Thursday, July 18, 2013

Orkes Simfoni Selepas Hujan

Ini adalah penggalan puisi yang saya ambil dari naskah berjudul Rhythm of The Rain yang sedang saya edit belakangan ini. Saya mencoba untuk memusikalisasikan penggalan puisi tersebut; menyandingkannya dengan instrumentalia dari Yiruma yang berjudul Kiss The Rain. Ini salah satu cara agar saya bisa lebih semangat untuk memperbaiki naskahnya. 

Rekaman ini bisa dibilang postingan perdana saya di Soundcloud, dan hasilnya agak berantakan :). Masih terdengar suara gemerisik kertas-kertas, dan suaranya...uhmmm(bersihin tenggorokan) sengau nggak jelas karena sedang flu. Sudah minta pendapat suami, katanya: "kamu sambil nangis ya, baca puisinya?" :)

Sila disimak dan kasih komentar, ya.


Wednesday, July 17, 2013

Pemenang Give Away: Bagi Bagi Buku Gratis Part 3

Halo,
Terima kasih banyak buat teman-teman dan pembaca blog yang sudah berpartisipasi dengan mengikuti give away: Bagi-Bagi Buku Gratis Part 3 dengan mengirimkan flash fiction bertema 'Rintangan'.

Setelah membaca cerita yang dikirimkan; dengan berbagai penilaian dari isi cerita, ejaan, tata bahasa, dan sebagainya. Pemenang GA bertema 'Rintangan' kali ini adalah:
  1. Rini Ramli
  2. Reni Judhanto
  3. Arga Litha
Ketiga pemenang tersebut, masing-masing akan mendapatkan hadiah berupa paket buku senilai @100.000 rupiah. Untuk alamat pengiriman hadiah, sila japri ke : nia.nurdiansyah@yahoo.com ya.

Oh ya, sekalian juga; ada beberapa catatan dari cerita-cerita yang sudah dikirimkan. Ini berkaitan dengan hal-hal yang elementer seperti penulisan huruf, penulisan kata, penggunaan tanda baca, dan sebagainya.

Dari cerita-cerita yang dikirimkan, masih banyak yang tidak menyadari kesalahan-kesalahan dalam hal-hal tersebut. Ini beberapa yang berhasil saya garis bawahi :
  1. Pemakaian tanda petik. Tanda petik ("....") ini mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lan. Contoh: "Aku sudah melakukan semua yang perlu," ujar Suri. Perhatikan bahwa setelah tanda petik kata (ujar) yang mengikutinya diawali dengan huruf kecil. Dari cerita yang dikirimkan, masih ada yang menuliskannya dengan huruf besar.
  2. Partikel pun seharusnya ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Contoh : Apa pun yang aku lakukan tidak mengubah pendiriannya. Kelompok yang lazim disambung atau ditulis serangkai adalah: adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, dan walaupun.
  3. Ada beberapa kata atau frasa yang bila diletakkan di awal kalimat seharusnya diikuti dengan tanda koma (,). Contoh: Agaknya,... Akan tetapi,... Akhirnya,... Akibatnya,...Jadi,..., dst.
Oke. Mungkin itu dulu catatan tentang tata cara penulisannya, ya. Saya juga masih belajar, kok. Jadi, bisa sama-sama saling berbagi tip penulisan. Pada saat menulis cerita, khususnya cerpen, novel, dan bahkan artikel ilmiah, kita wajib belajar tata bahasa dan cara penulisan yang baik dan benar supaya bisa menghasilkan tulisan yang enak dibaca. Kita juga harus tahu mau menyampaikan ide kita dalam bentuk apa? Puisi, prosa pendek, cerpen, flash fiction? Semua ada ketentuannya. Dengan belajar dan memahami ketentuan yang berlaku secara umum, tulisan kita akan lebih mudah dicerna dan diterima dengan baik oleh pembaca.  
Salam,

Mental Blocked : Being Perfectionist

" a writer who waits for ideal conditions under which to work will die without putting a word on paper."
Uhmmm, itu bener banget. Lagi sering kejadian sama saya. Kalau lagi mau mulai nulis, bawaannya pingin bersih-bersih meja dulu lah, ngepel dulu lah, nuntasin urusan cucian dulu lah. Terus, kalau udah beres keburu energinya habis; keburu capek duluan dan ended up bikin excuses: istirahat dulu beberapa menit kali, ya. Terus malah buka internet; browsing, nengok medsos. Nah kan, waktu berkualitas buat nulisnya melayang begitu saja. Hilang fokus dan jadi susah tune in lagi.

Setelah dipikir-pikir. Kebiasaan kayak gini tuh, nggak boleh berlanjut. Saya lalu mulai mencari tahu kira-kira apa penyebab semua ini. Setelah dirunut-runut, saya berkesimpulan kalau sikap kayak gini tuh berakar dari kecenderungan sifat yang perfeksionis. Serius, deh. Akhirnya saya nyadar kalau sifat ini tuh, nggak bagus-bagus amat kalau porsinya kebesaran. Malah cenderung kompulsif. Makanya di sini saya tulis berjanji pingin mengurangi kadarnya.

Dalam hal pekerjaan menulis kaitannya dengan sifat perfeksionis itu begini: Kita ingin menghasilkan tulisan yang bagus dan mulai berpikir kalau lingkungan atau kondisi tempat kerja kita bagus maka cara kerja kita juga akan ikut menjadi bagus. Uhmm, pikiran kayak gini nggak salah juga, sih. Tapi cenderung dangkal dan shortcut semacam ini bisa menjerumuskan kita pada sebuah mental blocked.

Mental blocked? Serius amat. Yes. Ini adalah ‘racun’ paling mematikan buat kreativitas. Dan kalau menurut saya, perfeksionis adalah salah satu bentuk mental blocked yang kalau dimanja justru akan jadi ‘dikasih hati minta jantung’. Bener, deh.

Penjelasan tentang mental blocked, saya rumuskan begini: Pertama, dengan memanjakan mental blocked being perfeksionis, kita justru melatih diri sendiri untuk berfungsi optimal hanya pada kondisi yang ideal, padahal kan kenyataannya nggak bisa selalu seperti itu. Tuntutan sehari-hari yang ditemui, kita justru harus bisa berfungsi optimal dalam keadaan apa pun termasuk yang chaos.

Karena kondisi harus ideal dulu maka sebelum melakukan inti dari tugas yang harus diselesaikan kita berupaya untuk memperbaiki kondisi lingkungan atau penunjangnya, dan berpikir bahwa tindakan itu akan banyak membantu dalam menyelesaikan tugas utama. Seringnya, kita berhasil mengubah kondisi lingkungan dan mengoptimalkan penunjang, tapi nggak berhasil menyelesaikan tugas utama.

Analoginya, kita ambil contoh pekerjaan di dapur, deh.

Ceritanya kita mau bikin hidangan spesial buat makan malam. Sudah tahu mau masak apa dan bahan-bahan sudah disiapkan. Lalu kita ngomong pada diri sendiri: "Kayaknya enak nih, kalau sebelum mulai masak kita bersih-bersih dapur dulu, biar enak masaknya. Kalau dapur bersih pasti moodnya tambah oke, masakan juga pasti jadinya lebih enak. Sehabis itu melirik ke peralatan dapur. Enak nih, kalau pisaunya di asah dulu, terus itu kompor dibersihin dulu kali ya, bagian bawahnya biar kinclong. Masak harus bersih dan higienis juga dong."

Terus...terus, tahu-tahu udah jam makan malam. Dapur kinclong, kompor mengilat, pisau setajam silet. Tapi mana masakannya?

Nah, gampang kan kalau udah dianalogikan sama kegiatan dapur. Ini saya kasih tambahan buat bahan renungan:

@Quotes4writers: Every excuse is a goal. Yes! We say we want to write but instead come up with excuse after excuse not to. So we make that excuse our goal.

Jadi, mental blocked being perfectionist itu nggak lain nggak bukan hanya alasan sementara yang dipindai otak kita sebagai: kita sudah mulai melakukan pekerjaan utama, kok or half the way to it. Padahal belum. Padahal yang kita lakukan itu semacam ritual. Ritual buat nggak nyelesein pekerjaan. Hiiiii.

When i make excuses for not writing, I am making those excuses (chores, etc) as my goals. Shocked? Yes I was shocked too!

Thursday, July 11, 2013

Ezra School Holiday Activities : Lembang Floating Market

Yeay, akhirnya di minggu ketiga liburan sekolah Ezra, kami bisa liburan full team. Sayang, full team-nya tetep nggak lengkap karena papa-mama saya yang gantian ada acara saat wiken. Ya sudah, akhirnya, saya, suami, Ezra, plus tantenya memutuskan buat jalan-jalan di seputaran Bandung. Agak gambling bakal menyenangkan atau nggak karena tau sendiri gimana Bandung di saat wiken, apalagi lagi musim liburan sekolah. Di hari Jumat, kami masih belum tau mau kemana. Intinya jangan sampai ujung-ujungnya ngemal, dan harus nyari tempat yang bikin anak fun, tapi orang dewasa juga tetep bisa refresh.

Suami pingin ke Bosscha, saya pingin liat sayuran dan bunga di Cikole, dan adik saya pingin petualangan ala Sherina (saat adegan Sherina lagi lari-lari di pasar sayur-bunga) karena lagi rajin nyari objek foto. Yang jelas, kalau mau main ke Teropong Bintang Bosscha di Lembang memang nggak sesantai yang dibayangkan karena tempat itu memang bukan tempat wisata, melainkan observatorium milik ITB. Ada beberapa peraturan khusus yang harus dibaca di sini kalau mau berkunjung ke sana.

Nah, Lembang Floating Market itulah yang akhirnya menggabungkan keinginan kami semua. Dari rumah, kami berangkat pukul enam (agak lebay kepagiannya mengingat wiken dan takut kena macet), tapi ternyata kita sudah sampai di Lembang pukul setengah tujuh, itu pun karena sempat muter-muter nggak jelas di daerah Sariwangi. Sampai di sana malah bingung karena Floating Market baru buka jam 8-9 pagi. Ya sudah, keliling Lembang dulu jadinya mumpung lalu lintas belum begitu padat. Tujuan pertama adalah mencari objek foto demi memuaskan keinginan sang adik. Tapi Pasar Lembang gagal bikin dia terpesona. Kami pun berputar-putar untuk mencari, Deetje, sebuah rumah bergaya kolonial milik seorang pengusaha susu. Pernah diberitahu seorang teman yang tergabung dalam komunitas bernama Aleut, katanya Deetje ini termasuk bangunan kolonial yang unik. Tapi karena nggak tahu lokasi tepatnya, jadi nggak ketemu. 

Menyerah. Akhirnya kami ngemil ketan bakar dan pisang keju di pinggir jalan. Mendekati jam 8, kami bergerak menuju ke arah Pasar Lembang, lokasi Floating Market nggak jauh dari sana. Tinggal belok ke kanan, menyusuri Jalan Grand Hotel Lembang, dan Floating Market ada di kiri jalan. 

Untuk masuk ke sini, pengunjung dikenakan biaya @10.000 rupiah. Cukup murah mengingat uang masuk tersebut merupakan kupon welcome drink yang bisa ditukar dengan minuman seperti hot chocolate, cafe latte, lemon tea, dsb. Tapi tiket masuk tersebut nggak termasuk biaya untuk naik perahu atau memasuki wahana-wahana yang ada di lokasi tersebut.

Lembang floating market menawarkan pemandangan yang breathtaking dan atmosfernya cukup menenangkan pikiran. Situ Umar berada di tengah-tengah lokasi dan dikelilingi oleh pemandangan lembah serta pegunungan.Yang dibilang dengan floating market itu sebenarnya adalah perahu-perahu yang tertambat (seolah-olah) di dermaga atau tepian danau yag bernama Situ Umar itu, dan perahu-perahu itu menyajikan aneka makanan dan camilan. Untuk bisa menikmati makanan atau wahana yang ada di tempat tersebut, kita harus menukarkan uang dalam bentuk koin (yang menurut saya sih, ribet).

Eh, tapi jangan mengira kalau datang ke sini cuma buat makan lhoo ya. Ada beberapa spot menarik yang bisa dikunjungi di lokasi tersebut. Ada miniatur kampung dan perkebunan. Di sana, kita bisa memetik sayuran organik dan strawberi. Ada juga tempat di mana kita bisa memberi makan hewan ternak seperti kelinci dan angsa. Soal makanannya, memang sih, harga yang ditawarkan untuk makanan yang biasa, agak lebih mahal, tapi lumayanlah variasinya banyak. 

Yuuk, kita mulai liat gambar-gambarnya aja, deh. 

Ezra's School Holiday Activities : Cimory on The Valley, PVJ Bird Park, & Garden Ice

Tahun ini jadi tahun pertamanya Ezra merasakan yang namanya liburan sekolah. Memang sih, bagi anak-anak seusia Ezra (5y7m) mungkin belum kerasa banget perbedaan antara hari-hari yang full aktivitas di sekolah dengan hari-hari libur yang sebagian besar dihabiskan di rumah. Hanya saja, sekarang dia sudah mulai bisa membedakan dan bertanya-tanya kenapa tiap pagi dianya nggak lagi rutin beraktivitas di sekolah. Setelah dijelaskan kalau habis dibagi rapot dan acara pentas seni, murid-murid istirahat dari kegiatan di sekolah supaya nanti pas masuk lagi bisa lebih semangat ngapa-ngapainnya (dijelaskan juga kenapa ada bagi rapot). Setelah dikasih tahu, baru deh, anaknya ngerti.

Liburan kali ini waktunya lumayan panjang. Di buku panduan sekolah, rencana libur sekolah itu dimulai 15 Juni, ternyata jadinya maju satu minggu lebih awal. Total lima minggu, deh. Agak bingung juga, ya waktu selama itu mau diisi dengan apa. Apalagi, Ezra termasuk yang bosenan. Saya juga berusaha menghindari agar ia nggak cuma mengisi liburannya dengan nonton kartun atau main game. Masalahnya, ortunya juga nggak bisa full menemani dia liburan karena pekerjaan, dan tahun ini kami nggak punya rencana untuk liburan di hari kerja. 

Jadilah, dibuat semacam agenda liburan meskipun sebagian besar cuma bisa dilakukan pas wiken.

Wiken pertama, pas banget dengan acara suami yang harus mengurus kerjaan di daerah Ungaran, Semarang. Setelah nyari-nyari dan nanya sana-sini, ada beberapa pilihan tempat di daerah itu yang bisa dijadikan tempat liburan. Ada Kampung Seni Lerep dan sebuah desa wisata yang konon sering menampilkan dolanan anak tradisional. Tapi setelah browsing malah nggak nemu lokasi tepatnya, dan Kampung Seni Lerep sepertinya nggak terlalu pas untuk anak seusia Ezra. Karena bukan bapak-ibunya yang mau liburan maka dicarilah tempat yang lebih kids oriented.

Akhirnya, diputuskanlah buat ke Cimory on The Valley, Restaurant & Milk Factory. Waktu pertama kali sampai di lokasi, sempat mikir kalau main ke sini pasti ujung-ujungnya cuma makan, hehehe. Tenyata, lokasi Cimory di daerah Bergas, Ungaran ini cukup luas juga. Di area belakangnya, dekat tempat parkir, ada kandang sapi, kelinci, dan rusa. Menurut bapak yang jaga di sana, nantinya pengunjung bisa melihat proses pemerahan susu sapi dan akan ada pabrik susu yang rencananya akan beroperasi di Juli 2013. Selain itu, ada juga playground untuk anak-anak. Kandang sapi dkk tadi lokasinya di bagian bawah. Dari arah resto, kita harus berjalan turun melewati undakan dan tangga yag sudah dipersiapkan. Cimory Ungaran ini memang punya kontur tanah yang berbukit, dan itu yang menjadi salah satu daya tarik tempat ini. Penataan tempatnya juga oke, dan thematic dengan pattern hitam-putih ala bercak-bercak sapi. Dari restonya, kita bisa lihat pemandangan sawah terasering. Di bagian depan juga ada kandang merak, ayam mutiara, dan burung kakatua. Untuk makanannya, lumayan oke dan cukup murahlah. Yang paling kerasa enak sih, susu segarnya, hehehe..soalnya udah lama banget pensiun minum susu.

Oke, sekarang let's take a look to the pictorial journey.

Cimory on The Valley
Liburan di wiken kedua mulai bingung mau kemana dan ngapain. Soalnya, Ezra kepingin banget naik kereta api. Awalnya, mau ajak dia ke Taman Bunga Nusantara di daerah Cianjur. Dari Cimahi rencananya mau naik kereta. Tapi nggak dapat izin dari Eyangnya Ezra karena perginya nggak ditemenin sama suami. Ezra kekeuh mau naik kereta. "Ya sudah, kita main ke stasiun aja, deh. Kita liat kereta, ya." 

Rencananya, mau naik kereta dari Stasiun Cimahi sampai Stasiun Bandung, yang mana jarak tempuhnya cuma lima belas menitan. Dari Stasiun Bandung, rencananya mau ajak Ezra keliling Bandung naik angkot dengan tujuan Bonbin atau Museum Geologi. Tapi rencananya itu gagal total karena...hiikks ketinggalan kereta. Ezra agak ngambek gitu. Putar otak, akhirnya ujung-ujungnya jalan-jalan naik angkot. Agak amnesia kalau Bandung di hari wiken itu macetnya ngga banget, akibatnya sesuai perkiraan, baru separo jalan Ezra udah cranky di dalam angkot. Tujuan ke bonbin jadi kerasa jauhh, padahal baru sampai di daerah Cimindi. Duuh, kemana yaak. Emaknya bingung, anaknya macam nggak mau diajak berpetualang, padahal naik angkot kan enak, nggak perlu mikir rute dan macet, kaki nggak pegel, dan bisa nikmatin pemandangan kota. Oh ya, sudahlah. Kita ngadem di mal aja. Kata hati sih, menolak. Males juga main ke mal wiken-wiken. 

Untunglah ada Paris Van Java karena ada hal lain yang ditawarkan sama mal yang satu ini. Yup, selain tenant-tenant, cafe, resto, dan departement store ternama @PVJbandung juga punya Butterfly & Bird Park, Rooftop Garden, dan Garden Ice di bagian atasnya. Kalau dari tempat parkir, bisa langsung ke dekat Garden Ice, tapi kalau dari bawah, bisa pakai eskalator naik dari arah dekat Starbucks.

Masuk ke Bird Park, pengunjung dikenai biaya 30.000 rupiah, itu sudah termasuk makanan untuk burung berupa jangkrik dan ulet-ulet kecil, kalau mau tambahan untuk beli makanan burung yang berupa biji-bijian bisa dengan 5000 rupiah. Agakagak mahal sih, untuk tempat yang nggak terlalu luas itu. Untungnya, setelah masuk nggak mengecewakan juga, kok. Koleksi burungnya lumayan. Ada burung hantu, elang, rangkok, kakatua, dsb. Yang menyenangkan itu waktu masuk ke area burung yang dibiarkan terbang bebas. Begitu masuk, langsung diserbu sama burung-burung jalak yang mengincar makanan yag kita bawa. Puluhan parkit juga langsung merubung saat kita masuk. Kekecewaan Ezra karena nggak jadi ke kebun bintang pun terobati. Di dalam juga bebas foto sepuasnya. 

Ini dia gambarnya-gambarnya.

Bird Park Paris Van Java (Burung yang putih itu favoritnya Ezra karena jinak )
Setelah dari Bird Park, Ezra minta main Ice Skating. Hmmm, agak-agak mikir awalnya. Takut kenapa-kenapa. Tapi anaknya kekeuh. Ya sudah, setelah merogoh lagi kocek @75.000 rupiah untuk main Ice Skating ini sepuasnya, memakaikan sweter yang siap di tas, beli kaos kaki, mengukur kaki, mengenakan sepatu khusus, dan menyimpan barang di loker dengan koin sekali pakai, mulailah masuk ke arena. Karena nggak berani ngebiarin Ezra main sendiri, emaknya pun ikut serta, padahal sama sekali nggak bisa main. Ya sudahlah, itung-itung ngejagain, kalau sampai Ezra jatoh atau kenapa-kenapa. Eh, ternyata kurang dari sepuluh menit, anaknya langsung bisa meluncur, sementara emaknya hanya bisa merambat di pinggiran, dan mulai ngerasa pegel karena bagian bawah sepatu yang kerasa nggak nyaman di telapak kaki. Nggak sampai setengah jam, saya mulai nyerah karena hanya bisa mondar-mandir dengan terseok-seok, tanpa berhasil meluncur.

Selesai main ice skating, kami berjemur di Rooftop Gardennya. Jalan-jalan untuk menikmati taman yang ditata apik sambil ngeringin baju yang lembab karena udara beku di Garden Ice tadi. Abis itu baru, deh makan siang dan pulang. Liburan wiken kedua sukses meski mainnya cuma ke mal.

Meski sukes, Ezra tetep nagih ke kebun binatang dan liat fosil dinosaurus di Museum Geologi. Akhirnya, berhasil ngebujuk dia dengan nunjukkin foto-fotonya saat maen ke museum waktu umurnya masih empat tahun: "Kita berpetualang ke tempat lain dulu, ya. Kan uda pernah liat fosilnya. Nanti, kalau waktunya sempat, kita ke sana lagi."

Wiken selanjutnya, giliran papa saya yang ngajak Ezra main karena saya ada kerjaan di Sabtu-Minggu. Liburan bareng papa saya itu, tipe liburan yang selalu bikin Ezra kangen karena kegiatannya cowok banget. Hari Sabtunya, dimulai dengan cukur rambut bareng, diakhiri dengan sepakbola di lapangan olahraga yang emang luasss banget. Sebelum sepakbola, biasanya Ezra diajak keliling-keliling naik motor dulu, buat liat pabrik susu di dekat rumah, atau sekadar naik turun jembatan di atas jalan tol buat liat pemandangan. Di hari Minggunya mereka berdua pergi berenang ke tempat para tentara biasa latihan berenang. Dan setelah acara berenang itu, Ezra jadi kepingin jadi tentara. Sayang, fotonya nggak ada. Papa saya paling males kalo dititipi hasil motret-motretnya, sih.

Oke, itu dulu yaa cerita liburannya. Nanti disambung di next posting, biar nggak kepanjangan.

  
Rooftop Garden Paris Van Java
Kandang sapi, kelinci, dan rusa di Cimory on The Valley
Meluncur di arena Gaden Ice PVJ

Wednesday, July 10, 2013

Flash Fiction Peserta Give Away : Bagi-Bagi Buku Part (3)

Berikut ini ada Flash Fiction yang ditulis oleh peserta Give Away Bramasole dengan tema 'Rintangan'.

1. Aku Menyerah, Pak (Oleh : Rini Ramli)

“Cepatpulang!”
“Gak”
“Kamu jangan bikin malu keluarga”
“Biarin!” Bentakan keras bapak masih terdengar dari sana. Aku tekan tombol merah di handphone.Kemudian Menekan tombol switch off agak lama. Hapeku mati. Aman. “Ayo kita pergi” Aku bangkit. Tak kupedulikan seberapa berat ransel yang menggantung di pundak. Aku menarik tangannya. Tangan orang yang aku cintai dan mencintaiku. Dia menahan tanganku enggan bangkit. Aku menoleh.
“Kamu tidak apa-apa?” Tanyanya.
Kutatap matanya. Energi damai luar biasa mengalir dari sana. “Bersama kamu aku tidak akan pernah kenapa-napa” jawabku sambil tersenyum. Aku menarik tangannya lagi.
Ia bangkit. “Yuk. Bisnya sudah mau berangkat” Ia mengambil ranselku, mengangkatnya ke atas tanpa memedulikan dirinya sendiri yang demikian terbungkuk oleh ransel besar yang digendongnya. “Kamu bawa batu ya? tanyanya dengan canda setelah meletakkan ranselku ketempat barang di bagian atas jok bis. Aku menonjok lengannya.
“Tidurlah. Kamu sudah tidak tidur semalaman. Nanti jika sampai akan aku bangunkan” Katanya. Aku memejamkan mataku rapat. Namun tetap saja bayangan bapak tak henti berkelebat.Teriakan bapak, bentakan bapak,amarah bapak.Semua datang memberondong dan menghujam pikiranku. Memaksa untuk mengeluarkan kembali ingatan masa lalu satu demi satu. 

Aku memang tidak seperti abang. Berperawakan gagah dan multi talenta.Beberapa kali abang membuat bapak bangga karena menjuarai berbagai jenis lomba. Dari olimpiade fisika hingga sepak bola. Melihat bapak bangga luar biasa, aku juga giat berusaha. Demi melihat senyum bangga bapak tersungging untukku juga.Namun apa? Hanya deheman dan ucapan selamat datar yang aku dapat ketika aku menjadi juara di festival lomba masak di sekolah dan kelurahan. Minatku pada bidang tatarias juga tak mendapat tempat di hati bapak.
“Kosmetik itu mahal. Ribet. Kamu pilih hobi lain saja” jawabnya ketika aku bercerita. Mungkin bapak kira aku akan berhenti. Tidak. Aku bisa mengusahakan segalanya sendiri. Aku bisa melihat raut wajah kaget bapak ketika melihat meja di kamarku penuh dengan koleksi kosmetik. Bapak tak berucap sepatah kata pun. Namun ada suara pintu terbanting. Ih, makan hati! Aku tidak mengerti, pak. Jalan menuju hati bapak sungguh berliku.Segala rintangan di dalamnya sudah aku coba lewati. Tapi hasilnya nihil. Aku menyerah. Apalagi setelah bapak jelas-jelas tak menyetujui kedekatanku dengan mas Toni. Aku pergi, pak.Terserah akan seberapa besar murka bapak. Terserah. Aku yakin, bersama mas Toni segala rintangan ini tak berarti apa-apa.

“Sudah hampir sampai” suara mas Toni berbisik.Bahuku tergoncang perlahan. Laju bis melamban. Kami turun dan menuju penginapan sederhana yang ada di pinggir jalan. “Satu kamar, mbak. Yang single bednya dua ya” Mas Toni memesan kamar untuk kami. “Maaf, mas.Yang single bednya dua, full. Adanya yang satuqueen bed, bisa?” Jawab resepsionis manis itu. Kami berpandangan.

Aku menggeleng. “Kalau yang single bed nya satu aja, dua kamar, ada?” Lanjut Mas Toni.
Mbak resepsionis kembali menatap layarkomputernya. “Ada, mas” Ia tersenyum
pada kami. “Atas nama siapa?” lanjutnya. “Toni Herlambang…” mas Toni menjawabsambilmelirikku. “dan Indra Pranata” lanjutku.

2. Rintangan dalam Percintaan (Oleh: Arga Litha)

Radit termenung di depan pagar rumah orangtuanya. Hiruk-pikuk sekitar tak mampu menggoyahkan gemingnya. Mata melotot, mulut terbuka. Hap! Ia buru-buru mengatup kedua bibirnya saat melihat ada lalat berusaha masuk ke liang miliknya yang bergigi dan berbau bumbu bali. Bibirnya tersenyum tipis. Walau hati perih, tapi ia lega akhirnya yang dimau terlaksana.

Ibu menepuk bahunya. Lelaki rambut jabrik itu meringis lalu sungkem dengan takzim. Dengan raut lesu, Ibu menggandengnya ke hadapan kedua mempelai yang sibuk menyalami para tamu. Pun Radit, ia hanya bisa menundukkan kepala hingga antrean jabat tangan usai. Namun sebuah sapaan yang lebih mirip teguran, membuatnya mendongakkan kepala. Nada ketus Murni, wanita yang kini resmi sebagai kakak iparnya, menohok hati.

“Tak kusangka akhirnya kau pulang juga!”
Alamak! Badan letih, hati sedih, malah dibikin keki. Mau marah, ia bersalah. Mau menangis di tengah gerimis, tapi ... Lelaki sejati tidak boleh mengeluarkan air mata. Kalaupun ada, air mata buaya yang ada, jurus jitu memikat para wanita.

Nasi telah menjadi bubur. Dalam hati ia tak rela, tapi mau bagaimana? Tidak ada pilihan, ia harus menghadapi kenyataan. Tangan Radit terulur pada kakaknya, menyalami lalu memeluk lelaki berbaju pengantin itu. “Mas, aku minta maaf. Terima kasih telah menjaga Murni selama ini.”

Gestur tubuh pengantin pria mulai menunjukkan amarahnya. Untuk menghindari bahu hantam di hari sakral, Radit lekas menyingkir. Ia lega telah melenyapkan rintangan terbesar kebahagiaan Murni. Ia yakin, Murni akan senang hidupnya bila bersama Mas Rahmad, kakak kandung Radit. Ia eksekutif muda, berpenghailan lebih banyak darinya yang hanya tukang bangunan di perantauan.

Akan tetapi, tidak ada yang tahu bagaimana jalannya takdir manusia. Boleh saja manusia berpikir bahwa yang dilakukannnya ialah yang terbaik. Manusia memang wajib berusaha untuk kebaikannya. Tapi tetap, Tuhan yang mengatur kisah anak manusia di dunia.

Nun jauh di lubuk hati sang kakak, ia marah karena alasan lain. Memang benar dulu Rahmad menjalin kasih dengan Murni, kemudian Radit merebut Murni dari tangannya. Setelah mengecap madu sang gadis, ia pergi dan tidak memberi kabar sama sekali. Imbasnya, sang kakak yang kena. Padahal dulu, tujuan Rahmad memacari Murni adalah agar sering bertandang ke rumah Murni, menemui adik Murni yang sangat dicintai dan juga mencintainya. Tetapi ia sadar akan banyak rintangan yang menghadang apabila hubungan itu dilakukan terang-terangan. Nama baik keluarga taruhannya. Adik Murni itu namanya Mustofa, lelaki bercelana pink yang terus menatapnya dari kursi dekat para musisi pengisi acara resepsi.

3. RINTANGAN KAKEK (oleh : Reni Judhanto)

Kuhempaskan badan di bangku taman. Semoga suasana sejuk taman kota akan berhasil menghalau semua resahku. Kuhela nafas panjang seraya mengatupkan kedua tangan menutup mukaku.

“Ada apa, Nak? Kau tampak begitu menderita.”

Kucari asal suara yang mengagetkanku itu. Rupanya tak jauh dari tempatku duduk ada seorang lelaki tua. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri, sampai tak memperhatikan sekitar.

“Oh.. maaf, Kek. Aku tadi tak memperhatikan ada Kakek di sini.”

“Tak apa. Kau pasti sedang banyak masalah, jadi tak melihatku duduk di sini,” katanya sambil tertawa memamerkan giginya yang ompong di sana-sini.

Aku hanya tersenyum kecil menyambut kata-katanya. Aku masih malas berbicara.

“Ceritakan masalahmu… walau aku tak dapat membantumu, setidaknya itu bisa meringankan bebanmu.”

Lagi-lagi aku hanya tersenyum kecil menanggapi ucapannya. Aku masih belum tertarik untuk berbagi bebanku pada orang yang tak kukenal. Aku memilih untuk kembali tenggelam dalam lamunan. Namun kembali suara kakek itu membuyarkan lamunanku.

“Dulu, waktu aku masih muda… aku adalah penakluk rintangan. Sudah puluhan rintangan yang aku hadapi. Awalnya, sangat sulit bagiku untuk melalui rintangan-rintangan itu. Benar, sulit sekali! Tapi karena tekadku sangat kuat dan aku tak putus asa untuk terus mencoba, akhirnya aku berhasil juga melalui rintangan-rintangan itu.”

Aku mulai tertarik mendengarkan ceritanya. Aku memandangnya, masih tanpa kata, dan berharap dia melanjutkan kembali ceritanya.

“Kau tahu, Nak? Sejak aku berhasil melalui sebuah rintangan, maka rintangan-rintangan berikutnya sudah tak berarti lagi bagiku.”

“Bagaimana cara Kakek bisa menaklukkan rintangan itu?” tanyaku akhirnya karena tergilitik rasa penasaran. “Latihan, Nak. Latihan terus menerus. Apalagi aku tidak tinggi” “Latihan…? Tinggi…? Maksud Kakek?” “Iya Nak…, latihan. Selain itu aku harus bisa tetap menjaga keseimbangan,” jawab kakek itu seraya tersenyum memandangku.
“Keseimbangan, Kek? Kok keseimbangan?” Aku makin bingung dengan kata-katanya yang terkesan melantur kemana-mana.
“Benar sekali. Keseimbangan. Ke-se-im-bang-an. Kita harus bisa menjaga keseimbangan setiap kali kita mampu melewati sebuah rintangan. Jika tidak, kita tak akan bisa melewati rintangan berikutnya.”

Melihatku hanya menatapnya dengan bingung, kakek itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

“Sebagai seorang mantan atlit pelari gawang, aku harus terus berlatih agar mampu melewati rintangan demi rintangan. Agar bisa menyelesaikannya, maka setiap berhasil melewati sebuah rintangan aku harus bisa menjaga keseimbangan agar dapat terus berlari dan melewati rintangan berikutnya. Hahaha…”

Tanpa memperdulikan mukaku yang berubah merah padam, kakek itu berdiri meninggalkanku sambil terus tertawa terbahak-bahak.

4. Map Plastik Merah Muda (oleh : Sari Widiarti )

Aku mengutuk hari ini, hari yang menyebalkan. Pagi hari sudah disibukkan dengan skripsi yang lagi-lagi revisi. Setelah menjadi bahan revisi, seperti biasa aku akan mengcopy revisi skripsiku, tapi astaga aku lupa dengan map plastik warna merah muda yang masih tertinggal di tempat foto copy , dengan sigap aku kembali, tapi ternyata map plastik merah muda berisi semua data skripsiku hilang entah terbawa siapa, aku tanya kepada petugas foto copy, mereka hanya menggelengkan kepala, membuatku sedikit emosi. Aku mencoba mengingat kira-kira siapa pengunjung foto copy yang tanpa sadar membawa map plastik warna merah muda. Aku tersadar jika ada perempuan paruh baya yang mungkin sedikit terlihat seperti orang kantoran, dengan cekatan aku berlari ke jalan raya, siapa tahu , aku akan menemukan wanita kantoran tersebut. Namun, nasib baik tak bersamaku, aku tak dapat menemukan petunjuk, malah hujan dengan ssigap menantiku, bajuku tak luput dari hujan yang tidak bersahabat ini, ah sial! apa ada rintangan yang lebih buruk dari ini?

Aku mempercepat langkahku untuk menuju Toko Buku Cahaya, ah.. sialnya ternyata di Toko Buku Cahaya banyak pengunjung, dan aku dengan secara sadar melihat wanita kantoran, yang mungkin membawa map plastik merah mudaku, dengan sepatu dan baju yang masih basah karena hujan yang cukup deras, dengan percaya diri aku melangkahkan ke dalam Toko buku untuk mencari wanita itu, sedangkan aku tak peduli semua lantai yang ada di Toko Buku Cahaya telah tergenang air hujan karena ulahku.

Aku melihat dari segala penjuru, tak ada wanita kantoran yang aku cari, apa aku salah lihat? Tapi tak mungkin rasanya aku salah lihat, terus apa ini hanya akan menjadi sia-sia? Aku tak mau. Aku melihat jam tangan, sudah menunjukkan pukul lima sore, sudah larut, aku harus mengeringkan bajuku. Aku melihat di luar Toko Buku tampaknya hujan sudah reda. Aku melangkahkan kaki dengan lemas, tepukkan dipunggungku mengagetkanku, aku melihat dosen waliku memberiku secangkir teh hangat, aku menerimanya dengan senang, sejenak aku menyeruput teh itu, pikiranku tenang. Beliau kemudian memberikan bungkus tas kresek hitam, dan ternyata isi dari bungkusan tersebut adalah map plastik warna merah muda.

5. Oleh : Asy-syifaa Halimatu Sa'diah

Aku lelah, menghadapi setiap RINTANGAN yang selalu datang ke kehidupanku. Menjalani hidup hanya seorang diri tanpa pernah ada seorangpun yang tahu bahkan mengerti apa mauku. Semua berlalu lalang di hadapanku, keegoisan nampaknya sudah menjadi jiwa dalam dirinya masing-masing, aku tak tahan akan situasi ini, terasa sesak. Kenyataan bahwa aku tak pernah diakui oleh orang, membuatku sadar aku hanyalah diri yang terbuang, tak berguna. Masalah demi masalah silih berganti, datang kepadaku bagaikan antrian yang terus menerus tanpa habis. Tak pernah ada seulas senyum yang pernah aku buat di bibirku. Aku tak mengenalnya, apa itu senyum? Berartikah? Tentu saja tidak. Hanya sederet kesedihan yang selalu menghiasi setiap waktuku. Tangisan, air mata, hal yang terlalu lumrah bagiku. Mataku sudah merasakan apa itu bengkak karena air bening yang selalu jatuh dari pelupuk mataku. Aku tak ingin kalian membaca ceritaku tentang apa-apa saja masalah yang telah, sedang, dan akan kuhadapi. Terlalu banyak derita yang kualami, aku tak mau penderitaanku ini hanya menjadi hal klise yang kalian baca. Kadang, aku menyesali mengapa harus aku hidup di dunia ini? Kefanaannya membuatku tak pernah merasakan apa itu bahagia. Aku ingin kembali padamu Tuhan. Aku terlalu lelah akan hal ini. Sampai berapa lama lagi aku terus-menerus menghadapi situasi seperti ini? Aku lemah, Tuhan. Aku tak berdaya. Rasanya, hanya satu keinginanku. Tuhan... Aku hanya memohon pada-Mu, meminta sebuah kesempatan agar aku bisa merasakan sesenti kebahagiaan seperti yang orang lain rasakan. RINTANGAN kehidupan yang selama ini kurasakan terlalu menjadikanku diriku tak pernah tahu bagaimana rasanya tersenyum, tertawa, bahkan bahagia. Hanya itu inginku, tak lebih. Sebelum aku benar-benar menutup kedua mataku, menghentikan hembusan nafasku, dan tak lagi merasakan semua keluh-kesahku, hanya itu inginku. Bagaimanapun, aku hanya ingin lepas dari segala beban kehidupanku. Biarku salah, biarku tak benar, jalan menuju-Mu adalah satu tujuanku.

Peserta Give Away: Bagi-Bagi Buku Part (3)

Halo, maaf lama tidak mengupdate blog ini dan memberi kabar tentang Give Away: Bagi-bagi Buku Gratis Part (3. Ada yang aneh dengan dashboard blogspot saya beberapa waktu belakangan ini. Setiap kali mau mengunggah tulisan selalu muncul ‘an error occured’, dst dan jadi tidak bisa menulis di dashboard. Entah kenapa. Jadi, setiap kali mau compose tulisan, yang berhasil dibuat hanya judulnya saja.

Sigh.

Baru hari ini bisa memosting tulisan, itu pun setelah buat draf lewat html, dan diedit lewat tablet. Jadi, maaf kalo tampilan tulisannya berantakan.

Untuk Give Away dengan tantangan menulis flash fiction bertema Rintangan ini. Ada 5 peserta yang sudah mengirimkan cerita dan mention saya di twitter. Sedikit, ya....hehehe. Tadinya mau bikin perpanjangan waktu biar yang ikut nambah, tapi karena dashboard error dan nggak bisa buat postingan akhirnya dibatalkan.

Jadi, ini para peserta yang sudah ikutan. Terima kasih, ya sudah berpartisipasi. 

  1. Rini Ramli @riniramli1 dengan alamat blog: http://riniramli.blogspot.com
  2. Arga Litha @argalitha dengan alamat blog : http://argalitha.blogspot.com/2013/06/rintangan-dalam-percintaan.html
  3. Reni Judhanto @ReniJudhanto dengan alamat blog : http://another-reni.blogspot.com link cerita: another-reni.blogspot.com/2013/06/rintangan-kakek.html)
  4. Sari Widiarti @MentionSari, alamat blog : www.fiksisari.blogspot.com
  5. Asy-syifaa Halimatu Sa'diah @asysyifaahs, alamat blog : www.asysyifaahs-world.blogspot.com

Selanjutnya, cerita masing-masing peserta akan ditampilkan di postingan selanjutnya, setelah itu baru akan dipilih pemenangnya. Mohon maaf atas keterlambatannya, ya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...