Wednesday, July 10, 2013

Flash Fiction Peserta Give Away : Bagi-Bagi Buku Part (3)

Berikut ini ada Flash Fiction yang ditulis oleh peserta Give Away Bramasole dengan tema 'Rintangan'.

1. Aku Menyerah, Pak (Oleh : Rini Ramli)

“Cepatpulang!”
“Gak”
“Kamu jangan bikin malu keluarga”
“Biarin!” Bentakan keras bapak masih terdengar dari sana. Aku tekan tombol merah di handphone.Kemudian Menekan tombol switch off agak lama. Hapeku mati. Aman. “Ayo kita pergi” Aku bangkit. Tak kupedulikan seberapa berat ransel yang menggantung di pundak. Aku menarik tangannya. Tangan orang yang aku cintai dan mencintaiku. Dia menahan tanganku enggan bangkit. Aku menoleh.
“Kamu tidak apa-apa?” Tanyanya.
Kutatap matanya. Energi damai luar biasa mengalir dari sana. “Bersama kamu aku tidak akan pernah kenapa-napa” jawabku sambil tersenyum. Aku menarik tangannya lagi.
Ia bangkit. “Yuk. Bisnya sudah mau berangkat” Ia mengambil ranselku, mengangkatnya ke atas tanpa memedulikan dirinya sendiri yang demikian terbungkuk oleh ransel besar yang digendongnya. “Kamu bawa batu ya? tanyanya dengan canda setelah meletakkan ranselku ketempat barang di bagian atas jok bis. Aku menonjok lengannya.
“Tidurlah. Kamu sudah tidak tidur semalaman. Nanti jika sampai akan aku bangunkan” Katanya. Aku memejamkan mataku rapat. Namun tetap saja bayangan bapak tak henti berkelebat.Teriakan bapak, bentakan bapak,amarah bapak.Semua datang memberondong dan menghujam pikiranku. Memaksa untuk mengeluarkan kembali ingatan masa lalu satu demi satu. 

Aku memang tidak seperti abang. Berperawakan gagah dan multi talenta.Beberapa kali abang membuat bapak bangga karena menjuarai berbagai jenis lomba. Dari olimpiade fisika hingga sepak bola. Melihat bapak bangga luar biasa, aku juga giat berusaha. Demi melihat senyum bangga bapak tersungging untukku juga.Namun apa? Hanya deheman dan ucapan selamat datar yang aku dapat ketika aku menjadi juara di festival lomba masak di sekolah dan kelurahan. Minatku pada bidang tatarias juga tak mendapat tempat di hati bapak.
“Kosmetik itu mahal. Ribet. Kamu pilih hobi lain saja” jawabnya ketika aku bercerita. Mungkin bapak kira aku akan berhenti. Tidak. Aku bisa mengusahakan segalanya sendiri. Aku bisa melihat raut wajah kaget bapak ketika melihat meja di kamarku penuh dengan koleksi kosmetik. Bapak tak berucap sepatah kata pun. Namun ada suara pintu terbanting. Ih, makan hati! Aku tidak mengerti, pak. Jalan menuju hati bapak sungguh berliku.Segala rintangan di dalamnya sudah aku coba lewati. Tapi hasilnya nihil. Aku menyerah. Apalagi setelah bapak jelas-jelas tak menyetujui kedekatanku dengan mas Toni. Aku pergi, pak.Terserah akan seberapa besar murka bapak. Terserah. Aku yakin, bersama mas Toni segala rintangan ini tak berarti apa-apa.

“Sudah hampir sampai” suara mas Toni berbisik.Bahuku tergoncang perlahan. Laju bis melamban. Kami turun dan menuju penginapan sederhana yang ada di pinggir jalan. “Satu kamar, mbak. Yang single bednya dua ya” Mas Toni memesan kamar untuk kami. “Maaf, mas.Yang single bednya dua, full. Adanya yang satuqueen bed, bisa?” Jawab resepsionis manis itu. Kami berpandangan.

Aku menggeleng. “Kalau yang single bed nya satu aja, dua kamar, ada?” Lanjut Mas Toni.
Mbak resepsionis kembali menatap layarkomputernya. “Ada, mas” Ia tersenyum
pada kami. “Atas nama siapa?” lanjutnya. “Toni Herlambang…” mas Toni menjawabsambilmelirikku. “dan Indra Pranata” lanjutku.

2. Rintangan dalam Percintaan (Oleh: Arga Litha)

Radit termenung di depan pagar rumah orangtuanya. Hiruk-pikuk sekitar tak mampu menggoyahkan gemingnya. Mata melotot, mulut terbuka. Hap! Ia buru-buru mengatup kedua bibirnya saat melihat ada lalat berusaha masuk ke liang miliknya yang bergigi dan berbau bumbu bali. Bibirnya tersenyum tipis. Walau hati perih, tapi ia lega akhirnya yang dimau terlaksana.

Ibu menepuk bahunya. Lelaki rambut jabrik itu meringis lalu sungkem dengan takzim. Dengan raut lesu, Ibu menggandengnya ke hadapan kedua mempelai yang sibuk menyalami para tamu. Pun Radit, ia hanya bisa menundukkan kepala hingga antrean jabat tangan usai. Namun sebuah sapaan yang lebih mirip teguran, membuatnya mendongakkan kepala. Nada ketus Murni, wanita yang kini resmi sebagai kakak iparnya, menohok hati.

“Tak kusangka akhirnya kau pulang juga!”
Alamak! Badan letih, hati sedih, malah dibikin keki. Mau marah, ia bersalah. Mau menangis di tengah gerimis, tapi ... Lelaki sejati tidak boleh mengeluarkan air mata. Kalaupun ada, air mata buaya yang ada, jurus jitu memikat para wanita.

Nasi telah menjadi bubur. Dalam hati ia tak rela, tapi mau bagaimana? Tidak ada pilihan, ia harus menghadapi kenyataan. Tangan Radit terulur pada kakaknya, menyalami lalu memeluk lelaki berbaju pengantin itu. “Mas, aku minta maaf. Terima kasih telah menjaga Murni selama ini.”

Gestur tubuh pengantin pria mulai menunjukkan amarahnya. Untuk menghindari bahu hantam di hari sakral, Radit lekas menyingkir. Ia lega telah melenyapkan rintangan terbesar kebahagiaan Murni. Ia yakin, Murni akan senang hidupnya bila bersama Mas Rahmad, kakak kandung Radit. Ia eksekutif muda, berpenghailan lebih banyak darinya yang hanya tukang bangunan di perantauan.

Akan tetapi, tidak ada yang tahu bagaimana jalannya takdir manusia. Boleh saja manusia berpikir bahwa yang dilakukannnya ialah yang terbaik. Manusia memang wajib berusaha untuk kebaikannya. Tapi tetap, Tuhan yang mengatur kisah anak manusia di dunia.

Nun jauh di lubuk hati sang kakak, ia marah karena alasan lain. Memang benar dulu Rahmad menjalin kasih dengan Murni, kemudian Radit merebut Murni dari tangannya. Setelah mengecap madu sang gadis, ia pergi dan tidak memberi kabar sama sekali. Imbasnya, sang kakak yang kena. Padahal dulu, tujuan Rahmad memacari Murni adalah agar sering bertandang ke rumah Murni, menemui adik Murni yang sangat dicintai dan juga mencintainya. Tetapi ia sadar akan banyak rintangan yang menghadang apabila hubungan itu dilakukan terang-terangan. Nama baik keluarga taruhannya. Adik Murni itu namanya Mustofa, lelaki bercelana pink yang terus menatapnya dari kursi dekat para musisi pengisi acara resepsi.

3. RINTANGAN KAKEK (oleh : Reni Judhanto)

Kuhempaskan badan di bangku taman. Semoga suasana sejuk taman kota akan berhasil menghalau semua resahku. Kuhela nafas panjang seraya mengatupkan kedua tangan menutup mukaku.

“Ada apa, Nak? Kau tampak begitu menderita.”

Kucari asal suara yang mengagetkanku itu. Rupanya tak jauh dari tempatku duduk ada seorang lelaki tua. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri, sampai tak memperhatikan sekitar.

“Oh.. maaf, Kek. Aku tadi tak memperhatikan ada Kakek di sini.”

“Tak apa. Kau pasti sedang banyak masalah, jadi tak melihatku duduk di sini,” katanya sambil tertawa memamerkan giginya yang ompong di sana-sini.

Aku hanya tersenyum kecil menyambut kata-katanya. Aku masih malas berbicara.

“Ceritakan masalahmu… walau aku tak dapat membantumu, setidaknya itu bisa meringankan bebanmu.”

Lagi-lagi aku hanya tersenyum kecil menanggapi ucapannya. Aku masih belum tertarik untuk berbagi bebanku pada orang yang tak kukenal. Aku memilih untuk kembali tenggelam dalam lamunan. Namun kembali suara kakek itu membuyarkan lamunanku.

“Dulu, waktu aku masih muda… aku adalah penakluk rintangan. Sudah puluhan rintangan yang aku hadapi. Awalnya, sangat sulit bagiku untuk melalui rintangan-rintangan itu. Benar, sulit sekali! Tapi karena tekadku sangat kuat dan aku tak putus asa untuk terus mencoba, akhirnya aku berhasil juga melalui rintangan-rintangan itu.”

Aku mulai tertarik mendengarkan ceritanya. Aku memandangnya, masih tanpa kata, dan berharap dia melanjutkan kembali ceritanya.

“Kau tahu, Nak? Sejak aku berhasil melalui sebuah rintangan, maka rintangan-rintangan berikutnya sudah tak berarti lagi bagiku.”

“Bagaimana cara Kakek bisa menaklukkan rintangan itu?” tanyaku akhirnya karena tergilitik rasa penasaran. “Latihan, Nak. Latihan terus menerus. Apalagi aku tidak tinggi” “Latihan…? Tinggi…? Maksud Kakek?” “Iya Nak…, latihan. Selain itu aku harus bisa tetap menjaga keseimbangan,” jawab kakek itu seraya tersenyum memandangku.
“Keseimbangan, Kek? Kok keseimbangan?” Aku makin bingung dengan kata-katanya yang terkesan melantur kemana-mana.
“Benar sekali. Keseimbangan. Ke-se-im-bang-an. Kita harus bisa menjaga keseimbangan setiap kali kita mampu melewati sebuah rintangan. Jika tidak, kita tak akan bisa melewati rintangan berikutnya.”

Melihatku hanya menatapnya dengan bingung, kakek itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

“Sebagai seorang mantan atlit pelari gawang, aku harus terus berlatih agar mampu melewati rintangan demi rintangan. Agar bisa menyelesaikannya, maka setiap berhasil melewati sebuah rintangan aku harus bisa menjaga keseimbangan agar dapat terus berlari dan melewati rintangan berikutnya. Hahaha…”

Tanpa memperdulikan mukaku yang berubah merah padam, kakek itu berdiri meninggalkanku sambil terus tertawa terbahak-bahak.

4. Map Plastik Merah Muda (oleh : Sari Widiarti )

Aku mengutuk hari ini, hari yang menyebalkan. Pagi hari sudah disibukkan dengan skripsi yang lagi-lagi revisi. Setelah menjadi bahan revisi, seperti biasa aku akan mengcopy revisi skripsiku, tapi astaga aku lupa dengan map plastik warna merah muda yang masih tertinggal di tempat foto copy , dengan sigap aku kembali, tapi ternyata map plastik merah muda berisi semua data skripsiku hilang entah terbawa siapa, aku tanya kepada petugas foto copy, mereka hanya menggelengkan kepala, membuatku sedikit emosi. Aku mencoba mengingat kira-kira siapa pengunjung foto copy yang tanpa sadar membawa map plastik warna merah muda. Aku tersadar jika ada perempuan paruh baya yang mungkin sedikit terlihat seperti orang kantoran, dengan cekatan aku berlari ke jalan raya, siapa tahu , aku akan menemukan wanita kantoran tersebut. Namun, nasib baik tak bersamaku, aku tak dapat menemukan petunjuk, malah hujan dengan ssigap menantiku, bajuku tak luput dari hujan yang tidak bersahabat ini, ah sial! apa ada rintangan yang lebih buruk dari ini?

Aku mempercepat langkahku untuk menuju Toko Buku Cahaya, ah.. sialnya ternyata di Toko Buku Cahaya banyak pengunjung, dan aku dengan secara sadar melihat wanita kantoran, yang mungkin membawa map plastik merah mudaku, dengan sepatu dan baju yang masih basah karena hujan yang cukup deras, dengan percaya diri aku melangkahkan ke dalam Toko buku untuk mencari wanita itu, sedangkan aku tak peduli semua lantai yang ada di Toko Buku Cahaya telah tergenang air hujan karena ulahku.

Aku melihat dari segala penjuru, tak ada wanita kantoran yang aku cari, apa aku salah lihat? Tapi tak mungkin rasanya aku salah lihat, terus apa ini hanya akan menjadi sia-sia? Aku tak mau. Aku melihat jam tangan, sudah menunjukkan pukul lima sore, sudah larut, aku harus mengeringkan bajuku. Aku melihat di luar Toko Buku tampaknya hujan sudah reda. Aku melangkahkan kaki dengan lemas, tepukkan dipunggungku mengagetkanku, aku melihat dosen waliku memberiku secangkir teh hangat, aku menerimanya dengan senang, sejenak aku menyeruput teh itu, pikiranku tenang. Beliau kemudian memberikan bungkus tas kresek hitam, dan ternyata isi dari bungkusan tersebut adalah map plastik warna merah muda.

5. Oleh : Asy-syifaa Halimatu Sa'diah

Aku lelah, menghadapi setiap RINTANGAN yang selalu datang ke kehidupanku. Menjalani hidup hanya seorang diri tanpa pernah ada seorangpun yang tahu bahkan mengerti apa mauku. Semua berlalu lalang di hadapanku, keegoisan nampaknya sudah menjadi jiwa dalam dirinya masing-masing, aku tak tahan akan situasi ini, terasa sesak. Kenyataan bahwa aku tak pernah diakui oleh orang, membuatku sadar aku hanyalah diri yang terbuang, tak berguna. Masalah demi masalah silih berganti, datang kepadaku bagaikan antrian yang terus menerus tanpa habis. Tak pernah ada seulas senyum yang pernah aku buat di bibirku. Aku tak mengenalnya, apa itu senyum? Berartikah? Tentu saja tidak. Hanya sederet kesedihan yang selalu menghiasi setiap waktuku. Tangisan, air mata, hal yang terlalu lumrah bagiku. Mataku sudah merasakan apa itu bengkak karena air bening yang selalu jatuh dari pelupuk mataku. Aku tak ingin kalian membaca ceritaku tentang apa-apa saja masalah yang telah, sedang, dan akan kuhadapi. Terlalu banyak derita yang kualami, aku tak mau penderitaanku ini hanya menjadi hal klise yang kalian baca. Kadang, aku menyesali mengapa harus aku hidup di dunia ini? Kefanaannya membuatku tak pernah merasakan apa itu bahagia. Aku ingin kembali padamu Tuhan. Aku terlalu lelah akan hal ini. Sampai berapa lama lagi aku terus-menerus menghadapi situasi seperti ini? Aku lemah, Tuhan. Aku tak berdaya. Rasanya, hanya satu keinginanku. Tuhan... Aku hanya memohon pada-Mu, meminta sebuah kesempatan agar aku bisa merasakan sesenti kebahagiaan seperti yang orang lain rasakan. RINTANGAN kehidupan yang selama ini kurasakan terlalu menjadikanku diriku tak pernah tahu bagaimana rasanya tersenyum, tertawa, bahkan bahagia. Hanya itu inginku, tak lebih. Sebelum aku benar-benar menutup kedua mataku, menghentikan hembusan nafasku, dan tak lagi merasakan semua keluh-kesahku, hanya itu inginku. Bagaimanapun, aku hanya ingin lepas dari segala beban kehidupanku. Biarku salah, biarku tak benar, jalan menuju-Mu adalah satu tujuanku.

2 comments:

  1. :') bagus2 semuaaa

    juri bingung niiih :p

    ReplyDelete
  2. Hehehe...iya, sedang mencermati ceritanya satu per satu, biar bisa segera memilih pemenang

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...