Sunday, March 31, 2013

March (ing) On

Sepanjang bulan Maret ini banyak banget hal yang udah kejadi dan judulnya adalah 'bulan baris-berbaris' :D. Banyak hal yang udah berbaris untuk diselesaikan dan diupayakan di bulan ini. Dari mulai persiapan supaya thesis bisa di-acc sama pembimbing buat maju sidang usulan penelitian, sampai harus mengupayakan pekerjaan-pekerjaan lain supaya bisa goal di bulan ini. Fiuhh, rasanya lumayan melelahkan juga. Apalagi, terhitungnya udah tiga bulanan lebih nggak punya asisten rumah tangga. Tapi, alhamdulillah nggak ada drama yang berarti saat ditinggal asisten rumah tangga ini. Banyak yang nanya gimana cara ngatur waktunya; jadi work at home mom, nyambi beberapa kerjaan freelance, sekaligus jadi anak kuliahan yang sedang nyusun thesis, dan ngga ada yang bantu-bantu di rumah?

Kalau dipikir-pikir rasanya mustahil bisa beresin ini dan itu sebulan ini. Tapi, alhamdulillah dikasih lancar apa-apanya. Kerjaan rumah dikerjain bareng-bareng dan nyoba untuk ngga terlalu perfeksionis dalam urusan beberes atau masak. Kalau malas nyetrika ya udah, baju-baju kantor dimasukin laundry. Pokoknya, kuncinya kerjasama, ngga perfeksionis, dan ngga itung-itungan masalah kerjaan rumah. Semua dibawa santai. Masalah anak di rumah, kalau pas saya kuliah atau ada kerjaan di luar, sementara teratasi dengan sekolahnya yang sampai jam satu siang lalu lanjut day care, dijemput sorenya. 

Wiken benar-benar jadi hari keluarga dan istirahat. Kalau nggak perlu-perlu amat, sekarang jadi jarang hang out keluar, apalagi nonton ke bioskop. Kalau mau nonton bertiga pun mesti pilih-pilih film yang bisa ditonton bareng Ezra. Sekarang juga jadi lebih seneng cari kegiatan yang kreatif, misalnya piknik sederhana di tempat yang ngga ramai banget kaya taman atau hutan kota. Biar Ezra juga tahu kalau masih banyak hal yang bisa dilakuin selain main ke mal. 

Bekal piknik saat libur food combining di hari minggu :)
Kegiatan olahraga mau nggak mau juga harus dilakuin bertiga. Akhirnya, kalau lari pagi, renang, atau sepedaan kita pilih di akhir pekan biar bisa dilakuin bareng-bareng. Saya pun jadi libur yoga lama sekali karena jadwal pagi udah penuh dengan kerjaan rumah. Ah, tapi nyapu-ngepel-dkk itungannya juga cardio kan :) Dengan nggak punya asisten rumah, Ezra sekarang mau bantu beres-beres. Minimal mainannya sendiri. Dia jadi paham dengan tanggung jawabnya; kalau nggak mau cape beresin mainan, ya dia nggak banyak berantakin. Kadang, dia juga suka ikut beberes rumah dan bantu-bantu bikin snacknya sendiri. Dulu seringnya tahu jadi aja. Sekarang, jadi hobi bantuin bikin popcorn atau pop cake sendiri karena tahu prosesnya menyenangkan.
Popcorn mentega+keju dan caramel honey.

Kalau pas cape banget, tinggal tempel koyo dan oles-oles krim, hehehe, kalau ngga manjur langsung pijet. Fiuhh, semua yang sedang djalani ini ngga mudah memang dan cukup melelahkan. Modalnya itu dikasih fit sama Allah dan berusaha selalu bersykur karena banyak perubahan baru yang bikin kami jadi belajar.

Situasi stagnan itu sering kali melumpuhkan dan nggak bikin kita tumbuh. Perubahanlah yang membuat kita bergerak, tumbuh, dan menjadi lebih baik. Senang rasanya melewati bulan Maret ini, apalagi satu per satu mulai menampakkan hasilnya. Semoga, bulan-bulan ke depannya, semua kegiatan dan rencana diberi kelancaran dan kemudahan. Amin.

So, now I am ready welcoming the April Month :D

Tuesday, March 26, 2013

Sometimes People Don’t Change,Their Priorities Do


Gambar dipinjam dari sini
Pernahkah kamu berada pada sebuah titik di kehidupan ketika orang-orang terdekat dan momen-momen kebahagiaan seolah bergerak meninggalkanmu? Lalu kamu merasa sendirian dan kebahagiaan seolah terlepas dari genggaman.

Sejak kecil, ada puluhan—bahkan mungkin ratusan—momen yang tidak akan lagi terulang dalam kehidupan kita: pesta ulang tahun pertama, buaian hangat ibu di malam hujan, gendongan di atas bahu ayah saat berjalan di tengah keramaian, masuk sekolah untuk pertama kalinya, jatuh hati kepada seseorang untuk pertama kalinya, dan masih banyak lagi momen yang hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Selanjutnya, momen-momen sekali seumur hidup itu hilang tersapu pergerakan waktu dan memasuki kotak kenangan. Dan kita menjalani sebagian besar momen kehidupan ini yang merupakan momen pengulangan.

Sering kali, kita merindukan momen-momen yang telah pergi; momen yang telah habis masa berlakunya. Kita lalu bertanya-tanya; benarkah sebuah hubungan, status kepemilikan, dan momen kebahagiaan punya tanggal kedaluwarsa? Tidak adakah kebahagiaan yang akan berlangsung selamanya? Tidak adakah seseorang yang akan berada di samping kita selamanya?

Sejak kecil, ada beberapa—bahkan mungkin puluhan—orang terdekat yang pergi meninggalkan kita: teman-teman masa kecil yang harus bersekolah di tempat yang berbeda dengan kita, sahabat yang memutuskan untuk kuliah atau bekerja di luar kota, orang terkasih yang pergi lebih dulu meninggalkan kita, dan masih banyak lagi orang-orang yang datang dan pergi dalam kehidupan kita. Beberapa dari mereka masih tersimpan dalam kotak ingatan, sementara yang lain tersapu arus waktu yang bergulung cepat. Tahun demi tahun kita menumpuk daftar orang yang hilang atau pergi dalam kehidupan kita. Sebagian perpisahan terasa begitu menyesakkan, namun sebagian lagi terasa melegakan.

Jika dapat mengintip hati, kita akan melihat torehan warna perpisahan yang melukisnya; biru yang haru, ungu sendu, bahkan kelabu. Aroma perpisahan menyelimuti setiap langkah kehidupan. Sebab saat bertemu seseorang untuk pertama kalinya, di saat yang sama, sebuah perpisahan bersembunyi di balik jabat tangannya. Begitu pula ketika momen kebahagiaan datang menyapa; di balik punggungnya bersandar kepiluan yang akan berbalik memandangi kita ketika momen itu telah habis masa berlakunya.

Pergantian, pergerakan, dan perubahan. Itulah sari kehidupan yang sesungguhnya. Jika tidak ingin merasakan kepedihan maka jangan kamu genggam kebahagiaan terlalu lama; jika tidak ingin merasakan sakitnya perpisahan maka jangan kamu penjarakan orang-orang yang berada di sisimu.

Mengalirlah karena dengan itu kamu akan terus berjalan beriringan dengan momen-momen baru yang membahagiakan. Bergeraklah karena dengan itu kamu akan menemukan orang-orang baru yang akan mengisi ulang persediaan tawamu.

Mungkin benar jika kepedihan justru timbul karena kita terlalu terpaku memandangi pintu-pintu yang telah tertutup. Mungkin benar jika orang-orang sesungguhnya tidak benar-benar berubah. Mereka hanya bergerak mengikuti prioritas-prioritas yang berubah sepanjang hidupnya. Mereka hanya mencoba mematuhi hukum kehidupan.

Mungkin jika sama-sama menyadari hal itu, kita akan tahu bahwa sepanjang perjalanan kehidupan, prioritas kita pun berubah dan berganti arah. Bahkan, konon katanya, setiap tujuh tahun kita kehilangan setengah dari teman-teman yang kita miliki dan menggantikannya dengan teman-teman yang baru. Jika mau melihat sebuah perpisahan atau pergantian momen dari sudut yang positif, kita akan melihat bahwa beberapa orang hadir untuk memberikan kita sebuah pembelajaran, beberapa lagi meninggalkan jejaknya dengan begitu dalam agar kita menghargai makna kehidupan, yang lain datang seperti angin yang menyapu butiran pasir di tepi pantai.

Jadi, apakah masih mau memandangi pintu yang sudah berubah menjadi dinding yang dingin? Berbaliklah, bergerak, dan temukan arah yang baru. Jalan-jalan baru menunggu untuk ditaklukkan; di setiap pemberhentian, orang-orang baru menantimu dengan kisah dan pembelajaran baru. Live your life. Let’s move on!

*Tulisan di atas diikutsertakan untuk #CHICBlogContest #Lucky8Bday yang diselenggarakan oleh @CHICmagz

Monday, March 25, 2013

Three Things : My Self Reminder

"Pernahkah kau merasa sedih karena kehidupan ini berjalan begitu singkat dan hari-hari berlalu begitu cepat. Kau berusaha menemukan cara untuk mengerem pergerakannya, dan ketika malam menjelang, lalu matahari mengubah segala sesuatunya menjadi siluet, kau menyadari bahwa waktu tidak dapat dihentikan meski hanya satu detik. Meski kau berjalan lebih perlahan dan tinggal berlama-lama di tempat tidurmu, meski kau mematikan semua jammu, menutup semua jendela dan pintu waktu. Waktu_di luar sana_tetap bergerak meninggalkanmu."

Penggalan paragraf di atas diambil dari draf novel yang sedang saya kerjakan. Belum ada judulnya, juga :). Meski kalimat di atas dinarasikan oleh salah seorang tokoh fiktif, tetapi kalimat-kalimat itu sedang sangat mewakili perasaan saya saat ini.
Bagi saya, dan mungkin orang-orang dewasa di luar sana juga merasakan, satu tahun itu seperti sekelebatan saja. Iya nggak, sih? Mungkin hanya anak-anak kecil yang merasa satu tahun itu lama.

Biasanya, dalam kurun waktu tiga bulanan saya membuat semacam catatan; bisa tentang apa saja, misalnya evaluasi atau hal-hal yang patut diberi perhatian. Nah, karena bulan Maret sudah hampir berakhir, ini self reminder saya untuk tiga bulan pertama di 2013 ini:
1. Banish my inner perfectionist and it's evil twin, procastination.
2. Avoid nurturing the insatiable hungry ghost.
3. Create to remind yourself you're still alive.
Nah, itu aja. Syukurlah cuma tiga hal. Self reminder kamu apa?

Wednesday, March 13, 2013

Being Mom & Raising a Boy

Menjadi ibu dari seorang anak laki-laki yang kini bukan lagi baby boy, tetapi sudah mulai menjadi seorang little boy membuat saya harus terus belajar tentang sosok lelaki kecil dan dunianya. Ternyata banyak juga hal-hal kecil yang harus disesuaikan ketika menjadi ibu bagi seorang anak laki-laki. Hal ini tentu saja sudah saya sadari sejak si kecil masih bayi karena beberapa perawatan dan pola asuh dasar akan berbeda antara bayi perempuan dan bayi laki-laki.

Dan sebelum cerita-cerita...hehehe akhirnya berhasil juga membuat kolase foto-foto dia selama ini....from zero to five. Hmmm, sisanya masih banyak. Peer buat ayahnya untuk ngumpulin dan nyetak, nih.











Dan sekarang, mulai cerita-ceritanya.
Sementara si kecil sedang berada pada masa-masa toddler dan sebentar lagi akan mulai memasuki masa-masa menjelang sekolah dasarnya, saya makin menyadari kalau gaya pengasuhan yang dipakai juga harus mulai menyesuaikan dengan dunianya saat ini. Ini beberapa catatan mengenai penyesuaian-penyesuaian yang bisa dilakukan seorang ibu yang memiliki anak lelaki karena memang ada perbedaan mendasar antara bagaimana pola pengasuhan untuk anak laki-laki dengan anak perempuan. Beberapa sudah berhasil dilakukan, sisanya masih peer banget, nih.
  1. Sejak awal, bocah laki-laki sudah membangun minat yang berbeda dengan anak perempuan. Terlihat jelas dari pilihan mainan, tontonan, dan aktivitas yang dilakukan. Mau tidak mau, seorang ibu dengan anak laki-laki harus mau memahami dunia anak laki-laki. Jadi, kalau dulu saya melihat mobil cuma dari sisi praktis dan kegunaannya. Sekarang, mau nggak mau harus ikut-ikutan berminat dengan hotwheels, tomica, sirkuit Tamiya, sampai game-game balapan yang dulu boro-boro saya lirik. Ternyata dengan menunjukkan kalau kita menaruh minat yang sama dengan apa yang disukai anak, hal itu akan membuat dia senang, merasa diperhatikan, dan ujung-ujungnya sikap kita ini akan membangun keterbukaan, komunikasi yang baik, dan rasa percaya diri pada si anak.
  2. Anak laki-laki cenderung memiliki otak kanan yang berkembang dengan lebih baik. Hal tersebut membuat anak laki-laki biasanya lebih baik di bidang matematika dan hal-hal mekanis. Biasanya, mereka juga cenderung lebih berorientasi pada tindakan. Karena berorientasi pada tindakan maka seringkali penjelasan untuk anak laki-laki itu mempannya dengan menggunakan contoh. Nggak heran kalau selama ini setiap kali menyuruh Ezra melakukan sesuatu, lebih manjur kalau menggunakan contoh. Dari mulai cara menggosok gigi sampai cara menggunakan sesuatu, biasanya saya lakukan dengan mempraktekkan bersama-sama. Nggak heran juga kalau dia kekeuh nggak mau melakukan sesuatu apalagi tanpa contoh nyata. Pokoknya, punya anak laki-laki itu kerasa banget walk the talk-nya.

Thursday, March 7, 2013

Are you a Grouch?




Banyak orang menghindari keluhan atau mengeluh. Gerakan memberikan motivasi dan semangat berpikir positif mulai merebak di sana-sini, termasuk di situs jejaring sosial. Arus energi positif dihantarkan lewat berbagai jalur. Sebagian dilakukan sebagai pengingat satu sama lain, sebagian lagi untuk self reminder, atau ada juga yang sekadar pencitraan.

Well, semuanya sih, sah-sah saja. Termasuk mengeluh itu sendiri. Buat saya, mengeluh itu manusia banget. Pertanda kita masih punya kesadaran bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang ideal. Sebagai pekerja yang terbiasa mendengarkan 'keluhan', saya mulai bisa merasakan bahwa tidak semua orang bisa tersemangati dengan kata 'Semangat' . Terkadang, beberapa kalimat positif justru kehilangan mantranya. 

Seringkali, obat mujarab untuk mengatasi keluhan bukanlah dengan mengajak seseorang sekadar berpikir positif, tetapi justru responsif terhadap keluhan tersebut. Selami, dekati, dan jadikan keluhan sebagai teman baik. Berpikir positif memang bagus, tetapi kadang cuma jadi solusi sementara bagi sebuah masalah. Sementara si masalahnya masih tetap ada.

Mungkin, yang lebih tepat adalah bagaimana menyikapi keluhan itu dengan sikap yang positif. Kalau hanya menyelesaikan keluhan dengan mengeluh, bisa jadi kita nggak akan bergerak kemana-mana. Tapi coba buat daftar keluhan di satu sisi dan di sisi lain buat daftar solusinya. Seringkali, daftar solusi akan lebih panjang ketimbang daftar keluhan, dan satu-satunya hal yang menghambat kita untuk menyelesaikan keluhan itu adalah--kemalasan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...