Wednesday, November 29, 2017

Guru-Guru Kehidupan


Seandainya bisa memutar ulang seluruh babak kehidupan, satu persatu akan tersingkap bagaimana perkembangan kehidupan kita dari mulai titik nol hingga saat ini. 

Di sepanjang masa itulah kita akan menemukan orang-orang yang berperan sebagai guru kehidupan. Orang-orang yang datang di dalam kehidupan kita dan mengajarkan banyak hal, dari mulai aksara, membaca, dan banyak hal lain yang mungkin tak tertera. 

Ada yang masih ingat guru sekolah dasar yang berhasil mengajari diri kita membaca? 

Saya masih, bahkan masih bisa mengambarkan sosoknya dengan baik. Postur tubuhnya kecil, kulitnya kuning langsat, bentuk wajahnya mirip Bu Tien Soeharto, dan rambutnya ikal. Bu Nana adalah orang yang mengajari saya menuliskan kalimat 'Ini Ibu Budi' 

Namun jauh sebelum itu, Mama adalah orang pertama yang mengenalkan aksara, bahwa deretan aksara bila bersanding dengan tepat bisa dibaca bahkan bercerita. Mama juga guru kehidupan yang pertama kali mengenalkan keajaiban yang ada di dalam buku-buku. 

Usia 4,5 tahun beliau membuat saya fasih mengeja, dan saat usia 5 tahun saya mulai membaca buku-buku yang beliau pinjamkan dari perpustakaan. 

Waktu masuk SD, di usia 6 tahun kurang, saya belum mahir menulis. Kemampuan motorik halus saya berkembang relatif lebih lamban, tetapi Bu Nana sangat telaten mengajari saya menulis. 

Dulu saya benci pelajaran menulis, apalagi harus mengulang menuliskan 'a-b-c' sampai berderet-deret dari mulai huruf besar sampai kecil. Buat saya yang kala itu sudah bisa membaca tapi belum lancar menulis, aktivitas itu rasanya sia-sia. 

Entahlah, mungkin saja saat masih enam tahun, kemalasan menulis kala itu saya terjemahkan seperti itu, tapi bisa jadi cuma sekadar malas saja. Sementara anak-anak lain, masih berkutat menyalin 'Ini Ibu Budi' saya justru merasa bosan dan ingin membaca yang lainnya. Tidak ada yang menangkap kebutuhan tersebut sehingga saya mudah merasa bosan berada di ruangan kelas dan lebih suka mengeksplorasi sekitar. 

Saya terlambat menyukai angka, bahkan kadung membencinya sebab belum menemukan 'guru kehidupan' yang tepat untuk itu. Kebencian terhadap angka ternyata juga punya kaitan dengan relasi saya dengan figur otoritas, seperti ayah dan guru-guru tertentu yang punya gaya otoriter--dan kebanyakan itu adalah guru mata pelajaran eksak. Saya baru mengetahui setelah kuliah Psikologi selama beberapa tahun tentang kaitan rendahnya minat seseorang terhadap Matematika dan figur otoritas. 

Ayah saya orang teknik yang bekerja dengan angka-angka, menyukai kepresisian segala hal, termasuk dalam hal waktu. Meski di satu sisi beliau membuat saya menjaga jarak dengan angka, namun beliau menjadi guru kehidupan dalam hal sistematika berpikir dan manajemen waktu. Untuk hal-hal yang berbau keteraturan, saya berterima kasih kepadanya. 

Di kelas tiga dan empat SD saya mulai bosan dengan kelas dan sekolah, saya lebih suka ikut Ibu saya ke kantornya yang memiliki ruangan perpustakaan sendiri dengan berbagai koleksi 'keajaiban' di rak-raknya. Saya mulai membangun dunia sendiri di dalam pikiran saya, tentang Alice in The Wonderland,  Peterpan, bahkan kisah-kisah perjuangan dan kisah dari buku-buku angkatan Balai Pustaka. 

Saya kembali menyukai sekolah ketika, salah seorang guru SD memberi saya kesempatan untuk ikut cerdas-cermat dan lomba bidang studi IPA lantaran saya bisa menjawab beberapa pertanyaan untuk kategori SMP saat tes seleksi. Lagi-lagi itu pun karena kebosanan dan mulai iseng membaca buku-buku pelajaran IPA untuk tingkat SMP. Saya suka buku IPA karena banyak ilustrasi gambar yang menarik. 

Karena keterlibatan saya dalam lomba-lomba itulah saya kembali menyukai sekolah. Sayangnya saya ketinggalan banyak hal di bidang Matematika. Kalau boleh menyalahkan keadaan, saya akan dengan mudah menunjukkan satu jari kepada seorang guru Matematika yang sudah mematikan kepercayaan diri saya. 

Namun kini saya belajar bahwa dalam perjalanan hidup, kita akan berjodoh dengan 'guru kehidupan' atau justru kehilangan 'guru kehidupan'. Saat Matematika diperkenalkan oleh guru kehidupan yang salah maka kesempatan seseorang untuk jatuh hati kepada bidang tersebut pun akan menghilang. 

Bagi saya saat ini, yang salah bukan ilmu pengetahuannya, tetapi siapa yang memperkenalkannya. Matematika menjadi semacam monster yang bersembunyi di kolong kegelapan. 

Orang yang menariknya ke luar dari kolong adalah seorang guru yang mau tidak mau harus ekstra mengajar saya untuk mengejar semua ketertinggalan, dan untuk menyiapkan ujian kelas enam. 

Beliau berhasil membuat saya sedikit melirik Matematika, terutama dalam hal yang berkaitan dengan berdagang dan bangun ruang. Sejak itu saya tahu kalau monster itu hanya perlu diajak ngobrol lebih akrab. 

Lepas dari bangku SD, di sekolah menengah saya tidak berjodoh dengan guru kehidupan yang bisa membuat Matematika tidak tampak seperti monster lagi. 

Alih-alih, monster yang awalnya kecil mulai tumbuh besar dan bertaring. Dia sudah tidak bisa diajak ngobrol akrab lagi. 

Saya harus menghindarinya. Saya berusaha lari dari monster tersebut kepada hal-hal lainnya; puisi dan seni. 

Beruntung salah satu guru kehidupan di bidang bahasa menaikkan level kepercayaan diri saya dengan memuji puisi yang saya buat dalam tugas sekolah. Saya pun mulai mengabaikan keberadaan si monster dan membuat banyak puisi. Puisi membuat saya lebih besar dari monster bertaring tersebut. 

Selain itu, seni menggambar dan melukis juga membuat hari-hari bersama si monster terasa lebih baik.

Lagi-lagi itu pun karena saya dipertemukan dengan guru seni yang menyenangkan, pandai membangkitkan sisi kreatif murid-muridnya. 

Beberapa murid yang belum bisa menaklukkan si monster memilih untuk menyalurkan energi dan rasa takutnya pada bahasa, seni, musik, dan mata pelajaran lain yang lebih ramah. 

Tiga tahun di sekolah menengah lolos saya lalui dengan standar cukup yang bisa mengantarkan ke sekolah negeri favorit. Lumayan untuk ukuran murid yang tiap hari main petak umpet sama si monster. 

Masa SMA adalah masa di mana saya memiliki banyak sekali kesempatan untuk bertemu dengan guru kehidupan, mulai dari guru-guru ilmu eksakta hingga sosial. Perubahan yang cukup signifikan berlangsung ketika saya berjodoh dengan guru kehidupan justru bukan dari institusi formal atau sekolah. 

Untuk guru-guru itu saya ingin berterima kasih. Karena mereka saya mendapatkan kesempatan kedua untuk jatuh hati pada ilmu pengetahuan. Saat perkembangan syaraf-syaraf belajar sudah matang dan saling berjalinan sempurna, guru-guru kehidupan hadir. Benar kata pepatah, guru hadir saat kita siap menerima pembelajaran. 

Ketika itu, kemampuan belajar seolah melejit. Buku-buku eksakta tampak semakin menarik untuk dibaca, bahkan dituangkan menjadi sebuah karya seni. Saya ingat beberapa kali menjuarai lomba membuat poster bertema lingkungan hidup yang temanya diambil dari buku Biologi dan Kimia, atau ketika kebosanan melanda saya membuat kartu ucapan ulang tahun dengan ilustrasi gambar sel yang diwarnai. 

Semakin relevan ilmu pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari, makin menarik ilmu itu. Terima kasih untuk guru-guru kehidupan yang berhasil menerjemahkan buku teks menjadi kisah-kisah penemuan yang mengubah kehidupan manusia sepanjang masa. 

Monster bertaring tumbuh semakin besar dan kompleks, tetapi saya sudah dipertemukan dengan sesosok guru kehidupan yang membantu saya untuk menaklukkannya. Saya masih ingat sosok guru les Matematika saya itu, bertubuh kecil, berkulit putih, matanya sipit, dan pelit senyum. Tetapi sekalinya saya dapat menyelesaikan persoalan Matematika beliau akan memberikan senyuman dan penghargaan yang mampu melunturkan rasa takut saya menghadapi si monster. 

Bersamanya, helaian rumit yang membelit tubuh si monster langsung rontok. Lapis demi lapis bulu hijau tebal yang membalut tubuh si monster terkelupas. 

Pada akhirnya, di dalam sosok monster besar nan mengerikan saya bisa melihat sesosok laki-laki kecil yang amat cerdas memainkan teka-teki angka. Matanya bulat bersinar penuh rasa ingin tahu, tangannya begitu cakap memainkan kubus rubik. 

Ternyata, di dalam sosok menyeramkan si monster, hidup bocah kecil yang semangat belajarnya luar biasa besar. 

Saya pun belajar, guru yang tidak tepat bisa mengubah bocah mana pun yang awalnya memiliki rasa ingin tahu dan semangat belajar menjadi sesosok monster. Tapi saya pun belajar, bahwa guru yang tepat dapat mengubah kembali monster tersebut ke wujud aslinya dalam waktu yang singkat. 

Bukan ilmu yang harus kamu takuti, tetapi orang yang menguasai ilmu itulah yang perlu kamu waspadai. Di tangan orang yang tepat, ilmu dapat bermanfaat, di tangan orang yang tidak tepat, ilmu bisa jadi mudharat. 

Kisah tentang guru-guru kehidupan ini masih akan panjang, tetapi saya akan melanjutkannya di lain waktu. Terima kasih Mba Relita dan Mba Yuli yang sudah mengangkat tema ini untuk arisan blog Gandjelrel periode 16. Selamat hari guru, para guru kehidupan. 




8 comments:

  1. Monster itu ternyata bercokol lama di aku mb Nia. Sampai sekarang :)

    ReplyDelete
  2. Aku inget waktu SD pernah dapat nilai jelek matematika di rapor bahkan aku nyaris ngga naik kelas. Ntah waktu itu aku merasa sulit menerima pelajaran. Tapi setelah naik ke jenjang berikutnya, pelajaran jadi terasa lebih mudah dan menyenangkan. Apakah karena gurunya ya? 🤔🤔

    ReplyDelete
  3. Wku trauma berat sama matematika mak terutama pas SD, alasannya sama krn dpt guru yg galak dan ga asyik. Akhirnya sampe besar aku ga suka dan ga tertarik belajar matematika :(

    ReplyDelete
  4. Kalau aku dari smp dan smu gak suka pelajaran fisika karena pak guruna cunihin dan galak, kelas satu smp fisika ku jelek pisan nilaina 😄

    ReplyDelete
  5. Wah hampir sama mb, pas smp, matematika terasa horor banget bagiku. Tak lain dan tak bukan krn guru yg membawakannya ngga pas sm saya hiks, dan itu berlangsung 3 tahun, sampe nilai uan jeblok hiks. Baru SMA kls 3 aku mulai bisa menikmati pelajaran ini, krn gurunya pinter nyampein..

    ReplyDelete
  6. Ternyata memang guru yang tepat sangat mempengaruhi keberhasilan masuk-tidaknya suatu materi ke benak anak ya.. Semoga semakin banyak guru yg tepat buat generasi muda kita..

    ReplyDelete
  7. Semakin banyak belajar dari guru-guru kehidupan, semakin kaya akan ilmu dan pengalamannya kitaa. Oiya aku inget dulu suka banget sama Fisika, sampe masuk kelas FIsika waktu SMA.Padahal pelajaran itu Horor bagi sebagian siswa.
    Tpi karena sang guru dengan caranya yang asyik memberikan materi pelajaran, jadi suka dan berasa ringaan pelajaran ntu.

    ReplyDelete
  8. Saya juga pernah ngalami yang kayak gini.. Takut ama pelajaran nya lebih tepatnya jha

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...