Thursday, November 27, 2014

Pregnancy Journey : Kehamilan 32 Minggu-Gentle Birth After Cesarean Part #2

Nggak terasa kehamilan sudah memasuki usia 32 minggu. Di masa-masa ini mulai kerasa 'hamil beneran'. Kemarin-kemarin perut masih terlihat kempis kalau pakai baju yang longgar, kadang banyak orang di sekeliling yang jadi ngga ngeh kalau saya lagi hamil. Kalaupun tahu saya sedang hamil pasti dikomentari 'kok kecil'. Meskipun perut terlihat kecil, tapi sebenarnya berat janin menurut hasil USG terhitungnya normal. Saat ini, perkiraan berat janin sekitar 1,7kg. Bersyukur karena di kehamilan ini berat badan naiknya nggak kebangetan.  

Di setiap tahap kehamilan pasti selalu ada tantangannya. Memasuki usia kehamilan 32 minggu ini, pegal di bagian pinggang belakang mulai terasa, terkadang kalau habis berdiri lama kaki juga jadi gampang pegal. Ada beberapa catatan yang harus diperhatikan memasuki usia kehamilan 32 minggu ini. Jadi, ceritanya karena merasa waktu persalinan sudah dekat, tiap pagi saya rajin naik-turun tangga dan latihan jongkok berdiri, tapi ternyata setelah kontrol ke bidan, saya disarankan buat cooling down dan mengurangi aktivitas fisik yang terlalu menguras energi. Pasalnya, selain keluhan pegal-pegal tadi, dua minggu terakhir ini perut bagian atas sering banget terasa kencang dan kaku. Waktu kontrol dan berkonsultasi, kondisi seperti itu disebut juga dengan kontarksi palsu atau braxton hiks. Kontraksi palsu memang umum terjadi saat kehamilan sudah memasuki usia delapan bulan. Ada sisi positif dari kontraksi ini, tapi ada juga sisi negatifnya. 

Sisi positifnya, kontraksi ini akan semakin memantapkan posisi janin di jalan lahir, sayangnya karena usia bayi pralahir masih 32 minggu, kontraksi tersebut bisa berbahaya karena bisa memicu kelahiran prematur. Kontraksi semacam ini terjadi salah satunya karena kondisi fisik ibu yang kelelahan. Memang sih, dua minggu belakangan saya memang lagi aktif-aktifnya, nggak menyadari kalau badan sebenarnya kelelahan dan si baby-pun memberi peringatan. Selain disarankan untuk mengurangi aktivitas fisik, olahraga jongkok-berdiri dan pelvic rock juga belum disarankan di usia kehamilan ini. 

"Nanti dulu, Bu...coba sekarang aktivitasnya yang ringan-ringan dulu. Prenatal yoganya yang gentle, jalan kaki pelan-pelan tiap pagi maksimal 10 menitan, atau renang paling lama 15 menit saja. Dan kalau merasa kecapean, apalagi perut mulai terasa kencang, sebaiknya langsung istirahat."

Ternyata, melakukan persiapan persalinan juga harus disesuaikan dengan kondisi fisik ibu dan usia janin. Ada beberapa persiapan persalinan seperti pijat perineum dan pelvic rock yang sebaiknya dilakukan setelah usia kehamilan memasuki usia 35 minggu. Kalau terlalu cepat dilakukan, bisa-bisa memicu persalinan dini. Kemarin, waktu saya kontrol diberitahu oleh Bu Bidan, kalau sampai kontraksi-kontraksi palsunya berlanjut harus bersiap-siap, misalkan dengan suntik pematangan paru-paru untuk bayi. Ditakutkan bayi lahir prematur dan paru-parunya belum benar-benar matang. 

Apa sih, yang menyebabkan kontraksi palsu bisa terjadi saat kehamilan delapan bulan?
Jadi, selain kelelahan fisik tadi, kontraksi palsu juga bisa terjadi karena ibu mengalami dehidrasi, ibu dalam keadaan lelah, kurang asupan nutrisi, dan kondisi emosional yang tegang.

Apa yang bisa dilakukan agar kontraksinya mereda?
  1. Mandi berendam air hangat. 
  2. Mengoleskan minyak lavender di bagian atas perut, atau dihirup untuk membantu ibu lebih relaks.
  3. Penuhi asupan nutrisi dan cairan untuk ibu dan janin.
  4. Naikkkan kaki ke atas dinding, dan sandarkan pinggul selama beberapa saat.
  5. Tidur dengan posisi badan menghadap ke kiri. Atau tumpuk dua buah bantal kemudian letakkan guling secara melintang di atas bantal, dan berbaringlah di atas guling dalam posisi telentang, dengan punggung bagian tengah tepat berada di atas ujung guling, buka lebar kaki dan paha, dan silangkan kaki ke atas, lalu lakukan latihan pernapasan perut untuk meredakan ketegangan.
  6. Jika keluhan perut yang tegang dna kaku terus berlanjut, dokter atau bidan biasanya akan memberikan obat yang dapat mengurangi kontraksi.
  7. Perhatikan bagaimana kontraksi berlangsung, apakah hanya terjadi pada perut bagian atas atau menjalar ke bagian bawah dan diiringi dengan pegal bagian pinggul bawah? Perhatikan juga frekuensinya, jika frekuensinya semakin sering dan jarak waktunya semakin dekat, harus segera berkonsultasi dengan dokter atau bidan.

Monday, November 3, 2014

Pregnancy Journey : Gentle Birth After Cesarean Part #1


Jadi karena update postingan perjalanan kehamilan kedua ini sering telat, saya buat rangkuman aja deh, dari perjalanan 16-24 weeks dan seterusnya. Saat postingan ini ditulis, kehamilan saya sudah memasuki usia 31 minggu. 

Memasuki trimester ketiga ini, alhamdulillah nggak banyak keluhan yang berarti. Pilek yang selalu mendera di trimester kedua akhirnya berakhir dengan sendirinya, yeayy. Keluhan berganti dengan tidur malam yang jadi gampang kebangun, bahkan karena suara kecil sekali pun...krik...krik. 

Supaya tidur malam lebih berkualitas bantal harus ditumpuk-tumpuk dulu, miring ke kiri dengan kaki ditumpangkan ke atas guling. Pokoknya bener-bener menguasai tempat tidur, deh. Selain lampu harus remang atau gelap, kadang saya juga oles-oles EO-nya YL yang lavender biar tidur makin nyenyak dan ngga diganggu nyamuk.   

Di trimester ketiga ini, alhamdulillah banget ketemu support system yang keren dari teman-teman komunitas Gentle Birth Untuk Semua (GBUS). Di kehamilan kedua ini saya berencana untuk melahirkan normal, jadi mesti banyak belajar lagi untuk menginstal ulang software lama di kepala dan menggantinya dengan software baru yang berisi command bahwa melahirkan minim rasa sakit, tanpa trauma, nyaman, dan lembut itu bisa dilakukan, kok. 

Karena berencana melakukan VBAC atau GBAC makanya pemberdayaan diri harus dilakukan. Selain baca-baca buku lagi, juga harus mau belajar dan latihan. Semua itu harus dilakukan sejak masa kehamilan ini. Adanya dukungan dari teman-teman komunitas bukan hanya dengan saling share pengalaman mereka saat melahirkan atau birthplan mereka bagaimana, tetapi juga dengan adanya kelas-kelas kecil dan bahkan seminar, ilmu kami jadi ikut bertambah. 

Selain kelas-kelas yang saya ikuti di RSB. Ngesti Widodo, Ungaran, sebuah klinik milik  Bidan Naning yang inspiratif di Ungaran, saya juga mengikuti beberapa seminar atau kelas, seperti seminar untuk pendidikan bayi pralahir, kelas hypnobirthing, dan kumpul-kumpul tiap Minggu pagi untuk melakukan prenatal yoga bersama teman-teman di GBUS yang dilanjutkan dengan sesi sharing. Selain semakin dikuatkan untuk menjalani proses kelahiran alami, banyak sekali ilmu baru yang didapatkan dari kelas-kelas dan seminar ini. Yang juga bikin semakin happy adalah bisa dipertemukan dengan Bidan Yesie Aprilia dari Bidan Kita dan Bu Lanny Kuswandi pakarnya Hypnobirthing Indonesia.

Semoga bentuk pemberdayaan diri ini bisa menjadi bekal untuk mewujudkan mimpi saya melahirkan dengan normal, nyaman, lembut, minim rasa sakit, dan tanpa trauma. 

One Afternoon In Watu Gunung, Ungaran.





Jadi ceritanya ini jalan-jalan tergeje bulan kemarin. Niatnya memang bukan mau jalan-jalan, tapi karena ada kerjaan motret. Pulang motret, tiba-tiba Ezra bilang kalau dia pengin main ke air terjun, padahal ya, udah siang bolong dan rasanya males kalau siang-siang harus blusukan cari air terjun yang searah sama jalan pulang dari arah Ungaran menuju Semarang. Mikir-mikir, akhirnya saya inget sama Watu Gunung yang nggak jauh dari Kampung Seni Lerep. 

Dulu banget pernah main ke Kampung Seni Lerep dan pengin juga liat Watu Gunung tuh kayak apa. Jadi diputuskanlah buat ke sana. Eh, tapi taunya jalan menuju ke sana aksesnya ditutup karena sedang ada perbaikan jalan atau jembatan gitu. Jadi harus muter cari jalan lain. Nah, yang bikin geje adalah saat cari jalan alternatif ini, padahal ya kalau mau rada mikir dikit ternyata jalan alternatifnya lebih gampang kalau lewat dekat Kolam Renang Siwarak di Jl. Yos Sudarso Ungaran. 

Baiklah setelah melewati beberapa desa, blusuk ke desa tempat dimana Pesantrennya Daarul Quran berada, lewat ke jalan yang cuma bisa dilalui satu mobil dengan tanjakan dan turunan yang mayan terjal, kesasar satu kali, muter balik, akhirnya sampai juga ke Watu Gunung ini. 

Fiuhhh...untung ya, tempatnya sesuai harapan, dan Ezra juga langsung seneng. Tapi tetep yang ditanya pertama kali, air terjunnya mana? Untung di tengah area ada danau buatan yang mayan bikin Ezra tertarik buat menjelajah tempat ini. Dan setelah menjelajah tempat ini, ternyata memang ada air terjun buatan juga meskipun mini. Cukup mengobati keinginan Ezra buat bermain di alam. 

Hihihi, nemu tempat baru lagi nih buat ngajak anak bermain di alam. Di lokasi Watu Gunung ini juga sudah dibangun kolam renang tapi waktu datang ke sana belum difungsikan karena pembangunan belum selesai. Nantinya setiap rumah yang ada di sana akan disewakan, jadi semacam resort kecil-kecilan gitu. Pemandangan dan udaranya juga lumayan menyegarkan. Siang menjelang sore itu kita cuma kongkow-kongkow di sana sambil menikmati nasi goreng yang bisa dipesan di bagian resepsionis.   

Tuesday, October 7, 2014

Mengajak Anak Menyukai Matematika Sejak Dini.

Pelajaran Matematika buat sebagian besar anak, dan mungkin juga kita para orangtua, menjadi salah satu mata pelajaran yang kurang disukai atau bahkan ditakuti. Padahal, menurut  Jeff Sharpe, seorang direktur eksekutif di Vertex Academic Service mengatakan bahwa pelajaran ini justru dapat mengasah kemampuan anak dalam berpikir menggunakan logika.

Matematika juga membuat anak-anak menjadi lebih solutif. Dalam sebuah penelitian di Universitas North Carolina's School of Education ditemukan bahwa siswa yang cepat dan mudah berhitung memiliki intuisi yang lebih tajam dalam memecahkan persoalan dan tantangan, mereka juga lebih cepat dalam mengenali kesalahan.

Jadi, sebenarnya sangat disayangkan kalau sejak dini anak-anak sudah menjadikan pelajaran ini sebagai momok. Terkadang, mind set yang selalu terbawa dari sekolah atau bahkan mind set yang kita tularkan pada anak-anak kita adalah bahwa matematika itu sulit dan tidak menyenangkan.

Matematika memang bukan konsep yang mudah. Banyak sekali faktor yang berperan di dalamnya, misalnya intuitive number sense atau perkiraan sistem numerik, yaitu kapasitas seseorang untuk membedakan kelompok-kelompok besaran. Namun, bukan berarti anak tidak bisa dilatih sejak dini untuk menyukai pelajaran ini, bahkan menguasainya dengan mudah. 
(Article Source : Berbagai sumber, Kompas, Wired Science.)

Ada banyak cara yang bisa dilakukan orang tua untuk membangun mind set bahwa Matematika itu ilmu pengetahuan yang menyenangkan dan menantang. Ini beberapa tips, yang juga sedang saya terapkan sehari-hari agar Ezra bisa menyukai dan menguasai mata pelajaran ini dengan baik. 
  • Turn everyday activities into fun math learning. Misalnya nih, kalau sedang makan bersama, contohnya sedang makan pizza atau cake, kita minta si anak untuk memotongkan pizzanya setengah atau seperempat. Sambil makan, secara tidak langsung si anak jadi belajar konsep sederhana tentang fraction.
  • Belajar Matematika itu harus melibatkan kreativitas. Jadi, jangan ragu-ragu untuk menggunakan materi yang sedikit berbeda atau cenderung seperti bermain-main. Misalnya, dengan menggunakan kartu domino dan kartu remi untuk mengajari penjumlahan atau konsep perbandingan. 
  • Gunakan materi belajar yang fun, berwarna-warnidan dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk anak-anak usia SD, tidak ada salahnya menggunakan banyak ilustrasi atau alat bantu belajar untuk membantu proses berpikir mereka. 
  • Make numbers a part of your everyday routine. Kita bisa membuat pertanyaan-pertanyaan sederhana yang melibatkan soal cerita dalam aktivitas sehari-hari. Contohnya : "Tadi pagi Ibu beli enam buah jeruk, dimakan kakak satu, dan dimakan adik dua, sekarang jeruk Ibu tinggal berapa? 
  • Lakukan latihan mengerjakan persoalan Matematika setiap hari. Tentu saja dengan cara yang fun. Persoalannya pun nggak harus berdasarkan text book. Orang tua bisa membantu mengunduhkan si kecil berbagai aplikasi permainan yang melibatkan persoalan Matematika di dalamnya lewat berbagai macam gadget atau komputer atau kita juga bisa mengarang soal cerita sederhana, bahkan teka-teki untuk dipecahkan setiap harinya. Tapi ingat, untuk anak di bawah usia 9 tahun atau untuk anak yang masih duduk di bangku kelas 1-3 SD, batasi waktunya hanya 30 menit saja setiap harinya.
  • Saat mengajari anak Matematika, selalu gunakan bahasa yang positif dan encourage si anak dengan pujian atau penghargaan jika ia dapat mengerjakan suatu persoalan. 
  • Ciptakan suasana yang santai dan komunikatif ketika mengajari mereka. Sesekali, biarkan mereka yang menerangkan kepada kita suatu konsep yang telah kita ajarkan, agar kita tahu sampai mana tingkat pemahamannya. Ini juga bisa dilakukan dengan cara meminta mereka menanyai kita balik, atau membuat soal untuk kita jawab. "Ayo, sekarang coba kamu buat soal buat Bunda, nanti Bunda yang jawab,..."
  • Masing-masing anak, punya tingkat pemahaman sendiri-sendiri, orang tua harus sabar untuk membimbing. Biasanya, kalau si anak sudah merasa klik dan nyantol dengan satu materi, ke depannya akan lebih mudah baginya untuk menyelesaikan persoalan Matematika.
  • Hati-hati pada saat mengajari suatu konsep matematika kepada anak, lihat mana yang seharusnya menjadi konsep dasar sebelum beranjak ke konsep yang tingkatannya lebih kompleks. Misalnya, sebelum anak belajar penjumlahan, apa yang harus mereka tahu dan pahami agar bisa menyelesaikan soal penjumlahan dengan baik. Ajarkan konsep dasarnya terlebih dahulu dan jangan tuntut anak untuk menyelesaikan persoalan sebelum kita tahu apakah mereka sudah menguasai konsep dasarnya atau belum.
  • Bantu ubah mind set mereka, atau mind set yang terbentuk dari aktivitas belajar di sekolah atau lingkungan bahwa anak yang pandai matematika akan selalu menjadi anak yang sukses. Katakan bahwa matematika bukanlah satu-satunya penentu kesuksesan mereka, tetapi matematika adalah bagian yang akrab dalam kehidupan sehari-hari, dan kita harus menyukainya. 
Oke, semoga tipsnya bermanfaat, ya. Di bawah ini, ada video Ezra yang sedang belajar konsep Number Bonds dengan mengunakan permen gummy bear sebagai alat bantunya. Sila disimak, siapa tahu bermanfaat untuk ide mengajari anak di rumah.

Thursday, September 25, 2014

Our Staycation At Kayu Arum Resort & Spa

Karena lagi males bepergian yang perjalanannya bikin waktu libur akhir pekan yang cuma satu setengah hari habis di jalan (karena hari Sabtu, Ezra tetap masuk sekolah meskipun pulang jam setengah sebelas), belakangan ini staycation jadi pilihan kita buat alternatif short getaway.

Setelah googling, ada beberapa pilihan tempat yang kayaknya seru buat dijadikan tujuan staycation kita, yaitu Kayu Arum Resort & Spa yang ada di daerah Salatiga. Sebenarnya, tujuan awalnya, kita penasaran pengin staycation di salah satu hotel yang lagi banyak diunggah gambarnya ke instagram. Sayangnya, lokasi hotelnya di Jogja, dan pas booking kok, kamar yang kita pengin udah full booked, dan dua hari sebelum rencana keberangkatan Ezra sempat demam. Ya sudahlah, sepertinya lebih berjodoh dengan Kayu Arum. Setelah booking yang lumayan rada mepet, dapetlah kita satu kamar di sana. Setelah agak waswas apakah demamnya Ezra bakal turun atau nggak, dan ternyata demamnya reda, Sabtu siang pun meluncur dari Semarang.

Awal masuk ke area parkir, sempet mikir kok hotelnya 'nggak keliatan', kok kayak agak-agak spooky. Tapi kesan awal itu langsung hilang setelah masuk ke lobby dan disambut sama resepsionisnya yang ramah-ramah. Kesan spooky muncul mungkin karena bangunannya bergaya semi-semi kolonial gitu, jadi terkesannya tua, padahal sebenarnya bangunannya baru, kok. 

Berjalan semakin masuk ke bagian dalam hotel, makin jatuh cinta sama suasananya yang tenang, adem, dan hommy. Jadi, di bagian tengah hotel ada halaman yang cukup luas. Tamannya ditata apik dengan banyak sekali kursi-kursi kayu untuk duduk-duduk bersantai menikmati hari di tengah taman yang teduh. Selanjutnya, biar gambar yang berbicara, deh. 




Untuk fasilitas lainnya seperti kolam renang, juga tersedia. Ada juga Kamaratih Spa dengan harga mulai dari 181.000 untuk Aromatheraphy Massage selama 60 menit. Yang saya suka dari kolam renangnya, airnya bersih dan kandungan klorinnya tidak membuat mata pedas. Menu sarapan paginya termasuk enak, meskipun pilihan menunya memang nggak terlalu banyak, tapi pas kalau buat saya yang nggak suka dengan terlalu banyak pilihan menu saat sarapan pagi, hehehe. So far, resort kecil di daerah Salatiga ini recomended banget. Ratingnya 3,5/5 deh.  

Selain staycation, di Salatiga kita juga berwisata kuliner dengan menjajal beberapa kafe yang lumayan menyenangkan atmosfernya, yaitu Ki Penjawi Joglo dan Kafeole. Dua tempat itu lumayan recomended juga sih suasananya, sayangnya kenapa saya ngerasa makanannya biasa saja, ya. Enak sih, tapi nggak stand out banget. Mungkin bisa ditanyakan ke masing-masing tempat, rekomendasi hidangannya atau makanan andalannya apa.
Ki Penjawi Joglo

Kafeole

NB:
Jln. Magersari Ringinawe Tegalrejo, Salatiga.
(Kalau tahu Bakso ABC Salatiga, nah patokannya belokannya deket-deket situ, deh.)

Next, staycation kemana ya...

Monday, September 15, 2014

Fun Learning: The Secret Recipe of Pizza (Thematic; Science & Math For First Grade)

Sejak masuk SD dan memilih sekolah dengan kurikulum mixed antara diknas dan cambridge, sebagai ortu saya semakin tertantang buat memotivasi Ezra buat menyukai kegiatan belajar secara aktif. Ditambah lagi perubahan kurikulum 2013 yang menggunakan konsep tematik yang mungkin membuat bingung beberapa ortu pada awalnya, seperti halnya saya. Setelah tanya sana-sini dan sedikit baca-baca tentang kurikulum baru tersebut, akhirnya mulai bisa membuat mapping yang jelas tentang sebenarnya ini anak-anak sekolahan SD mau belajar dengan cara seperti apa. Terlepas dari pro kontranya, saya memilih untuk beradaptasi dan mengawal Ezra agar bisa mengikuti pelajaran sekolah dengan baik (cieee banget bahasanya) Yaa, mau gimana lagi, saya kan bukan pemegang kebijakan, yak. Berharap, next cabinet, menteri pendidikannya bikin peraturan baru agar jam sekolah dikurangi dan hari Sabtu diwajibkan libur, yeaayy.

Baiklah, jadi sebagai guru les privatnya, saya nggak mau jadi guru les yang ngga asyik dan galak. Saya pengin Ezra selalu ngerasa fun waktu belajar bareng saya, dan dia juga jadi lebih aktif, bukan sekadar disodorin materi-materi, terus lupa dan nggak bisa mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Kali ini, saya bikin fun learning activities di rumah yang melibatkan materi tematik: science dan math untuk kelas 1. 

Sebelumnya, saya cari tahu tujuan dari kegiatan fun learning ini berdasarkan buku pegangan di sekolah. Tujuannya antara lain adalah agar Ezra bisa mengenali bentuk-bentuk geometri 2D dan hapal namanya dan mengenal konsep fraction sederhana (1/2, 1/4, dst) untuk mapel matematika dan kemudian memahami fungsi indera perasa (lidah) dan jenis-jenis rasa yang bisa dikecap oleh lidah untuk mapel science

Fun learning ini saya beri judul : The Secret Recipe of Pizza. Bahan dan alatnya bisa dilihat di gambar-gambar di bawah, ya. Selanjutnya setelah semua bahan dan alat disiapkan, Ezra mulai diminta untuk membaca petunjuk pada resep dan mulai membuat 'pizza' nya.

siapkan 'resep', bendera aneka rasa, dan lem berwarna.

resep alias petunjuk sederhana 

alat dan bahan

setelah selesai menempelkan 'toping' sesuai resep, anak diminta untuk membubuhkan 'bumbu' di atas adaonan pizzanya. warna-warna dari cat air mewakili setiap rasa, seperti sour, spicy,  salty, dan sweet.

setelah itu, anak diminta membagi dua pizzanya, dna kita menjelaskan konsep setengah, seperempat, dst.

menancapkan bendera rasa sesuai dengan warna yang dicat pada adonan.

voila, shapes pizza-nya sudah jadi :)


Ezra's Weekend Projects : Treasure Hunt & First Grade Math

Setelah Ezra masuk SD, saya semakin excited sama agenda Ezra's Weekend Projects karena semakin banyak hal-hal seru yang bisa dilakukan bareng saat akhir pekan. Jadi lebih seru juga karena tema proyek akhir pekannya nggak melulu sesuatu yang berhubungan sama crafting atau DIY things, tapi juga bisa nyelipin materi-materi pelajaran di sekolah.

Berhubung saya dan suami sepakat untuk tidak memberi Ezra les tambahan pelajaran di luar jam sekolah maka kami pun harus bekerjasama buat menciptakan atmosfer learning is fun di rumah. Jadi, selain sekolah, Ezra cuma ikut latihan wushu, les musik, dan menggambar saja. Keputusan ini diambil karena pengalaman suami semasa kecil dulu yang merasa bosan dengan yang namanya 'les belajar' dan jadi alergi sama yang namanya pelajaran sekolah, hehehe. Selain itu, saya juga pengin Ezra masih punya banyak waktu untuk bermain.

Nah, karena nggak mau mengulangi kesalahan yang sama, kami berdua ingin menciptakan suatu kondisi bagi si anak bahwa yang namanya belajar itu sebenarnya tidak terpisah dari bermain. Dalam bermain ada belajar, dan dalam belajar ada bermain. Belajar tidak harus formal dan kaku, belajar bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan dan menjadi bagian dari keseharian. Memang, pasti ada banyak hal-hal yang menantang dan sulit untuk dipelajari, tapi hidup aslinya kan juga gitu. 

Ihiyyy, konsep sih, udah seru. We'll see bagaimana dalam perjalanannya nanti. Semoga kami tetep istiqomah. Singsingkan lengan baju!

Proyeknya Ezra pada akhir pekan ini adalah 'Treasure Hunt'. Berhubung hari Seninnya, Ezra bakal ulangan matematika, maka proyek akhir pekannya sengaja dibikin nyambung dengan materi-materi pelajaran matematika yang sedang dipelajari sama dia. 

Materi math-nya antara lain berkaitan dengan :
Counting & writing numbers 1-20 (in english)
Largest, smallest, dan greatest number
Ordinal number
Numbers patterns '2'  

Terus, gimana mengaitkan dengan tema mencari harta karunnya? Jadi, saya sengaja membuatkan dia peta tempat persembunyian harta karun, yang petunjukknya adalah soal-soal matematika yang harus diselesaikan. Dari petunjuk di peta, Ezra harus mencari amplop-amplop yang di dalamnya terdapat soal-soal yang jawabannya akan mengarahkan pada petunjuk selanjutnya. 

Buat bayangan, bisa dilihat di gambar di bawah, ya. Dan untuk hadiahnya, saya menyiapkan beberapa barang yang kebetulan lagi dia inginkan. Barang yang murmer tapi bikin dia seneng. Kebetulan dia lagi pingin kaca pembesar, terus kotak pensil ngajinya baru aja rusak. Jadi, barang-barang itulah yang saya bungkus untuk jadi harta karun, plus tambahan permen, coklat, dan pernak-pernik buat lucu-lucuan. 



Dan hasilnyaa..dia seneng banget memecahkan satu-persatu soal yang ada di petunjuk, dan waktu berhasil nemuin harta karunnya, lalu membuka hadiah dan nemuin barang yang lagi dia inginkan, ekspresinya itu priceless bangettt. Rasanya terharu dan jadi pengin menghentikan waktu pas dia meluk saya dan bilang, "Makasiihh ya, Bundaaa...udah kasih aku kaca pembesar...aku sayaangg banget sama Bunda."

Ya ampun, cuma kaca pembesar limarebuan padahal. *nahanmewek 

Oya, kalau yang punya instagram, bisa juga follow saya di: @nianurdiansyah, Insha Allah di sana mau rutin posting tentang #learningwhileplaying atau #learningathome, siapa tahu kita bisa saling berbagi ide tentang belajar sambil bermain di rumah. 

Thursday, September 11, 2014

Ezra's Weekend Project : World Map

Postingan ini sambungan dari Ezra's weekend project yang ini, ya. Jadi, ceritanya karena ketertarikannya sama berbagai negara di dunia, Ezra jadi suka banget ngamatin peta, terutama sih yang dari google maps. Dia suka nanya-nanya sama saya letak negara A tuh, dimana, dan B dimana. Lama-lama dia juga mulai tertarik sama bendera-bendera di tiap negara dan landmarknya apa aja. 

Seru juga sih, ngajarin sesuatu yang pada dasarnya memang disukai si anak. Informasi yang diterima jadi lebih cepet nyantol. Akhirnya, biar makin seneng saya sengaja ngeprint satu gambar peta dunia yang ada ilustrasinya, selanjutnya Ezra bikin bendera dari tiap negara yang dia tahu dan nancepin bendera-bendera itu di atas peta dunia.  Proyek yang so simple ini ternyata bikin dia happy. Saya juga jadi tahu, dia sudah hapal sama negara dan bendera apa saja.

Bahan dan alatnya pun sederhana. Cuma peta dunia yang ditempel di atas gabus, kertas untuk menggambar bendera dan tusuk gigi buat menempelkan gambar bendera-benderanya.




Pregnancy Journey: 8 Weeks - 16 Weeks



Hiyyaaa, ketunda lama kan, posting tentang kehamilannya, padahal dari awal tahu hamil sudah diniatkan supaya rajin bikin catatan di blog, biar suatu hari nanti bisa dibaca-baca lagi ceritanya. Aslinya sekarang tuh, udah lewat dari 16 weeks, tapi supaya runut pengin cerita mulai dari trisemester awal, deh. Mudah-mudahan ke depannya bisa lebih rajin.

Biar lebih gampang, saya mau bikin rangkuman aja deh, tentang perjalanan kehamilan dari usia delapan minggu sampai enam belas minggu.

Keluhan.
Keluhan utama trisemester pertama saya adalah mual yang amat sangat terasa. Kalau dibandingkan kehamilan yang pertama jauuuh banget bedanya. Dulu, seingat saya mualnya nggak terlalu kerasa dan badan juga relatif lebih fit. Pas kehamilan menginjak dua bulan saya dan suami pergi umroh, dan sama sekali ngga merasakan keluhan-keluhan yang dirasakan sekarang.  Ya iyalah, faktor U sepertinya juga berpengaruh :D. 

Ezra's Weekend Project : World Map & 3D House

Beberapa waktu lalu, saya sempet kaget waktu Ezra tahu-tahu gambar bendera negara-negara asing, seperti Brazil, Jepang, dan Italia. Nggak inget pernah ngajarin warna dan gambar bendera-bendera tersebut. Ngajarinnya baru gambar bendera Indonesia doang. Eh, tau-tau dia udah bisa aja. Ternyata dia tahu gambar bendera tersebut setelah nonton Cars 2. Jadi, sebenernya nonton film kartun itu, selama dipilihkan yang sesuai, ada manfaatnya juga, kok.

Nah, di film Cars 2 itu, ceritanya, si tokoh utama yang bernama Lightning McQueen ikutan perlombaan semacam Grand Prix yang mengharuskan dia keliling dunia. Nah, karena liat film itu jadilah Ezra mulai berminat sama peta dunia. Sebelumnya, saya pernah sih, mengenalkan dia sama benua-benua yang ada di dunia, tapi jarang di recall lagi, jadinya dia belum hapal banget di mana Afrika, Amerika, Asia, dsb. Yo wis, mumpung anaknya lagi semangat jadinya Ezra's Weekend Project kali ini temanya peta dan bendera dunia.

Selesai dengan proyek pertama, pulang nemenin saya ke Gramedia, kami menemukan puzzle 3D yang bentuknya rumah-rumahan khas negara-negara. Sepertinya pas dengan tema wiken kali ini, dibelilah satu buat percobaan dulu, takutnya nggak sesuai harapan. Ternyata setelah dirakit jadinya lucu. Jadi kepikiran buat bikin maket global village-nya. Ihiyy, udah ada ide buat next project, nih.

Proyek 3D House ini aslinya gampang banget karena bahan-bahannya tinggal beli jadi aja. Ngga perlu digunting pula, tinggal dipotek-potek dan dirakit sama dikencengin pakai selotip. Hasilnya bisa dilihat di gambar. Next postingan tentang world map dan bendera-bendera negaranya, ya. 


Tuesday, August 19, 2014

Cerita Lebaran 1435 H ( yang udah telat banget)

Ih ya ampun lama pisan ngga update di mari, yak. Ambil sapu dan mulai bersih-bersih debu yang udah tebel banget. Jadi ceritanya been males lately karena internet rumah lagi ngadat. Hasilnya mau ngeblog dari kapan ketunda-tunda terus, padahal lagi banyak yang pingin diceritakan dan disimpan di sini. Dari mulai cerita mudik, kehamilan sampai Ezra yang baru jadi anak SD. Baiklah, kita posting satu persatu aja.  Dimulai dari cerita lebaran, tapi sebelumnya mohon maaf lahir dan batin yaa, semoga dimaafkan semua kesalahan- kesalahan kata dan ucapan saya selama menulis di blog ini.

Jadi ceritanya lebaran tahun ini saya sekeluarga ngga mudik dan sowan ke Jakarta as usual, tapi ke Pangandaran seperti dua tahun sebelumnya. Padahal waktu itu udah kapok lho karena kena macet selama berjam-jam. Keinginan sih, pingin ngadem-ngadem aja di Bandung, apalagi kehamilan saya juga baru empat bulan, males rasanya pergi jauh-jauh via jalan darat. Tapi berhubung kakak sepupu saya akan melangsungkan pernikahan di sana, dan ayah saya didapuk untuk menjadi wali dan pendampingnya, ya sudah kami sekeluarga kompakan untuk berlebaran di sana.

Alhamdulillah, perjalanan Bandung-Parigi, Cibenda Pangandaran ditempuh 7 jam saja ( biasanya 6 jam). Sampai sana subuh. Habis sholat dan istirahat mulai menyusun itinerary mau mbolang kemana aja. Kami menginap di kampung halaman Ua dan kakek saya, yang lokasi ke spot wisata pantainya relatif dekat. Dari mulai Pantai Batu Hiu, Batu Karas, Pangandaran, dan sebuah curug ( apa namanya lupa) yang katanya sih, lumayan bagus. Karena sudah pernah ke Pantai Batu Karas, tujuan yang itu dicoret.

Diputuskanlah untuk ke Pantai Pangandaran dulu karena sesiangan itu saya ngidam makan rujak. Fyi, hamil ini hampir tiap hari saya makan rujak. Sampai Pangandaran langsung hunting tukang rujak, dari mulai tukang rujak bebeg sampai rujak potong bakulan disambangin semua, dibeli semua, dan langsung disantap saat itu juga sambil nungguin yang pada main air dan pasir. Suasananya lumayan, ngga terlalu ramai kayak cendol, padahal kan pas liburan biasanya penuh. Mungkin karena faktor ombak yang lagi lumayan besar, jadi jarang yang berenang.

Setelah puas makan rujak dan leyeh-leyeh nikmatin matahari yang lagi redup, kami memutuskan buat nyebrang ke pulau pasir putih. Kami nyewa kapal dan dihajar ombak tiga meter saat nyebrang. Aslinya serem waktu itu, tapi nggak tahu gimana kita malah ketawa-ketawa dramatis selesai diterjang ombak dan bajunya sampai basah kuyup. Sampai di pulau langsung meriksa barang bawaan. Hikks, kamera dslr langsung error, juga beberapa smartphone yang kita bawa langsung is dead. Tinggal iphone sama tab yang selamat baik-baik saja dan masih bisa dipake buat foto2.

Sampai pulau pasir putih, Ezra langsung girang dan lupa sama insiden diterjang ombak, padahal dia yang paling panik sampai semua doa dan surat pendek yang hapal dibaca sama dia, keras-keras. ( proud of my boy, di kala emaknya ketawa histeris dramatis campur panik, anaknya ngga lupa istigfar. Worthed juga nyekolahin di sekolah yang goalnya hafidz Quran). Dia langsung nyemplung, berenang sepuasnya sambil mungutin kerang dan karang yang lucu-lucu bentuknya.  Sementara kita-kita yang udah gede was was sama barang bawaan yang basah kena ombak. Bisa dibilang, kita ngga persiapan bener2 waktu mutusin naik kapal, mikirnya kan ngga bakal kena ombak juga.

Tapi biar ngga jadi bad trip, kita tetep nikmatin main-main di pantainya selama lebih dari dua jam sebelum dijemput lagi sama kapal yang tadi nganter kita. Menjelang sore baru deh, pulang ke rumah.
Kampung halaman kakek dan ayah saya ini enaak banget suasananya. Udaranya relatif adem dan masih dikelilingi perkebunan kelapa. Kalau malem, pas lagi sepi, orang-orang udah pada tidur, bisa denger suara ombak dari kejauhan. Rasanya bikin hati adem. Selama nginep di sana, cuma satu provider yang sinyalnya bagus, sisanya matek semua. Terus selama di sana berasa program penaikan BB karena tiap hari ada aja makanan yang menggugah selera, dari mulai rendang paru yang endess sampai pepes entah apa, pokoknya ada nasinya plus ati ampela yang diungkep sama bumbu-bumbu yang rasanya enakk banget. Ada juga tape ketan yang dibungkus daun, tapi saya cuma nyicipin seujung jari doang.

Besoknya hari H pernikahan sepupu. Setelahnya, itinerary berlanjut ke Pantai Batu Hiu dan si curug itu sama area persawahan. Pantai Batu Hiu kalau menurut saya sih, biasa aja. Sayang, kita ngga jadi main ke curug dan area persawahan, dan memutuskan buat main di seputaran kampungnya aja. Besok malemnya kita pulang ke Bandung, sengaja berangkat jam 3 pagi, etapi tetep 12 jam bok di perjalanan pulangnya. Nagrek oh nagrek. Nggak lagi-lagi, deh kena macet di area itu.

Friday, May 30, 2014

And...The Pregnancy Journey Begins (again)

Alhamdulillah,
Setelah penantian yang lumayan lama, akhirnya Allah SWT kasih kepercayaan saya buat hamil lagi. Perjalanan buat hamil kedua ini lumayan banyak ups and downs dan dramanya.

Awalnya saya dan suami berencana untuk menambah momongan itu tahun 2012. Kami nggak program ke dr. spog dan berpikir pasti bisa hamil lagi dengan proses yang natural seperti halnya waktu hamil anak pertama. Tapi sepertinya Allah SWT mau kasih saya dan suami hikmah bahwa yang Maha Mengatur dan memberi kehidupan itu cuma Allah SWT. Jadi, ceritanya sebelum tahun 2012 saya sempat takut hamil karena sedang LDM dengan suami dan masih awal-awal kuliah profesi. Setiap kali telat haid rasanya galau dan berdoa mudah-mudahan jangan hamil dulu. Waktu itu, saya memang nggak menggunakan apa-apa untuk pencegah kehamilan. Bukannya pasrah dan berserah diri, setiap kali mendekati masa period doanya malah semoga haidnya lancar dan nggak hamil. Rupanya, doa-doa itulah yang didengar dan dikabulkan sama Allah ketika pada akhirnya di tahun 2012 saya mulai berencana untuk punya anak lagi.      

Lesson learned. Hati-hati dalam berucap karena ucapan bisa jadi doa.

Sepanjang tahun 2012 masih lumayan santai dalam menjalani rencana untuk hamil lagi. Waktu tahu kalau ternyata selalu dapat haid tiap bulan alias belum kunjung positif, saya mikirnya pasti karena kami berhubungan bukan di masa subur. Ya, mau gimana lagi, kami juga pas LDMan waktu itu. Kalau pas masa subur, saya lagi di luar kota atau malah sebaliknya suami yang sedang pergi ke luar kota. Menjelang akhir tahun 2012 load kerjaan semakin banyak, ditambah lagi mulai nyusun thesis,dan bolak-balik keluar kotanya semakin sering. Badan yang sebenernya sudah di ambang batas kelelahan tetep dipaksa buat melakoni semua hal dalam waktu yang bersamaan.

Wednesday, May 28, 2014

Ketika Si Kecil Mengganti Nama Panggilan Orangtuanya.

gambar pinjam dari sini

Saya pikir, Ezra akan selamanya memanggil saya dengan sebutan 'Ibu' seperti yang sudah biasa kami biasakan sejak dia masih bayi. Jadi berdasarkan kesepakatan bersama, suami saya  dipanggil 'Ayah' dan saya dipanggil 'Ibu' oleh Ezra.

Tapi, skhir Maret lalu semuanya berubah. Adalah Mama saya yang awalnya mengompori Ezra untuk mengganti nama panggilan saya dari 'Ibu' menjadi 'Bunda'. Omanya Ezra menerangkan dengan sabar kalau panggilan 'Ibu' itu nggak ada bedanya dengan panggilan untuk ibu-ibu lain yang ditemui Ezra di luar rumah. Mama saya bilang kalau pas Ezra memanggil gurunya kan juga menggunakan sebutan 'Ibu', tapi kan Bu Guru bukan ibunya Ezra. Lebih pas kalau manggilnya pakai 'Bunda' karena pasangannya 'Ayah' itu 'Bunda'. 

Dan doktrin Mama saya itu sepertinya mengena banget di diri Ezra. Ezra pun bilang kalau mulai sekarang dia bakal panggil saya Bunda dan saya harus merespon. Awalnya, saya masih nggak mau dan ingin mempertahankan panggilan 'Ibu' yang rasanya lebih istimewa dan bergetar di hati saya. Atau kalau rasanya belum terlalu personal, bisa diubah menjadi 'Ibuk'. Suami juga ogah. Nggak tau kenapa, sejak awal dia geli sama panggilan 'Bunda'. Pokoknya dia merasa nggak suka aja. 

Saya pun bilang sama Ezra kalau saya ingin tetap dipanggil 'Ibu', tapi entah gimana kok sepertinya dia maksa saya harus mau dipanggil 'Bunda'. 

E(zra): "Ya udah, kalau gitu aku mau ganti nama jadi Razor aja, kalo Bunda nggak mau?" (Lha, nggak ada hubungannya juga, Nak). Tapi pernyataan itu serius ternyata. Dia bilang lagi: "Kok Bunda kasih nama aku Ezra nggak 'Razor' atau 'Fun' aja? Aku juga mau panggil Bunda aja kalau gitu?" (Trik yang cerdas sebenernya, karena menyiratkan kalau ibunya aja bisa kasih nama sesuka udelnya, hehehe, sebagai anak boleh dong manggil orangtuanya dengan nama yang paling si anak inginkan.)

Saya terpaksa mengeluarkan akte kelahiran buat kasih tahu Ezra kalau namanya sudah nggak bisa diganti karena sudah tertulis secara hukum dan disahkan dalam akte kelahirannya. Terus, saya jelaskan arti namanya apa, dan idenya darimana. Dia pun mau memahami dan bilang : "Aku suka kok, sama nama Ezra. Tapi aku tetep mau manggil Bunda aja."

Oh baiklah. Karena nama anak nggak bisa dengan gampang digonti-ganti dan panggilan untuk orangtua itu sebenernya lebih fleksibel (selama sopan, ya), saya mau mengabulkan keinginan sederhana bocah kecil ini. 

B(unda): "Ya udah, oke. Kamu boleh panggil Bunda. Tapi kamu juga harus bilang sama ayah, ya?"

E : "Deal," jawab Ezra, "sekarang aku mau buat surat dulu buat Bunda, ya?"
B: "Surat apa?"
E: "Surat buat ganti nama, Bun? Biar Bunda nggak ganti-ganti lagi nanti kalau udah aku tandatanganin."
B: "Oh," (sambil garuk-garuk kepala)

Terus habis suratnya ditandatangani, beberapa hari kemudian dia ngetes saya.
E: "Bunnn, Buunnnda?"
B: "Iya, ada apa sih, kok teriak-teriak?"
E: "Cuma mau tau, Bunda lupa apa nggak?"

Lain waktu, pas ayahnya kepleset masih manggil dengan sebutan 'Ibu' (Dengan berat hati dia pun menyetujui panggilan 'Bunda') 
E: "Ayah, bukan Ibu, tapi Bunda. Buuunnnndaaaa. Ayo latian manggilnya Bundaa. B-U-N-D-A, ya.


Sampai hari ini saya masih sering lupa, karena panggilan Ibu tuh, lebih punya kesan di pikiran saya, lebih nyantol rasanya. Pak Suami juga masih sering manggil dengan sebutan Ibu. Ezra justru udah fasih banget. Sepertinya sebutan 'Bunda' lebih punya kesan buat dia. Ya udahlah ya, daripada saya mesti ganti nama dia jadi Razor juga.    

Pernah punya pengalaman serupa Moms? 

Monday, May 19, 2014

Anak Belajar Ikutan Lomba : Yay or Nay?

Ezra (Quatro) waktu ikutan lomba drumband.

Kalau saya sih, ada di tengah-tengah. 
Semua selalu saya lihat dulu apa manfaatnya buat anak dan pas nggak dengan usianya. Kalau sudah pas dengan usianya, dan lebih banyak manfaatnya, kenapa tidak. 

Jadi ceritanya suatu hari, Ezra minta ikutan lomba, katanya dia pingin dapet banyak piala kayak beberapa temannya yang rajin ikutan lomba. Bisa dibilang saya memang nggak pernah mengikutkan Ezra lomba, kecuali waktu umur 2 atau 3 tahunan gitu (saya lupa), lomba balita sehat. Itu pun karena dikejar-kejar sama orang puskesmas yang bilang kalau anak saya punya potensi untuk menang karena kelihatan cakep, sehat, dan ceria. Alhamdulillah. 

Alhasil karena bujukannya, saya ikutkan Ezra lomba. Menang di tingkat kabupaten, abis itu karena saya lumayan disibukkan dengan mempersiapkan kuliah profesi, saya nggak mengikutkan Ezra di lomba tingkat selanjutnya. Ribet karena rumahnya pake di survei segala, trus ortunya juga diwawancara, dan bolak-balik ke puskesmas buat ditimbang dan cek ini-itu, pokoknya berat badan si anak nggak boleh sampai turun. Jadi kepercayaan yang beredar luas adalah bahwa anak yang gemuk = sehat. 

Back to the topic
Waktu Ezra minta ikutan lomba, usianya sudah enam tahun. Tertinggal jauh dari teman-temannya yang mulai ikutan lomba sejak usia empat atau malah tiga tahun. 

Mulai usia lima atau enam tahun, seorang anak sudah mulai bisa membandingkan dirinya dengan orang lain. Jadi, wajar kalau Ezra juga sudah mulai melihat dirinya dengan cara membandingkan diri dengan teman-temannya.

“Bun, si ini tuh, gini, si itu tuh, gitu lhoo. Udah pernah ini, atau belum pernah itu,” 

Jadi, baiklah. Saya pun mencari lomba yang pas buat Ezra melalui link sekolah. Jujur, saya nggak terlalu suka sama lomba mewarnai karena yang menang biasanya anak yang sudah ikutan sanggar seni dan diajari teknik mewarnai yang sedemikian rupa, dengan teknik pewarnaan dan gradasi-gradasi yang lama-kelamaan hasil gambarnya jadi kelihatan seragam semua. Kalau dipikir-pikir, hal itu nggak ada bedanya dengan zaman saya dulu, kalau menggambar harus dua buah gunung, matahari menyembul di tengah, dan ada sawah terhampar luas. 

Pak Suami yang hobi orat-oret juga setuju sama saya. Jadi, waktu ada lomba menggambar (bukan mewarnai atau melengkapi gambar) saya pede mengikutsertakan Ezra dalam lomba tersebut. Iya dong, orangtuanya harus pede dulu kalau anaknya bisa. Jangan sampai ortu nggak bisa mengukur kemampuan anaknya dimana, dan langsung mengikutkan ke suatu lomba aja. 

Saya pede karena menggambar itu kerjaannya Ezra tiap hari. Saya sendiri suka dibuat tercengang dengan cerita-cerita dalam gambar yang dia buat. Misalnya, habis nonton DC atau BBC tentang luar angkasa, dia akan gambar tata surya. Kelemahannya, gambar Ezra masih sangat teknikal, jarang sekali dia menggambar yang sifatnya organis (bunga, pohon, hewan, dsb) Tapi nggak masalah, yang penting dia fun dulu dengan aktivitas menggambarnya. 

Lomba yang diikuti Ezra waktu itu, skalanya lumayan besar, hampir semua TK dan PAUD ikutan atau mengirimkan perwakilannya. Tema lomba gambarnya adalah : 'Cita-Citaku'. Waktu itu dia menang juara ketiga. Saya coba intip gambarnya, ternyata dia menggambar sebuah lingkaran besar seperti bumi, lengkap dengan pulau-pulau yang bentuknya masih ngasal. Lalu ada pesawat terbang sedang melintas dan bendera berbagai negara menancap di atas permukaan bumi tersebut. Disamping bumi, ada gambar sesosok anak laki-laki dengan rambut spikey yang dikasih topi pilot. Waktu saya tanya memang cita-citanya apa? Dia jawab : Pilot. :D 

Manfaat Ikutan Lomba Bagi Anak.

Manfaat lomba sebenarnya adalah untuk melatih mental anak sehingga dia tahu bahwa di luar sana ada orang lain yang melakukan hal yang sama dengan dirinya, dan ada konsep menang dan kalah dalam hal tersebut. 

Sebagai orangtua, kita harus jelaskan kepada anak menang itu apa, kriterianya apa, dan kalah itu bagaimana. Gunaka bahasa sederhana yang gampang dipahami anak. Tanyakan juga kepada si anak, apakah dia siap untuk menang atau kalah? Jelaskan bahwa kalau menang dia bisa mendapat hadiah, tetapi kalau nggak pun tujuan dari lomba ini adalah untuk ketemu banyak teman, punya pengalaman baru karena sudah pernah ikutan lomba, dan bermain dengan banyak teman baru. Kalau anak siap, let’s have fun. Ini juga merupakan cara untuk melatih anak mengembangkan sikap yang baik terhadap konsep menang dan kalah. Sometimes you win, sometimes you learn

Waktu ikutan lomba fashion show (janji itu yang pertama dan terakhir kalinya. :P ) Ezra kalah sama cewek-cewek mungil yang berdandan bak wanita dewasa. Pak Suami agak nggak setuju sebenernya waktu saya ikutkan Ezra di lomba tersebut, meski ada juga peserta lainnya yang anak laki-laki. Tapi saya bilang sama dia kalau saya ingin tahu seberapa besar tingkat kepercayaan diri Ezra untuk naik ke atas panggung dan diperhatikan oleh berpasang-pasang mata. Waktu tahu dia kalah, Ezra dengan entengnya bilang kalau lomba itu memang buat cewek ;D. 

Manfaat dari ikutan lomba yang lain, yang paling terasa adalah, anak dapat belajar untuk memahami kekuatan dan kelemahannya. Hal ini tentu baru bisa dirasakan oleh anak yang usianya lebih besar. Anak usia tiga tahun, mungkin belum punya sense tersebut. Beda dengan anak usia lima atau enam tahun yang sudah mulai bisa menilai dirinya sendiri. 

Ikut lomba juga mengajari anak untuk mengikuti aturan permainan, tengat waktu, dan belajar untuk berkompromi dengan keadaan. Waktu Ezra ikutan lomba drumband bareng teman-teman sekolahnya, terasa banget dia harus belajar untuk menunggu giliran, dan ada akibat yang harus dihadapi dengan menunggu, misalnya bosan, capek, dan laper :D but the show must go on. Dia harus belajar bahwa setelah seorang komitmen untuk mengikuti sesuatu dia harus melakukannya sampai selesai. 

Yang harus diingat oleh orangtua adalah untuk tidak terlalu menuntut dan memaksakan anak untuk menang dalam mengikuti suatu lomba. Selalu kita tekankan pada anak bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk menambah pengalaman. Selalu beri apresiasi atas keberanian dan kepercayaan dirinya untuk terlibat dalam kegiatan tersebut, loose or win

Mungkin itu dulu sharingnya. Disambung dengan topik lainnya ya, next time.

Life Lately

life lately. gambar pinjam dari sini

It’s been a while… 

Lama nggak posting di sini. Been busy lately. Dari mulai mengurus pindahan—yup, finally setelah sejak 2010 menjalani long distance marriage dan nomaden di beberapa kota, akhirnya bisa stay satu kota dan barengan sama keluarga setiap hari. Insya Allah dalam rentang waktu yang tidak singkat karena Ezra udah mau masuk SD pertengahan tahun ini. 

Masuk SD artinya komitmennya naik dong, nggak bisa seenak waktu masih TK, ajak dia bolos pas saya ada kerjaan di luar kota dan ninggal sekolahnya dalam waktu lama. Atau malah saya yang ninggalin dia selama beberapa waktu. Setelah diskusi, akhirnya kami sekeluarga sepakat untuk mengikuti sekolah anak dan lokasi pekerjaan suami.  

Sebenernya, pindahannya nggak sampai heboh-heboh amat sih, karena sejak 2013 sudah dicicil. PR berikutnya adalah mencari sekolah yang pas buat Ezra. Ini juga surveynya sudah dari lama. Dan saya sudah survei di tiga kota untuk mengantisipasi ketidakpastian domisili. Akhirnya, setelah diputuskan mau stay di mana, langsung lega dan mulai hunting sekolah yang pas secara lokasi, sistem pembelajaraan, dan biayanya. Setelah menemukan sekolah yang pas buat Ezra, yang lain-lain pun mulai bisa mengikuti.

Monday, February 24, 2014

Current Cravings: Our Hayao Miyazaki Night

No Face, salah satu karakter dalam Spirited Away (gambar pinjam dari sini)
Mei dan Totoro (gambar pinjam dari sini)
Gambar pinjam dari sini
Kutipan Favorit Hayao Miyazaki (Gambar pinjam dari sini)
Even gerimis pun jadi kelihatan cantik di tangannya Hayao Miyazaki (gambar pinjam dari sini)
Our Wish List (2014)
Sketching No Face, Makurro Kurosuke, and Totoro.
Saya lupa kapan tepatnya mulai jatuh hati dan menyukai semua film animasi karya Hayao Miyazaki ini. Kalau tidak salah, sekitar akhir tahun 2009, saya mulai memutarkan My Neighbor Totoro untuk Ezra. Waktu itu usianya tiga tahunan. Responnya lumayan, meskipun ternyata dia lebih suka nonton Thomas atau Pingu.

My Neighbor Totoro kembali ditonton Ezra tahun ini. Awalnya karena saya memberlakukan diet nonton film kartun, yang kalau dicermati kebanyakan isinya bullying secara terselubung. Salah satunya, coba deh, cermati Oggy and Crockoaches (Ini salah satu film kartun yang paling sering ditonton Ezra). Daripada menuai imbas negatif di kemudian hari, saya memutuskan untuk membatasi pilihan dan jam tontonannya. Memang sudah agak terlambat, tapi daripada tidak sama sekali. Dan saya pikir, sekarang dia sudah lebih besar, jadi lebih paham alasan dari sebuah peraturan atau larangan.

Ezra's Weekend Project : Recycle Wardrobe

Pameran hasil karya anak-Ezra and his classmate
Kostum 'keluarga gembel' :D

Ezra's weekend project kali ini temanya adalah membuat pakaian dari barang bekas. Ceritanya, di sekolah Ezra, Sabtu kemarin, diadakan Pameran Hasil Karya Anak dan pementasan drumband. Salah satu acaranya ada lomba fashion show orangtua dan anak juga. Tadinya ngga bakal datang ke acara ini karena seminggu belakangan Ezra sedang ngga enak badan dan sempat demam tinggi. Tapi karena Ezra harus ikut manggung pas drumband, mau gimana lagi. Karena sejak awal udah ngga niat ikutan, buat kostum untuk fashion shownya juga dadakan. 

Saya tanya Ezra, mau bikin kostum apa? Dia pingin buat kostum ninja. Oke, tema buat anak udah ketemu, tinggal ibunya mau pakai baju apa masih bingung sendiri. Mana waktu bikinnya mepet banget. Awalnya mau pakai bahan karung bekas beras. Eh tapi, penjahit saya nggak mau dong, waktu disuruh jahit karung yang sudah saya pola, takut mesinnya rusak, dan katanya jahit bahan karung plastik gitu susah. 

Baru pas Jumat malemnya nemu ide buat bikin kostum-kostumnya dari kantong-kantong belanja bekas. Pertama bikin punya saya dulu karena bikin baju perempuan relatif gampang, dan nggak perlu pakai pola. Tinggal tempel-tempel bahan di atas manekin sambil dijelujur dulu. Baru abis itu bikin kostum punya Ezra. Untung ada kantung plastik sampah yang ukuran besar di rumah, jadi bisa dibuat model baju yang agak panjang.     

Pagi-pagi baru ditindas pakai mesin jahit, dan ternyata bahan kantong plastik jahitnya gampang, kok. Mungkin karena lebih tipis, sih. Tinggal Ezra yang kemudian nempelin aksesorisnya mau kayak gimana. Kostum punya dia, ditempelin gambar si Lightning McQueen yang digunting dari kantung kain bekas juga. Punya saya, itu corsace bunganya juga dari kantong plastik warna gold yang digunting bentuk bunga. Jam tujuh kostumnya jadi, dan siap-siap deh, berangkat ke sekolah. 

Waktu ngeliat kostum yang udah jadi cuma mikir satu hal, mudah-mudahan nanti pas dipakai, kita berdua nggak keliatan kayak orang gila :D atau gembel, hihihiy. 

Sampai sekolah, ternyata banyak juga keluarga gembel peserta lainnya yang pakai kostum dan aksesori berbahan bekas lainnya. Semua kreatif-kreatif dan keren deh, pada niatlah pesertanya. Dari dua puluhan peserta, Ezra dapet juara harapan tiga. Ihiyyy, lumayanlah.

Wednesday, February 19, 2014

Belajar Calistung : Latihan Membaca Untuk Anak Usia 5-6 Tahun

Buku Latihan Harian
Peer bacaan tiap malam sebelum tidur. Sapta Siaga, Enid Blyton.
Permainan menyusun suku kata

Tulisan ini sambungan dari sini ya. Kalau waktu itu sempat membahas tentang bagaimana melatih anak-anak usia 3-5 tahun untuk menulis, kali ini saya akan berbagi tentang bagaimana melatih anak usia 5-6 tahun untuk belajar membaca. 

Sebenarnya, goal yang saya inginkan dari menguasai keterampilan membaca untuk Ezra adalah bagaimana agar dia nantinya bisa menyukai buku dan menikmati kegiatan membaca.Di era gadget yang serba canggih ini, goal tersebut jadi peer banget. 

Terkadang buku-buku bacaan anak, mau sewarna-warni apa pun masih sering kalah sama mainan yang ada di gadget dan acara-acara anak di televisi. Memang sih, semua tergantung bimbingan orang tuanya, dari awal seperti apa menerapkan kebijakan dalam hal bermain gadget dan nonton televisi. 

Menurut saya, proses dari bisa membaca, kemudian menikmati sebuah bacaan itu membutuhkan waktu yang cukup panjang. Apalagi untuk anak-anak usia 5-6 tahun. Untuk itu, harus ada yang bisa menularkan semangat dan kesenangan tersebut, terutama di dalam lingkungan keluarga. 

Saat usianya lima tahun, Ezra sudah bisa membaca kata-kata dengan suku kata yang sederhana, misalnya ‘bubu’, ‘sapi’, dan sebagainya. Dia juga sudah mahir menuliskan namanya. Untuk tulisan yang panjang-panjang masih butuh bimbingan, terutama kalau dalam kata tersebut ada ‘ng’ atau ‘ny’. Kadang dia juga coba-coba membaca kata dalam Bahasa Inggris, dan sering kali jadi bingung karena pelafalannya beda dengan Bahasa Indonesia. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...