Friday, August 18, 2017

Mie Ayam Terenak Di Daerah Semarang Bawah (Part 1)


Sebagai penggemar makanan berbahan dasar mie, berburu kuliner mie ayam enak di Semarang itu jadi sebuah tantangan tersendiri. Sedikit berbeda ketika sedang berada di Bandung, dimana mie ayam enak itu pabalatak* (read: tersebar di mana-mana) bahkan di komplek-komplek perumahan pun bisa ditemukan Mamang Penjual Mie Ayam yang rasanya tersohor sampai ke daerah lain. 

Di Semarang, menurut saya agak susah menemukan kuliner mie ayam yang maknyus-nya begitu tersohor. Kalau pun ada, lokasinya menyebar di beberapa titik. Dan biasanya nggak sebanyak di Bandung. 

Kelebihan berburu kuliner mie ayam di Semarang adalah kita bisa fokus karena jumlahnya memang nggak terlalu banyak. Dan karena lokasinya tersebar, berburunya bisa sekalian jalan-jalan. 

Setelah blusukan ke beberapa tempat. Ini nih, beberapa daftar Mie Ayam Terenak Di Daerah Semarang bawah.

1. Mie Ayam Srikandi. 

Bakul Mie Ayam Srikandi ini awalnya berlokasi di daerah Sisingamangaraja kemudian pindah ke daerah Lamper Tengah Raya No. 614. Pertama kali mencoba mie ayam ini sekitar tahun 2006-an. Iya, udah lama banget kan. Konon sih, Mie Ayam Srikandi ini memang legendaris. Makanya saat tahun 2017_berarti 11 tahun kemudian_masih bertahan jualannya dan rasanya pun masih selezat waktu saya mencicipi pertama kali.

Soal rasa, mie ayam ini memiliki kuah kaldu yang lebih pekat dan potongan ayam yang lumayan besar. Harga mie ayam di sini mulai dari Rp. 15.000 saja. Kuahnya yang mantap dan mienya yang kenyal menjadikan pengalaman makan mie di sini sangat memuaskan sekaligus mengenyangkan. 

Little Organic Kitchen : Berbagi 'Bahagia' Di Sebuah Dapur Kecil


Sekitar tiga tahun yang lalu, embrio kecil dari usaha rumahan, Little Organic Kitchen, mulai berkembang. Dari yang awalnya berupa renik ide yang tak kunjung dieksekusi sampai akhirnya ada satu momen yang memaksa saya untuk mewujudkannya. 

Momen untuk segera mewujudkan ide tersebut jadi nyata, terlaksana justru karena saat itu saya dianugerahi sakit. Dimulai dengan memperbaiki gaya hidup dan pola makan diri sendiri, kemudian mendapatkan manfaat dari perubahan tersebut, berlanjut dengan keinginan untuk berbagi pada teman-teman yang selama ini memberikan dukungan, akhirnya dirintislah Little Organic Kitchen

Pendorong seseorang membangun sebuah usaha itu berbeda-beda motifnya. Ada yang karena motif ekonomi, aktualisasi diri, sampai karena ingin menantang diri sendiri. Kalau boleh merangkum jadi satu kalimat, saya menyebutnya motif untuk memberdayakan diri. Saya yakin hampir semua wanita memiliki keinginan untuk memberdayakan dirinya. 

Sepertinya Mba Wahyu Widya dan Muslifa Aseani atau yang akrab dengan panggilan Bunsal bisa menangkap motif tersebut. Dan nyatanya motif tersebut memang ada di dalam setiap diri wanita. Keduanya lalu mengangkat tema 'Bisnis Rumah Impianmu' untuk arisan link blog bersama Komunitas Gandjel Rel periode ke-9 ini. 

Saya sering bertanya pada diri sendiri apakah sudah puas dengan pencapaian yang saya dapatkan dari merintis usaha ini? Jawabannya adalah belum dan masih sangat jauh dari yang saya bayangkan. 

Hipotesis awal dari usaha rumahan Little Organic Kitchen adalah bahwa sebuah kebahagiaan akan semakin berlipat ganda berkahnya apabila dibagikan. Banyak yang bertanya apa sih, hubungannya makanan sehat dengan kebahagiaan? 

Dulu, saya belum bisa menjawab dengan data dan fakta, baru bisa menjawab sebatas pengalaman saja. Kemudian pelan-pelan seiring sejalan, saya pun mulai menimba ilmu di bidang Naturopathy dan mengaitkannya dengan ilmu Psikologi yang bertahun-tahun saya pelajari. Kemudian mendapatkan benang merah dari keduanya, bahwa penyakit mental sangat dipengaruhi oleh kondisi perut kita. Apa yang kita makan memengaruhi pola hidup, pola hidup sangat berkaitan dengan kebahagiaan. 

Wednesday, August 16, 2017

Lot Cafe 28 : Dua Rasa Delapan Cerita

Hampir dua pekan yang lalu, tepatnya tanggal 3 Agustus 2017, Lot 28 yang berada di ruas Jalan Singosari Raya mengadakan soft launching-nya. Semenjak hari itu, saya sudah tiga kali kembali ke sana untuk ngopi cantik atau makan siang bersama teman atau rekan kerja. Artinya, Lot 28 punya lebih dari sekadar sebuah 'tempat baru' yang menjadi magnet bagi pengunjung, termasuk saya. 

Pertama kali datang ke sebuah tempat, biasanya kebanyakan orang didorong oleh rasa penasaran akan 'tempat yang baru' tersebut. Kali kedua, biasanya seseorang merasa puas dengan kunjungan pertamanya dan ingin mengulang pengalaman tersebut. Kunjungan ketiga, artinya seseorang sudah mulai connected dengan tempat tersebut, baik karena suasana tempatnya, makanan dan minuman yang disajikan, maupun harga serta pelayanannya. 

Lot 28 adalah salah satu kafe yang menurut saya menjanjikan pengalaman 'connected' tersebut. Kenapa begitu? 

Pertama, karena lokasinya strategis dan punya area parkir menjorok ke bagian dalam. Ini penting karena ruas Jalan Singosari Raya termasuk ruas jalan yang memiliki deretan kafe-kafe. 

Pada hari tertentu ruas jalanan tersebut seringkali padat oleh pengunjung bermobil. Parkir di pinggir jalan, sementara kita sedang pengin ngafe agak lama suka bikin nggak tenang, tapi Lot 28 bisa menangkap kebutuhan itu. Mobil bisa parkir di area dalam dan kita pun bisa ngafe dengan tenang. 

Oya, angka 28 menunjukkan dimana bangunan kafe itu berada, yaitu Jalan Singosari Raya No. 28. Tapi bukan cuma itu, katanya angka 2 dan 8 menggambarkan dua rasa dengan delapan cerita. 

Bagi saya, bisa jadi akan ada dua sampai delapan alasan mengapa Lot 28 ini 'nyambung' dengan saya.

Fasad bagian depan Lot28. Bagian bawah bangunan dimanfaatkan sebagai area parkir.

Suasana lapang dan nyaman berkat pemilihan furnitur yang ringan dan bernuansa kayu

Mural pada salah satu bagian dinding dan tata cahaya yang nyaman di mata.

Pemilihan warna monokromatik dan sentuhan 'hijau' dari sukulen serta indoor plants

Alasan kedua adalah suasananya. Pertama kali masuk ke Lot 28 saya langsung bisa merasakan atmosfer yang sama seperti saat melihat fasad bangunannya: simpel namun berkesan. 

Monday, August 14, 2017

Lima Kriteria Film Yang Berkesan

Tema arisan link blog bareng komunitas Gandjel Rel kali ini menyenangkan banget, deh. Ringan dan nggak bikin mikir, hehehe. Terima kasih buat Mba Untari dan Isul yang sudah memilih tema tentang film yang paling berkesan. 

Sebenernya kalau mau ngomongin soal nonton film. Selera nonton film saya agak bergeser tahun-tahun belakangan ini. 

Dulu, zaman belum jadi emak-emak, gampang banget kalau ditanya apa film favorit yang paling nggak bisa dilupakan. 

Jawabannya, pasti film bergenre horor dan thriller. Gimana nggak, biasanya kalau habis nonton film horor memang bisa ya langsung lupa sama jalan cerita dan sensasi yang ditimbulkan dari menonton kisah tersebut? 

Waktu menonton film bergenre horor, tubuh kita dibanjiri adrenalin. Nah, sensasi itulah yang bikin seseorang merasa sesuatu sangat berkesan di ingatannya. Bahkan kalau nonton sesuatu yang memacu aliran hormon adrenalin, tubuh juga bakalan ikut bereaksi lho. Ada keringat dingin, detak jantung yang berpacu kencang, sampai ada juga yang merasa mual atau pingin nangis. 

Penyuka kisah-kisah yang memacu aliran hormon adrenalin ini biasanya bakal ketagihan nonton film dengan tema yang sama untuk bisa mengulang sensasi yang sempat dirasakannya. 


Entah gimana yaa, setelah jadi emak-emak saya nggak lagi suka nonton film bergenre horor. Film tersadis atau ter-thriller yang terakhir saya tonton adalah serial Dexter. Film yang berkisah tentang sosiopath yang membunuh karena sebuah alasan 'kemanusiaan' ini berhasil membetot perhatian saya selama beberapa season. Sampai akhirnya bosen sendiri. 

Lepas dari Dexter, film pemacu adrenalin lain yang masih digemari sampai saat ini biasanya sejenis film-film macam Sherlock atau yang berbau detektif-detektifan, agen rahasia, semacam film-filmnya Babang Bond, deh. 

Dasarnya saya ini penyuka segala jenis genre film dan nggak pernah membatasi mau nonton apa aja, hayuklah selama bukan yang grotesque lhoo yaa. 

Meskipun begitu, saya juga punya kriteria untuk memasukkan beberapa film menjadi kategori favorit atau paling berkesan. 

Biasanya, film yang berkesan dan nggak gampang dilupakan itu kalau:

Friday, August 11, 2017

Tampil Stylish Saat Traveling Dengan Jaket Parka

Setiap kali mau traveling dengan durasi perjalanan minimal dua sampai tiga hari, saya sering merasa bingung dengan pakaian yang harus dibawa atau dikenakan. 

Pasalnya, kalau bawa baju terlalu banyak, ransel atau koper kan jadi berat dan sesak, ya. Tapi jadi serba salah juga misalkan nanti ada rencana untuk berfoto atau bikin semacam outfit of the day di beberapa spot yang didatangi, masa bajunya sama semua. 

Mengabadikan momen traveling dengan diri kita ada di dalam frame foto menjadi salah satu agenda penting-nggak-penting juga sih. Tapi buat saya yang menjadikan jalan-jalan dan memotret sebagai salah satu bagian dari pekerjaan, agenda berfoto di salah satu spot yang didatangi jadi wajib hukumnya.

Buat mengatasi supaya barang bawaan terutama baju nggak menuhi-menuhin ransel, biasanya sejak di rumah saya sudah mereka-reka dulu nanti mau pakai baju seperti apa. Intinya menyiapkan wardrobe-nya dulu deh. Dari mulai bawahan, atasan, sampai pelengkap lain seperti sepatu atau tas sudah dijajal dulu saat di rumah. 

Setelah beberapa kali packing dan mereka-reka pakaian apa yang bakal dikenakan saat bepergian, saya jadi hapal banget kira-kira baju apa yang bakal kepakai selama jalan-jalan dan mana yang bakal cuma menuh-menuhin ransel doang. 

Ternyata outerwear adalah salah satu item wajib yang harus dibawa pas traveling. Salah satu outerwear yang paling pas dipakai saat traveling adalah jaket parka. 

Biasanya jaket parka banyak dikenakan oleh orang-orang di negara yang memiliki empat musim. Kalau di Asia, orang-orang Korea termasuk yang paling kelihatan sering mengenakan jaket parka. Apalagi ketika musim dingin tiba. Model yang mereka kenakan juga modis-modis. Nggak asal tebal dan membalut tubuh saja. Potongan jaket parka yang mereka kenakan unik-unik dan warnanya pun menarik.

Jaket parka menjadi pilihan outerwear untuk menutupi t-shirt lengan pendek yang saya kenakan saat menjelajah hutan. 

Jaket parka warna khaki melengkapi outfit jalan-jalan ke Padepokan Batik Pesisir di Pekalongan. 

Jaket parka bisa jadi alternatif outfit buat traveling. Kita bisa memadukannya dengan baju dalaman berwarna kontras maupun senada, tergantung kebutuhan. Sesuaikan saja dengan lokasi yang akan kita datangi. Misalnya, kalau jalan-jalan ke tempat yang relatif panas pilih yang agak tipis bahannya, namun tetap menyerap keringat.

Thursday, August 10, 2017

Pekalongan : Pesona Bumi Legenda Batik Nusantara


Kereta api yang kami tumpangi berangkat dari Stasiun Poncol, Semarang pukul 08.45 menit. Dari dalam kereta, langit terlihat cerah dan matahari bersinar cukup terik. Namun suasana di dalam kereta ekonomi yang adem, membuat perjalanan kami menuju ke sebuah kota yang terkenal sebagai sentra industri batik Indonesia jadi terasa nyaman. 

Pukul 10 lewat sembilan menit, kereta api merapat di Stasiun Pekalongan. Sebuah perjalanan singkat yang cukup berkesan karena sepanjang perjalanan tadi, kami disuguhi pemandangan yang cukup cantik: pesisir Laut Jawa di beberapa kelokan rel kereta berpadu dengan hamparan sawah atau ladang. 

Pekalongan berlokasi sekitar 100 km ke sebelah barat Semarang. Di hari-hari tertentu seperti libur lebaran, kota yang terletak di jalur Pantura yang menghubungkan Jakarta-Semarang-Surabaya ini, sering dilewati oleh para pemudik. 

Kalau kita bertanya kepada para pemudik tentang apa yang akan mereka cari di Kota Pekalongan, sebagian besar pasti akan menjawab: Batik. 

Begitu lekatnya citra kota ini dengan batik menjadikan Pekalongan masuk ke dalam jaringan kota kreatif UNESCO dalam kategori folk art pada Desember 2014 lalu. Tidak heran apabila city branding yang melekat pada Pekalongan adalah World's city of Batik.

Kalau mau menelusuri lebih detail, batik Pekalongan mempunyai corak khas yang sangat variatif. Corak tersebut bisa jadi disebabkan oleh adanya akulturasi dari beberapa kebudayaan. Sebab, menurut sejarah, Pekalongan merupakan kota pelabuhan yang nadinya dihidupkan oleh aktivitas perdagangan. Di masa lalu banyak sekali pendatang yang berasal dari Cina dan Arab, maupun suku-suku di Nusantara seperti suku Melayu dan Banjar yang singgah di Pekalongan. 

"Mungkin saja kan, para pendatang tersebut menyumbang inspirasi motif atau corak bagi pengrajin batik setempat," tutur saya pada salah satu kawan yang juga ikut berkunjung ke Pekalongan. 

"Bisa jadi sih," sambungnya. "Coba nanti kita cari tahu. Di Pekalongan ada sebuah Padepokan Batik Pesisir di daerah Wiradesa. Di sana kita bisa banyak mendapatkan info soal batik." 

"Oke. Tapi sekarang kita mengisi perut dulu, yuk," balas saya.

Kalau penasaran dengan Megono, seperti inilah penampakannya. Ini adalah hidangan pada jamuan makan di kediaman Bapak Bupati di Pendopo Kab. Kajen. 

Kami pun berjalan menuju sebuah warung makan yang tidak jauh dari stasiun. Di warung tersebut kami menjajal nasi rames yang disandingkan dengan pelengkap khas kuliner Pekalongan, yaitu megono atau cacahan nangka muda dan kelapa parut. Sementara kawan yang lain memesan Tauto yang merupakan makanan khas Pekalongan. 

Tuesday, August 8, 2017

Dancow Explore Your World : Katakan 'Iya Boleh' Pada Si Kecil






"Kids : their minds were not built to sit and be taught. They were built to explore, play, and learn."

Akhir pekan biasanya adalah momen yang identik dengan 'family time'. Sebagian besar orangtua, apalagi anak-anak pasti sudah menantikan momen kebersamaan ini. Apalagi bila Senin hingga Jumat anak-anak tidak bersama kedua orangtuanya karena rutinitas bekerja.

Terkadang sebagai orangtua, kita sering merasa bosan jika lagi-lagi harus menghabiskan akhir pekan di mal. Tapi untungnya, akhir pekan tanggal 5-6 Agustus kemarin, saya bisa berkata "Iya, boleh.." waktu anak-anak mengajak main ke mal.

Monday, August 7, 2017

Terhipnotis Oleh Pesona Petungkriyono : Surga Tropis Tersembunyi Di Atas Awan

Mengawali Penjelajahan Dengan Menyusuri Hutan Sokokembang. 


Landmark Kawasan Petungkriyono

Langit terlihat cerah ketika kami tiba di gerbang masuk bertuliskan 'Petungkriyono National Nature Heritage'. Dua orang penari dengan gaun berwarna hitam dan perak sudah bersiap menyambut para penjelajah dari berbagai daerah di Indonesia yang pagi itu akan memulai penjelajahannya di Petungkriyono. 

Irama musik yang rancak diputar untuk mengiringi gerak gemulai kedua penari. Tarian tersebut menjadi simbolisasi telah dimulainya acara Amazing Petung National Explorer 2017

Beberapa saat sebelum irama musik yang rancak tadi memecah kesunyian atmosfer Hutan Sokokembang, saya bisa mendengar suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin, juga suara derikan serangga penghuni hutan yang khas. Rasanya jadi tak sabar untuk segera menjelajahi bagian dalam hutan. 

Saat sedang mengambil beberapa objek foto dan menikmati atraksi tarian, aroma kopi yang khas, hangat dan menggugah menguar di tengah kesejukan udara pegunungan. Saya pun berjalan menuju deretan warung yang ada di samping pintu masuk untuk mencari sumber aroma tadi. Rupanya pemilik warung sedang menyeduh kopi khas Petung. 

Aroma kopi semakin tercium ketika saya berada di dalam warung. Tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat salah satu hasil hutan dari Petungkriyono, saya pun mencicipi kopi tersebut. Rasa manis-pahitnya terasa ringan di lidah, namun tetap dapat membangunkan syaraf untuk memulai petualangan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...