Friday, May 30, 2014

And...The Pregnancy Journey Begins (again)

Alhamdulillah,
Setelah penantian yang lumayan lama, akhirnya Allah SWT kasih kepercayaan saya buat hamil lagi. Perjalanan buat hamil kedua ini lumayan banyak ups and downs dan dramanya.

Awalnya saya dan suami berencana untuk menambah momongan itu tahun 2012. Kami nggak program ke dr. spog dan berpikir pasti bisa hamil lagi dengan proses yang natural seperti halnya waktu hamil anak pertama. Tapi sepertinya Allah SWT mau kasih saya dan suami hikmah bahwa yang Maha Mengatur dan memberi kehidupan itu cuma Allah SWT. Jadi, ceritanya sebelum tahun 2012 saya sempat takut hamil karena sedang LDM dengan suami dan masih awal-awal kuliah profesi. Setiap kali telat haid rasanya galau dan berdoa mudah-mudahan jangan hamil dulu. Waktu itu, saya memang nggak menggunakan apa-apa untuk pencegah kehamilan. Bukannya pasrah dan berserah diri, setiap kali mendekati masa period doanya malah semoga haidnya lancar dan nggak hamil. Rupanya, doa-doa itulah yang didengar dan dikabulkan sama Allah ketika pada akhirnya di tahun 2012 saya mulai berencana untuk punya anak lagi.      

Lesson learned. Hati-hati dalam berucap karena ucapan bisa jadi doa.

Sepanjang tahun 2012 masih lumayan santai dalam menjalani rencana untuk hamil lagi. Waktu tahu kalau ternyata selalu dapat haid tiap bulan alias belum kunjung positif, saya mikirnya pasti karena kami berhubungan bukan di masa subur. Ya, mau gimana lagi, kami juga pas LDMan waktu itu. Kalau pas masa subur, saya lagi di luar kota atau malah sebaliknya suami yang sedang pergi ke luar kota. Menjelang akhir tahun 2012 load kerjaan semakin banyak, ditambah lagi mulai nyusun thesis,dan bolak-balik keluar kotanya semakin sering. Badan yang sebenernya sudah di ambang batas kelelahan tetep dipaksa buat melakoni semua hal dalam waktu yang bersamaan.

Wednesday, May 28, 2014

Ketika Si Kecil Mengganti Nama Panggilan Orangtuanya.

gambar pinjam dari sini

Saya pikir, Ezra akan selamanya memanggil saya dengan sebutan 'Ibu' seperti yang sudah biasa kami biasakan sejak dia masih bayi. Jadi berdasarkan kesepakatan bersama, suami saya  dipanggil 'Ayah' dan saya dipanggil 'Ibu' oleh Ezra.

Tapi, skhir Maret lalu semuanya berubah. Adalah Mama saya yang awalnya mengompori Ezra untuk mengganti nama panggilan saya dari 'Ibu' menjadi 'Bunda'. Omanya Ezra menerangkan dengan sabar kalau panggilan 'Ibu' itu nggak ada bedanya dengan panggilan untuk ibu-ibu lain yang ditemui Ezra di luar rumah. Mama saya bilang kalau pas Ezra memanggil gurunya kan juga menggunakan sebutan 'Ibu', tapi kan Bu Guru bukan ibunya Ezra. Lebih pas kalau manggilnya pakai 'Bunda' karena pasangannya 'Ayah' itu 'Bunda'. 

Dan doktrin Mama saya itu sepertinya mengena banget di diri Ezra. Ezra pun bilang kalau mulai sekarang dia bakal panggil saya Bunda dan saya harus merespon. Awalnya, saya masih nggak mau dan ingin mempertahankan panggilan 'Ibu' yang rasanya lebih istimewa dan bergetar di hati saya. Atau kalau rasanya belum terlalu personal, bisa diubah menjadi 'Ibuk'. Suami juga ogah. Nggak tau kenapa, sejak awal dia geli sama panggilan 'Bunda'. Pokoknya dia merasa nggak suka aja. 

Saya pun bilang sama Ezra kalau saya ingin tetap dipanggil 'Ibu', tapi entah gimana kok sepertinya dia maksa saya harus mau dipanggil 'Bunda'. 

E(zra): "Ya udah, kalau gitu aku mau ganti nama jadi Razor aja, kalo Bunda nggak mau?" (Lha, nggak ada hubungannya juga, Nak). Tapi pernyataan itu serius ternyata. Dia bilang lagi: "Kok Bunda kasih nama aku Ezra nggak 'Razor' atau 'Fun' aja? Aku juga mau panggil Bunda aja kalau gitu?" (Trik yang cerdas sebenernya, karena menyiratkan kalau ibunya aja bisa kasih nama sesuka udelnya, hehehe, sebagai anak boleh dong manggil orangtuanya dengan nama yang paling si anak inginkan.)

Saya terpaksa mengeluarkan akte kelahiran buat kasih tahu Ezra kalau namanya sudah nggak bisa diganti karena sudah tertulis secara hukum dan disahkan dalam akte kelahirannya. Terus, saya jelaskan arti namanya apa, dan idenya darimana. Dia pun mau memahami dan bilang : "Aku suka kok, sama nama Ezra. Tapi aku tetep mau manggil Bunda aja."

Oh baiklah. Karena nama anak nggak bisa dengan gampang digonti-ganti dan panggilan untuk orangtua itu sebenernya lebih fleksibel (selama sopan, ya), saya mau mengabulkan keinginan sederhana bocah kecil ini. 

B(unda): "Ya udah, oke. Kamu boleh panggil Bunda. Tapi kamu juga harus bilang sama ayah, ya?"

E : "Deal," jawab Ezra, "sekarang aku mau buat surat dulu buat Bunda, ya?"
B: "Surat apa?"
E: "Surat buat ganti nama, Bun? Biar Bunda nggak ganti-ganti lagi nanti kalau udah aku tandatanganin."
B: "Oh," (sambil garuk-garuk kepala)

Terus habis suratnya ditandatangani, beberapa hari kemudian dia ngetes saya.
E: "Bunnn, Buunnnda?"
B: "Iya, ada apa sih, kok teriak-teriak?"
E: "Cuma mau tau, Bunda lupa apa nggak?"

Lain waktu, pas ayahnya kepleset masih manggil dengan sebutan 'Ibu' (Dengan berat hati dia pun menyetujui panggilan 'Bunda') 
E: "Ayah, bukan Ibu, tapi Bunda. Buuunnnndaaaa. Ayo latian manggilnya Bundaa. B-U-N-D-A, ya.


Sampai hari ini saya masih sering lupa, karena panggilan Ibu tuh, lebih punya kesan di pikiran saya, lebih nyantol rasanya. Pak Suami juga masih sering manggil dengan sebutan Ibu. Ezra justru udah fasih banget. Sepertinya sebutan 'Bunda' lebih punya kesan buat dia. Ya udahlah ya, daripada saya mesti ganti nama dia jadi Razor juga.    

Pernah punya pengalaman serupa Moms? 

Monday, May 19, 2014

Anak Belajar Ikutan Lomba : Yay or Nay?

Ezra (Quatro) waktu ikutan lomba drumband.

Kalau saya sih, ada di tengah-tengah. 
Semua selalu saya lihat dulu apa manfaatnya buat anak dan pas nggak dengan usianya. Kalau sudah pas dengan usianya, dan lebih banyak manfaatnya, kenapa tidak. 

Jadi ceritanya suatu hari, Ezra minta ikutan lomba, katanya dia pingin dapet banyak piala kayak beberapa temannya yang rajin ikutan lomba. Bisa dibilang saya memang nggak pernah mengikutkan Ezra lomba, kecuali waktu umur 2 atau 3 tahunan gitu (saya lupa), lomba balita sehat. Itu pun karena dikejar-kejar sama orang puskesmas yang bilang kalau anak saya punya potensi untuk menang karena kelihatan cakep, sehat, dan ceria. Alhamdulillah. 

Alhasil karena bujukannya, saya ikutkan Ezra lomba. Menang di tingkat kabupaten, abis itu karena saya lumayan disibukkan dengan mempersiapkan kuliah profesi, saya nggak mengikutkan Ezra di lomba tingkat selanjutnya. Ribet karena rumahnya pake di survei segala, trus ortunya juga diwawancara, dan bolak-balik ke puskesmas buat ditimbang dan cek ini-itu, pokoknya berat badan si anak nggak boleh sampai turun. Jadi kepercayaan yang beredar luas adalah bahwa anak yang gemuk = sehat. 

Back to the topic
Waktu Ezra minta ikutan lomba, usianya sudah enam tahun. Tertinggal jauh dari teman-temannya yang mulai ikutan lomba sejak usia empat atau malah tiga tahun. 

Mulai usia lima atau enam tahun, seorang anak sudah mulai bisa membandingkan dirinya dengan orang lain. Jadi, wajar kalau Ezra juga sudah mulai melihat dirinya dengan cara membandingkan diri dengan teman-temannya.

“Bun, si ini tuh, gini, si itu tuh, gitu lhoo. Udah pernah ini, atau belum pernah itu,” 

Jadi, baiklah. Saya pun mencari lomba yang pas buat Ezra melalui link sekolah. Jujur, saya nggak terlalu suka sama lomba mewarnai karena yang menang biasanya anak yang sudah ikutan sanggar seni dan diajari teknik mewarnai yang sedemikian rupa, dengan teknik pewarnaan dan gradasi-gradasi yang lama-kelamaan hasil gambarnya jadi kelihatan seragam semua. Kalau dipikir-pikir, hal itu nggak ada bedanya dengan zaman saya dulu, kalau menggambar harus dua buah gunung, matahari menyembul di tengah, dan ada sawah terhampar luas. 

Pak Suami yang hobi orat-oret juga setuju sama saya. Jadi, waktu ada lomba menggambar (bukan mewarnai atau melengkapi gambar) saya pede mengikutsertakan Ezra dalam lomba tersebut. Iya dong, orangtuanya harus pede dulu kalau anaknya bisa. Jangan sampai ortu nggak bisa mengukur kemampuan anaknya dimana, dan langsung mengikutkan ke suatu lomba aja. 

Saya pede karena menggambar itu kerjaannya Ezra tiap hari. Saya sendiri suka dibuat tercengang dengan cerita-cerita dalam gambar yang dia buat. Misalnya, habis nonton DC atau BBC tentang luar angkasa, dia akan gambar tata surya. Kelemahannya, gambar Ezra masih sangat teknikal, jarang sekali dia menggambar yang sifatnya organis (bunga, pohon, hewan, dsb) Tapi nggak masalah, yang penting dia fun dulu dengan aktivitas menggambarnya. 

Lomba yang diikuti Ezra waktu itu, skalanya lumayan besar, hampir semua TK dan PAUD ikutan atau mengirimkan perwakilannya. Tema lomba gambarnya adalah : 'Cita-Citaku'. Waktu itu dia menang juara ketiga. Saya coba intip gambarnya, ternyata dia menggambar sebuah lingkaran besar seperti bumi, lengkap dengan pulau-pulau yang bentuknya masih ngasal. Lalu ada pesawat terbang sedang melintas dan bendera berbagai negara menancap di atas permukaan bumi tersebut. Disamping bumi, ada gambar sesosok anak laki-laki dengan rambut spikey yang dikasih topi pilot. Waktu saya tanya memang cita-citanya apa? Dia jawab : Pilot. :D 

Manfaat Ikutan Lomba Bagi Anak.

Manfaat lomba sebenarnya adalah untuk melatih mental anak sehingga dia tahu bahwa di luar sana ada orang lain yang melakukan hal yang sama dengan dirinya, dan ada konsep menang dan kalah dalam hal tersebut. 

Sebagai orangtua, kita harus jelaskan kepada anak menang itu apa, kriterianya apa, dan kalah itu bagaimana. Gunaka bahasa sederhana yang gampang dipahami anak. Tanyakan juga kepada si anak, apakah dia siap untuk menang atau kalah? Jelaskan bahwa kalau menang dia bisa mendapat hadiah, tetapi kalau nggak pun tujuan dari lomba ini adalah untuk ketemu banyak teman, punya pengalaman baru karena sudah pernah ikutan lomba, dan bermain dengan banyak teman baru. Kalau anak siap, let’s have fun. Ini juga merupakan cara untuk melatih anak mengembangkan sikap yang baik terhadap konsep menang dan kalah. Sometimes you win, sometimes you learn

Waktu ikutan lomba fashion show (janji itu yang pertama dan terakhir kalinya. :P ) Ezra kalah sama cewek-cewek mungil yang berdandan bak wanita dewasa. Pak Suami agak nggak setuju sebenernya waktu saya ikutkan Ezra di lomba tersebut, meski ada juga peserta lainnya yang anak laki-laki. Tapi saya bilang sama dia kalau saya ingin tahu seberapa besar tingkat kepercayaan diri Ezra untuk naik ke atas panggung dan diperhatikan oleh berpasang-pasang mata. Waktu tahu dia kalah, Ezra dengan entengnya bilang kalau lomba itu memang buat cewek ;D. 

Manfaat dari ikutan lomba yang lain, yang paling terasa adalah, anak dapat belajar untuk memahami kekuatan dan kelemahannya. Hal ini tentu baru bisa dirasakan oleh anak yang usianya lebih besar. Anak usia tiga tahun, mungkin belum punya sense tersebut. Beda dengan anak usia lima atau enam tahun yang sudah mulai bisa menilai dirinya sendiri. 

Ikut lomba juga mengajari anak untuk mengikuti aturan permainan, tengat waktu, dan belajar untuk berkompromi dengan keadaan. Waktu Ezra ikutan lomba drumband bareng teman-teman sekolahnya, terasa banget dia harus belajar untuk menunggu giliran, dan ada akibat yang harus dihadapi dengan menunggu, misalnya bosan, capek, dan laper :D but the show must go on. Dia harus belajar bahwa setelah seorang komitmen untuk mengikuti sesuatu dia harus melakukannya sampai selesai. 

Yang harus diingat oleh orangtua adalah untuk tidak terlalu menuntut dan memaksakan anak untuk menang dalam mengikuti suatu lomba. Selalu kita tekankan pada anak bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk menambah pengalaman. Selalu beri apresiasi atas keberanian dan kepercayaan dirinya untuk terlibat dalam kegiatan tersebut, loose or win

Mungkin itu dulu sharingnya. Disambung dengan topik lainnya ya, next time.

Life Lately

life lately. gambar pinjam dari sini

It’s been a while… 

Lama nggak posting di sini. Been busy lately. Dari mulai mengurus pindahan—yup, finally setelah sejak 2010 menjalani long distance marriage dan nomaden di beberapa kota, akhirnya bisa stay satu kota dan barengan sama keluarga setiap hari. Insya Allah dalam rentang waktu yang tidak singkat karena Ezra udah mau masuk SD pertengahan tahun ini. 

Masuk SD artinya komitmennya naik dong, nggak bisa seenak waktu masih TK, ajak dia bolos pas saya ada kerjaan di luar kota dan ninggal sekolahnya dalam waktu lama. Atau malah saya yang ninggalin dia selama beberapa waktu. Setelah diskusi, akhirnya kami sekeluarga sepakat untuk mengikuti sekolah anak dan lokasi pekerjaan suami.  

Sebenernya, pindahannya nggak sampai heboh-heboh amat sih, karena sejak 2013 sudah dicicil. PR berikutnya adalah mencari sekolah yang pas buat Ezra. Ini juga surveynya sudah dari lama. Dan saya sudah survei di tiga kota untuk mengantisipasi ketidakpastian domisili. Akhirnya, setelah diputuskan mau stay di mana, langsung lega dan mulai hunting sekolah yang pas secara lokasi, sistem pembelajaraan, dan biayanya. Setelah menemukan sekolah yang pas buat Ezra, yang lain-lain pun mulai bisa mengikuti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...