Thursday, December 22, 2016

Ide Liburan Biar Nggak Bosan

Ini buat anak-anak ya, Buibu. Kalau para emaks mah, libur sekolah itu artinya pakpikpuk pagi berkurang, yang biasa berternak macan bisa agak-agak mager atau bobo syantik pas siang. Tapi ya itu kadang anak-anak mah, ngga bisa lihat emaks santai dikit yaah pasti ada aja pingin ini itunya.

Liburan panjang tahun ajaran yang lalu saya bikin semacam workbook buat aktivitas liburan. Isinya:

Rules Selama Liburan Sekolah.

Jadi pas awal mulai liburan saya bikin kesepakatan dulu sama si sulung. Boleh nonton tv, pegang gadget, tidur hibernasi sampai musim salju berakhir (Emangnya beruang) monggo! Yang penting daftar rules nya di checklist dulu.

Amazing lhoo, cara ini berhasil bikin emak ngga banyak ngomel. Inti dari liburan kan emak juga harus mengistirahatkan cangkem yak.

Kalau punya anak tipe kinestetik-spatial macam anak saya, In syaa Allah kegiatan di workbook ini manjur deh, buat meredam energi suka petakilannya. Ada banyak macem brain teaser dan kegiatan bermodus misi rahasia berhadiah pelukan atau tidur siang bareng atau syukur-syukur snack favoritnya.

Ini Beberapa Contoh Kegiatannya.

Play Around Your Home: Temukan botol atau kemasan yang ada di rumah, coba periksa berapa isi/volumenya dan buat catatan di tabel yang sudah disediakan.

Menulis Cerita: Siapkan satu gambar berwarna yang menarik dan biarkan anak menuliskan apa yang bisa diceritakan dari gambar tersebut.

Play Outside : Kumpulkan jenis-jenis daun dengan bentuk berbeda-beda lalu tempelkan. Amati bentuk-bentuk awan dan gambarkan di bukumu, dan misi-misi lainnya.

Selain misi-misi itu, ada juga misi berkenalan dengan orang baru, mengumpulkan tiket masuk ke museum, belajar naik kendaraan umum, pergi ke perpus, dsb.

Saya sengaja memasukkan misi berkenalan dengan orang baru buat meningkatkan ketrampilannya bersosialisasi. Plus ada juga misi mengumpulkan tanda tangan dari orang yang menurut anak saya keren atau inspiratif.

Terus gimana kalau anaknya terlanjur lebih suka main gadget. Ada beberapa games yang kami (saya dan Ezra) rekomendasikan:

Winter Wonderland Imaginative & Sensory Play Bersama Rumah Main Katumbiri

Minggu, 18 Desember yang lalu, saya diajak Mba Chandra dari Komunitas Eping Semarang untuk mengisi kids corner di acara gathering komunitas tersebut. Kebetulan Rumah Main Katumbiri yang diprakarsai saya dan seorang rekan sudah punya program akhir tahun untuk mengisi liburan di sebuah mal tetapi dibatalkan karena suatu hal, jadi daripada konsep yang sudah disusun sia-sia, saya pun menawarkan kegiatan Imaginative dan Sensory Play untuk kids cornernya.

Via skype saya dan rekan yang sekarang sedang berada di Australia mulai membahas tema. Dia merasa prihatin dengan situasi Indonesia saat ini terutama sih, di medsos. Saya mencoba menenangkan, yang kamu lihat di sosmed sekarang ngga sepenuhnya cerminan dunia nyata, saya masih asyik ngobrol dan berinteraksi langsung dengan berbagai kalangan dan orang yang berbeda-beda latar belakangnya, kok.

"Oke, bikin sesuatu yang bisa cooling the heat."

"Saljuu..."balas saya. "Pingin deh, ngajak anak-anak main salju sambil sensory play, terus ada story telling juga."

"Cerita tentang pemanasan global aja, salju-salju mencair, permukaan air laut naik, kutub yang..."

"Eh tapi aku malah mau buat hewan-hewan dibekukan dan anak-anak bantu menyelamatkan buat sensory playnya..."

“Ya udah, bungkus. Nanti bikin reportnya di blog ya, mau gue ajuin juga kegiatan macam ini di kampus sini, buat day carenya."
~~
Itu tadi sedikit cerita di balik layar tentang proyek Rumah Main Katumbiri, ang sementara ini sistem kelas bermainnya pop-up jadi kami bisa hadir di mana saja anak-anak pingin bermain dan belajar.

Ini gambar-gambar acara kemarin.

Monday, December 19, 2016

Upgrade Ilmu Tentang Makan Sehat Bersama Dr. Tan Shot Yen

Postingan ini masih berkaitan dengan acara ultah AIMI Jateng yang ke-6. Dari acara itu, saya dapat oleh-oleh ilmu tentang hidup yang lebih sehat dengan makanan sehat sejak dini. Seminar tersebut mengusung dr. Tan Shot Yen sebagai narasumbernya.

Ada beberapa hal penting yang berhasil saya rangkum, salah satunya tentang menu makanan untuk orang dewasa. Poin pentingnya antara lain:

1. Cermati, apakah pola konsumsi kita cenderung pada konsumsi makanan budaya (nasi, pasta, produk kemasan, susu dan turunannya, trans fat, margarin, tepung2an, gula dan pemanis buatan)atau konsumsi makanan alamiah.
2. Kurangi, bahkan hilangkan kebiasaan konsumsi makanan budaya. Makan makanan yang minim proses pemasakannya.
3. Masukkan 3-5 porsi buah dan sayuran segar dalam konsumsi harian.
4. Kebutuhan protein orang dewasa juga sebesar telapak tangannya. Sumbernya bisa dari ayam, ikan, jamur, telur,  kacang2an, dan tempe. Lebih baik proses memasaknya dikukus bukan digoreng.
5. Orang dewasa juga butuh lemak sehat. Asam lemak esensial bisa didapat dari minyak tumbuhan peras dingin (olive oil) kemiri, kacang, alpukat. Lemak menjadi tidak sehat bagi tubuh karena dikonsumsi bersama dengan gula (nasi juga penghasil gula). Coba googling tentang  artikel yg ditulis dr. Tan tentang kolesterol dan gula, atau baca bukunya.
6. Karbohidrat dengan indek glikemiks tinggi dikonsumsi sesuai kebutuhan. Kalau kita karyawan yang duduk di balik meja, jangan makan seperti tukang bangunan. Sesuaikan dengan kebutuhan.
7. Mengubah pola makan sehat itu harus dipaksa, seperti halnya kita bekerja awalnya bukan karena keinginan tapi kebutuhan. Makan jangan karena ingin, tapi tanya juga apakah tubuh membutuhkannya atau tidak.
8. Tujuan makan sehat apa? Untuk yang usia produktif, agar bebas penuaan dini, untuk senior agar tetap produktif dan tidak jadi beban.

Catatan Tentang InspirASI Alam: HUT Ke-6 AIMI Jateng

Pada puncak acara rangkaian HUT ke-6 AIMI Jateng, Minggu 4 Desember 2016 di Hotel Grasia Convention Center kemarin, ada sebuah pesan tak tertulis yang ingin disampaikan. Kali ini bukan sekadar soal menyusui dan ASI saja, tetapi lebih dari itu. Ini tentang sebuah sinergi, bahwa menjadi sebuah bangsa yang berdaya dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Menyusui bukan hanya tentang relasi ibu dan bayi, menyusui adalah tentang membangun sebuah budaya dalam masyarakat.

Dua bintang tamu pria dihadirkan dalam acara ini, Pak Ganjar yang seorang Gubernur dan Arda vokalis Band Naff, Hot Papa yang concern dalam tumbuh kembang anak. Terbaca bahwa menyusui bukan lagi ranah domestik para Ibu. Suami, ayah, dan seorang laki-laki sebenarnya punya andil besar untuk menjadikan aktivitas alamiah menyusui ini menjadi sebuah budaya dan karakter bangsa.

Baru 30% Ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif di Indonesia. Jumlah yang masih relatif kecil. Bayangkan jika setelah seminar tersebut ada lebih banyak lagi hot papa dan pejabat pemerintah yang concern terhadap aktivitas menyusui, jumlah tersebut pasti akan meningkat.

Seolah pesannya belum cukup nendang, dr. Tan Shot Yen, dihadirkan untuk menggeret paksa perspektif kita tentang sehat sejati. Jika sudah dimulai dengan yang terbaik dan paling alamiah pada awal-awal kehidupan mengapa justru selanjutnya dirusak dengan makanan budaya yang tidak alamiah?

Dari mulai penyakit fisik dan psikis dicontohkan menjadi akibat dari pola makan yang tidak alamiah.
"Kedaulatan bangsa tercermin dari bahasa, budaya, dan ketahanan pangannya," papar dr. Tan Shot Yen.

"Lihat bagaimana Indonesia saat ini, semua makanan impor masuk dengan dalih globalisasi sambil kita sendiri lupa kekayaan kearifan lokal kita sendiri. "

Tentu semua yang sudah dipaparkan bukan semata-mata tentang ASI, ini adalah InspirASI Alam untuk kita bangsa Indonesia, agar menjadi bangsa yang berdaya dan berdaulat dengan karakter serta budayanya. Dan apa yang sudah dilakukan AIMI Jateng dalam rangkaian acaranya kemarin, yang terbilang sukses, adalah sebuah upaya untuk menyebar benih InspirASI sebanyak-banyaknya pada masyarakat luas.

Untuk Bangsa Indonesia yang lebih baik.



Saturday, November 19, 2016

Tazka Homeschooling Journey (Part 1)


Jadi setelah kurang lebih setahun mencoba menjalankan program   'belajar sambil bermain di rumah' bersama si toddler, Tazka, saya memutuskan di tahun kedua ini kegiatannya harus berkembang menjadi program Homeschooling yang lebih fokus. Dan karena banyak sekali materi yang tidak terdokumentasi serta terorganisir dengan baik selama setahun kemarin, maka dibuatlah catatan khusus di blog ini tentang perjalanan homeschooling Tazka di tahun keduanya.

Kemarin itu, banyak serabutannya; main comot materi yang kadang belum sesuai sama perkembangan dan usia mentalnya. Anaknya dan saya juga sempet stuck; sebenernya aktivitas ini mau dibawa kemana, sih.

Akhirnya, meluruskan niat lagi. Mengosongkan cangkir lagi dan mulai belajar lagi tentang dasar pendidikan anak usia dini, dan macem-macem lainnya. Yang paling kena di hati waktu mulai baca-baca tentang pendidikan anak berbasis fitrah dan juga natural, conscious, and gentle parenting.

Pas udah mulai klik antara apa yang diharapkan dalam pendidikan anak dengan bagaimana memulai langkah-langkah kecil untuk mewujudkannya, baru deh, semedi bikin oret-oretan tentang visi misi goal pendidikan di rumah ini.

Supaya ngga serabutan seperti sebelumnya, yang berimbas pada ketidakkonsistenan, saya menyiapkan lesson plans jauh-jauh hari. Disusun berdasarkan pengalaman satu tahun pertama kemarin plus hasil observasi tumbuh kembang si anak, tentunya.

Untuk pemilihan metode, tadinya condong mau pakai Montessori saja, tapi setelah baca-baca dan berguru sana sini, saya memutuskan untuk menggabungkan beberapa metode dan beberapa dasar teori seperti teorinya Vygotsky yang menekankan pada Zona Perkembangan Proksimal dan bagaimana interaksi sosial dapat memboost kemampuan kognitif anak (Ini juga hasil observasi saya terhadap si sulung, dimana teman sebaya ternyata juga bisa memengaruhi perkembangan kognitifnya). Selain menggunakan teori Vygotsky, saya juga menggunakan Multiple Intelligence dari Howard Gardner agar anak dapat mengeksplorasi setiap sisi kecerdasan yang ada di dalam dirinya. Teori Multiple Intelligence ini dipadukan juga dengan pendekatan belajar BCCT (Beyond Centers and Circle Time) atau pendidikan berbasis Sentra. Dan tentu saja dengan muatan pendidikan karakter Islam.
Untuk yang ingin tahu lesson plansnya seperti apa, bisa diintip di sini.

Tahun depan, In syaa Allah beberapa kegiatan homeschooling juga akan bekerjasama dengan Rumah Main Katumbiri dan akan ada playdate-playdate seru, fieldtrip, science class dan english club, serta bocoran yang lebih seru lainnya, In syaa Allah akan ada guru khusus yang bakal mengajar tentang Sejarah Islam untuk anak-anak plus orangtuanya

Untuk info kegiatan Rumah Main Katumbiri dan kegiatan Homeschooling Tazka, kepoin blog ini terus, ya. In syaa Allah bisa saling berbagi manfaat di sini.

Tuesday, November 8, 2016

The (Un)friendly Travel Spot for Kids

Pernah ngga sih, menemukan sebuah travel spot yang lagi hits di medsos karena fotonya yang oke dan jadi pingin mendatanginya, kemudian setelah sampai di sana merasa tempatnya ngga sesuai ekspektasi?
Saya pernah 
Jadi sejak lebaran tahun 2016 kemarin penasaran banget sama Goa Rong View. Dan baru berkesempatan buat main ke sana dua minggu lalu.
Ceritanya lagi kangen hiking dan memutuskan buat main ke Goa Rong View karena tertarik lihat postingan di medsos yang bersliweran.

Minggu agak siangan siap-siap berkendara ke arah Bawen bersama Si Sulung 8yo dan Si Toddler 22m. Sudah siap ransum Nasi Padang lengkap buat botram di sana, plus setelan hiking, ergobaby, sendal gunung, hihihi...pokoknya udah siap banget, deh.

Mengandalkan Si Waze kami pun cuss. Kurleb satu jam, hmmm, lupa tepatnya, kami sampai di Tlogo Resort yang kemudian mengarah ke Goa Rong View ini. Selama perjalanan dari gerbang masuknya, udah girang karena disambut hutan karet yang cukup rimbun dan hijau.
Sampai di pelataran parkirnya, Si Sulung langsung excited dan langsung melompat turun, cuss mengeksplor area seputaran parkiran. Sementara, saya dan si toddler masih wait and see.
"Ini, cuma gini aja, nih? Mana spot wisatanya?"
"Itu tuh, kayaknya kita musti turun ke situ deh, di sana kayaknya yang orang biasanya foto-foto itu."

Kami pun menuruni beberapa anak tangga...dan, taraaa oh, ini tho. Kami berjalan mendekat ke pagar yang membatasi tempat ini dengan dinding jurang. Di depannya ada tulisan 'Goa Rong View'. Dari situ, kami bisa melihat pemandangan Rawa Pening yang lumayan breathtaking.

"Keren sih, tapi masak cuma gini aja. Hikingnya?Goanya?"
Sambil pandangan menyisir lokasi yang ada, kami duduk-duduk di area cafe dulu. Di depan area cafe ada tempat yang menyewakan bioskop 9D. Karena niatnya hiking dan menikmati alam kami ngga mencoba hiburan tersebut.

Setelah memastikan memang ngga ada spot lain yang kami lewatkan dari mulai area tempat parkir sampai cafe, kami pun memutuskan buat melihat yang dimaksud dengan Goa Rong ini.

Mulanya, kami masih excited saat melihat pemandangan yang ada, tapi kemudian saat mulai menuruni anak tangga satu persatu yang sangat curam kami pun mulai sangsi.

"Ini turun sejauh ini, worthed ngga buat anak-anak, naiknya lagi mereka bakal capek ngga?"
Hihihi, jangankan anak-anak, saya aja kok rasanya males yaa kalau harus balik lagi naik tangga nanti. Maunya pasti terbang. Setengah jalan, saya googling pic Goa nya...dan..oh, gini niih. Ya udah kita balik aja deh, kasian anak-anak...
Iya, sehabis mendaki naik sambil ngosngosan (gimana kalau sampai bawah) diputuskan buat foto-foto aja deh, terus habis itu gelar botraman di salah satu spot dekat parkiran yang berumput dan lumayan datar.

Anak-anak dilepas sebentar supaya bisa main-main. Tapi saya terus merasa khawatir karena tempatnya ngga kids friendly; spotnya ngga datar dan tidak ada pembatas yang menandai naik turunnya spot tersebut, plus ada sejenis tanaman di area rumput yang tajem dan bisa melukai kaki.

Bukannya overprotective, tapi memang kalau menurut pengamatan, ini bukan tempat yang bisa bebas melepas anak bermain dan mengeskplorasi alam. Skala kemungkinan bahayanya dibanding nilai adventurenya 6:1.

Jadi anak-anak cuma boleh gugulingan di bukit-bukit kecil dengan catatan, hati-hati banget karena bisa aja terjatuh ke jurang atau tempat yang lebih rendah yang tertutup semak-semak. Ngga ada hiking dan lari-larian seperti yang dibayangkan anak-anak. Wahana permainannya lebih pas buat remaja ketimbang anak-anak.

Agak ngga sesuai harapan, tapi anak-anak menikmati perjalanannya. Jadi so far, tempat ini masuk list yang penting tahu, hihihi.

Udah gitu aja. Foto-fotonya juga ngga banyak, bagusan dilihat langsung daripada di foto.






Friday, November 4, 2016

Staycation dan Jelajah Cafe di Kota Bandung

Belakangan dikenal istilah staycation yang merupakan penggabungan dari dua kata stay dan vacation. Istilah ini bisa juga diartikan, berlibur ke tempat-tempat yang dekat dengan tempat tinggal asalkan rasa penat dalam melakukan aktifitas sehari-hari bisa terobati.

Kota yang dituju biasanya meliputi beberapa kota yang sudah memiliki banyak fasilitas pendukung bagi para wisatawan. Tentunya hal ini agar kebutuhan berlibur dapat lebih mudah terpenuhi. Salah satu kota yang sering dijadikan tujuan staycation adalah Bandung karena banyak fasilitas dan pilihan tempat berlibur yang bisa dieksplorasi.

Salah satu fasilitas wisata adalah ketersediaan hotel yang mendukung. Dan hotel di kota Bandung sangat mudah mendapatkannya, terlebih jika Anda langganan memesan melalui situs-situs perjalanan atau online travel agencies, salah satunya website Traveloka. Anda akan mendapat kemudahan untuk memilih hotel yang sesuai dengan selera keluarga Anda.
Staycation banyak dilakukan oleh para keluarga muda untuk “membayar waktu” agar bisa membangun kedekatan antar personal, terlebih karena kesibukan masing-masing. Quality time bisa didapatkan dengan tetap bisa melakukan hal-hal yang Anda sukai.
Di kawasan Dago banyak sekali hotel yang bisa Anda pilih, salah satu hotel yang dikenal family frendly adalah Sheraton Bandung Hotel and Tower. Letaknya yang berada di dataran tinggi Dago menyebabkan udara sejuk, bersih bisa Anda nikmati. Meskipun lokasi wisata terbilang dekat dengan rumah, tidak berarti Anda dan keluarga tidakmemiliki kesempatan menghabiskan waktu liburan di hotel yang nyaman.

sheratonbandung.com

Posisi Sheraton Bandung sangat mudah ditemukan karena berada di Jalan Raya Ir H. Juanda no 304 Bandung. Lokasinya ada dalam kawasan yang sering dijadikan tujuan wisata. Akses dari tol Pasteur pun cukup mudah, Anda bisa menggunakan jalan layang Pasopati dan turun di pintu Dago.
Fasilitas dan wahana permainan di Sheraton Bandung Hotel and Tower khususnya bagi anak-anak tersedia di sini. Beragam permainan menarik akan membantu Anda  ketika mengajak buah hati berwisata di tempat ini.
Beberapa fasilitas dan wahana permainan yang tersedia diantaranya; wahana melukis, Anda bisa memberi kesempatan pada buah hati Anda untuk mengekspresikan diri mereka dengan media lukis. Memberi makan kelinci, play ground, berkeliling Tower Garden dengan berkuda, akan memberi pengalaman berbeda pada buah hati Anda. Beberapa fasilitas tersebut terbuka pada hari sabtu, minggu dan libur nasional, dan pada saat liburan sekolah. Anda tidak harus mengeluarkan biaya tambahan, hanya membutuhkan pengawasan dari orang tua.
Jika Anda telah selesai mengajak bermain buah hati Anda, tiba saatnya Anda mencari hiburan yang Anda sukai. Jika hendak menjelajahi cafe-cafe yang menawarkan keunikan dan pemandangan alam yang indah, kawasan Dago adalah pilihan yang tepat. Anda tidak harus turun ke Kota Bandung dan terjebak kemacetan.
Beberapa cafe-cafe unik yang bisa Anda kunjungi adalah:
1. Stone Cafe
Cafe ini agak sulit ditemukan, namun sepanjang masih berada di kawasan Dago dan terjangkau aplikasi google map, Anda pasti bisa menemukannya. Letaknya ada di Jalan Rancakendal Luhur no 5. Dago Atas, Bandung. Kawasan ini memiliki udara sejuk khas dataran tinggi dengan suasana pedesaan. Selain itu tempat ini juga memiliki panorama yang memikat.
Menu utama yang banyak direkomendasikan adalah Combo Barbeque, yakni paduan antara sirloin, ikan kakap dan udang ditambah dengan bumbu rahasia ala stone cafe.

google.co.id
2. Rumah Miring Bar.
Beberapa waktu lalu Anda mungkin pernah mendengar Cloud 9 Bar, sekarang Bar tersebut bernama Rumah Miring Bar. Rumah Miring Bar terletak di Jalan Dagogiri no. 119 Bandung. Tempat ini menawarkan menu-menu beragam, baik menu tradisional khas Indonesia maupun menu western dan negara lainnya. 
Salah satu menu favorit rumah makan ini adalah Mighty mixed Grill, yakni kombinasi jenis makanan yang dipanggang, terdiri dari tenderloin, dada ayam, sosis, dan jamur. Sementara minuman andalan di Rumah Miring Bar adalah vanilla Double Chocolate, milkshake campuran vanila, coklat dan oreo.
Info menariknya, menu makanan yang Anda santap akan terasa lebih lezat karena didukung oleh pemandangan alam Kota Bandung yang menawan. Pengalaman menikmati kuliner di tempat ini juga didukung oleh keberadaan Rumah Miring Bar yang dibangun dengan desain terbuka.
google.co.id
3. Kopi Ireng
Bagi Anda pecinta kopi bisa mencoba sensasi minum kopi di wilayah ketinggian Kota Bandung. Lokasinya terletak di Jalan Bukit Pakar Timur Ciburial, Bandung. Sesuai dengan nama jalannya, udara di Kopi Ireng sangat sejuk, seperti halnya udara Kota Bandung 10 tahun lalu karena umumnya sebagian besar wilayah Bandung saat ini memiliki cuaca dan udara yang lebih panas.

Sajian utama di Kopi Ireng tentu saja minuman kopi yang bervariasi, mulai dari sajian kopi modern seperti Caramel Machiato, Staiway to Heaven, Creamy Capuchino dan lain sebagainya, hingga kopi dalam negeri termasuk kopi luwak.

thisishobahoba.wordpress.com
Tiga hal tersebut adalah sebagian tempat pilihan menarik untuk Anda. Memilih destinasi wisata sekaligus staycation yang tepat sesuai dengan minat dan kebutuhan keluarga tentunya akan semakin membuat waktu liburan semakin menyenangkan. Menikmati waktu berharga dengan keluarga adalah segalanya. So, Anda bisa kembali pada rutinitas di hari selanjutnya dengan lebih bahagia.

Thursday, October 27, 2016

Bahaya Laten Itu Bernama Multitasking

MOM; Master of Multitasking. Pernah denger istilah ini kan? Trus apa yang Ibuk-Ibuk sekalian rasakan dengan predikat ini?
Bangga? Tertantang? Atau malah bertanya-tanya; masak, sih?

Kalau saya, sepuluh tahun yang lalu merasa tersanjung sekaligus tertantang. Hebat euy, seorang chef nyambi jadi Guru Les Semua Mapel sekaligus financial planner dan desainer interior rumah.
Sepuluh tahun lalu saya masih 20 something.  Sekarang 30 sekian. Sekarang saya sadar itu predikat paling ngga realistik sejagad raya. Coba saja di dunia nyata kalau kita bertemu satu orang dengan multi profesi seperti yang disebutkan di atas, pertanyaan paling dasar adalah mana yang jadi pekerjaan utamanya?

Satu panah tidak akan mengenai LIMA sasaran sekaligus.

Kepala 2 dan 3. Bukan. Bukan karena si angka kepala tiga yang mereduksi sekian peforma fisik--yang tadinya bisa begadang ngelembur tulisan sambil menyusui anak, paginya masih mikir urusan rumah tangga dan pekerjaan tambahan lain atau kerja-- tetapi karena kesadaran yang bertumbuh bahwa saya ngga harus melakukan semua itu seorang diri.

Bisa bukan berarti harus.

Butuh lima sampai tujuh tahun untuk menyadari ketidakmasukakalan tuntutan peran ganda itu, butuh jungkir balik dulu baru menyadari kalau predikat MOM itu punya bahaya laten yang bisa mengikis kesehatan mental kita(Kita?Elu aja kalik) sebagai seorang Ibu.

Sungguh deh, jangan mau dikasih predikat itu, overestimated dan over claim banget. Berikut ini bahaya laten yang muncul akibat tuntutan peran itu. Sebelum baca lebih jauh, ini ngga scientifically based lhoo yaa...ini murni hasil pengamatan terhadap diri sendiri dan beberapa orang. Kita pakai contoh:

1. Habis lahiran nih, udah tahu belum tugas utamanya apa? Buibu, tugas kita yang utama adalah PULIH, selanjutnya menyusui. Tanya sama diri sendiri, mau nggak, abis berjuang hidup dan mati setelahnya masih harus mikirin cucian baju, piring, atau popok, mending kalau dengan dipikirin doang semua kerjaan itu bisa kelar, kalau nggak?
Tanya deh sama hati yang paling dalam kiranya menyusui itu bisakah diwakilkan ke Bapaknya atau asisten RT ngga? Kalau jawabannya nggak, artinya menyusui itu tugas utama kita saat itu, ngga bisa ditawar apalagi digoyang.
Lho, katanya MOM, bisa dong menyusui nyambi ini-itu. Bisa-bisa aja, tapi ini bahaya latennya: menyusui bukan sekadar proses memberi makan bayi, menyusui juga membangun pelekatan dasar antara Ibu dan Bayi dan itu akan menjadi dasar hubungan kita dengan si anak seumur hidup. Untuk tugas sepenting ini masih mau disambi jawab-jawabin orderan olshop, melipir nyuci popok, atau apalah yang menjauhkan kita dari berinteraksi dengan si Buah hati. Pegang jari jemarinya, balas tatapan matanya, elus-elus kepalanya, dan tiupkan doa-doa baik di ubun-ubunnya. Delegasikan semua pekerjaan yang menjauhkan kita dari hal tersebut sampai setidaknya tiga bulan pertama (Komunikasikan hal ini jauh-jauh hari dengan pasangan dan cari solusi yang paling memungkinkan) Istirahatlah bersama si bayi, peluk dia dan buat hormon-hormon keibuan terpompa, melepaskan senyawa relaks dan tenang. Insyaa Allah, baby blues pun minggir jauh-jauh.

2. Anak udah kegedean dikit. Bisa dong momong anak disambi ngurus kerjaan rumah. Toh, nyuci tinggal masukin baju kotor, pencet-pencet. Habis itu masak nasi, ehtapi belum ada robot pel, padahal lantai rumah kotor banget, tapi kalau ngepel si Adek nanti gimana. Oh iya, suruh di kamar dulu deh, nyalain baby TV atau nyalain gadget, biar lihat hewan-hewan lucu. Siip, beres semua. Masuk kamar, duuh, cape rebahan dulu ah, sambil nunggu jam jemput sekolah si sulung, buka sosmed baca tentang larangan screen time buat anak toddler, merasa bersalah sekaligus galau. Duuh, tapi gimana lagi kalau ngga gitu kerjaan rumah ngga beres. Besok lagi melakukan hal yang sama demi secara ngga sadar memenuhi tuntutan peran sebagai seorang MOM, tidak sadar anak tergantung pada gadget dan kita kehilangan we time yang sungguh-sungguh berkualitas dengan si toddler. Ehtapi aku juga luangin waktu main kok, sama dia...sambil lirik sosmed, balesin chat, baca buku, masak. Iyaa semua bisa disambi kecuali hadir sepenuhnya dengan anak. Multitasking itu sudah membuat syaraf-syaraf kita terbiasa mengira bahwa satu pekerjaan bisa disambi pekerjaan yang lain.
Padahal tidak semua begitu, bukan cuma momong anak yang semestinya kita bisa hadir utuh dan sepenuhnya, banyak kewajiban lain yang semestinya dilakukan dengan utuh penuh menyeluruh. Sholat, misalnya. Bahaya laten multitasking membuat di sela-sela rakaat-rakaat kita ada pikiran tentang bagaimana nanti melakukan pekerjaan A atau B. Kita bergerak di atas sajadah tapi ruh kita sedang mencuci piring.

3. Kenapa perempuan bisa menjadi MOM karena kapasitas penyimpanan datanya bukan cuma di otak, tetapi juga di hati. Makanya jangan salahkan kalau tiba-tiba kita jadi wanita paling kurang pikenik se-Indonesia Raya. Ada yang nyingung-nyingung soal SAHM sensi, soal Ibu Kantoran sensi, anak HS sensi, ini sensi, itu sensi. Iyaah, semua beres kita kerjakan sendiri, otak sih, puas tapi coba tengok si hati. Hati kecil itu kabelnya nyambung sama segala-gala yang alamiah pada diri seorang wanita, bisa jadi itu kodratnya, mimpi-mimpinya, atau inner child nya. Kalau suatu hari rasanya kok bukan badan yang capek, coba dicek ke dalam, dijenguk lagi inner child nya, diajak ngobrol, pasti ketemu dimana missed-nya.

4. Multitasking bikin saya selalu tergesa-gesa. Pingin segera beres satu pekerjaan dan menclok ke pekerjaan yang lain. Tergesa-gesa itu bukan cuma sumber masalah, tapi juga sumber stres. Pernah denger kalimat ini : for fast acting relief, try slowing down. Tergesa-gesa lagi-lagi melatih syaraf-syaraf dan neuron kita untuk memberi batasan waktu terhadap satu pekerjaan yang sama dalam satu waktu...sederhananya rutinitas. Kalau selalu diturutin, nafsu untuk multitasking ini juga bisa bikin kita gampang bosan dengan sesuatu yang rutin. Padahal, banyak hal rutin yang seharusnya jadi pondasi utama hidup kita. Iya makanya suka gampang banget bilang, duuh bosen deh gini-gini aja...pingin suasana baru, duuh kurang menantang deh, pingin coba hal baru. Semua itu karena syaraf kita sudah biasa juggling dari satu hal ke hal lainnya dalam waktu singkat. Dan yang namanya buru-buru, hasilnya ngga sebagus kalau kita benar2 into it.

Empat dulu deh, nanti kalau nemu bahaya2 laten lainnya, disambung lagi. Sekarang, saya lebih suka sama kutipan di gambar di bawah ini...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...