dibiarkan terbang bebas. Begitu masuk, langsung diserbu sama burung-burung jalak yang mengincar makanan yag kita bawa. Puluhan parkit juga langsung merubung saat kita masuk. Kekecewaan Ezra karena nggak jadi ke kebun bintang pun terobati. Di dalam juga bebas foto sepuasnya. 

Ini dia gambarnya-gambarnya.

Bird Park Paris Van Java (Burung yang putih itu favoritnya Ezra karena jinak )
Setelah dari Bird Park, Ezra minta main Ice Skating. Hmmm, agak-agak mikir awalnya. Takut kenapa-kenapa. Tapi anaknya kekeuh. Ya sudah, setelah merogoh lagi kocek @75.000 rupiah untuk main Ice Skating ini sepuasnya, memakaikan sweter yang siap di tas, beli kaos kaki, mengukur kaki, mengenakan sepatu khusus, dan menyimpan barang di loker dengan koin sekali pakai, mulailah masuk ke arena. Karena nggak berani ngebiarin Ezra main sendiri, emaknya pun ikut serta, padahal sama sekali nggak bisa main. Ya sudahlah, itung-itung ngejagain, kalau sampai Ezra jatoh atau kenapa-kenapa. Eh, ternyata kurang dari sepuluh menit, anaknya langsung bisa meluncur, sementara emaknya hanya bisa merambat di pinggiran, dan mulai ngerasa pegel karena bagian bawah sepatu yang kerasa nggak nyaman di telapak kaki. Nggak sampai setengah jam, saya mulai nyerah karena hanya bisa mondar-mandir dengan terseok-seok, tanpa berhasil meluncur.

Selesai main ice skating, kami berjemur di Rooftop Gardennya. Jalan-jalan untuk menikmati taman yang ditata apik sambil ngeringin baju yang lembab karena udara beku di Garden Ice tadi. Abis itu baru, deh makan siang dan pulang. Liburan wiken kedua sukses meski mainnya cuma ke mal.

Meski sukes, Ezra tetep nagih ke kebun binatang dan liat fosil dinosaurus di Museum Geologi. Akhirnya, berhasil ngebujuk dia dengan nunjukkin foto-fotonya saat maen ke museum waktu umurnya masih empat tahun: "Kita berpetualang ke tempat lain dulu, ya. Kan uda pernah liat fosilnya. Nanti, kalau waktunya sempat, kita ke sana lagi."

Wiken selanjutnya, giliran papa saya yang ngajak Ezra main karena saya ada kerjaan di Sabtu-Minggu. Liburan bareng papa saya itu, tipe liburan yang selalu bikin Ezra kangen karena kegiatannya cowok banget. Hari Sabtunya, dimulai dengan cukur rambut bareng, diakhiri dengan sepakbola di lapangan olahraga yang emang luasss banget. Sebelum sepakbola, biasanya Ezra diajak keliling-keliling naik motor dulu, buat liat pabrik susu di dekat rumah, atau sekadar naik turun jembatan di atas jalan tol buat liat pemandangan. Di hari Minggunya mereka berdua pergi berenang ke tempat para tentara biasa latihan berenang. Dan setelah acara berenang itu, Ezra jadi kepingin jadi tentara. Sayang, fotonya nggak ada. Papa saya paling males kalo dititipi hasil motret-motretnya, sih.

Oke, itu dulu yaa cerita liburannya. Nanti disambung di next posting, biar nggak kepanjangan.

  
Rooftop Garden Paris Van Java
Kandang sapi, kelinci, dan rusa di Cimory on The Valley
Meluncur di arena Gaden Ice PVJ

Wednesday, July 10, 2013

Flash Fiction Peserta Give Away : Bagi-Bagi Buku Part (3)

Berikut ini ada Flash Fiction yang ditulis oleh peserta Give Away Bramasole dengan tema 'Rintangan'.

1. Aku Menyerah, Pak (Oleh : Rini Ramli)

“Cepatpulang!”
“Gak”
“Kamu jangan bikin malu keluarga”
“Biarin!” Bentakan keras bapak masih terdengar dari sana. Aku tekan tombol merah di handphone.Kemudian Menekan tombol switch off agak lama. Hapeku mati. Aman. “Ayo kita pergi” Aku bangkit. Tak kupedulikan seberapa berat ransel yang menggantung di pundak. Aku menarik tangannya. Tangan orang yang aku cintai dan mencintaiku. Dia menahan tanganku enggan bangkit. Aku menoleh.
“Kamu tidak apa-apa?” Tanyanya.
Kutatap matanya. Energi damai luar biasa mengalir dari sana. “Bersama kamu aku tidak akan pernah kenapa-napa” jawabku sambil tersenyum. Aku menarik tangannya lagi.
Ia bangkit. “Yuk. Bisnya sudah mau berangkat” Ia mengambil ranselku, mengangkatnya ke atas tanpa memedulikan dirinya sendiri yang demikian terbungkuk oleh ransel besar yang digendongnya. “Kamu bawa batu ya? tanyanya dengan canda setelah meletakkan ranselku ketempat barang di bagian atas jok bis. Aku menonjok lengannya.
“Tidurlah. Kamu sudah tidak tidur semalaman. Nanti jika sampai akan aku bangunkan” Katanya. Aku memejamkan mataku rapat. Namun tetap saja bayangan bapak tak henti berkelebat.Teriakan bapak, bentakan bapak,amarah bapak.Semua datang memberondong dan menghujam pikiranku. Memaksa untuk mengeluarkan kembali ingatan masa lalu satu demi satu. 

Aku memang tidak seperti abang. Berperawakan gagah dan multi talenta.Beberapa kali abang membuat bapak bangga karena menjuarai berbagai jenis lomba. Dari olimpiade fisika hingga sepak bola. Melihat bapak bangga luar biasa, aku juga giat berusaha. Demi melihat senyum bangga bapak tersungging untukku juga.Namun apa? Hanya deheman dan ucapan selamat datar yang aku dapat ketika aku menjadi juara di festival lomba masak di sekolah dan kelurahan. Minatku pada bidang tatarias juga tak mendapat tempat di hati bapak.
“Kosmetik itu mahal. Ribet. Kamu pilih hobi lain saja” jawabnya ketika aku bercerita. Mungkin bapak kira aku akan berhenti. Tidak. Aku bisa mengusahakan segalanya sendiri. Aku bisa melihat raut wajah kaget bapak ketika melihat meja di kamarku penuh dengan koleksi kosmetik. Bapak tak berucap sepatah kata pun. Namun ada suara pintu terbanting. Ih, makan hati! Aku tidak mengerti, pak. Jalan menuju hati bapak sungguh berliku.Segala rintangan di dalamnya sudah aku coba lewati. Tapi hasilnya nihil. Aku menyerah. Apalagi setelah bapak jelas-jelas tak menyetujui kedekatanku dengan mas Toni. Aku pergi, pak.Terserah akan seberapa besar murka bapak. Terserah. Aku yakin, bersama mas Toni segala rintangan ini tak berarti apa-apa.

“Sudah hampir sampai” suara mas Toni berbisik.Bahuku tergoncang perlahan. Laju bis melamban. Kami turun dan menuju penginapan sederhana yang ada di pinggir jalan. “Satu kamar, mbak. Yang single bednya dua ya” Mas Toni memesan kamar untuk kami. “Maaf, mas.Yang single bednya dua, full. Adanya yang satuqueen bed, bisa?” Jawab resepsionis manis itu. Kami berpandangan.

Aku menggeleng. “Kalau yang single bed nya satu aja, dua kamar, ada?” Lanjut Mas Toni.
Mbak resepsionis kembali menatap layarkomputernya. “Ada, mas” Ia tersenyum
pada kami. “Atas nama siapa?” lanjutnya. “Toni Herlambang…” mas Toni menjawabsambilmelirikku. “dan Indra Pranata” lanjutku.

2. Rintangan dalam Percintaan (Oleh: Arga Litha)

Radit termenung di depan pagar rumah orangtuanya. Hiruk-pikuk sekitar tak mampu menggoyahkan gemingnya. Mata melotot, mulut terbuka. Hap! Ia buru-buru mengatup kedua bibirnya saat melihat ada lalat berusaha masuk ke liang miliknya yang bergigi dan berbau bumbu bali. Bibirnya tersenyum tipis. Walau hati perih, tapi ia lega akhirnya yang dimau terlaksana.

Ibu menepuk bahunya. Lelaki rambut jabrik itu meringis lalu sungkem dengan takzim. Dengan raut lesu, Ibu menggandengnya ke hadapan kedua mempelai yang sibuk menyalami para tamu. Pun Radit, ia hanya bisa menundukkan kepala hingga antrean jabat tangan usai. Namun sebuah sapaan yang lebih mirip teguran, membuatnya mendongakkan kepala. Nada ketus Murni, wanita yang kini resmi sebagai kakak iparnya, menohok hati.

“Tak kusangka akhirnya kau pulang juga!”
Alamak! Badan letih, hati sedih, malah dibikin keki. Mau marah, ia bersalah. Mau menangis di tengah gerimis, tapi ... Lelaki sejati tidak boleh mengeluarkan air mata. Kalaupun ada, air mata buaya yang ada, jurus jitu memikat para wanita.

Nasi telah menjadi bubur. Dalam hati ia tak rela, tapi mau bagaimana? Tidak ada pilihan, ia harus menghadapi kenyataan. Tangan Radit terulur pada kakaknya, menyalami lalu memeluk lelaki berbaju pengantin itu. “Mas, aku minta maaf. Terima kasih telah menjaga Murni selama ini.”

Gestur tubuh pengantin pria mulai menunjukkan amarahnya. Untuk menghindari bahu hantam di hari sakral, Radit lekas menyingkir. Ia lega telah melenyapkan rintangan terbesar kebahagiaan Murni. Ia yakin, Murni akan senang hidupnya bila bersama Mas Rahmad, kakak kandung Radit. Ia eksekutif muda, berpenghailan lebih banyak darinya yang hanya tukang bangunan di perantauan.

Akan tetapi, tidak ada yang tahu bagaimana jalannya takdir manusia. Boleh saja manusia berpikir bahwa yang dilakukannnya ialah yang terbaik. Manusia memang wajib berusaha untuk kebaikannya. Tapi tetap, Tuhan yang mengatur kisah anak manusia di dunia.

Nun jauh di lubuk hati sang kakak, ia marah karena alasan lain. Memang benar dulu Rahmad menjalin kasih dengan Murni, kemudian Radit merebut Murni dari tangannya. Setelah mengecap madu sang gadis, ia pergi dan tidak memberi kabar sama sekali. Imbasnya, sang kakak yang kena. Padahal dulu, tujuan Rahmad memacari Murni adalah agar sering bertandang ke rumah Murni, menemui adik Murni yang sangat dicintai dan juga mencintainya. Tetapi ia sadar akan banyak rintangan yang menghadang apabila hubungan itu dilakukan terang-terangan. Nama baik keluarga taruhannya. Adik Murni itu namanya Mustofa, lelaki bercelana pink yang terus menatapnya dari kursi dekat para musisi pengisi acara resepsi.

3. RINTANGAN KAKEK (oleh : Reni Judhanto)

Kuhempaskan badan di bangku taman. Semoga suasana sejuk taman kota akan berhasil menghalau semua resahku. Kuhela nafas panjang seraya mengatupkan kedua tangan menutup mukaku.

“Ada apa, Nak? Kau tampak begitu menderita.”

Kucari asal suara yang mengagetkanku itu. Rupanya tak jauh dari tempatku duduk ada seorang lelaki tua. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri, sampai tak memperhatikan sekitar.

“Oh.. maaf, Kek. Aku tadi tak memperhatikan ada Kakek di sini.”

“Tak apa. Kau pasti sedang banyak masalah, jadi tak melihatku duduk di sini,” katanya sambil tertawa memamerkan giginya yang ompong di sana-sini.

Aku hanya tersenyum kecil menyambut kata-katanya. Aku masih malas berbicara.

“Ceritakan masalahmu… walau aku tak dapat membantumu, setidaknya itu bisa meringankan bebanmu.”

Lagi-lagi aku hanya tersenyum kecil menanggapi ucapannya. Aku masih belum tertarik untuk berbagi bebanku pada orang yang tak kukenal. Aku memilih untuk kembali tenggelam dalam lamunan. Namun kembali suara kakek itu membuyarkan lamunanku.

“Dulu, waktu aku masih muda… aku adalah penakluk rintangan. Sudah puluhan rintangan yang aku hadapi. Awalnya, sangat sulit bagiku untuk melalui rintangan-rintangan itu. Benar, sulit sekali! Tapi karena tekadku sangat kuat dan aku tak putus asa untuk terus mencoba, akhirnya aku berhasil juga melalui rintangan-rintangan itu.”

Aku mulai tertarik mendengarkan ceritanya. Aku memandangnya, masih tanpa kata, dan berharap dia melanjutkan kembali ceritanya.

“Kau tahu, Nak? Sejak aku berhasil melalui sebuah rintangan, maka rintangan-rintangan berikutnya sudah tak berarti lagi bagiku.”

“Bagaimana cara Kakek bisa menaklukkan rintangan itu?” tanyaku akhirnya karena tergilitik rasa penasaran. “Latihan, Nak. Latihan terus menerus. Apalagi aku tidak tinggi” “Latihan…? Tinggi…? Maksud Kakek?” “Iya Nak…, latihan. Selain itu aku harus bisa tetap menjaga keseimbangan,” jawab kakek itu seraya tersenyum memandangku.
“Keseimbangan, Kek? Kok keseimbangan?” Aku makin bingung dengan kata-katanya yang terkesan melantur kemana-mana.
“Benar sekali. Keseimbangan. Ke-se-im-bang-an. Kita harus bisa menjaga keseimbangan setiap kali kita mampu melewati sebuah rintangan. Jika tidak, kita tak akan bisa melewati rintangan berikutnya.”

Melihatku hanya menatapnya dengan bingung, kakek itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

“Sebagai seorang mantan atlit pelari gawang, aku harus terus berlatih agar mampu melewati rintangan demi rintangan. Agar bisa menyelesaikannya, maka setiap berhasil melewati sebuah rintangan aku harus bisa menjaga keseimbangan agar dapat terus berlari dan melewati rintangan berikutnya. Hahaha…”

Tanpa memperdulikan mukaku yang berubah merah padam, kakek itu berdiri meninggalkanku sambil terus tertawa terbahak-bahak.

4. Map Plastik Merah Muda (oleh : Sari Widiarti )

Aku mengutuk hari ini, hari yang menyebalkan. Pagi hari sudah disibukkan dengan skripsi yang lagi-lagi revisi. Setelah menjadi bahan revisi, seperti biasa aku akan mengcopy revisi skripsiku, tapi astaga aku lupa dengan map plastik warna merah muda yang masih tertinggal di tempat foto copy , dengan sigap aku kembali, tapi ternyata map plastik merah muda berisi semua data skripsiku hilang entah terbawa siapa, aku tanya kepada petugas foto copy, mereka hanya menggelengkan kepala, membuatku sedikit emosi. Aku mencoba mengingat kira-kira siapa pengunjung foto copy yang tanpa sadar membawa map plastik warna merah muda. Aku tersadar jika ada perempuan paruh baya yang mungkin sedikit terlihat seperti orang kantoran, dengan cekatan aku berlari ke jalan raya, siapa tahu , aku akan menemukan wanita kantoran tersebut. Namun, nasib baik tak bersamaku, aku tak dapat menemukan petunjuk, malah hujan dengan ssigap menantiku, bajuku tak luput dari hujan yang tidak bersahabat ini, ah sial! apa ada rintangan yang lebih buruk dari ini?

Aku mempercepat langkahku untuk menuju Toko Buku Cahaya, ah.. sialnya ternyata di Toko Buku Cahaya banyak pengunjung, dan aku dengan secara sadar melihat wanita kantoran, yang mungkin membawa map plastik merah mudaku, dengan sepatu dan baju yang masih basah karena hujan yang cukup deras, dengan percaya diri aku melangkahkan ke dalam Toko buku untuk mencari wanita itu, sedangkan aku tak peduli semua lantai yang ada di Toko Buku Cahaya telah tergenang air hujan karena ulahku.

Aku melihat dari segala penjuru, tak ada wanita kantoran yang aku cari, apa aku salah lihat? Tapi tak mungkin rasanya aku salah lihat, terus apa ini hanya akan menjadi sia-sia? Aku tak mau. Aku melihat jam tangan, sudah menunjukkan pukul lima sore, sudah larut, aku harus mengeringkan bajuku. Aku melihat di luar Toko Buku tampaknya hujan sudah reda. Aku melangkahkan kaki dengan lemas, tepukkan dipunggungku mengagetkanku, aku melihat dosen waliku memberiku secangkir teh hangat, aku menerimanya dengan senang, sejenak aku menyeruput teh itu, pikiranku tenang. Beliau kemudian memberikan bungkus tas kresek hitam, dan ternyata isi dari bungkusan tersebut adalah map plastik warna merah muda.

5. Oleh : Asy-syifaa Halimatu Sa'diah

Aku lelah, menghadapi setiap RINTANGAN yang selalu datang ke kehidupanku. Menjalani hidup hanya seorang diri tanpa pernah ada seorangpun yang tahu bahkan mengerti apa mauku. Semua berlalu lalang di hadapanku, keegoisan nampaknya sudah menjadi jiwa dalam dirinya masing-masing, aku tak tahan akan situasi ini, terasa sesak. Kenyataan bahwa aku tak pernah diakui oleh orang, membuatku sadar aku hanyalah diri yang terbuang, tak berguna. Masalah demi masalah silih berganti, datang kepadaku bagaikan antrian yang terus menerus tanpa habis. Tak pernah ada seulas senyum yang pernah aku buat di bibirku. Aku tak mengenalnya, apa itu senyum? Berartikah? Tentu saja tidak. Hanya sederet kesedihan yang selalu menghiasi setiap waktuku. Tangisan, air mata, hal yang terlalu lumrah bagiku. Mataku sudah merasakan apa itu bengkak karena air bening yang selalu jatuh dari pelupuk mataku. Aku tak ingin kalian membaca ceritaku tentang apa-apa saja masalah yang telah, sedang, dan akan kuhadapi. Terlalu banyak derita yang kualami, aku tak mau penderitaanku ini hanya menjadi hal klise yang kalian baca. Kadang, aku menyesali mengapa harus aku hidup di dunia ini? Kefanaannya membuatku tak pernah merasakan apa itu bahagia. Aku ingin kembali padamu Tuhan. Aku terlalu lelah akan hal ini. Sampai berapa lama lagi aku terus-menerus menghadapi situasi seperti ini? Aku lemah, Tuhan. Aku tak berdaya. Rasanya, hanya satu keinginanku. Tuhan... Aku hanya memohon pada-Mu, meminta sebuah kesempatan agar aku bisa merasakan sesenti kebahagiaan seperti yang orang lain rasakan. RINTANGAN kehidupan yang selama ini kurasakan terlalu menjadikanku diriku tak pernah tahu bagaimana rasanya tersenyum, tertawa, bahkan bahagia. Hanya itu inginku, tak lebih. Sebelum aku benar-benar menutup kedua mataku, menghentikan hembusan nafasku, dan tak lagi merasakan semua keluh-kesahku, hanya itu inginku. Bagaimanapun, aku hanya ingin lepas dari segala beban kehidupanku. Biarku salah, biarku tak benar, jalan menuju-Mu adalah satu tujuanku.

Peserta Give Away: Bagi-Bagi Buku Part (3)

Halo, maaf lama tidak mengupdate blog ini dan memberi kabar tentang Give Away: Bagi-bagi Buku Gratis Part (3. Ada yang aneh dengan dashboard blogspot saya beberapa waktu belakangan ini. Setiap kali mau mengunggah tulisan selalu muncul ‘an error occured’, dst dan jadi tidak bisa menulis di dashboard. Entah kenapa. Jadi, setiap kali mau compose tulisan, yang berhasil dibuat hanya judulnya saja.

Sigh.

Baru hari ini bisa memosting tulisan, itu pun setelah buat draf lewat html, dan diedit lewat tablet. Jadi, maaf kalo tampilan tulisannya berantakan.

Untuk Give Away dengan tantangan menulis flash fiction bertema Rintangan ini. Ada 5 peserta yang sudah mengirimkan cerita dan mention saya di twitter. Sedikit, ya....hehehe. Tadinya mau bikin perpanjangan waktu biar yang ikut nambah, tapi karena dashboard error dan nggak bisa buat postingan akhirnya dibatalkan.

Jadi, ini para peserta yang sudah ikutan. Terima kasih, ya sudah berpartisipasi. 

  1. Rini Ramli @riniramli1 dengan alamat blog: http://riniramli.blogspot.com
  2. Arga Litha @argalitha dengan alamat blog : http://argalitha.blogspot.com/2013/06/rintangan-dalam-percintaan.html
  3. Reni Judhanto @ReniJudhanto dengan alamat blog : http://another-reni.blogspot.com link cerita: another-reni.blogspot.com/2013/06/rintangan-kakek.html)
  4. Sari Widiarti @MentionSari, alamat blog : www.fiksisari.blogspot.com
  5. Asy-syifaa Halimatu Sa'diah @asysyifaahs, alamat blog : www.asysyifaahs-world.blogspot.com

Selanjutnya, cerita masing-masing peserta akan ditampilkan di postingan selanjutnya, setelah itu baru akan dipilih pemenangnya. Mohon maaf atas keterlambatannya, ya.

Thursday, May 30, 2013

Give Away : Bagi-Bagi Buku Gratis Part (3)


gambar dari sini
Hello, Sudah lama sekali saya nggak mengadakan give away seperti halnya kuis “Bagi-Bagi Buku Gratis” yang beberapa tahun lalu sempat lumayan meramaikan blog ini. Hmmm, sepertinya sekarang saatnya buat seru-seruan lagi, nih. Mumpung ada beberapa stok buku keren yang bisa dibagi-bagikan.

Kali ini, saya akan membagikan paket buku senilai @100.000 rupiah untuk tiga orang yang ceritanya terpilih. Gimana caranya:
  1. Tulis sebuah flash fiction; (maksimal 500 kata) dengan tema: Rintangan. Di dalam cerita juga harus menyertakan kata 'Rintangan'
  2. Unggah cerita di blog masing-masing. Sertakan link postingan ini dengan memberikan keterangan kalau sedang mengikuti give away di brama-sole.com
  3. Follow blog brama-sole.com
  4. Kemudian, mention @nia_nurdiansyah di twitter dengan menyertakan link postingan flash fiction tersebut. Sertakan tagar #Rintangan #GAbramasole
  5. Kirimkan juga ceritanya ke: nia.nurdiansyah@gmail.com (cerita boleh diletakkan di badan email atau menggunakan attachment) dengan Subject : Give Away-Rintangan-Bramasole. Jangan lupa tuliskan identitas dirinya, ya (Nama, Alamat Blog, dan Akun Twitter)
  6. Kiriman cerita ditunggu sampai dengan tanggal 29 Juni 2013.
  7. Setiap cerita yang masuk juga akan diunggah ke brama-sole.com
  8. Akan dipilih tiga cerita terbaik dan penulisnya akan mendapatkan paket buku senilai @100.000 rupiah.
  9. Pengumuman pemenang dilakukan pada tanggal 7 Juli 2013.
  10. Let’s write and have fun!
NB: Kenapa temanya 'rintangan'? Nanti akan ada postingan sendiri tentang ini :) 

Wednesday, May 29, 2013

Third Novel : My Cup of Tea



Alhamdulillah, akhirnya novel ketiga saya yang berjudul My Cup of Tea sudah rampung digarap di penerbit GagasMedia. My Cup of Tea akan mulai beredar di toko buku sekitar awal bulan Juni ini. Perjalanan penulisan My Cup of Tea ini terasa cukup menyenangkan buat saya. Sejak awal, memang ingin menulis sesuatu yang ringan dan manis, akhirnya kesampaian juga.  

Mulanya novel ketiga ini berjudul SerendipiTEA. Judul SerendipiTEA diambil dari nama sebuah kafe yang ada dalam kisah di novel ini. Selain itu, ada sedikit filosofi di balik pemilihan judul SerendipiTea tersebut, yang mengabungkan dua arti kata, yaitu takdir dan teh (Serendipity dan Tea). Kata itu juga merupakan penggabungan dua nama tokoh utama, yaitu Shereen dan Dipi. 

Setelah melalui proses pemilihan judul di penerbit, dipilihlah judul yang lebih earcatching, mudah diingat, dan dilafalkan oleh siapa saja, yaitu My Cup of Tea. Editor saya yang brilian @JiaEffendie memilihkan judul tersebut. Di dalam Bahasa Inggris terdapat idiom seperti 'Not My Cup of Tea', yang artinya bukan seleraku. Nah, kalau di sini. My Cup of Tea artinya tentu saja sesuatu yang sangat disukai oleh tokoh utamanya.

Secara garis besar, novel ini bercerita tentang Shereen dan Dipi yang sudah bersahabat sejak kecil. Keduanya terlanjur terikat dalam hubungan persahabatan yang begitu kental sehingga rasanya tidak mungkin dapat menjadi sepasang kekasih, meskipun sebenarnya ada benih-benih perasaan cinta yang mulai tumbuh seiring perjalanan waktu. Apalagi, usia Shereen yang lebih tua dibandingkan Dipi, dan Shereen juga selalu menganggap Dipi sebagai adiknya. 

Keduanya kemudian berpisah karena harus mengejar cita-citanya. Dipi sejak kecil sangat ingin menjadi koki dan membuka sebuah kafe, sementara Shereen harus meniti karirnya sebagai desainer interior. Masing-masing telah memiliki kehidupan dan pasangan sendiri. Sampai keduanya kemudian bertemu kembali dan menyadari bahwa terkadang ada sepercik kepercayaan di hati tentang apa yang harus diperjuangkan dan dilepaskan di dalam hidup.

Hmmm, itu sih, sekilas ceritanya. My Cup of Tea juga dilengkapi dengan ilustrasi berupa sketsa-sketsa yang menggambarkan beberapa adegan favorit. Sketsa di dalam My Cup of Tea, digarap oleh seorang ilustrator berbakat @FajarRamayel. Saya terkesan dengan bagaimana ia bisa menerjemahkan keinginan saya dan menangkap mood dalam ceritanya. Sketsa terakhir yang dibuatnya bahkan sangat mirip dengan apa yang saya bayangkan saat sedang menulis cerita.

Ini link video untuk book trailernya. Silakan disimak :) 

Semoga, novel ini bisa diterima dengan baik dan berkesan di hati pembaca.

Happy Reading!
Nia Nurdiansyah

Tuesday, May 21, 2013

Stop By The Town of Pekalongan

Awal Mei kemarin, saya sekeluarga bersama teman-teman mapro unpad 9 berkesempatan untuk mampir ke Kota Pekalongan dalam rangka acara pernikahan ketua kelas kami @liienzz. Karena singgah di Pekalongannya lumayan lama, maka dibuatlah semacam rencana jalan-jalan. Awalnya, sempat bingung mau kemana karena dari hasil googling tidak ada tempat khusus yang jadi highlight dari kota ini. Tentu saja bukannya nggak ada signature dari kota yang terletak di jalur pantura yang menghubungkan antara Jakarta-Semarang-Surabaya ini, lhoo. Pekalongan terkenal dengan batik dan wisata kulinernya, yang kalau menurut saya cukup unik. Nah, karena dua hal itu maka tema jalan-jalannya pun nggak jauh dari wisata belanja dan kuliner.


Jalan-jalan pertama dilakukan pada Sabtu pagi selepas acara pemberkatan pernikahan yang berlangsung di Gereja St.Petrus. Karena jam sudah menunjukkan waktu makan siang maka yang dituju pertama adalah tempat makan. Sejak datang kami semua sudah penasaran dengan yang namanya Nasi Megono, dan setelah mendapatkan rekomendasi, dipilihlah Nasi Megono Bu Suli yang letaknya di Jalan Jeruk. Untuk sampai ke tempat ini, agak bingung juga, pasalnya jalanan di kota ini ruasnya pendek-pendek. Jalan Jeruk itu letaknya tidak jauh dari pusat kota dan pasar. Nah, sekarang biar gambar yang bicara, ya.

ini nih, penampakan warung lesehannya. waktu kita datang, warung makan ini baru saja buka.

kalau melihat sekilas, terpikirnya pasti ini cuma sajian nasi rames biasa: nasi yang disajikan dengan aneka lauk-pauk

yang bikin beda adalah ini, nih: megono. megono itu terbuat dari nangka muda yang dipotong halus dicampur dengan aneka sayur, seperti kol, kacang panjang, dsb. yang unik adalah rasa yang berasal dari bumbu-bumbunya, yaitu kecombrang, kelapa parut, dan lengkuas.

selain disajikan dengan aneka lauk, ada juga aneka pepes. yang yummy adalah pepes sriping atau sejenis kerang. rasanya pedas dan gurih.
Sehabis makan siang, jalan-jalan dilanjutkan dengan berkeliling kota. Yang unik dari kota ini, selain ruas jalannya yang pendek-pendek juga bangunan-bangunannya. Masih banyak bangunan model lama, perpaduan antar arsitektur Betawi-Arab, Jawa, China, dan Belanda yang berdampingan dengan bangunan modern yang bisa dibilang nggak terlalu banyak. Ini beberapa yang berhasil dipotret dari dalam mobil.

ini bukan iklan minuman, ya, hihihi. ini mau nunjukin pintu rumah toko yang unik dan nggak seperti pintu ruko pada umumnya.

ngga berhasil memotret dengan bagus dari dalam mobil, jadi sambil lalu saja. tapi banyak sekali bangunan dengan detail unik di setiap ruas jalan.


Sehabis jalan-jalan, kami mampir di sebuah toko batik (lupa apa namanya) buat pemanasan belanja dan ngadem, hehehe...karena cuaca kota ini lumayan panas dan bikin gerah. Tadinya, saya pingin cari camilan apa gitu, tapi saat masuk ke toko batik tersebut malah disuguhi penganan khasnya, yaitu gemblong. Jadi, lumayan, lah. Jangan membayangkan gemblong seperti yang dijual mamang-mamang di lampu merah pasteur, ya, hehehe karena gemblong khas Pekalongan ini unik. Gemblong yang dimaksud adalah semacam kue klepon yang disajikan bersama santan kental, parutan kelapa, dan kucuran gula merah cair yag kemudian dibungkus daun pisang. Rasanya: maknyuss.
ini nih, penampakannya.
Setelah puas belanja ngadem, hihihi...perjalanan berlanjut dengan mutermuter nggak puguh dan nyasar masuk ke sebuah kampung batik. Sebenarnya sih, nggak niat nyasar-nyasar amat karena kami mengikuti petunjuk dari plang yang terpampang nyata di jalan. Kampung batik ini bernama Pesindon. Kalau ke sini, sempatkan buat turun dari mobil dan melihat satu per satu sentra home industry tersebut karena kalau melihat dari penampilan rumah-rumahnya sepertinya menarik. Karena panas, (lagi-lagi jadi alasan) dan bawa satu bocah dan bayik, kami cuma muter-muter pakai mobil yang mana itu membuat kami seperti berjalan di dalam labirin karena harus melewati gang-gang kecil, yang untungnya masih muat dilewati mobil, serta nyasar-nyasar saat harus kembali ke jalan besar. Selain Kampung Batik Pesindon, sebenarnya ada juga Kampung Batik Kauman. Tapi karena alasan yang sama, nggak mampir ke tempat tersebut. Awalnya berniat untuk mendatangi Butik Dian Pelangi di Jalan Kalimantan, tapi ya, gitu, deh: Jalan Sulawesi berhasil ditemukan, begitu pun dengan jalan dengan nama pulau lain, tapi Jalan Kalimantan nggak ketemu, bahkan pakai GPS juga ngga nongol.

Jadi, perjalanan dilanjut ke IBC (International Batik Center) atau Sentra Batik International. Dari bangunannya sih, tampaknya bakal adem dan seru belanja di sini, tetapi entah kenapa karena aura pasarnya nggak muncul jadinya kami cuma muter-muter nggak jelas. Nanya harga satu-dua barang, tapi nggak dibeli juga. FYI, IBC ini ada di jalur pantura, jadi kalau mau ke sini tempatnya agak jauh dari pusat kota tadi, tepatnya sih, di Kabupaten Wiradesa.

icon bangunan IBC adalah wajan yang biasa digunakan untuk melelehkan malam/lilin untuk membatik
Dari IBC, diputuskan untuk pulang ke hotel, yaitu di Gren Meridien Hotel, dan istirahat. Sorenya, baru deh, jalan-jalan dilanjutkan ke Pasar Grosir Setono. Di sini, barulah terasa aura pasar dan belanjanya. Meskipun harganya seperti sudah dipatok, dan proses tawar-menawar jadi kurang seru, tapi harga batik di sini lumayan miring. Tips belanja di Pasar Setono itu, setiap kios punya desain dan merek sendiri. Jadi, kalau nemu satu barang bagus dan sreg sama selera kita, belum tentu di kios lainnya ada. Harga di dalam pasar (bagian dalam) kalau menurut saya sih, cenderung lebih murah dibandingkan yang di bagian depan. Jadi, kalau mau rajin, bisa kok nemu barang-barang bagus berkualitas dengan harga miring.

banyak tas batik lucu dengan harga berkisar antara 10.000-75.000 rupiah saja.
Nah, itu cerita jalan-jalan kami di hari pertama. Di hari kedua, karena siangnya akan langsung bertolak pulang maka dipilih tepat yang sejalur dengan jalan pulang. Pertama, selepas check out dari hotel, langsung menjajal Tauto Bang Dul. Kalau berkunjung ke kota ini dan kebetulan membawa anak, bisa juga diajak main ke Dupan Waterpark yang lokasinya persis di depan hotel Gren Mandarin. Jadi, wisatanya nggak melulu belanja dan kuliner saja.



Tentang Tauto, ini adalah sejenis soto, tapi kuahnya gelap seperti rawon dan agak lebih kental. Kuahnya punya rasa yang khas karena dicampur dengan tauco. Di Tauto Bang Dul ini, ada dua macam soto, yaitu Tauto dengan daging sapi atau ayam.

Selepas makan soto, niatnya mau langsung makan es duren yang juga terkenal di daerah sana, tapi karena perut masih penuh, perjalanan dilanjut dengan cari oleh-oleh dulu. Sebenarnya, ngga ada oleh-oleh berupa makanan yang spesifik dari kota ini, tapi ternyata kami menemukan toko kue yang ada jajanan pasar yang lumayan enak, yaitu toko roti Molina di dekat Sriratu.

baru tahu kalau jajanan pasar ini istimewa setelah di perjalanan pulang dan nyemil. nyesel belinya cuma sedikit. wajiknya legit banget, juga talam dan kue yang warna ijo, yang entah apa namanya, itu :D
Perjalanan ditutup dengan ke Museum Batik. Untuk ke berkunjung ke museum ini dikenai biaya lima ribu satu orangnya (untuk dewasa). Selama melihat-lihat di museum, kita akan ditemani dengan seorang guide yang akan bercerita tentang batik-batik yang ada di museum tersebut. Koleksi museum tersebut beragam, umumnya, sih batik-batik dari seluruh nusantara. Terakhir, kita juga bisa belajar membatik di sana.

alat yang digunakan untuk membuat batik cap


bahan-bahan untuk mewarnai batik

mewarnai batik

Yes. Sekian kisah jalan-jalan ke Pekalongannya. Senang bisa mampir ke kota yang biasanya cuma dilewati kalau perjalanan ke Semarang atau Surabaya via jalur darat ini. Dan, ternyata benar; baru setelah melihat lebih dekat kita bisa mendapati keunikan sesuatu hal. Semoga bisa menjelajahi keunikan kota-kota di Indonesia lainnya. See ya...!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...