Monday, May 19, 2014

Anak Belajar Ikutan Lomba : Yay or Nay?

Ezra (Quatro) waktu ikutan lomba drumband.

Kalau saya sih, ada di tengah-tengah. 
Semua selalu saya lihat dulu apa manfaatnya buat anak dan pas nggak dengan usianya. Kalau sudah pas dengan usianya, dan lebih banyak manfaatnya, kenapa tidak. 

Jadi ceritanya suatu hari, Ezra minta ikutan lomba, katanya dia pingin dapet banyak piala kayak beberapa temannya yang rajin ikutan lomba. Bisa dibilang saya memang nggak pernah mengikutkan Ezra lomba, kecuali waktu umur 2 atau 3 tahunan gitu (saya lupa), lomba balita sehat. Itu pun karena dikejar-kejar sama orang puskesmas yang bilang kalau anak saya punya potensi untuk menang karena kelihatan cakep, sehat, dan ceria. Alhamdulillah. 

Alhasil karena bujukannya, saya ikutkan Ezra lomba. Menang di tingkat kabupaten, abis itu karena saya lumayan disibukkan dengan mempersiapkan kuliah profesi, saya nggak mengikutkan Ezra di lomba tingkat selanjutnya. Ribet karena rumahnya pake di survei segala, trus ortunya juga diwawancara, dan bolak-balik ke puskesmas buat ditimbang dan cek ini-itu, pokoknya berat badan si anak nggak boleh sampai turun. Jadi kepercayaan yang beredar luas adalah bahwa anak yang gemuk = sehat. 

Back to the topic
Waktu Ezra minta ikutan lomba, usianya sudah enam tahun. Tertinggal jauh dari teman-temannya yang mulai ikutan lomba sejak usia empat atau malah tiga tahun. 

Mulai usia lima atau enam tahun, seorang anak sudah mulai bisa membandingkan dirinya dengan orang lain. Jadi, wajar kalau Ezra juga sudah mulai melihat dirinya dengan cara membandingkan diri dengan teman-temannya.

“Bun, si ini tuh, gini, si itu tuh, gitu lhoo. Udah pernah ini, atau belum pernah itu,” 

Jadi, baiklah. Saya pun mencari lomba yang pas buat Ezra melalui link sekolah. Jujur, saya nggak terlalu suka sama lomba mewarnai karena yang menang biasanya anak yang sudah ikutan sanggar seni dan diajari teknik mewarnai yang sedemikian rupa, dengan teknik pewarnaan dan gradasi-gradasi yang lama-kelamaan hasil gambarnya jadi kelihatan seragam semua. Kalau dipikir-pikir, hal itu nggak ada bedanya dengan zaman saya dulu, kalau menggambar harus dua buah gunung, matahari menyembul di tengah, dan ada sawah terhampar luas. 

Pak Suami yang hobi orat-oret juga setuju sama saya. Jadi, waktu ada lomba menggambar (bukan mewarnai atau melengkapi gambar) saya pede mengikutsertakan Ezra dalam lomba tersebut. Iya dong, orangtuanya harus pede dulu kalau anaknya bisa. Jangan sampai ortu nggak bisa mengukur kemampuan anaknya dimana, dan langsung mengikutkan ke suatu lomba aja. 

Saya pede karena menggambar itu kerjaannya Ezra tiap hari. Saya sendiri suka dibuat tercengang dengan cerita-cerita dalam gambar yang dia buat. Misalnya, habis nonton DC atau BBC tentang luar angkasa, dia akan gambar tata surya. Kelemahannya, gambar Ezra masih sangat teknikal, jarang sekali dia menggambar yang sifatnya organis (bunga, pohon, hewan, dsb) Tapi nggak masalah, yang penting dia fun dulu dengan aktivitas menggambarnya. 

Lomba yang diikuti Ezra waktu itu, skalanya lumayan besar, hampir semua TK dan PAUD ikutan atau mengirimkan perwakilannya. Tema lomba gambarnya adalah : 'Cita-Citaku'. Waktu itu dia menang juara ketiga. Saya coba intip gambarnya, ternyata dia menggambar sebuah lingkaran besar seperti bumi, lengkap dengan pulau-pulau yang bentuknya masih ngasal. Lalu ada pesawat terbang sedang melintas dan bendera berbagai negara menancap di atas permukaan bumi tersebut. Disamping bumi, ada gambar sesosok anak laki-laki dengan rambut spikey yang dikasih topi pilot. Waktu saya tanya memang cita-citanya apa? Dia jawab : Pilot. :D 

Manfaat Ikutan Lomba Bagi Anak.

Manfaat lomba sebenarnya adalah untuk melatih mental anak sehingga dia tahu bahwa di luar sana ada orang lain yang melakukan hal yang sama dengan dirinya, dan ada konsep menang dan kalah dalam hal tersebut. 

Sebagai orangtua, kita harus jelaskan kepada anak menang itu apa, kriterianya apa, dan kalah itu bagaimana. Gunaka bahasa sederhana yang gampang dipahami anak. Tanyakan juga kepada si anak, apakah dia siap untuk menang atau kalah? Jelaskan bahwa kalau menang dia bisa mendapat hadiah, tetapi kalau nggak pun tujuan dari lomba ini adalah untuk ketemu banyak teman, punya pengalaman baru karena sudah pernah ikutan lomba, dan bermain dengan banyak teman baru. Kalau anak siap, let’s have fun. Ini juga merupakan cara untuk melatih anak mengembangkan sikap yang baik terhadap konsep menang dan kalah. Sometimes you win, sometimes you learn

Waktu ikutan lomba fashion show (janji itu yang pertama dan terakhir kalinya. :P ) Ezra kalah sama cewek-cewek mungil yang berdandan bak wanita dewasa. Pak Suami agak nggak setuju sebenernya waktu saya ikutkan Ezra di lomba tersebut, meski ada juga peserta lainnya yang anak laki-laki. Tapi saya bilang sama dia kalau saya ingin tahu seberapa besar tingkat kepercayaan diri Ezra untuk naik ke atas panggung dan diperhatikan oleh berpasang-pasang mata. Waktu tahu dia kalah, Ezra dengan entengnya bilang kalau lomba itu memang buat cewek ;D. 

Manfaat dari ikutan lomba yang lain, yang paling terasa adalah, anak dapat belajar untuk memahami kekuatan dan kelemahannya. Hal ini tentu baru bisa dirasakan oleh anak yang usianya lebih besar. Anak usia tiga tahun, mungkin belum punya sense tersebut. Beda dengan anak usia lima atau enam tahun yang sudah mulai bisa menilai dirinya sendiri. 

Ikut lomba juga mengajari anak untuk mengikuti aturan permainan, tengat waktu, dan belajar untuk berkompromi dengan keadaan. Waktu Ezra ikutan lomba drumband bareng teman-teman sekolahnya, terasa banget dia harus belajar untuk menunggu giliran, dan ada akibat yang harus dihadapi dengan menunggu, misalnya bosan, capek, dan laper :D but the show must go on. Dia harus belajar bahwa setelah seorang komitmen untuk mengikuti sesuatu dia harus melakukannya sampai selesai. 

Yang harus diingat oleh orangtua adalah untuk tidak terlalu menuntut dan memaksakan anak untuk menang dalam mengikuti suatu lomba. Selalu kita tekankan pada anak bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk menambah pengalaman. Selalu beri apresiasi atas keberanian dan kepercayaan dirinya untuk terlibat dalam kegiatan tersebut, loose or win

Mungkin itu dulu sharingnya. Disambung dengan topik lainnya ya, next time.

5 comments:

  1. Infonya bermanfaat banget buat calon 'ibu' kek aku, mak.
    Niatannya sih kalo someday punya anak, pengen ngikutin dia berbagai lomba gitu *kek emaknya*, tapi ternyata ngikutin anak buat lomba, ga boleh ngasal juga ya mak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mak Intan, trims sudah mampir baca, ya. Semoga artikelnya bermanfaat kelak pas sudah jadi Ibu, ya.

      Delete
  2. Kalau saya biasanya menawarkan, tapi disesuaikan dengan minat anak. Kalau anaknay gak mau, gak pernah saya paksa.

    Trus, saya gak pernah ngatur-ngatur anak harus begini-begitu ketika dia berlomba. Apalagi sampai memberikan piala bohongan apabila dia kalah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ada ya, Mba Myra yg sampai kasih piala bohongan? :D hehehe.
      Trims tambahan infonya, ya. Makasih sudah mampir.

      Delete
    2. Wah ada ya, Mba Myra yg sampai kasih piala bohongan? :D hehehe.
      Trims tambahan infonya, ya. Makasih sudah mampir.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...