Thursday, February 12, 2015

Baby T Milestones : One Month

Yeaayy. Seneng rasanya hari ini baby T genap satu bulan. Kalau masih mungil begini, mantra yang sering didengung-dengungkan ibunya pasti adalah: "Cepet gede ya, sayang...," Padahal nanti kalau sudah melewati masa balita pasti pengin anaknya balik jadi mungil lagi, atau bisa dimasukin ke perut lagi. Ini kejadian sama saya ke Si Sulung Ezra; "Don't grow up too fast kiddos, enjoy your moment as a kid.." Jadi, mantra ke Ezra adalah: Jangan buru-buru gede, kalau mantra ke baby T: Yuuk, cepet gede ya, sayang. 

Soo, bagaimanakah pertumbuhan dan perkembangan baby T di bulan pertama ini, here we go:

Yang lagi dapet sorotan adalah berat badannya. Baby T lahir dengan BB 2,550 kg dan panjang 48 cm. Nggak beda jauh sama kakaknya dulu. Di hari-hari pertama semenjak kelahirannya BB-nya sempet turun jadi cuma 2,4 sekian kalau nggak salah, yang mana itu wajar. Teruss, dia juga sempet kuning; terlihat dari bagian kulit di seputaran dahi dan hidung yang kalau ditekan jadi kuning, plus setelah diamati saat dia membuka mata, ada semburat kuning juga di bagian putihnya. Agak cemas gitu, soalnya kakaknya dulu setelah lahir juga harus disinar. Tapi setelah konsul, ngobrol, dan baca-baca jadi agak tenang. Goal minggu-minggu pertama kelahiran Baby T adalah rajin menyusui supaya BB-nya balik dan naik,plus kuningnya menghilang. Tentang bayi kuning bisa dibaca di mari, yes. 

Berat & Panjang Badan
Di ulang bulan pertamanya ini, BB Baby T naik jadi 3,7 kg dan panjangnya nambah jadi 50. Alhamdulillah, kuningnya mulai menghilang, dan di bagian mata yang putih tinggal semburat di bagian ujung. Habis ketemu sama Baby Sultannya Mba Diana yang mengalami hal yang sama, ternyata Baby Sultan baru bener-bener ilang semburat kuningnya pas usia dua bulan, terus ngobrol juga sama konselornya AIMI, Mba Dyah yang juga berpendapat selama baby-nya terlihat tetep sehat, nangisnya masih kenceng, dan kuningnya hanya di bagian kepala sampai maksimal tangan, solusinya adalah dengan diberikan ASI banyak-banyak.

Fotonya menyusul yak...karena sepertinya baby T ini tipe bayi yang nggak terlalu suka difoto, beda banget sama kakaknya yang sadar kamera. Sehat-sehat  terus ya, Nak. 

Update story: 
Lagi happy-happy nya melihat perkembangan baby T yang cukup bagus, Sabtu malem sepulang dinner ulbul baby T mendapati kalau si Kakak ternyata kena cacar air. Awalnya, saya kira dia cuma digigit serangga di bagian belakang leher, ternyata sebelum tidur waktu mau ganti piyama saya periksa kok ada bentol kecil berair di bagian dada...curiga ini bukan gatel biasa. Ternyata di sekolahnya memang sedang mewabah virus cacar air, dan Kakak seminggu yang lalu baru aja pulih dari demam radang tenggorokannya. Minggu pagi langsung ke dokter...dan bener ternyata kena cacar...hikss. Langsung deh, pisah kamar. Cemas luar biasa...ini gimana, ada bayik baru satu bulan, rumah lagi renov, ga punya ART...untung masih ada satu kamar di lantai atas yang kebetulan banget ditunda pemugarannya...Kakak langsung diungsikan ke atas, padahal biasanya kita tidur kruntelan berempat. Bagi-bagi tugas, deh. Ayah yang tidur dan urus Kakak, sementara saya berusaha banget untuk ngga kontak dulu sama Kakak. Jaga-jaga supaya adek ngga ketularan. Hiiksss, dan harus puasa meluk Kakak itu rasanya sediih banget. Untung cuma dua mingguan, setelah itu recoverynya mayan cepet. 
 


Monday, February 9, 2015

Pregnancy Journey : Menuju Hari H VBAC & Gentle Birth After Cesarean Part #2

40 Weeks

Hari Senin, 12 Januari 2015. Usia kehamilan sudah memasuki 40 Minggu + 3 Hari, dan belum ada tanda-tanda persalinan yang signifikan. Setelah kontrol ke Bidan Naning di Ngesti Widodo, diperiksa, ternyata sudah bukaan 1 tapi masih sempit. Kondisi mulut rahim sudah lebih lunak dan tipis dibandingkan sebelumnya. Dan selebihnya yang harus dilakukan selain jongkok berdiri, pelvic rocking, induksi alami, adalah bersabar. Keep calm and surrender.

Pulang dari Ngesti Widodo, saya merasa rileks dan lebih tenang dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Sambil jalana-jalan dan belanja ke Superindo, saya mulai menikmati kontraksi-kontraksi yang terjadi meskipun tidak sesignifikan yang dibayangkan karena belum teratur dan masih kadang-kadang ada, kadang-kadang hilang. Setiap saat mencoba mengafrimasi diri sendiri bahwa kontraksi yang teratur akan segera datang dan itu adalah cara terbaik agar bayi saya dapat dilahirkan. Saya juga mulai mempraktekkan visualisasi mawar merekah selama di rumah, atau saat waktu luang. Bosan melakukan pelvic rock, saya memutuskan buat ngepel sambil jongkok ;D biar kepala si baby semakin turun dan membukakan jalan lahir.

Si Sulung sudah mulai bertanya-tanya, kapan adikknya bakal lahir. Nah, ketika sedang bertanya-tanya, saya punya perasaan kalau itu adalah saat yang tepat untuk memberi penjelasan dan pengertian tentang proses kelahiran bayi, apalagi rencananya saya ingin dia ikut menemani pas proses persalinan. Saya pun mulai memberi pengertian dan penjelasan yang bisa ditangkap anak usia 7 tahun tentang proses persalinan, dan memastikan dia akan siap menghadapi proses persalinan saya.

Selasa, 13 Januari masih belum ada kontraksi signifikan yang saya harapkan. Rasanya mulai cemas akan hal-hal yang sebenarnya nggak ada hubungannya dengan proses persalinan, semisal gimana kalau mundur sampai wiken, padahal Bu Naning sedang off karena ada acara keluarga, dan tanggal 17 Januari Si Sulung juga harus pentas seni, gimana kalau waktunya bertepatan dengan saya melahirkan, nanti dia nggak jadi pentas, dong. Pokoknya, saat itu pikiran mulai kalut lagi. Akhirnya, mencoba buat relaksasi dan visualisasi lagi. Selasa sorenya, saya mengantar Si Sulung latihan wushu, dan setelah pulang mengantar, tiba-tiba mulai merasakan kontraksi yang lumayan teratur, yaay.

Rasanya antara hepi dan deg-degan. Akankah malam ini waktunya? Tetapi juga mencoba untuk santai; saya dan suami masih magriban dulu di luaran sambil cari makan malam. Pulang menjemput Ezra latihan wushu, mulesnya semakin krues-krues, tapi semakin bikin saya tersenyum. Saatnya sudah dekat, nih. Sampai rumah, saya mulai nggak bisa diem. Jam 10 malam, kontraksi makin teratur, dan saya nggak bisa tidur, dong. Si sulung dan suami saya suruh istirahat, sementara saya menyiapkan ini-itu.

The Day

Jam 3 dini hari, saya menemukan flek merah tua di CD, dan nggak lama fleknya semakin banyak dan warnanya semakin muda. Siap-siap membangunkan Pak Suami, yang saat bangun langsung kedandapan ini-itu, tapi bengong waktu semua peralatan tempur sudah siap ada di mobil, dan tinggal menggotong si sulung yang masih terlelap. Sesuai SOP yang sudah disepakati bersama, kami langsung berangkat ke Ungaran. Momen ketika kami berada di mobil bertiga ini sungguh nggak terlupakan banget. Belum sampai 10 menit berkendara, Si Sulung bangun. Dan kita berdoa bareng. "Kak, yuuk berdoa, Bunda mau melahirkan adek, nih," kata Pak Suami yang wajahnya sumringah karena harinya sudah tiba, dan kita memacu mobil ke arah Ungaran bukan ke arah Paviliun Garuda :D.

Hampir Subuh, kami sampai di RBNW, disambut oleh bidan jaga yang langsung mengecek pembukaan, yang ternyata sudah (atau baru, ya...hehehe) pembukaan dua. Setelah bidan jaga mengontak Bu Naning, diputuskan kalau saya harus stay untuk observasi, padahal tadinya kalau masih pembukaan 2 saya kepingin turun ke kota buat anter Ezra sekolah dulu, tapi setelah berembuk dengan suami diputuskan kalau Ezra hari ini nggak perlu masuk sekolah.

Meskipun semaleman ngga tidur, pagi itu saya memilih buat jalan-jalan pagi di seputaran RBNW ketimbang tiduran di kamar. Nggak tau kenapa, rasanya kok nggak sabar pengin pembukaannya banyak, hehehe, dan tidur bukan opsi buat bikin pembukaannya jadi cepet, kan. Tapi Pak Suami, dan bidan di RBNW juga mengingatkan kalau saya harus menyimpan energi buat nanti-nanti. Jadi, setelah sarapan pagi, saya istirahat sebentar di kamar sambil menunggu visit dari Bu Naning, setelah itu proses selanjutnya saya ditemani oleh Bidan Yuni. Dari mulai pembukaan 2 hingga 6, Bidan Yuni yang membantu saya untuk melakukan relaksasi, visualisasi, dan hypnoborthing, juga latihan-latihan fisik lainnya seperti jongkok-berdiri, pelvic rocking, dan sebagainya. Berganti-gantian dengan Pak Suami, juga.

Di kamar bersalin, lagu-lagu instrumen yang membuat relaks mengalun, pencahayaannya dibuat redup, dan aroma jasmine-lavender dari diffuser menguar di udara. Ezra bolak-balik menengok saya di kamar bersalin, mainan mobil-mobilan di dalam, menciumi kening saya saat mulesnya datang, dan kadang-kadang masih becanda bareng. Benar-benar proses bersalin yang sesuai seperti apa yang saya harapkan dan tulis dalam birthplan A. Bukaan 6, saya kembali jalan-jalan di seputaran RBNW, sambil ditemani Ezra dan Pak Suami.

Saya sungguh salut dengan kesabaran dan ketelatenan bidan-bidan di RBNW dalam menghadapi pasiennya, saya merasa menjadi bumil istimewa yang sedang menantikan kehadiran mahluk istimewa dari dalam rahimnya. Semua afirmasi positif dan situasi positif yang terbangun di sana membuat saya terus semangat untuk menghadapi proses pembukaan rahim yang rasanya lamaa banget, hehehe. Dan terus terang, di pembukaan 6, energi saya mulai lowbatt.

Menjelang sore, Bu Naning datang lagi, mengecek kembali pembukaan yang masih berada di angka 6, 5 (Hikss, kok, lama, ya.) dan semangat yang tadi tiarap mulai up lagi. Bu Naning lalu menyiapkan premix essential oil-nya dan mulai memijit saya di bagian panggul dengan baluran EO tersebut, sementara saya menikmati kontraksi sambil pelvic rocking di atas birthing ball.

Sepertinya, semangat dan energi yang mulai menurun bukan hanya dialami oleh saya, tapi juga oleh Ezra dan suami, yang sejak awal selalu memantau jumlah pembukaan. Waktu tahu masih bukaan enam, dan harus pembukaan sampai 10 bari si adek bisa lahir, Ezra sempat mengeluh; 'kok, lama banget', dan sepertinya mulai ada tanda-tanda kalau dia merasa cemas. Saya pun memberitahu kalau saya tidak apa-apa, dan memang harus seperti ini supaya adiknya bisa lahir. Dia naik ke atas tempat tidur ruang bersalin, ikut berbaring di samping saya, dan menciumi saya. It's okay, baby, soon you'll be a big bro. Saya pun jadi semangat dan mencoba menguatkan diri lagi.

Semangat mulai bertambah lagi, saat  kedatangan Ibu dan Ayah saya dari Bandung, yang feeling so good kalau saya bakal lahiran hari itu juga, padahal saya cuma mengabari kalau sudah bukaan satu pada hari Seninnya, dan cuma minta doa semoga proses selanjutnya dimudahkan.

Setelah semangat dan energi yang lowbatt mulai ter-recharge lagi, saya kembali bangun dari tempat tidur, jalan-jalan lagi, pelvic rocking lagi, dan kalau mulai capek, kembali ke tempat tidur dan berbaring miring ke kiri. Oya, saat itu, jam segitu, hujan mulai turun, dan entah gimana, saya merasa rileks saat mendengarkan suara hujan, dan gelombang rahim yang datang jadi terasa lebih intens, tetapi nyaman. Saya pun memutuskan mondar-mandir di luar kamar sambil mendengarkan suara hujan.

Demi bisa mengejar pembukaan, akhirnya yang tadinya saya menulis tidak ingin diberi obat pencahar di birthplan, memutuskan untuk melakukan huknah, dan setelah duduk di kamar mandi untuk BAB, saya merasakan gelombang rahim yang lebih intens saat sedang dalam posisi duduk tersebut. Saya pun meminta waktu pada Bidan Yuni untuk berada dalam posisi tersebut sedikit lebih lama.

Pembukaan 7 menuju ke 8. Semenjak pembukaan delapan, gelombang rahim terasa semakin intens dan aduhai rasanya. Nafas perut mulai sedikit buyar, dan saya lebih nyaman kalau bersenandung sambil mengikuti alunan musik untuk mengalihkan rasa tidak nyaman. Pikiran mencoba untuk terus fokus, mengingatkan diri bahwa gelombang rahim yang datang ini adalah cara terbaik agar bayi dapat membuka jalan lahirnya.

Menjelang bukaan 9, ibu saya masuk ke ruang bersalin dan ikut menyemangati. Bu Naning juga mulai menyarankan saya untuk menyiapkan posisi yang nyaman ketika nanti mulai mengejan. Dari posisi setengah duduk, saya mencoba posisi table pose-nya yoga, lalu ternyata lebih nyaman dengan posisi setengah jongkok. Sambil mengikuti aba-aba dari Bu Naning, mencoba mengatur napas, dan merasakan gelombang rahim yang sangat-sangat intens, saya mulai mengejan. Pak Suami dan Ezra ikut berkumpul di sekitar tempat tidur, sementara ayah saya karena nggak tega memutuskan menunggu di kamar, saya memegangi tangan Pak Suami erat-erat setiap kali gelombang rahim datang, dan ketika crowning (kepala bayi sudah mulai terlihat), semua langsung menyemangati, dan saya mengatur posisi untuk mengejan lebih intens, sesuai yang diintruksikan Bu Naning. Saya menyentuh kepala si baby sebentar sambil mengafirmasi, "Ayo Dek, kita berjuang bersama, cari jalan lahirmu, dan Bunda akan membantu mendorongmu keluar.."

Sekali mengejan, dua kali, tiga kali, akhirnya si baby pun meluncur keluar. Rasanya lega luar biasa ketika merasakan si baby langsung diangkat ke dada, sambil merasakan si baby di dada, saya terus mengucapkan kalimat syukur dan Allahu Akbar. Pak Suami langsung memeluk, menciumi saya, dan berkaca-kaca. Raut wajahnya sumringah. Ezra langsung memeluk Ibu saya, dan samar-samar saya bisa mendengar dia bilang; "..akhirnya aku punya adek ya, Oma.." Nggak lama, dia pun menghampiri saya dan mencium saya.

Si Baby yang ternyata tali pusatnya pendek, berbaring di dada untuk IMD, saya menyentuh kepalanya; "Good job, boy...we did it.."

Rabu, 14 Januari, 2015, Pukul 17.50: Muhhamad Azmy Tazacka, lahir ke dunia. Tidak salah kalau nama Azmy (Teguh) diberikan kepadamu, itu adalah pesan dariNya agar kami semua, dan terutama saya bisa berteguh hati pada harapan dan mimpi yang dimiliki.

Dan akhirnya, mimpi dan cita-cita saya untuk VBAC secara gentle pun terkabul. Terima kasih Tuhan yang Maha menghidupkan mimpi-mimpi.

Setelah itu, satu persatu tahapan persalinan yang saya mimpikan pun terkabul; dari mulai tidak dilakukannya epistiomi (pengguntingan bagian perineum), IMD, melakukan penundaan pemotongan tali pusat (lotus birth), burning cord, rooming in, pijat bayi...dan surprisingly sehabis melahirkan di RBNW rasanya jadi ibu baru yang istimewa sekali, karena sehari setelah melahirkan saya dipijat-lulur, besoknya ditotok wajah, mandi uap, dan terapi ear candle. Saya pun pulih secara fisik dan mental dengan cepat. Alhamdulillah. 

Pregnancy Journey : Menuju Hari H VBAC & Gentle Birth After Cesarean Part #1

36 Weeks
Memasuki usia kehamilan 36 minggu (periode tanggal 15-21 desember 2014) banyak sekali pemecah fokus yang bikin daftar check list persiapan persalinan terabaikan. Pasalnya, di minggu ini saya malah keasyikan untuk mempersiapkan barang-barang kebutuhan bayi dan mengepak barang-barang karena rumah akan direnovasi. "Direnovasi? Haaa, seriusan?" Banyak kerabat dan keluarga yang mempertanyakan. "Serius lo mau renovasi rumah pas mau punya baby gini?" Saya dan suami mengangguk mantap. "In shaa Allah bisa, semua udah dipersiapkan dengan matang." Sebenarnya rencana renovasi ini memang mundur dari rencana awal karena nunggu desainnya jadi dulu dengan sempurna lah, RABnya sesuai, sampai nunggu musim panen 'pohon duitnya' tiba, hehehe. Dan satu lagi, hari H renovasi dimulai juga sudah ditetapkan sama Pak Suami, yaitu tanggal 8 Januari, satu hari sebelum HPL si baby. Kenapa tanggal 8, hanya Tuhan dan Pak Suami yang tahu, sebagai istri soleha :p (kibasin jilbab), saya sih, nurut aja dan mencoba percaya sama mantra ajaibnya Pak Suami. Afirmasi positif yang selalu diomongin Pak Suami adalah: "Semua bakal pas waktu-waktunya." 

Tanggal 17 Desember saya masih mengisi kelas parenting di sebuah TK di Semarang, dan memutuskan buat off sementara alias cuti mempersiapkan hari H persalinan. Tanggal 20-nya, Si Sulung Ezra bagi rapot dan setelah itu memasuki masa liburan sekolah. Saya sudah merencanakan kalau liburan sekolahnya ini bakal jadi momen quality time saya dengan Ezra. Jadi, selain sibuk dengan urusan rumah dan persiapan persalinan, porsi waktu terbesar, saya habiskan bersama Ezra. Sayangnya, saya tetep gagal fokus buat mengikuti daftar check list persiapan persalinan; olahraga jongkok berdiri dan pelvic rock masih seingetnya, pijet perineum kalau pas mandinya lama, kalau pas mandinya sekenanya, pijat perineum pun terlupakan, terus juga ngga sempet relaksasi sambil mindfullness meditation. Pak suami juga gagal nyusun father script yang mana itu bakal dipraktekkan tiap malam sebelum bobo mulai di usia kehamilan 36 minggu.

37-38 Weeks
Minggu ke-36 berlalu. Memasuki minggu ke-37 dan 38 self awareness buat back on the right track dan semangat untuk fokus pemberdayaan diri muncul lagi. Supaya lebih semangat, saya sama Pak Suami berencana untuk membuat video day by day perjalanan menyambut kelahiran si baby. Jadi, momen ketika saya prenatal yoga, ikut kelas persiapan, dan sebagainya akan didokumentasikan. Jadinya harus bener-bener melakukan persiapan persalinan dengan sepenuh hati, bukan cuma demi mengisi check list semata. Alhamdulillah, hari-hari di minggu ke-37 berjalan sesuai harapan.

Tanggal 26 Desember, hari ulang tahunnya Ezra, awalnya kita berencana buat bikin birthday trip kemana gitu, tapi entah kenapa di hari H rasanya nggak sreg buat pergi-pergi terlalu jauh dari rumah, jadinya kami sepakat bikin surprise kecil-kecilan buat Ezra di rumah. Just the three of us. Tanggal 27 Desember-nya, saya kontrol ke Bidan Naning di RB. Ngesti Widodo Ungaran; disarankan untuk mulai latihan Pelvic Rocking dengan lebih intens, diberi tambahan suplemen Lactamam yang akan membantu memunculkan kontraksi rahim secara alami, dan mulai memberi perhatian pada kontraksi-kontraksi yang terjadi, serta komunikasi dengan janin.

Di minggu tersebut, belum ada tanda-tanda persalinan signifikan yang saya rasakan. Masih harap-harap cemas; bakal seperti apa nanti tanda-tanda persalinan yang benerannya.

39 Weeks
Memasuki minggu HPL rasanya semakin deg-degan, dan semakin mengharapkan bisa merasakan yang namanya kontraksi asli itu seperti apa. Dulu, saat kehamilan pertama, karena KPD dan diinduksi, saya jadi nggak benar-benar bisa merasakan yang namanya kontraksi menjelang persalinan itu rasa aslinya seperti apa.

Tanggal 6 Januari, saya kembali kontrol ke Bidan Naning. Setelah dilakukan PD, diketahui kalau posisi kepala bayi sudah mengunci di bawah, tetapi dinding rahim masih agak tebal, dan kepala baru ada di pintu 1. Waktu ditanya tentang kontraksi dan tanda-tanda persalinan, lagi-lagi saya menjawab kalau kontraksinya masih belum signifikan, juga belum ada tanda-tanda persalinan seperti flek. Bu Naning kemudian menyarankan saya untuk kontrol ke SPog dan melakukan USG untuk melihat posisi janin, taksiran BB, dan posisi plasenta sebagai bahan rujukan.

Dari hasil kontrol ke Spog, dokter juga menyatakan kalau posisi kepala janin sudah mengunci di bawah, tetapi dinding rahimnya masih tebal. Saya kemudian diminta datang kembali untuk kontrol ke Spog tanggal 9 Januari-nya sekalian melakukan CTG. Ada cerita lucu waktu saya kembali kontrol di hari HPL ke Spog. Tahu-tahu ketika baru masuk ke ruangan, dokternya menyapa saya begini: "Ibu, apa kabarnya, sudah lahiran kan, ya?" Mendengar itu, rasanya gimanaa gitu, apalagi dengan perut masih membuncit, dan baru beberapa hari yang lalu kami bertemu. Saya berusaha maklum juga sih, mungkin perut buncit saya tersamar oleh dress hitam longgar yang saya kenakan, atau #mungkindialelah karena sudah berhadapan dengan sekian banyak pasien pada hari itu. Tapii...tapi, yasudahlah. Kabar baiknya, menurut Spog saya, selama hasil CTGnya baik, kondisi janin masih sehat maka saya masih punya kesempatan untuk melahirkan secara normal, dan bisa menunggu sampai seminggu lagi dari HPL. Menurut Spog, batas waktunya adalah tanggal 16 Januari. Oke, saya pun mulai bisa merasa tenang.

Yang bikin perasaan mulai ngga tenang justru ketika melakukan CTG di rumah sakit. Dimulai dengan suster yang mendampingi saya CTG yang mulai bertanya-tanya perihal pengalaman persalinan pertama, dan dengan nada menakut-nakuti mengatakan kalau sebagian besar ibu yang dulunya melakukan persalinan SC dan pada kehamilan kedua lewat dari HPL, biasanya akan SC lagi. "Bisa sih, Bu lahiran normal, tapi sakitnya itu berkali-kali lipat lhoo Bu, kalau sudah pernah SC sebelumnya, soalnya kan ada bekas lukanya,...tapi kalau mau ditunggu ya, monggo, tapi Ibu tetep nggak bisa diinduksi karena sebelumnya sudah pernah Cesar." 

Saat itu, ketika CTG saya cuma ditemani Ezra, Pak Suami tiba-tiba ada meeting dadakan ketika sedang mnengantar, jadinya nggak ada yang membantu untuk 'sealing' fokus pada saat itu. Perasaan was-was pun mulai muncul, apalagi mendengar kata 'berkali-kali lipat'. Saya yang memang pada persalinan pertama mengalami kontraksi dengan induksi hanya sampai bukaan ketiga saja, langsung mulai bertanya-tanya: 'Beneran, nih?' Tapi, untuk melawan pikiran-pikiran negatif dan fokus yang bisa-bisa mulai membelok, saya memutuskan setelah CTG saya akan ke klinik dr. Nita untuk melakukan akupuntur sebagai langkah induksi alami.

Sore setelah CTG, dengan ditemani Ezra yang beberapa hari belakangan jadi 'Kakak Siaga' dan selalu ngintil kemana pun saya pergi, saya memantapkan niat buat akupuntur. Padahal ya...kalau mau jujur, saya belum pernah akupuntur sebelumnya, dan sedikit ngeri membayangkan harus ditusuk-tusuk jarum di sana-sini. Tapi demi bisa VBAC, i'll do it. Dan setelah mengabaikan bayangan-bayangan kurang menyenangkan soal akupuntur, saya pun masuk ke ruang praktek dr.Nita dan mengutarakan maksud saya. FYI, dr. Nita ini memang sudah sering menangani pasien bumil yang lebih bulan dan ingin dilakukan induksi alami dengan akupuntur. Proses akupuntur pun berlangsung selama kurleb 45 menit...dan ternyata memang nggak sakit, malah rasanya rilekssss. Saya nyaris ketiduran, kalau nggak bolak-balik ditanyain sama Ezra yang mengira Bundanya sedang setengah disetrum. "Bun, Bunda kok, ngga loncat-loncat kayak orang kesetrum sih, kok Bunda santai-santai aja, rambutnya juga ngga berdiri, emang jarumnya ngga tajem ya, Bun...Bunda beneran ngga sakit ini? Dan seterusnya :D

Selesai akupuntur, saya pun bertanya pada dr. Nita, apa efek yang akan saya rasakan setelahnya. Menurut dr. Nita, malam harinya mungkin saya akan tidur lebih rileks, dan mungkin akan mulai muncul kontraksi yang signifikan, dan jika selama dua hari belum ada efek yang terasa, maka proses akupuntur bisa diulang kembali.

Pulang akupuntur, malamnya saya memang merasa lebih rileks, tapi tetap rasanya harap-harap cemas menanti yang namanya kontraksi dan tanda-tanda persalinan lain yang belum juga muncul. Giliran Pak Suami yang mengeluarkan jurus-jurusnya untuk membantu munculnya kontraksi; memijit di bagian kaki (tiga jari di atas mata kaki), dan pijat oksitosin, dan endesbre-endersbre *sensor, hehehe.

Hari-hari di minggu kehamilan ke-39 pun akan segera berlalu. Sabtu pagi, sehabis mandi dan melakukan pijat perineum, tiba-tiba saya mendapatkan serangan panik karena merasa ada sesuatu yang rembes di CD, tapi saat mengecek, yang keluar hanya cairan bening tapi tidak berbau, rasanya deg-degan dan tiba-tiba takut mengalami KPD lagi seperti dulu. Pagi itu, setelah menyakinkan diri kalau cairannya nggak keluar secara terus-menerus, saya memutuskan buat rileks dan memvisualisasikan kembali bayangan positif tentang persalinan yang diharapkan, tapi kemudian jadi buyar karena teringat dengan Birth Plan B yang belum mantap. Pas lagi memikirkan Birth Plan B, saya kontak-kontakan dengan Mba Arin yang sama-sama sedang masa penantian dan sudah mendekati HPL, ternyata dia sedang kontrol ke dokter yang sekiranya akan menjadi rujukan untuk Birth Plan B, saya pun teringat juga saran Bu Naning tentang Spog pro normal yang juga bisa menjadi rujukan apabila ada indikasi medis untuk melakukan SC secara gentle. Pagi itu, dengan agak terburu-buru saya dan Pak Suami memutuskan buat mencari second opinion dan menemui Spog yang bersangkutan karena memang setelah CTG, Spog yang pertama mengatakan kalau bisa sebelum tanggal 16 sudah ada tanda-tanda persalinan, karena plasentanya sudah mulai ada tanda-tanda pengapuran dan ada partikel kecil melayang-layang di cairan ketuban, tanda ketuban mulai mengeruh. Hiikss...kenapa jadi makin nggak karuan ya perasaannya.

Beruntung, Spog yang akan kami temui itu memberi kesempatan buat kontrol, padahal hari itu sebenernya beliau tidak ada jadwal praktek dan hanya janjian dengan Mba Arin dan satu pasien lagi, tapi karena pasien yang satunya membatalkan, saya jadi bisa konsul dengan beliau. Saat konsul dengan beliau, saya bisa merasakan perbedaan antara Spog pertama dengan yang kedua. Penjelasan Spog yang kedua ini lebih rinci dan sabar banget menghadapi pasien bumil lebih bulan seperti saya. Dari beliau, saya diberi waktu sampai tanggal 12 Januari untuk bisa lahiran normal dengan alasan yang kurang lebih sama dengan Spog pertama; kesejehateraan bayi di dalam rahim, ketuban yang sudah mulai ada partikel-partikelnya, dan plasenta yang mulai mengapur.

Dari penjelasan beliau, permasalahan yang terjadi di saya, mengapa saya tidak kunjung mengalami kontraksi yang diharapkan, kemungkinan adalah reseptor yang mengatur pelepasan hormon oksitosin, pokoknya sepenangkapan saya gitu, deh. Beliau juga mengatakan, biasanya bumil-bumil yang melahirkannya lebih bulan, kasusnya biasanya akan berulang pada kehamilan berikutnya. Tapi beliau tetap menyemangati kalau selama dua hari ini masih banyak yang bisa dilakukan untuk lahiran normal. Kontrol dengan Spog kedua ini ditutup dengan surat pengantar seandainya tanggal 12 berlalu tanpa ada tanda persalinan yang signifikan, maka saya harus segera SC.

Beres urusan pembayaran, kami langsung cabut dari RS dan cepet-cepet jemput Ezra dari sekolahnya dulu karena jam pulangnya udah lewat, setelah jemput, kami kembali ke RS untuk survei tempat, biaya, dsb seandainya nih, seandainya saya harus SC lagi. Setelah itu, suami tiba-tiba tampak lemes, dan ngajak saya duduk di bangku taman yang ada di RS untuk ngobrol. Melihat raut wajahnya, saya tahu obrolannya bakalan serius. Heart to heart, akhirnya saya tahu kalau Pak Suami merasa berat kalau saya harus SC lagi, dan tiba-tiba waktu mengutarakan pikirannya, dia mrebes mili gitu, hikss saya jadi tambah panik dong. "Aku tuh, nggak mau kejadian kayak Ezra dulu keulang lagi, rasanya kok sedih ya, kalau kamu harus SC lagi, kayak apa-apa tuh dikontrol sama manusia, dikerjain sama RS karena kita minim pengalaman, padahal lahiran anak tuh, harusnya kan sesuai kehendak yang di Atas waktu-waktunya, bukannya manusia yang netapin tanggalnya. Apalagi selama ini kamu udah belajar banyaakk banget..."

Respon saya waktu itu sudah mengarah ke pasrah, " Sayang, aku ini kan cuma dititipin sama Allah untuk melahirkan anak ini, dan takdirnya lahir ke dunia sudah ditulis sama Allah, dia mau lahir dengan cara apa. Mau normal, aku In Shaa Allah sudah sangat siap, kalau ternyata harus SC, aku juga In Shaa Allah sudah siap. Semua ini juga kehendak Allah, kita pasrah aja, ya."

Saya mencoba menenangkan dan bilang, kalaupun SC setidaknya Spog ini bisa melakukannya dengan gentle, terus bisa mengakomodasi birthplan B kita, tapi suami tetep belum puas.

"Coba kamu kontak Bidan Naning, kita harus gimana? Semua-semuanya di-deadline hari Senin besok, kan aku juga bingung mesti gimana ini. Kalau kita ke RS dulu, pasti kamu bakal SC lagi..."

Akhirnya setelah ngobrol sama Bidan Naning via BBM, kami pun membuat keputusan bersama : "Senin besok, kita fokus dulu ke Bidan Naning, ya." Dan Pak Suami pun tampak lebih tenang. Sepulangnya dari RS dia langsung ngajak saya makan Es Duren. Biar cepet kontraksi, katanya.

Sampai di rumah, niatnya mau semeleh, pasrah dan berserah diri, mau santai dan nonton video-video persalinan normal, tapi malah insting nesting-nya kambuh, saya malah nggak bisa diem, bawaannya mau nyapu, ngepel, dan bersih-bersih kamar terus. Akhirnya, daripada capek nggak puguh, saya pun memutuskan untuk spa bumil. Keep calm and surrender. Allah sudah siapkan jalan dan waktu terbaik untukmu lahir ke dunia ini, Nak. Dan Ibu, hanyalah dititipi kamu, Ibu cuma diminta untuk terus belajar, siap, dan ikhlas.

(to be continued)

Pregnancy Journey : Kehamilan 35 Minggu-Gentle Birth After Cesarean Part #3

Memasuki usia kehamilan 35 minggu ini, rasanya waktu berjalan cepeeet banget. Sebentar lagi bakal memasuki usia kehamilan 36 minggu dan tinggal menghitung minggu atau hari untuk menyambut si kecil bergabung bersama keluarga kecil kami. Afirmasi positif sudah dibangun sejak belum hamil, alias sudah bercita-cita untuk melahirkan secara normal dan gentle birth. Kalau ingat cerita-cerita awal kehamilan ini, rasanya bersyukur banget saya bisa diberi kesempatan untuk hamil lagi. 

Berkat ngumpul dengan teman-teman komunitas di GBUS juga saya jadi tahu kalau afirmasi positif saja belum cukup untuk bisa menyukseskan seorang ibu untuk bisa melahirkan secara normal dan gentle. Apalagi dengan kasus seperti saya, yang pada kehamilan pertama harus melakukan persalinan dengan proses SC. 

Afirmasi positif tanpa dibarengi dengan pemberdayaan diri itu sama saja dengan bermimpi. Dari hasil sharing dengan teman-teman yang sudah duluan melahirkan dengan cara gentle birth, supaya bisa sukses memanajemen rasa sakit ketika bersalin, sampai tidak dilakukan epistiomi atau pengguntingan bagian perineum dengan sengaja, ada usaha-usaha yang harus dilakukan.   

Dari hasil sharing itu juga akhirnya saya membuat semacam daftar check list sebagai cara untuk memantau pemberdayaan diri yang sudah saya lakukan selama ini. Sebelum membuat daftar check list, langkah pertama yang saya lakukan adalah : 
  1. Menetapkan tujuan persalinan. Tuliskan kenapa ingin melakukan persalinan normal? Bagaimana persalinan tersebut akan dilakukan, dimana, dan siapa yang akan membantu persalinan. Tuliskan juga apa keragu-raguan dan kecemasan yang masih menghalangi tujuan tersebut. Menetapkan tujuan persalinan dan rencana persalinan juga bisa sekalian dituangkan dalam bentuk birth plan yang nantinya akan kita komunikasikan dengan pihak lain, misalnya pendamping persalinan, orang yang akan membantu kita bersalin seperti dokter atau bidan, bahkan pihak rumah sakit atau klinik tempat kita akan bersalin. Contoh membuat birth plan bisa dibaca di sini. Kalau yang ini adalah birth plan yang saya susun. Masing-masing bisa memodifikasikan sesuai kebutuhan, ya.
  2. Sempurnakan niat. 
  3. Mulai buat daftar check list sedini mungkin. Kalau saya, mulai membuat daftar check list di usia kehamilan 28 minggu. Isi daftar check list ini antara lain  catatan tentang bagaimana asupan nutrisi kita selama hamil, olahraga apa yang kita lakukan, persiapan persalinan apa yang sudah kita lakukan, sampai dengan catatan pendidikan pralahir untuk si baby. 
  4. Kerjakan dan isi daftar check list tersebut dengan mencatat kemajuan atau kemundurannya.
  5. Yang tidak kalah penting dari semua itu adalah, buat diri kita berada di support system atau lingkungan yang mendukung rencana persalinan kita. Teman-teman di komunitas GBUS adalah salah satu support system yang menguatkan tekad saya untuk melakukan gentle birth after cesarean ini. Semangat pemberdayaan diri mereka sangat-sangat menginspirasi. Beberapa catatan tentang sharing dan pertemuan mingguan yang dilakukan komunitas ini bisa diintip di blognya Mbak Arum, seorang Psikolog Anak yang juga sangat rajin menggerakkan komunitas ini. Monggo diintip di sini.
  6. Lakukan 'sealing', yang dimaksudkan dengan sealing di sini adalah berusaha untuk mengunci fokus kita hanya pada hal-hal yang positif dan sefrekuensi dengan harapan atau mimpi kita. Ini menghindarkan diri kita dari hal-hal yang dapat memecah fokus, bahkan niat. Termasuk mengunci niat dengan doa-doa baik juga.
Remember : "Affirmation without discipline is the beginning of delusions." (Jim Rohn)
Oke, sementara ini dulu sharingnya, ya. 
Pak Suami lagi belajar merelaksasi istrinya, dan...sakseiss :) 
Peserta pelatihan dan para suami yang semangat memberdayakan diri untuk menjadi pendamping persalinan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...