Monday, October 9, 2017

Jika Anak-Anakku Bersekolah Di Finlandia


Disclaimer : ini tulisan lama yang saya posting ulang dari judul asli 'Andai Anak Kita Bersekolah di Finlandia atau Korea Selatan' yang juga pernah dimuat di portal online. Karena temanya masih relevan dengan dunia pendidikan baru-baru ini, jadi saya putuskan untuk mengunggah di blog pribadi juga.

Tulisannya cukup panjang, jadi siapkan cemilan dan kopi ya buat temen baca. 

Selamat menikmati.

Salah satu buku yang bisa jadi rujukan kalau ingin tahu lebih dalam tentang sistem pendidikan di Finlandia. Karya Timothy D. Walker

Dunia pendidikan Indonesia sedang mengalami demam. Penyebabnya masih harus ditelusuri. Bisa jadi ini karena Pak Anies Baswedan baru saja pergi membawa sebagian besar harapan masyarakat Indonesia akan pendidikan yang lebih baik, sebagian yang lain mungkin sedang meraba-raba dahi dan bertanya-tanya apakah ini karena wacana yang digulirkan Pak Menteri baru tentang mewajibkan anak-anak untuk full day school

Reaksi masyarakat terhadap demam ini beragam, sebagian ada yang berangan-angan, "Andai anak-anak kita sekolah di Finlandia."

Tidak ada PR di Finlandia, jam sekolahnya pun lebih pendek, tetapi sistem pendidikan di sana melahirkan anak-anak yang lebih pandai dan lebih sukses.


Tetapi benarkah anak-anak pandai itu lahir dari jam sekolah yang pendek dan tidak adanya PR?

Fakta menariknya, poin penting dalam sistem pendidikan Finlandia adalah rasio jumlah guru dan murid. 1 guru untuk 12 anak, bandingkan dengan di beberapa negara maju lain, 1 guru untuk 24 anak. 

Lalu, bagaimana dengan di Indonesia? 

Posisi seorang guru terhadap muridnya, di sana, layaknya pengacara dengan kliennya atau dokter dengan pasiennya. 

Di Finlandia, tes atau ujian yang sifatnya terstandar hanya diberikan setelah anak berusia 16 tahun. Di Indonesia, mau masuk TK saja ada tesnya. 

Coba hitung berapa kali anak Indonesia harus berhadapan dengan tes terstandar nasional sebelum mereka berusia 16 tahun?

Dengan beban sekolah yang lebih ringan, anak-anak Finlandia mempunyai lebih banyak waktu untuk menjadi anak-anak sesungguhnya dan berada di rumah. 

Yang menarik, jika mengacu pada hasil riset internasional, anak-anak menghabiskan 7800 jam di rumah dan 900 jam di sekolah selama setahun.

Pertanyaannya, which teacher has the biggest influence? Guru atau orangtua?


Ketika anak-anak Finlandia berada di rumah, orangtua mereka mengajari bagaimana menghabiskan waktu dengan membaca. Ketika anak-anak Indonesia mendapatkan jam sekolah formal yang lebih pendek maka sisa waktu mereka diisi dengan les tambahan di bidang akademis. 

Apakah itu artinya anak Indonesia lebih senang belajar dibandingkan anak-anak Finlandia? 

Sementara anak Indonesia mengejar kemampuan akademis dengan les matematika, bahasa asing, dsb, minat membaca anak Indonesia justru menukik tajam dibandingkan negara-negara lain di Asia. 

Anehnya, meski anak-anak Indonesia kelihatan suka sekali belajar ketimbang membaca, tetapi nilai PISA 2012* (Programme International Student Assessment)nya berada di ranking 61 untuk literasi membaca dan ranking 64 untuk literasi Matematika serta Sains. Itu dari 64 negara yang mengikuti asesmen tersebut. 

Ranking lima teratas diduduki oleh China (Shanghai), Singapura, Hongkong, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang. Negara-negara yang relatif lebih dekat dengan Indonesia dan sangat mungkin menjadi bagian dari MEA (Masyarakat Ekonomi Asean)

Mungkin anak-anak Indonesia tidak akan bersaing dengan anak-anak Finlandia, tetapi dalam MEA anak-anak Indonesia akan bertemu dengan anak-anak dari Singapura atau Vietnam. Dua negara di Asia Tenggara yang nilai literasi membacanya jauh lebih baik. 

Andai anak-anak kita bersekolah di Korea Selatan atau China.

Baiklah, kalau begitu mari berangan-angan, "Andai anak-anak kita bersekolah di Korea Selatan atau China." Apa yang terjadi di sana? 

Sebagian besar remaja di Korea Selatan bangun jam 6.30 pagi dan menghabiskan waktu di sekolah dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore, jam 5 jika ada kegiatan klub atau ekstra. Setelah itu mereka pulang sebentar untuk makan dan pergi ke 'sekolah kedua' dari jam 6 sampai 9 malam. Setelah itu masih ada sesi self study selama 2 jam sebelum akhirnya mereka tidur dan bangun untuk mengulang kembali rutinitas yang sama. 

Mereka sudah terbiasa bukan hanya dengan Full Day School, tetapi juga dengan Double Shift School. Hal tersebut sudah menjadi gaya hidup sebagian besar remaja di sana. 

Dari hasil penelitian* sebagian besar orangtua, terutama ibu, merasa cemas dengan kondisi tersebut, mereka harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pendidikan dan merasakan tekanan sosial yang sangat hebat pada anak-anak mereka. 

"Korea tidak punya banyak sumber daya alam, manusialah yang menjadi penopang, sehingga harus bisa benar-benar stand out agar bisa berkompetisi." 

Hasil investasi besar-besaran dalam dunia pendidikan sangat dirasakan oleh Korea Selatan, dengan lompatan kemajuan pembangunan ekonomi dan teknologinya yang sangat pesat. Bahkan keberhasilan anak-anak Korea Selatan (berdasarkan hasil GSCE test dibandingkan dengan murid dari Wales, England, dan Irlandia Utara) dalam mendapatkan skor test matematika yang sempurna, dengan waktu hanya setengah dari yang diberikan, membuat Menteri Pendidikan UK mencontoh kurikulum yamg diterapkan di Korea Selatan tersebut.

Tentu ada pengorbanan yang harus ditempuh untuk semua itu.

Angka statistik kematian penduduk di bawah usia 40 tahun yang disebabkan karena bunuh diri sangat tinggi, dan hal itu juga berkaitan dengan kompetisi dalam hal pendidikan dan pekerjaan. 

Menyikapi hal tersebut, Menteri Pendidikan Korea Selatan, Nam Soo Suh, membuat kebijakan baru dalam hal pendidikan, tujuannya untuk menyeimbangkan dan membuat orang-orang lebih bahagia. 

Prof. Juho Lee, Menteri Pendidkan yang sebelumnya menambahkan bahwa sudah saatnya mereformasi sistem pendidikan yang hanya berbasis pada hasil test, skor memang penting di masa Industrialisasi, tetapi sekarang sudah saatnya beralih pada kreativitas dan kapasitas sosial-emosional. 

Jika diibaratkan sakit, Korea Selatan sudah menemukan apa yang menyebabkannya sistem pendidikannya mengalami demam. 

Tidak berbeda jauh dengan di Korea Selatan, China juga menjadi salah satu negara yang penduduknya memberikan penekanan ekstrem pada investasi uang dan waktu dalam hal pendidikan. 

Antropologis dari Australian National University, Andrew Kipnis, mengatakan bahwa di China, orangtua dari kelas menengah lebih mementingkan dana untuk sekolah dibandingkan kesehatan anaknya. Tidak jarang mereka sampai terlilit hutang agar bisa menyekolahkan anaknya di luar negeri.

Anak-anak, bahkan sejak sekolah dasar, sudah mendapatkan pelajaran tambahan, semua itu untuk persiapan masuk universitas. 

India dan Indonesia adalah dua negara yang belakangan masuk ke dalam deretan negara yang titik berat pengeluaran terbesarnya ada pada investasi pendidikan. 

Rasanya, tidak jauh berbeda dengan di China atau Korea Selatan, di Indonesia pelan-pelan sistem pendidikannya seolah bergeser pada siapa yang mempunyai dana lebih dan waktu yang lebih banyak yang akan mendapatkan pelayanan pendidikan yang lebih baik. 

Itu baru sebagian kecil persoalan yang dianggap menyebabkan 'demam' belum lagi masalah kurikulum yang bergonta-ganti, atau implementasi kebijakan yang belum dapat terealisasi dan memberi hasil yang positif. 

Lalu, sekarang bergulir wacana tentang full day school. Meskipun sebenarnya beberapa sekolah swasta sudah menerapkan hal itu. 

Pertanyaannya bukan lagi apakah dengan menyekolahkan anak di sekolah mahal atau full day school akan menjamin kesuksesan hidupnya, tetapi apakah sistem pendidikan yang dienyam anak kita mampu melahirkan anak-anak pembelajar? 

Teringat obrolan dengan seorang rekan WNA. Dia bertanya bagaimana anak Indonesia bisa survive dalam persaingan global? 

Salah satu alasan dia bertanya begitu, "...they dont even know how to use public transport..."

Me  : "Why did you say so?"

R  : "Mereka seperti tinggal dalam gelembung, dari rumah diantar supir dengan mobil berpendingin, masuk private school, pulang atau les, kemana-mana diantar lagi. Even Japan kindergarten know how to deal with strangers or predators."

Me: "Well, ngga semua anak di Indonesia gitu sih, mungkin yang kamu liat di Jakarta sekarang yang seperti itu tapi ada juga yang nggak. 

Di Bandung, Semarang, Jogja beda lagi. I used to naik angkot saat sekolah, di Bandung sekarang banyak yang bike to school juga. When you doing your research here, you'll develop new point of view.." 

R : "Well, kalau in goverment school, yes i believe ada yang begitu, but they dont get much at public school, that's why your country develop so many private and religious based school. 

Mereka terlalu takut anaknya terkontaminasi pendidikan yang jelek dan terpapar ajaran agama yang berbeda. Mereka bikin pendidikan jadi eksklusif dan mahal."

Agak menohok sih, percakapan itu dengernya.

Saya juga memasukkan anak ke sekolah swasta salah satunya dengan alasan, kalau sekolah di negeri masih harus memberi pelajaran tambahan lain, misalnya bahasa Inggris, dan belum pede kalau harus ngajarin bab agama sendiri. 

Seperti bisa menangkap apa yang sedang saya pikirkan, dia berkata lagi. 

R: "See, you too..not confident to decide about homechooling your kids..kamu dibandingin ibu di pasar Sukumvit kemarin itu jauh lebih confident dia. Dia berani ambil keputusan ngajarin anaknya sambil dia jualan di pasar. Dia yakin anaknya bisa belajar banyak hal saat di pasar. 

Said that a mother is her childs first school in Islam, right. If your religion said so, you should be sure about that," katanya menyemangati. 

Ingatan saya melayang kembali saat melihat seorang ibu berjualan di tengah keramaian pasar sementara anaknya belajar membaca, rekan saya itu mewawancarainya. 

Saya mendengar penerjemah membahasakan kembali beberapa kalimatnya. 

"Kita tidak bisa berharap terlalu banyak pada pemerintah, sekolah, atau guru. Sebenarnya di mana saja anak kita bisa belajar, sekalipun kita memasukkannya ke sekolah yang bagus, kita tidak bisa memindah tangankan begitu saja nasib anak kita kepada mereka. 

Sudah tugas saya mengajarinya membaca, besok dia juga harus bisa berhitung, meskipun sederhana, dan hanya digunakan untuk melanjutkan pekerjaan saya berjualan di pasar." 

Anaknya mendongak ketika melihat ibunya diajak bercakap-cakap dengan seorang bule. Ia mendekati rekan saya, ikut mendengarkan percakapan dan sesekali ikut tersenyum sambil memerhatikan ibunya bercerita tentang keluarga mereka. 

Saat melihat sorot mata anak itu, saya percaya dia akan tumbuh menjadi seorang pembelajar, tanpa perlu pergi ke sekolah mahal atau full day school

Ada rasa ingin tahu yang besar dari sorot matanya, bukan tentang bagaimana ibunya menghasilkan uang, tetapi tentang bagaimana ibunya menjalani kehidupan. 

Tidak, rasanya saya tidak perlu berandai-andai menyekolahkan anak di tempat yang sempurna, karena pasti tidak ada, saya hanya perlu mengajari anak-anak untuk percaya bahwa ruang kelas bukan hanya di sekolah, tetapi pada hati yang terbuka pada tempat dan orang-orang di sekitarnya. 

Nia Nurdiansyah, Semarang 8 Agustus 2016

7 comments:

  1. Aku sedih banget waktu ikut KI di sebuah daerah, ada anak yang kuminta menulis surat untuk ibunya. Dia nulis gini
    "Bu, aku minta uang. Aku pengen beli sepeda motor. Beliin ya Bu."
    Syediiiiihhh

    ReplyDelete
  2. Ini sering jadi bahan obrolanku sama istri. Kenapa dengan beban minim anak anak asing lebih unggul. Sewaktu memutuskan Rumi ikut HS, kami yakin . Pas pindah ke daerah, segalanya berubah. Iklim pendidikan berbeda jauh sama di kota. Sumber daya terbatas, belum lagi berhadapan dengan orangtua yang masih kolot. Akhirnya anak sekolah di SDN, tapi sebagai jalur utk dapat ujian saja. Sisanya harus banyak ditambal dan ditambah di rumah.
    Kita kena demam, tapi belum tahu penawarnya. Atau lebih parah lagi, kita belum sadar atau pura pura ga tahu kalau sistemnya sakit. Either way, tak ada yang produktif. Makasih sharing nya Nia.

    ReplyDelete
  3. Jika kamu ada solusi untuk pendidikan kita di Indonesia. Solusi apa yang terbaik untuk pendidikan kita? Langkah kecil apa yang sudah kamu lakukan untuk itu?

    Sejujurnya saya sangat setuju sekali bahwa sistem pendidikan kita ada yang salah. Tapi belum menemukan solusi terbaik dan langkah terbaik apa untuk memperbaiki itu?

    ReplyDelete
  4. Kalau menurutku sistem pendidikan anak sekarang bikin anak-anak stress, pak Anis konsep mengajarnya yang kita terapkan saat KI itu, itu mirip K-13 daripada KTSP, dulu waktu kita ujian kita biasa saja, karena pelajaran sudah diserap saat guru menerangkan, sekarang mau ujian ortu murid pe mencarikan contoh soal ujian sebelumnya, dan metoda pengajaran di kita masih hanya untuk meraih nilai dan menghafal teori, masih banyak hal praktek yang anak tak menguasainya, waktu aetaun setengah jadi guru 3x diklat hanya disuruh bulak balik nyusun modul ktsp dan k-13, makanya aku nyerah karena metode pengajaran tak sesuai dengan konsepku, bener di bandung kemana-mana masih berani ngangkot,disini mah anter jemput suami 😊

    ReplyDelete
  5. Mbak Nia,, tulisannya bagus & bikin merenung. Aku juga secara nggak langsung merasakan sistem pendidikan di Indonesia yg nggak pro dengan anak. Profesiku yg jadi guru musik ini susah2 gampang. Jadi anak2 yg sekolah dengan kurikulum negara ini sudah kecapekan di sekolah, baik capek fisik maupun capek otak & mental. Efeknya mereka kalo pas les musik pun terkantuk-kantuk & materinya susah masuk. Belum lagi mereka nggak punya waktu untuk latihan karena waktunya tersita banyak utk sekolah. Tapi kalo cuma ngikutin kurikulum sekolah saja, kreativitas mereka tidak terasah. Padahal kreativitas itu salah satu modal untuk survive hidup lho. Tapi sudah masuk ke sistem ya,, bisa kontribusi apa dong

    ReplyDelete
  6. Mungkin terlalu dini kalau aku sering diskusi sama suami tentang pendidikan Intan kelak. Bahkan yang menjadi momok kami adalah semakin kesini biaya pendidikan semakin mahal.

    Terimakasih sharingnya mbak nia..aku suka bgt artikelnya.setidaknya semakin menyadarkan saya bahwa peran orang tua memang ga cuma sibuk cari uang aja.

    ReplyDelete
  7. Aku juga nyekolahin anak2ku di swasta karena ingin nereka tetap mendapat pengajaran agama dan tumbuh dalam lingkungan setara. Itu pun cuma SMP. KArena usia anak SMP itu masa pengenalan jati diri, menjadi dasar dia bergaul saat tambah usia. Kalo soal ngangkot sih akhirnya bisa lah karena keadaan. Dulunya waktu kecil, sekolah di SD sampai SMP emang diantar. Tapi beberapa kali naik sepeda juga. Dan akhirnya mengalami naik angkot ketika nggak ada yang bisa jemput.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...