Wednesday, July 17, 2013

Mental Blocked : Being Perfectionist

" a writer who waits for ideal conditions under which to work will die without putting a word on paper."
Uhmmm, itu bener banget. Lagi sering kejadian sama saya. Kalau lagi mau mulai nulis, bawaannya pingin bersih-bersih meja dulu lah, ngepel dulu lah, nuntasin urusan cucian dulu lah. Terus, kalau udah beres keburu energinya habis; keburu capek duluan dan ended up bikin excuses: istirahat dulu beberapa menit kali, ya. Terus malah buka internet; browsing, nengok medsos. Nah kan, waktu berkualitas buat nulisnya melayang begitu saja. Hilang fokus dan jadi susah tune in lagi.

Setelah dipikir-pikir. Kebiasaan kayak gini tuh, nggak boleh berlanjut. Saya lalu mulai mencari tahu kira-kira apa penyebab semua ini. Setelah dirunut-runut, saya berkesimpulan kalau sikap kayak gini tuh berakar dari kecenderungan sifat yang perfeksionis. Serius, deh. Akhirnya saya nyadar kalau sifat ini tuh, nggak bagus-bagus amat kalau porsinya kebesaran. Malah cenderung kompulsif. Makanya di sini saya tulis berjanji pingin mengurangi kadarnya.

Dalam hal pekerjaan menulis kaitannya dengan sifat perfeksionis itu begini: Kita ingin menghasilkan tulisan yang bagus dan mulai berpikir kalau lingkungan atau kondisi tempat kerja kita bagus maka cara kerja kita juga akan ikut menjadi bagus. Uhmm, pikiran kayak gini nggak salah juga, sih. Tapi cenderung dangkal dan shortcut semacam ini bisa menjerumuskan kita pada sebuah mental blocked.

Mental blocked? Serius amat. Yes. Ini adalah ‘racun’ paling mematikan buat kreativitas. Dan kalau menurut saya, perfeksionis adalah salah satu bentuk mental blocked yang kalau dimanja justru akan jadi ‘dikasih hati minta jantung’. Bener, deh.

Penjelasan tentang mental blocked, saya rumuskan begini: Pertama, dengan memanjakan mental blocked being perfeksionis, kita justru melatih diri sendiri untuk berfungsi optimal hanya pada kondisi yang ideal, padahal kan kenyataannya nggak bisa selalu seperti itu. Tuntutan sehari-hari yang ditemui, kita justru harus bisa berfungsi optimal dalam keadaan apa pun termasuk yang chaos.

Karena kondisi harus ideal dulu maka sebelum melakukan inti dari tugas yang harus diselesaikan kita berupaya untuk memperbaiki kondisi lingkungan atau penunjangnya, dan berpikir bahwa tindakan itu akan banyak membantu dalam menyelesaikan tugas utama. Seringnya, kita berhasil mengubah kondisi lingkungan dan mengoptimalkan penunjang, tapi nggak berhasil menyelesaikan tugas utama.

Analoginya, kita ambil contoh pekerjaan di dapur, deh.

Ceritanya kita mau bikin hidangan spesial buat makan malam. Sudah tahu mau masak apa dan bahan-bahan sudah disiapkan. Lalu kita ngomong pada diri sendiri: "Kayaknya enak nih, kalau sebelum mulai masak kita bersih-bersih dapur dulu, biar enak masaknya. Kalau dapur bersih pasti moodnya tambah oke, masakan juga pasti jadinya lebih enak. Sehabis itu melirik ke peralatan dapur. Enak nih, kalau pisaunya di asah dulu, terus itu kompor dibersihin dulu kali ya, bagian bawahnya biar kinclong. Masak harus bersih dan higienis juga dong."

Terus...terus, tahu-tahu udah jam makan malam. Dapur kinclong, kompor mengilat, pisau setajam silet. Tapi mana masakannya?

Nah, gampang kan kalau udah dianalogikan sama kegiatan dapur. Ini saya kasih tambahan buat bahan renungan:

@Quotes4writers: Every excuse is a goal. Yes! We say we want to write but instead come up with excuse after excuse not to. So we make that excuse our goal.

Jadi, mental blocked being perfectionist itu nggak lain nggak bukan hanya alasan sementara yang dipindai otak kita sebagai: kita sudah mulai melakukan pekerjaan utama, kok or half the way to it. Padahal belum. Padahal yang kita lakukan itu semacam ritual. Ritual buat nggak nyelesein pekerjaan. Hiiiii.

When i make excuses for not writing, I am making those excuses (chores, etc) as my goals. Shocked? Yes I was shocked too!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...