Monday, January 23, 2017

Tips Mencegah Tantrum Pada Anak Dua Tahun.


Konon ketika si kecil memasuki usia dua tahun, ia memasuki masa yang istilahnya nyebelin banget, terrible two. Di usia ini, si kecil cenderung cukup sering mengalami temper tantrum. Bahasa gampangnya sih, ngamukan atau nangis histeris karena suatu sebab.

Pencetusnya bisa banyak hal, dari yang bisa dipahami orangtuanya sampai yang sama sekali nggak terpikir oleh kita.

Pengalaman pribadi, Tazka (2month, 20 days) pernah tantrum gara-gara biskuit yang sedang dia makan bentuknya ngga utuh lagi. Yakali, Dek. Biskuit kalau digigit malah tambah panjang.

Tantrum juga bisa terjadi dimana saja, kapan saja. Duuh, coba kurus yang bisa terjadi di bagian mana saja dan kapan aja kita mau yaak.

Syukur-syukur tantrum pas di rumah yaa, ehtapi kalau misalnya si kecil tantrum pas kita lagi ngantri bikin paspor, belanja di swalayan, dan di tempat publik lain yang mengundang mulut orang buat nganga (awas kemasupan laler) terus bagaimana?

Pernah kejadian Si Adek yang strongwilled ini kekeuh pengin nyobain makanan sejenis ayam crispy berbumbu pedas yang sedang kita makan ...dudududu. Waktu kita akhirnya menyerah karena tantrumnya bisa bikin pengunjung lain kabur, terpaksa kita kasih icip tuh, ayam...hehehe, si toddler ganti nangis karena kepedesan dan alhasil orang-orang menatap balik ke kami dengan tatapan...you know lah.

Singkat cerita, Ibuk harus pinter-pinter nih, mempelajari pola tantrum si amazing two (iya, kami lebih suka bilang masa ini emejing)

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya si TT ini.  Tips dan triknya:

1. Perhatikan Bawaan Dasar Orok.

Periksa apakah kebutuhan dasar dan bawaan orok si dua tahun sudah terpenuhi semua, misalkan saat bepergian atau menghadiri suatu acara. Apakah dia haus atau lapar, apakah sudah jamnya tidur, dsb. Banyak kondisi mendasar yang umumnya menjadi triggers dari tantrum itu sendiri.

2. Tanda Untuk 5 Menit Berikutnya.

Kalau sedang main di suatu tempat, melakukan sesuatu, dan kegiatan tersebut akan berakhir, coba lakukan antisipasi dari awal.
"Dek, lima menit lagi kita pulang, ya." Atau, "...ini udah mau selesai ya, mainnnya."

Dengan memberi semacam warning, kita tidak menghentikan kegiatan dengan tiba-tiba yang dapat memicunya munculnya tantrum.

3. Perhatikan Apakah Ia Sedang Mencari Perhatian.

Tantrum bisa terjadi karena si kecil bosan dan tidak tahu bagaimana harus mengekspresikannya. Cara termudah adalah dengan mencari perhatian kita. Pelajari dan kenali tanda-tanda apabila si kecil merasa bosan, luangkan waktu berkualitas dengannya, dan beri penghargaan saat ia bersikap kooperatif dan menyenangkan agar ia juga tahu apa yang diharapkan darinya.

4. Terapkan Jadwal Harian yang Rutin.

Kegiatan yang terpola setiap harinya akan menurunkan tingkat kecemasan anak dan membuatnya merasa aman. Si kecil jadi tahu kapan ia harus makan, tidur, dan bangun. Dengan jadwal yang rutin, orangtua juga bisa mengantisipasi jika ada hal-hal yang tak biasa.

5. Mengajarkan anak 'feeling words'

Sebagian besar tantrum terjadi
karena anak memiliki keinginan atau merasakan sesuatu namun belum maksimal dalam mengekspresikannya. Orangtua bisa membantu mengajarkan beberapa pembendaharaan kata baru yang berkaitan dengan emosinya.

"Ibu tahu Adek lagi kesal ya, karena mainannya direbut."  Atau, "Adek ngga suka ya, karena di mal tadi berisik sekali."

6. Batasi Pilihan.

Untuk meminimalkan perasaan frustasi berikan maksimal tiga pilihan dalam suatu aktivitas, misalnya mau bermain mobil, dibacakan cerita, atau tidur. Untuk hal-hal tertentu, orangtua juga perlu mengenalkan bahwa ada hal-hal yang sifatnya wajib, misal harus melepas sandal saat masuk masjid, atau membuka pakaian saat mandi.

7. Alihkan Pada Hal Lain.

Ini jurus penangkal terakhir, biasanya orangtua sudah merasakan indikasi anak akan tantrum, misalnya saat di toko mainan dan anak sudah memilih mainan tetapi kantong kita tidak sreg dengan pilihannya.

Gunakan bahasa positif saat mengalihkan perhatian, misalkan...yuk, kita lihat mainan di sebelah sana yuk, ada yang warna merah kesukaan Adek.

Jangan katakan, ini mainannya jelek, ngga usah beli, yaa. Kalimat negatif seperti ini justru akan menjadi triggers untuk si kecil tantrum.

Foto di bawah ini merekam momen rentan tantrum si Adek :
1. Pergi ke kondangan malem saat Si Adek udah ngantuk.
2. Sedang main yang disukai tapi harus pulang.
3. Ngga mau mentas pas berenang.
4. Mau naik kereta tapi kereta yang akan ditumpangi belum dateng.

Momen rentan tantrum si kecil yang lain apa, Buibu?


15 comments:

  1. Tantrum kalau bahasa sundanya uring-uringan, kalau keponakanku ada yang udah bawaan dari orok ketika mau dibelikan sesuatu kudu diturutin, yang satu lagi keponakanku karena kecapekan biasanya 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi iyaa, uring2an ngga jelas dan kdg ga bisa dipahami ortunya 😂

      Delete
  2. 2 tahun pas syusyahhh banget makan Mbak. Yg uring2ngan emaknya. Akibat nggak doyan makan, sering sakit2tan. ALhamdulillah masa2 itu terlewati dg baik ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, problem makan anak tuh paling bikin gregetan ortu yaa, Mba. Dan klo udah lewat rasanya legaaa 😀

      Delete
  3. Hwaaaa, anakku mpe sekaranhpun masih suka tantrum. Kalo dimall tantrumpun aku biarin mba. Uda prinsip, kalo mamahe bilang engga. Ya engga. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, salah satu cara menangani tantrum, ortunya juga hrs keukeuh prinsipnya 😊

      Delete
  4. Mba Nia.. Tips-nya always keren banget.

    Hiks. Hasna yg juga strongwilled sering tantrum

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks Mba Arina, semoga bermanfaat. Oh Dek Husna strongwilled juga yaa..toss sama dek tazka

      Delete
  5. anakku juga pernah tantrum usia 3.5 th mbak gara2 mau punya adik. sempat konsultasi ke psikolog juta ternyata dia cemburu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waa, sibling rivalvy pdhl si dedeknya blm lahir ya, Mba...atau cemburunya pas si dedeknya udah lahir?

      Delete
  6. Anakku yang ke 3 sampai sekarang ga pernah tantrum, kalo yg pertama dan kedua dulu pernah tapi tidak sering. Mungkin karena takut liat Ibunya yg galak, haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Ika galak thoo ternyata hehehe 😊😊

      Delete
  7. thanks mba udah berbagi pengalaman, mesti aku inget ini buat bekal ntar kalau berumahtangga hehehhe

    ReplyDelete
  8. Anakku ini mau 17 bulan, Mbak. Kalau main air terus dilaramg Ya Allah, bisa teriak2 dia. Tapi ya gak lama sih. Masih bisa dialihkan.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...