Monday, February 13, 2017

Everglow



Ini kisah kenangan tentang seseorang yang telah pergi. 

Orang-orang umumnya tidak akan pernah melihatnya--kerlip cahaya yang berpindah dari sudut mata seseorang, ketika ajalnya telah dekat, ke benda-benda atau orang lain yang dekat dengannya saat itu. 

Tetapi aku bisa. 

Jadi siang itu, saat aku menjenguknya ke rumah sakit, dan dia sedang tertidur, aku mencium punggung tangan dan keningnya--sama seperti saat aku masih kecil atau saat aku terakhir kali mengunjunginya dan dia masih sehat.

Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, kerlip cahaya yang selalu ada di matanya, telah berpindah menempel di wajah, telapak tangan, dan lenganku. Aku tahu kerlip cahaya ini akan menempel terus padaku sampai harinya tiba. 

Aku pulang ke rumah dengan beribu kenangan tentangnya: Saat ia mengantarku mendaftar ulang kuliah di luar kota, saat hari raya tiba, bagaimana senyumnya, cara bicaranya yang unik, dan keramahannya yang selalu mewarnai hari-hari ketika aku berkunjung ke rumahnya.

Pada hari-hari di mana kerlip itu masih melekat padaku, aku bahkan bisa mengulang kembali semua kenangan masa kecil dimana dia ada di dalamnya. Begitu terang seolah aku sedang berada di rumahnya. 

Jumat pagi hari, satu minggu kemudian. Sehabis mencuci pakaian dan menjemur, aku mandi dan berkaca. Kupikir aku akan kuat ketika melihat kerlip itu menghilang dariku, namun aku justru terduduk lemas di depan pintu kamar mandi. 

Ponselku berdering, tanpa perlu menyimak orang yang berbicara di seberang telepon, aku sudah tahu berita apa yang akan disampaikan. Aku terisak, dadaku terasa begitu sesak karena setiap kenangan yang kemarin melekat terlepas satu persatu. 

Kamu pergi hari ini, Pakde. Jumat hari yang baik. Semoga husnul khotimah dan setiap zarah amal kebaikanmu diterima olehNya. 

Hari Jumat tiga pekan yang lalu di dalam mata yang terisak ada hati yang sedikit tersenyum, bersyukur karena aku sempat memeluk dan mencium keningmu, membisikimu terima kasihku karena telah menjadi bagian penting dari hidupku. 

Aku pernah ingat sebuah kisah darimu, tentang apa yang akan dilakukan orang beriman di alam kubur setelah ia selesai ditanyai oleh malaikat? 

"Apa?" tanyaku saat itu.

"Ia ingin segera bertemu dengan keluarganya."

Mengingat cerita itu membuatku kembali menangis. Kususut air mata dengan tanganku, masih ada sisa kerlip di sana. Sambil bersimpuh kubuka kedua tanganku, kulepas sisa kerlip yang masih ada di dalam genggaman tanganku. 

Semoga kelak kami dipertemukan kembali sebagai keluarga. 

(Dalam kenangan, 14 Februari 1947-20 Januari 2017)


Catatan :
Tentang Everglow.

Judul tulisan ini terinspirasi dari lirik lagu Coldplay yang berjudul 'Everglow'. Bagian lirik yang saya suka:
"So if you love someone you should let them know. Oh, the light that you left me will everglow"

Chris Martin sendiri waktu ditanya definisi tentang Everglow, begini jawabnya:

"To me, it's about--whether it's a loved one or a situation or a friend or a relationship that finished, or someone's passed away-- I was thinking about, after you've been through the sadness of something, you also get this everglow. That's what it's about." 

Tulisan ini diilhami kisah yang nyata, untuk mengenang Pakde saya yang tiga pekan lalu telah berpulang dan empat belas Februari adalah hari kelahirannya. Karena sebaik-baik pengingat adalah kematian.


5 comments:

  1. terhanyut bacanya... hatiku nyes nyesan... hiks

    ReplyDelete
  2. Hiks..sedih bacanya.. semoga beliau husnul khatimah ya mbak amin

    ReplyDelete
  3. Semoga Pakdhe Mba Nia husnul Khatimah, dan kuburnya terang benderang. Aamiin..

    :(

    ReplyDelete
  4. aku juga suka banget lagu2nya cold play mbak..smoga khusnul khotimah mbak

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...