Monday, January 30, 2017

Catatan Homeschooling Tazka-Januari 2017 : Berharap Pada Ledakan Bahasa

Bulan Januari ini, kalau mengacu pada lesson plan yang sudah dibuat, tema home activities dan HS Adek Tazka adalah tentang mengenal tubuh dan bagian-bagiannya.

Berdasarkan lesson plan baru sekitar 60 persen materi home activities yang direncanakan bisa terealisasi. Pasalnya minggu pertama di bulan Januari Adek sempat sakit, begitupun di minggu terakhir ini, Adek sempat demam selama tiga hari, batpil sampai meler. 

Selain karena Adek sempat sakit, bulan Januari ini termasuk bulan berduka karena saya baru saja kehilangan Pakde tersayang. Selain itu hampir tiap minggu saya harus pergi ke luar kota bawa-bawa Adek untuk keperluan keluarga atau pekerjaan. 

Dari enam puluh persen hasil pembelajaran, target untuk pengembangan bahasa dan adab sehari-hari masih belum optimal. Tapi Adek sangat responsif dengan materi pengenalan anggota tubuh. Meski belum fasih menyebutkan namanya, namun dia sudah bisa menunjuk sendiri bagian tubuhnya, seperti mata, telinga, hidung, bibir, lidah, gigi, perut, kaki, kepala, rambut, dan tangan. 

Kalau saya perhatilan perkembangan verbal dan bahasanya di usia dua tahun (14  Januari 2017) masih cenderung lambat. Tetapi secara bahasa reseptif sangat baik. Dia sudah mengerti pembicaraan yang kami anggap panjang untuk anak seusianya. Sedikit berpikir bahwa kendala untuk mereproduksi kembali kata-kata yang sudah familiar baginya disebabkan karena pengajaran bahasa yang bilingual bahkan trilingual. Contoh sederhana, waktu berhitung selain menggunakan bahasa Indonesia, Adek juga meniru Kakak menggunakan bahasa Inggris dan kadang saya juga suka sedikit menyelipkan Bahasa Perancis. Sepertinya ini tugas saya untuk lebih konsisten dalam mengenalkan satu bahasa dulu. 

Selain karena bahasa di rumah yang campur-campur, saya berpikir apakah kendala Adek Tazka dalam mereproduksi bahasa disebabkan juga karena dulu dia sempat mengalami tongue tie dan lip tie sekaligus. Merunut ke riwayat perkembangan Pak Suami yang katanya juga mengalami keterlambatan bahkan sampai dewasa juga merasa sering kesulitan mereproduksi kata-kata, mungkinkah keterlambatan Adek ini ada kaitan genetisnya? Karena baru ketahuan kalau Ayah juga ternyata tongue tie dan liptie. Peer lagi buat Ibuk untuk banyak baca dan bertanya-tanya. 

Meski cenderung lambat, tapi menurut hasil screening saya, kemampuan verbal Adek masih dalam proses perangkaian di otaknya. Ia seperti sedang menyerap berbagai kata dan kemudian pada titik tertentu akan terjadi ledakan bahasa. Yes, be positive Mom!

Selain perkembangan kecerdasan verbal, saya menyoroti perkembangan kinestetiknya di tahun kedua ini cukup baik, ia dapat menirukan gerakan dari lagu Head, Shoulder, Knees, and Toes, menjaga keseimbangan tubuh saat berada di titian, dan bisa menari. Yipiee, thanks to Kakak yang ikut mengajari Adek menari yaa. 

Kecerdasan sosial Adek bulan ini banyak terasah oleh pertemuannya dengan berbagai figur, dari yang familiar sampai yang asing. The good things, waktu Adek ketemu Mamah-Papah saya saat mereka melayat Pakde saya, dia bisa mengenali kalau itu orang yang sama yang suka ngobrol di telpon dan juga bermain dengannya enam bulan lalu. Waktu dititip-titip sama saudara atau keponakan, alhamdulillah ngga kejadian yang namanya separation anxiety sama Adek. 

Bulan ini, Adek juga mulai punya ketertarikan dengan angka dan warna, mulai bisa memilih pakaian apa yang akan dia kenakan. Adek juga mulai hapal urutan membuat roti favoritnya, dan kemana arah supermarket langganan belanja mingguan kita. Jadi bisa dibilang kalau kemampuan spatialnya pun berkembang. 

Alhamdulillah, semoga Februari home activities nya lebih seru yaa 😊😊


Menempel panca indera yang hilang
Treasure Hunt : Berburu kartu my body



Wednesday, January 25, 2017

Kitchen Life : Daily Cooking Management

"Aku tuh, suka masak tapi ngga mau masak itu jadi beban. Cooking should be fun."

Itu komentar saya waktu pertama kali merintis bisnis Little Organic Kitchen di tahun 2013. Kalau dipikir-pikir sudah tiga tahun (dikurangi masa hibernasi selama setahun lebih karena kehamilan kedua ngga sanggup terjun ke dapur) saya menjalankan peran sebagai tukang masak.

Dari yang awalnya ngerasa ujung-ujung kuku kayak mau copot saking capeknya bikin pesanan sampai mulai terbiasa bangun menjelang dini hari tanpa alarm. Tahun kemarin termasuk yang lumayan capek dan bikin banyak belajar.

Terutama belajar manajemen waktu. Dan bab itu, duuh, belum lulus juga. Pelajaran penting banget yang lain adalah tentang mengatur menu masakan untuk keluarga. Ini jadi alert banget karena sejatinya saya ini koki keluarga. Kalau saya bisa memerhatikan pola makan, bikin resep dan pesanan konsumen harusnya sudah khatam dalam hal melayani konsumen utama yaitu, keluarga.

Pelajaran berharga di tahun kemarin salah satunya saya dapat juga dari dr. Tan terutama dalam hal mengatur menu makan anak-anak.

Pertama saya coba figure out masalah anak-anak yang berkaitan dengan makan adalah : BB rendah atau di bawah grafik normal usia, suspect untuk keduanya asupan protein yang belum memadai, si sulung picky eater dan susah mengikuti pola makan sehat. Si toddler gagal dalam ber-BLW. Makan sih, alhamdulillah lahap, tapi multitasking sambil mainnya itu lhoo.

Duh, peer saya banyak banget kan. Belum lagi PR pola makan kedua orangtuanya yang jadi sedikit berantakan karena kesibukan.

Tahun ini, pelan-pelan memperbaiki bersama. Salah satunya dengan memakai lagi trik lama menyiasati daily cooking. Antara lain:

1. Belanja Mingguan di luar keperluan Little Organic Kitchen.

2. Membuat menu mingguan dan menaatinya.

3. Semua bahan masakan disiapkan saat wiken, seolah akan memasak semua menu dalam seminggu. Taruh di tupperware atau plastik klip. Simpan di kulkas.

4. Memelajari cara mengolah masakan. Misalkan kalau sayuran apakah harus raw atau melalui proses tertentu. Pelajari juga cara penyimpanan berbagai jenis bahan makanan. Salah menyimpan juga bisa mengurangi kandungan gizi makanan tersebut.

5. Membuat bumbu dasar, misal baceman bawang putih, bumbu dasar putih, kuning, dan merah. Menyetok dressing sauce rumahan.

6. Mengolah bahan masakan yang tidak tahan lama dan menambahkan zat gizi tambahan. Misalkan membuat otak-otak ikan, tempura, frozen homemade nugget dengan menambahkan bahan pangan lain untuk menaikkan nilai gizinya, misal nugget ayam, brokoli, dan keju.

7. Membuat sendiri bekal praktis harian dengan cara yang sama seperti menyiapkan menu masakan harian.

Seperti contoh gambar di bawah: Stok pizza yang dipanggang setengah matang dan dibekukan plus adonan dan isian untuk stok bekal sekolah. Pizza setengah matangnya nanti bisa dihangatkan lagi. Praktis buat bekal pagi hari. Gambar di bawahnya, stok menu olahan berbahan dasar ikan.

Menu protein olahan untuk satu minggu: Eeomuk alias fish cake, pempek kulit, nugget ayam keju wortel, kekian ayam. 

Blueberry Cream cheese Bun. Roti favorit anak-anak belakangan ini. Biasanya saya nyetok sekalian buat bekal sekolah.

Kalau pagi hari berhasil menyiapkan bekal dengan paripurna itu rasanya puaas 😁😀

Saya percaya, makanan rumahan itu lebih enak. Bumbunya lebih spesial karena ada doa, kasih sayang, ketulusan dari pembuatnya.

Oya, selamat hari gizi nasional juga, ya. Semoga anak-anak Indonesia makin sehat karena tangan-tangan terampil para Ibu dalam mengolah makanan di rumah. #Giziterbaikdarirumah 😊😊


Monday, January 23, 2017

Tips Mencegah Tantrum Pada Anak Dua Tahun.


Konon ketika si kecil memasuki usia dua tahun, ia memasuki masa yang istilahnya nyebelin banget, terrible two. Di usia ini, si kecil cenderung cukup sering mengalami temper tantrum. Bahasa gampangnya sih, ngamukan atau nangis histeris karena suatu sebab.

Pencetusnya bisa banyak hal, dari yang bisa dipahami orangtuanya sampai yang sama sekali nggak terpikir oleh kita.

Pengalaman pribadi, Tazka (2month, 20 days) pernah tantrum gara-gara biskuit yang sedang dia makan bentuknya ngga utuh lagi. Yakali, Dek. Biskuit kalau digigit malah tambah panjang.

Tantrum juga bisa terjadi dimana saja, kapan saja. Duuh, coba kurus yang bisa terjadi di bagian mana saja dan kapan aja kita mau yaak.

Syukur-syukur tantrum pas di rumah yaa, ehtapi kalau misalnya si kecil tantrum pas kita lagi ngantri bikin paspor, belanja di swalayan, dan di tempat publik lain yang mengundang mulut orang buat nganga (awas kemasupan laler) terus bagaimana?

Pernah kejadian Si Adek yang strongwilled ini kekeuh pengin nyobain makanan sejenis ayam crispy berbumbu pedas yang sedang kita makan ...dudududu. Waktu kita akhirnya menyerah karena tantrumnya bisa bikin pengunjung lain kabur, terpaksa kita kasih icip tuh, ayam...hehehe, si toddler ganti nangis karena kepedesan dan alhasil orang-orang menatap balik ke kami dengan tatapan...you know lah.

Singkat cerita, Ibuk harus pinter-pinter nih, mempelajari pola tantrum si amazing two (iya, kami lebih suka bilang masa ini emejing)

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya si TT ini.  Tips dan triknya:

Thursday, January 19, 2017

(draft) Catatan Perjalanan Tujuh Tahun Kedua-Konflik

Konflik itu baik untuk perkembangan anak.

Kemarin sore, waktu Kakak pergi ke masjid untuk maghriban, hujan belum turun. Nggak lama kemudian, hujan turun lumayan deras, dan sudah waktunya Kakak pulang, sementara dia ngga bawa payung. Jarak dari rumah ke masjid kira-kira satu blok. Kepikiran buat ngejemput, tapi lalu mbatin: ini saatnya Kakak belajar sesuatu.

Beberapa waktu lalu, Kakak juga pernah lupa bawa bekal yang sudah disiapkan dari rumah. Kira-kira kirim ke sekolah atau nggak ya? Kemudian mikir, kalau nggak dikirim dia pasti laper banget, kalau dikirim, kira-kira besok Kakak akan mengulang kesalahan yang sama nggak ya?

"Bun, kemarin itu di sekolah Ezra nangis karena penghapusnya hilang..." cerita Bu Guru di sekolahnya. Waktu itu, Ezra juga cerita kalau beberapa temannya komentar, "cuma penghapus aja kok,nangis..."

Saya lalu ngobrol sama Bu Guru pas rapotan;menjelaskan kenapa karena hal kecil itu Ezra menangis. Soal gampang nangis itu, sebenernya juga PR buat saya untuk mengajarkan Ezra agar tidak terlalu sensitif dan be a tough boy.

Balik lagi soal penghapus. Jadi, sejak masuk SD, kami memang mengajarkan Ezra untuk menjaga barang-barang pribadinya. Sekarang, kami mungkin masih mengamanahkan hal kecil seperti alat-alat tulis, tetapi seiring waktu, amanah yang akan kami berikan akan bertambah besar, termasuk amanah untuk menjaga dirinya sendiri.

Jadi biarlah sekarang dia menangis untuk penghapusnya yang hilang dan tidak akan kami ganti, daripada kelak dia akan menangis karena kehilangan sesuatu yang lebih besar.
Alhamdulillah, Bu Guru mendukung prinsip yang sedang kami ajarkan.

Cerita yang berbeda. Dulu, di sekolah lamanya, sepatu Kakak pernah tertukar sehabis ngaji di masjid. Saya lalu memintanya kembali ke sekolah, mencari anak yang sepatunya tertukar. Sejak itu saya katakan kepadanya: "Kakak harus perhatian sama barang-barang yang dibawa, kalau hilang atau tertinggal, itu tanggung jawab Kakak."
Atau pernah juga saat bukunya tertinggal. "Sekolah kan, tugas Kakak. Bunda ngga akan antar, biar kakak tahu arti tanggung jawab."
Gurunya saat itu bilang kalau seharusnya saya tidak terlalu menuntut anak dengan menambahkan konflik yang nggak perlu karena tugas ortu adalah melancarkan proses belajar anak. Artinya, kalau bukunya tertinggal, harus diantarkan. Saat itu saya memang tidak mengantar bukunya karena saya pikir, mungkin benar kegiatan sekolahnya akan lancar, tetapi Kakak tidak akan 'belajar'.

Kakak nanya, "tanggung jawab itu kalau penghapusku ilang, aku harus beli sendiri lagi kan, Bun?"

"Bisa jadi. Tapi itu artinya Kakak juga harus ngerasain akibat dari sikap Kakak sendiri. Misalnya jadi repot karena minjem penghapus terus," jawab saya.

Beberapa hari kemudian ayahnya meminjami penghapus. "Dijaga, ya." Nggak lama setelahnya, dia mendapat dua penghapus baru, satu dari goodie bag ultah, satu dari teman sekelasnya. "Ini harus dijaga, Bun," kata Ezra dengan muka berseri-seri.

Saya pun ikut senyum dan berpikir bahwa tanggung jawab bisa terasah karena konflik. Selalu menjadi bemper untuk setiap konflik yang dihadapi anak berarti pelan-pelan mengajari anak melepas tanggung jawab. Biar deh, sekarang susah-susah dulu, In syaa Allah ke depannya bisa lebih baik.

Tuesday, January 10, 2017

Hotel Review : Sala View For Short Staycation

Ada beberapa poin ceklis yang saya bikin kalau mau staycation di suatu hotel.
Antara lain :
1. Lokasi hotel dan jaraknya dengan pusat wisata atau hiburan di kota tersebut.
2. Ada kolam renangnya atau tidak?
3. Sarapannya oke atau nggak ?

Kalau berdasarkan tiga poin ceklis itu, Sala View Hotel yang lokasinya nggak jauh dari Stasiun Kereta Api Purwosari tersebut masuk kategori tempat staycation yang cukup nyaman, kids friendly dan budget friendly.

Menemukan Sala View Hotel ini berawal dari ada pekerjaan yang harus diselesaikan selama beberapa hari di Solo, kemudian harus hotel hopping, lalu ketika akhir pekan tiba dan anak-anak ikut serta karena sedang liburan sekolah, saya pun mencari tahu beberapa hotel yang fasilitasnya cukup nyaman buat anak-anak dan ramah di kantong.

Dan Sala View pun menjadi pilihan. Pertama kali, tertarik dengan sky poolnya. Sepertinya akan seru melihat pemandangan Kota Solo dari ketinggian. Akhir pekan kedua di Solo pun kami habiskan bersama anak-anak di hotel ini.

Si sulung sudah ngga sabar untuk melihat sky poolnya, dan waktu naik ke atas agak sedikit ohhh, kolamnya kecil yaa...tapi blessing in disguisenya kolamnya jadi lebih kids friendly, dengan kedalaman 0,8 m saya ngga khawatir mengajak si toddler ikut main air di kolamnya. Sekadar tips, bisa lho berenang lebih pagi saat masih sepi, selain nyaman juga dapat bonus lihat sunrise dari rooftopnya.

Soal lokasi, sebenarnya ngga istimewa banget. Selain dekat dengan Stasiun Kereta Api, tinggal jalan kaki kurleb 100 meter, dan juga berhadapan dengan ruas Jalan Slamet Riyadi dengan city walknya, selebihnya --kalau tujuannya mau mengeksplorasi Kota Solo-- agak terlalu jauh dari keramaian. Tapi karena dasarnya kami niat pindah tidur, hihihi...jadi it's oke lah. Oya sebenernya ngga jauh juga sih dari Stadion Manahan dan di dekat hotel ada koridor Batik Trans juga.

Nah, untuk sarapannya tergolong memuaskan. Ada buah-buahan, yoghurt yang yummy, western breakfast, Indonesian food kayak nasi goreng, soto, dan bubur ayam juga ada. Dengan menu yang cukup variatif, rasa yang enak dan fresh, plus tempat bersantap yang airy, fresh, dan nyaman, hotel ini boleh lah masuk rekomendasi untuk didatangi lagi.

Ini beberapa foto dari hotel Sala View yang berhasil diabadikan.



Tuesday, January 3, 2017

Rumah Turi Solo

Setelah hampir tiga tahun lebih, akhirnya saya kembali lagi ke hotel ini. Awalnya gara-gara gagal liburan ke Jogja karena ada pekerjaan akhir tahun yang mendadak. Sebelumnya, kami sudah berencana bakal jalan-jalan Jogja dan ngecim salah satu hotel yang mengusung green life style di sana, tapi karena pekerjaan mengharuskan untuk berada di Solo selama beberapa hari, akhirnya salah satu pilihan akomodasi penginapan saat keluarga harus ikut menyusul jatuh pada Rumah Turi ini.

Meskipin termasuk hotel butik, tapi lokasi Rumah Turi ini relatif dekat dari pusat kota. Kalau dari Solo Paragon Mal tinggal jalan kaki kurang lebih lima menit. Dari perempatan Solo Paragon kita tinggal menyeberang ke arah daerah Turisari Mangkubumen lalu berjalan sedikit sampai menemukan jalan Srigading II No.12, di situlah Rumah Turi Eco Hotel berada. Lokasinya memang berbaur dengan rumah penduduk sekitar jadi cukup tenang meskipun tidak jauh dari keramaian.

Di halaman depannya ada pohon turi merah yang sedang berbunga, dan saat masuk ke halamannya langsung terasa aura segar dan hijaunya. Deretan tanaman yang ditata dalam gaya vertikal garden semakin menambah kuat kesan green life style.

Kalau baru pertama ke sini jangan kaget kalau hotelnya terasa sepi dan mungil. Rumah Turi memang mengusung konsep butik dan gaya hidup ramah lingkungan, jadi penggunaan lighting pun sangat minimalis dan disesuaikan dengan kebutuhan.

Saat itu kami sampai di hotel masih siang, jadi lampu-lampu pun belum dinyalakan, begitupula dengan area restoran yang masih gelap dan baru dinyalakan beberapa lampu saat ada pengunjung.

Saya dan keluarga memang sengaja mencari suasana penginapan yang tenang dan hommy, apalagi setelah beberapa hari merasa penat dengan pekerjaan. Sayangnya, memang tidak banyak fasilitas yang bisa membuat anak-anak betah lama-lama di sini, misalnya kolam renang atau play area. Kalau boleh dibilang, Rumah Turi ini lebih cocok buat pasangan honeymoon atau solo traveller yang sedang ingin mencari ketenangan.

Setelah melihat-lihat kamar, kami bersantap siang dulu di restonya. Sedikit berbeda dengan beberapa tahun lalu, kini menu makanan di resto ini sudah berubah konsep jadi makanan sehat. Ada juga beberapa menu vegetarian. Padahal saya lagi pingin makan Empal Gentongnya, akhirnya karena tidak ada, saya memesan tumis sayuran yang fresssh dan enaak. Sementara anak-anak memesan nasi goreng. Waktu ngobrol-ngobrol dengan pelayannya dijelaskan kalau saat ini masakan yang dibuat menggunakan bahan-bahan alami, nasi goreng ayamnya saja menggunakan ayam kampung.

Penasaran dengan hotel boutique yang eco friendly ini, silakan lihat-lihat fotonya. Oya, yang lucu ternyata hotel ini masih bersaudara dengan hotel di Jogja yang rencananya mau kami inapi. Rumah Turi ini lebih duluan dibangun, sementara Green Host di Jogja masih baru jadi terhitungnya adik dari Rumah Turi di Solo ini. Konsep yang diusung pun sama, hotel hijau ramah lingkungan.






Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...