Thursday, December 21, 2017

Pengalaman Potong Rambut Di Kidstory Semarang


Buibu, pernah nggak sih sudah ngajak Si Toddler potong rambut ke salon khusus anak-anak, terus sampai tempatnya ia menolak bahkan nangis nggak mau dipotong rambutnya?

Saya beberapa kali mengalami kejadian tersebut. Sampai akhirnya memutuskan buat memangkas rambut Si Kecil sendiri. Tapi nggak berhasil juga karena dia menolak dan nangis juga.

Akhirnya, karena nyerah, saya biarkan saja rambutnya gondrong. Meski kadang gemas ngeliat rambutnya yang acak-acakan, tapi mau gimana lagi. 

Sampai suatu hari, saking udah gatel lihat rambutnya yang acak-acakan apalagi pas habis keringetan, saya mencoba sebuah tempat potong rambut anak di daerah Erlangga, Semarang. 

Agak-agak cemas juga sih kalau percobaan potong rambut tersebut bakal gagal lagi.

Oh ya, saya nyoba beberapa trik ini : 

Wednesday, December 20, 2017

Celebrate Chirstmas With Obermain

Bulan Desember jadi salah satu bulan favorit saya karena suasana festive-nya cukup terasa. Bertepatan pula dengan musim hujan, natalan, dan menyongsong tahun baru. Pusat-pusat perbelanjaan mendekor tempatnya dengan berbagai dekorasi bertema natal.





Natal juga identik dengan bulan untuk berbagi kebahagiaan, salah satunya adalah dengan memberikan hadiah pada orang terdekat, pasangan, maupun anggota keluarga. 

Di bulan Desember ini, Obermain, sebuah brand sepatu asal Jerman yang sudah ada sejak tahun 1888 ini memberikan penawaran menarik, yaitu diskon 30 (plus) +10 persen selama bulan Desember ini.


Obermain menjadi salah satu kado pilihan favorit di saat natal ini karena kualitas sepatunya yang menggunakan teknologi berkualitas tinggi.

Beberapa di antaranya adalah teknologi Shoeteraphy Comfort System, atau yang biasa disingkat SCS atau dikenal pula dengan Sapato Theraphy.

Selain teknologi SCS, Obermain juga memiliki teknologi Active Air Gel yang diterapkan pada beberapa seri lainnya. Teknologi tersebut mampu memberikan rasa nyaman pada kaki, terutama di bagian telapak kaki.

Tuesday, December 19, 2017

Wisata Cirebon : Alternatif Tempat Liburan Akhir Tahun


Buat teman-teman yang tinggal di Semarang, destinasi wisata luar kota yang menjadi tujuan saat liburan, biasanya berkisar antara ke Solo, Jogja, atau destinasi wisata lainnya di bagian selatan dan sekitarnya bukan? 

Pernah nggak, teman-teman berpikir untuk mencari spot liburan ke arah barat, Cirebon misalnya. 

Hmmm, memangnya ada wisata apa sih, di Cirebon? Bagaimana keadaan kotanya, menyenangkan nggak buat staycation? Tempat wisata dan kulinernya apa saja? 

Mari kita bahas. 

How To Get There. 

Cirebon dapat ditempuh dari Kota Semarang, selama kurang lebih 5 jam setengah menggunakan mobil atau bus. Kalau malas nyetir sendiri, ada Bus Nusantara yang bertolak dari Pool-nya di daerah Kalibanteng setiap pukul 09.00 setiap harinya, dan akan membawa penumpang sampai di Terminal Bis Harjamukti Cirebon.

Bisa juga dengan menggunakan kereta api. Dari Stasiun Semarang Poncol, ada KA. Ciremai yang berangkat pukul 17:35 dan sampai di Cirebon pukul 20:52. 

Alternatif lain, bisa juga memilih berbagai KA dari Stasiun Tawang, mulai dari Argo Muria sampai Gumarang yang sebagian besar pasti melewati Stasiun Cirebon. Tinggal menyesuaikan dengan bujet saja. 

Setelah survei dan mencoba beberapa moda transportasi, berwisata ke Cirebon paling ekonomis dan waktunya pas adalah dengan menggunakan Bus Nusantara dengan harga Rp. 90.000.- per orang, atau menggunakan kendaraan pribadi. Tapi kalau ngga keberatan sampai di Cirebon saat malam hari, maka KA. Ciremai bisa menjadi pilihan yang ekonomis dengan waktu tempuh yang lebih singkat. 

Monday, December 18, 2017

Generasi Zaman Now Prioritaskan Jalan-Jalan Ketimbang Beli Hunian

Pernah dengar nggak, kalau saat ini terjadi pergeseran skala prioritas kebutuhan generasi millenial yang lebih memilih untuk belanja leisure atau pengalaman ketimbang membeli hunian?

Meskipun fenomena ini tidak bisa diseragamkan di semua tempat, namun mengutip hasil survei dari KompasProperti yang memberikan questionnaire terhadap 10 anak muda pada Minggu (12/11/2017) yang bermukim dan bekerja di daerah Jadebotabek, ternyata generasi milenial usia 25-35 lebih memilih jalan-jalan ketimbang membeli hunian. 

Bisa jadi fenomena 'menabung untuk membeli pengalaman travelling ketimbang hunian' itu juga terjadi pada generasi di kota-kota lainnya, misalnya di Semarang.

Pergeseran gaya hidup tadi bisa jadi disebabkan oleh meningkatnya pendapatan dan pertumbuhan internet of things atau IOT, yang membuat aktivitas leisure dan traveling lebih masif terekspos.

Biasanya, masyarakat cenderung mengikuti apa yang sedang tren di media sosial, padahal saat ini bisa dilihat bahwa media sosial lebih banyak mengangkat aktivitas leisure dan traveling.

Menurut laporan Bank Indonesia preferensi konsumen terhadap investasi berbentuk properti, saat ini turun 0,6 persen menjadi 22,5 persen selama bulan Oktober 2017 saja. Sementara itu, sebanyak 65,9 persen konsumen menyatakan tidak memiliki rencana membeli atau membangun rumah dalam 12 mendatang. Angka ini naik dari sebelumnya 64,4 persen.

Di sisi lain, jumlah konsumen yang menyatakan adanya kemungkinan membeli atau membangun rumah menurun dari 29,1 persen menjadi 26,9 persen.

Beli Rumah Impian Gratis Trip Ke Korea. 

Berbeda dengan di Jadebotabek, di Semarang, yang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah, meskipun pertumbuhan ekonominya berjalan lebih lambat dibandingkan di Jadebotabek, namun minat masyarakat untuk membeli hunian masih sangat potensial.

Pengembangan kawasan Semarang atas juga masih menarik minat masyarakat, baik kelas menengah maupun kelas atas untuk membeli properti atau hunian di daerah tersebut.

Saturday, December 16, 2017

Pieces of Motherhood

Gambar pinjam dari sini

Until you're broken, you don't know what you're made of. It gives you the ability to build yourself all over again, but stronger than ever. (Michael Jordan)

Untuk memulai tulisan ini saya meminjam kutipan dari seorang pemain basket terkenal MJ. Kutipannya tersebut, menurut saya punya kaitan dengan motherhood lyfe.

Hmmm, memang pemain basket tahu apa sih, soal motherhood hahahaha. Kalau kalian baca baik-baik kalimat tersebut, pasti bisa merasakan kalau seorang ibu suatu saat pernah merasakan, setidaknya satu kali dalam hidupnya, hancur berkeping-keping dan nggak punya pilihan selain menjadi lebih kuat setelahnya.

Ada banyak momen yang kalau dipikir-pikir saat masih lajang kayaknya horor banget. 

Misalnya nih, saat Adek masih bayi banget waktu itu. Imunisasinya aja belum lengkap, dan harus berhadapan dengan virus dari Kakak yang kena cacar air. Otomatis mereka berdua harus pisah kamar. Waktu itu rumah lagi renovasi dan saya single fighter karena ayahnya anak-anak lagi kerja dinas luar kota. 

Akhirnya, Kakak mesti 'diisolasi' di kamar lantai atas, dan Adek tidur berdua sama saya di kamar lantai bawah. Posisinya, di rumah lagi ada tujuh tukang, laki-laki semua, yang meskipun tinggal di bagian samping rumah tetep aja rasanya serem karena pernah suatu hari saya mergokin salah satu tukang 'main fisik' sama Si Sulung dengan memegang salah satu bagian tubuh yang nggak seharusnya disentuh orang asing. Untung banget kejadian itu kepergok langsung sama saya. Jadi pelakunya langsung saya tegur. Kakak juga langsung saya beritahu semua hal berkaitan dengan cara menjaga dan melindungi diri. 

FYI, lokasi kamar yang ditempati Kakak berbatasan dengan bagian rumah yang direnovasi dan ditinggali tukang. Jadi saat Kakak sakit itu, hampir tiap hari rasanya paranoid karena ngga bisa setiap saat menjaga dia karena harus mengurus bayi yang masih kecil. Dalam sehari bisa bolak-balik sepuluh kali lebih mengecek kondisi Kakak, sementara Adek di kamar bawah. 

Rasanya kayak tinggal sama predator di dalam rumah, sementara salah satu anggotanya ada yang sakit, dan ada bayi kecil yang harus dilindungi dari virus. 

Friday, December 15, 2017

Sepatu Andalan Travel Blogger


Seberapa kuat ya, sebenarnya seorang travel blogger itu sanggup berjalan kaki dalam sehari? 

Kalau sedang dalam kondisi sehat dan bugar, rata-rata kaki manusia sanggup berjalan sampai kurang lebih 4 kilometer per hari. 

Kalau ditotal, sepanjang hidupnya manusia bisa berjalan sampai 24.000 km. Dan jarak itu hampir sama dengan jarak kalau seseorang mengelilingi dunia. 

Nah, jarak maksimal yang bisa ditempuh seseorang dengan berjalan kaki adalah sejauh 19,2 kilometer setiap harinya. Tapi itu juga tergantung sepatunya, sih. 

Kebayang nggak kalau saat berjalan-jalan jauh kita mengenakan sepatu yang ngga nyaman di kaki. Duh, jangankan 19 kilometer, baru saja jalan 500 meter saja, kaki terutama telapaknya sudah terasa pegal kan. 

Salah satu resolusi saya di tahun depan adalah pengin lebih banyak mengeksplorasi destinasi wisata di seluruh Indonesia, makanya perlu shoe-mate yang pas. 

Wednesday, December 13, 2017

Wisata Kabupaten Brebes : Catatan Perjalanan #1

Malam hari, pukul setengah delapan lebih kereta kami merapat di Stasiun Tegal. 

Sejak awal saya tidak meletakkan harapan yang terlalu tinggi terhadap objek-objek wisata yang ada di kota ini, pun karena tujuan saya dan rombongan sebenarnya adalah menuju ke Kabupaten Brebes, sebuah tempat yang berada di pantai utara Jawa Tengah, tempat yang menurut informasi yang saya dengar pernah berjaya karena menjadi sentra penghasil udang windu dan bandeng. 

Juga setiap kali bertolak ke luar kota via pantura, saya pasti akan mendengar orang-orang mengaitkan Brebes dengan telur asin dan bawang merah. 

Belum pernah sekalipun saya mendengar orang-orang membicarakan Brebes dalam konteks tempat pariwisata. 

Di benak saya, daerah pesisir utara umumnya pantainya kurang menarik dan paling-paling didominasi oleh tambak atau ladang garam. 

Masih mending Tegal yang berulang kali dibicarakan karena punya pemandian air panas Guci. 

Jadi kita mau ngapain sih, di Brebes? Pertanyaan itu berulang kali berputar di benak. 

Saat memeriksa rundown acara, disebutkan kalau kami akan berkumpul di Pendopo Mangrove di Desa Wisata Mangrove Sari. Letaknya ada di Dukuh Pandansari, Kaliwlingi. 

Kalau merujuk pada fenomena dan elemen pariwisata, (uhuk, kita bicara teori sedikit) fenomena pariwisata muncul sejak seseorang mulai melakukan perjalanan refreshing (leisure and pleasure) ke suatu tempat di luar lingkungan dan kebiasaannya sehari-hari untuk mendapatkan sensasi baru yang bisa membebaskan seseorang dari rasa bosan sesuai dengan kemampuan dan motivasi setiap individu. 

Fenomena tersebut nantinya akan menghasilkan beberapa elemen penting dari pariwisata. 

Sampai sini kira-kira sudahkah Brebes memenuhi kriteria dari elemen pertama, yaitu Elemen Tempat Asal Wisatawan? 

Kalau kalian berasal dari kota besar yang padat, atau malah dari daerah di pegunungan, pergi ke daerah pesisir terdengar eksotis. Namun 'terdengar' saja belum menjadi jaminan seseorang akan berkunjung ke tempat tersebut. Setidaknya harus ada jaminan bahwa berwisata ke Desa Wisata Mangrove Sari di Dukuh Pandansari bisa memberikan pengalaman perjalanan dengan sensasi baru dan membebaskan seseorang dari rasa bosan. 

Perjalanan berkereta dari Semarang ke Tegal membutuhkan waktu kurang lebih dua jam empat puluh lima menit. Sementara jika menggunakan kereta yang langsung bertolak ke Brebes, bisa menggunakan kereta Kaligung yang bertolak dari Stasiun Poncol. Waktu tempuhnya sekitar tiga jam lebih. Kereta yang digunakan merupakan kereta ekonomi AC yang cukup nyaman harganya sekitar limapuluh ribuan. 

Dari hal itu, kita bisa menilai elemen kedua, yaitu Elemen Persiapan Perjalanan. Dimana Brebes termasuk daerah yang aksesbilitasnya cukup baik. 

Selanjutnya tinggal bagaimana dengan perjalanan dari stasiun ke lokasi wisata itu sendiri. 

Dari Stasiun Tegal, saya dan rombongan dijemput oleh pihak panitia. Karena harus menunggu beberapa jam sampai jemputan datang, kami memutuskan untuk melakukan eksplorasi singkat di lokasi seputaran stasiun. 

Awalnya kami mengira, lapangan terbuka becek yang dipenuhi dengan tenda pedagang dan wahana permainan anak merupakan Alun-Alun Kota Tegal. 

Salah satu teman blogger nyeletuk, "kok gini amat ya, alun-alunnya." Ternyata beberapa jam kemudian kami baru mendapatkan jawaban yang sebenarnya. 

Penjemput kami, dua orang yang ngakunya kembar dan pandai bicara berbagai bahasa dari penjuru nusantara, mengajak kami mengenal lebih dekat kota yang sedang kami datangi. 

Mulai dari Alun-Alun Tegal yang ternyata megah; "Lhoo, ini malah alun-alunnya. Siapa coba tadi yang bilang kalau alun-alunnya jelek?", sampai mengenalkan pada kami asal muasal kata Brebes, hewan apakah Blengong itu, dan jenis makanan apakah Glabed itu. Semua dilakukan selama perjalanan dari stasiun menuju ke lokasi Forum Komunikasi Deswita di Desa Kaliwlingi. 

Oh ya, sebelumnya mereka juga membawa kami mengitari Alun-Alun Brebes. Kesan pertama mengenai Alun-Alun Kota Tegal yang kurang tertata, 'mau wisata apa sih, di Brebes?', perlahan terkikis oleh kehangatan yang mereka ciptakan. 

Besok pasti banyak hal yang lebih menarik, begitu pikir saya. Kami pun jadi terslimur kalau sudah capek menunggu berjam-jam karena sepanjang perjalanan keduanya membuat kami tertawa terus. 

Tiba di Pendopo Mangrove, sudah sangat malam. Sepertinya kami melewatkan acara pembukaan dan selanjutnya sudah tidak ada kegiatan apa-apa. Jadi setelah mengisi buku tamu dan mendapatkan souvenir berupa kalung berbandul capit kepiting, kami langsung diantarkan ke homestay

Ini kali kedua saya menginap di rumah penduduk ketika travelling. Kesan yang bisa saya tangkap dari homestay di Desa Wisata Mangrove Sari adalah bahwa para penduduk setempat sudah cukup siap dan sigap menerima tamu wisatawan. 

Tempat tidur sudah disiapkan dengan cukup rapi, sarapan pagi berupa ikan goreng, telur dadar, dan sambal kecap juga sudah siap ketika pagi hari perut kami kelaparan. 

Sampai di sini, perjalanan awal sejak dari Stasiun Tegal hingga tiba di homestay sudah memenuhi unsur ketiga dari elemen pariwisata, yaitu Elemen Pengalaman. 

Having a new sensation: tidur di rumah warga dan berbaur dengan kebiasaan masyarakat setempat. 

Selanjutnya, di pagi hari pertama, mari kita lihat apakah Desa Wisata Mangrove Sari memiliki pull factor dengan berbagai faktor pendukung, seperti kemudahan aksesibilitas, amenitas, kearifan lokal, dan faktor keamanan yang mendorong seseorang (push factor) melakukan suatu perjalanan. 

Aksesibilitas 

"Eh, ini gimana kita balik lagi ke Pendopo semalem buat ikut ngumpul pas acara?" ujar salah seorang teman blogger sambil menunggu giliran mandi pagi. 

Salah satu teman yang lain, yang ditunjuk sebagai koordinator berkata, "tenang nanti kita dijemput ke Sanggar jam delapan". 

Sebagai tamu undangan, jaminan untuk diopeni pasti membuat tamunya tenang. Namun, bagaimana kondisinya jika pengunjung datang bukan bertepatan dengan adanya kegiatan. Atau mereka memang benar-benar datang untuk berwisata. Tentu saja moda transportasi harian dari rumah warga sebagai homestay ke spot wisata harus menjadi perhatian. 

Kemarin, saya lupa bertanya mengenai hal ini. Tapi kalau boleh memberi masukkan, moda transportasi seperti sepeda yang disewakan bisa jadi pilihan. Jadi saat pengunjung menginap di homestay dan ingin jalan-jalan, mereka bisa menyewa sepeda dari penduduk setempat. 

Setelah rombongan bergabung, kami pun dijemput menuju ke sanggar, dimana acara forum komunikasi desa wisata yang dihadiri oleh pokdarwis dari berbagai daerah di Jawa Tengah berlangsung. 

Ada dua hal yang paling membekas dari kegiatan tersebut di ingatan saya. 

Pertama, saya mau meminjam satu kata milik Pak Auky alias Bang Bas; GILA! Iya gila banget, waktu Pak Hadi presentasi mengenai site plan Desa Wisata Mangrove Sari beserta track hutan mangrove-nya saya langsung bergeleng-geleng. Beneran mau dibuat seperti itu? Setengahnya saya berdecak kagum karena perencanaan yang dilakukan sudah begitu matang, setengahnya lagi merasa nggak yakin, takutnya rencana itu ketinggian banget untuk sebuah desa wisata, di Brebes lagi. 

Saya pun melirik catatan soal singkatan dari kata GILA : Gerakan Insan Lestarikan Alam yang dilontarkan Pak Auky. Memang dari paparan presentasi Pak Hadi, sudah ada beberapa upaya untuk memperbaiki kondisi desa yang pantainya nyaris kena abrasi karena kurang bijaknya mengelola ekosistem tambak. Antara lain dengan kegiatan kontruksi dan regulasi, vegetasi dan rehabilitasi, serta pendekatan sosial ekonomi dan budaya. Tapi karena belum melihat dengan mata kepala sendiri, jadi rasanya masih belum percaya. 

Blogger memang ngga seharusnya duduk manis menyimak presentasi. Blogger itu harus eksplor. 

Hutan Ekowisata Mangrove Sari 

Cuss, GILA, 'gali ide langsung action'. Rombongan blogger dikawal Pak Auky yang super talkative dan informatif langsung menggiring kami keluar dari sanggar menuju spot wisata pertama, yaitu Wisata Taman Mangrove Pandansari. 

Setelah berkendara selama kurang lebih setengah jam kami pun tiba di Dermaga Pandansari. Di titik inilah rasa pesimis kami runtuh sedikit demi sedikit, berganti dengan sebuah harapan.

Welcome To The Jungle Track

Biar nggak salah langkah


Jembatan Cinta

Gardu Pandang Pertama 


Baru saja masuk ke dermaga, beberapa teman blogger sudah ada yang komentar, "Wow, kalau kayak gini sih, apa yang dipaparkan Pak Mashadi tadi sangat-sangat mungkin terwujud". Atau komentar lainnya, "Ini jauh banget dari apa yang kubayangkan soal tracking di hutan mangrove", dan lain sebagainya. 

Apa yang terbayang di benak saya ketika berada di sanggar seketika langsung berubah saat kami menaiki perahu. 

Sejauh mata memandang tampak perairan luas dengan ranting-ranting bakau mencuat dari permukaan. Rasanya nggak percaya kalau saya sedang berada di Brebes. Rasa kagum yang hampir full itu pun saat kami belum sampai di trekking mangrove-nya. 

Saat perahu menepi di dermaga, perjalanan menuju ke trekking mangrove pun dimulai. Ini bukan sekadar trekking pendek seperti yang pernah saya datangi di tempat lain. Sampai nggak tahu harus menggambarkannya seperti apa, yang pasti hutan mangrovenya sangat luas, berhektar-hektar. 

Kembali ke poin aksesibilitas. Dengan pengalaman saya menyeberang menggunakan perahu yang perjalanannya cukup mulus maka dua elemen baru, yaitu pengalaman baru dan kemudahan akses langsung tercentang. 

Amenitas 
Amenitas adalah segala sesuatu yang terkait dengan fasilitas yang seharusnya tersedia di tempat wisata, seperti akomodasi, toilet umum, tempat makan, signage, tempat belanja dan oleh-oleh, pusat informasi untuk wisatawan. 

Dari semua aspek tersebut, dapat disimpulkan bahwa Hutan Ekowisata Mangrove Sari sudah memiliki segenap aspek yang disebutkan. Saat menyusuri hutan, kami bisa melihat signage yang cukup informatif bagi pengunjung. 

Dengan memperhitungkan spot-spot selfie sebagai daya tarik wisata kekinian, signage yang ada bisa berpadu apik dengan spot selfie

Tempat makan atau warung makan tersedia di sepanjang track dengan harga makanan yang terstandar dan dipantau oleh pihak pengelola, pilihannya pun cukup beragam. Ada pula toko-toko yang menjual souvenir dan barang-barang yang dibutuhkan oleh wisatawan, toilet dan mushola pun tersedia. Kemarin saya tidak terlalu memperhatikan apakah juga terdapat pusat informasi untuk wisatawan. 

Kearifan Lokal 
Kearifan lokal merupakan faktor yang sangat menentukan, karena daya tarik yang bagus, amenitas yang baik, dan aksesibilitas yang mudah akan menjadi sia-sia tanpa sikap penduduk yang ramah, kompeten, dan positif terhadap kegiatan pariwisata itu sendiri. 

Tadi di depan, saya sudah menyinggung bahwa ada dua hal yang paling membekas di ingatan saya mengenai kunjungan ini, pertama diwakili oleh kata GILA yang dilontarkan Pak Auky, yang kedua adalah karena saya begitu terkesan dengan keramahan orang-orang yang saya temui di sana. 

Human, merupakan kekuatan pariwisata di Kabupaten Brebes. 

Bayangkan apa jadinya ketika penjemputan, saya tidak dijemput oleh dua orang yang ngaku-ngaku kembar--yang sampai saat ini saya belum berhasil mengingat namanya --yang bercerita banyak hal soal Brebes. Keduanya adalah duta pariwisata yang bisa meniupkan jiwa kepada sebuah tempat, sehingga pengunjung tertarik untuk mengenal jiwa itu lebih dekat. 

Bayangkan jika perjalanan menyusuri hutan mangrove tidak ditemani oleh seorang tour guide handal seperti Pak Auky. Kami mungkin hanya akan mendapatkan lelah saja. 

Perjalanan dengan beliau membuat berhektar-hektar pepohonan bakau meniupkan kisahnya. Dari yang konyol, seperti konon propagul pohon bakau jika dimakan oleh kaum pria bisa mendongkrak stamina, hingga akhirnya kami pun jadi punya tagline khusus, yaitu salam dua senti. Sampai kisah yang saintifik, seperti bagaimana membedakan ikan glodok dan glanyar yang sering berantem di atas permukaan lumpur, dan bahwa buah mangrove bisa menghasilkan pati yang menjadi bahan baku pembuatan dawet. 

Buah Mangrove yang bisa diolah jadi pati

Dari sini nih, salam dua senti muncul. 


Untuk mendapatkan sensasi baru yang memberikan efek refreshing, para wisatawan dapat memilih daya tarik dari semua faktor pendukungnya yang bersifat alami (given) atau buatan manusia (man made). 


Daya tarik alami yang dimiliki Kawasan Ekowisata Hutan Mangrove Sari adalah 1, 8 km sabuk hijau dari masifnya rumpun mangrove, pemandangan Gunung Ciremai dan Slamet yang terlihat dari kejauhan saat mengendarai perahu serta luasnya tambak yang berbatasan dengan Laut Jawa. 

Sementara daya tarik buatan manusianya berupa jalur trekking, jembatan cinta, menara pandang, dan berbagai aksesori yang mempercantik area hutan bakau. 

Namun, bagi saya daya tarik yang paling melekat dalam ingatan adalah keramahan dari setiap orang yang berperan sebagai duta wisata, baik itu penduduk setempat, maupun tour guide-nya. 

Positive attitude terhadap kegiatan pariwisatanya sendiri begitu terasa, sehingga mimpi besar untuk menjadikan Kabupaten Brebes sebagai sebuah destinasi wisata nasional tidak terasa mengawang-awang karena setiap insan yang terlibat di dalamnya saling berpegangan tangan dan melangkah bersama-bersama demi kemajuan pariwisatanya. 

Sekian dulu bagian pertama dari kisah perjalanan saya ke Brebes. Episode berikutnya, saya akan menuliskan kembali kisah penyeberangan kami ke Pulau Cemara, kuliner khas Brebes, dan potensi lainnya. See you soon.

Tuesday, December 12, 2017

Kurangnya Minat Masyarakat Pada Produk Lokal


Artikel yang saya tulis kali ini sedikit melanggar 'kode etik blog pribadi' dalam hal aturan penulisan suatu konten karena memakai judul yang bermuatan cenderung negatif.

Sebenarnya ini merupakan eksperimen untuk membuktikan apakah judul konten dengan nada negatif dapat menarik lebih banyak perhatian ketimbang yang positif atau netral.

Meski judulnya bernada pesimis, saya justru akan bercerita bagaimana perspektif pribadi soal produk-produk lokal, khususnya di Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah jadi bergeser. Jauh dari titik awal saya berdiri. 

Terima kasih kepada Dinas Koperasi Usaha Mikro Kota Semarang yang sudah mengajak para blogger untuk mengikuti kegiatan One Day Trip pada tanggal 30 November 2017 lalu, sehingga kami bisa mengenal lebih dekat produk-produk lokal khas Semarang.

Dulu, saya agak males mengenakan produk buatan lokal karena beberapa alasan :

Monday, December 11, 2017

Lima Hal Penting Dari Acara Temu Blogger Kesehatan & Dinkes Kota Semarang.

Kesehatan anak Indonesia terancam, difteri, penyakit menular akibat kuman Corynebacterium Diptheriae kembali mewabah. Hingga November 2017, 11 provinsi melaporkan kejadian luar biasa difteri dan 32 kasus di antaranya meninggal dunia.


Kalimat tersebut adalah penggalan berita yang saya baca dari beberapa portal berita online. Setelah sebelumnya saya mendapatkan sebuah foto bagian dalam rongga mulut seorang anak yang terkena penyakit difteri beredar di grup whatsapp. 

Seperti biasanya, kalau mendapatkan berita seperti itu, ada dua respon yang umumnya muncul; pertama antipati dan berpikir kalau berita tersebut hoaks atau justru jadi paranoid. 

Berita yang berkaitan dengan kesehatan memang paling sering beredar dan cepat dilahap oleh masyarakat. 

Sayangnya, tidak semua berita kesehatan yang beredar itu benar. Ditambah lagi dengan kesadaran warganet yang masih rendah untuk memfilter berita dan mencari tahu kebenaran dari sumber yang kredible, malahan respon yang terlampau cepat untuk segera membagikan berita yang didapat menyebabkan benang-benang informasi bergulung seperti benang kusut. Sulit untuk mengurai manakah berita yang benar dan mana yang hoaks.

Berkaitan dengan berita mewabahnya difteri, berdasarkan laporan data dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan menunjukkan, cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) periode 2008-2011 berada di atas 90 persen. Namun, sejak 2012 hingga 2015 menurun jadi di bawah 90 persen.

Penurunan tersebut bisa jadi ditengarai oleh adanya pro kontra yang beredar di sosial media mengenai pemberian imunisasi. Informasi yang simpang siur dapat mengubah perilaku suatu kelompok. Kelompok yang kontra bisa saja dimanfaatkan oleh kepentingan kelompok tertentu sehingga berita hoaks yang mendukung sikap mereka semakin mudah tersebar. Misalnya, ada anggapan mengenai ketidakhalalan bahan yang digunakan sebagai vaksin, sampai berita yang menyebutkan bahwa vaksin imunisasi bisa menyebabkan anak mengalami autisme.

Apa yang saya tulis di atas merupakan sedikit gambaran bagaimana sebuah isu kesehatan dapat memengaruhi perilaku suatu kelompok. Masih banyak isu-isu kesehatan lainnya yang menjadi perhatian dan cukup penting untuk dicermati. Pengetahuan dari sumber yang kredible menjadi bekal bagi warganet khususnya blogger untuk dapat menjadi titik tengah penyebar informasi yang berimbang.

Berangkat dari wacana tersebut maka pihak pemegang kebijakan atau instansi kesehatan terkait perlu menjalin kerjasama dengan warganet agar sosialisasi terhadap isu kesehatan dapat berjalan sesuai dengan koridornya.

Warganet akan menjadi salah satu agen yang dapat menyampaikan informasi kesehatan yang tepat dan sesuai sasaran.

Temu Blogger Kesehatan & Dinkes Kota Semarang. 




Pada bulan November lalu, tepatnya di tanggal 27-28 Dinas Kesehatan Kota Semarang (DKK) mengadakan Temu Blogger Kesehatan dengan agenda kegiatan Diseminasi Informasi. Diseminasi adalah suatu kegiatan yang ditujukan pada target kelompok atau individu agar mereka memperoleh informasi, timbul kesadaran, menerima dan akhirnya memanfaatkan informasi tersebut. Diseminasi adalah proses penyebaran informasi yang direncanakan, diarahkan dan dikelola.

Wednesday, November 29, 2017

Guru-Guru Kehidupan


Seandainya bisa memutar ulang seluruh babak kehidupan, satu persatu akan tersingkap bagaimana perkembangan kehidupan kita dari mulai titik nol hingga saat ini. 

Di sepanjang masa itulah kita akan menemukan orang-orang yang berperan sebagai guru kehidupan. Orang-orang yang datang di dalam kehidupan kita dan mengajarkan banyak hal. Dari mulai aksara, membaca, dan banyak hal lain yang mungkin tak tertera. 

Ada yang masih ingat guru sekolah dasar yang berhasil mengajari membaca? 

Saya masih, bahkan masih bisa mengambarkan sosoknya dengan baik. Postur tubuhnya kecil, kulitnya kuning langsat, bentuk wajahnya mirip Bu Tien Soeharto, dan rambutnya ikal. Bu Nana adalah orang yang mengajari saya menuliskan kalimat 'Ini Ibu Budi'.

Namun jauh sebelum itu, Mama adalah orang pertama yang mengenalkan aksara; bahwa deretan aksara bila bersanding dengan tepat bisa dibaca bahkan bercerita. Mama juga guru kehidupan yang pertama kali mengenalkan keajaiban yang ada di dalam buku-buku. 

Usia 4,5 tahun beliau membuat saya fasih mengeja, dan saat usia 5 tahun saya mulai membaca buku-buku yang beliau pinjamkan dari perpustakaan. 

Waktu masuk SD, di usia 6 tahun kurang, saya belum mahir menulis. Kemampuan motorik halus saya berkembang relatif lebih lamban, tetapi Bu Nana sangat telaten mengajari saya menulis. 

Dulu saya benci pelajaran menulis, apalagi harus mengulang menuliskan 'a-b-c' sampai berderet-deret dari mulai huruf besar sampai kecil. Buat saya yang kala itu sudah bisa membaca tapi belum lancar menulis, aktivitas itu rasanya sia-sia. 

Entahlah, mungkin saja saat masih berusia enam tahun, kemalasan menulis kala itu saya terjemahkan seperti itu. Tapi bisa jadi itu cuma sekadar malas saja. Sementara anak-anak lain masih berkutat menyalin 'Ini Ibu Budi' saya justru merasa bosan dan ingin membaca yang lainnya. Tidak ada yang menangkap kebutuhan tersebut sehingga saya mudah merasa bosan berada di ruangan kelas dan lebih suka mengeksplorasi sekitar. 

Saya terlambat menyukai angka, bahkan kadung membencinya sebab belum menemukan 'guru kehidupan' yang tepat untuk itu. Kebencian terhadap angka ternyata juga punya kaitan dengan relasi saya dengan figur otoritas, seperti ayah dan guru-guru tertentu yang punya gaya otoriter--dan kebanyakan itu adalah guru mata pelajaran eksak. Saya baru mengetahui setelah kuliah Psikologi selama beberapa tahun tentang kaitan rendahnya minat seseorang terhadap Matematika dan figur otoritas. 

Saturday, November 25, 2017

Tips Berinternet Sehat Dari Orang Yang Tidak Bersosmed.


Kalau ngobrol sama teman yang sama sekali nggak menggunakan medsos, (Wow! Ada ya, yang hari gini nggak pakai medsos) saya sering dikomentari kurang kerjaan kalau pas update status, posting konten gambar di Instagram sampai mikirin caption yang berfaedah plus feeds yang cantik. 

"Buat apa sih? Segitunya banget, emang bermanfaat ya?" 

Kalau ketemu sama yang awam gini, saya nggak pernah bete kalau ditanya begitu, dan kadang kalau dia mau tahu, saya bakal menjelaskan kenapa dan buat apa saya menggunakan sosial media. 

Tapi sebelumnya, saya sendiri yang duluan bertanya kenapa dia sama sekali ngga tertarik bersosial media. 

Penasaran sama jawabannya? 

Sebelumnya, saya bakal kasih clue tentang karakter teman saya ini. Atas seizin dia, saya boleh membagi sedikit sudut pandang baru tentang mengapa dia tidak bersosmed. 

Typically, teman saya ini bukan orang yang gaptek lho. Dia melek sama gadget dan teknologi. Ponselnya malah update pisan dan kalau ngelirik apps yang ada di ponselnya suka sirik karena dia tukang ngulik apps unik berfaedah yang saya sendiri nggak bakal tahu ada di muka bumi ini kalau ngga dikasih tahu dia. 

Misalnya nih, kalau habis baca buku oke, dia langsung bisa bikin infographic keren hanya dengan pake ponselnya, terus bikin grafis dari quotes bagus hasil baca buku dipadu hasil grafis gambaran tangannya yang udah di-scan lewat apps di hapenya. 

Kalau pas mau presentasi sama klien, dia cuma bikin keynote pake pesan suara dan kadang ngerjainnya sambil makan siang, jalan-jalan, atau pas travelling. Misal dia teringat sesuatu, dia bakal ngomong sama apps di ponselnya dan taraaa, satu keyword bakal tercatat di situ.

Malemnya kalau udah di rumah, dia tinggal colokin ponsel ke laptopnya. Semua keywords tadi udah berubah jadi artikel berita atau tulisan yang related. Dia duduk membaca semua itu untuk bikin summary dan menuangkan ke presentasinya. 

Kadang kalau saya ngintip hasil infografis yang dia buat, saya suka nyeletuk mau bikinin dia Instagram, pasti berfaedah banget deh karyanya itu.

Tapi dia menggeleng nggak mau. Dengan agak sinis dia bilang,

"....enak banget yang ngga pernah baca buku dapet rangkuman dari gw. Kids zaman now are tukang copy paste dan kadang nggak bisa ngehargaian hak cipta orang. Aku bikin beginian, buat diriku sendiri, dan kata-kata yang aku pakai di infografis hasil pemikiran orang lain. I bought the books abroad, read them, and Instagram people just take it for the sake of caption. I hate it!" 

Kayak aku dong, balas saya merasa kesepet. Aku juga suka ambil kutipan dari buku buat bikin caption

Dan dia bilang, dengan perkembangan teknologi saat ini makin banyak orang yang belum sadar etika kutip mengutip sesuatu, apalagi kalau akhirnya menjadikan kutipan yang dibuat jadi komersial. 

"Itu yang jadi salah satu highlight buat aku kenapa malas bersosmed. Semua orang sepertinya jadi punya tuntutan untuk harus selalu komentar banyak hal, yang kadang mereka sendiri nggak tahu-tahu banget. Sosmed itu bikin makin banyak yang males baca buku, makin banyak yang suka hal yang instan, the world will slowly dying."

Nah, sampai sini dapat kan gambaran kenapa teman saya ini nggak suka bersosmed.

Jadi, orang yang bersosmed sebenernya ngga selalu gaptek. Justru kadang karena mereka paham behind the scene of technology, mereka memutuskan buat nggak terbawa arus utama. 

Kalau ngulik lagi tentang hal itu, saya juga bakal diceramahi tentang dampak negatif bersosial media. Saya sering ikut baca kajian psikologis yang sedang dia susun untuk bukunya, dan kadang jadi merasa ngeri sendiri juga sih. 

Nah, karena Arisan Gandjel Rel periode 15 ini bertema tentang Internet Sehat, saya sengaja nodong teman saya ini untuk kasih tips supaya tetap sehat bersosmed.

Here we go:

Wednesday, November 22, 2017

Pilihan Warna Lipstick Wardah Matte Intense

Di Indonesia ada banyak sekali brand kosmetik yang menawarkan lipstik dengan jenis berbeda-beda dan warna yang beraneka ragam. Salah satu brand lipstik lokal yang paling populer dan teruji kualitasnya adalah Wardah. 

Ya, brand kosmetik dengan bidikan konsumen para perempuan muslimah ini juga sangat terkenal dengan rangkaian merk lipstik berkualitas premium dengan harga yang sangat terjangkau. 

Salah satunya adalah Lipstik Wardah Matte kategori Intense Matte. Dalam satu set terdapat 12 warna yang bisa Anda pilih lho. Apa saja nih pilihan warnanya?



Warna Lipstik Wardah Matte 

Wednesday, November 1, 2017

Rumah Kampung Ramah Lingkungan


Jantung sebuah rumah adalah dapurnya, sementara nyawa dari sebuah rumah adalah kebun atau perpustakaan di dalamnya. 

Kalau dipikir-pikir, ujaran tersebut ada benarnya juga sih. Dapur adalah tempat kehangatan dan kehidupan disalurkan kepada seluruh penghuni rumah, sementara kebun atau perpustakaan menandakan ada tidaknya aktivitas penghuninya.

Kalau ada kebun, berarti ada seseorang yang berkebun artinya rumah tersebut bernyawa sementara perpustakaan menandakan ada orang yang membaca. Keduanya adalah aktivitas yang menandakan 'nyawa' atau kehidupan. 

Bicara tentang rumah atau hunian, teman-teman blogger Gandjel Rel Semarang lagi dapat peer nih dari Mba Archa seorang blogger sekaligus dosen arsitektur dan Mba Dian Nafi penulis yang punya latar belakang pendidikan arsitektur juga. Peernya adalah menuliskan seperti apakah rumah impian kami sedetail-detailnya. Gitu ya, memang kalau dapet peer dari orang arsitektur semuanya mesti detail, hehehe. 

Rumah impian versi saya sebenarnya simpel, punya tiga hal yang saya sebutkan di atas tadi; dapur, sedikit kebun, dan perpustakaan. Tapi pasti ngga boleh kan nulis gitu doang, kan mesti detail. Jadi mari memvisualisasikan impian tentang rumah idaman tadi. 

8 Alasan Kenapa Kamu Harus Coba Body Rafting Di Sungai Citumang


Teman-teman, sudah pernah mendengar istilah rafting kan? Rafting atau arung jeram termasuk olahraga petualangan yang banyak diminati.

Biasanya rafting menggunakan rakit atau perahu karet sebagai sarana untuk mengarungi arus sungai. 

Nah, berbeda dengan body rafting, sarana yang digunakan untuk mengarungi arus sungai adalah dengan menggunakan tubuh kita sendiri yang dibalut pelampung. Menarik, menantang, atau malah bikin takut? 

Buat saya yang sudah pernah mencoba body rafting, justru bakal memberikan delapan alasan kenapa kalian mesti mencoba olahraga petualangan ini, tentu lokasinya di Sungai Citumang.  

Yuk, simak apa saja ke delapan alasannya. 

Friday, October 27, 2017

Peace of Mind Dengan Asuransi Kendaraan Garda Oto Digital


Salah satu hal yang suka bikin deg-degan dalam hal membagi pos-pos keuangan adalah waktu menyiapkan sebagian dana yang saya dapat untuk pos pengeluaran tidak terduga. 

Meskipun dalam ilmu pengaturan finansial rumah tangga pasti ada hitung-hitungan tersendiri sehingga keluarlah berapa persen yang harus kita anggarkan di pos tersebut, namun seringnya jumlah yang saya simpan untuk pos pengeluaran tidak terduga ini jumlahnya agak asal. Ketahuan banget deh, kalau finansial manajemennya masih berantakan, hehehe. 

Kenapa bikin deg-degan, pasalnya pengeluaran tidak terduga ini kan ngga ketahuan ya bakal buat apa. Tapi biasanya paling sering buat jaga-jaga kalau mobil bermasalah. 

Cuma ya gitu, kadang jumlah yang disimpan ngga pas dengan jumlah yang harus dikeluarkan untuk urusan mobil. Jadinya lebih sering nombok dan ambil dari pos lainnya. 

Berkaca dari pengalaman. Dua tahun silam, selepas pukul sepuluh malam, di sebuah perempatan antara Jl. Tanjung, Depok, dan Pemuda Semarang mobil saya dihantam pengendara motor tepat di bagian pintunya hingga melesak ke dalam. 

Waktu itu pas banget saya sedang renovasi rumah jadi entah gimana nggak menyiapkan pos untuk dana tak terduga itu. Jadi pas mau ke bengkel rasanya berat banget karena harus merogoh kocek begitu dalam dari pos yang lain. 

Tahun ini saya berpikir untuk mencoba asuransi kendaraan yang sudah tidak asing lagi, yaitu Garda Oto, sebuah asuransi mobil terbaik dari Asuransi Astra.

Wednesday, October 25, 2017

Ciletuh Amazing Geopark : Awaken Your Five Senses Journey.

Photo credit : Ron Agusta 

Have you ever made a journey that truly enliven the five senses? 

If you have never felt a travel journey like that, then it is time for you to directed your compass trip to an area that, when viewed from the sky, resemble a horseshoe facing directly to the Samudera Hindia.

The area called #GeoparkCiletuhPalabuhanRatu is located in the southwest of #Sukabumi regency, West Java, Indonesia. Geopark Ciletuh-Palabuhan Ratu is easily accessible from the nearest big cities like Jakarta, Bandung, Bogor, and Sukabumi.

For the uninitiated, Geopark is a sustainable area development management concept that harmonizes geological, biological, and cultural diversity through conservation principles and spatial plans.

Geopark is a geographical region that has a leading geological heritage site. Geopark Ciletuh-Palabuhan Ratu itself has a rare and unique geodiversity. Even some experts say that the area is the First Mainland in West Java.

Geopark Ciletuh-Palabuhan Ratu is designated as National Geopark by the Indonesian National Committee for UNESCO.

The beauty of the landscape of Geopark Ciletuh-Palabuhan Ratu is represented by several points, such as in the southern part of which is very monumental so called 'Amphitheater', while in the middle there is Jampang Plateau known as 'Plato Jampang' and in the north there is the existence of gesyer and some hot springs.

Now, let's begin the journey to awaken the five senses.


The natural wonder that happens every day but often we taken for granted for the beauty is the moment when the sun rises and sinks.

There are several strategic points to pamper the eyes with sunrise or sunset views in the Geopark Ciletuh-Palabuhan Ratu area :

Monday, October 23, 2017

Belajar Surfing Di Pantai Citepus Palabuhan Ratu


Ombak setinggi tiga meter bergulung menuju bibir pantai yang berbatu. Suara bergemuruh dari ombak dan bebatuan yang bergeser karena hempasan air laut menjadi salah satu latar suara yang mengiringi pembukaan acara Amazing Geopark Adventure Tourism 2017, di Pantai Cimaja kawasan Geopark Ciletuh Palabuhan Ratu, Sabtu 14 Oktober 2017. 
Menpar Arief Yahya Di Pembukaan AGAT 2017. Photo by : Agus Rustiawandi 

Photo by : Agus Rustiawandi

Salah satu atraksi yang menarik perhatian pada acara tersebut adalah International Surfing Exhibition 2017 yang dihadiri oleh 14 surfer pro internasional dari Amerika Serikat, Australia, Italia, Inggris, Jepang, Kanada, Maladewa, Maroko, Philipina, Singapura, Selandia Baru, Thailand dan Taiwan. 

Ada juga 14 surfer nasional dari Bali, Banten, Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Sumatera Selatan, Yogyakarta dan Jawa Barat. 

Ini merupakan pengalaman pertama saya menyaksikan olahraga surfing secara langsung. Selama ini hanya menonton di layar kaca bagaimana atraksi surfing berlangsung. Kemarin selain bisa menyaksikan langsung bagaimana perselancar asal Jawa Barat, Dede Suryana, yang telah mendunia lewat keahliannya menaklukkan ombak, saya juga menjajal sendiri bagaimana, sebenarnya olahraga surfing itu.

Friday, October 13, 2017

Berbagi Kebahagian Dengan Menjadi Duta Zakat Di Lazizba


Pernah dengar kan ucapan atau kalimat kalau apa yang benar-benar kita miliki sebenarnya adalah apa yang kita bagikan kepada orang lain?

Apa pun itu, baik ilmu, rezeki, maupun jasa atau tenaga rasanya akan menjadi sumber kebahagian jika bisa bermanfaat bagi orang lain.

Nah, misalkan suatu saat kita sedang diberi kelapangan rezeki lalu ingin berbagi, kemudian bingung mau menyalurkannya kemana, saya punya rekomendasi nih. 

Buat yang berdomisili di Semarang, tahu dong Masjid yang ada di tengah-tengah kota dan dekat sekali dengan Simpang Lima?



Di sana ada sebuah lembaga amil zakat, yaitu Lazis Baiturrahman yang akrab disebut Lazizba. Lembaga amil zakat ini berada di bawah Yayasan Pusat dan Pengembangan Islam (YPKPI). 

Wednesday, October 11, 2017

Lima Hobi WAHM Yang Menjaga Kewarasan


Sudah pada tahu kan kalau tanggal 10 Oktober 2017 adalah Hari Kesehatan Mental Sedunia?
WHO sebagai organisasi kesehatan dunia memperingati Kesehatan Mental Dunia pada 10 Oktober dengan tujuan meningkatkan kesadaran seputar kesehatan mental dan menggerakan usaha untuk mendukung kesehatan mental yang lebih baik. 

Perayaan tersebut pertama kali diinisiasi oleh World Federation for Mental Health pada tahun 1992. Misinya adalah untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan advokasi masyarakat seluruh dunia mengenai kesehatan jiwa. 

Di Indonesia, Hari Kesehatan Jiwa Sedunia baru mulai ditetapkan pada tahun 1993. Misinya untuk menghormati hak ODMK (Orang dengan Masalah Kejiwaan), memperluas program pencegahan masalah kesehatan jiwa, mendekatkan akses kesehatan pada masyarakat, memperluas cakupan pelayanan, dan meningkatkan upaya kesehatan jiwa secara optimal.

Tahun 2017 ini penekanan temanya ada pada Kesehatan Mental Di Tempat Kerja. Dikutip dari laman independent.co.uk bahwa satu dari empat orang dewasa merasakan bahwa pada satu titik, sekali dalam setahun, dirinya mengalami sakit mental. 

Apa saja sih, penyakit mental yang dimaksud tersebut? 

Kalau menyimak berita yang cukup nge-hits beberapa minggu yang lalu pasti tahu dong kasus vokalis Linkin Park yang memutuskan untuk bunuh diri. Menurut keluarganya, Chester Benington ini mengalami depresi.

Depresi, stress, kecemasan adalah beberapa bentuk gangguan kesehatan mental yang dapat terjadi pada pekerja atau karyawan. 

Tapi nggak menutup kemungkinan kalau orang yang tidak bekerja dengan office hour 9 to 5 nggak bakalan mengalami gangguan kesehatan mental. 

Nah, kali ini saya mau menyoroti sedikit tentang gangguan kesehatan mental pada Work At Home Mom atau yang lebih dikenal dengan istilah WAHM.


Banyak yang berpikiran kalau jadi Ibu Bekerja Dari Rumah itu enak. Kerjanya bisa dasteran aja, bisa curi-curi tidur siang, bahkan sambil ngelonin atau nemenin si kecil main. 

Tapi benarkah begitu realitanya? Benarkan seorang WAHM bisa mengalami stress layaknya pekerja kantoran? 

Tuesday, October 10, 2017

Bersepeda di Sepanjang Pulau Panjang


"I still believe in paradise. But now at least I know it's not some place you can look for. Because it's not where you go. It's how you feel for a moment in your life when you're a part of something. And if you find that moment... It lasts forever"

Kalimat itu adalah salah satu penggalan dialog yang diucapkan oleh Richard (diperankan oleh Leonardo Dicaprio) dalam film The Beach yang rilis 17 tahun silam. Sudah pernah nonton kan? 


Kalau belum, coba deh cari filmnya. The Beach bercerita tentang perjalanan seorang Backpacker bernama Richard di Bangkok. Saat di hostel ia mendengar tetangganya bercerita tentang sebuah pantai tersembunyi yang belum banyak dikunjungi turis bahkan katanya pantai tersebut adalah 'surga tersembunyi' bagi para backpacker. Richard kemudian berusaha menemukan peta rahasia yang bisa memberikan petunjuk untuk membawanya ke sana.

Bicara tentang tempat wisata yang selalu mendapat julukan 'surga tersembunyi' atau 'kepingan surga di bumi' rasanya suka jadi dilematis deh, antara ingin menceritakan pada semua orang tentang keindahan tempat itu atau tetap menjaga kerahasiaan agar imaji 'surgawi' dari tempat itu tetap terjaga.

Monday, October 9, 2017

Jika Anak-Anakku Bersekolah Di Finlandia


Disclaimer : ini tulisan lama yang saya posting ulang dari judul asli 'Andai Anak Kita Bersekolah di Finlandia atau Korea Selatan' yang juga pernah dimuat di portal online. Karena temanya masih relevan dengan dunia pendidikan baru-baru ini, jadi saya putuskan untuk mengunggah di blog pribadi juga.

Tulisannya cukup panjang, jadi siapkan cemilan dan kopi ya buat temen baca. 

Selamat menikmati.

Salah satu buku yang bisa jadi rujukan kalau ingin tahu lebih dalam tentang sistem pendidikan di Finlandia. Karya Timothy D. Walker

Dunia pendidikan Indonesia sedang mengalami demam. Penyebabnya masih harus ditelusuri. Bisa jadi ini karena Pak Anies Baswedan baru saja pergi membawa sebagian besar harapan masyarakat Indonesia akan pendidikan yang lebih baik, sebagian yang lain mungkin sedang meraba-raba dahi dan bertanya-tanya apakah ini karena wacana yang digulirkan Pak Menteri baru tentang mewajibkan anak-anak untuk full day school

Reaksi masyarakat terhadap demam ini beragam, sebagian ada yang berangan-angan, "Andai anak-anak kita sekolah di Finlandia."

Tidak ada PR di Finlandia, jam sekolahnya pun lebih pendek, tetapi sistem pendidikan di sana melahirkan anak-anak yang lebih pandai dan lebih sukses.


Tetapi benarkah anak-anak pandai itu lahir dari jam sekolah yang pendek dan tidak adanya PR?

Sunday, October 8, 2017

Maliobro City Walk Sambil Mengenal Beda Sunblock dan Sunscreen


"Memang masih perlu ya, pakai sunblock pas jalan-jalan kalau kita sudah pakai baju tertutup dan kaos lengan panjang," tanya saya kepada teman jalan-jalan ke Malioboro beberapa minggu yang lalu. 

Apalagi ini mataharinya nggak panas-panas banget lho." tambah saya sambil melihat langit Jogja yang agak kelabu siang itu. Matahari juga kayaknya nggak nyorot-nyorot amat meskipun udara Jogja tetap kerasa sumuk. 

"Iyalah Sis kan kamu nggak bisa lihat gimana sinar UVA dan UVB bisa merusak kulit kita. Tahu-tahu aja nanti muka kita muncul flek-flek hitam gitu." 

"Kalau buat muka, aku sih memang selalu pakai pelindung," jawab saya masih aja ngeyel. "Minimal oles pelembab yang ada SPF-nya. Memang itu nggak cukup ya? Kulit tangan dan kaki juga harus?" 

"Dih, biarin ah kalau tau-tau pulang dari Jogja kulit kamu gosong." balas teman saya itu jengkel. 

Saya pun mengabaikannya dan berjalan menghampiri salah satu Andong yang mangkal di ruas Jalan Malioboro. 

"Pak, kalau mau muter-muter Malioboro sini pinten, Pak?" 

"Dari sini, ke kantor pos lalu Stasiun Tugu, 60 ribu Mbak, gimana?" jawab Bapak yang mengenakan kemeja lurik dan blankon itu.

"Saya cuma mau muter Malioboro aja, Pak. Dari sini, ke belakang Jl. Bhayangkara terus balik lagi ke sini." 

"Oh, kalau itu 35ribu, Mbak." 

Saya pun mengiyakan dan mengajak teman saya itu untuk segera naik ke Andong tapi dia menolak, "kamu aja, aku tak nunggu di perpus ya, lagi malas panasan. Nih, pake'o jangan ndablek." katanya sambil mengangsurkan sebuah botol biru ke tangan saya. Sementara ia balik berjalan menuju sebuah perpustakaan yang ada di ruas Jalan Malioboro. 

Sambil menikmati pemandangan di sisi kanan dan kiri Jalan Malioboro, saya iseng membuka tutup botol itu. Rasa malas langsung menghampiri lantaran ingat kalau lotion sunblock itu seringnya lengket dan susah sekali menyerap di kulit.




Iseng-iseng, saya pencet dan tuang sedikit dong lotion itu ke telapak tangan. Saya endus juga baunya. Hmmm, kok baunya seger ya. Coba oles dikit, ah. 

Thursday, September 28, 2017

Seminar Bisnis Yang Bikin Nangis



Tanggal 19 Agustus 2017 saya catat sebagai pertama kalinya saya menangis di acara seminar bisnis. Ini bukan sekadar berkaca-kaca, tapi menangis yang sampai saya harus meninggalkan ruangan karena tiba-tiba isakan saya mulai mengundang pandangan orang lain di kiri, kanan, dan depan.

Saya keluar ruangan bukan karena malu mata dan wajah saya basah, tetapi karena harus mengendalikan diri. 

Di kamar mandi, saya menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya ke cermin, dan berkata: "mereka dikirim Tuhan untuk mendetoksifikasi racun-racun di otakmu, melegakan hatimu," 

Saya percaya salah satu tujuan manusia diberi Tuhan kemampuan menangis adalah untuk itu. 

Menangis di sebuah seminar bisnis adalah sesuatu yang nyaris baru buat saya, bahkan bisa dikatakan pertama kalinya. Jadi Mbak-Mbak penggagas tema arisan link blog periode 12 kali ini, yang temanya yang pertama-pertama itu, dan pemirsa sekalian sepertinya bakal kecewa kalau berharap postinganku tentang malam pertama, cinta pertama, dll hahaha. 

Terima kasih ya, Mba Marita dan Mba Dini akhirnya tulisanku yang ini bisa naik karena disambung-sambungin sama tema yang sekarang. 

Balik ke topik. 

Dua sosok pembicara yang duduk di depan panggung bukan sedang membetot otot kewirausahaan saya, tetapi sedang menyorot lubang tersembunyi di hati dengan penerangan setara lampu LED 20 Watt. Saking terangnya, saya bisa memaknai beberapa hal yang nggak terlihat sebelumnya. 

Friday, September 22, 2017

Aplikasi Yang Mendukungku Ngeblog dari Ponsel


Banyak yang suka nggak percaya kalau beberapa tulisan di blog ini adalah hasil ngetik menggunakan ponsel. Malahan pernah saat ada lomba blog bertema travel yang tengat waktunya mepet banget juga saya kerjakan pakai ponsel ini. 

Ada beberapa pertimbangan kenapa saya memilih mengunggah tulisan ke blog via ponsel. 

Sebagian besar ide-ide tulisan atau penggalan kalimat lebih sering saya tulis di aplikasi notes yang ada di ponsel. Setiap kali terlintas suatu ide atau ada kata-kata yang harus saya catat, paling gampang memang buka ponsel. Jadi rasanya lebih praktis mindah-mindahnya kalau nulis versi panjangnya juga pakai ponsel.

Dulu saya notebook mania, kemana-mana bawa buku notes, terus nanti kalau ada ide langsung coret-coret di kertas. Saat mau mindah baru buka laptop, dan mengetik ulang semua di sana. 

Kadang mikir, kayaknya kok kurang praktis, ya. Tapi cara begini juga punya keuntungan, yaitu nggak memakan memori ponsel dan risiko hilang atau terhapusnya lebih kecil, kecuali bukunya hilang, ya. 

Cuma semenjak jarang kerja pake laptop, kecuali untuk desain dan bikin laporan nan panjang, lebih suka mengandalkan dan memaksimalkan fitur dan aplikasi yang ada di ponsel buat mendukung pekerjaan menulis atau blogging. 

Kelebihannya ya karena praktis dan bisa dikerjakan dalam langkah-langkah yang lebih pendek. Kekurangannya, buat yang matanya minus harus benar-benar bisa mengatur penggunaan ponsel buat nulis panjang. Juga memerhatikan faktor pencahayaan di ruangan. 

Apa saja aplikasi dan fitur yang saya pakai selama ngeblog pakai ponsel: 

Glamping dengan 'Tenda' Kontainer Di Tepi Sungai Citumang.


Pernah nggak berkunjung ke suatu tempat, dan setelah pulang dari sana, pikiran kalian benar-benar nggak bisa move on dari tempat itu karena tersihir oleh keindahannya? 

Saya yakin sih, beberapa dari kalian pernah merasakan hal itu. 

Nah, kalau cerita 'nggak bisa move on' versi saya ini awalnya terjadi karena sebelum pergi ke tempat itu saya kayak meng-underestimate gitu. 

'Ahh, beneran nih, ada sungai yang airnya sejernih dan sebiru itu? Yakin ini bukan karena aplikasi filter foto?'


Kalau inget pernah membatin kayak gitu, jadi ngerasa kualat karena sekarang jadi kangen banget sama tempat dengan sungai berwarna toska beneran itu. 

Lebih kangen lagi karena di sanalah saya ketemu teman-teman travel blogger dari berbagai daerah dan merasakan pengalaman glamping dengan 'tenda' berbentuk kontainer yang ditata senyaman hotel berbintang. 

Saya bakal nulis beberapa poin kenapa saya ngga bisa move on dari tempat tersebut, tapi sebelumnya saya bakal kenalin dulu di manakah tempat ini berada dan bagaimana saya bisa sampai ke sana. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...