Tuesday, April 9, 2013

Memandang Noda dari Sudut yang Positif (Ulasan Buku: Cerita di Balik Noda)


Pernah membayangkan menjalani hari-hari dalam kehidupan kita ini tanpa bersinggungan dengan noda? Rasanya sulit untuk membayangkan hal itu, ya. Setiap saat selalu ada kemungkinan kita akan berurusan dengan noda. Sejak bangun tidur hingga tidur kembali, sadar atau tidak, kita sering kali menjejakkan noda di antara kedua waktu tersebut. Diingat atau tidak, banyak sekali noda yang tertinggal di setiap langkah dalam perjalanan hidup ini: tetesan keringat yang merembes di antara serat-serat kain yang menutupi tubuh kita, cipratan air yang tercampur dengan debu dan kotoran yang menempel pada sepatu atau bagian bawah keliman celana, saus atau bumbu masakan yang mengenai baju, tetesan tinta, genangan air, dan masih banyak lagi noda lainnya.

Noda sering kali menjadi sesuatu yang dihindari oleh kebanyakan orang, padahal noda adalah sebuah pertanda bahwa kita hidup dan sedang menjalani kehidupan. Tidak banyak orang yang dapat melihat noda dari sudut pandang yang positif. Namun, melalui Buku Cerita Di Balik Noda ini kita akan belajar banyak mengenai makna positif sebuah noda. Buku Cerita Di Balik Noda ini berisi kumpulan kisah yang ditulis oleh para ibu, orang yang dianggap paling peduli terhadap urusan noda dan tidak jarang yang paling sering mengeryitkan dahi kala berurusan dengan noda.

Terdapat 42 kisah yang awalnya ditulis oleh para peserta lomba menulis bertema sama, yaitu “Cerita di Balik Noda” yang diadakan oleh Rinso Indonesia. Kisah-kisah tersebut kemudian dikembangkan oleh Fira Basuki yang namanya sudah cukup akrab di telinga pembaca Indonesia melalui karya-karyanya seperti novel trilogi Jendela-Jendela, Pintu, dan Atap.

Kisah-kisah dalam buku ini dibuka dengan Di Balik “Cerita di Balik Noda” yang ditulis oleh Fira Basuki sebagai pengantar menuju kisah-kisah inspiratif lainnya. Dari pengantar yang dituturkan, secara tidak langsung pembaca dapat merasakan bahwa kisah-kisah yang akan dibagikan merupakan dinamika dalam relasi antara ibu dan anak dalam kesehariannya, yang tentu saja berkaitan dengan noda.

Kisah pertama—Bos Galak—menjadi kisah pembuka yang membuat saya ingin terus melaju untuk menyibak kisah-kisah selanjutnya. Kisah tersebut berangkat dari sudut pandang yang cukup berbeda dari yang saya bayangkan sebelumnya, yaitu relasi ibu-anak dan noda. Setting cerita yang berada di kantor, melibatkan seorang bos galak dengan anak buahnya terasa segar dan membuat saya penasaran dengan kisah-kisah selanjutnya.

Benar saja, saya tidak dapat berhenti untuk berpindah dari satu kisah ke kisah lainnya. Kadang, hanya berhenti untuk mengerjapkan mata atau menyusut air mata yang turun tanpa disadari. Terutama ketika membaca kisah yang berjudul Sarung Ayah. Atau dalam kisah berjudul Tak Jadi, saya berhenti beberapa saat dan merenung bahwa terkadang noda atau kotoran dapat merekatkan kembali sebuah hubungan yang retak. Lalu, ketika sampai pada kisah Kucing dan Rezeki, bulu kuduk tiba-tiba meremang saat sedang membacanya. Dan ketika sampai pada kisah terakhir, Teman Sejati, saya kembali menyadari bahwa noda sejatinya adalah jejak dan pertanda bahwa kita telah melakukan dan mempelajari sesuatu dalam kehidupan ini.

Meskipun hanya beberapa judul yang saya sebutkan, namun bukan berarti kisah-kisah lainnya tidak menyentuh atau menarik. Sebagian besar inspirasi yang tertuang dalam kisah-kisah tersebut berasal dari aktivitas anak-anak yang justru masih tabularasa. Meski masih polos, mereka tidak takut bersinggungan dengan noda, dan justru karena 'berani kotor' mereka memberikan banyak pelajaran kepada yang lebih tua melalui noda. Sebagai seorang ibu, kisah-kisah yang dituturkan dalam buku ini semakin menguatkan saya untuk memahami arti dari filosofi kalimat “Berani Kotor Itu Baik”. Tanpa kisah-kisah yang telah ditulis dan dibagikan oleh para ibu di luar sana ini, saya tidak akan belajar banyak tentang nilai positif dari sebuah noda dan masih mengeryitkan dahi saat berurusan dengannya. Kisah-kisah dalam buku ini dapat menjadi penyeimbang jiwa dan penggeser titik berdiri kita dalam memandang arti sebuah noda.   

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...