Tuesday, July 18, 2017

Pengalaman Liburan Masa Kecil Yang Membentuk Gaya Travelingmu.

Sedang mengingat-ingat nih. Kira-kira sepanjang perjalanan hidup, cerita liburan mana yang paling berkesan, ya? 

Oya, tema liburan atau travelling yang paling berkesan ini sedang diusung oleh dua orang blogger dari Komunitas Gandjel Rel Semarang lho. Ada Mba Muna Sungkar dengan blognya www.momtraveler.com dan Wuri Nugraeni dengan blognya www.wurinugraeni.com 

Sebenarnya, cukup banyak cerita liburan atau traveling baik yang sempat tertulis di blog maupun tidak yang membekas di ingatan. Namun entah kenapa kisah liburan pertama di masa kecil saya dulu yang rasanya paling berkesan untuk saat ini, dan kalau dipikir-pikir membentuk preferensi terhadap gaya traveling saya untuk masa sekarang. 

Pertama kali mengenal kata liburan adalah saat saya sudah masuk sekolah alias duduk di bangku SD. Soalnya kalau belum sekolah setiap hari tentu saja jadi hari libur, hihihi. 

Momen liburan pertama saya adalah ketika liburan sekolah saat masih duduk di bangku SD kelas dua. 

Waktu itu saya baru setahun lebih pindah ke Bandung. Dan saat libur sekolah tiba, saya dititipkan berlibur ke rumah Simbah saya di Solo. Waktu itu, Ayah saya yang mengantar ke Solo dengan menggunakan bis malam. 

Pengalaman pertama lepas dari rutinitas sekolah dan kembali ke kota asal dengan modus liburan ini merupakan salah satu momen liburan paling berkesan karena itu adalah pertama kalinya saya dilepas di kota lain. Meskipun di Solo ada Simbah dan Mbahkung, tetapi itu menjadi pengalaman pertama berada di kota yang berbeda tanpa kedua orangtua saya. 

Liburan pertama tanpa kedua orangtua tadi menjadi berkesan salah satunya karena diisi dengan aktivitas main sepuasnya, tanpa ada batasan waktu dan larangan ini dan itu. Anehnya, meski judulnya liburan tapi aktivitas yang saya anggap bermain justru berisi kegiatan seperti menemani Simbah jaga warung, kulakan ke pasar, membuat kandang kelinci bersama Mbahkung, berkebun dan traveling menggunakan sepeda ontelnya. 

Di hari-hari tertentu Mbahkung akan mengeluarkan sepeda ontelnya, lalu menyiapkan tas selempang yang berisi perbekalan seperti air minum, buku bacaan, dan topi. Lalu saya akan membonceng di jok belakang sambil memegangi pinggangnya untuk menyeimbangkan posisi tubuh, dan petualangan pun dimulai. 

Petualangan dimulai dengan bersepeda keliling kampung dan bersilaturahmi dengan kawan-kawan Mbahkung di seluruh pelosok kampung. Dari tiap rumah yang kami datangi akan ada beberapa kisah yang ikut mampir ke telinga saya, juga buah tangan kecil seperti roti atau permen yang ikut memenuhi isi tas saya. Dan juga kisah-kisah unik dari kawan-kawan Simbah yang kalau ditulis di sini bakal bikin postingan ini panjang banget.

Selesai bersilaturahmi dengan kerabat atau kawan-kawan semasa Mbahkung masih bekerja, kami pun melanjutkan petualangan. Dimulai dengan menerobos hutan kapuk. Masih terbayang di ingatan saat serpihan kapuk berterbangan dan melayang-layang di udara saat angin bertiup. Atau berkas-berkas cahaya yang menyusup di antara rimbunnya dedaunan. Sambil membonceng, saya akan berusaha menangkap kapuk-kapuk yang berterbangan itu.

Mbahkung pun mengayuh sepedanya sambil menelusuri jalanan setapak di pinggiran rel kereta kemudian berhenti di salah satu sungai yang menurut cerita Mbahkung bermuara ke Bengawan Solo. Kami berdiam sejenak memandangi sungai tersebut lalu melanjutkan perjalanan lagi.

Kami akan berhenti di sebuah jembatan, tempat dimana Mbakung menambatkan sepeda ontelnya kemudian kami berjalan menuruni jembatan dan menyusur ke bawah menuju jalan setapak kecil yang mengarah ke sebuah pinggiran sungai. Di sanalah kami biasa beristirahat. Mbahkung akan membiarkan saya bermain air untuk beberapa saat sebelum mulai membuka perbekalan untuk mengisi perut yang lapar. 

Kadang jika Mbahkung membawa buku bacaan, beliau akan membacakan bukunya keras-keras, sementara saya menghabiskan nasi atau bihun goreng yang dibungkus dengan daun pisang. Saya mendengarkan apa yang dibacakannya meskipun tidak sepenuhnya memahami isi dari buku yang sedang dibacanya tersebut. 

Selesai beristirahat dan mengisi perut, kami pun melanjutkan perjalanan dengan sepeda dan mampir di surau terdekat. Di sana, selesai sembahyang, Mbahkung akan mengobrol dengan beberapa orang, sementara saya menunggunya sambil bermain di sekitar surau. 

Di suatu perjalanan, ada satu surau yang istimewa yang sempat kami kunjungi saat berpetualang dengan sepeda. Letaknya tepat di depan sebuah pemakaman dan di belakang pemakaman tersebut ada sebuah hutan yang cukup lebat. Karena saya takut dengan tempat dan hutan itu , suatu kali, selesai sholat Mbahkung mengajak saya masuk ke dalam hutan dan berkata bahwa ada banyak hal menarik kalau kamu mau menanggalkan rasa takut itu. Setelah dibujuk, saya pun mau mengikutinya masuk ke dalam hutan. Benar saja, beberapa kali saya melihat burung-burung kecil dengan bulu aneka warna yang berlompatan di ranting pohon. Kemudian kami berhenti di satu pohon untuk memetik beberapa buah yang saat ini sudah cukup langka. Namanya buah Apel Kepel. Buah ini kalau dibuka dalamnya berlendir dan memiliki rasa manis yang khas. Kadang Mbahkung juga menyebutnya dengan sebutan apel umbel. Karena lendir dari buah tersebut memang bertekstur seperti ingus atau umbel. 

Di hari-hari liburan yang lain, kami juga punya agenda istimewa yang bertepatan dengan hari pasaran. Di hari spesial itu kami biasanya pergi ke pasar menggunakan Andong. Sesampainya di pasar, kami akan kulakan beberapa potong kain batik, telur asin, kemeja, dan beberapa kebutuhan rumah tangga lainnya untuk dijual kembali di warung kelontong Simbah. Selesai kulakan kami akan 'ngiras' atau kalau bahasa kekiniannya adalah berwisata kuliner dengan 'nyoto' atau 'nyate'. Kebetulan salah satu adik Mbahkung memiliki bakul soto di pasar, sementara kerabat Mbahkung yang lain berjualan sate kambing di pasar yang sama jadi setiap hari pasaran rutinitas ngiras soto dan sate kambing nggak pernah terlewatkan. 

Setelah dipikir-pikir ternyata pengalaman liburan masa kecil itu cukup membentuk sebuah preferensi tentang liburan atau jenis traveling seperti apa yang saya sukai dan akan menjadi sesuatu yang berkesan di ingatan. 

Ternyata jenis berlibur dimana saya bisa bertemu dan mendengarkan kisah dari banyak orang baru, mendatangi tempat-tempat yang tidak biasa termasuk wisata alam, dan tentu saja mencoba makanan khasnya atau berwisata kuliner adalah jenis traveling yang saya sukai. 

Kalau kamu, apa liburan paling berkesan yang pada akhirnya membentuk preferensi dan gaya travelling kamu saat ini?

1 comment:

  1. Aku pun suka banget travelling baik dalam ataupun luar negeri, aku juga suka ingat kalau liburan di rumah almarhum dan almarhumah kakek nenek di desa sadang 😊

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...