Thursday, March 16, 2017

Catatan Homeschooling Tazka-Februari 2017 : Arah Baru

Ada beberapa perubahan arah di aktivitas homeschooling Tazka bulan Februari kemarin. Kalau awalnya terpaku dengan lesson plan, bulan ini bisa lebih fleksibel dan cenderung dibalik; Adek lagi berada di fase apa, butuh stimulasi apa, baru disesuaikan dengan lesson plan

Di usianya yang dua tahun lebih ini, Adek sedang sangat suka meniru. Terutama sikap dan perilaku Kakaknya. Kebetulan Kakak lagi dapat project reading challenge dari Ibuk setiap bulannya, Adek juga jadi ikutan pengin baca buku sendiri. Walaupun cuma lihat-lihat gambar sambil menirukan cara Ibuk membacakan cerita, setidaknya bisa sedikit-sedikit membangun kebiasaan positif agar kelak Adek suka membaca. Buku yang tamat dibacakan untuk Adek bulan ini sesuai dengan tema Februari, yaitu tentang hewan peliharaan; Kelinci!

Ini beberapa aktivitas bulan Februari yang berhasil terdokumentasikan.

Mengenal hewan-hewan peliharaan. Meniru Kakak pergi ke masjid, dan menyelamatkan hewan peliharaan yang beku.
Lagi-lagi meniru Kakak, pinjam baju pramuka Kakak. Menemani Ibuk grocery shop sambil mengenal berbagai jenis buah-buahan.


Tentang Perubahan Arah



Kenapa di bulan ini ada beberapa perubahan arah tentang proses homeschooling Adek karena tiga bulan terakhir saya banyak belajar tentang Fitrah Based Education dan merasa sreg dengan metode ini.

Apa saja yang ingin saya ubah :

Berusaha Menjadi Teman Bermain Yang Sesungguhnya.

Awalnya setiap kali selesai menyiapkan suatu bentuk permainan, saya lebih sering berperan jadi pendamping dan fasilitator saja. Jarang sekali ikut bermain bersama dalam arti yang sesungguhnya; bahkan ikut larut dan seolah menjadi anak-anak dan bermain bersama. Waktu mencoba cara itu, awalnya agak aneh tapi ternyata menyenangkan juga. Tugas-tugas sederhana dalam beberapa permainan bisa diselesaikan Adek karena dia mencontoh 'teman bermainnya'. Waktu saya minta dia melompat menirukan gerakan kelinci, Adek ngga mau, tapi waktu saya jadi ibu kelinci yang pura-pura sedang mencari anaknya, Adek jadi mau melompat seperti kelinci.

Pesan dari Rasulullah SAW juga semakin menguatkan saya untuk benar-benar menjadi teman bermain si kecil. 
Siapa yang memiliki anak, hendaklah ia bermain bersamanya dan menjadi sepertinya. Siapa yang mengembirakan hati anaknya, maka ia bagaikan memerdekakan hamba sahaya. Siapa yang bergurau (bercanda) untuk menyenangkan hati anaknya, maka ia bagaikan menangis karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Adab Sebelum Ilmu. Iman Sebelum Qur'an. Ilmu Sebelum Amal.

Ada sebuah kekhawatiran di benak saya tentang membersamai tumbuh kembang Adek di usia dua tahun tiga bulan ini. Apakah sikap dan cara pengasuhan saya mencederai fitrahnya?

Meski rasanya sudah banyak membaca teori psikologi perkembangan anak usia dini, tapi pada prakteknya untuk mengangkat teori tersebut ke alam kesadaran dan diwujudkan dalam sikap dan perilaku masih diwarnai tantangan tersendiri. Kadang kalau hayati lagi lelah lupa menyadari bahwa secara fitrah bocah dua tahun ini masih berada di tahapan berpikir pra operasional.

Beberapa kali saya berusaha mendisiplinkan perilaku si amazing two ini seolah usianya sama dengan Kakaknya. Ternyata mendisiplinkan dengan cara menasehati anak usia dua tahun itu ngga mempan, apalagi memberitahu bahwa yang ini baik yang itu buruk. Anak seusia Adek belum bisa memahami konsep baik dan buruk atau nakal seperti cara pandang orangtuanya. Cara berpikir anak di tahap pra operasional ini masih sangat egosentris sehingga tidak bisa mengambil sudut pandang orang lain.

Berbeda jika pendekatan yang dilakukan adalah dengan memberi contoh bukan menasehati, hasilnya jadi jauh lebih baik. Misalkan setiap kali Adek mau minum kami selalu berkata, yuuk duduk dulu sambil kami pun duduk bersama. Besok-besok Adek juga akan melakukan hal yang sama.

Setelah berjalan beberapa bulan, kami juga mulai menyadari bahwa mengenalkan adab-adab keseharian jauh lebih berefek positif untuk tumbuh kembang Adek.

Ketika mendahulukan pengenalan adab-adab kehidupan sehari-hari maka seisi rumah jadi belajar untuk saling memberi contoh yang baik, hasilnya Adek punya subjek imitasi perilaku dari mulai Ayah, Kakak, dan Ibu. Proses belajar pun jadi terasa lebih mengalir dan natural. 

Memakai Kacamata Anak

Setiap perilaku anak yang bagi orang dewasa terlihat sebagai bentuk kenakalan atau ekspresi emosi yang berlebihan, sebenarnya merupakan cara anak memberikan sinyal kepada orangtuanya bahwa ia memiliki kebutuhan yang tidak terpenuhi.

Contoh kejadiannya:

Si toddler tiba-tiba saja tantrum saat sedang bermain dan merasa kesal dengan mainannya, sementara Ibuk duduk nggak jauh darinya sambil memegang ponsel.

Pause sebentar. (Idealnya sih, gitu)

Kira-kira apa ya, yang anak pikirkan tentang ibunya? ←←*harusnya mikir gini

Jangan dibalik; kenapa sih, kok Adek gitu? Ngga ada angin ngga ada hujan ngamuk sendiri?←← *aslinya mikir seperti ini.

Anak dua tahun bisa merasa bosan dengan permainan yang bersifat satu arah dan tidak ada interaksi dari orangtua.

Saat bermain Adek sedang mengembangkan imajinasinya dengan berpura-pura bahwa kalkukator yang sedang ia pegang adalah ponsel. Saat sedang berbicara dengan kalkulatornya, Ibuk seharusnya bisa masuk ke imajinasinya dengan bertanya, "Adek lagi telpon Oma ya. Apa katanya, gimana kabar Oma?"

Cara itu membuat anak merasa mendapat penguatan bahwa bermain adalah aktivitas yang menyenangkan meskipun dilakukan sendirian. Menunjukkan bahwa orangtua juga tertarik dengan apa yang sedang dilakukannya akan membuat anak merasa nyaman. Kadang anak-anak bermain bukan karena mainannya, tetapi karena ia sedang butuh interaksi dan marah adalah caranya untuk menarik perhatian orangtuanya. 

Mendahulukan Pesan Kebaikan

Dahulukan pesan kebaikan bukan pesan keburukan. Jika si toddler melemparkan mainannya, ketimbang berteriak bilang: "Adek nggak boleh nakal dong, masa mainan di lempar-lempar nanti kalau kena orang kan sakit." Bisa diubah dengan: "Dek, mainannya bagus ya, kalau sudah ngga mau main kita simpan yuk, biar awet. Tangannya Adek yang kuat ini kita pakai buat merapikan mainan yuk."

Dengan cara ini, Adek akan mengingat lebih banyak pesan kebaikan ketimbang keburukan.

Oke. Noted

NB: Semua yang sudah saya catat ini semoga menjadi pengingat untuk terus memperbaiki diri dan belajar menjadi orangtua yang terbaik bagi anak-anak, dan semoga ada manfaatnya juga buat yang membacanya. 

2 comments:

  1. BAhasa kalau kita mengingatkan anak memang harus hati2 ya Mbak. Jangan sampai mengganggu kreatifitasnya

    ReplyDelete
  2. Wih, bahasanya mesti dipikir baik2 ternyata ya. :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...