Sunday, November 24, 2013

Travel : Solo City

Udah lama banget kepengin main ke kota ini. Sejak Eyang saya meninggal dan rumah keluarga besar dijual--hiks--saya dan keluarga jarang banget mampir ke kota ini. Padahal dulu hampir setiap lebaran kita mudik ke Boyolali dan Solo. 

Beberapa minggu yang lalu, saya bertiga suami dan Ezra meluangkan waktu buat nengokin Pakde-Bude. Sebenernya, agenda perginya berlapis: ada yang mau survei sambil kerja, ada yang setengahnya pingin ngabur dari deadline sambil liburan ekspres :D

Intinya melepas kepenatanlah. Dan Solo, menurut saya, kota yang tepat buat ngabur dari keramaian. Atmosfernya hangat, dan banyak tempat menyenangkan yang bisa dieksplor.  Saya sih, penasaran sama keratonnya, dan udah lama banget pingin masuk ke dalemnya dalam rangka riset buat cerita. Jadi deh, agenda main ke keraton dimasukin dalam daftar jalan-jalannya. 

Pas di keraton, kita beli tiket untuk tiga orang harganya 8000/orang. Terus waktu mau foto sama prajurit yang lagi jaga di depannya, kita juga kasih salam tempel 10.000 rupiah (sesuai anjuran penjaga tiket masuknya). 

Selain foto-foto, kita juga bisa eksplor museumnya. Banyak yang bisa diliat, sih. Suami yang asyik foto-foto, tapi sayanya malah agak buru-buru. Nggak tau kenapa, abis beberapa kali kayak merinding-rinding mulu :D.

Setelah dari museum, kita sengaja tur naik becak, abis mataharinya lagi terik banget, jadi kayaknya males kalo musti muter-muter komplek keraton sambil jalan kaki. Ongkos becaknya 30ribu perak. Kita dibawa keliling liat Kebo Bule, komplek-komplek keraton, Kampung Batik Kauman, dan Pasar Klewer. Mamang becaknya lumayan banyak cerita tentang ini-itu. Jadinya, sambil liat-liat, dengerin mamang becaknya cerita macem-macem. 

Selain Keraton Solo, banyak juga spot wisata yang bisa dikunjungi di kota Solo ini. Ada Galabo atau tempat wisata kuliner malam, Taman Sriwedari, dsb. Kemarin kita juga menyempatkan untuk mengunjungi beberapa tempat lain, seperti Pasar Malam Ngarsopuro, dan Pasar Barang Bekas. 

Yang ngga boleh dilewatkan tentu saja kulinernya. Di agenda kita, ada tiga spot wisata kuliner yang pengin kita coba. Pertama Kedai Tiga Tjeret, angkringan yang menyajikan aneka nasi kucing dan ubo rampenya (aneka sate). Suka banget sama nasi kucing yang rasa daging terik. Kedua, Selat Solo Mbak Lies dan yang ketiga Es Dawet Pasar Gede. tiga-tiganya, kalau menurut kita patut dicoba lhoo.  

Lokasi Selat Solo Mbak Lies, awalnya agak susah menemukannya. Tapi setelah tanya sana-sini, terutama tukang parkirnya, akhirnya ketemu juga, deh. Lokasinya memang masuk ke dalam sebuah gang gitu. Sementara kalau yang Es Dawet, kita harus blusukan ke dalam Pasar Gede untuk bisa mencicipi dawetnya yang maknyuss ini.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...