Friday, February 8, 2013

Marriage Life

Tergelitik dengan postingan @andinadwifatma di blognya : What I Talk About When I Talk About Marriage (judulnya Murakami bgt ya, Ndin), saya jadi teringat kalau beberapa saat yang lalu sempat ingin membuat sebuah catatan di blog ini tentang perjalanan hidup bersama pasangan,yang kalau dihitung-hitung, di tanggal 18 Januari 2013 kemarin sudah berjalan 10 tahun. Uhm, sepuluh tahun itu adalah jumlah kebersamaan saya dengan dia (perkenalan sekitar tahun 2002an dan kemudian menikah di 2006)

Rasanya, buat saya, 6 tahun masih menjadi waktu yang terlampau singkat untuk bisa benar-benar memahami sebuah kehidupan pernikahan. Sampai hari ini, kalau mau jujur, belum ketemu tuh, resep rahasia agar selalu bahagia dalam kehidupan pernikahan. Karena mungkin pernikahan itu sama seperti kehidupan itu sendiri kali, ya: Nggak ada resep rahasia untuk bisa hidup bahagia terus.

Bahagia itu sebuah state of mind kalau menurut saya. Jadi, orang yang menikah dan tidak menikah, sebenarnya sama-sama bisa bahagia.

Banyak penelitian yang menemukan kalau sebagian besar orang yang sudah menikah justru memikirkan bagaimana jika ia masih melajang, dan sebaliknya. Memang sih, nggak bisa dipungkiri kalau buat saya pribadi, menikah itu membukakan banyak sekali pintu kebahagiaan. Tapi, kalau  kita sepenuhnya berharap pada pernikahan agar bahagia, itu juga naif.

Lalu, buat apa dong kita menikah kalau gitu?
Kalau buat saya, menikah adalah memilih untuk bertumbuh bersama dengan seseorang yang sudah kita pilih atau dipilihkan (oleh takdir, keadaan, orangtua, dsb :-) )  Dalam perkara pilih-memilih tentunya kita atau pasangan akan mencari yang pas atau klik, dan semua selalu tergantung preferensi, kebutuhan, selera, dsb.
Kita memilih karena memiliki keyakinan atau harapan bahwa seseorang tersebut akan membawa kebahagiaan, perubahan positif, dan hal-hal baik bagi kehidupan kita. Namun, yang seringkali kita abaikan adalah: pernahkah kita berpikir bahwa kita pun tidak dapat sepenuhnya menggantungkan semua itu pada pasangan?

Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, kita mungkin masih berpikir bahwa kebahagiaan hidup kita bergantung pada pasangan dan sebaliknya. Kemudian segala sesuatunya berubah (life's change rite?). Kita mulai bisa melihat bahwa sejatinya pernikahan itu penuh dengan kompromi. Mungkin lebih tingginya sinergi antara dua orang.

Sehari-hari kita mesti mensinergikan dua energi, kadang frekuensinya nyambung kadang tulalit, kadang yang satu maunya A yang lain maunya X. Lalu kita lupa kalau masing-masing dari kita ini dua manusia yang bertumbuh terus, berubah terus sepanjang waktu, dan terkadang bukannya embrace the changes kita sering merasa ngga nyaman karena pasangan tidak lagi begini atau melakukan itu atau menyukai sesuatu....dan ketika itu terjadi maka yang muncul adalah jarak dan sinergi pun mulai terkikis.

Apakah dua orang yang berbeda yang hidup bersama harus bertahan pada satu titik sepanjang hayatnya? Rasanya nggak bisa kan, ya. Dan perubahan yang terjadi pada pasangan juga nggak harus diartikan bahwa kadar cintanya sudah menurun, kan. Bertumbuh selalu membutuhkan perubahan. Karena itu, pernikahan yang tumbuh harus siap dan mau menerima perubahan.

Perubahan terjadi karena sadar atau tidak kita saling bertukar nilai dan energi dengan pasangan. Setiap hari kita mengenal setiap liku karakternya dan terkadang tanpa sadar kita saling menyerap kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kadang, kebanyakan dari kita lebih suka mengelu-elukan persamaan, padahal seberapa sama sih, satu orang dengan yang lainnya itu? Tidak ada orang yang benar-benar sama plek, karakter, kebiasaan, pendapat, dan hobinya. Perbedaan justru indah jika disadari bahwa kita adalah individu yang unik.

Bagi saya, sebebas-bebasnya hubungan pernikahan, masing-masing selalu mengemban perannya sendiri: istri atau suami, ibu atau ayah. Meski sebagai pasangan kita satu, tetapi kita juga terpisah. Sekalipun tidak semua pasangan pernikahan mengemban satu nilai yang kuat, alam bawah sadar tetap akan melekatkan 'tugas' yang berbeda untuk masing-masing peran. Seberapa pun inginnya kita untuk selalu setara, hukum alam sudah mendeterminasikan peran khusus bagi pria dan wanita dalam pernikahan.

Realistisnya berjalan dengan langkah yang selalu seragam dan tepat dengan pasangan dalam kehidupan pernikahan itu nyaris mustahil. Yang bisa adalah menyamakan titik akhir atau tujuan yang sudah disepakati di awal dan sama-sama berjalan menuju ke sana, baik dengan bergandengan tangan, beriringan, salah satu di depan, yang lain lari, satu jalan cepat, atau lambat; semua bisa dilakukan selama keduanya melihat arah yang sama. Kadang, di tengah jalan kita juga harus saling mengingatkan. Tidak jarang yang satu lupa tujuan akhirnya. Kemana tujuan akhir masing-masing pernikahan? Itu PR dari setiap pasangannya.

Well, itu sih, catatan saya sebagai pasangan yang masih newbie banget lhoo ya. Selama enam tahun ini, kerasa banget kalau masing-masing dari kami menunjukkan pertumbuhan. Saya belajar banyak dari suami untuk bersikap lebih santai dan terbuka, suami juga belajar menyukai hal-hal yang dulu tidak disukainya. Masih inget banget, dulu waktu baru kenal dengan suami(dulu calon :-) ) dia masih menulis sms dengan caps lock, sekarang sudah bisa bikin satu kalimat romantis. Dulu, bajunya serba hitam, sekarang udah mau pake pink. Dulu, saya kelewat rapi dan terlalu dress-up kalau mau kemana-mana. Sekarang, bisa lebih cuek. Ah, kalo mau dibikin catetan, banyak banget. Tapi yang penting, 6 tahun ini kami bertumbuh.

Dan kalau mikir masalah, klisenya sampai kita mati nggak bakal reda, kan. Dan masalah pun sebenarnya sarana bagi semua orang untuk bertumbuh. Jadi....what is the recipe of happy marriage? Belum punya, atau mungkin, sekarang masih trial and error. Kapan bisa tahu kalau we've already made it?
Mungkin suatu hati nanti, saat kami berdua sama-sama mendampingi anak kami naik ke pelaminan dan mengingat kembali perjalanan kami....atau nanti malam, saat salah satu dari kami terbangun dan menyadari bahwa apa pun yang terjadi, yang penting kami saling memiliki satu sama lain; untuk menyaksikan bagaimana kehidupan dan cinta kasih bertumbuh di dalam diri kita.
XOXO

4 comments:

  1. Bagaimana dengan anak, Nia? Katanya kehadiran mereka mengubah segalanya. Ih waw jadi deg-degan xD

    ReplyDelete
  2. yang pasti itu cuma perubahan. selamat bergandengan ya biduk-biduk cinta :D

    ReplyDelete
  3. @andin: kalo itu,tampaknya harus bikin postingan sambungan nih :)

    ReplyDelete
  4. @andin: kalo itu,tampaknya harus bikin postingan sambungan nih :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...