Thursday, September 28, 2017

Seminar Bisnis Yang Bikin Nangis



Tanggal 19 Agustus 2017 saya catat sebagai pertama kalinya saya menangis di acara seminar bisnis. Ini bukan sekadar berkaca-kaca, tapi menangis yang sampai saya harus meninggalkan ruangan karena tiba-tiba isakan saya mulai mengundang pandangan orang lain di kiri, kanan, dan depan.

Saya keluar ruangan bukan karena malu mata dan wajah saya basah, tetapi karena harus mengendalikan diri. 

Di kamar mandi, saya menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya ke cermin, dan berkata: "mereka dikirim Tuhan untuk mendetoksifikasi racun-racun di otakmu, melegakan hatimu," 

Saya percaya salah satu tujuan manusia diberi Tuhan kemampuan menangis adalah untuk itu. 

Menangis di sebuah seminar bisnis adalah sesuatu yang nyaris baru buat saya, bahkan bisa dikatakan pertama kalinya. Jadi Mbak-Mbak penggagas tema arisan link blog periode 12 kali ini, yang temanya yang pertama-pertama itu, dan pemirsa sekalian sepertinya bakal kecewa kalau berharap postinganku tentang malam pertama, cinta pertama, dll hahaha. 

Terima kasih ya, Mba Marita dan Mba Dini akhirnya tulisanku yang ini bisa naik karena disambung-sambungin sama tema yang sekarang. 

Balik ke topik. 

Dua sosok pembicara yang duduk di depan panggung bukan sedang membetot otot kewirausahaan saya, tetapi sedang menyorot lubang tersembunyi di hati dengan penerangan setara lampu LED 20 Watt. Saking terangnya, saya bisa memaknai beberapa hal yang nggak terlihat sebelumnya. 


Saya akan cerita sedikit soal mereka sebelum membuat daftar pendek tentang pelajaran hidup yang bisa saya ambil dari seminar itu. 

Keduanya bukan siapa-siapa. So? Masih harus diterusin baca postingan ini, nih. 

Ini adalah sebuah premis yang akan terjadi di belahan dunia manapun. 

Saya kasih contoh ya, ketika kalian ketemu seseorang yang tidak kalian kenal, tidak terkenal, dan bukan siapa-siapa kemudian orang itu memakai pakaian dari irisan tipis daging sashimi yang ditempel satu persatu ke tubuhnya, kepalanya ditutupi topi caping petani yang ditumbuhi rumput sungguhan, alas kakinya bakiak berhak sepuluh sentimeter dengan ukiran ular, apa komentar dan pikiran kalian? 

Orang gila! Wong gendeng! 

Sebentar. 

Tapi jika sosok dengan penampilan kayak Wong Gendeng itu ternyata adalah Lady Gaga, penyanyi internasional yang tersohor. Komentar akan terbagi ke beberapa kubu dan bahkan bergeser menjadi : Gayanya unik, out of the box, cutting edge, blablabla. Nggak menutup kemungkinan akan ada yang tetep bilang Wong Gendeng juga, sih. 

Tapi itulah kita. Kita selalu terpenjara oleh siapa yang berkata atau mengatakan sesuatu, bukan pada esensi cerita atau maknanya. Kalau ada dua orang bicara tentang hukum mencuri, yang satu mantan maling yang satu ustad, kalian akan lebih mendengarkan siapa? 

Itulah. 

Padahal, seringkali pelajaran penting dalam hidup datang dari bukan siapa-siapa dan kita mengabaikannya lantaran bukan siapa-siapanya itu. 

Kembali ke dua sosok 'bukan siapa-siapa' yang duduk di hadapan panggung tadi. 

Yang satu adalah seorang pemuda, masih duapuluhan sekian. Beberapa minggu sebelumnya, saat momen lebaran, ia mengalami kecelakaan. Kakinya tergilas truk hingga hancur dan harus diamputasi. 

Saat semua orang berbahagia di hari kemenangan dan merasa suci kembali karena dosa-dosa yang hilang dilebur puasa selama sebulan, pemuda ini kehilangan salah satu tumpuan hidupnya. 

Ia terpuruk selama beberapa minggu. Membeli kaki palsu seharga puluhan juta untuk menggantikan salah satu penumpu tubuhnya, tetapi kaki palsu itu membuat kulitnya panas, gatal, berat dan tak nyaman untuk berjalan. 

Pemuda itu lalu berkreasi dengan barang-barang bekas yang ada di sekitarnya. Ember plastik bekas cat, pipa paralon, dll. Dan jadilah sebuah kaki palsu yang kalau dikalkulasi harganya tidak sampai dua juta. Dipakai jalan dan gerak nyaman, tidak panas atau bikin gatal. 

Pemuda itu lalu membuatkan kaki palsu secara cuma-cuma untuk para penyandang disabilitas lainnya yang membutuhkan dan punya pengalaman serupa dengannya. 

"Saya bersyukur karena kecelakaan itu mengubah hidup saya. Sekarang saya tahu harus berbuat apa untuk orang lain..." 

Entah sampai di cerita ini kalian akan terharu atau tidak, tetapi pada waktu itu, ketika ia mengucapkan kalimat tersebut hati saya seperti ditusuk-tusuk. 

Kala itu, saya masih bisa menulis di atas selembar kertas : "kita sering merasa hidup dan diri kita sudah baik sehingga tidak pernah berbuat lebih untuk diri sendiri, apalagi orang lain..." 

Saat menuliskan itu, saya ingat kebodohan-kebodohan diri sendiri yang sering taken for granted terhadap apa saja. Tercermin dari, misalnya begitu gampang saya melabeli sesuatu meski cuma dalam hati saja.

Misalnya karena merasa nggak pernah berbuat dosa maka rasanya gampang banget komen atau nyinyir saat di linimasa ada kasus pasutri bawa lari uang jamaah. Atau kasus-kasus heboh lainnya. 

Atau karena merasa ibadah diri udah sempurna gampang saja nunjuk kelompok lain sesat, dan sebagainya. Itu contoh melabeli yang saya maksud. Ini benar, itu salah. Itu nggak gue banget, deh. Dih, masak gitu aja nggak bisa. Dan seterusnya. Sila tambah sendiri. 

Taken for granted adalah penyakit kaum mediocre, batin saya ngece diri sendiri. Karena merasa nggak pernah bikin salah, merasa ada di tengah-tengah, merasa dalam kondisi baik-baik dalam segala aspek, lupa kalau suatu saat posisi kita bisa bergeser ke kiri atau kanan. 

Kalau suatu saat posisi kita bergeser, masihkah mampu memaknai cobaan sebagai cara Tuhan menjadikan kita orang yang lebih baik?

Karena yang diperhitungkan bukan soal siapa kita sekarang, tetapi siapa kita pada akhirnya. 

Itu life lesson yang saya dapat dari pemuda yang kakinya diamputasi tersebut. 

Narasumber yang satu lagi, Mas Agung namanya. Agung Nekatzz julukannya. Selama bertahun-tahun ia hidup taken for granted. Menyia-nyiakan usia dengan mabuk, mencuri, molimo kalau kata orang Jawa. Hingga kemudian karena kebiasaannya mabuk, overdosis, livernya rusak dan ia nyaris mati saat dibawa ke rumah sakit. 

Saat ia dibaringkan di ranjang rumah sakit, teman sekamarnya sakaratul maut. Sesosok tubuh kaku kemudian ditutupi kain putih, jasadnya didorong keluar kamar. Mas Agung pun sendirian di bangsal karena istrinya juga enggan menemani lantaran takut. 

Setiap malam, di tengah tidur dan terjaga, sadar dan pingsan, Mas Agung mendengar seseorang di ranjang sebelah berujar, 
"Irupmu ki rak ono gunane...kamu manusia sia-sia. Kamu mati ajalah karena hidupmu nggak punya arti apa-apa!" 

Tiap malam, secara berulang-ulang Mas Agung mendengar ujaran itu. Hingga kepedihan kata-kata itu merasuki tubuhnya, dan menjadi semacam kekuatan untuk bangun. 

Ketika pada akhirnya Mas Agung pulih, ia pun bangun menjadi pribadi yang berbeda. Ia membuktikan diri dengan menjadi lebih baik meski saat ini ia menjadi penyandang disabilitas karena kakinya harus diamputasi lantaran penyakit diabetes yang dideritanya. 

Sampai sini, kalian dan orang-orang terdekat Mas Agung mungkin nggak akan percaya perubahan apa yang bisa dia lakukan buat dirinya sendiri bahkan untuk orang lain. Wong Molimo arep gawe opo? 

"Saya sadar, kalau saya yang dulu duduk di hadapan Anda semua, pasti tidak akan ada yang mau mendengarkan bahkan melihat kepada saya."

Waktu itu saya masih sebatas berkaca-kaca saja saat mendengar kisahnya, namun ketika ia membeberkan apa saja yang sudah ia lakukan untuk anak-anak di lingkungan sekitarnya, air mata saya tidak bisa dibendung lagi. 

Pelajaran budi pekerti dan agama di hari Jumat. Baca tulis dan Bahasa Inggris di hari Sabtu. Semua itu untuk anak-anak di lingkungan tempat ia tinggal. 

Ia mendirikan Trashure. Mengolah sampah dan barang bekas jadi kerajinan tangan dan barang-barang bernilai seni dan ekonomi. Melatih penyandang disabilitas dengan seni kriya. Memberdayakan remaja lokal dalam Komunitas Harapan. 


Saya nyaris terisak lebih keras saat nyadar jadi manusia paling merugi di dunia. 

"Ini cuma soal momentum saja. Kalian nggak butuh motivator atau ustad yang menyuruh kalian untuk menjadi lebih baik. Kalau kalian merasa sekarang saatnya, jadilah!"

Pernah liat tanaman sukulen? Kita cukup meletakkan daunnya di tanah, dan dari daun yang lama kelamaan mengering dan mati itu akan muncul tunas sukulen baru. 

Selagi masih ada waktu. Kita punya kesempatan yang sama untuk jadi lebih baik. 

Kita yang merasa cukup, baik, bahkan dinilai sempurna oleh orang lain. 

Kita yang pernah berbuat salah bahkan merasa menjadi pendosa. 






21 comments:

  1. Kalau aku suka sensitif kalau hormonal pas mau haid itu loh gampang nangis banget, semisal kaya ada toxix employee di kantor jadi sesenggukan, abis itu lega curcol ma budir, iya ya manusia harus terus belajar dari segala aspek, dari berbagai macam karakter orang di dunia ini, di lingkungan dn kehidupan sehari-hari 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hoooh, apa kmrn itu pas PMS yaah...hehehe. Tapi ngga sih, Teh. Kmrn dua narasumber itu emang kisah hidupnya bikin mewek...

      Delete
  2. Hiks. Ak baca ceritanya aja jg ikut mewek teh niaaa. Bahwa hidup itu bukan tentang siapa kita skg tapi siapa kita nanti. Its so inspiring... haturnuhun sharingnyaaa *lap airmata pake jilbab*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hikss...iyaa, makasiy ya sudah baca dan mampir

      Delete
  3. Jadi ingat umur, mbak. Takut kalo pas sudah diambil sama Allah tapi aku belum bisa berbuat sesuatu bagi sesama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ketakutan yg sama Mbaa...waktu terbuang siasia sementara kita nggak nyadar sdg numpuk dosa

      Delete
  4. Aduh tertampar aku mbak ... Apa yg sudah aku lakukan untuk orang lain selana ini? Belum lagi dosa makin numpuk. Ya Allah moga2 Allah kasih jalan untuk biaa jd pribadi yg bermanfaat

    ReplyDelete
  5. Duh jadi bertanya pada diri sendiri nih selama ini udh memberi manfaat apa bagi orang lain 🙁

    ReplyDelete
  6. Masya Allah, melu nangis. Semoga usia kita berkah, kehadiran kita bermanfaat untuk sekeliling kita, aamiin..

    ReplyDelete
  7. Ya Alloh.. Ikut terharu, orang yang keadaannya pernah sampai terpuruk bisa bangkit dan melakukan sesuatu yg bermanfaat. Sementara aku gini2 aja di zona nyamanku tanpa melakukan sesuatu buat orang lain, hiks.

    ReplyDelete
  8. Tumbuhan sekulen keren abis... Walau sdah mati bisa hidupkan yang baru

    ReplyDelete
  9. Tapi itulah kita. Kita selalu terpenjara oleh siapa yang berkata atau mengatakan sesuatu, bukan pada esensi cerita atau maknanya.

    Setuju banget sama ini mba niaa

    ReplyDelete
  10. Yes, setuju..
    Kdg suka sedih klo pas kita yg mengalami yaa

    ReplyDelete
  11. Cerita mb Nia menohok banget ih, jadi bertanya-tanya...apakah ada perbuatanku yg membawa manfaat bagi banyak orang ya

    ReplyDelete
  12. terimakasih atas informasinya dan jangan lupa kunjungi kami di http://aromaessen.com/umpan-bawal-galatama/

    ReplyDelete
  13. Terharuu... Makasih tulisannya, Nia. Ikut sesenggukan, aku belum menjadi apa apa dan berbuat apa apa. Semoga ke depan kita selalu bisa lebih baik.

    ReplyDelete
  14. Seminarnya menginspirasi dan bikin terharu. Saya jadi ikut introspeksi diri nih mbak.

    ReplyDelete
  15. Sering banget introspeksi karena merasa belum bisa memberi manfaat banyak untuk sekitar. Berusaha berbuat baik, menjaga lidah, dan sikap bila melihat sesuatu dulu. Karena takut banget bila keceplosan menyakiti orang lain. Kondisi diejek sih udah sering, santai aja dengarnya karena hanya manusia yang mengolok kami. Entah lah selama ini aku dan suami enggak mempan diejek atau diolok2. Karena hanya Allah yang sempurna, orang sih cuma tempatnya salah dan dosa.

    ReplyDelete
  16. dalem banget... :(

    Semoga selalu menjadi manusia yang bermanfaat, dengan apapun yang dimiliki

    ReplyDelete
  17. Waktu tayang pertama kali udah mampir tapi speechless banget.. jadi ga komen.

    Semoga Kita bisa memanfaatkan waktu sebaik2nya untuk jadi manusia yang bermanfaat :)

    ReplyDelete
  18. Ya Allah Kak, aku juga merasa ketampar :(
    harus banyak lebih mensyukuri apa yang Tuhan beri.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...