Monday, February 20, 2017

Bulu-Bulu Yang Berterbangan

Ini cerita tentang 'berbagi sesuatu'.

Beberapa waktu lalu, di sore yang terik dan bikin kerongkongan kering, saya jajan sejenis pencuci mulut yang dijual di pinggir jalan. Singkat cerita setelah nyaris menandaskan semangkuk pencuci mulut nan segar, kegiatan menyeruput saya terhenti karena mendapati sesuatu yang menyerupai ulat kecil nan imut sedang asyik kecipak-kecipuk di kuah santan yang tadi saya seruput. 

Duh, ngapain kamu berenang di mari, ganggu aja. Sambil menyingkirkan si ulat imut itu saya pun menelisik isi mangkuk. Ternyata ada lagi temannya si Ucil, yang tampaknya sudah sugar coma, sebab perutnya sudah penuh oleh kuah yang manis. Karena menemukan lebih dari dua Ucil, kegiatan menyeruput kuah pun saya hentikan. Apalagi Ucil-Ucil ini tampak makin menyerupai Bilatung. Sambil agak bergidik kecewa karena kegiatan menuntaskan dahaga nggak paripurna, saya pun berharap pencernaan saya baik-baik saja. 

Selesai membayar dan beranjak dari tempat itu, saya kasak-kusuk sama Pak Suami. "Gimana tadi enak minumannya, ada yang aneh-aneh ngga?"  

Dan dijawab dengan gelengan. "Lumayan kok, seger." Terbukti juga sih, dari isi mangkuknya yang tandas tanpa sisa. 

"Punyaku tadi agak aneh, kayaknya ada salah satu bahan yang udah asem, jadi kayak ada ulet-uletnya gitu." tambah saya. Tadinya saya mau bilang 'besok-besok ngga usah jajan di sana lagi, deh'. Namun, tiba-tiba saya ingat tentang kisah 'Bulu-Bulu Yang Berterbangan' dan mengurungkan niat.

Beberapa waktu kemudian. Ada teman yang mengajak untuk ngiras di situ lagi. Padahal sudah janji sama diri sendiri buat ngga jajan di situ lagi, tapi si teman agak maksa. Waktu mau berbagi pengalaman makan di sana, saya kembali teringat dengan kisah 'Bulu-Bulu Yang Berterbangan'.

"Kamu udah sering makan di sana? Enak ya?" tanya saya, dan dijawab dengan anggukan dan rekomendasi positif. 

Oh oke. Di dalam diri mulai ada pertentangan dan keraguan.
Kasih kesempatan sekali lagi coba, batin saya. Karena kebenaran itu kan harus diuji dulu. 

Saya pun memesan menu yang sama. Sebelum asyik menyeruput, saya cermati dulu semua komponen yang ada di dalam mangkuk, sambil sesekali menghirup aromanya. Kalau-kalau ada yang tidak biasa. Setelah radar mengatakan aman, baru saya mulai makan. 

Sampai suapan terakhir, alhamdulillah semuanya aman. Saya lirik si teman, dia pun sama. Dasar mangkuknya kosong dan berkilat. Hati ini agak legaan. 

Coba kalau tadi saya langsung mengatakan: jangan makan di situ, makanannya basi! bla bla bla, dan si teman percaya lalu memviralkan, kira-kira masihkah ada yang datang ke lapak Si Bapak? Masihkah Si Bapak ini bisa menafkahi keluarganya? 

Meskipun pengalaman saya faktual, ada data yang bisa dipertanggungjawabkan, tetapi saya tidak punya wewenang untuk memukul rata bahwa semua produk jualan Si Bapak ini basi dan nggak layak jual. Mungkin saja kebetulan cuma punya saya yang asem dan ada Ucilnya karena satu atau dua komponen yang salah dalam bahan makanan atau proses memasaknya. Bisa juga karena faktor tempat yang terbuka, kebetulan ada lalat yang hinggap di salah satu bahan makanan yang disajikan kepada saya dan kebetulan si lalat ini membawa telur larva. Banyak kemungkinannya. 

Dan bagaimana kalau ternyata hari itu saya memang sedang ketiban ujian untuk menahan diri? Menahan diri untuk tidak buru-buru menghakimi sesuatu?
Image : modified from lifeandshape.org

Seandainya saya nggak ingat kisah tentang 'Bulu-Bulu Yang Berterbangan', mungkin saya lupa untuk menahan diri. 

Menyebarkan sesuatu itu seperti memburai isi bantal yang berisi bulu-bulu angsa ke udara. Kalau yang kita sebarkan kebohongan, memulihkan nama baik berarti mengumpulkan kembali bulu-bulu yang sudah berterbangan ke udara itu satu persatu.

Kamu sanggup?

Memilih Mainan Yang Tepat Untuk Anak Usia 0-3 Tahun


Ibu-ibu, pernah ngga waktu masuk ke toko mainan merasa bingung dengan mainan apa yang harus kita belikan untuk si kecil?

Saya sering. Memang sih, agak beda ceritanya kalau masuk ke toko mainan dan mengajak si kecil untuk memilih mainan yang menarik perhatiannya. Tapi cara seperti itu juga belum tentu menyelesaikan masalah lhoo. Kadang masalah baru yang muncul adalah baru beberapa hari di beli dari toko mainan, udah aja gitu mainannya ditinggal dan tidak dimainkan lagi. 

Kalau sudah begitu, letak kesalahannya dimana, ya? 

Kemarin waktu ikut ELC Parenting Club dengan tema memilih mainan yang tepat untuk anak usia 0-3 tahun, saya mendapatkan jawabannya. 

Kenapa anak bosan dengan mainan yang sudah kita belikan dan dipilihnya sendiri? 

Salah satu jawabannya adalah, mainan tersebut tidak lagi memiliki tantangan untuk dimainkan. Duh, main aja kok harus ada tantangannya segala sih. 

Ternyata pemilihan mainan juga harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan dan pertumbuhan anak. Spesifikasi mainannya harus sesuai dengan usia anak. Misalkan, mainan untuk anak dengan rentang usia toddler nggak sama dengan mainan khusus newborn. 

Anak-anak yang lebih besar cenderung ingin dapat memanipulasi mainan miliknya, bahasa sederhananya, bisa diutak-atik dan memiliki banyak kemungkinan cara bermain. Permainan seperti ini sangat merangsang imajinasi anak sehingga ia tidak mudah bosan dengan mainan tersebut. 

Selain itu, mainan harus ada sepaket dengan kehadiran orangtua atau pendamping. Iya, jadi quality time dan membersamai anak dalam bermain itu juga sangat penting.

Untuk beberapa permainan yang tujuannya mengasah perkembangan ketrampilan kognitif, orangtua wajib hukumnya mendampingi dan sedikit memberikan tantangan dalam permainan yang disajikan. Misalkan, saat menyusun gelang, orangtua bisa menyembunyikan salah satu bagia gelang untuk melihat bagaimana respon anak saat menghadapi masalah dalam permainan tersebut. 

Nah, untuk anak usia 0 sampai 3 tahun, mainan yang bisa diberikan harus merangsang beberapa aspek perkembangan yang sedang berlangsung dalam tahapan usia tersebut, misalnya kemampuan berbahasa, motorik halus dan kasar, serta kemampuan kognitifnya. Mainan yang diberikan pun memiliki tahapan dari yang simple seperti merangsang sentuhan, penglihatan, pendengaran, sampai yang complex seperti ilustrasi gambar di bawah. 

Nah, kalau kita ke toko mainan ELC rasanya kebingungan memilih mainan bisa sangat berkurang karena setiap mainan yang ada disertakan keterangan untuk rentang usia berapa dan apa saja tahapan perkembangan yang akan dirangsang dalam mainan tersebut. Memilih mainan yang tepat buat si kecil pun jadi lebih mudah.



Monday, February 13, 2017

Everglow



Ini kisah kenangan tentang seseorang yang telah pergi. 

Orang-orang umumnya tidak akan pernah melihatnya--kerlip cahaya yang berpindah dari sudut mata seseorang, ketika ajalnya telah dekat, ke benda-benda atau orang lain yang dekat dengannya saat itu. 

Tetapi aku bisa. 

Jadi siang itu, saat aku menjenguknya ke rumah sakit, dan dia sedang tertidur, aku mencium punggung tangan dan keningnya--sama seperti saat aku masih kecil atau saat aku terakhir kali mengunjunginya dan dia masih sehat.

Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, kerlip cahaya yang selalu ada di matanya, telah berpindah menempel di wajah, telapak tangan, dan lenganku. Aku tahu kerlip cahaya ini akan menempel terus padaku sampai harinya tiba. 

Aku pulang ke rumah dengan beribu kenangan tentangnya: Saat ia mengantarku mendaftar ulang kuliah di luar kota, saat hari raya tiba, bagaimana senyumnya, cara bicaranya yang unik, dan keramahannya yang selalu mewarnai hari-hari ketika aku berkunjung ke rumahnya.

Pada hari-hari di mana kerlip itu masih melekat padaku, aku bahkan bisa mengulang kembali semua kenangan masa kecil dimana dia ada di dalamnya. Begitu terang seolah aku sedang berada di rumahnya. 

Jumat pagi hari, satu minggu kemudian. Sehabis mencuci pakaian dan menjemur, aku mandi dan berkaca. Kupikir aku akan kuat ketika melihat kerlip itu menghilang dariku, namun aku justru terduduk lemas di depan pintu kamar mandi. 

Ponselku berdering, tanpa perlu menyimak orang yang berbicara di seberang telepon, aku sudah tahu berita apa yang akan disampaikan. Aku terisak, dadaku terasa begitu sesak karena setiap kenangan yang kemarin melekat terlepas satu persatu. 

Kamu pergi hari ini, Pakde. Jumat hari yang baik. Semoga husnul khotimah dan setiap zarah amal kebaikanmu diterima olehNya. 

Hari Jumat tiga pekan yang lalu di dalam mata yang terisak ada hati yang sedikit tersenyum, bersyukur karena aku sempat memeluk dan mencium keningmu, membisikimu terima kasihku karena telah menjadi bagian penting dari hidupku. 

Aku pernah ingat sebuah kisah darimu, tentang apa yang akan dilakukan orang beriman di alam kubur setelah ia selesai ditanyai oleh malaikat? 

"Apa?" tanyaku saat itu.

"Ia ingin segera bertemu dengan keluarganya."

Mengingat cerita itu membuatku kembali menangis. Kususut air mata dengan tanganku, masih ada sisa kerlip di sana. Sambil bersimpuh kubuka kedua tanganku, kulepas sisa kerlip yang masih ada di dalam genggaman tanganku. 

Semoga kelak kami dipertemukan kembali sebagai keluarga. 

(Dalam kenangan, 14 Februari 1947-20 Januari 2017)


Catatan :
Tentang Everglow.

Judul tulisan ini terinspirasi dari lirik lagu Coldplay yang berjudul 'Everglow'. Bagian lirik yang saya suka:
"So if you love someone you should let them know. Oh, the light that you left me will everglow"

Chris Martin sendiri waktu ditanya definisi tentang Everglow, begini jawabnya:

"To me, it's about--whether it's a loved one or a situation or a friend or a relationship that finished, or someone's passed away-- I was thinking about, after you've been through the sadness of something, you also get this everglow. That's what it's about." 

Tulisan ini diilhami kisah yang nyata, untuk mengenang Pakde saya yang tiga pekan lalu telah berpulang dan empat belas Februari adalah hari kelahirannya. Karena sebaik-baik pengingat adalah kematian.


Sunday, February 12, 2017

Product Review : Cloth Diaper Little Hippo




Sebagai Ibu yang anaknya memakai Clodi, senang sekali rasanya kalau ada produk baru yang bisa menjadi pilihan pemakaian clodi harian. 

Saya membagi pemakaian clodi si kecil jadi dua, yang dipakai malam hari saat tidur dan yang dipakai saat siang hari.  

Biasanya untuk clodi malam, saya memilih yang benar-benar tahan bocor sampai maksimal 8 jam pemakaian dan produk-produk yang dipilih clodi premium, sementara untuk pemakaian siang clodi yang digunakan yang relatif ekonomis. Ekonomis di sini tentu saja mengacu pada clodi yang harganya relatif lebih murah namun tetap berkualitas.

Ada beberapa brand yang saya gunakan dan termasuk dalam kategori murah namun berkualitas untuk pemakaian siang hari, dan kali ini saya akan mereview clodi dari little hippo

Kesan pertama yang saya rasakan dari  little hippo ini adalah meskipun merupakan produk bersegmen ekonomis namun tampilannya terlihat sangat rapi, dengan desain print yang menarik, cute look pokoknya. Kemasannya juga terlihat simple, bersih, dan praktis. 

Setelah di prewash dulu sebelum digunakan, saya langsung memakaikan clodi ini pada si kecil. Ternyata desainnya pas dengan lekuk tubuh si kecil, meskipun bagian belakang agak sedikit bulky setelah diberi insert, namun tidak mengurangi kenyamanan si kecil saat beraktivitas. 

Nah, soal ketahanannya bagaimana? Si kecil memakai clodi ini dari pukul delapan pagi, dan insertnya baru terasa sangat lembab saat pukul sebelas siang, cukup tahan lama bukan untuk pemakaian siang. Tentu saja setelah kurang lebih tiga jam saya memang selalu mengganti insert si kecil sembari mengajarinya toilet training. 

Bagian luar dari clodi ini memang memakai bahan anti air dan cukup tahan untuk pemakaian seharian, jadi cukup hemat juga karena tidak harus mengganti outernya. 

Setelah proses pencucian, clodi Little Hippo ini, baik insert maupun outernya termasuk yang mudah dibersihkan dan tidak meninggalkan bau tak sedap. Tentunya, ini juga berkaitan dengan proses pencucian yang benar, ya. 

Sejauh ini, saya cukup puas dengan clodi Little Hippo dan merekomendasikan juga kepada para Ibu yang anaknya memakai clodi untuk mencoba clodi yang murah tapi berkualitas ini. Selain karena harganya yang juga cukup bersahabat dan cocok untuk dipakai beraktivitas si kecil di siang hari. 

Thursday, February 9, 2017

Mencetak Pembelajar Dengan Mind Mapping

Salah satu learning habit yang pengin saya tularkan kepada anak-anak adalah belajar dengan menggunakan metode mind mapping.

Mind Mapping pengertian ringkesnya adalah pemetaan pikiran atau peta pikiran. Metode ini pertama kali dikembangkan oleh Tony Buzan, seorang Psikolog dari Inggris.

Kenapa saya ingin anak-anak, terutama si sulung, bisa belajar dengan cara ini salah satunya karena terkadang saya mendapati beberapa tujuan pembelajaran di sekolah hanya mengetes memori bukan pemahaman atas sebuah konsep. Ujung-ujungnya kadang anak-anak hanya hapal tapi tidak paham. Yang namanya hapalan itu kan, prinsipnya kalau ngga digunakan lagi informasinya maka ingatan akan informasi tersebut akan aus dan hilang.

Sementara mind mapping sendiri adalah proses memetakan pikiran untuk menghubungkan konsep-konsep permasalahan, dari cabang-cabang sel saraf membentuk korelasi konsep menuju pada suatu pemahaman dan hasilnya dituangkan langsung di atas kertas dengan gambar yang disukai dan gampang dimengerti oleh pembuatnya. Sehingga apa yang dibuat dalam bentuk mind mapping merupakan gambaran langsung dari cara kerja koneksi-koneksi di dalam otak.

Jadi, idealnya memang saat mau memindahkan sebuah konsep dari text book ke dalam mind mapping, kita sendiri yang membuat.

Tapi untuk mengajarkan dan membiasakan, terutama untuk anak usia SD, orangtua bisa memberi contoh dulu. Harapannya di usia SMP nanti sudah bisa membuat mind mapping sendiri.

Mind mapping ini mengajak anak untuk berpikir sistematis, dan melatih otak untuk menyimpan sebuah kesan atau citra dari sebuah gambar atau tulisan. Dengan cara ini memahami materi pelajaran jadi lebih cepat, mudah, dan fun.

Kalau lihat materi anak esde sekarang suka geleng-geleng kepala sendiri. Ini kalau pendidik dan orangtua nggak bisa mengarahkan anak jadi 'pembelajar' dan menyukai ilmu pengetahuan sepertinya sekolah hanya akan mencetak robot-robot penghapal dan penghasil nilai saja.

Membuat Mind Mapping

Lalu bagaimana orangtua bisa mulai mengajari metode mind mapping kepada anak-anak? Apa saja langkah-langkahnya.

1. Siapkan kertas kosong tak bergaris.
2. Pena dan pensil warna.
3. Otak.
4. Imajinasi.

Menurut Tony Buzan, membuat Mind Mapping membutuhkan imajinasi atau pemikiran, adapun cara pembuatan Mind Mapping adalah:

1) Mulailah dari tengah kertas kosong.
2) Gunakan gambar (simbol) untuk ide utama.
3) Gunakan berbagai warna.
4) Hubungan cabang-cabang utama ke gambar pusat.
5) Buatlah garis hubung yang melengkung.
6) Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis.
7) Gunakan gambar.

Panduan Membuat Mind Mapping


Pada gambar di bawah ini, ceritanya saya sedang membantu Kakak Ezra untuk menghapal materi PUK Pesta Siaga. Di bagian tentang penyakit, dibuat ilustrasi yang memberi kesan 'sakit', penggunaan warna, gambar, dan garis-garis tertentu dibuat agar otak menangkap kesan 'penyakit' sehingga ketika informasi ini disimpan di otak bisa masuk lebih dalam ke long term memori.

Bandingkan kalau memahaminya hanya dengan bentuk tabel atau tulisan. Selain memakan waktu yang lama, anak-anak juga mudah bosan karena rentang konsentrasi dan fokusnya masih pendek. Namun dengan metode ini, kreativitas anak akan terbangun, ia dapat lebih memusatkan perhatian dan memahami suatu konsep dengan lebih baik. Pada akhirnya, ketika anak belajar dengan senang, ia akan menyukai ilmu pengetahuan, ia pun belajar bukan hanya karena ingin mencetak nilai belaka, namun juga karena ingin menjalankan fitrahnya sebagai seorang pembelajar.




Thursday, February 2, 2017

What You Seek Is Seeking You




Akhir tahun kemarin Yang Maha Baik menitipkan beberapa pertanyaanNya untuk saya melalui beberapa orang yang melintas dan berbaur di jalan yang sedang saya lewati.

Bertepatan dengan habisnya analisis GROW lima tahunan saya. Pertanyaan-pertanyaan itu menyusupi pertimbangan untuk menyusun GROW lima tahun ke depan dan membuat hari-hari awal tahun 2017 ini diwarnai kontemplasi.

Menengok ke belakang sedikit--hal yang sebenarnya tidak suka saya lakukan karena saya tidak akan kembali lagi ke sana--tahun 2012 sampai 2013 adalah tahun di mana saya mengambil sebuah belokan tajam dari rancangan perjalanan yang awalnya lurus-lurus saja. Banyak yang hilang dari pengambilan keputusan tersebut, tetapi hidup harus terus berjalan. Saat itu saya harus mengurangi barang bawaan agar kendaraan tetap melaju, dan saya memutuskan hanya akan ada tiga hal penting yang akan dibawa dalam perjalanan.

Tentu tidak mudah memutuskan tiga hal terpenting apa yang harus saya bawa kala itu, tetapi Allah SWT yang Maha Baik sembari menitipkan satu lagi amanah di rahim saya-- sekaligus sebuah senyuman dan penawar rasa sakit-- membisiki sesuatu.

Setelah badai proses yang rumit untuk dijelaskan, saya memutuskan hanya ada tiga tas yang akan saya bawa dalam perjalanan.

Tahun-tahun selanjutnya--sampai sekarang, adalah tahun proses untuk melepaskan kemelekatan saya dengan barang-barang bawaan yang lainnya.

Namun, meski barang-barang bawaan yang lainnya itu sudah tidak ada di dalam bagasi kendaraan saya, tetapi mereka masih ada dalam pikiran saya.

Disadari atau tidak tahun-tahun berikutnya saya berjalan sambil memanggul beban yang tidak kelihatan.

Karena merasa diganduli saya sering merasa tidak bergerak kemana-mana. Saya masih dalam status mental yang sama. Semesta saya tidak berkembang.

Dua pekan yang lalu seorang rekan yang amat mengerti panggilan hati saya, bertanya sudah sampai mana perjalananmu? Apakah kamu sudah memenuhi panggilan jiwamu?

Saya belum bisa menjawabnya. Bersamaan dengan itu ada sebuah tawaran menarik dari seorang kolega untuk melanjutkan riset saya tentang dilema peran ibu bekerja. Riset berskala internasional yang mungkin akan menuntut saya untuk memulai lagi dari nol dan meninggalkan rumah, suami, serta anak-anak.

Lagi? Pikir saya. Terbayang malam-malam yang harus saya lalui sambil mendengar tangisan Ezra diseberang telepon, atau rengekan dan 'pura-pura' kuatnya dia saat saya berpamitan untuk pergi. Dan sekarang sudah ada Si Adek juga.

"Jangan terburu-buru menolak, ujar teman saya itu. Berdoalah agar Allah membukakan jalan yang terbaik. Mungkin saja kalian malah bisa hijrah sekeluarga."

Sama sekali nggak terpikirkan wacana pindah bersama keluarga, tapi saya meng-aamiin-kan. Allah Maha Tahu apa yang paling dibutuhkan. Mungkin sesuatu yang kita inginkan bukanlah yang kita butuhkan dan sebaliknya.

Sambil menarik napas dalam, saya mencoba menyamankan hati ini: Apa yang kamu cari juga tengah mencarimu. Saat kamu bergerak tenang layaknya air, yang mencarimu pun bergerak senada. Saat kamu bergerak berputar-putar seperti angin topan, yang mencarimu pun bergerak dengan cara yang sama, saat itu keduanya mungkin tidak akan bertemu karena jalan yang menghubungkan keduanya telah berserakan.

Yang perlu kamu lakukan hanyalah berserah. Sesuatu yang kamu inginkan mungkin hanya sebuah permainan pikiran, namun mungkin juga karena Allah menghendakiNya demikian. Ini tentang sikap. Apa yang kamu inginkan dan yang menginginkanmu bisa saja bertemu, perbedaannya terletak pada bagaimana pertemuan tersebut akan berlangsung. Apakah kalian akan bertemu dalam dua aliran air yang seirama ataukah dalam keadaan topan nan badai.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...