Thursday, November 27, 2014

Pregnancy Journey : Kehamilan 32 Minggu-Gentle Birth After Cesarean Part #2

Nggak terasa kehamilan sudah memasuki usia 32 minggu. Di masa-masa ini mulai kerasa 'hamil beneran'. Kemarin-kemarin perut masih terlihat kempis kalau pakai baju yang longgar, kadang banyak orang di sekeliling yang jadi ngga ngeh kalau saya lagi hamil. Kalaupun tahu saya sedang hamil pasti dikomentari 'kok kecil'. Meskipun perut terlihat kecil, tapi sebenarnya berat janin menurut hasil USG terhitungnya normal. Saat ini, perkiraan berat janin sekitar 1,7kg. Bersyukur karena di kehamilan ini berat badan naiknya nggak kebangetan.  

Di setiap tahap kehamilan pasti selalu ada tantangannya. Memasuki usia kehamilan 32 minggu ini, pegal di bagian pinggang belakang mulai terasa, terkadang kalau habis berdiri lama kaki juga jadi gampang pegal. Ada beberapa catatan yang harus diperhatikan memasuki usia kehamilan 32 minggu ini. Jadi, ceritanya karena merasa waktu persalinan sudah dekat, tiap pagi saya rajin naik-turun tangga dan latihan jongkok berdiri, tapi ternyata setelah kontrol ke bidan, saya disarankan buat cooling down dan mengurangi aktivitas fisik yang terlalu menguras energi. Pasalnya, selain keluhan pegal-pegal tadi, dua minggu terakhir ini perut bagian atas sering banget terasa kencang dan kaku. Waktu kontrol dan berkonsultasi, kondisi seperti itu disebut juga dengan kontarksi palsu atau braxton hiks. Kontraksi palsu memang umum terjadi saat kehamilan sudah memasuki usia delapan bulan. Ada sisi positif dari kontraksi ini, tapi ada juga sisi negatifnya. 

Sisi positifnya, kontraksi ini akan semakin memantapkan posisi janin di jalan lahir, sayangnya karena usia bayi pralahir masih 32 minggu, kontraksi tersebut bisa berbahaya karena bisa memicu kelahiran prematur. Kontraksi semacam ini terjadi salah satunya karena kondisi fisik ibu yang kelelahan. Memang sih, dua minggu belakangan saya memang lagi aktif-aktifnya, nggak menyadari kalau badan sebenarnya kelelahan dan si baby-pun memberi peringatan. Selain disarankan untuk mengurangi aktivitas fisik, olahraga jongkok-berdiri dan pelvic rock juga belum disarankan di usia kehamilan ini. 

"Nanti dulu, Bu...coba sekarang aktivitasnya yang ringan-ringan dulu. Prenatal yoganya yang gentle, jalan kaki pelan-pelan tiap pagi maksimal 10 menitan, atau renang paling lama 15 menit saja. Dan kalau merasa kecapean, apalagi perut mulai terasa kencang, sebaiknya langsung istirahat."

Ternyata, melakukan persiapan persalinan juga harus disesuaikan dengan kondisi fisik ibu dan usia janin. Ada beberapa persiapan persalinan seperti pijat perineum dan pelvic rock yang sebaiknya dilakukan setelah usia kehamilan memasuki usia 35 minggu. Kalau terlalu cepat dilakukan, bisa-bisa memicu persalinan dini. Kemarin, waktu saya kontrol diberitahu oleh Bu Bidan, kalau sampai kontraksi-kontraksi palsunya berlanjut harus bersiap-siap, misalkan dengan suntik pematangan paru-paru untuk bayi. Ditakutkan bayi lahir prematur dan paru-parunya belum benar-benar matang. 

Apa sih, yang menyebabkan kontraksi palsu bisa terjadi saat kehamilan delapan bulan?
Jadi, selain kelelahan fisik tadi, kontraksi palsu juga bisa terjadi karena ibu mengalami dehidrasi, ibu dalam keadaan lelah, kurang asupan nutrisi, dan kondisi emosional yang tegang.

Apa yang bisa dilakukan agar kontraksinya mereda?
  1. Mandi berendam air hangat. 
  2. Mengoleskan minyak lavender di bagian atas perut, atau dihirup untuk membantu ibu lebih relaks.
  3. Penuhi asupan nutrisi dan cairan untuk ibu dan janin.
  4. Naikkkan kaki ke atas dinding, dan sandarkan pinggul selama beberapa saat.
  5. Tidur dengan posisi badan menghadap ke kiri. Atau tumpuk dua buah bantal kemudian letakkan guling secara melintang di atas bantal, dan berbaringlah di atas guling dalam posisi telentang, dengan punggung bagian tengah tepat berada di atas ujung guling, buka lebar kaki dan paha, dan silangkan kaki ke atas, lalu lakukan latihan pernapasan perut untuk meredakan ketegangan.
  6. Jika keluhan perut yang tegang dna kaku terus berlanjut, dokter atau bidan biasanya akan memberikan obat yang dapat mengurangi kontraksi.
  7. Perhatikan bagaimana kontraksi berlangsung, apakah hanya terjadi pada perut bagian atas atau menjalar ke bagian bawah dan diiringi dengan pegal bagian pinggul bawah? Perhatikan juga frekuensinya, jika frekuensinya semakin sering dan jarak waktunya semakin dekat, harus segera berkonsultasi dengan dokter atau bidan.

Monday, November 3, 2014

Pregnancy Journey : Gentle Birth After Cesarean Part #1


Jadi karena update postingan perjalanan kehamilan kedua ini sering telat, saya buat rangkuman aja deh, dari perjalanan 16-24 weeks dan seterusnya. Saat postingan ini ditulis, kehamilan saya sudah memasuki usia 31 minggu. 

Memasuki trimester ketiga ini, alhamdulillah nggak banyak keluhan yang berarti. Pilek yang selalu mendera di trimester kedua akhirnya berakhir dengan sendirinya, yeayy. Keluhan berganti dengan tidur malam yang jadi gampang kebangun, bahkan karena suara kecil sekali pun...krik...krik. 

Supaya tidur malam lebih berkualitas bantal harus ditumpuk-tumpuk dulu, miring ke kiri dengan kaki ditumpangkan ke atas guling. Pokoknya bener-bener menguasai tempat tidur, deh. Selain lampu harus remang atau gelap, kadang saya juga oles-oles EO-nya YL yang lavender biar tidur makin nyenyak dan ngga diganggu nyamuk.   

Di trimester ketiga ini, alhamdulillah banget ketemu support system yang keren dari teman-teman komunitas Gentle Birth Untuk Semua (GBUS). Di kehamilan kedua ini saya berencana untuk melahirkan normal, jadi mesti banyak belajar lagi untuk menginstal ulang software lama di kepala dan menggantinya dengan software baru yang berisi command bahwa melahirkan minim rasa sakit, tanpa trauma, nyaman, dan lembut itu bisa dilakukan, kok. 

Karena berencana melakukan VBAC atau GBAC makanya pemberdayaan diri harus dilakukan. Selain baca-baca buku lagi, juga harus mau belajar dan latihan. Semua itu harus dilakukan sejak masa kehamilan ini. Adanya dukungan dari teman-teman komunitas bukan hanya dengan saling share pengalaman mereka saat melahirkan atau birthplan mereka bagaimana, tetapi juga dengan adanya kelas-kelas kecil dan bahkan seminar, ilmu kami jadi ikut bertambah. 

Selain kelas-kelas yang saya ikuti di RSB. Ngesti Widodo, Ungaran, sebuah klinik milik  Bidan Naning yang inspiratif di Ungaran, saya juga mengikuti beberapa seminar atau kelas, seperti seminar untuk pendidikan bayi pralahir, kelas hypnobirthing, dan kumpul-kumpul tiap Minggu pagi untuk melakukan prenatal yoga bersama teman-teman di GBUS yang dilanjutkan dengan sesi sharing. Selain semakin dikuatkan untuk menjalani proses kelahiran alami, banyak sekali ilmu baru yang didapatkan dari kelas-kelas dan seminar ini. Yang juga bikin semakin happy adalah bisa dipertemukan dengan Bidan Yesie Aprilia dari Bidan Kita dan Bu Lanny Kuswandi pakarnya Hypnobirthing Indonesia.

Semoga bentuk pemberdayaan diri ini bisa menjadi bekal untuk mewujudkan mimpi saya melahirkan dengan normal, nyaman, lembut, minim rasa sakit, dan tanpa trauma. 

One Afternoon In Watu Gunung, Ungaran.





Jadi ceritanya ini jalan-jalan tergeje bulan kemarin. Niatnya memang bukan mau jalan-jalan, tapi karena ada kerjaan motret. Pulang motret, tiba-tiba Ezra bilang kalau dia pengin main ke air terjun, padahal ya, udah siang bolong dan rasanya males kalau siang-siang harus blusukan cari air terjun yang searah sama jalan pulang dari arah Ungaran menuju Semarang. Mikir-mikir, akhirnya saya inget sama Watu Gunung yang nggak jauh dari Kampung Seni Lerep. 

Dulu banget pernah main ke Kampung Seni Lerep dan pengin juga liat Watu Gunung tuh kayak apa. Jadi diputuskanlah buat ke sana. Eh, tapi taunya jalan menuju ke sana aksesnya ditutup karena sedang ada perbaikan jalan atau jembatan gitu. Jadi harus muter cari jalan lain. Nah, yang bikin geje adalah saat cari jalan alternatif ini, padahal ya kalau mau rada mikir dikit ternyata jalan alternatifnya lebih gampang kalau lewat dekat Kolam Renang Siwarak di Jl. Yos Sudarso Ungaran. 

Baiklah setelah melewati beberapa desa, blusuk ke desa tempat dimana Pesantrennya Daarul Quran berada, lewat ke jalan yang cuma bisa dilalui satu mobil dengan tanjakan dan turunan yang mayan terjal, kesasar satu kali, muter balik, akhirnya sampai juga ke Watu Gunung ini. 

Fiuhhh...untung ya, tempatnya sesuai harapan, dan Ezra juga langsung seneng. Tapi tetep yang ditanya pertama kali, air terjunnya mana? Untung di tengah area ada danau buatan yang mayan bikin Ezra tertarik buat menjelajah tempat ini. Dan setelah menjelajah tempat ini, ternyata memang ada air terjun buatan juga meskipun mini. Cukup mengobati keinginan Ezra buat bermain di alam. 

Hihihi, nemu tempat baru lagi nih buat ngajak anak bermain di alam. Di lokasi Watu Gunung ini juga sudah dibangun kolam renang tapi waktu datang ke sana belum difungsikan karena pembangunan belum selesai. Nantinya setiap rumah yang ada di sana akan disewakan, jadi semacam resort kecil-kecilan gitu. Pemandangan dan udaranya juga lumayan menyegarkan. Siang menjelang sore itu kita cuma kongkow-kongkow di sana sambil menikmati nasi goreng yang bisa dipesan di bagian resepsionis.   

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...