Thursday, May 30, 2013

Give Away : Bagi-Bagi Buku Gratis Part (3)


gambar dari sini
Hello, Sudah lama sekali saya nggak mengadakan give away seperti halnya kuis “Bagi-Bagi Buku Gratis” yang beberapa tahun lalu sempat lumayan meramaikan blog ini. Hmmm, sepertinya sekarang saatnya buat seru-seruan lagi, nih. Mumpung ada beberapa stok buku keren yang bisa dibagi-bagikan.

Kali ini, saya akan membagikan paket buku senilai @100.000 rupiah untuk tiga orang yang ceritanya terpilih. Gimana caranya:
  1. Tulis sebuah flash fiction; (maksimal 500 kata) dengan tema: Rintangan. Di dalam cerita juga harus menyertakan kata 'Rintangan'
  2. Unggah cerita di blog masing-masing. Sertakan link postingan ini dengan memberikan keterangan kalau sedang mengikuti give away di brama-sole.com
  3. Follow blog brama-sole.com
  4. Kemudian, mention @nia_nurdiansyah di twitter dengan menyertakan link postingan flash fiction tersebut. Sertakan tagar #Rintangan #GAbramasole
  5. Kirimkan juga ceritanya ke: nia.nurdiansyah@gmail.com (cerita boleh diletakkan di badan email atau menggunakan attachment) dengan Subject : Give Away-Rintangan-Bramasole. Jangan lupa tuliskan identitas dirinya, ya (Nama, Alamat Blog, dan Akun Twitter)
  6. Kiriman cerita ditunggu sampai dengan tanggal 29 Juni 2013.
  7. Setiap cerita yang masuk juga akan diunggah ke brama-sole.com
  8. Akan dipilih tiga cerita terbaik dan penulisnya akan mendapatkan paket buku senilai @100.000 rupiah.
  9. Pengumuman pemenang dilakukan pada tanggal 7 Juli 2013.
  10. Let’s write and have fun!
NB: Kenapa temanya 'rintangan'? Nanti akan ada postingan sendiri tentang ini :) 

Wednesday, May 29, 2013

Third Novel : My Cup of Tea



Alhamdulillah, akhirnya novel ketiga saya yang berjudul My Cup of Tea sudah rampung digarap di penerbit GagasMedia. My Cup of Tea akan mulai beredar di toko buku sekitar awal bulan Juni ini. Perjalanan penulisan My Cup of Tea ini terasa cukup menyenangkan buat saya. Sejak awal, memang ingin menulis sesuatu yang ringan dan manis, akhirnya kesampaian juga.  

Mulanya novel ketiga ini berjudul SerendipiTEA. Judul SerendipiTEA diambil dari nama sebuah kafe yang ada dalam kisah di novel ini. Selain itu, ada sedikit filosofi di balik pemilihan judul SerendipiTea tersebut, yang mengabungkan dua arti kata, yaitu takdir dan teh (Serendipity dan Tea). Kata itu juga merupakan penggabungan dua nama tokoh utama, yaitu Shereen dan Dipi. 

Setelah melalui proses pemilihan judul di penerbit, dipilihlah judul yang lebih earcatching, mudah diingat, dan dilafalkan oleh siapa saja, yaitu My Cup of Tea. Editor saya yang brilian @JiaEffendie memilihkan judul tersebut. Di dalam Bahasa Inggris terdapat idiom seperti 'Not My Cup of Tea', yang artinya bukan seleraku. Nah, kalau di sini. My Cup of Tea artinya tentu saja sesuatu yang sangat disukai oleh tokoh utamanya.

Secara garis besar, novel ini bercerita tentang Shereen dan Dipi yang sudah bersahabat sejak kecil. Keduanya terlanjur terikat dalam hubungan persahabatan yang begitu kental sehingga rasanya tidak mungkin dapat menjadi sepasang kekasih, meskipun sebenarnya ada benih-benih perasaan cinta yang mulai tumbuh seiring perjalanan waktu. Apalagi, usia Shereen yang lebih tua dibandingkan Dipi, dan Shereen juga selalu menganggap Dipi sebagai adiknya. 

Keduanya kemudian berpisah karena harus mengejar cita-citanya. Dipi sejak kecil sangat ingin menjadi koki dan membuka sebuah kafe, sementara Shereen harus meniti karirnya sebagai desainer interior. Masing-masing telah memiliki kehidupan dan pasangan sendiri. Sampai keduanya kemudian bertemu kembali dan menyadari bahwa terkadang ada sepercik kepercayaan di hati tentang apa yang harus diperjuangkan dan dilepaskan di dalam hidup.

Hmmm, itu sih, sekilas ceritanya. My Cup of Tea juga dilengkapi dengan ilustrasi berupa sketsa-sketsa yang menggambarkan beberapa adegan favorit. Sketsa di dalam My Cup of Tea, digarap oleh seorang ilustrator berbakat @FajarRamayel. Saya terkesan dengan bagaimana ia bisa menerjemahkan keinginan saya dan menangkap mood dalam ceritanya. Sketsa terakhir yang dibuatnya bahkan sangat mirip dengan apa yang saya bayangkan saat sedang menulis cerita.

Ini link video untuk book trailernya. Silakan disimak :) 

Semoga, novel ini bisa diterima dengan baik dan berkesan di hati pembaca.

Happy Reading!
Nia Nurdiansyah

Tuesday, May 21, 2013

Stop By The Town of Pekalongan

Awal Mei kemarin, saya sekeluarga bersama teman-teman mapro unpad 9 berkesempatan untuk mampir ke Kota Pekalongan dalam rangka acara pernikahan ketua kelas kami @liienzz. Karena singgah di Pekalongannya lumayan lama, maka dibuatlah semacam rencana jalan-jalan. Awalnya, sempat bingung mau kemana karena dari hasil googling tidak ada tempat khusus yang jadi highlight dari kota ini. Tentu saja bukannya nggak ada signature dari kota yang terletak di jalur pantura yang menghubungkan antara Jakarta-Semarang-Surabaya ini, lhoo. Pekalongan terkenal dengan batik dan wisata kulinernya, yang kalau menurut saya cukup unik. Nah, karena dua hal itu maka tema jalan-jalannya pun nggak jauh dari wisata belanja dan kuliner.


Jalan-jalan pertama dilakukan pada Sabtu pagi selepas acara pemberkatan pernikahan yang berlangsung di Gereja St.Petrus. Karena jam sudah menunjukkan waktu makan siang maka yang dituju pertama adalah tempat makan. Sejak datang kami semua sudah penasaran dengan yang namanya Nasi Megono, dan setelah mendapatkan rekomendasi, dipilihlah Nasi Megono Bu Suli yang letaknya di Jalan Jeruk. Untuk sampai ke tempat ini, agak bingung juga, pasalnya jalanan di kota ini ruasnya pendek-pendek. Jalan Jeruk itu letaknya tidak jauh dari pusat kota dan pasar. Nah, sekarang biar gambar yang bicara, ya.

ini nih, penampakan warung lesehannya. waktu kita datang, warung makan ini baru saja buka.

kalau melihat sekilas, terpikirnya pasti ini cuma sajian nasi rames biasa: nasi yang disajikan dengan aneka lauk-pauk

yang bikin beda adalah ini, nih: megono. megono itu terbuat dari nangka muda yang dipotong halus dicampur dengan aneka sayur, seperti kol, kacang panjang, dsb. yang unik adalah rasa yang berasal dari bumbu-bumbunya, yaitu kecombrang, kelapa parut, dan lengkuas.

selain disajikan dengan aneka lauk, ada juga aneka pepes. yang yummy adalah pepes sriping atau sejenis kerang. rasanya pedas dan gurih.
Sehabis makan siang, jalan-jalan dilanjutkan dengan berkeliling kota. Yang unik dari kota ini, selain ruas jalannya yang pendek-pendek juga bangunan-bangunannya. Masih banyak bangunan model lama, perpaduan antar arsitektur Betawi-Arab, Jawa, China, dan Belanda yang berdampingan dengan bangunan modern yang bisa dibilang nggak terlalu banyak. Ini beberapa yang berhasil dipotret dari dalam mobil.

ini bukan iklan minuman, ya, hihihi. ini mau nunjukin pintu rumah toko yang unik dan nggak seperti pintu ruko pada umumnya.

ngga berhasil memotret dengan bagus dari dalam mobil, jadi sambil lalu saja. tapi banyak sekali bangunan dengan detail unik di setiap ruas jalan.


Sehabis jalan-jalan, kami mampir di sebuah toko batik (lupa apa namanya) buat pemanasan belanja dan ngadem, hehehe...karena cuaca kota ini lumayan panas dan bikin gerah. Tadinya, saya pingin cari camilan apa gitu, tapi saat masuk ke toko batik tersebut malah disuguhi penganan khasnya, yaitu gemblong. Jadi, lumayan, lah. Jangan membayangkan gemblong seperti yang dijual mamang-mamang di lampu merah pasteur, ya, hehehe karena gemblong khas Pekalongan ini unik. Gemblong yang dimaksud adalah semacam kue klepon yang disajikan bersama santan kental, parutan kelapa, dan kucuran gula merah cair yag kemudian dibungkus daun pisang. Rasanya: maknyuss.
ini nih, penampakannya.
Setelah puas belanja ngadem, hihihi...perjalanan berlanjut dengan mutermuter nggak puguh dan nyasar masuk ke sebuah kampung batik. Sebenarnya sih, nggak niat nyasar-nyasar amat karena kami mengikuti petunjuk dari plang yang terpampang nyata di jalan. Kampung batik ini bernama Pesindon. Kalau ke sini, sempatkan buat turun dari mobil dan melihat satu per satu sentra home industry tersebut karena kalau melihat dari penampilan rumah-rumahnya sepertinya menarik. Karena panas, (lagi-lagi jadi alasan) dan bawa satu bocah dan bayik, kami cuma muter-muter pakai mobil yang mana itu membuat kami seperti berjalan di dalam labirin karena harus melewati gang-gang kecil, yang untungnya masih muat dilewati mobil, serta nyasar-nyasar saat harus kembali ke jalan besar. Selain Kampung Batik Pesindon, sebenarnya ada juga Kampung Batik Kauman. Tapi karena alasan yang sama, nggak mampir ke tempat tersebut. Awalnya berniat untuk mendatangi Butik Dian Pelangi di Jalan Kalimantan, tapi ya, gitu, deh: Jalan Sulawesi berhasil ditemukan, begitu pun dengan jalan dengan nama pulau lain, tapi Jalan Kalimantan nggak ketemu, bahkan pakai GPS juga ngga nongol.

Jadi, perjalanan dilanjut ke IBC (International Batik Center) atau Sentra Batik International. Dari bangunannya sih, tampaknya bakal adem dan seru belanja di sini, tetapi entah kenapa karena aura pasarnya nggak muncul jadinya kami cuma muter-muter nggak jelas. Nanya harga satu-dua barang, tapi nggak dibeli juga. FYI, IBC ini ada di jalur pantura, jadi kalau mau ke sini tempatnya agak jauh dari pusat kota tadi, tepatnya sih, di Kabupaten Wiradesa.

icon bangunan IBC adalah wajan yang biasa digunakan untuk melelehkan malam/lilin untuk membatik
Dari IBC, diputuskan untuk pulang ke hotel, yaitu di Gren Meridien Hotel, dan istirahat. Sorenya, baru deh, jalan-jalan dilanjutkan ke Pasar Grosir Setono. Di sini, barulah terasa aura pasar dan belanjanya. Meskipun harganya seperti sudah dipatok, dan proses tawar-menawar jadi kurang seru, tapi harga batik di sini lumayan miring. Tips belanja di Pasar Setono itu, setiap kios punya desain dan merek sendiri. Jadi, kalau nemu satu barang bagus dan sreg sama selera kita, belum tentu di kios lainnya ada. Harga di dalam pasar (bagian dalam) kalau menurut saya sih, cenderung lebih murah dibandingkan yang di bagian depan. Jadi, kalau mau rajin, bisa kok nemu barang-barang bagus berkualitas dengan harga miring.

banyak tas batik lucu dengan harga berkisar antara 10.000-75.000 rupiah saja.
Nah, itu cerita jalan-jalan kami di hari pertama. Di hari kedua, karena siangnya akan langsung bertolak pulang maka dipilih tepat yang sejalur dengan jalan pulang. Pertama, selepas check out dari hotel, langsung menjajal Tauto Bang Dul. Kalau berkunjung ke kota ini dan kebetulan membawa anak, bisa juga diajak main ke Dupan Waterpark yang lokasinya persis di depan hotel Gren Mandarin. Jadi, wisatanya nggak melulu belanja dan kuliner saja.



Tentang Tauto, ini adalah sejenis soto, tapi kuahnya gelap seperti rawon dan agak lebih kental. Kuahnya punya rasa yang khas karena dicampur dengan tauco. Di Tauto Bang Dul ini, ada dua macam soto, yaitu Tauto dengan daging sapi atau ayam.

Selepas makan soto, niatnya mau langsung makan es duren yang juga terkenal di daerah sana, tapi karena perut masih penuh, perjalanan dilanjut dengan cari oleh-oleh dulu. Sebenarnya, ngga ada oleh-oleh berupa makanan yang spesifik dari kota ini, tapi ternyata kami menemukan toko kue yang ada jajanan pasar yang lumayan enak, yaitu toko roti Molina di dekat Sriratu.

baru tahu kalau jajanan pasar ini istimewa setelah di perjalanan pulang dan nyemil. nyesel belinya cuma sedikit. wajiknya legit banget, juga talam dan kue yang warna ijo, yang entah apa namanya, itu :D
Perjalanan ditutup dengan ke Museum Batik. Untuk ke berkunjung ke museum ini dikenai biaya lima ribu satu orangnya (untuk dewasa). Selama melihat-lihat di museum, kita akan ditemani dengan seorang guide yang akan bercerita tentang batik-batik yang ada di museum tersebut. Koleksi museum tersebut beragam, umumnya, sih batik-batik dari seluruh nusantara. Terakhir, kita juga bisa belajar membatik di sana.

alat yang digunakan untuk membuat batik cap


bahan-bahan untuk mewarnai batik

mewarnai batik

Yes. Sekian kisah jalan-jalan ke Pekalongannya. Senang bisa mampir ke kota yang biasanya cuma dilewati kalau perjalanan ke Semarang atau Surabaya via jalur darat ini. Dan, ternyata benar; baru setelah melihat lebih dekat kita bisa mendapati keunikan sesuatu hal. Semoga bisa menjelajahi keunikan kota-kota di Indonesia lainnya. See ya...!

Tuesday, May 14, 2013

Tombo Ati : Entrepreneurship Hukum Langit

Beberapa waktu lalu saya sedang patah hati dan memutuskan untuk rehat dari aktivitas ngeblog. Sebenarnya, patah hatinya nggak ada kaitannya dengan blogging activities, sih. Hanya saja, gegara perkara patah hati itu, tiba-tiba kehilangan selera untuk melakukan ini-itu. Sempat ada badai kecil yang berlangsung. Mimpi-mimpi mulai dipertanyakan kembali, begitu juga dengan keputusan yang sudah dibuat. Nggak perlu diceritakan patah hatinya karena apa. Yang jelas ngga ada kaitannya sama urusan asmara :D

Untuk mengobati patah hati, aktivitas menulis pun di pindah ke area yang lebih personal, dan saya mulai mencari-cari penawar untuk meredakan rasa nggak nyaman yang didera hati.

Yup, dan saya menemukan buku ini: Entrepreneurship Hukum Langit-Sedekah Bukan Keajaiban karya Abu Marlo. 

Sudah agak lama pingin membeli buku ini, tapi ketertarikan terhadap hal-hal lain justru membuat saya lupa. Hasrat membeli buku itu kadang nggak bisa lagi dengan jelas dikategorikan sebagai semata-mata keinginan atau justru kebutuhan. Tapi, setelah membeli buku ini dan membacanya, saya baru sadar kalau ini adalah buku yang saya butuhkan.

Yah, seperti judul postingannya, buku ini memang Tombo Ati. Obat patah hati yang seharusnya saya konsumsi dan syukurlah manjur karena patah hati saya perlahan sembuh. Buku ini seperti mengajak saya pulang ke 'rumah' atau bisa dibilang mundur sampai ke titik nol. Sampai di titik nol, dengan leluasanya saya bisa menguliti diri sendiri dan melihat dengan lebih kentara apa yang membuat, terkadang, perjalanan hidup ini rasanya mampat di satu titik.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...